1
BAB I
PENDAHULUAN
Apotek adalah sarana pelayanan kesehatan untuk membantu meningkatkan kesehatan bagi masyarakat, apotek juga sebagai tempatpraktik tenaga profesi apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian.
1. Latar Belakang
Apotek Taru Dharma yang berlokasi di Jl. Raya Payangan, Desa Melinggih, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, merupakan Apotek yang dilengkapi dengan fasilitas praktek Fisioterapi di dalam nya.
Pembangunan dilaksanakan pada tahun 2013 yang dilaksanakan secara swakelola oleh pemilik bangunan I Gede Arka, dalam pelaksanaan pembangunan belum dilengkapi dengan Ijin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), sehingga diharuskan untuk melengkapi Ijin Persetujuan Bangunan Gedung & Sertifikasi Laik Fungsi Bangunan Gedung di pemerinatahan Kabupaten Gianyar.
2. Maksud dan Tujuan
Salah satu tujuan dilakukannya penilaian teknis keandalan bangunan gedung dan diterbitkannya SLF atau Sertifikat Laik Fungsi adalah untuk menjamin ketertiban hukum dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang andal, fungsional, seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Penilaian keandalan bangunan gedung juga ditujukan untuk melihat kelaikan gedung sebelum dimanfaatkan sehingga dapat mencegah rusaknya properti maupun jatuhnya korban jiwa.
Dalam Pasal 16 Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2002 tentang
Bangunan Gedung telah disebutkan bahwa keandalan bangunan gedung
adalah keadaan bangunan yang memenuhi persyaratan keselamatan,
kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan
fungsi yang telah ditetapkan.
2
BAB II
PEMERIKSAAN LAIK FUNGSI BANGUNAN GEDUNG 1. Kondisi Site
Lokasi Apotek Taru Dharma dibangun pada lahan seluas 2,315 m2 yang berbatasan dengan : Utara = Pertokoan
Selatan = Usaha Pemotongan Kayu Timur = Jalan Raya
Barat = Tanah Kosong
Dengan posisi koordinat adalah : 8°25’26.8”S 115°14’41.6”E 2. Dasar Hukum
Pemeriksaan Kelaikan Bangunan Villa, dilakukan berdasarkan peraturan :
2.1. Undang – undang No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
2.2. Peraturan Pemerintah No.36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
2.3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan No. 11/PRT/M/2018 tentang Tim Ahli Bangunan Gedung, Pengkaji Teknis dan Pemilik Bangunan.
2.4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.
2.5. Peraturan Gubernur No. 80 Tahun 2018 tentang
Perlindungan dan Penggunaan Bahasa Aksara dan Sastra
Bali serta Penyelenggaraan Buku Bahasa Bali.
3
3. Persyaratan Tata Bangunan
a. Menjami Bangunan Gedung didirikan berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan di daerah yang bersangkutan.
b. Menjamin Bangunan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.
c. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik lingkungan, ketentuan wujud bangunan, dan budaya daerah, sehingga seimbang serasi dan selaras dengan lingkungannya.
d. Menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan dampak negatif lingkungan.
4. Persyaratan Keselamatan Bangunan Gedung
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang timbul akibat perilaku alam dan manusia;
b. Menjamin keselamatan manusia dari kemungkinan kecelakaan atau luka yang disebabkan oleh kegagalan struktur bangunan;
c. Menjamin kepentingan mamusia dari kehilangan atau kerusakan benda yang disebabkan oleh perilaku struktur;
d. Menjamin perlindungan properti lainnya dari kerusakan fisik yang disebabkan oleh kegagalan struktur;
e. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban
yang timbul akibat perilaku alam dan manusia pada saat terjadi
kebakaran;
4
f. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dibangun sedemikian rupa sehinga mampu secara struktural stabil selama kebakaran, sehingga:
i. Cukup waktu bagi penghuni melakukan evakuasi secara aman;
ii. Cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk memadamkan api;
iii. Dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.
g. Menjamin terpasangnya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya;
h. Menjamin terwujudnya keamanan bangunan gedung dan penghuninya dari bahaya akibat petir;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 2021 tentang Bangunan Gedung, mengatur tentang jalur evakuasi dan sistem proteksi kebakaran
j. Menjamin tersedianya sarana komunikasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
5. Persyaratan Kesehatan Bangunan Gedung
a. Menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup, baik alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya;
b. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan tata udara secara baik;
c. Menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup, baik
alami maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di
dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya;
5
d. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan
pencahayaan secara baik;
e. Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya;
f. Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan;
Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik.
g. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan pencahayaan secara baik;
h. Menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya; Menjamin terwujudnya kebersihan, kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi penghuni bangunan dan lingkungan;
i. Menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi secara baik.
6. Persyaratan Kenyamanan Bangunan Gedung
a. Menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran yang tidak diinginkan;
b. Menjamin adanya kepastian bahwa setiap usaha atau kegiatan yang
menimbulkan dampak negatif suara dan getaran perhi melakukan
upaya pengendalian pencemaran dan/atau mencegah perusakan
lingkungan.
6
7. Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung
a. Menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai akses yang laik, aman dan nyaman ke dalam bangunan dan fasilitas serta layanan di dalamnya;
b. Menjamin terwujudnya upaya melindungi penghuni dari cedera atau luka saat evakuasi pada keadaan darurat;
c. Menjamin tersedianya aksesibilitas bagi penyandang cacat, khususnya untuk bangunan fasilitas umum dan sosial;
d. Menjamin tersedianya alat transportasi yang laik, aman, dan nyaman di dalam bangunan gedung:
e. Menjamin tersedianya pertandaan dini yang informatif di dalam bangunan gedung apabila terjadi keadaan darurat;
f. menjamin penghuni melakukan evakuasi secara mudah dan aman,
apabila terjadi keadaan darurat.
7
BAB III
PEMBAHASAN 1. Pemeriksaan Persyaratan Tata Bangunan
a. Kesesuaian Pemanfaatan Bangunan Gedung terhadap Fungsi Bangunan Gedung.
i. Fungsi Bangunan Gedung : Sebagai Apotek
ii. Pemanfaatan setiap ruang dalam Bangunan Gedung yang terdapat pada Apotek sesuai dengan gambar denah sebagai berikut :
−
Stand Obat
−
R.Penyimpanan Obat
−
Kantor
−
R. Terapi
−
Pantry
−
R. Penyimpanan Obat
−
R. Tunggu
−
Toilet
iii. Pemanfaatan Ruang Luar Pada Persil Bangunan:
Pemanfaatan Luar ruangan bangunan Gedung dimanfaatkan sesuai
fungsi masing – masing, antara lain :
8
a. Tempat Suci
b. Halaman Samping c. Halam Luar d. Halaman Depan
b. Kesesuaian Intensitas Bangunan Gedung.
i. Luas Lantai Dasar Bangunan
Dari Hasil Pemeriksaan Lapangan didapatkan Luas Lantai Dasar Bangunan adalah 83 m2.
ii. Luas Total Lantai bangunan
Dari Hasil pemeriksaan dilapangan luas Total lantai bangunan adalah 83 m2 dengan jumlah lantai bangunan 1 lantai.
iii. Jumlah Lantai Bangunan
Jumlah Lantai bangunan sesuai survey lapangan adalah 1 Lantai.
iv. Ketinggian Bangunan
Ketinggian Bangunan dari halaman sampai ujung Atap bangunan adalah 5,16m sesuai gambar As Built Drawing
v. Luas Daerah Hijau Dalam Persil
Luas Daerah Hijau dalam persil / Area pemanfaatan lahan bangunan adalah 41,30 m2 yang terdapat pada area halaman samping dan area halaman belakang.
vi. Jarak Sempadan Jalan/Sungai/Pantai/Danau/dll
Pada kondisi dilapangan di dapatkan lebar jalan utama adalah 6 meter dan ditambah ada nya saluran pembuangan air hujan 0,70 m pada sisi kiri dan kanan jalan, dengan kondisi site seperti tersebut didapatkan Garis Sempadan Bangunan (GSB) : 10,798 meter.
vii. Jarak Bangunan Gedung dengan Batas Persil
9
Sisi Kiri (Selatan) : 1,60 meter
Sisi Kanan (Utara) : 0,00 meter
Sisi Belakang (Barat) : 0,86 & 2,80 meter viii. Jarak Antar Bangunan
Pada pemeriksaan di lapangan terdapat 2 massa bangunan yaitu BangunanApotek & Tempat suci yang memiliki jarak 1,57 meter
c. Pemeriksaan Tata Ruang Dalam Bangunan Gedung
i. Kebutuhan Ruang dalam Bangunan Gedung Antara Lain :
−
Stand Obat
−
R.Penyimpanan Obat
−
Kantor
−
R. Terapi
−
Pantry
−
R. Penyimpanan Obat
−
R. Tunggu
−
Toilet
ii. Bidang – Biang Dinding
Terdapat 2 jenis material yang digunakan pada bidang – bidang
dinding pada Bangunan yaitu :
10
- Dinding Batako, difinishing plester, acian & cat
- Dinding Gypsum Rangka Hollow, difinishing cat
Pada pemeriksaan lapangan terhadap kondisi existing bangunan masih terlihat tidak ada kerusakan pada struktur dinding, tetapi pada finishing dinding sudah terlihat retak rambut dan sudah terlihat cat yang terkelupas pada bidang – bidang dinding bangunan dan disarankan melakukan pengecatan ulang pada bangunan Gedung.
iii. Pintu & Jendela
Terdapat 3 jenis material yang digunakan pad Pintu & Jendela yang terdapat pada Bangunan yaitu :
- Pintu Model Harmonika dengan Material Besi
- Pintu Aluminium dengan kombinasi kaca bening 8mm - Pintu berbahan Kayu dengan finishing politur
iv. Tinggi Ruang
Hasil Pemeriksaan Tinggi Ruang dari Lantai sampai Langit – Langit Bangunan yang didapat adalah :
1. Area Stand Obat Hasil: 3,13 meter
2. R. Penyimpanan Hasil: 3,13 meter
3. Kantor Hasil: 3,13 meter
4. R. Terapi Hasil: 3,13 meter
5. R. Tunggu Hasil: 3,13 meter
6. Toilet Hasil: 3,13 meter
11
v. Tinggi Lantai Dasar
Timggi Lantai Dasar bangunan gedung dari permukaan tanah adalah 30cm
vi. Ruang Rongga Atap
Tidak terlihat ada kerusakan pada ruang rongga pada atap.
vii. Penutup Lantai
Pada pemeriksaan lapangan didapatkan hasil bahwa penutup lantai bangunan menggunakan keramik ukuran 30x30cm berwarna putih dan khusus untuk area toilet menggunakan keramik dengan muka kasar. Kondisi penutup lantai masih layak digunakan dan tidak ada kerusakan. Disarankan untuk pemeliharaan lantai dilakukan setiap hari untuk menjaga kenyaman pemakai dikarenakan lantai yang rawan licin dan di tambahkan beberapa titik penempatan keset pada bangunan gedung.
viii. Penutup Langit – Langit
Pada pemeriksaan lapangan didapatkan hasil bahwa penutup
langit – langit bangunan menggunakan gypsum dengan rangka
atap hollow. Kondisi penutup langit - langit masih layak
digunakan dan tidak ada kerusakan.
12
d. Pemeriksaan Keseimbangan, Keserasian dan Keselarasan Dengan
Lingkungan
i. Tinggi ( Peil ) Pekarangan
Tinggi (Peil) bangunan dari halaman sampai lantai dasar bangunan adalah 30cm
ii. Ruang Terbuka Hijau Pekarangan
Didapatkan dari hasil pengukuran lapagan ruang terbuka hijau pekarangan adalah 41,3 m2
iii. Pemanfaatan Ruang Sempadan Bangunan
Sempadan bangunan dimanfaatkan sebagai parkir yang diberikan perkerasan berupa rabatan beton yang disarankan ditambahkan pertanda parkir untuk mempermudah konsumen / pasien menata parkir motor / mobil.
iv. Daerah Hijau Bangunan
Didapatkan dari hasil pengukuran lapagan ruang terbuka hijau pekarangan adalah 41,3 m2 dan sekaligus dijadikan area hijau bangunan, tetapi disarankan menambahkan Pohon perindang pada area parkir.
v. Tata Tanaman
Tata Tanaman pada area halaman samping dan belakang bangunan disarankan di tata Kembali, diakrenakan banyak nya tanaman dan rumput liar yang sudah tumbuh.
Pada bagian depan bangunan disarankan menambahkan tanaman
perindang ( Tanaman Ketapang Kencana ) untuk menjadi tanaman
peneduh di Area Parkir.
13
vi. Tata Perkerasan Pekarangan
Perkersan pada area parkir tidak ada kerusakan dan masih layak digunakan.
vii. Sirkulasi Manusia dan Kendaraan
Sirkulasi untuk manusia dan kendaraan sesuai dengan gambar As Built Drawing dan tidak ada keruakan pada Area ini.
viii. Jalur Utama Pedestrian
Jalur utama pada Apotek Taru Dharma terletak pada Pintu Bangunan yang masih dalam kondisi baik dan layak digunakan, dengan bahan lauminium dan Pintu pengaman dari Pintu Besi dengan Model Harmonika.
ix. Perabot Lansekap (Landscape Furniture)
Untuk perabotan Landscape tidak terdapat pada saat pemeriksaan,
diharapkan owner / pemilik Apotek Taru Dharma melengkapi
peralatan Landscape agar namanti nya tata tanaman tetap terjaga.
14
x. Pertanda ( Signage)
Pertanda / Signage belum ada sehingga diharuskan menambahkan pertanda seperti jalur evakuasi, titik kumpul & Pertanda Parkir.
Khusus untuk Papan nama Apotek diharapkan di tambah Aksara Bali sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan Dan Penggunaan Bahasa, Aksara, Dan Sastra Bali Serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
xi. Pencahayaan Ruang Luar Bangunan Gedung
Pencahayaan dalam Ruangan sudah cukup melalui penggunaan material kaca bening pada pintu depan Apotek
xii. Pemenuhan Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung Pemeriksaan Penampilan Bangunan Gedung
Bangunan dengan fungsi Apotek penampilan bangunan secara menyeluruh mencerminkan ciri-ciri bangunan Arsitektur Lokal.
Dari hasil pemeriksaan lapangan didapatkan beberapa hal untuk pemenuhan persyaratan Arsitektur Tradisional Bali :
1. Penambahan Ornamen Bentala berbahan ACP untuk penerapan Arsitektur Tradisional Bali 2. Penambahan Ornamen Ikut Celedu berbahan
ACP untuk penerapan Arsitektur Tradisional Bali
15
e. Persyaratan Keselamatan Bangunan Gedung
i. Pemeriksaan Sistem Struktur Bangunan Gedung, antara lain : a. Pondasi
Untuk Pondasi Existing tidak dapat diamati dilapangan, yang dapat diamati hanya pondasi yang terpasang dari level muka tanah/halaman keatas dan tidak ada kerusakan seperti retak pada pondasi, penurunan pondasi dan lain-lain pada saat pemeriksaan lapanagan dilakukan.
b. Kolom
Untuk Pemeriksaan kolom dilakukan salah satu metode NDT yang sering digunakan di Indonesia yaitu Hummer Test dan di dapatkan hasil antara lain :
No Dimensi Kolom Hasil Pengetesan
1 Kolom 20x30 cm 34,2 Mpa
2 Kolom 20x20cm 35,3 Mpa
3 Kolom 15x15cm 34,0 Mpa
c. Balok
Untuk Pemeriksaan Balok dilakukan salah satu metode NDT yang sering digunakan di Indonesia yaitu Hummer Test dan di dapatkan hasil antara lain :
No Dimensi Kolom Hasil Pengetesan
1 Kolom 20x40 cm 40,1 Mpa
16
f.
Pemeriksaan Persyaratan Keselamatani.
Pemeriksaan Sistem Proteksi Bahaya KebakaranSTANDAR DAN REFERENSI
1. SNI-03-3987-1995 : tentang Alat Pemadam Api Ringan.
2. Permen PU No. 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran Pada Bangunan gedung dan Lingkungan.
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Pemilihan APAR untuk situasi yang diberikan harus ditentukan oleh karakter kebakaran yang diantisipasi, konstruksi dan hunian dari harta benda individual, kendaraan, atau bahaya yang akan diproteksi, kondisi temperatur udara luar (ambient), dan faktor faktor lainnya. Jumlah, ukuran, penempatan, dan pembatasan penggunaan APAR yang disyaratkan, harus memenuhi persyaratan yang berlaku.
2. Kelas kebakaran APAR
Kelas kebakaran APAR dapat diklasifikasikan menjai 4 (empat) kelas yaitu:
a. Kelas A adalah kebakaran dari jenis bahan padat kecuali bahan dari logam.
b. Kelas B adalah kebakaran dari jenis bahan cair atau gas yang mudah terbakar.
c. Kelas C adalah kebakaran dari jenis listrik yang bertegangan.
d. Kelas D adalah kebakaran dari jenis bahan dari logam.
17
Tabel 3. 1 Jenis APAR dan Jenis Kebakaran
JENIS KEBAKARAN JENIS APAP Kebakaran benda padat mudah terbakar bukan
logam, misal kayu, kertas, kain, karet, plastik
dsb Kelas A
Kebakaran benda cair mudah menyala, dan lemak
masak Kelas B
Kebakaran yang melibatkan peralatan bertenaga
listrik Kelas C
Kebakaran yang melibatkan logam mudah
terbakar Kelas D
3. APAR harus diletakkan menyolok mata yang mana alat tersebut mudah dijangkau dan siap dipakai dan selalu tersedia saat terjadi kebakaran. Lebih baik alat tersebut diletakkan sepanjang jalur lintasan normal, termasuk eksit dari suatu daerah.
4. APAR dengan berat kotor tidak melebihi 18 kg harus dipasang sehingga ujung atas APAR tingginya tidak lebih dari 1,5 m diatas lantai. APAR dengan berat lebih dari 18 kg (kecuali yang dilengkapi dengan roda) harus dipasang tidak lebih dari 1 m diatas lantai. Dalam hal apapu dalam peletakan APAR harus ada jarak antara APAR dan lantai tidak kurang dari 10 cm.
Tabel 3. 2 Penempatan APAR
KRITERIA BAHAYA RINGAN
BAHAYA SEDANG
BAHAYA BERAT Kelas A
Daya pada minimum APAR tunggal
Luas lantai maksimum per unit A Luas lantai maksimum untuk APAR
Jarak tempuh maskimum ke APAR
2-A 278 m2 100 m2 23
m
5-B
2-A 139 m2 100 m2 23
m
10-B
4-A 93 ft2 100 m2 23
m
40-B
18
Kelas B
Ukuran minimum APAR (daya pemadaman)
Jarak maksimum ke tempat pemadamanan
10-B 9 m 15 m
20-B 9 m 15 m
80-B 9 m 15 m
5. APAR digunakan untuk memenuhi persyaratan harus terdaftar dan diberi label dan harus memenuhi atau melebihi semua persyaratan yang berlaku.
Tabel 3. 3 Alat Pemadam Api Ringan yang Disyaratakan PENGGUNAA HUNIAN DISYARATKAN Hunian perawatan kesehatan ambulatori YA Hunian apartemen, rumah susun (a) YA
Hunian pertemuan (b) YA
Hunian bisnis YA
Hunian perawatan harian YA
Hunian rumah tahanan dal Lembaga
pemasyarakatan. (c, d) YA
Hunian pendidikan YA
Hunian pelayanan kesehatan. YA
Hunian hotel dan asrama. YA
Hunian industri. YA
Hunian wisma, rumah singgah. YA
Hunian perdagangan. YA
Hunian dengan struktur khusus. YA
Hunian rumah tinggal satu dan dua keluarga. TIDAK Hunian perawatan dan rumah tinggal. YA
Hunian Gudang (e) YA
19
APAR diizinkan untuk diletakkan pada lokasi bagian luar atau lokasi bagian dalam sehingga semua bagian dalam bangunan gedung pada jarak lintasan 23 m ke unit pemadam api.
URAIAN PEMERIKSAAN
Pada Bangunan Gedung ini alat pemadam api portable yang digunakan adalah jenis APAR (alat pemadam api ringan) yang dipasang, di Area Apotek
Gambar APAR
APAR sudah diletakkan menyolok mata yang mana alat tersebut mudah dijangkau dan siap dipakai dan selalu tersedia saat terjadi kebakaran.
Jenis APAR yang digunakan sudah sesuai dengan fungsi pemadaman api Kelas A yaitu Kebakaran benda padat mudah terbakar bukan logam, misal kayu, kertas, kain, karet, plastic dan sebagainya.
g. Pemeriksaan Persyaratan Kesehatan i. Pemeriksaan Sistem Penghawaan
STANDAR DAN REFERENSI
1. SNI-03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara.
2. SNI-03-6572-2001 tentang Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian udara pada bangunan Gedung.
3. SNI-03-6571-2001 tentang Sistem Pengendalian Asap pada Bagunan Gedung.
4. SMACNA 1995, HVAC Duct Construction Standard.
5. ASHRAE Handbook, Fundamental, Application, Refrigerantion, Equipment.
6. CARRIER Handbook, Air Conditioning System Design
20
KRITERIA PEMERIKSAAN
VENTILASI MEKANIK 1. Tujuan ventilasi:
a. Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh keringat dan sebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang ditimbulkan oleh pernafasan dan proses proses pembakaran.
b. Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan sebagainya.
c. Menghilangkan kalor yang berlebihan
d. Membantu mendapatkan kenyamanan termal.
2. Persyaratan teknis ventilasi mekanik yaitu:
a. Sistem ventilasi mekanis harus diberikan jika ventilasi alami yang memenuhi syarat tidak memadai.
b. Penempatan Fan harus memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar atau sebaliknya.
c. Sistem ventilasi mekanis bekerja terus menerus selama ruang tersebut dihuni.
d. Bangunan atau ruang parkir tertutup harus dilengkapi sistem ventilasi mekanis untuk membuang udara kotor dari dalam dan minimal 2/3 volume udara ruang harus terdapat pada ketinggian maksimal 0,6 meter dari lantai.
e. Ruang parkir pada ruang bawah tanah (besmen) yang terdiri dari lebih satu lantai, gas buang mobil pada setiap lantai tidak boleh mengganggu udara bersih lainnya.
f. Besarnya pertukaran udara yang disarankan untuk berbagai fungsi ruangan harus sesuai ketentuan yang berlaku.
21
3. Kebutuhan Ventilasi Mekanis
Tabel 3. 4 Catu Daya Segar Minimum
NO TIPE
CATU UDARA SEGAR MINIMUM PERTUKARAN
UDARA/JAM
M3/JAM PER ORANG
1 Kantor 6 18
2 Restaurant/Kantin 6 18
3 Toko, Pasar Swalayan 6 18
4 Pabrik, Bengkel 6 18
5 Kelas, Bioskop 8 -
6 Lobi, Koridor, Tangga 4 -
7 Kamar mandi, Peturasan 10 -
8 Dapur 20 -
9 Tempat parkir 6 -
PENGKONDISIAN UDARA
1. Sistem pengkondisian udara terdiri dari:
a. Sistem expansi langsung (DX)
Pada sistem ini udara didinginkan secara langsung oleh koil pendingin dimana media didalam koil pendingin adalah refrigeran. Sistem ini terdiri dari kipas udara, koil pendingin dan mesin refrigerasi yang berada di dalam satu kotak.
b. Sistem air penuh
Pada sistem air penuh, air sejuk (chilled water) dialirkan melalui unit Fan koil untuk pengkondisian udara. Udara yang diperlukan untuk ventilasi dimasukkan melalui celah celah pintu atau jendela, lubang masuk pada dinding dan dimasukkan ke dalam ruangan melalui saluran khusus.
c. Sistem udara penuh
Campuran udara luar dan udara ruangan didinginkan dan dikurangi kadar uap airnya, kemudian dialirkan kembali ke dalam ruangan melalui saluran udara. Dalam keadaan di mana beban kalor dari
22
beberapa ruangan yang akan dilayani berbeda, tidak mungkin mempertahankan udara ruangan pada suatu temperatur tertentu.
Masalah tersebut dapat dipecahkan dengan melayani ruangan dengan kondisi yang sama oleh satu alat pengkondisian udara.
d. Sistem air udara
Dalam sistem air-udara, unit Fan koil dipasang di dalam ruangan yang akan dikondisikan. Air sejuk (untuk pendinginan) atau air panas (untuk pemanasan) dialirkan ke dalam unit tersebut sehingga menjadi dingin atau panas.
e. Sistem pompa kalor
Sistem pompa kalor adalah siklus refrigerasi yang direncanakan untuk mengendalikan kalor dalam dua arah (dingin atau panas). Pompa kalor merupakan penyelesaian alami bila beban kalor pendinginan dan bebanpemanasan mendekati sama.
2. Peralatan sistem pengkondisian udara.
Peralatan sistem pengkondisian udara menyediakan satu (paket tunggal) atau lebih (sistem terpisah/split system) paket yang dirakit di pabrik yang terdiri dari; sarana sirkulasi udara, pembersih udara, pendingin udara dengan kontrol temperatur dan penurunan kelembaban (dehumidification). Fungsi pendinginan dioperasikan antara lain oleh listrik atau kalor, dan kondenser refrigeran didinginkan oleh udara, air atau evaporasi. Apabila peralatan disediakan lebih dari satu paket, paket yang dipisahkan harus oleh pabrik direncanakan untuk dapat dipakai bersama.
Acuan design kondisi udara dalam ruangan:
a. Temperatur Udara Kering
• Sejuk Nyaman : 20.5 oC – 22.8 oC
• Nyaman Optimal : 22.8 oC – 25.8 oC
• Hangat Nyaman : 25.8 oC – 27.1 oC b. Kelembaban Udara Relatif
• Ruangan pribadi : 40 % – 50 %
• Ruangan pertemuan : 55 % – 60 %
c. Kecepatan Udara : 0.15 m/detik – 0.25 m/detik
d. Kriteria Kebisingan
23
• Rumah Sakit, Tempat Penelitian : 35 - 45 dB
• Perumahan, Tempat Pendidikan : 45 - 50 dB
• Perkantoran, Perdagangan : 50 - 60 dB
• Industri, Pabrik : 60 - 70 dB e. Kadar karbon
• Kadar karbon monoksida : < 25 ppm
• Kadar karbon dioksida : < 5000 ppm
URAIAN PEMERIKSAAN
1. Sistem Ventilasi Alami dan/atau Mekanik
Sistem ventilasi Bangunan Gedung ini menggunakan ventilasi alami. Untuk ruangan yang mempunyai bukaan yang cukup menggunakan sistem ventilasi alami.
2. Sistem Pengkondisian Udara
Sistem pengkondisian udara yang digunakan pada Bangunan Gedung ini adalah sistem Expansi Langsung (DX). Mesin refrigerasi yang ada didalamnya terdiri dari kondenser (jenis pendingin udara) dan kompressor yang terpisah dari unit Fan Koil, tetapi dihubungkan dengan pipa refrigran. Peralatan sistem udara yang digunakan pada bangunan gedung ini adalah sistem Single Split, dimana pada sistem ini satu indoor unit dihubungkan ke satu outdoor unit.
a) Indoor Unit
Indoor unit menggunakan Indoor Split Type dengan indoor unit yang terpasang pada dinding. Indoor unit dilengkapi dengan pipa drain yang diisolasi
24
Gambar Indoor AC Split
b) Outdoor Unit
Outdoor unit dipasang di dinding dan di atap. Compressor dilengkapi dengan dudukan karet untuk meredam getaran, automatic reversible oil pump, Sirip pendingin Condenser Coil terbuat dari Aluminium plate yang tahan korosi.
Kondisi udara nyaman dalam ruangan akan dikontrol dengan thermostat, masing masing unit AC mempunyai electronic control sendiri-sendiri (individual). Posisi unit control berada di masing masing ruangan.
c) Kondisi dalam ruangan 1. Temperatur Udara Kering
• Sejuk Nyaman : 20.5 oC – 22.8 oC
• Nyaman Optimal : 22.8 oC – 25.8 oC
• Hangat Nyaman : 25.8 oC – 27.1 oC 2. Kelembaban Udara Relatif
• Ruangan pribadi : 40 % – 50 %
• Ruangan pertemuan : 55 % – 60 %
3. Kecepatan Udara : 0.15 m/detik – 0.25 m/detik
4. Kriteria Kebisingan
• Rumah Sakit, Tempat Penelitian : 35 - 45 dB
• Perumahan, Tempat Pendidikan : 45 - 50 dB
• Perkantoran, Perdagangan : 50 - 60 dB
• Industri, Pabrik : 60 - 70 dB 5. Kadar karbon
• Kadar karbon monoksida : < 25 ppm
• Kadar karbon dioksida : < 5000 ppm
25
Tabel Pengukuran Kelembaban
NO NAMA RUANGAN
HASIL PENGUKURAN KELEMBABAN (%)
KETENTUAN
(%) KETERANGAN
1 Apotek 57 40-60 Tidak Sesuai
2 Ruang Periksa 58 40-60 Tidak Sesuai
Tabel Pengukuran Suhu
NO NAMA RUANGAN
HASIL PENGUKURAN
SUHU (C)
KETENTUAN
(C) KETERANGAN
1 Apotek 33 20,5 - 27,1 Kurang Sesuai
2 Ruang Periksa 33 20,5 - 27,1 Kurang Sesuai
Tabel Pengukuran Kebisingan
NO NAMA RUANGAN
HASIL PENGUKURAN KEBISINGAN (dB)
KETENTUAN
(dB) KETERANGAN
1 Apotek 53,5 50-60 Sesuai
2 Ruang Periksa 56,3 50-60 Sesuai
3. Kadar karbonmonoksida dan Karbondioksida
Kadar karbon monoksida dan Karbon dioksida pada bangunan ini dilakukan menggunakan alat carbon monocsida meter.
26
Gambar Carbon Monocsida Meter
Sesuai dengan ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) Nomor KEP- 107/KABAPEDAL/11/1997 pasal 9 menyatakan bahwa angka dan kategori indeks standar pencemaran udara untuk gas karbon monoksida adalah sebagai berikut.
Tabel 3. 5 Standar Tingkat Kadar CO
Tabel 3. 6 Hasil Pendataan Tingkat CO pada Bangunan
NO NAMA RUANGAN
HASIL PENGUKURAN
CO (ppm)
KETENTUAN
(ppm) KETERANGAN
1 Apotek 0 0-50 Sesuai
2 Ruang Periksa 0 0-50 Sesuai
h. Pemeriksaan Sistem Pencahayaan
1. Pencahayaan AlamiSistem pencahayaan alami merupakan sistem pencahayaan yang memanfaatkan sinar matahari langsung sebagai penerangan dalam ruangan.
2. Pencahayaan Buatan
Instalasi listrik pada Bangunan Gedung ini terdiri dari sistem instalasi tegangan rendah yaitu instalasi dari PLN sampai ke titik akhir beban.
Instalasi kabel TR (PLN – LVMDP)
- Jenis Kabel : NYFGBY
- Frekwensi : 50 Hz
- Tegangan uji : 1,0 kV - Tegangan kerja : 380 V / 220V a. Instalasi kabel armature
27
Jenis dan ukuran kabel yang digunakan pada gedung adalah:
- Kabel instalasi saklar & lampu menggunakan kabel:
o NYM 2x 1,5 mm2 + HIC o Nym 3x 2,5 mm2 + HIC
b. Kabel instalasi kotak kontak menggunakan kabel • NYM 3x 2,5 mm2 + HIC
Armatur pencahayaan, fiting lampu, lampu, dan roset harus dibuat sedemikian sehingga semua bagian yang bervoltase dan bagian yang terbuat dari logam, teramankan dengan baik dari kemungkinan sentuhan. Tusuk kontak harus didesain sedemikian sehingga ketika dihubungkan tidak mungkin terjadi sentuh tak sengaja dengan bagian aktif.
Tabel 3. 7 Standar Tingkat Pencahayaan
28
29
Tabel 3. 8 Hasil pegukuran tingkat luminasi
NO NAMA RUANGAN
HASIL PENGUKURAN LUMINASI (Lux)
KETENTUAN
(Lux) KETERANGAN
1 Apotek 94 300 Tidak Sesuai
2 Ruang Periksa 221 300 Tidak Sesuai
30
i. Lampu Emergency dan Exit
Pada bangunana ini tidak tersedia Lampu emergeny dan exit
j. Pemeriksaan Sistem Penyediaan Air Bersih
STANDARD DAN REFERENSI1. SNI-03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing 2. SNI-03-6481-2000 tentang Sistem Plambing
3. Perencanaan & Pemeliharaan Sistem Plambing 1988, Soufyan &
Morimura.
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Sistem penyediaan air bersih dapat dikelompokan sebagai berikut:
a. Sistem sambungan langsung
Dalam sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan sistem pipa utama air bersih, sistem ini terutama diterapkan untuk perumahan dan bangunan gedung yang kecil dan rendah.
b. Sistem dengan tangki air atas
Dalam sistem ini air terlebih dahulu ditampung dalam tangka air bawah kemudian dipompakan ke tangka air atas.
c. Sistem dengan tangki tekan
Dalam sistem ini air yang ditampung dalam tangki air bawah dipompakan dalam suatu bejana tertutup kemudian dialirkan kedalam sistem distribusi.
2. Laju aliran air untuk setiap jenis peralatan plambing
NAMA ALAT PLUMBING
SETIAP PEMAKAIAN
(Ltr)
WAKTU PENGISIAN
(Detik)
LAJU ALIRAN (Lpm)
Kloset (katup glontor) 15 10 90
Kloset (tangki glontor) 14 60 14
Peturasan (katup glontor) 5 10 30
Peturasan (tangki glontor) 14 300 2,8
Bak cuci tangan (wastafel) 10 40 15
31
Bak cuci dapur (sink) 15 60 15
Bak mandi rendam (buthub) 125 250 30
Pancuran mandi (shower) 42 210 12
3. Standar kualitas air bersih harus memenuhi baku mutu air bersih yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia no.32 th 2017.
4. Tekanan pada peralatan Plambing:
a. Minimum : 0,7 bar b. Maksimum : 4,0 bar
5. Kecepatan pengaliran air dalam pipa berkisar antara 0,9 - 2 mtr/detik.
6. Jaringan pipa harus direncanakan sebagai berikut:
a. Bagian pipa mendatar pada sistem pengaliran ke atas, dan kebawah dipasang dengan kemiringan 1/300.
b. Laju aliran air pada setiap bagian pipa harus ditentukan berdasarkan Unit Beban Alat Plambing (UBAP) pada SNI 03- 6481-2000 Sistem plumbing.
c. Ukuran pipa untuk setiap bagian dari jaringan tersebut ditentukan berdasarkan kehilangan tekanan yang diijinkan atau menggunakan ekivalen tekanan pipa.
d. Pipa air panas balik dari ujung pipa utama kembali menuju tangki air panas harus dengan ukuran untuk laju aliran minimum.
7. Tangki air bawah harus direncanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Tangki iar tidak merupakan bagian structural dari bangunan tersebut, dan bila diletakan diluar bangunan harus kedap dan tahan terhadap beban yang mempengaruhinya
b. Tangki yang terpasang pada lantai bawah yang berjarak dengan bak penampungan air kotor atau air buangan harus tidak kurang dari 5 meter.
c. Kontruksi tangki dan penempatan lubang pengisian dan pengeluaran air harus dapat mencegah timbulnya bagian air yang terlalu lama diam dan tangki.
32
8. Tangki air atas direncanakan pada ketinggian yang cukup untuk
meberikan tekanan statis pada alat plambing tertinggi di bangunan tersebut, sesuai dengan persyaratan minimum yang diperlukan alat plambing.
URAIAN PEMERIKSAAN 1. Sumber air bersih
Sumber utama air bersih pada Bangunan Gedung bersumber dari PDAM 2. Tangki air penyimpanan
Pada bangunan ini tidak memakai tangka penyimpanan (Air PDAM langsung dialirkan ke tap)
3. Sumber air panas
Pada bangunan ini, tidak memakai air panas Sistem distribusi air bersih
Pada bangunan ini, menggunakan sumber PDAM langsung dialirkan ke tap
4. Instalasi Distribusi air bersih
a. Pipa air bersih : PVC type AW untuk air dingin b. Isolating valve : Ball Valve pvc
5. Kualitas air bersih.
Kualitas air berih pada bangunan gedung ini secara visual sangat baik.
• Warna : tidak berwarna
• Bau : tidak bau
• Kotoran : tidak ada kotoran
k. Pemeriksaan Sistem Pembuangan Air Kotor dan/atau Air Limbah (Black Water)
STANDAR
1. SNI-03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing 2. SNI-03-6481-2000 tentang Sistem Plambing
3. Perencanaan & Pemeliharaan Sistem Plambing 1988, Soufyan &
Morimura.
33
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Standar kualitas air limbah domestic harus memenuhi baku mutu air limbah domestic yang dikeluarkan oleh menteri negara lingkungan hidup nomor 112 tahun 2003.
2. Sistem pembuangan, yaitu:
a. Sistem campuran, adalah pembuangan dimana air kotor dan air bekas dikumpulkan dan dialirkan ke dalam satu saluran
b. Sistem terpisah, adalah pembuangan dimana air kotor dan air bekas masing-masing dikumpulkan dan dialirkan secara terpisah, untuk daerah yang tidak ada roil kota, maka sistem pembuangan air kotor akan disambunkan ke instalasi pengolahan air kotor terlebih dahulu.
3. Sistem pengaliran, yaitu:
a. sistem gravitasi, adalah air buangan yang dialirkan secara gravitasi, dengan mengatur letak dan kemiringan pipa-pipa pembuangan.
b. sistem bertekanan, adalah air buangan yang dikumpulkan dalam bak penampung dan kemudian dipompakan keluar, dengan menggunakan pompa yang bekerja secara otomatik.
4. Ketentuan umum pipa pembuangan
a. ukuran minimum pipa cabang mendatar, harus mempunyai umuran minimal sama dengan diameter terbesar perangkap alat plambing yang dilayani.
b. ukuran minimum pipa tegak, harus mempunyai ukuran minimal sama dengan diameter terbesar cabag mendatar yang disambungkan ke pipa tegak tersebut.
c. pengecilan ukuran pipa tidak boleh dalam arah air buangan.
Pengcualian hanya pada closet.
d. pipa di bawah tanah, adalah pipa pembuangan yang ditanam didalam tanah atau di bawah lantai bawah harus mempunyai ukuran minimal 50 mm.
e. Interval cabang adalah jarak pada pipaa tegak antara dua titik di mana cabang mendatar disambugkan pada pipa tegak tersebut, ajrak minimal 2,5 m.
34
5. Beban maksimum pipa pembuangan (dinyatakan dalam unit beban alat plambing). Dapat dilihat dalam table 6.02, beban maksimum pipa pembuangan.
Tabel 3. 9 Beban Maksimum Pipa Pembuangan UKURAN
PIPA PIPA
TEGAK PIPA DATAR DGN KEMIRINGAN
INC. MM UAP 0,50% 1% 2% 4%
1,5" 40 4 - - - -
2" 50 10 - - 21 26
2 1/2" 65 20 - - 24 31
3" 80 30 - - 42 50
4" 100 240 - 180 216 250
5" 125 540 - 390 480 575
6" 150 960 - 700 840 1.000
8" 200 2.200 1.400 1.600 1.920 2.300 10" 250 3.800 2.500 2.900 3.500 4.200 12" 300 6.000 3.900 4.600 5.500 6.700 14" 350 - 7.000 8.300 10.000 12.000
6. Ketentuan umum sistem pipa ven
a. Ukuran pipa ven di dasarkan pada unit beban alat plambing dari pada pembuangan yang dilayani, dan panjang ukuran pipa ven tersebut.
b. Ukuran pipa ven lup/sirkit dan ven lepas minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari setengah kali diameter cabang mendatar pipa buangan.
c. Ukuran pipa ven tegak tidak boleh kurang dari ukuran pipa tegak air buangan yang dilayani dan selanjutnya tidak boleh diperkecil ukurannya sampai ke ujung terbuka.
35
d. Ukuran pipa ven tunggal minimum 32 mm dan tidak boleh kurang dari setengah kali diameter pipa pengering alat plambing yang dilayani.
URAIAN PEMERIKSAAN
1. Peralatan Saniter dan instalasi inlet a. Closet
Gambar Type closet yang digunakan b. Washtafel
Wastafel dengan keran air dingin saja Serta pembuangan wastafel sudah dilengkapi dengan siphon (p-trap).
Gambar Wastafel
2. Sistem jaringan pembuangan air kotor dan/atau limbah a Sistem pembuangan
Sistem pembuangan yang digunakan pada Bangunan Gedung ini adalah Sistem terpisah dimana air kotor dan air bekas dialirkan ke dalam masing-masing saluran pipa yang terpisah.
Sistem air kotor /air dari closet dan air bekas dialirkan menuju IPAL
Dan sistem air bekas di kitchent dialirkan menuju Grease trap, kemudian di olah di sistem IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah).
b. Sistem pengaliran
36
Sistem pengaliran yang digunakan pada Bangunan Gedung ini adalah sistem gravitasi dimana air buangan yang dialirkan secara gravitasi, dengan mengatur letak dan kemiringan pipapipa pembuangan.
c. Instalasi air buangan pada Bangunan Gedung ini menggunakan pipa jenis PVC yaitu:
• Pipa air kotor : pipa PVC AW class
• Pipa air bekas : pipa PVC AW class
• Pipa air bekas dapur : pipa PVC AW class
• Pipa ven : pipa PVC D class
l. Pemeriksaan Sistem Pembuangan Kotoran dan Sampah
LINGKUP PEKERJAAN1. Inlet pembuangan kotoran dan sampah
2. Penampungan sementara kotoran dan sampah dalam persil 3. Pengolahan kotoran dan sampah dalam persil
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Pemilahan dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri atas:
• Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun;
• sampah yang mudah terurai;
• sampah yang dapat digunakan kembali;
• sampah yang dapat didaur ulang; dan - sampah lainnya.
URAIAN PEMERKSAAN
1. Pengelolaan sampah pada lokasi ini dilakukan dengan mengumpulkan sampah – sampah sisa pada tempat yang sudah disediakan.
2. Sampah – sampah dikumpulkan, dan kemudian diangkut oleh pihak ketiga yang akan mengelola sampah – sampah tersebut lebih lanjut, sesuai dengan peraturan persil.
m. Pemeriksaan Sistem Penyaluran Air Hujan
STANDAR DAN REFERENSI1. SNI-03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing
37
2. SNI-03-6481-2000 tentang Sistem Plambing
3. SNI-03-2453-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Sumur Resapan Air Hujan Untuk Lahan Pekarangan
4. Perencanaan & Pemeliharaan Sistem Plambing 1988, Soufyan & Morimura.
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Bangunan Gedung harus mempunyai perlengkapan drainase untuk menyalurkan air hujan dari atap dan halaman atau pekarangan dengan pengerasan di dalam persil ke saluran air hujan kota atau saluran pembuangan campuran kota. Setiap persil berhak menyalurkan air hujan ke saluran air hujan kota.
2. Drainase atap harus kedap air dan saringan harus dipasang pada lubang talang tegak. Saringan harus menonjol sekurang-kurangnya 10 cm diatas permukaan atap atau talang datar.
3. Ukuran drainase bawah tanah yang dipasang di bawah lantai besmen atau disekeliling tembok (dinding) luar suatu gedung harus lebih besar atau sma dengan 100 mm.
4. Jaringan pembuangan air kotor harus terpisah seluruhnya dari jaringan pembuangan air hujan gedung.
5. Jaringan pembuangan air limbah dan pembuangan air hujan harus dipisahkan.
6. Perangkap individu harus dipasang pada cabang datar untuk melayani tial talang tegak atau tiap daerah drainase, bila talang tegak dan saluran pembuangan air hujan disambungkan pada drainase gedung gabungan atau saluran pembuangan gedung gabungan.
7. perangkap yang dipasang pada pipa pembuangan air hujan harus dilengkapi dengan lubang pembersih yang ditempatkan pada bagian masuk aliran yang mudah dicapai.
8. Perancangan system drainase air hujan menggunakan intensitas curah hujan tropis maksimum yaitu = 100 mm/jam.
9. Ukuran saluran pembuangan air hujan gedung dan setiap pipa cabang datarnya dengan kemiringan 4% atau lebih kecil harus didasarkan pada jumlah daerah drainase yang dilayani.
10. Ukuran talang air hujan didasarkan pada luas atap yang dilayani dan sesuai dengan yang diijikan untuk talangnya.
38
11. Beban maksimum yang diijinkan untuk ukuran saluran dan talang dpata
dilihat pada table 6.03 dibawah.
Tabel 3. 10 Beban Maksimum Pipa dan Talang Atap UKURAN
PIPA
PIPA
TEGAK PIPA DATAR (M2) TALANG ATAP TERBUKA (M2)
INC. MM M2 1% 2% 4% 1/2
% 1% 2% 4%
2" 50 63 - - - -
2
1/2" 65 120 - - - -
3" 80 200 75 105 150 15 20 30 40
4" 100 425 170 245 345 30 45 65 90 5" 125 800 310 435 620 55 80 115 160 6" 150 1290 490 700 990 85 125 175 250 8" 200 2690 1065 1510 2135 180 260 365 520 10" 250 - 1920 2710 3845 330 470 665 945
12" 300 - 3090 4365 6185 - - - -
14" 350 - 5525 7800 11055 - - - -
URAIAN PEMERIKSAAN
1. Sistem penangkap air hujan
Pada atap dak bangunan gedung ini system penangkap air hujan menggunakan roof drain di lantai atap yang disalurkan menggunakan pipa tegak, kemudian langsung dialirkan ke saluran kota.
Kami menyarankan kepada pengelola gedung agar membuat peresapan air hujan.
n. Sistem Listrik Arus Kuat
LINGKUP PEKERJAANLingkup pekerjaan elektrikal terdiri dari:
1. Sumber pasokan listrik
39
Catu daya listrik diperoleh dari PLN sebagai sumber utama dan genset sebagai backup daya
.
2. Instalasi sistem tegangan rendah
3. Instalasi tegangan rendah 380/220V yang terdiri dari panel tegangan rendah, kabel tegangan rendah sampai pada armature lampu, saklar dan kotak kontak.
4. Instalasi sistem pembumian
Terdiri dari instalasi kabel penghantar dan elektrode pembumian yang menghubungkan titik netral transformator, netral genset dan kontak terbuka dari panel, trasformator, genset, dan panel-panel.
STANDAR DAN REFERENSI
1. SNI-04-0255-2011 tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2011)
2. SNI-03-6575-2001 tentang Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan Gedung
3. SNI-03-6197-2000 tentang Konversi Energi Sistem Pencahayaan
4. SNI-03-6574-2001 tentang Tata Cara Perancangan Pencahayaan Darurat, Tanda Arah dan Sistem Peringatan Bahaya pada Bangunan.
5. SNI-04-7018-2004 tentang Sistem Pasokan Daya Darurat dan Siaga.
KRITERIA PEMERIKSAAN 1. Sumber Listrik
a. Sumber listrik catu daya bersumber dari PLN dan atau Generator Set maupun sumber lain yang dimanfaatkan oleh pengguna bangunan gedung sesuai dengan standar yang berlaku.
b. Sumber Listrik Catu daya dari PLN terdiri dari Tegangan Rendah (TR) 380/220V, 50Hz.
2. Panel Listrik
a. Panel Listrik harus ditata dan dipasang sedemikian sehingga terlihat rapi dan teratur, dan harus ditempatkan dalam ruang yang cukup leluasa sehingga pemeliharaan dan pelayanan mudah dan aman, dan bagian yang penting mudah dicapai.
40
b. Pada sisi konduktor masuk panel listrik utama (sirkit utama) harus
dipasang sakelar masuk utama, sedangkan pada setiap sirkit keluar setidak-tidaknya dipasang satu proteksi arus lebih.
c. Komponen yang dipasang pada PHB harus dari jenis yang sesuai dengan syarat penggunaannya seperti:
• Intrumen ukur dan indicator
• Konduktor rel
• Komponen gawai kendali
• Terminal dan sepatu kabel
d. Besar arus yang mengalir dalam rel tersebut harus diperhitungkan sesuai kemampuan rel sehingga tidak akan menyebabkan suhu lebih dari 650C.
3. Instalasi Listrik
a. Kabel dan konduktor harus dipilih dengan mempertimbangkan kriteria berikut:
• KHA ditentukan dengan melihat pada jenis insulasi.
• Drop voltase yang ditentukan dari impedans kabel, karakteristik beban.
• Kinerja pada hubungan pendek yang ditentukan dari arus ganguan yang mungkin terjadi dan karakteristik gawai proteksi
• Kuat mekanis dan pertimbangan fisik lainnya.
• Isolasi konduktor penghantar harus memenuhi persyaratan PUIL, yaitu minimum 1000 ohm / voltb.
Drop voltase antara terminal pelanggan dan sembarang titik dari instalasi tidak boleh melebihi 4 % dari voltase pengenal pada terminal pelanggan bila semua konduktor dari instalasi dialiri arus.
b. Penghantar harus diproteksi dengan gawai proteksi yang harus dapat membuka sirkit dalam waktu yang tepat bila timbul bahaya bahwa suhu penghantar akan menjadi terlalu tinggi. Gawai proteksi harus dipilih yang mempunyai nilai arus pengenal lebih rendah atau sama dari KHA penghantar dengan memperhatkan ketentuan yang berlaku.
41
c. Fiting lampu jenis Edison harus dipasang dengan cara
menghubungkan kontak dasarnya pada konduktor fase, dan kontak luarnya pada konduktor netral.
d. Kotak kontak fase tunggal, baik yang berkutub dua maupun tiga harus dipasang sehingga kutub netralnya ada di sebelah kanan atau di sebelah bawah kutub voltase.
4. Sistem Pembumian
a. Sistem pembumian listrik terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
• Sistem TT: Sistem tenaga listrik TT mempunyai satu titik yang dibumikan langsung. BKT instalasi dihubungkan ke elektrode bumi yang secara listrik terpisah dari elektrode bumi sistem tenaga listrik.
• Sistem IT: Sistem tenaga listrik IT mempunyai semua bagian aktif yang diisolasi dari bumi, atau satu titik dihubungkan ke bumi melalui suatu impedans. BKT instalasi listrik dibumikan secara independen atau secara kolektif atau ke pembumian sistem.
• Sitem TN: Sistem tenaga listrik TN mempunyai satu titik yang dibumikan langsung, BKT instalasi dihubungkan ke titik tersebut oleh penghantar proteksi.
b. Nilai resistans pembumian total seluruh system tidak boleh lebih dari 5 ohm.
c. Luas penampang penghantar proteksi tidak boleh kurang dari nilai yang tercantum dalam table berikut:
Tabel 3. 11 Luas Penampang Penghantar Proteksi
LUAS PENAMPANG KONDUKTOR LI S MM2
LUAS PENAMPANG MINIMUM KONDUKTOR PROTEKSI TERKAIT
MM2
JIKA KONDUKTOR PROTEKSI BERBEBAN SMA SEPERTI
KONDUKTOR SALURAN
S ≤ 16 S
16 < S ≤ 35 16
S > 35 S/2
42
URAIAN PEMERIKSAAN
1. Sumber Listrik
Pada Bangunan gedung ini sumber listrik dipasok sumber tenaga listrik dari jaringan PT. PLN sebagai sumber tenaga listrik utama. Dengan daya tersambung 5,5 KVA, 220 Volt, 50 Hz
2. Panel Listrik
Gambar Panel Listrik
Hasil pengukuran tegangan, Panel Listrik
Hasil pengukuran tegangan di dapat:
• Phase - N = 217,1 volt
Hasil pengukuran tegangan menunjukkan tegangan yang di distribusikan ke beban adalah baik.
o. Sistem Listrik Arus lemah
1) Sistem Elektronika dan Data (Ketentuan dan Standarisasi)
• Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000.
• UU 36 / 1999, tentang Telekomunikasi.
• PP No. 52 tahun 2000, tentang Penyelenggara Telekomunikasi.
• PP No. 38 / 2005 berhubungan dengan UU No. 20 / 2003.
• UU Bangunan Gedung No. 28 tahun 2002.
• KEPMENEG PU No. 10/KPTS/2000, tentang Persyaratan Teknis
43
Pengamanan Kebakaran pada Bangunan Gedung.
• Surat Keputusan Dirjen Pos & Tel No. 004 / Dirjen 1999 Penetapan Persyaratan Teknis Alat / Perangkat Telekomunikasi untuk Bangunan Gedung.
p. Sistem Proteksi dan Pentanahan
Sistem pembumian yang digunakan pada Bangunan Gedung ini adalah Sistem TT yang hanya mempunyai satu titik yang dibumikan langsung dan BKT instalasi dihubungkan ke elektrode bumi yang independen secara listrik dari elektrode bumi sistem suplai. Dengan sistem TT yaitu semua panel listrik, stop kontak, lampu-lampu, motor listrik dan bagian instalasinya yang di dalam keadaan kerja normal tidak bertegangan di hubungkan ke sistem electrode pembumian (Grounding System).
Gambar Hasil Nilai Tahanan Pembumian Panel Listrik
Pada saat survey hasil nilai tahan pembumian dinyatakan bagus 3,81 ohm, sudah sesuai dengan standar yang berlaku yaitu dibawah 5 ohm.
q. Sistem Penyalur Petir
STANDAR DAN REFERENSI1. SNI 03-7015-2004, Tentang Sistem Proteksi Petir pada Bangunan Gedung 2. SNI 04-0255-2011, Tentang Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL)
2011
44
KRITERIA PEMERIKSAAN
1. Sistem Penerima
a. Penerima harus dipasang di tempat atau bagian yang diperkirakan dapat tersambar petir dimana jika bangunan yang terdiri dari bagian-bagian seperti bangunan mempunyai menara, antenna, papan reklame atau blok bangunan harus dipandang sebagai satu kesatuan.
b. Pemasangan penerima pada atap yang mendatar harus benar-benar menjamin bahwa seluruh luas atap yang bersangkutan termasuk dalam daerah perlindungan.
c. Sebagai penerima dapat digunakan logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga.
d. Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima dengan jenis lain adalah sesuai dengan ketentuan teknis dari masing- masing penerima.
2. Sistem hantaran
a. Penghantar harus dipasang secara sempurna dan harus diperhitungkan pemuaian dan penyusutan akibat perubahan suhu.
b. Penghantar harus dipasang lurus kebawah dan jika terpaksa dapat mendtar atau melapaui penghalang.
c. Penghantar harus dipasang dengan jarak tidak kurang dari 15 cm dari atap yang mudah terbakar kecuali atap dari logam, genteng atau batu.
d. Bahan penghantar yang dipasang khusus harus digunakan kawat tembaga atau bahan yang sederajat dengan ketentuan penampang sekurang-kurangnya 50 mm2.
3. Sistem pembumian
a. Elektrode bumi harus dibuat dan dipasang sedemikian rupa sehingga tahan pembumian sekecil mungkin.
b. Elektroda bumi dapat dibuat dari pipa baja yang disepuh dengan Zn dan garis tengah sekurang- kurangnya 25 mm.
c. Nilai tahanan pentanahan maksimum 5 ohm diukur setelah minimal 3 hari tidak turun hujan.
45
URAIAN PEMERIKSAAN
Pada bangunan ini tidak tersedia Sistem Penyalur Petir Analisa keperluan Penyalur Petir
Data berikut ini memberikan latar belakang untuk penilaian:
a. Frekuensi sambaran petir rata-rata tahunan Nd sebagai hasil perkalian densitas sambaran ke tanah Ng lokal dan area cakupan ekivalen Ae dari bangunan gedung.
b. Frekuensi sambaran rata-rata tahunan Nc yang dapat diterima untuk bangunan gedung yang dipertimbangkan. Nc sudah ditetapkan bernilai 0,1.
Nilai frekuensi sambaran rata-rata tahunan Nc yang dapat diterima harus dibandingkan dengan harga nyata frekuensi sambaran petir Nd ke bangunan gedung. Perbandingan berikut menentukan apakah Sistem Proteksi Petir (SPP) diperlukan, dan jika diperlukan, jenisnya apa:
a. Jika Nd ≤ Nc tidak diperlukan SPP.
b. Jika Nd > Nc, SPP dengan effisiensi E ≥ 1 - Nc/Nd sebaiknya dipasang dan tingkat proteksi yang tepat.
Data bangunan ini adalah sebagai berikut : a) Tinggi gedung = 5,5 meter b) Panjang gedung = 19,2 meter c) Lebar gedung = 9,2 meter d) Jumlah lantai = 1 lantai e) Luas lahan = 174 m2
f) Curah hujan per tahun di daerah bangunan dengan rata-rata 162 hari pertahun (Pengamatan Unsur Iklim di Stasiun Geofisika Denpasar, 2021) 1. Kerapatan sambaran petir ke tanah (Ng).
Kerapatan sambaran petir ke tanah dapat diketahui dengan persamaan berikut Td = Jumlah hari guruh/tahun
Ng = 0,04 × Td 1,26
= 0,04 x 16 21,26
= 24,32 Sambaran
2. Area proteksi pada gedung.
Area ekivalen pada gedung dapat dicari menggunakan persamaan dimana : a : Panjang Gedung
b : Lebar Gedung h : Tinggi Gedung
46
Ae = ab + 6h(a+b) + 9𝜋𝜋(h)2
= (19,2 x 9,2) + 6 x 5,5(19,2 + 9,2) + 9𝜋𝜋(5,5)2
= 1.969 m2
3. Jumlah rata-rata frekuensi sambaran petir langsung per tahun (Nd) Jumlah rata-rata frekuansi sambaran langsung pertahun diketahui melalui
persamaan
Nd = Ng × Ae × 10-6
= 24,32 x 1.969 x 10-6
= 0,05 sambaran petir/tahun
Efisiensi sambaran petir (E) Nc diketahui bernilai 0,1 E = 1 – 𝑁𝑁𝑁𝑁 / Nd
= 1 –( 0,1 / 0,05)
= 1- 2,09
= - 1,09
Dari perhitungan didapat nilai Nd ≤ Nc jadi tidak diperlukan SPP (Sistem Penyalur Petir)
r. Pemeriksaan Penggunaan Bahan Bangunan Gedung
- Kandungan Bahan Berbahaya/BeracunKandungan bahan berbahaya tidak terdapat pada bangunan toko dan pemondokan, maka bisa dikatakan aman bagi pengunjung dan pengelolanya.
- Efek Silau Dan Pantulan
Untuk efek silau dan pantulan pada gedung ini tidak terlalu mengganggu karena sudah di transisi dengan menggunakan gorden roller blinds sehingga terang atau terik matahari pada sore hari tidak masuk secara langsung ke dalam ruangan,
- Efek Peningkatan Suhu
Untuk efek peningkatan suhu pada gedung ini tidak mengalami peningkatan, Karena arah bangunan menghadap ke utara.
47
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari bangunan Apotek dapat dikatakan Laik Fungsi dengan catatan melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi sebagai berikut:
1. Arsitektur
Setelah diadakan pemeriksaan guna mendapatkan Sertifikat Laik Fungsi, ada beberapa hal yang harus diperbaiki :
1. Pemeriksaan Tata Ruang Dalam Bangunan Gedung :
a. Penutup Lantai, Disarankan untuk pemeliharaan lantai dilakukan setiap hari untuk menjaga kenyaman pemakai dikarenakan lantai yang rawan licin
dan di tambahkan beberapa titik penempatan keset pada bangunan gedung.
2. Pemeriksaan Keseimbangan, Keserasian dan Keselarasan Dengan Lingkungan :
a. Pemanfaatan Ruang Sempadan Bangunan, disarankan ditambahkan pertanda parkir untuk mempermudah konsumen / pasien menata parkir motor / mobil.
b. Daerah Hijau Bangunan, disarankan menambahkan Pohon perindang pada area parkir.
c. Tata Tanaman, disarankan di tata Kembali, diakrenakan banyak nya tanaman dan rumput liar yang sudah tumbuh
d. Perabot Lansekap (Landscape Furniture), diharapkan owner / pemilik Apotek Taru Dharma melengkapi peralatan Landscape agar namanti nya tata tanaman tetap terjaga.
e. Pertanda / Signage belum ada sehingga diharuskan menambahkan pertanda seperti jalur evakuasi, titik kumpul & Pertanda Parkir.
Khusus untuk Papan nama Apotek diharapkan di tambah Aksara Bali sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Pelindungan Dan Penggunaan Bahasa, Aksara, Dan Sastra Bali Serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
f. Pemenuhan Persyaratan Arsitektur Bangunan Gedung
48
i. Penambahan Ornamen Bentala berbahan ACP untuk penerapan
Arsitektur Tradisional Bali
ii. Penambahan Ornamen Ikut Celedu berbahan ACP untuk penerapan Arsitektur Tradisional Bali
2. Mekanikal Elektrikal Dan Plumbing (MEP)
Rekomendasi terkait pekerjaan pada MEP, sebagai berikut:
1. Sistem Keselamatan Kebakaran
• Disarankan pada pemilik Bangunan Gedung melakukan perawatan APAR secara berkala sehingga selalu siap dan mudah untuk digunakan.
2. Sistem Instalasi Listrik
• Disarankan agar melaksanakan pembersihan ruangan dan panel Listrik secara berkala dari debu dan mengamankan panel dari celah masuknya binatang seperti tikus, tokek, cicak, ular, dan binatang lain yang dapat menyebabkan panel short circuit.
• Penambahan MCB untuk pembagian Lampu, Stop Kontak dan AC
• Memasang lampu emergency sesuai jalur evakuasi 3. Sistem Ventilasi Mekanik Dan Pengkondisian Udara
• Kami menyarankan kepada pihak pengelola gedung agar memeriksa kebersihan unit, dan mengecek tekanan refrigerant, sehingga kenyamanan pelanggan tidak terganggu.
4. Sistem Plumbing
• Disarankan pada pemilik Banguna Gedung untuk melakukan tes lab air secara berkala untuk menjaga standar kwalitas penyediaan air bersih.
• Memasang peresapan air hujan sebanyak 1 unit