• Tidak ada hasil yang ditemukan

CONSULTATIVE PAPER - Otoritas Jasa Keuangan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "CONSULTATIVE PAPER - Otoritas Jasa Keuangan"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

LATAR BELAKANG

Dokumen konsultatif ini memuat arahan pengaturan dalam rangka penyempurnaan terkait standar likuiditas Bank Umum. Dalam menelaah Makalah Permusyawaratan ini perlu dipahami ketentuan-ketentuan terkait antara lain POJK tentang LCR, POJK tentang NSFR, POJK dan SEOJK tentang manajemen risiko khususnya risiko likuiditas, POJK dan SEOKK tentang penilaian profil risiko likuiditas, dan POJK tentang Peringkat Kesehatan Bank. Makalah konsultasi ini diterbitkan dengan tujuan untuk memperoleh masukan dari berbagai pihak terkait penerapan ILAAP dan penerapan LCR dan NSFR bagi seluruh bank.

Masukan dari berbagai pihak terhadap dokumen konsultasi ini diharapkan sudah disampaikan paling lambat tanggal 31 Januari 2022.

RUANG LINGKUP DAN IMPLEMENTASI

KONSEP ILAAP

Tujuan utama ILAAP adalah untuk mempertimbangkan kecukupan likuiditas dalam berbagai skenario kondisi pasar dan periode tekanan yang mungkin dihadapi bank tanpa memperhitungkan bantuan likuiditas dari Bank Sentral. Meningkatkan penerapan manajemen risiko likuiditas Bank karena self-assessment kecukupan likuiditas dilakukan secara berkesinambungan dengan mempertimbangkan berbagai skenario kondisi pasar dan periode tekanan yang mungkin dihadapi Bank;

KERANGKA ILAAP

Sama halnya dengan SEOJK dalam kaitannya dengan Manajemen Risiko khususnya Risiko Likuiditas (Lampiran I poin II.C.3.b), Bank menetapkan risk appetite, risk toleransi dan limit risiko. Proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko, serta sistem informasi manajemen risiko likuiditas terkait ILAAP. Dalam melakukan identifikasi risiko likuiditas, Bank harus memperhatikan sumber risiko likuiditas seperti dalam SEOJK terkait Manajemen Risiko khususnya Risiko Likuiditas (Lampiran I poin II.C.3.c.1)).

Dalam pemantauan likuiditas, bank harus memperhatikan indikator peringatan dini yang ditetapkan oleh SEOJK untuk manajemen risiko, khususnya risiko likuiditas. Sesuai SEOJK tentang manajemen risiko khususnya risiko likuiditas (Lampiran I butir II.C.3.c.4), pengendalian risiko likuiditas dilakukan melalui strategi pembiayaan, pengelolaan posisi likuiditas dan risiko likuiditas harian, pengelolaan posisi likuiditas dan internal -Risiko grup likuiditas, likuiditas manajemen aset berkualitas tinggi, dan rencana pendanaan darurat. Selain mengelola posisi likuiditas dan risiko likuiditas dalam grup sesuai dengan SEOJK tentang manajemen risiko, khususnya risiko likuiditas (Lampiran I, butir II.C.3.c.4).d)), bank harus menghitung dan menganalisis kas arus masuk dan arus kas keluar dalam grup serta tingkat pemantauan likuiditas intraday dan untuk periode waktu yang berbeda.

Bank wajib menyusun rencana pembiayaan darurat sebagaimana diatur dalam SEOJK mengenai manajemen risiko khususnya risiko likuiditas (Lampiran I poin II.C.3.c.4).f)). Seperti halnya SEOJK tentang manajemen risiko khususnya risiko likuiditas (Lampiran I, poin II.C.3.d), bank harus menerapkan pengendalian internal yang tepat dan review independen terhadap penerapan manajemen risiko risiko likuiditas yang dilakukan oleh satuan kerja audit internal. (SKAI) ) atau Satuan Kerja Manajemen Risiko (SKMR).

LAPORAN

Sehubungan dengan penerapan ILAAP, SKAI dan SKMR harus menerapkan pengendalian internal dan review ILAAP yang memadai. Penerapan ILAAP oleh unit bisnis dan/atau unit pendukung terkait, termasuk review pelaksanaan review dan evaluasi pada SKMR. Kelemahan yang teridentifikasi dalam pengendalian internal dan tinjauan independen terhadap penerapan ILAAP harus dilaporkan kepada dewan, direktur yang bertanggung jawab atas fungsi kepatuhan, komite audit, dan direktur terkait lainnya sebagai masukan untuk menyempurnakan ILAAP.

SKAI bertanggung jawab untuk memantau tindak lanjut atas kelemahan implementasi ILAAP. Laporan LCR dalam valuta asing signifikan dilaporkan setiap bulan bersamaan dengan laporan LCR secara keseluruhan sebagaimana diatur dalam POJK tentang LCR, dan. Dalam hal lebih dari satu bank koresponden, bank klien dapat mengumpulkan laporan jika transaksi atau layanan bank koresponden dilakukan dalam yurisdiksi dan mata uang yang sama.

Total arus kas sebelum penyesuaian batas maksimum total arus kas adalah 75% dari total arus kas. Jumlah arus kas setelah disesuaikan dengan batas maksimum total arus kas sebagaimana dimaksud pada huruf e di atas.

LAMPIRAN I - Format laporan ILAAP

Bank menjelaskan perhitungan dan pengelolaan cadangan HQLA yang tersedia, termasuk bagaimana kondisi stres mempengaruhi cadangan HQLA yang tersedia dan kecukupan HQLA untuk mata uang asing yang signifikan. Bank menguraikan stabilitas pembiayaannya dan hal-hal yang dapat membuat pembiayaan tidak stabil. Bank ini memaparkan analisis akses pasar dan tantangan yang dihadapi saat ini dan yang akan dihadapi di masa depan.

Tata Kelola – Bank menjelaskan tata kelola dan kerangka organisasi ILAAP, termasuk unit-unit yang terlibat (fungsi manajemen risiko, pengukuran risiko, dan fungsi pengendalian internal). Bank menjelaskan selera risiko, toleransi risiko dan batasan risiko serta bagaimana hal tersebut dipersiapkan, disetujui, dipantau dan dilaporkan serta bagaimana hal tersebut dikomunikasikan kepada seluruh pihak di bank. Bank menjelaskan asumsi dan metodologi yang digunakan dalam pengukuran risiko, indikator utama yang terus dipantau, dan arus informasi yang digunakan.

Bank menguraikan analisis kerangka stress test internal yang telah dilakukan, antara lain dari sisi proses, tata kelola, tantangan dalam merumuskan skenario yang digunakan dan sumber asumsi. Bank menguraikan kerangka dan sistem TI untuk mengidentifikasi, mengukur, mengelola dan memantau serta menyiapkan laporan internal dan eksternal terkait risiko likuiditas, termasuk penerapan ILAAP.

LAMPIRAN II - Format Laporan Likuiditas Intrahari

Oleh karena itu, implikasi likuiditas intraday harus menjadi bagian dari laporan pemantauan likuiditas nasabah Bank. Likuiditas intraday minimum yang dipersyaratkan oleh Bank pada hari tertentu sama dengan posisi bersih negatif terbesar pada hari yang sama. Pada gambar Gambar 1 di atas, menggunakan likuiditas intraday setara dengan net position negatif terbesar sebanyak 10 unit).

Nilai pembayaran yang dilakukan atas nama nasabah bank koresponden (bagi bank yang menyelenggarakan jasa perbankan koresponden). Pihak lawan yang tertekan dapat menyebabkan peserta langsung dan bank yang menggunakan layanan perbankan koresponden tidak dapat mengandalkan pembayaran masuk dari pihak lawan yang tertekan, sehingga mengurangi ketersediaan likuiditas intraday yang mungkin berasal dari penerimaan pembayaran pihak lawan. Tekanan kredit dan likuiditas pasar: kondisi ini dapat berdampak negatif pada nilai alat likuid yang dimiliki bank untuk memenuhi penggunaan likuiditas intraday.

Penurunan nilai pasar dan/atau peringkat kredit alat likuid bank dapat menghambat bank memperoleh likuiditas intraday dari bank sentral. Dalam skenario terburuk, penurunan peringkat aset likuid secara signifikan dapat mengakibatkan aset tersebut tidak lagi memenuhi kriteria untuk memperoleh pinjaman likuiditas intraday dari bank sentral.

Gambar 1 Ilustrasi Penggunaan  Likuiditas Intrahari Maksimal secara Harian
Gambar 1 Ilustrasi Penggunaan Likuiditas Intrahari Maksimal secara Harian

LAMPIRAN III – Format Laporan LCR mata uang asing yang signifikan . 36

LAMPIRAN IV – Format Laporan Survival Period Monitoring

Diantaranya adalah transaksi tanpa agunan (unsecured) Diantaranya adalah transaksi dengan agunan HQLA Level 1 5.2 Arus kas dalam grup (kecuali mata uang dan surat berharga). Arus kas dari pinjaman (pinjaman) yang diberikan tanpa tanggal kadaluwarsa dilaporkan dalam semalam (misalnya cerukan). Sedangkan arus kas yang berasal dari berakhirnya repo dilaporkan pada bagian arus kas yang relevan (baris 1.2).

Untuk menghindari penghitungan ganda, arus kas tidak diperhitungkan pada HQLA yang tersedia pada baris 3.1 (kas dan setara kas) dan baris 3.2 (posisi pada Bank Indonesia). Arus kas dari pembayaran pokok surat berharga yang dimiliki bank, termasuk surat berharga yang jatuh tempo, dilaporkan pada HQLA yang tersedia. Diantaranya adalah transaksi dengan agunan di HQLA level 1. 5.2 Arus kas intra-grup (kecuali mata uang dan surat berharga).

Total arus kas dari pembayaran HQLA Level 1, Level 2A dan Level 2B pada baris 7.1 dan 7.2 setelah potongan rambut diterapkan. Dalam hal ini, pembatasan arus kas masuk sesuai perhitungan LCR sebagaimana diatur dalam POJK terkait LCR tidak digunakan. Akumulasi arus kas keluar dan arus kas masuk dalam kondisi stres diproyeksikan selama 6 bulan ke depan.

Arus kas keluar kumulatif dan arus kas masuk tertekan diproyeksikan untuk 4 bulan ke depan.

Tabel 1 Ilustrasi proyeksi arus kas dan available HQLA Bank A  Jangka
Tabel 1 Ilustrasi proyeksi arus kas dan available HQLA Bank A Jangka

Gambar

Gambar 1 Ilustrasi Penggunaan  Likuiditas Intrahari Maksimal secara Harian
Tabel berikut merupakan ilustrasi kegiatan pembayaran Bank A.
Tabel 1 Ilustrasi proyeksi arus kas dan available HQLA Bank A  Jangka
Grafik 1 Ilustrasi proyeksi arus kas dan available HQLA Bank A

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian pada skripsi ini adalah untuk untuk memahami dan menganalisis praktik penjaminan simpanan dana nasabah pada Lembaga Keuangan Mikro dikaitkan

Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Yang Mempunyai Simpanan Di Bank Di Atas 2 (Dua) Milyar Rupiah Yang Tidak Dijamin Oleh Lembaga Penjamin Simpanan --- 36. BAB III

a) sebesar 20% (dua puluh persen) dalam hal dijamin oleh lembaga penjamin atau asuransi kredit berstatus BUMN dan memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud dalam

Dalam POJK Nomor 51/POJK.04/2015 tidak diatur secara jelas, hal apa saja yang wajib dicantumkan dalam pedoman perilaku yang dimiliki oleh Perusahaan Pemeringkat Efek. Dalam

Pergadaian, Lembaga Penjaminan, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia, Perusahaan Pembiayaan Sekunder Perumahan, dan Lembaga yang menyelenggarakan pengelolaan dana

Usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga “Lembaga jasa keuangan lainnya adalah pergadaian, lembaga penjaminan, lembaga pembiayaan ekspor Indonesia, perusahaan

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 14/POJK.05/2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 bagi Lembaga Jasa Keuangan Nonbank

Definisi sengketa sebagaimana ditentukan di dalam Pasal 1 angka 13 POJK tentang LAPS adalah perselisihan antara konsumen dengan lembaga jasa keuangan dalam kegiatan penempatan dana oleh