Cara kerja sistem kelistrikan jantung
Sistem kelistrikan jantung ini yang membuat detak jantung. Sumber sistem kelistrikan ada tiga bagian utama, antara lain:
1. Sinoatrial (SA) node atau Nodus SA : Terletak di atrium kanan jantung.
Dikenal sebagai alat pacu jantung alami. Aktivitas listrik menyebar melalui
dinding atrium dan menyebabkannya kontraksi.
2. Atrioventricular (AV) node atau Nodus AV : Terletak di septum interatrial dekat dengan katup trikuspid. Fungsinya memperlambat sinyal listrik sebelum masuk ventrikel. Penundaan ini memberikan atrium waktu berkontraksi sebelum
ventrikel berkontraksi.
3. Sistem His-Purkinje : Terletak di sepanjang dinding Ventrikel jantung. Ini merupakan jalur serat yang mengirimkan impuls listrik ke dinding otot ventrikel dan menyebabkan kontraksi.
Jadi secara umum, stimulus listrik ini pertama kali dihasilkan Sinoatrial (SA) node menghasilkan rangsangan listrik secara teratur antara 60 sampai 100 kali per menit dalam kondisi normal. Atrium kemudian diaktifkan dan stimulus bergerak turun melalui jalur konduksi dan menyebabkan ventrikel jantung berkontraksi dan memompa darah keluar. Dua ruang atas jantung (atrium) distimulasi terlebih dahulu dan berkontraksi dengan singkat sebelum dua ruang bawah jantung (ventrikel).
Impuls listrik mengalir dari Sinoatrial (SA) node ke Atrioventricular (AV) node.
Di sana, impuls diperlambat dengan singkat, kemudian berlanjut ke jalur konduksi melalui Bundle of His ke dalam ventrikel. Bundle ini terdiri dari jalur kanan dan kiri yang disebut bundle branches (cabang) untuk merangsang ventrikel kanan dan kiri.
Biasanya ketika sedang istirahat, saat impuls listrik bergerak melalui jantung, jantung berkontraksi sekitar 60 hingga 100 kali per menit tergantung usia.
Setiap kontraksi ventrikel mewakili satu detak jantung. Atrium berkontraksi sepersekian detik sebelum ventrikel, sehingga darah bermuara ke ventrikel sebelum ventrikel berkontraksi.
Gangguan yang mempengaruhi sistem kelistrikan jantung
Jantung menghantarkan listrik dengan cara tertentu seperti dijelaskan di atas dan tetap berfungsi dengan baik jika mempertahankan urutan itu. Setiap terjadi gangguan urutan ini dapat menyebabkan irama dan pola jantung yang tidak normal. Kondisi medis ini disebut aritmia atau irama jantung tidak beraturan.
Ada dua jenis aritmia yang sering terjadi, antara lain:
1. Bradikardia : Detak jantung lambat yang terjadi karena nodus SA, nodus AV, atau sistem His-Purkinje bermasalah. Kemungkinan ada kerusakan atau lupa pada jalur listrik jantung yang memperlambat atau menghentikan arus listrik di
beberapa tempat.
2. Takikardia : Detak jantung lebih cepat dari normalnya. Ini terjadi nodus SA mengalami gangguan sehingga menghasilkan sinyal elektrik terlalu banyak hingga 100 kali lebih per menit.
Sistem kelistrikan jantung bermasalah biasanya akan menimbulkan gejala dan tanda-tanda seperti di bawah ini:
Jantung berdebar-debar
Pusing atau sakit kepala ringan
Pingsan
Kelelahan
Kelemahan dan penurunan daya tahan tubuh
Sesak napas
Nyeri dada
Saat tanda-tanda umum di atas terjadi, sebaiknya konsultasi pada dokter sehingga nanti oleh dokter ahli jantung akan dilakukan beberapa tes untuk mendiagnosis masalah di sistem kelistrikan jantung Anda.
Salah satu alat yang digunakan untuk memeriksa sistem kelistrikan jantung adalah elektrokardiogram yang dapat menganalisis aktivitas lsitrik jantung.
Biasanya disingkat EKG atau ECG ini adalah tes untuk mengukur aktivitas listrik jantung dengan menggunakan sensor yang terpasang di dada. Ada beberapa cara untuk melakukan EKG, seperti:
EKG Istirahat : Dilakukan saat Anda duduk atau berbaring kemudian beberapa sensor dipasang di kulit dada.
EKG stress : Pemasangan alatnya sama dengan EKG istirahat hanya dilakukan saat Anda aktif beraktivitas.
Wearable monitor : Sensor akan ditempel di dada selama berhari-hari untuk merekam aktivitas jantung dan menemukan masalahnya lebih jelas.
Implantable loop recorder : Monitor khusus yang ditanamkan di kulit dada. Ini bisa berlangsung selama tiga sampai lima tahun.
Studi elektrofisiologi (EP Study) : Tes ini menggunakan kateter yang dimasukkan ke pembuluh darah utama masuk ke jantung. Perangkat ini akan merekam aktivitas listrik dari dalam hati.
Anatomi Sistem Konduksi Jantung
Sistem konduksi jantung adalah sistem yang terbentuk dari sekelompok sel-sel dan nodus yang terdiri dari empat bagian utama, yaitu sinoatrial node,
atrioventricular node, atrioventricular bundle (bundle of his), serta Purkinje fibers. Berikut masing-masing penjelasannya.
1. Sinoatrial Node atau Nodus SA
Sinoatrial node atau nodus SA merupakan bagian dari sistem konduksi jantung yang terletak di bagian atas serambi atau atrium kanan dan bertugas untuk mengirimkan impuls listrik untuk membuat jantung berdetak. Nodus SA sering dikenal sebagai pacemaker jantung alami dalam tubuh manusia.
Sel ini dikontrol oleh sistem saraf otonom dengan mengatur kecepatannya dalam mengirimkan impuls listrik ke jantung. Adapun cara kerja sistem saraf otonom untuk mengatur kerja sinoatrial node dalam sistem konduksi jantung adalah sebagai berikut:
Sistem saraf simpatis: Membuat sinoatrial node bekerja lebih cepat sehingga turut meningkatkan detak jantung.
Sistem saraf parasimpatis: Membuat sinoatrial node bekerja lebih lambat yang dapat menurunkan detak jantung.
2. Atrioventricular Node
Atrioventricular node atau nodus AV adalah sel khusus yang terletak di septum interatrial dekat dengan katup trikuspid. Nodus ini berfungsi untuk
memperlambat impuls listrik yang berasal dari nodus SA sebelum masuk ke dalam ventrikel jantung untuk memastikan tidak ada lagi darah yang tersisa di atrium sebelum kontraksi berhenti.
3. Atrioventricular Bundle (Bundle of His)
Atrioventricular bundle atau bundle of his adalah cabang dari sel-sel saraf yang berada di sepanjang dinding ventrikel jantung. Bagian ini bertugas menerima sinyal listrik dari nodus AV dan membawanya ke Purkinje fibers.
Atrioventricular bundle terdiri dari dua cabang yang berbeda, yaitu:
Left bundle branch untuk mengirimkan sinyal listrik ke Purkinje fibers yang menuju ventrikel kiri.
Right bundle branch untuk mengirimkan sinyal listrik ke Purkinje fibers yang menuju ventrikel kanan.
4. Purkinje Fibers
Purkinje fibers merupakan bagian ujung cabang sel saraf yang bertugas
mengirimkan sinyal listrik ke ventrikel jantung agar dapat berkontraksi. Dengan begitu, darah dari jantung dapat mengalir melalui arteri pulmonalis dan ke dalam aorta.
Cara Kerja Sistem Konduksi Jantung
Setiap jantung berdetak, terdapat impuls listrik yang dikirimkan oleh sistem konduksi jantung dan dialirkan pada bagian-bagian tertentu. Adapun langkah- langkah dan cara kerja sistem konduksi jantung adalah sebagai berikut:
Nodus SA mengirimkan sinyal listrik menuju atrium jantung.
Atrium jantung yang menerima sinyal listrik tersebut akan berkontraksi.
Nodus AV akan menunda pengiriman sebagian sinyal listrik sampai atrium selesai memompakan darah ke ventrikel jantung dan memastikan tidak ada darah yang tersisa di atrium.
Sebagian sinyal listrik tersebut akan dibawa oleh atrioventricular bundle menuju Purkinje fibers guna memberikan perintah pada ventrikel untuk berkontraksi dan memompakan darah ke seluruh tubuh.
Gangguan Kesehatan yang Memengaruhi Sistem Konduksi Jantung
Adapun sejumlah kondisi medis yang dapat memengaruhi fungsi dan kerja dari sistem konduksi jantung adalah sebagai berikut:
1. Aritmia
Salah satu masalah kesehatan yang dapat memengaruhi fungsi sistem konduksi jantung adalah aritmia, yaitu gangguan irama jantung yang membuat jantung berdetak secara tidak teratur. Kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga kerap membuat seseorang tidak sadar bahwa dirinya sedang mengidap aritmia.
2. Bundle Branch Block
Bundle branch block (BBB) adalah kondisi ketika sinyal listrik pada ventrikel jantung melambat atau terputus. Kondisi ini dapat menyebabkan jantung tidak mampu memompa darah secara optimal.
3. Long QT Syndrome
Long QT Syndrome merupakan gangguan jantung yang terjadi karena aktivitas listrik pada jantung tidak dapat berfungsi secara optimal. Kondisi ini disebabkan oleh ventrikel jantung yang berkontraksi atau relaksasi terlalu lambat sehingga membuat jantung berdetak secara tidak beraturan (kadang bisa menyebabkan sinkop/pingsan dan henti jantung mendadak).
4. Henti Jantung Mendadak
Henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) yaitu kondisi ketika jantung tidak dapat berfungsi dan berhenti berdetak secara tiba-tiba. Adapun sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami henti jantung
mendadak adalah hipertensi, sleep apnea, ketidakseimbangan elektrolit, obesitas, dan lain-lain.
Kalo sinus tachirkardia itu, kecepatan detak jantung yg berada di sanode tidak normal, kalo t wafe itu gelombang t yg meningkat atau meninggi, kalo comsidor anterior iskemia itu menumpukan plak, jadi ketika gelombang t itu meningkat maka terjadilah kecepatan pada detak jantung di sinus tachirkardia, terjadinya kecepatan tidak bisa mengantarkan kelistrikan otot ke aliran darah dan menjadi penumpukan lemak