Keputusan ini menjelaskan pembatalan RKU PT RAPP pada periode setelah dua kali yakni 28 September dan 6 Oktober 2017 mendapat teguran untuk merevisi RKU guna memenuhi kebijakan perlindungan wilayah PP 57/2016, namun tidak dilaksanakan. Menanggapi pernyataan RAPP, pada 20 Oktober 2017, Kalaulahari mempublikasikan 6 kebohongan RAPP terkait review RKU yang disampaikan perusahaan kepada karyawan PT RAPP. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berkali-kali memberikan instruksi kepada PT RAPP untuk menyempurnakan RKU sesuai ketentuan yang berlaku, namun hal tersebut tidak digubris.
PT RAPP tetap mempertahankan RKU sesuai rencana awal, jika ada perubahan akan berdampak buruk pada operasional perusahaan. Ini akumulasi dari hasil kegiatan PT RAPP dan Grup APRIL di Riau yang terlibat kasus korupsi penerbitan izin kehutanan, temuan Panitia Monitoring dan Evaluasi Perizinan DPRD Provinsi Riau mengenai kemungkinan negara kerugian akibat pajak yang tidak dibayarkan oleh Grup APRIL, kerugian ekologis akibat penerbitan IUPHHKHT grup APRIL dalam kasus Burhanuddin Husin dan kerugian negara berdasarkan putusan MA terhadap PT MPL6. Hasil pertemuan tersebut, PT RAPP berjanji akan mempertimbangkan dan merevisi RKU sesuai PP 57/2016 yang akan disampaikan.
PT RAPP melalui kuasa hukumnya, Hamdan Zoelva, mengajukan permohonan putusan hingga permohonan pencabutan surat keputusan atau keberatan atas keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK 5322/Menlhk-PHPL/UPL.1/ kepada menerima. 20 Tahun 2017 tentang Pembatalan Keputusan Menteri Kehutanan No. SK 173/VI-BHPT/2010 dan Keputusan Menteri Kehutanan No Sk 93/VI-BUHT/2013 kepada PTUN Jakarta. Di luar sesi, organisasi masyarakat sipil menyelidiki persoalan mengapa PT RAPP enggan merevisi RKU dan mematuhi kebijakan pemerintah. Gugatan PT RAPP merupakan bentuk perlawanan perusahaan milik Sukanto Tanoto tersebut terhadap kebijakan pemerintah yang melindungi lahan gambut yang terbakar hanya untuk kepentingan bisnis.
TuK Indonesia telah menelaah dan memeriksa secara cermat keuangan PT RAPP dan Grup APRIL. Sepanjang periode tersebut, PT RAPP melalui induk usahanya, Grup APRIL, mendapat pinjaman sebesar US$5,8 miliar atau setara Rp79 triliun dari 43 bank dan penyedia jasa keuangan. 6 Edisi Jikalahari http://jikalahari.or.id/kabar/berita/pt-rapp-dan-april-grup-merugikan-keuangan-negara-dan-kerugian-ecologis-seputar-rp-71224-triliun/.
7 Rilis Jikalahari http://jikalahari.or.id/kabar/rilis/demi-profit-pt-rapp-pembangkagan-atas-regular-dan-ancaman-bangun-ekologis-provinsi-riau/. Menyusul penyergapan Kepala Badan Reklamasi Gambut (BRG) Nazir Foead di konsesi PT RAPP di Desa Bagan Melibur, Pulau Padang, Kabupaten Kepulauan Meranti pada 5 September 2016, izin usaha PT RAPP dibekukan selama tiga bulan hingga lahan gambut tersebut diberhentikan. selesai. peta hidrologi telah selesai.
Tiga bulan setelah hasil pertemuan tersebut, pada awal Januari 2017, Kalaulahari melakukan sidak lapangan terkait aktivitas PT RAPP di Pulau Padang. Jikalahari menemukan PT RAPP menebangi hutan alam, menanam pohon akasia, dan membuat kanal baru di lahan gambut. Berdasarkan peta rencana di atas, Kalaulahari memeriksa dan menemukan rencana pembukaan kanal baru di dekat hutan alam yang tidak ada penghalang antara konsesi PT RAPP dengan hutan.
18 Tahun 2013 berbunyi: Dilarang bagi siapa pun melakukan kegiatan perkebunan tanpa izin Menteri di dalam kawasan hutan;
Dilarang bagi siapa pun melakukan kegiatan perkebunan di kawasan hutan tanpa izin Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan karena pelepasan kawasan hutan merupakan tindak pidana. Larangan perambahan kawasan hutan secara tegas tertuang dalam Pasal 17 huruf b ayat kedua. 18 Tahun 2013 mengatur bahwa; Perusahaan dilarang mengangkut dan/atau menerima titipan hasil perkebunan yang berasal dari kegiatan perkebunan di dalam kawasan hutan tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) huruf c.
Evaluasi Perizinan Perkebunan, Kehutanan, dan Pertambangan DPRD Provinsi Riau Tahun 2015 menemukan luas perkebunan kelapa sawit ilegal di kawasan hutan di Provinsi Riau mencapai 1,8 juta hektar. Pada bulan Maret 2016, DPRD Riau mempublikasikan temuan Pansus Monitoring dan Evaluasi Perizinan Kehutanan, Perkebunan dan Pertambangan yang menunjukkan bahwa terdapat 33 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi secara ilegal di kawasan hutan sehingga menimbulkan kerugian negara lebih dari Rp 2,5. triliun. Selain melakukan kegiatan perkebunan di kawasan hutan, 33 perusahaan juga melakukan perkebunan tanpa Hak Guna Usaha (HGU) dengan luas 204.977 hektar.
Dalam Ranperda RTRWP Provinsi Riau Tahun 2017-2037 yang ditetapkan oleh DPRD Provinsi Riau bersama Gubernur Riau, salah satu isinya adalah usulan pelepasan kawasan hutan ke kawasan non hutan sebagaimana diatur dalam pasal holding zone yang meliputi seluas 405.874 ha. Namun karena proses pelepasan kawasan hutan tersebut memakan waktu lama, DPRD Riau memasukkannya ke dalam Holding Zone. Dari luas konsesi PT Torganda seluas 12.190 ha, hampir seluruhnya merupakan kawasan hutan, dimana 9.979 ha diantaranya merupakan usulan kawasan holding zone.
Bersama Koalisi Rakyat Riau (KRR) Jikalahari melaporkan dugaan tindak pidana pemanfaatan hutan dan lahan ilegal yang dilakukan 33 korporasi perkebunan kelapa sawit ke Polda Riau pada 16 Januari 2017. Laporan tersebut merupakan hasil analisis temuan KPK. Panitia Khusus Pengawasan Perizinan dan Evaluasi DPRD Tahun 2017, 33 korporasi diduga menanam kelapa sawit di kawasan hutan seluas 103.320 hektare. Skenario pengukuhan kawasan hutan seharusnya menjadi sarana untuk memperkecil luas areal konsesi HTI dan HGU (Kelapa Sawit), karena tumpang tindih dengan hutan gambut, lahan pemukiman masyarakat, dan wilayah adat.
Pada bulan Agustus 2016, KPK melalui tim GNPSDA menyampaikan hasil koordinasi dan supervisi kepada DPRD Provinsi Riau mengenai temuan Pansus Monitoring dan Evaluasi Perizinan Kehutanan, Perkebunan dan Pertambangan pada bulan Agustus 2016. Riau. Selain itu, izin juga diterbitkan pada kawasan hutan dengan rincian; perizinan di dalam kawasan hutan lindung; 1. Dari sektor kehutanan dan sektor perkebunan, pengaturan perizinan menjadi permasalahan yang kisruh, mulai dari pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan hingga pelaksanaan perizinan yang tidak tepat.
Di Riau terdapat beberapa IUP yang melakukan eksplorasi di kawasan hutan alam dan juga di kawasan hutan lindung. Banyaknya perizinan tanpa adanya pengawasan yang serius mengakibatkan terjadinya eksploitasi secara besar-besaran terhadap kawasan hutan dan lahan, sehingga harus dilakukan tindakan, baik dari segi pidana maupun administratif.
Analisis Deforestasi-Degradasi
- Pemerintah dan aparat penegak hukum belum sepenuhnya transparan kepada publik terkait kebijakan
- Penegakan hukum masih lemah terhadap korporasi
- Ranperda RTRWP Riau
- Penyelesaian Konflik masyarakat vs Perusahaan
- Inisiatif masyarakat mendorong perlindungan areal gambut dan memperluas ruang kelola rakyat
- KLHK menerapkan pembiayaan yang memperhatikan aspek lingkungan hidup Temuan Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia, PT RAPP dan APRIL Groupnya
Selama penyusunan dan pembahasan RTRWP Riau yang dilakukan oleh Gubernur Riau dan Bappeda hingga pembahasan dan pengesahan di DPRD Riau sangat tidak transparan dan tidak mengikutsertakan partisipasi masyarakat. Rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Dalam Negeri sebaiknya memerintahkan Pemprov Riau menjadikan KLHS terlebih dahulu sebagai landasan penting dalam pengkajian RTRWP Perda Riau. Perkembangan penegakan hukum kasus lingkungan hidup yang dilaporkan masyarakat Informasi perkembangan penanganan laporan masyarakat di Polda Riau (33 Korporasi), KLHK (49 Korporasi) dan KPK (20 Korporasi) belum pernah ada. diteruskan ke publik. melalui media massa atau perkembangan bagi jurnalis.
Setahun kemudian, Jikalahari melaporkan 49 korporasi HTI dan sawit, 33 korporasi sawit ilegal yang beroperasi di kawasan hutan tanpa izin pelepasan kawasan hutan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) hingga November 2017, belum ada investigasi atau investigasi yang berarti. kemajuan. Sepanjang November – Desember 2016, Kalaulahari melaporkan 49 korporasi HTI dan kelapa sawit melakukan kejahatan perkebunan, kehutanan, dan lingkungan hidup. 34 Lambatnya penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan hidup dan kehutanan serta terlibat korupsi berdampak pada ketidakpatuhan korporasi terhadap peraturan.
Tidak hanya korporasi yang bertanggung jawab atas pembakaran hutan dan lahan, penegak hukum juga harus mengambil tindakan tegas terhadap korporasi sawit yang merambah kawasan hutan. Dalam hal ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mulai fokus pada sektor pencucian uang dan keuangan korporasi, khususnya perkebunan kelapa sawit yang berasal dari kawasan hutan. Bahkan, pada September 2016, Pansus DPRD Bengkalis merekomendasikan Bupati Bengkalis mengeluarkan kebijakan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mencabutnya atau setidaknya.
Kalaulahari dan masyarakat terus mendorong upaya pemulihan hutan dan lahan gambut yang rusak melalui program PS dan mengusulkan rencana ekonomi paludikultur di lahan gambut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melaksanakan pembiayaan yang memperhatikan aspek lingkungan hidup. Temuan dari Transformation for Justice (TuK) Indonesia, PT RAPP dan grup APRIL-nya. Temuan Transformation for Justice (TuK) Indonesia, PT RAPP dan grup APRIL mendapat pinjaman sebesar U$D 5,8 miliar atau hampir Rp 79 triliun yang berasal dari bank asing. Temuan ini mengejutkan publik karena Grup APRIL sama sekali tidak menaati peraturan lingkungan hidup dan kehutanan.
Pemda Riau sebenarnya mengusulkan perusakan lingkungan hidup dan kehutanan melalui usulan rancangan peraturan daerah RTRWP Riau dan meski mendukung KLHS, lagi-lagi Gubernur Riau memasukkan APHI, GAPKI dan KADIN dalam tim perumus KLHS provinsi Riau. . Meski telah terjadi perbaikan tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan, namun pemerintah dan aparat penegak hukum belum berani menindak kejahatan korporasi, mencabut seluruh izin korporasi atas hutan alam dan lahan gambut, mengembalikan lahan hutan milik masyarakat adat dan masyarakat lokal yang disita. . oleh korporasi dan belum sepenuhnya transparan serta melibatkan masyarakat dalam proses perbaikan tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan. Presiden Joko Widodo mengapresiasi kinerja Kapolri terkait lambatnya penerapan undang-undang pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di Riau yang melibatkan korporasi.