• Tidak ada hasil yang ditemukan

cerpen harapan anak kecil

N/A
N/A
Miranda Gabriella

Academic year: 2024

Membagikan "cerpen harapan anak kecil"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

"Hello, guys. I'm your hope, you are my hope. I'm J-Hope. Hope right here!,"

seorang pemuda mengenalkan dirinya di sebuah acara TV kenamaan. Perkenalan dirinya itu disambut dengan antusias oleh putra kecilku di balik layar TV. Ia langsung berdiri dan tangan2 kecilnya digoyangkan ke atas tiap kali pemuda bernama J-Hope dan teman2nya muncul. Aku yang sedang memasak hanya bisa tersenyum melihat tingkah menggemaskan darinya. Wajar bila Noah, putraku, menyukai J-Hope

yang multitalenta. Aku pikir ia memandang pemuda itu sebagai role model ganti figur ayah yang tidak ia miliki. Daddy adalah sebutan yang ia sematkan untuk pemuda berpipi bulat itu.

Di suatu Minggu sore, aku dan Noah sedang jalan-jalan di Plaza Harmon

sambil memakan ice cream. Noah melihat beberapa video tron yang menampilkan iklan konser J-Hope dan teman2nya yang

(2)

akan diadakan 3 minggu kedepan. Ia menarik tanganku menuju ke

salah satu videotron itu.

"Ibu, ayo pergi ke konser daddy," pinta Noah. Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk tayangan video si J-Hope dan kawan

kawannya. Kutekuk kakiku hingga

pandanganku sejajar dengan matanya.

"Maaf, sayang," kataku penuh sesal sambil mempautkan bibirku, "Ibu tak

punya cukup uang untuk membeli 2 tiket untuk kita berdua. Kau tahu, satu tiket paling tidak seharga $250."

"Tapi... kak J-Hope akan mengunjungi

kota kita, dan... dan dia dari Korea." Noah cemberut memandangku. Aku lalu

mengusap pundaknya

"Ibu sangat menyesal tdk dapat

membelikanmu tiket. Ibu tak janji, tapi

mungkin tahun depan kita dapat ke konser kak J-Hope."

(3)

"Bagaimana jika ia tak datang ke kota kita lagi?"

Aku hanya bisa diam membeku

mendengar pertanyaan putraku itu. Aku kemudian berdiri dan mengajak putraku pulang. "Kalau begitu kau harus

menabung dan mencari uang," ucapku di perjalanan.

Sebuah telepon berdering di meja kerjaku 5 hari kemudian. Biasanya telepon hanya ditujukan pada bosku, tapi kali ini untukku.

"Bu, Noah mencuri dompet dan

bertengkar dengan teman sekelasnya,"

lapor walikelas Noah, "saat ini Noah ada di ruang kepala sekolah. Mohon

kerjasama ibu untuk menemui Noah siang ini."

Aku benar-benar kaget mendengar aduan walikelas Noah. Putraku yang masih

berusia 7 thn rasanya tak mungkin

(4)

melakukan hal seperti itu, lebih-lebih mencuri. Aku langsung meminta izin bosku untuk membereskan masalah Noah. Walaupun aku dimarahi, aku diperbolehkan keluar kantor.

Aku berlari menuju ruang kepala sekolah.

Aku tak ingin keadaan makin kacau. Aku sampai2 tersandung pada jalan menurun sebelum ruang kepala sekolah. Ketika aku membuka pintu ruang kepala sekolah, aku disambut oleh kedua orangtua teman

Noah yang tampak gusar. Aku juga melihat Noah yang menangis di sofa ruang kepala sekolah. "Apa yang

sebenarnya terjadi?"

"Anakmu si pencuri itu tak puas dengan mengambil dompet Taylor, lalu

menghajarnya sampai dadanya memar."

Ibu Taylor menyilangkan tangannya di dada. Aku menghampiri Noah yang

sedang menangis lalu memegang

pundaknya. "Dapatkah kamu menjelaskan pada ibu apa yang kamu lakukan?" Tangis

(5)

Noah semakin menjadi. "Aku tidak

mencuri, bu," ucapnya sambil terisak-isak

"aku menemukan dompet di tengah lapangan bola."

"Lalu?"

"Taylor memukul pundakku dari belakang secara tiba2 di kelas. Ia menuduhku

mencuri. Aku memukulnya kembali karena dia memukulku duluan."

"Noah sayang, siapa pemilik dompet yang kamu temukan di lapangan?" Aku

berusaha menahan rasa marah dengan berbicara perlahan pada Noah.

"Tay... Taylor," jawab putraku takut2.

"Apa kau sudah berencana

mengembalikan dompet itu sebelum

Taylor bertemu denganmu?" Tanyaku lagi.

(6)

Noah menggeleng pelan. "Dasar anak miskin, bisanya mencuri saja. Hey kamu mama Noah, ini suruhan kamu kan?!" Ibu Taylor tiba-tiba membentak. Hentakan itu membuat Noah kembali menangis

ketakutan. Aku menarik Noah dan membawanya ke luar ruang kepala

sekolah, dekat pintu masuk agar sang

kepala sekolah tahu aku tak mengajaknya kabur. Aku menekuk lututku dan

memandangnya lalu berkata "Ibu percaya Noah adalah anak yg baik." Aku

mengusap-usapkan tanganku ke

punggung Noah sambil menatapnya.

"Dapatkah kau memberi tahu ibu kenapa kau tak ingin mengembalikan dompet itu?"

Sambil masih terisak Noah menjawab,

"Aku ingin bertemu daddy. Aku tahu dia bukan ayahku, tapi Noah menyayangi Daddy, a lot."

(7)

Aku memutar mataku dengan kesal. J- Hope lagi dan lagi. Aku paham dia

menganggap penyanyi itu sebagai figure ayah karena kegagalanku dan aku baru- baru saja menyuruh Noah mencari uang sendiri sebagai candaan, tapia pa yang

dia buat membuatku malu dan takut. Malu karena aku sudah pasti dicap ibu yang

tidak baik, dan takut bila orang tua Taylor memperpanjang masalah ini.

"Noah, apa yang kau perbuat itu juga termasuk mencuri. Mencuri adalah

kejahatan! Dompet itu bukan milikmu, Noah. Wajar bila Taylor marah. Namun, bukan berarti dia berhak memukulmu.

Karena Noah sudah mencuri, sekarang temuilah Taylor dan minta maaflah,"kataku

"Tidak mau! Taylor tidak minta maaf karena memukulku,"

"Noah, dengarkan ibu! Meminta maaf bukan berarti kita lemah, bukan berarti

(8)

kita di bawah. Minta maaf berarti kita menyesal atas perbuatan kita dan ingin

memperbaiki hubungan kita dengan orang lain. Memang kita tak selalu dimaafkan

atau bahkan mendapat perlakuan yang

tdk menyenangkan setelahnya, tapi paling tidak kita membuat hati kita lebih lega.

Tidak ada lagi rasa bersalah kedepannya.

Coba sekarang Noah

minta maaf pada Taylor. Let me tell you, jika kak J-Hope tahu Noah mencuri dan bertengkar dengan Taylor, ia pasti juga akan meminta Noah meminta maaf,

bertanggung jawab, dan berbaikan"

"Kalau Noah minta maaf, bolehkah Noah pergi melihat daddy?"

"Noah," ucapku tegas, "ibu memintamu

untuk meminta maaf bukan sebagai syarat kamu boleh pergi melihat J-Hope. Minta

maaflah karena kamu sudah berbuat salah."

(9)

Noah mengangguk pelan dengan pasrah kemudian masuk kembali ke ruang kepala sekolah. Ia mengulurkan tangannya untuk meminta maaf pada Taylor dan orang tua Taylor. Sebagai hukuman dari kepala

sekolah, Noah harus mengembalikan

dompet yang ia curi, mengerjakan tugas tambahan dengan berbeda mata

pelajaran tiap hari selama seminggu bersama Taylor (karena mereka saling pukul), dan membuat surat pernyataan maaf.

Respon Taylor dan orang tuanya sungguh

(10)

tidak menyenangkan. Tidak hanya tidak dimaafkan, mereka juga menebar hoax yang tidak mengenakkan pada wali murid lain seperti yang aku takutkan dan Taylor bersama teman-temannya mulai mem-

bully Noah secara verbal. Padahal, aku juga sudah ikut minta maaf. Aku tak tahu kenapa mereka tak cukup puas dengan hukuman yang diberikan kepala sekolah.

Noah mengadukan perbuatan temannya itu seusai ia melakukan hukuman hari

ketiganya. Ia berlari menemuiku begitu aku menjemputnya dari bus sekolah di depan rumah lalu memelukku erat-erat kemudian mengadu padaku. "

Ibu, aku hanya mencuri sekali, kenapa aku terus diolok-olok?"katanya.

Aku menenangkannya dengan

memeluknya. Aku lalu membawanya masuk ke rumah dan mencoba

mengalihkan perhatiannya dengan menonton video fancam J-Hope dan

(11)

SUGA (teman satu kelompok J-Hope) di ponselku di ruang tengah. Sambil

memelukku, Noah memperhatikan tarian dan rap yang dibawakan idolanya

tersebut. Di sela-sela menonton, aku

melirik Noah. Aku yakin ia sudah sangat menyesal mencuri dompet milik

temannya. Setelah beberapa video

penampilan, video pidato leader dari grup J-Hope di UN dimainkan. Noah menyimak dengan baik apa yang dikatakan sang

leader.

"Maybe I made a mistake yesterday, but yesterday’s me is still me. I am who I am today, with all my faults. Tomorrow I might be a tiny bit wiser, and that’s me, too.

These faults and mistakes are what I am, making up the brightest stars in the

constellation of my life. I have come to love myself for who I was, who I am, and who I hope to become," ucap sang leader di sela-sela pidatonya. Setelah

(12)

mendengar kalimat itu, aku menepuk pundak Noah.

"It's okay to make mistake. What you

should do is fix it and make sure it won't happen again," kataku. Noah mulai

tersenyum. Mungkin, perasaannya sudah lebih baik sekarang.

"Thanks mom, I love you," kata Noah,

"Noah akan menjadi anak yang kuat dan keren seperti daddy." Aku tersenyum

mendengar

perkataan Noah. Menjadi penggemar dari suatu grup ternyata bisa memberi dampak sepositif ini. Aku lalu mematikan tampilan video di HPku

"Hei, Noah ingin mendapat uang untuk membeli tiket konser, kan? Ibu tahu cara yang lebih baik dan menyenangkan

daripada mencuri. Noah mau coba?"

Tanyaku.

(13)

"Ya!" Jawab Noah dengan semangat sambil menatapku.

"Kalau begitu, mulai besok kita akan

menjual paperbag dan cookies. Setelah kamu selesai mengerjakan tugas sekolah, segera bantu ibu membuat paperbag dari majalah bekas. Tentang cookies, ibu yang akan membuatnya. Nanti Noah yang

harus menjualnya. Apa kau setuju?"

"Setuju!" Sorak Noah bahagia, "Noah akan membuat banyak paperbag yang bagus."

Aku tersenyum senang melihat tingkah

Noah."Ibu, ayo membeli perlengkapannya sekarang," ajak Noah.

"Kita tidak pergi sampai Noah selesai mengerjakan tugas sekolah," jawabku.

"Baiklah,"Noah langsung berlari ke kamarnya sambil membawa tas

sekolahnya.

(14)

Ketika aku ikuti, aku melihat ia

mengerjakan tugasnya dengan semangat.

Aku lalu tersenyum kembali. Aku sangat senang Noahku sudah kembali.

-The End-

Referensi

Dokumen terkait

Kajian Hermeneutik Cerpen-Cerpen Danarto. Penerbit Dramata Palembang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami unsur-unsur cerpen dalam cerpen KKPK, untuk mengetahui pesan moral yang terkandung dalam cerpen

Konotasi tidak enak terdapat pada 3 cerpen di dalam kumpulan cerpen Perempuan di Rumah Panggung karya Isbedy Stiawan ZS, yaitu cerpen “Karena Ibu”, cerpen “Rindang Sedayu”,

Karya lukis “Melihat Kartini” bertolak dari pengalaman saya membaca cerpen karya Putu Wijaya dalam buku kumpulan cerpen Klop yang berjudul “Kartini”. Cerpen

Latar waktu yang digunakan oleh pengarang dalm cerpen ini memang tidak jelas dan tak banyak disebutkan, hanya ada beberapa keterangan yang menunjukan waktu

Seperti halnya dalam cerpen-cerpen pada kumpulan cerpen Majikanku Empu Sendok, dimana terdapat dua cerpen yang dengan jelas mengisahkan tentang Aku, seorang TKW di Hong

Hasil penelitian ini adalah (1) struktur cerpen Titip Rindu untuk Ibu antara lain, Tema tentang perjuangan seorang Ibu membesarkan anaknya dalam menggapai

Hasil penelitian menjelaskan bahwa pola cerita dalam cerpen-cerpen anak Indonesia memiliki sekuen lengkap, cenderung berpola kronologis, pencirian tokoh utama didominasi oleh penyebutan