AGENDA : Analisis Gender dan Anak , Vol. 4 (2), 2022, (Desember) ISSN Print:2615-1502 ISSN Online:2723-3278 Tersedia online di
http://ecampus.iainbatusangkar.ac.id/ojs/index.php/agenda
The Concept Of Physical Education and Its Integration With Mental Health According to The Qur'An and Hadith
Eliwatis*)
UIN Mahmud Yunus Batusangkar E-mail:[email protected]
Rusydi
UIN Imam Bonjol Padang E-mail:[email protected]
Charles
UIN Syekh Djamil Jambek Bukittinggi E-mail:[email protected]
Romi Maimori
UIN Mahmud Yunus Batusangkar
E-mail:[email protected]
Susi Herawati
UIN Mahmud Yunus Batusangkar
E-mail:[email protected]
*)Corresponding Author
Physical education in the view of Islam cannot be underestimated, because between the physical and the spiritual man is a unity. When physical education is carried out, it actually includes education for the human spirit, and vice versa. A popular motto is "al-'aqlu al-saliim fii al-jismi al- saliim", that has meaning a healthy soul there is a strong body. But in fact, physical education is often neglected because it focuses more on education that fills and develops spiritual potential. It will make human development completely unattainable. This paper tries to explain what and how the concept of physical education material contained in the Qur'an and Hadith, as well as its relationship to human health physically and psychologically. The research method used is descriptive qualitative through library research, therefore the source of data in this study is literature related to the discussion, with the data collection method is literature study (book survey). Data analysis using content analysis method which is descriptive analysis. The results showed that physical education is closely related to human health both physically and psychologically, including worship activities such as prayer and fasting, sports activities such as archery, horse riding and swimming and also activities related to hygiene and diet. This study concludes that the physical education material contained in the Qur'an and Hadith does not only focus on human physical health and development, but actually contains aspects of education and guidance on human mental/spiritual health.
Abstrak
Pendidikan jasmani dalam pandangan Islam tidak dapat dipandang sebelah mata, karena antara jasmani dan rohani manusia merupakan satu kesatuan. Ketika pendidikan jasmani dilaksanakan, maka sesungguhnya sekaligus termasuk di dalamnya pendidikan terhadap rohani manusia, begitu pula sebaliknya. Sebuah semboyan populer “al-‘aqlu al-saliim fii al-jismi al-saliim”, artinya di dalam jiwa yang sehat terdapat jasmani yang kuat. Namun faktanya, seringkali kali pendidikan jasmani ini sering terabaikan karena lebih focus pada pendidikan
Hal ini tentu akan membuat perkembangan manusia seutuhnya menjadi tidak tercapai. Tulisan ini mencoba memaparkan apa dan bagaimana konsep materi pendidikan jasmani yang terdapat dalam Alquran dan Hadits, serta hubungannya dengan kesehatan manusia secara fisik dan psikhis. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui penelusuran data kepustakaan (library research), karena itu sumber data pada penelitian ini adalah literatur yang berkaitan dengan pembahasan, dengan metode pengumpulan datanya adalah study literature (book survey). Analisis data menggunakan metode content analysis yang bersifat deskriptif analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan jasmani berhubungan erat dengan kesehatan manusia baik secara fisik maupun phiskis, di antaranya pada aktivitas ibadah seperti shalat dan puasa, pada kegiatan olah raga seperti memanah, berkuda dan berenang dan juga pada aktivitas yang berkaitan dengan kebersihan dan pola makan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa materi pendidikan jasmani yang terdapat dalam Alquran dan Hadits tidak hanya focus pada kesehatan dan perkembangan fisik manusia semata, tetapi sesungguhnya terkandung aspek pendidikan dan pembinaan terhadap kesehatan mental / rohani manusia.
Keywords: Educations, Mental Health, AL-Quran
PENDAHULUAN
lquran dan hadis merupakan sumber utama atau sumber pokok yang menjelaskan ketentuan yang terkait dengan seluruh aktifitas manusia dalam berbagai posisi, keadaan, situasi dan kondisi. Allah Swt.
menciptakan manusia dalam bentuk sempurna dan dibekali dengan berbagai potensi yang terkandung dalam potensi jasmani maupun rohani, agar manusia mampu menjalani fungsinya sebagai
‘abd Allah dan khalifah Allah fi al-ardh.
Karena itu, pendidikan Islam harus mengacu pada pengembangan potensi manusia yang seimbang antara aspek badaniyah (jism) dengan pengembangan aspek ruhaniah, dengan berlandaskan kepada Alquran dan Hadits.
Pendidikan merupakan proses yang terencana bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang dikehendaki Allah swt, beriman dan bertaqwa kepadaNya. Berbagai potensi dan kesempurnaan ciptaan yang diberikan Allah Swt. kepada manusia tidak akan berkembang dengan baik jika tidak mendapat bimbingan dan pengarahan dari penanggung jawab pendidikan (pendidik, orang tua, masyarakat). Sesungguhnya dalam Pendidikan Islam juga menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan potensi jasmani (jismiyah), sebab pendidikan jasmani tidak saja berkaitan dengan pengembangan fisik semata akan tetapi sangat berhubungan dengan kesehatan rohani dan mental. Sebuah semboyan populer “al-‘aqlu al-saliim fii al-jismi al-saliim”, dengan makna bahwa pada jiwa yang sehat terdapat jasmani / fisik yang kuat.
Sekurang-kurangnya terdapat 244 ayat yang menjelaskan tentang Pendidikan
untuk menjaga kesehatan jasmani sekaligus kesehatan mental, di antaranya ayat tentang memperhatikan makanan dan minuman ada 134 ayat, menjaga kebersihan ada 7 ayat tentang istirahat ada 7 ayat. Di samping itu, ayat- ayat tentang ibadah shalat 84 ayat dan puasa 12 ayat, merupakan ayat yang tidak hanya terkait dengan perintah beribadah semata yang bertujuan menjaga kesehatan rohani , namun juga berkaitan erat dengan kesehatan jasmani manusia.
Namun jika dilihat pada realitas fenomena yang ada, pengembangan aspek jasmani (jismiyah) sering terabaikan dalam pendidikan Islam, penekanan kegiatan pendidikan lebih cenderung pada aspek pendidikan rohani, padahal fisik (jasmani) saling terkait dengan aspek rohani /mental.
Jika penekanan pendidikan lebih cenderung kepada salah satu dimensi saja, tentu akan mengakibatkan ketimpangan dalam pengembangan potensi manusia. Karena eratnya kaitan jasmani dan ruhani manusia,maka tulisan ini tidak hanya memaparkan tentang Pendidikan jasmani menurut Alquran dan Hadits, namun juga diintegrasikan dengan aspek kesehatan., dengan batasan masalah adalah : 1).
Pengertian dan Urgensi Pendidikan jasmani dan 2). Materi Pendidikan jasmani menurut Alquran dan Hadits dan hubungannya dengan kesehatan mental/ rohani.
METODE:
Jenis penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan cara penelusuran data melalui kepustakaan (library research) [1], [2]. Adapun tahapan kegiatan melalui studi kepustakaan (library research) adalah dengan pengumpulan data pustaka,
A
membaca, serta mengelola bahan penelitian, menganalisis data kemudian menarik kesimpulan. Sumber data pada penelitian ini adalah literatur atau sumber yang berkaitan dengan pembahasan. Oleh karena itu, dalam metode pengumpulan datanya study literature (book survey) yaitu dengan membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian, dengan mengkaji buku- buku, menelusuri dan menelaah bahan literature yang relevans dengan fokus pembahasan. Analisis data menggunakan metode content analysis yang bersifat deskriptif analisis yaitu mengkaji permasalahan secara mendalam dengan mengemukakan analisa- analisa dan menggambarkan secara rinci terhadap permasalahan yang diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN:
Pada hakikatnya, manusia memiliki tiga potensi utama yaitu 1) potensi jismiah yaitu seluruh potensi yang berhubungan dengan keterampilan dan indra manusia, 2) potensi nafsiah terdiri dari potensi al-aql, al-qalb dan al-nafs serta 3) potensi ruhaniyah yang terdiri dari potensi al-ruh dan al-fitrah.
Setiap potensi tersebut saling berhubungan satu sama lain, karena itu keseimbangan dalam pengembangan potensi tersebut melalui pendidikan, sangat penting agar dapat mewujudkan manusia yang berkualitas.
Pengembangan potensi jasmani sebagai potensi pertama sangat menentukan perkembangan potensi nafsiah dan potensi ruhaniyah yang dimiliki manusia. Pentingnya pembinaan dan pendidikan terhadap jasmani tersirat di dalam Quran antara lain pada Surah al-Baqarah ayat 247, Q.S. AlQashas ayat 26, Q.S. Maryam ayat 10, Q.S. an- Nahl ayat 69, Q.S. Al-Anbiya ayat 8.
Q.S. Al-Baqarah: 247. :
… مِلْمِلْا ىمِ ةًطَلْطَ هٗطَا طَ طَ لِكُلْطْطَ كُىفٰطَلْا ط لل نّما طَاطَ
مِلْ مِلْا طَ ۗ ….
Artinya : “…. (Nabi) menjawab,
“Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik…” (Q.S. Al-Baqarah: 247) Pentingnya pendidikan jasmani juga tersirat dalam hadis berikut ini:
Artinya : “Orang mukmin yang kuat lebih disukai oleh Allah Swt dari pada orang mukmin yang lemah..”[3]
Berdasarkan Ayat dan Hadis di atas, diketahui bahwa Islam menegaskan pentingnya generasi yang sehat dan kuat. Islam memberi pemahaman begitu penting dan istimewanya tubuh (jasmani) manusia, maka segala aktivitas yang berguna dan dapat memperkuat tubuh melalui pendidikan jasmani merupakan aktivitas yang diperlukan dan dipandang baik.
Pendidikan jasmani terdiri dari kata pendidikan dan jasmani, di mana pendidikan adalah proses pembinaan terhadap sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang sebagai usaha untuk mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.
Sedangkan jasmani adalah tubuh / fisik.
Walaupun pembinaan terhadap jiwa merupakan tujuan utama dari hidup manusia, namun pembinaan terhadap jasmani tidak boleh dilupakan karena tanpa jasmani yang sehat, jiwapun tidak akan berkembang secara sempurna. [4]
Secara sederhana pendidikan jasmani memiliki makna suatu proses yang menumbuh kembangkan potensi dengan cara melakukan aktivitas fisik yang bermanfaat. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1, menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”[5]
Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 247 terdapat lafadh ِِْْا (al-Jism), yang berarti jasmani , dalam surat al- Munafiquun ayat 4, juga terdapat lafadh ِِْْا (al-Jism) yang jamaknya
ِْجلا(al- ajsam) dengan arti yang sama yaitu jasmani. [6] Menurut Islam, manusia terdiri dari jasmani dan rohani, dimana keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi, dengan jiwa kemanusiaannya manusia dapat menduduki khalifah di muka bumi, memikul tanggung jawab taklif dan amanah. [7] Jasmani merupakan wadah dari ruh dan akal, dimana akal yang sehat sangat ditentukan oleh jasmani yang sehat pula.
Bukhari Umar, menyatakan bahwa pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang menggunakan aktivitas jasmani untuk mendapatkan kebugaran dalam berbagai hal untuk menjaga dan memelihara kesehatan badan, seperti : alat-alat pernafasan, peredaran darah, pencernaan makanan, melatih otot-otot dan urat saraf, melatih ketangkasan dan lain-lain. [8]
Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran dan kesehatan jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan
emosi. [9] [10].
Tujuan pendidikan jasmani dapat dikatakan sejalan dengan tujuan akhir dari pendidikan itu sendiri, karena pendidikan jasmani bukan hanya sebatas pendidikan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani saja, tetapi juga untuk mengembangkan potensi ruhani manusia melalui aktivitas jasmani.[11]
Sebagaimana diungkapkan oleh Depdiknas bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional [9], [12],[13].
Diketahui bahwa pada pembelajaran pendidikan jasmani juga terdapat tujuan pembelajaran yang akan dicapai yaitu bukan sekedar sehat jasmani akan tetapi juga sehat secara sikap dan kognitif [14]. Definisi tersebut menjelaskan bahwa perlunya melakukan pendidikan yang berkaitan dengan aspek jasmani (fisik) dan rohani (psikis) sehingga menghasilkan generasi yang seimbang,cerdas intelektual dan spiritual [15]. Karena itu , dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah, guru tidak hanya mengembangkan respon motorik siswa, tetapi juga interaksi social, perkembangan intelektual dan mental siswa.
Badan Standar Nasional Pendidikan merumuskan bahwa pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan
merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan.
Pendidikan jasmani bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berpikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengetahuan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga, dan kesehatan yang dirancang secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Jadi, tujuan pendidikan jasmani sejalan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.[11] Berdasarkan penjelasan di atas, dipahami bahwa misi pendidikan jasmani adalah untuk menghasilkan insan yang terdidik, yang mampu mengembangkan seluruh potensi jasmani dan rohani manusia secara komprehensif.
B. Pendidikan Jasmani menurut Alquran dan Hadits dan hubungannya dengan kesehatan fisik dan mental Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa pendidikan jasmani (fisik) saling terkait dengan pendidikan rohani (mental/psikhis). Kondisi jasmani manusia sangat dipengaruhi oleh kondisi rohani / kesehatan mentalnya, begitupun sebaliknya.
Materi pendidikan jasmani yang terdapat dalam Alquran dan Hadits dalam hubungannya dengan kesehatan baik fisik maupun pskhis, dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Materi Pendidikan jasmani dalam ibadah shalat dan puasa
a. Shalat
Gerakan-gerakan tertentu dan teratur dalam shalat mengandung nilai kesehatan bagi manusia, tidak hanya semata untuk kesehatan jasmani tetapi
juga bagi kesehatan rohani / mental.
Shalat memiliki pengaruh yang luar biasa untuk terapi rasa galau dan gundah. Shalat dapat menghadirkan rasa tenang, tentram dan damai.
Diriwayatkan oleh Hudzaifah RA bahwa Rasulullah berkata; “Jika Nabi Shallallahu „Alaihi Wasallam merasa gundah karena sebuah perkara, maka beliau menunaikan shalat “(HR. Abu Dawud) [16]. Hal ini mengisyaratkan bahwa shalat untuk menciptakan rasa tenang dan tentram pada jiwa seseorang. Dalam QS Al-A’la ayat 14- 15, Allah Swt menjelaskan bahwa shalat berfungsi sebagai pembersih jiwa manusia dan membuat kebahagiaan pada manusia. Shalat menjadikan seorang muslim merasakan ketenangan hati, bersih jiwanya, dan seimbang jiwanya[17].
Di samping itu, ibadah shalat juga berfungsi untuk kesehatan fisik manusia.
Rasulullah Saw bersabda :
مُلْطْطَ ك نل ىنْطْ م نل مَوكُ طَ مِ طَطصمْ لِكُطَطٰلْطَ كُلْكُ اطَطَ
طَطُ طَ اطَمِ طَ مُلْطَمُلْطَ طَاطَ مْ مُلْطَطْ طَطِطج طَنَطُ اطَمِ كُكُلْطَ طَ طِنْطُ طَ
كُطُلَطَ طَطِ طَ اطَمِطِ كٗطَلْطَ طَطصطَ نِكث مُلْطُطَلُكَ لْمَ مُلْطَطْ طْطُلَطَ
طَطَ طَ طَطِطُ اطَمِطِ كُطَاطُطَ رَاطَطِ لَكُ طَوكِطْ ىنُطْ ى طوطُلُا مِا طَلْطَمَ طَطَلَطُلُا طَ اطَمْ مِمَاطَ طَ طَ رٍ مَطُلٰكَ طَلْطَ مُلْطَطْ
طَطْطج مْلْطُطِلُ نَْا يمِ طَطْطج اطَمِطِ طًطْلَمَلْا مُلْطْلج مَ مَمَاطْطَ
يمِ طَطْطج اطَمِ طَ ىطْلَكْلْا طَطصطَ طَ ىطَلْكْلْا مُمْلج مَ ىطْطَ
ى طَلْك لأا طَطصطَ طَ ىطَلْكْلْا كُطْلج مَ طَنَطَ مِطَ مْ للا مًطِلُنَْا مُمِطَطِلَطَ ىطْطَ طَطِطَ طَ
Artinya: “Saya lebih cermat (hafal) dari padamu tentang shalat Rasulullah saw.
kulihat apabila beliau bertakbir, mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya dan apabila ruku’
meletakkan kedua tangannya pada lututnya, lalu membungkukkan punggungnya, lalu apabila mengangkat kepalanya ia berdiri tegak sehingga luruslah tiap tulang-tulang punggungnya seperti semula; lalu apabila sujud, ia letakkan kedua
telapak tangannya pada tanah dengan tak meletakkan lengan dan tidak merapatkannya pada lambung, dan ujung jari-jari kakinya dihadapkan ke arah qiblat. Kemudian apabila duduk pada raka’at kedua ia duduk di atas kaki kirinya dan menumpukan kaki yang kanan. Kemudian apabila duduk pada raka’at yang terakhir ia majukkan kaki kirinya dan menumpukan kaki kanannya serta duduk bertumpu pada pantatnya”. (HR. Bukhari)
Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa ibadah shalat merupakan aktivitas jasmani yang dilakukan seseorang dalam beribadah namun memiliki manfaat bagi kesehatan fisik manusia. Muhammad Arbain dalam bukunya Shalat For Theraphy sebagaimana dikutip oleh A. Rafiqah, menjelaskan fungsi gerakan shalat bagi kesehatan fisik manusia [18].
Gerakan takbiratul ihram dapat melancarkan aliran darah dalam tubuh dan melancarkan peredaran getah bening, dan menguatkan otot lengan.
Gerakan rukuk dengan tuma’ninah dapat merawat kelenturan dan menjaga kesempurnaan dan fungsi tulang belakang, serta melancarkan aliran darah karena sejajarnya posisi jantung dengan otak sehingga aliran darah dapat mengalir dengan maksimal ke bagian tengah tubuh. [18]
Gerakan i’tidal dalam shalat dapat melatih pencernaan menjadi lebih baik, dan lancar karena organ-organ pencernaan mengalami pemijatan secara alami dan pelonggaran secara teratur. Sedangkan posisi tubuh yang berdiri dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangan ke samping telinga, dapat membuat darah yang terdapat dikepala turun ke bawah dengan lancar, sehingga bagian pangkal otak yang
berfungsi untuk mengatur keseimbangan dapat berkurang tekanan darahnya. Pada gerakan sujud dapat memaksimalkan aliran darah, dan juga oksigen ke otak atau kepala, serta dapat mencegah sumbatan yang terjadi pada pembuluh darah di jantung, dan juga memompa getah bening ke leher dan ketiak. [18]
Pada gerakan sholat duduk diantara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik saraf keseimbangan pada tubuh, merenggangkan otot-otot yang ada pada kaki, terutama kaki bagian atas dan juga kaki bagian bawah. Menjaga kelenturan saraf bagian paha dan betis sehingga dapat mencegah penyakit diabetes, prostat, dan sulit buang air kecil. Salam ke kanan dan ke kiri Gerakan terakhir dari shalat yaitu salam ke kanan dan ke kiri dengan menolehkan kepala ke arah kanan dan juga ke arah kiri membuat urat leher menjadi tertarik dan ketika itu terjadi kelenturan dari urat leher. Gerakan ini juga dapat merelaksasikan otot-otot di sekitar leher dan kepala, dapat melancarkan aliran darah di kepala, mencegah sakit kepaka serta dapat mencegah gangguan pada saraf karena otot pada tulang leher yang tegang, dan dapat membuat kulit wajah jadi lebih kencang. [18]
b. Puasa
Puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, baik kesehatan jasmani / fisik maupun kesehatan rohani / psikologis manusia.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 184 :
…طّ لوكَطْلِطِ لِكُلْكُ لّما لِكُنْ رَلْطْ ا لوكَ لوكصطِ لّطا طَ
Artinya : “….dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Nabi Muhammad SAW. bersabda,
“Berpuasalah kamu, niscaya kamu
akan sehat”. Ayat dan hadit di atas, secara jelas menyatakan bahwa puasa mendatangkan banyak manfaat bagi pelakunya. Manfaat puasa bagi kesehatan fisik sudah dibuktikan secara empiris ilmiah. Dari berbagai penelitian, berpuasa terbukti memberi kesempatan beristirahat bagi organ pencernaan, termasuk system enzim maupun hormon. Dalam keadaan tidak berpuasa, system pencernaan dalam perut terus aktif mencerna makanan, hingga tak sempat beristirahat. Ampas yang tersisa akan menumpuk dan bisa menjadi racun bagi tubuh. Selama berpuasa, system pencernaan akan beristirahat dan memberi kesempatan bagi sel-sel tubuh khususnya bagian pencernaan untuk memperbaiki diri, sehingga dapat membersihkan tubuh dari racun, kotoran dan ampas.[19]
Puasa juga bermanfaat untuk membakar lemak tubuh, meningkatkan dan memperbaiki fungsi hormone, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan fungsi otak, meningkatkan fungsi syaraf.
mengurangi tekanan darah, mengurangi risiko penuaan karena berpuasa dapat meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh,[20]
menghindarkan diri dari potensi terkena serangan jantung, mengurangi risiko kanker, karena puasa memblokir makanan untuk bakteri, virus, dan sel kanker, serta parasit-parasit yang akan masuk dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman.
Tak hanya dari sisi kesehatan fisik, puasa pun memiliki manfaat pada sisi psikologis. Menurut Dadang Hawari (1995), dalam setiap diri manusia terdapat naluri berupa dorongan agresivitas yang bentuknya bermacam- macam, seperti agresif dalam arti emosional, contohnya mengeluarkan
kata-kata kasar, tidak senonoh dan menyakitkan hati (verbal abuse).
Dengan berpuasa, manusia berlatih dan memiliki kemampuan pengendalian diri (self control), sehingga menjadi lebih sabar terhadap dorongan- dorongan atau impuls-impuls agresivitas yang datang dari dalam diri dan tahan terhadap berbagai tekanan.
Berpuasa dapat mengubah pikiran menjadi tenang, damai, dan bahagia, menumbuhkan rasa empati dan simpati, mengurangi rasa takut, kecemasan dan depresi, serta meningkatkan kesadaran terhadap hubungan diri sendiri, orang lain, Allah, serta semesta alam. [21]
Kazemi, dkk (2006), menemukan skor rata-rata kesehatan psikologis seseorang sebelum puasa ramadan dengan sesudah ramadhan meningkat dari 33.94±8.55 menjadi 34.5±8.2.
Sedangkan, skor depresi rata-rata menurun dari 14.45±10.33 hingga 11.88±10.38. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Puasa Ramadhan menjadi faktor penting untuk menurunkan depresi dan meningkatkan kesehatan psikologis.[21]
2. Materi Pendidikan jasmani dalam olah raga ( memanah, berkuda, berenang)
Olahraga merupakan salah satu kebutuhan setiap manusia, apabila manusia rutin melakukan olahraga akan berpengaruh terhadap perkembangan jasmani dan rohaninya.
Sabda Rasulullah SAW “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih cinta kepada Allah dari pada orang mukmin yang lemah” (Hadis Riwayat Bukhari). Beberapa kegiatan olah raga yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah :
1) Memanah
ك نل ىنْطْ م نل طَوكُ طَ كُلِمَطُ كَوكَطْ رَمَاطَ طْلَ طًطَلَكَ لْطَ
اطَ لِكْطْ اَلَمَطَ طَ كَوكَطْ مَطَلْمَلْا ىطْطَ طوكَ طَ طِنْطُ طَ مُلْطْطَ
طِ نوكَلْا نّمِ طَطَ كيلَنَْا طِ نوكَلْا نّمِ طَطَ رِ نوكَ لْمَ لِكُلِطَطُلُا
َِْْ ٗاََ(.كيلَنَْا طِ نوكَلْا نّمِ طَطَ كيلَنَْا (
Artinya: Uqbah ibn Amir berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda ketika beliau sedang berada di atas minabar: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah! Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah! Ketahuilah bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah!(HR.Muslim). [22]
Olah raga memanah merupakan olah raga yang dapat melatih kekuatan dan daya tahan fisik. Memanah dapat meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan karena membidik serta menembakkan anak panah sesuai dengan sasaran pandangan mata, memanah juga melatih keseimbangan tubuh, meningkatkan fokus dan konsentrasi, membakar kalori, membantu relaksasi, melatih kesabaran serta dapat meningkatkan rasa percaya diri.
Olah raga memanah dapat membangun kekuatan tubuh, mengencangkan otot- otot tubuh bagian atas mulai dari tangan, lengan, bahu dan dada. Karena pada saat melakukan teknik memanah terutama saat menarik tali busur otot akan mengalami kontraksi isotonis, terutama pada tarikan awalan (primary draw). [23] Otot-otot yang terlibat dalam menarik busur harus mendapat perhatian khusus karena otot-otot tersebut bekerja sangat ekstra dalam menarik dan menahan beban dari busur yang cukup berat dan berlangsung secara berulang-ulang dalam rangkaian gerakan memanah.
2) Berkuda
ىنْطْ م نل كَوكُ طَ طَاطَ طَاطَ مّيمْطْكِلْا رَمَاطَ مْلَ طًطَلَكَ لْطَ
لَطْطَ اوكَ لَطِ لّطَ طَ اوكَطُ لَا طَ اوكَ لَا ... طِنْطُ طَ مُلْطْطَ ك نل كَكج نَْا مُمَ وكْلْطْ رَليطَ نَكُ نّمِ طَ اوكَطُ لَطِ لّطَ لْمَ نيطْمِ
كُطُطَطَ طَكَ طَ كُطُ طَطِ كُطَْمَلَطِ طَ مُمُ لوطَمَ مَكجنَْا طًطْلَطَ نَمِ رَمْاطَ
ُجاَ َْا ٗاََ ....كُطِطَ طَلَا.(
Artinya: Memanahlah dan kenderailah olehmu (kuda). Namun, memanah lebih saya sukai daripada berkuda.
Sesungguhnya setiap hal yang menjadi permainan seseorang adalah batil kecuali yang memanah dengan busurnya, mendidik/melatih kudanya dan bersenang-senang dengan istrinya.[22]
Dari hadis di atas dipahami bahwa berkuda dan memanah termasuk olahraga yang disukai oleh Rasulullah Saw. Manfaat berkuda bagi jasmani manusia dapat melatih dan membentuk otot yang sehat serta melatih keberanian dan ketangkasan. Selain itu berkuda juga memberikan manfaat bagi manusia dari segi rohani seperti dapat melatih keseimbangan dalam tubuh, kelincahan, dan kesabaran.[24]
Berkuda merupakan lambang dari keberanian. Kegiatan berkuda mampu memunculkan jiwa kepemimpinan, membangun jiwa yang pemberani, tangkas, percaya diri, serta bebas dari rasa takut [25]. Secara substantif kemampuan berkuda adalah simbol dari hidup saling bekerjasama, pengendalian diri serta saling menguntungkan dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan.
3) Berenang
.
Artinya : “ Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Husain al-
Qadli telah mengabarkan kepaada kami Abu Ja‟far Muhammad bin Ali‟ bin Dahim as-Syaibani saya Ahmad bin Ubaid bin Ishak bin Mubarrak al-Athar, mengabarkan kepada kami Ayahku, meriwayatkan kepada kami Qais dari Lais dari Mujahid dari Ibn Umar berkata: bersabda Rasulullah Saw:
ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, menenun bagi anak perempuan.” (HR Imam al-Baihaqi)[26]
Selain memberikan manfaat untuk kesehatan fisik, berenang juga memberikan manfaat bagi kesehatan mental. Untuk kesehatan fisik, olah raga renang dapat membantu membakar kalori, menyehatkan tulang, hingga mengencangkan tubuh.
meningkatkan kemampuan kinerja otak, menunda proses penuaan dini, dan meningkatkan kebugaran jasmani, karena berenang dapat melatih paru- paru anda dan denyut jantung. [27]
sedangkan manfaat berenang untuk kesehatan mental adalah dapat mengurangi atau melepaskan stres membantu merilekskan tubuh dan memperbaiki suasana hati, menenangkan pikiran, mengurangi kecemasan, meningkatkan percaya diri, karena berbagai gerakan yang dilakukan dalam air dapat memicu tubuh untuk melepaskan endorfin, dopamin dan serotonin, sehingga dapat mengurangi tingkat stres, kecemasan dan mengurangi depresi. [28]
3. Materi Pendidikan jasmani tentang kebersihan dan kesehatan fisik
Firman Allah SWT dalam surah Al- Baqarah ayat 222 : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” Materi
pendidikan tentang kebersihan yang terkait dengan pendidikan jasmani yaitu kebersihan badan, pakaian dan lingkungan. Sedangkan yang berkaitan dengan kesehatan fisik di antaranya adalah menjaga pola makan serta memaksimalkan waktu istirahat.
Terkait kebersihan badan, Rasulullah Saw. bersabda :
:َاَ ُِْ َ َُْْ ا ىْْ يَْْا َْ َََِْ يََ َْ
، رَلْطَكَ مِلْمَطْ ىمِ طَ) طْلْمْمَلْكَْا ىطْطَ نّكَطَ لّطَ طَ لوطْ
ٗاََ .رِطَطْ مَّكُ طَلْطَ مِا طومّْْامَ لِكْكِ لَطَ ط طأ (ىمُنَكَ ىطْطَ
َِْْArtinya : “Sekiranya tidak akan memberatkan bagi orang-orang yang beriman (dalam riwayat Zuhayr, bagi umatku) tentu aku menyuruh mereka menggosok gigi ketika mendirikan setiap salat”.
Berdasarkan ayat dan hadis di atas, diketahui bahwa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan jasmani, dengan cara mendidik umatnya dengan memberi keteladanan melalui hadis fi’liyah maupun qauliyahnya seperti menggosok gigi, mandi dan beristinjak sehabis buang hajat. Begitu juga dengan menjaga kebersihan mulut dan gigi sangat besar manfaatnya bagi kesehatan. Perhatian dan kesungguhan Nabi menjaga kebersihan tersebut perlu dicontoh walaupun teknik dan alat yang dipergunakan dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman.[29]
Kebersihan dalam berpakaian merupakan salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AlMuddassir ayat 4 : “Dan pakaianmu bersihkanlah” [30],[31]. Sementara untuk menjaga kesehatan fisik manusia, Alquran dan hadits / sunnah telah banyak memberi petunjuk tentang
makanan dan minuman yang halal lagi sehat dan bergizi (thayyiban) yang dapat dijadikan pedoman oleh manusia untuk memelihara kesehatan jasmaninya. Surat al-A'raf/7: 31, Allah menyebutkan bahwa :
ا لوكَ طَلَا طَ ا لوكْكُ نَ رَ مِلْطَ مَّكُ طَلْمَ لِكُطُطْلْ مَ ا لَكَكْ طَطَفا يليمْطَفْ
طْلْمِ مَلْكَلْا لَ محكْ طَ هُنَما اا لوكِ مَلْكِ طَ طَ ࣖ
Artinya : Wahai anak cucu Adam!
Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
Dalam surat Al-Maidah ayat 88.
Allah Swt. juga berfirman : “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada- Nya.”
Ayat di atas memuat perintah Allah kepada manusia untuk melaksanakan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bermanfaat untuk tubuh dan menghindari pola makan yang membahayakan. Secara garis besar, makanan dalam Islam dibagi menjadi dua, yaitu makanan yang halal lagi sehat dan bergizi (thayyiban) karena zatnya, dan makanan yang haram, baik haram karena jenis (zatnya) seperti daging babi, daging binatang buas yang bertaring dan hewan yang menjijikan lainnya termasuk juga minuman keras dan sebagainya, maupun makanan yang diharamkan karena cara memperoleh makanan itu tidak benar, yaitu dengan cara yang bathil seperti harta riba, harta curian, dan lain-lain.
Jadi, untuk mendapatkan fisik yang sehat, maka tubuh tidak hanya diberi makanan halal saja tetapi juga thayib yaitu makanan yang bergizi tinggi .[31]
Dalam hal menjaga porsi makan
Rasulullah menganjurkan agar makan dengan porsi cukup. “Makanlah sebelum engkau merasa (terlalu) lapar dan berhentilah sebelum merasa kenyang”. Kapasitas lambung manusia diciptakan Allah 1/3 untuk makan, 1/3 untuk minum dan 1/3 lagi untuk bernafas.
ََآ َْا َْحَ ,ََْ َْ اََ َاََ يََآ لَ اَ
,َُاَِْ ِْثِ ًْاحَ َ ّاُ ِِّ ,َُْْ ََْْ تََُ
ُْْْٰ ِْثَ ,َُاَشْ ِْثَ
Rasulullah SAW bersabda bahwa :
“Tidak ada suatu tempat yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap saja, asal dapat menegakkan tulang rusuknya. Tetapi apabila ia terpaksa melakukannya, maka hendaklah sepertiga dari perutnya itu diisi dengan makanan, sepertiganya dengan minuman, dan sepertiganya lagi dengan napasnya.”
(HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Selain itu, Rasulullah juga memberikan bimbingan cara minum yang baik, seperti minum dua tiga kali teguk, serta larangan untuk bernapas dalam bejana ketika sedang minum.
Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian minum dengan sekali teguk seperti minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali teguk. Dan ucapkanlah Bismillah jika kalian minum dan ucapkanlah Alhamdulillah jika kalian selesai minum.” (HR. Tirmidzi dari Ibn Abbas). Berdasarkan beberapa sumber di atas, dapat dipahami bahwa terdapat tuntunan atau materi pendidikan jasmani baik dalam Alquran sendiri maupun pada hadits Rasulullah yang mengatur pola makan bagi manusia demi kebaikan dan kesehatan manusia itu sendiri.
KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan dan uraian dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai sumber pokok dalam Pendidikan Islam, Alquran dan hadis telah memberi petunjuk kepada manusia akan pentingnya Pendidikan dan pembinaan terhadap jasmani, karena kondisi jasmani manusia akan menentukan pula kondisi mentalnya, yang pada gilirannya akan menentukan kualitas manusia dalam menjalankan fungsinya sebagai ‘abd Allah dan khalifah Allah fi al-ardh .
REFERENSI:
[1]M. Messy and C. Charles,
“Pendidikan Karakter Dalam Al- Qur’an Surah Al-Isra Ayat 23-30 Menurut Tafsir Al-Azhar,” Innov.
J. Soc. Sci. Res., vol. 2, no. 1, pp.
472–482, 2022, doi:
10.31004/innovative.v2i1.3760.
[2] K. Akhyar, J. Junaidi, Z.
Sesmiarni, and S. Zakir, “Nilai- nilai Pendidikan Agama Islam dalam Q.S. Luqman ayat 12-19 telaah Tafsir Al-Azhaar dan Al- Misbah,” Edumaspul J. Pendidik., vol. 5, no. 2, pp. 752–756, 2021, doi:10.33487/edumaspul.v5i2.1741.
[3] ma’mur Daud, Terjemahan Hadis Shahih Muslim. Malaisia: Klang Book Centre, 1995.
[4] Rochim, “Konsep Pendidikan Jasmani, Akal dan Hati Dalam
Perspektif Hamka,”
PANCAWAHANA J. Stud. Islam, vol. 2, no. 2, pp. 59–83, 2017.
[5] U. S. P. Nasional, “Introduction and Aim of the Study,” Acta Pædiatrica, vol. 71, pp. 6–6, 1982,
doi: 10.1111/j.1651-
2227.1982.tb08455.x.
[6] Mujahir, “Jasmani Manusia Dalam Perspektif Para Ahli Pendidikan,”
J. QATHRUNÂ, vol. 2, no. 2, pp.
87–120, 2015.
[7] H. Langgulung, Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka al- Husna, 1986.
[8] B. Umar, Hadits tarbawi (Pendidikan dalam Perspektif Hadits). Batusangkar: STAIN Batusangkar Press, 2011.
[9] J. Riyanta, “kesehatan jasmani dalam perspektif pendidikan Islam,” J. Aksioma Ad-Diniyah, vol. 7, no. 1, pp. 1–28, 2019.
[10] D. M. Zaky, “Pendidikan Jasmani Perspektif Sayyid Qutub,” J.
Pendidik. Educ., vol. 2, no. 1, pp.
21–30, 2020.
[11] A. Widodo, “Makna Dan Peran Pendidikan Jasmani Dalam Pembentukan Insan Yang Melek Jasmaniah/Ter-Literasi
Jasmaniahnya,” Motion J. Ris.
Phys. Educ., vol. 9, no. 1, pp. 53–
60, 2018, doi:
10.33558/motion.v9i1.1432.
[12] H. Khair, “Aspek-Aspek Pendidikan Islam Dalam Persfektif Al-Qur’an,” Cross-border, vol. 4, no. 1, pp. 642–652, 2021.
[13] A. Lailaturrohmah, “Pendidikan Jasmani Dan Keterampilan Menurut Al Quran Dan Hadis,” J.
Pendidik. Jasm., vol. 1, no. 1, pp.
1–8, 2020.
[14] S. Suprayitno and E. Mujahidin,
“Kurikulum Pendidikan Jasmani:
Studi Analisis Kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam,” Tawazun J.
Pendidik. Islam, vol. 13, no. 1, p.
75, 2020, doi:
10.32832/tawazun.v13i1.3055.
[15] S. wahidin, unang; Ahmad, “Jurnal Edukasi Islami Jurnal Pendidikan Islam Vol . 07 / No . 1 , Teori-
Teori Pendidikan … Teori-Teori Pendidikan …,” J. Pendidik. Islam, vol. 07, no. 1, pp. 47–66, 2018, doi:
10.30868/EI.V7.
[16] I. Fuad, “Menjaga Kesehatan Mental Perspektif Al-Qur’an dan Hadits,” J. An-Nafs Kaji. Penelit.
Psikol., vol. 1, no. 1, pp. 31–50, 2016, doi: 10.33367/psi.v1i1.245.
[17] A. M. Umri Hayati, “Shalat Sebagai Sarana Pemecah Masalah Kesehatan Mental (Psikologis),”
Spiritualita, vol. 4, no. 2, 2020, doi:
10.30762/spr.v4i2.2688.
[18] A. Rofiqoh, “Shalat Dan Kesehatan Jasmani,” Spiritualita, vol. 4, no. 1, pp. 65–76, 2020, doi:
10.30762/spr.v4i1.2324.
[19] A. Rahmi, “Puasa dan Hikmahnya Terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Spiritual,” J. Stud.
Penelitian, Ris. dan Pengemb.
Pendidik. Islam, vol. 3, no. 1, pp.
89–106, 2015.
[20] N. A. Rumana1, L. Sitoayu, and M.
Sa’pang, “Korelasi Kadar Gula Darah Puasa Terhadap Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Type 2 di Puskesmas Jakarta Barat Tahun 2018,” Heal. Inf. Manag. J., vol. 6, no. 2, p. 41, 2018.
[21] I. I. Aqiilah, “Puasa Yang
Menajubkan (Studi
Fenomenologis Pengalaman Individu Yang Menjalankan Puasa Daud),” J. EMPATI, vol. 10, no. 2, pp. 163–189, 2020, doi:
10.14710/empati.2020.27704.
[22] A.-H. Abi Abdillah Muhammad, Sunan Ibnu Majah Juz2. Dar al- Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah.
[23] S. Susanto, “Pengaruh Latihan Sirkuit terhadap Peningkatan Kebugaran Jasmani dan Ketepatan Membidik Panahan pada Anak Usia Dini,” Ta’allum J. Pendidik.
Islam, vol. 3, no. 2, pp. 185–199,
2015, doi:
10.21274/taalum.2015.3.2.185-199.
[24] D. Erlistiana, Elitawati, Hesti, and M. Andani, “Efektivitas Olahraga 3B (Berenang, Berkuda, Berpanah) sebagai Sarana Dakwah Islam,”
BUSYRO J. Broadcast. Islam.
Commun. Stud., vol. 02, no. 01, pp.
1–8, 2020.
[25] S. N. Aprida, H. Yusuf, M. H.
Samiaji, and N. I. Makarau,
“Pandangan Guru Terhadap Program Berkuda Bagi Anak Usia Dini di Raudhatul Athfal,” J. Obs.
J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 6, no. 5, pp. 5145–5153, 2022, doi:
10.31004/obsesi.v6i5.2810.
[26] A. B. bin H. Al-Baihaqi, Syu’bal Imam Al-Baihaqi, Cet.1. Beirut:
Dar al-Kutub Ilmiyah, 1989.
[27] Yulinar and E. Kurniawan, “Sports in Islamic Views,” Muslim Sehat, vol. 1, no. 1, pp. 9–11, 2011.
[28] E. N. Elzas, “Analisis Tingkat Konsentrasi Anak Usia 11-13 Tahun melalui Aktivitas Fisik Olahraga Renang,” Jpoe, vol. 3, no.
1, pp. 109–119, 2021, doi:
10.37742/jpoe.v3i1.121.
[29] M. Fitriah, “Kajian Al-Quran Dan Hadits Tentang Kesehatan Jasmani Dan Ruhani,” TAJDID J. Ilmu Ushuluddin, vol. 15, no. 1, pp.
105–126, 2016, doi:
10.30631/tjd.v15i1.29.
[30] A. Nata, Pendidikan dalam Prespektif Alquran. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005.
[31] A. Nata, Pendidikan dalam Perspektif Hadits. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005.