DAFTAR PUSTAKA
Agung pia. (2008) . Kecemasan (Pengertian Dan Pengenalan). Diakses pada tanggal 3 maret 2018 dari http://agungpia.multiply.com/journal/item/35/ stress kerja pengertian dan pengenalan
Azis . A (2011). Riset Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Brandao, (2013). Manfaat dan Efek Samping Alat Therapy Kesehatan, Jakarta : Rhineka Cipta
Dalami, (2014). Ilmu Psikologi Kesehatan dan terapannya, Jakarta: Salemba Medika Departemen KesehatanRI. (2012). Pedoman Tata Penggunaan Alat Kesehatan
Kesehatan di Rumah Sakit, cetakan 2. Jakarta: Dirjen YanMedDireja, (2011).
Psikologi Umum, dan Kesehatan, Bumi Aksara : Jakarta
Dyah, (2009). Kecemasan. Diakses pada tanggal 27 Maret 2018 dari http://community.gunadarma.ac.id
Hidayat.(2011). Metodelogi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara Hawari,D. (2014).
Manajemen Stres ,Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI
Horasmi. (2012). Hubungan pemaangan Blue Ligh Therapys Dengan Kecemasan ibu ruang Perinatologi Rumah Sakit. Diakses Tangga l7 Maret 2018 darihttp://eprints.undip.ac.id
Kusumawati, (2013). Psikologi Kecemasan, Jakarta: Ganesha
Notoadmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nugroho, T . et. all. (2014). ASI dan Tumor Payudara. Yogyakarta : Nuha Medika.
Nursalam (2009). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika
Pertiwi, M. 2015. Gambaran Pengetahuan Primigrávida Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur. FIKUIN Jakarta, (tidak dipublikasikan).
Porter, M.L & Dermis, B.L (2010). Hiperbilirubinemia in the lern newborn. Am fam physican.
Price, S.A. & Wilson. L. M. (2011). Patofisilogi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. Volunte 2. Jakarta: EGC.
Pudiastuti, R.D. (2012). Buku Ajar Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Nuha Medika.
Riyantini, Y. 2010. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Ibu Serta Kejadian Hiperbilirubin Pada Bayi Baru Lahir Di RSAB Harapan Kita Jakarta. FIKUI. (tidak ' dipublikasikan).
Roesli, U. (2008). Bayi Sehat Berkat ASI Eksklusif. Jakarta : Elex Media Komputindo.
Rohani, S. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan Dan Keterampilan Ibu Dalam Perawatan Bayi Di Ruang Nifas Rsud Lanto DG Pasewang Kab.
Jeneponto. STIKES Nani Hasanuddin Makassar.
Saifudin, A.B. dkk (2009). Panduan Praktis Kebidanan Maternal & Neonatal, Jakarta: Bina Pustaka.
Sastroasmoro, S.& Ismael. S. (2011). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Sagung Seto.
Setiadi.(2007). Metodologi Penelitian Kesehatan.Yogyakarta : Graha Ilmu.
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G.(2002). BukuAjar Keperawatan Medical Bedah. volume II. Jakarta: ECG Suharyono,
R.S. dkk . (2010). ASI Tinjauan dari Beberapa Aspek. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
World Health Organization. (2009). Division of child health and development family and reproductive health. Evidence for the steps for successful breastfeeding.
Genewa.
Widyasari,P. (2012). Kecemasan dengan tindakan hospitalisasi. Diakses pada tanggaL 15 maret 2018 dari http://rumahbelajarpsikologi.com
LAMPIRAN 1
SURAT PERMOHONAN RESPONDEN
Malang, Juni 2023 Kepada Yth.
Bp/Ibu/Sdr Responden
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Marlin Nuratika Ustadi
NIM : 2221022031
Adalah mahasiswa ITKM Widya Cipta Husada Kepanjen Program Studi Ilmu Keperawatan yang sedang melakukan penelitian dengan judul ‘Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Tingkat kecemasan pada Bayi Hiperbillirubin yang Dilakukan Foto Terapi di Ruang Perinatologi Rs. Wava Husada Kepanjen’’ Penulis mengharapkan bantuan Bapak/Ibu untuk menjadi responden dengan mengisi kuesioner yang telah diberikan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Penelitian ini akan memerlukan wakktu selama satu bulan, untuk tiap responden memerlukan kurang lebih 10 menit. Kerahasiaan informasi dan hasil penelitian akan dijaga.
Adapun hasil penelitian tersebut tidak akan merugikan siapapun karena hanya untuk kepentingan penelitian.
Hormat Saya,
(Marlin Nuratika Ustadi)
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Yang bertanda tangan di bawah ini saya,
Nama :
Alamat :
Pendidikan : Pekerjaan :
Menyatakan bersedia menjadi responden penelitian yang dilakukan mahasiswa ITKM Widya Cipta Husada Kepanjen dengan judul ‘’ Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Tingkat kecemasan pada Bayi Hiperbillirubin yang Dilakukan Foro Terapi di Ruang Perinatologi Rs. Wava Husada Kepanjen’’. Saya bersedia membantu dengan ikhlas tanpa paksaan dari pihak manapun.
Malang, Juni 2023 Responden
(...)
LAMPIRAN 2
HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HRSA)
Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan :
Skor : 0 = tidak ada (tidak ada gejala sama sekali) 1 = ringan (satu gejala dari pilihan yang ada) 2 = sedang (separuh dari gejala yang ada) 3 = berat (lebih dari separuh gejala yang ada) 4 = berat sekali (semua gejala yang ada)
Total Skor : >14 = tidak ada kecemasan 14 – 20 = kecemasan ringan 21 – 27 = kecemasan sedang 28 – 41 = kecemasan berat 42 – 56 = kecemasan berat sekali
N0. Pertanyaan 0 1 2 3 4 1 Perasaan Ansietas
- Cemas - Firasat Buruk
- Takut Akan Pikiran Sendiri - Mudah Tersinggung 2 Ketegangan
- Merasa Tegang - Lesu
- Tak Bisa Istirahat Tenang - Mudah Terkejut
- Mudah Menangis - Gemetar
- Gelisah
3 Ketakutan
- Pada Gelap - Pada Orang Asing - Ditinggal Sendiri - Pada Binatang Besar
- Pada Keramaian Lalu Lintas - Pada Kerumunan Orang Banyak 4 Gangguan Tidur
- Sukar Masuk Tidur - Terbangun Malam Hari - Tidak Nyenyak
- Bangun dengan Lesu - Banyak Mimpi-Mimpi - Mimpi Buruk
- Mimpi Menakutkan 5 Gangguan Kecerdasan
- Sukar Konsentrasi - Daya Ingat Buruk 6 Perasaan Depresi
- Hilangnya Minat
- Berkurangnya Kesenangan Pada Hobi - Sedih
- Bangun Dini Hari
- Perasaan Berubah-Ubah Sepanjang Hari 7 Gejala Somatik (Otot)
- Sakit dan Nyeri di Otot-Otot - Kaku
- Kedutan Otot - Gigi Gemerutuk - Suara Tidak Stabil 8 Gejala Somatik (Sensorik)
- Tinitus
- Penglihatan Kabur - Muka Merah atau Pucat
- Merasa Lemah
- Perasaan ditusuk-Tusuk 9 Gejala Kardiovaskuler
- Takhikardia - Berdebar - Nyeri di Dada
- Denyut Nadi Mengeras
- Perasaan Lesu/Lemas Seperti Mau Pingsan - Detak Jantung Menghilang (Berhenti Sekejap)
10 Gejala Respiratori
- Rasa Tertekan atau Sempit Di Dada - Perasaan Tercekik
- Sering Menarik Napas - Napas Pendek/Sesak 11 Gejala Gastrointestinal
- Sulit Menelan - Perut Melilit
- Gangguan Pencernaan
- Nyeri Sebelum dan Sesudah Makan - Perasaan Terbakar di Perut
- Rasa Penuh atau Kembung - Mual
- Muntah
- Buang Air Besar Lembek - Kehilangan Berat Badan
- Sukar Buang Air Besar (Konstipasi) 12 Gejala Urogenital
- Sering Buang Air Kecil - Tidak Dapat Menahan Air Seni - Amenorrhoe
- Menorrhagia
- Menjadi Dingin (Frigid) - Ejakulasi Praecocks - Ereksi Hilang - Impotensi 13 Gejala Otonom
- Mulut Kering - Muka Merah - Mudah Berkeringat - Pusing, Sakit Kepala - Bulu-Bulu Berdiri
14. Tingkah Laku Pada Wawancara - Gelisah
- Tidak Tenang - Jari Gemetar - Kerut Kening - Muka Tegang
- Tonus Otot Meningkat - Napas Pendek dan Cepat - Muka Merah
LAMPIRAN 3
KUISIONER PENGETAHUAN IBU TERHADAP PENYAKIT
HIPERBILLIRUBIN PADA IBU BAYI YANG DILAKUKAN FOTO TERAPI
NAMA :………..
ALAMAT :………..
UMUR :………..
PEKERJAAN :………
PENDIDIKAN :………..
PERTANYAAN PENGETAHUAN :
1. Apa yang ibu ketahui tentang penyakit Hiperbillirubin ? a. Kejang demam pada bayi
b. Kebiruan pada bai
c. Penyakit kuning / ikterik pada bayi
d. Sesak pada bayi yang disebabkan oleh lahir prematur
2. Bagaimana tanda gejala klinis hiperbillirubin yang tampak pada neonatus ? a. Bayi tampak kuning, malas minum
b. Hasil serum bilirubin total > 10mg/dl c. Bayi menangis kuat tanpa henti d. Bayi tidak BAB/BAK sama sekali
3. Apa yang menjadi penyebab penyakit kuning pada bayi?
a. Kurangnya kadar oksigen pada bayi b. Belum matangnya fungsi hati c. Karena kelianan bawaan
d. Kurangnya perhatian dari orang tua
4. Berapa batas berat badan bayi yang tidak beresiko mengalami hiperbillirubin?
a. > 2000 gr b. >2500 gr
c. >1000 gr d. >3000 gr
5. Berapa batas normal kadar bilirubin pada bayi ? a. 500.000 mg/dl
b. >10 mg/dl c. <10 mg/dl d. 10-15 mg/dl
6. Ikterik neonatus disebut juga dengan?
a. Kurannya fungsi pendengaran b. Tidak berfungsinya paru-paru c. Kulit bayi tampak kuning d. Rambut bayi tampak pirang
7. Organ apa yang berfungsi memecah bilirubin pada bayi?
a. Kaki b. Tangan c. Otak d. hati
8. selain kulit, organ apa yang terlihat kuning ketika bayi mengalami hiperbillirubin
a. rambut b. mata c. kuku d. tali pusat
9. bagaimana tangis bayi ketika mengalami hiperbillirubin?
a. Tangis merintih karena kekurangan oksigen b. Tidak ada tangis bayi tidak bernafas
c. Tangis jarang bayi cenderung lemas
d. Tangis kuat aktif karena bayi mengalami nyeri
10. Bagaimana dampak berbahaya bila bayi dengan hiperbillirubin tidak segera ditangani ?
a. Bayi kejang b. Bayi meninggal
c. Bayi akan segera sembuh dengan sendirinya d. Bayi akan sembuh dengan imunisasi
11. Menurut ibu bagaimana penanganan hiperbillirubin di rumah sakit ? a. Foto terapi
b. Pemberian asi eksklusif c. Menjemur bayi
d. Memberi bayi susu formula
12. Apakah ibu tau apa itu kegunaan dan manfaat foto terapi ? a. Untuk mengurangi sesak pada bayi
b. Untuk menambah sel darah merah pada bayi c. Untuk mgnurangi kadar bilirubin pada bayi d. Untuk menghangatkan bayi
13. Bagaimana prosedur persiapan foto terapi dilakukan ? a. Melepas semua baju yang dikenakan bayi
b. Menutup mata dengan kain atau topi
c. Melepas baju dan menutup mata dengan penutup mata d. Memakai baju dan selimut agar bayi tetap hangat
14. Berapa suhu tubuh normal pada bayi yang harus dipertahankan saat foto terapi?
a. 35-36 ºC b. 37-38 ºC c. 36,5-37 ºC d. >35 ºC
15. Bagaimana pemberian nutrisi pada saat bayi dilakukan foto terapi?
a. Diberikan ASI setiap 2 jam b. Bayi dipuasakan
c. Nutrisi hanya boleh dari cairan infus d. Diberikan ASI saat bayi menangis
16. Apa saja resiko yang terjadi saat bayi dilakukan foto terapi, kecuali?
a. Dehidrasi b. Febris
c. Tidak BAB dan BAK d. Kematian
17. Apa efek samping setelah foto terapi dilakukan?
a. Bayi menjadi diare
b. Kulit bayi mengelupas dan berwarna bronze c. Muncul bintik-bintik merah
d. Mata bayi cowong
18. Apa saja yang bisa dilakukan untuk pencegahan terjadinya hiperbillirubin pada bayi?
a. Memberi makan sebelum umur 6 bulan b. Memberi ASI eksklusif
c. Menjemur bayi setiap siang hari d. B dan C benar
19. Bagaimana ibu bagaimana cara menjemur bayi ? a. Menutup mata dengan kain atau topi b. Menjemur bayi harus disiang hari
c. Menjemur bayi dengan memakai gedong atau selimut d. Menjemur bayi bagian yang kuning saja
20. Yang bisa dilakukan ibu ketika mengetahui kulit bayi tampak kuning saat dirumah, kecuali?
a. Ketika menemui kulit bayi tampak kuning segera diperiksakan ke pelayanan kesehatan terdekat
b. Memberi ASI yang cukup untuk menghindari agar bayi tidak kuning c. Menjemur bayi di pagi hari
d. Memberi bubur sebelum umur 6 bulan
LAMPIRAN 4
SATUAN ACARA PENYULUHAN
1. Topik : Pemasangan Foto Terapi (Blue light Therapi) 2. Sub Pokok Bahasan :
- Definisi Foto Terapi - Indikasi Foto Terapi
- Efek samping Foto Terapi
- Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan Fototerapi 3. Sasaran : seluruh perawat Nicu
6.Waktu : 30 menit
7. Tempat :Ruang Ners Station Perinatologi
8. Tujuan :
a. Tujuan Intruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan ini, diharapkan perawat mengetahui dan memahami tentang cara menjelaskan prosedur foto terapi kepada orang tua bayi.
b. Tujuan Intruksional Khusus Setelah mengikuti penyuluhan :
- Perawat mampu menjelaskan tentang Definisi Foto Terapi - Perawat mampu menjelaskan tentang Indikasi Foto Terapi
- Perawat mampu menjelaskan tentang Efek samping Foto Terapi - Perawat mampu menjelaskan tentang Hal-hal yang harus
diperhatikan sebelum melakukan Fototerapi 9. Materi (terlampir)
10. Media penyuluhan 1) Leafleat
2) Power point 3) LCD
11.Metode penyuluhan 1) Ceramah
2) Tanya jawab
MATERI PENYULUHAN PEMASANGAN FOTO TERAPI
1. Definisi Blue Light Therapy (Fototerapi)
Blue Light Theapy atau yang lebih sering di kenal dengan Fototerapi merupakan modalitas terapi dengan menggunakan sinar yang dapat diamati dan bertujuan untuk pengobatan hiperbilirubinemia pada neonatus. Di Amerika serikat, sekitar 10% neonatus mendapat fototerapi (Azlina, 2011). Fototerapi (light Therapy) bertujuan untuk memecah bilirubin menjadi senyawa dipirol yang nontoksik dan dikeluarkan mela22lui urine dan feses. Indikasinya adalah kadar bilrubin darah ≥10 mg% dan setelah atau sebelum dilakukannya tranfusi tukar (Dewi, 2010). Perlu diperhatikan juga efek samping dari fototerapi tersebut, antara lain, dapat timbul eritema, terdapat ruam pada kulit/gangguan integritas kulit, dehidrasi, hipertermi, diare, dan kerusakan retina (Dewi, et al, 2016). Tingkat pembentukan foto produk bilirubin tergantung pada intensitas dan panjang gelombang cahaya yang digunakan dan jumlah luas permukaan tubuh yang terkena sumber cahaya.
Fototerapi bekerja dengan cara mengkonversi bilirubun yang tertimbun dalam kapiler superficial, ruang interstisial pada kulit dan jaringan subkutan berubah
menjadi isomer larut dalam air yang dapat diekskresikan tanpa metabolisme lebih lanjut oleh hati (Stokowski, 2011). Fototerapi merupakan metode yang efektif dan aman untuk mengurangi kadar bilirubin indirek, terutama jika dimulai kadar bilirubin belum tinggi dan menyebabkan kern ikterus. Pada bayi cukup bulan, fototerapi akan dimulai bila kadar bilirubin indirek berada diantara 16 dan 18 mg/dL. Fototerapi dilakukan pada bayi premature dengan kadar bilirubin yang lebih rendah, untuk mencegah konsentrasinya tinggi sehingga membutuhkan tranfusi tukar. Lampu sinar biru dan putih efektif mengurangi kadar bilirubin (Marcdante, Kliegman, Jenson, & Behrman, 2014).
Penurunan kadar bilirubin total terjadi pada bayi usia kehamilan 35- 37 minggu dengan rata-rata penurunan kadar bilirubin 2,25-0,69 mg/dL/24 jam, dan pada usia 37-42 minggu dengan kadar 2,6-0,86 mg/dL/24 jam. Penurunan kadar bilirubin pada bayi kurang bulan lebih sedikit karena hiperbilirubinemia lebih sering terjadi pada bayi premature, lebih berat, dan lebih lama karena jumlah eritrosit lebih banyak, usia eritrosit itu sangat singkat, sel hati yang masih imatur, uptake dan konjugasi lebih lambat dan sirkulasi enterohepatik akan mengalami peningkatan (masukan oral yang tertunda dan kolonisasi bakteri yang terhambat) (Dewi, dkk, 2016).
Usia dalam
jam Fototerapi
Resiko Tinggi Resiko
Menengah Resiko Rendah 24 jam >8 mg/Dl >10 mg/dL >12 mg/dL
(137 Mikromol/L
) (171 Mikromol/L) (205 Mikromol/L) 48 jam >11 mg/dL >13 mg/dL >15 mg/dL
(188 Mikromol/L) (222 Mikromol/L) (257 Mikromol/L) 72 jam >13 mg/dL >15 mg/dL > 18 mg/dL
(222 Mikromol/L) (257 Mikromol/L) (308 Mikromol/L) 96 jam >14 mg/dL >17 mg/dL >20 mg/dL
(239 Mikromol/L) (291 Mikromol/L) (342 Mikromol/L) 2. Indikasi untuk fototerapi
Tabel 2.2 Indikasi untuk fototerapi Sumber : Umami 2009.
Untuk mengoptimalkan efikasi membutuhkan : a) Sumber sinar efektif yang maksimal b) Radiasi level tinggi (periksa secara teratur) c) Koreksi jarak antara sinar dan bayi
d) Perluasan pajanan kulit
3. Efek samping Fototerapi.
Efek samping ringan yang harus diwaspadai perawat yaitu Hipertermi.
Untuk mencegah atau meminimalkan efek tersebut, suhu dipantau untuk mendeteksi tanda awal dari hipertermia, sehingga kita bisa meminimalkan efek samping dari fototerapi tersebut (Wong, 2009).
Komplikasi terapi sinar umumnya ringan, sangat jarang terjadi dan reversible. Komplikasi pada fototerapi meliputi :
1. Hipertermi
Karena pada bayi penderita hiperbilirubin sebagian besar mendapatkan terapi sinar sehingga bisa memicu kenaikan suhu tubuh pada bayi, hipertermi bisa terjadi karena jarak sinar dengan bayi yang berjarak 30 cm, sedangkan penelitian lain dengan jarak 13 cm. Paparan sinar fototerapi dan kurangnya asupan air susu ibu (ASI) yang menyebabkan hipertermi (Kardana dan Suarta , 2016)
2. Diare/ feses encer 3. Dehidrasi
4. Ruam pada kulit/ gangguan integritas kulit
5. Sumbatan hidung oleh penutup mata dan potensi kerusakan retina.
Pada bayi-bayi yang mengalami hiperbilirubinemia sebagian besar dapat tertangani/tertolong dengan fototerapi, namun harus dilakukan pemantauan terhadap timbulnya anemia yang muncul kemudian akibat hemolisis yang masih berlangsung (Maredante, Kliegman, Jenson, &
Behrman, 2014).
4. Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan Fototerapi
Alat – alat yang diperlukan dalam melakukan fototerapi sebagai berikut:
1. Lampu Fluoresensi 10 buah masing-masng 20 watt dengan gelombang sinar 425-475 nm, seperti pada sinar cool white, daylight, vita jite blue, dan special blue.
2. Jarak antara sumber cahaya dengan bayi ≤ 45 cm, di antaranya diberi kaca pleksi setebal 0,5 inci untuk menahan sinar ultraviolet.
3. Lampu diganti setiap 200-400 jam (Dewi, 2010).
Cara melakukan Blue Light Therapy:
1) Bayi telanjang, kedua mata ditutup dengan penutup mata/kain berwarna gelap supaya cahaya tidak tembus dan tidak merusak retina, dan posisi bayi diubah setiap 6 jam sekali.
2) Suhu tubuh bayi dipertahankan sekitar 36,5-37˚C 3) Perhatikan keseimbangan elektrolit
4) Pemeriksaan Hb secara teratur yang dilakukan setiap hari
5) Pemeriksaan bilirubin darah setiap hari atau dua hari, setelah terapi sebanyak 3x dalam sehari.
6) Mungkin akan timbul skin rush yang sifatnya semenatar dan tidak berbahay bagi bayi (Bronze Baby)
7) Lama terapi 100 jam atau bila kadar bilirubin darah sudah mencapai ≤7,5 mg% (Dewi, 2010).
Dalam perawatan bayi dengan fototerapi perhatikan hal-hal berikut :
a. Suhu bayi diukur berakala setiap 4-6 jam untuk mencegah atau mengantisipasi adanya hipertermi pada bayi
b. Perhatikan kecukupan cairan tubuh bayi.Bila perlu konsumsi cairan bayi dinaikkan (Manggiasih & Jaya, 2016 ).
Tindakan yang dilakukan pada bayi hiperbilirubinemia yaitu sinar fototerapi.
Sinar yang digunakan pada fototerapi adalah suatu sinar tampak yang merupakan suatu gelombang elektromagnetik bervariasi menurut frekuensi dan panjang gelombang. Spektrum dari sinar tampak ini terdiri dari sinar merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu. Masing – masing dari sinar memiliki panjang gelombang yang berbeda-beda. Dan pada saat dilakukan fototerapi semua pakaian yang dikenakan bayi dilepas dan bayi diletakkan di dalam tempat yang telah diberi sinar biru sehingga bayi tidak beresiko terkena hipotermia, tetapi apabila bayi terlalu lama terpapar sinar fototerapi dan tidak dilakukan pengaturan jarak pada lampu dan tidak dirubah posisi bayi setiap 6 jam sekali maka bayi bisa mengalami hipertermi (Potter & Perry, 2010).
LAMPIRAN 5
LAMPIRAN 6
SPO PEMASANGAN FOTO TERAPI RS WAVA HUSADA
LAMPISAN 7
LEMBAR BIMBINGAN
LAMPIRAN 8
JADWAL KEGIATAN
No. Kegiatan
April Mei Juni Juli
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Pengajuan Judul Penelitian
2. Menyusun BAB I dan 2
3. Menyusun BAB 3
4. Finalisasi Proposal
5. Ujian Proposal
x1 x4 x5 x6 x7 x8 x9 x10 x11 x12 x13 x14 x15 x16 x17 x18 x19 x20 x1 Pearson
Correlation
1 -
0,065 - 0,249
- 0,164
0,089 0,393 0,116 0,185 - 0,347
0,122 -
0,176
0,102 -
0,199
0,015 0,012 - 0,359
- 0,193
- 0,294
0,005 -
0,392
Sig. (2- tailed)
0,784 0,290 0,489 0,708 0,086 0,627 0,436 0,133 0,608 0,458 0,667 0,401 0,950 0,960 0,120 0,414 0,209 0,983 0,087
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x2 Pearson
Correlation -
0,065 1 0,019 -
0,292 0,050 -
0,233 0,034 -.454
* -
0,085 -
0,125 0,244 0,114 0,055 -
0,191 0,159 0,171 -
0,226 -
0,044 -
0,155 0,359
Sig. (2-
tailed) 0,784 0,936 0,211 0,835 0,323 0,888 0,044 0,722 0,600 0,300 0,632 0,817 0,421 0,502 0,471 0,339 0,853 0,513 0,120
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x3 Pearson Correlation
- 0,249
0,019 1 -
0,201
0,366 -
0,020
.474* 0,010 0,331 0,031 - 0,039
- 0,052
0,152 -
0,196
0,049 0,262 .480* - 0,081
0,020 0,283
Sig. (2- tailed)
0,290 0,936 0,395 0,113 0,932 0,035 0,967 0,154 0,896 0,871 0,826 0,521 0,408 0,838 0,265 0,032 0,733 0,932 0,227
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x4 Pearson
Correlation -
0,164 -
0,292 -
0,201 1 0,245 0,331 -
0,098 0,038 -
0,019 0,199 0,279 .560* -
0,350 0,295 0,420 -
0,080 0,108 0,058 -
0,019 -
0,270
Sig. (2-
tailed) 0,489 0,211 0,395 0,299 0,155 0,680 0,874 0,938 0,400 0,234 0,010 0,131 0,206 0,066 0,737 0,651 0,807 0,935 0,249
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x5 Pearson Correlation
0,089 0,050 0,366 0,245 1 .557* 0,295 - 0,362
0,279 0,000 0,228 0,164 - 0,212
- 0,134
.635** - 0,109
- 0,049
- 0,080
-.504
*
0,221
Sig. (2- tailed)
0,708 0,835 0,113 0,299 0,011 0,207 0,117 0,234 1,000 0,334 0,491 0,370 0,573 0,003 0,647 0,837 0,739 0,024 0,349
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x6 Pearson Correlation
0,393 -
0,233 - 0,020
0,331 .557* 1 0,337 0,109 - 0,178
0,042 -
0,020
0,364 -
0,206 - 0,021
.573** - 0,243
- 0,060
- 0,174
- 0,292
- 0,014
Sig. (2- tailed)
0,086 0,323 0,932 0,155 0,011 0,146 0,646 0,454 0,860 0,934 0,114 0,383 0,930 0,008 0,302 0,801 0,463 0,212 0,954
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x7 Pearson
Correlation 0,116 0,034 .474* -
0,098 0,295 0,337 1 0,017 0,168 0,116 0,203 0,369 -
0,089 0,215 0,336 -
0,123 -
0,039 0,140 0,081 0,290
Sig. (2-
tailed) 0,627 0,888 0,035 0,680 0,207 0,146 0,942 0,478 0,626 0,392 0,110 0,708 0,364 0,147 0,606 0,871 0,555 0,736 0,214
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x8 Pearson Correlation
0,185 -.454* 0,010 0,038 #### 0,109 0,017 1 - 0,017
- 0,094
- 0,314
- 0,119
0,057 0,309 #### - 0,059
0,256 0,006 .524* - 0,293
Sig. (2- tailed)
0,436 0,044 0,967 0,874 0,117 0,646 0,942 0,945 0,693 0,178 0,619 0,810 0,185 0,264 0,804 0,277 0,981 0,018 0,209
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x9 Pearson
Correlation -
0,347 -
0,085 0,331 -
0,019 0,279 -
0,178 0,168 -
0,017 1 -
0,167 0,213 -
0,290 0,310 0,054 0,020 -
0,116 0,350 0,065 0,065 0,065
Sig. (2-
tailed) 0,133 0,722 0,154 0,938 0,234 0,454 0,478 0,945 0,481 0,367 0,214 0,184 0,820 0,932 0,626 0,131 0,786 0,786 0,784
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1 0
Pearson Correlation
0,122 -
0,125
0,031 0,199 0,000 0,042 0,116 - 0,094
- 0,167
1 -
0,179
0,311 -
0,121
0,055 #### -
0,248 - 0,034
0,441 0,139 - 0,196
Sig. (2- tailed)
0,608 0,600 0,896 0,400 1,000 0,860 0,626 0,693 0,481 0,451 0,183 0,613 0,818 0,464 0,291 0,888 0,052 0,559 0,408
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1
1 Pearson
Correlation -
0,176 0,244 -
0,039 0,279 0,228 -
0,020 0,203 -
0,314 0,213 -
0,179 1 0,290 -
0,197 0,203 .520* 0,000 -
0,141 -
0,149 -
0,375 0,327
Sig. (2- tailed)
0,458 0,300 0,871 0,234 0,334 0,934 0,392 0,178 0,367 0,451 0,214 0,405 0,392 0,019 1,000 0,554 0,529 0,103 0,160
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1
2 Pearson
Correlation 0,102 0,114 -
0,052 .560* 0,164 0,364 0,369 -
0,119 -
0,290 0,311 0,290 1 -
0,243 0,369 .582** -
0,250 0,056 0,121 0,061 0,056
Sig. (2-
tailed) 0,667 0,632 0,826 0,010 0,491 0,114 0,110 0,619 0,214 0,183 0,214 0,303 0,110 0,007 0,288 0,814 0,610 0,799 0,814
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1 3
Pearson Correlation
- 0,199
0,055 0,152 - 0,350
#### -
0,206 - 0,089
0,057 0,310 - 0,121
- 0,197
- 0,243
1 -
0,030
#### 0,243 0,109 0,324 0,206 0,082
Sig. (2- tailed)
0,401 0,817 0,521 0,131 0,370 0,383 0,708 0,810 0,184 0,613 0,405 0,303 0,901 0,127 0,303 0,647 0,163 0,383 0,732
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1
4 Pearson
Correlation 0,015 -
0,191 -
0,196 0,295 #### -
0,021 0,215 0,309 0,054 0,055 0,203 0,369 -
0,030 1 0,122 0,123 -
0,315 0,319 0,140 0,124
Sig. (2-
tailed) 0,950 0,421 0,408 0,206 0,573 0,930 0,364 0,185 0,820 0,818 0,392 0,110 0,901 0,609 0,606 0,176 0,170 0,555 0,601
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1 5
Pearson Correlation
0,012 0,159 0,049 0,420 .635** .573** 0,336 - 0,262
0,020 -
0,174
.520* .582** - 0,353
0,122 1 -
0,291 - 0,118
- 0,078
-.573
**
0,295
Sig. (2- tailed)
0,960 0,502 0,838 0,066 0,003 0,008 0,147 0,264 0,932 0,464 0,019 0,007 0,127 0,609 0,213 0,621 0,744 0,008 0,207
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1
6 Pearson
Correlation -
0,359 0,171 0,262 -
0,080 #### -
0,243 -
0,123 -
0,059 -
0,116 -
0,248 0,000 -
0,250 0,243 0,123 #### 1 -
0,169 -
0,121 0,000 0,169 Sig. (2-
tailed) 0,120 0,471 0,265 0,737 0,647 0,302 0,606 0,804 0,626 0,291 1,000 0,288 0,303 0,606 0,213 0,477 0,610 1,000 0,477
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 x1
7 Pearson Correlation
- 0,193
- 0,226
.480* 0,108 - 0,049
- 0,060
- 0,039
0,256 0,350 -
0,034 - 0,141
0,056 0,109 -
0,315 - 0,118
- 0,169
1 -
0,377
0,388 -
0,177
Sig. (2- tailed)
0,414 0,339 0,032 0,651 0,837 0,801 0,871 0,277 0,131 0,888 0,554 0,814 0,647 0,176 0,621 0,477 0,102 0,091 0,455
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1 8
Pearson Correlation
- 0,294
- 0,044
-0,081 0,058 -
0,080 - 0,174
0,140 0,006 0,065 0,441 - 0,149
0,121 0,324 0,319 - 0,078
- 0,121
- 0,377
1 0,174 0,068
Sig. (2- tailed)
0,209 0,853 0,733 0,807 0,739 0,463 0,555 0,981 0,786 0,052 0,529 0,610 0,163 0,170 0,744 0,610 0,102 0,463 0,775
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x1
9 Pearson Correlation
0,005 -
0,155
0,020 -0,019 -.504* - 0,292
0,081 .524* 0,065 0,139 - 0,375
0,061 0,206 0,140 -.573** 0,000 0,388 0,174 1 - 0,424
Sig. (2- tailed)
0,983 0,513 0,932 0,935 0,024 0,212 0,736 0,018 0,786 0,559 0,103 0,799 0,383 0,555 0,008 1,000 0,091 0,463 0,063
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
x2 0
Pearson Correlation
- 0,392
0,359 0,283 -0,270 0,221 - 0,014
0,290 -
0,293
0,065 -
0,196
0,327 0,056 0,082 0,124 0,295 0,169 - 0,177
0,068 -
0,424
1
Sig. (2- tailed)
0,087 0,120 0,227 0,249 0,349 0,954 0,214 0,209 0,784 0,408 0,160 0,814 0,732 0,601 0,207 0,477 0,455 0,775 0,063
N 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).