• Tidak ada hasil yang ditemukan

COSTS/LOSSES AND RELATED CONCEPTS

N/A
N/A
Abdul Fattah (Fata)

Academic year: 2023

Membagikan "COSTS/LOSSES AND RELATED CONCEPTS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

RANGKUMAN MATA KULIAH (RMK) TEORI AKUNTANSI : PERTEMUAN ke - 9

“COSTS/LOSSES AND RELATED CONCEPTS”

Dosen Pengampu : Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA.

Disusun Oleh : Abdul Fattah (2010165651)

JURUSAN AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA SURABAYA SURABAYA

2023/2024

(2)

Costs/Losses and Related Concepts Definition of Costs/Losses

Istilah loss digunakan oleh akuntan untuk menggambarkan kelebihan expense atau pendapatan dalam satu periode, jadi hal ini merupakan kebalikan dari income, tetapi disini pengertian tersebut dipergunakan sebagai lawan dari pengertian gain.

Menurut pandangan asset dan hutang, gains didefenisikan sebagai peningkatan dalam asset bersih selain peningkatan dalam revenue atau dari perubahan dalam modal.

Sedangkan losses didefinisikan sebagai penurunan asset bersih selain penurunan dalam expense dan perubahan dalam modal. Jadi gains dan losses dianggap sebagai bagian dari earning yang tidak dijelaskan oleh revenue dan expenses.

Menurut pandangan revenue dan expense, gains didefinisikan sebagai kelebihan hasil di atas kos asset terjual, atau keuntungan yang tidak diduga, atau manfaat lain yang diperoleh tanpa kos atau pengorbanan.Atau Losses adalah rugi transaksi tertentu yang sifatnya insidentil yaitu turunnya nilai equity dan dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama perusahaan dan dari seluruh transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entity selama periode tertentu kecuali yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik.

Menurut SFAC No.6 Rugi (Losses) adalah penurunan ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi perifer atauinsidental suatu entitas dan dari semua transaksi lain dan keadaan peristiwa lain yang mempengaruhi entitas kecuali yang dihasilkan dari beban atau distribusi kepada pemilik. Losses mencerminkan pengurangan pada net asset tapi tidak dari expenses atau transaksi modal. Sedangkan menurut kontijensi menurut FASB rugi (losses) adalah suatu kondisi atau situasi yang melibatkan ketidakpastian yang memungkinkan timbulnya suatu rugi bagi perusahaan dimana tinggalnya rugi tersebut sangat tergantung pada terjadinya atau tidak terjadinya suatu peristiwa atau lebih dimasa datang.

Menurut Harahap ( 2007:241 ) “Losses adalah turunnya nilai ekuitas dari transaksi yang sifatnya insidentil dan bukan kegiatan utama entitas dan dari seluruh transaksi kejadian lainnya yang mempengaruhi entitas selama periode tertentu kecuali

(3)

yang berasal dari biaya atau pemberian kepada pemilik (prive)”. Menurut Ismaya (2005:192) mengemukakan bahwa losses adalah berkurangnya aktiva atau sumber- sumber ekonomi perusahaan yang bukan karena pengambilan pemilik dan atas pengurangan aktiva atau sumber tersebut tidak ada manfaat yang diperoleh oleh perusahaan.

Loss didefinisikan sebagai kelebihan di atas hasil yang terkait, jika ada, atau semua atau porsi yang layak dari kos asset terjual, diabaikan, atau keseluruhan atau sebagian rusak karena bencana, atau kos yang telah digunakan bukan untuk menghasilkan revenue. Jadi menurut pandangan revenue/expense, gains dan losses adalah berdiri sendiri dari definisi elemen lain dalam laporan keuangan.

Related Concepts with Costs/Losses

Dasar paling ideal untuk menandingkan biaya dengan pendapatan adalah hubungan sebab akibat. Meskipun dasar ini sulit untuk dibuktikan, namun atas dasar pengamatan yang dilakukan para akuntan menunjukkan bahwa barang/jasa tertentu yang digunakan dalam proses produksi pada akhirnya akan membantu dalam proses menghasilkan pendapatan selama periode tertentu.

Oleh karena itu dasar penandingan ini sering disebut dengan penandingan langsung (direct or product matching ). Contoh dari biaya yang dapat ditandingkan dengan dasar penandingan langsung adalah biaya komisi penjualan, gaji dan upah, serta cost barang terjual(cost of goods sold).

Dasar penandingan ini sesuai dengan konsep upaya dan hasil sepertiyang di ungkapkan oleh Patton dan Littleton (1990). Atas dasar pengamatan fisik dan pengamatan kejadian, jelas terlihat bahwa pendapatan tidak akan terjadi apabila tidak ada penyerahan barang dan jasa.

Komite Amirican Accounting Association (dikutip oleh Kam, 1990) jua menyarankan peggunanaan hubungan sebab akibat sebagai dasar penandingan. Mereka mengatakan: cost harus dihubngkan dengan pendapatan yang direalisasi selama periode

(4)

tertentu atas dasar korelasi positif yang dapat dilihat hubungannya antara cost tersebut dengan pendapatan yang diakui.

Dari pernyataan tersebut dapat dirumuskan bahwa penandingan yang benar- benar tepat dapat dilakukan apabiala terdapat hubungan yang rasional antara pendapatan dan biaya. Oleh karena itu, pengakuan biaya harus harus dihubungkan dengan pendapatan dan dilaporkan dalam peride yang sama dengan periode pengakuan pendapatan. Ada beberapa masalah teknis yang timbul apabila penandingan langsung atas dasar produk digunakan sebagai dasar hubungan sebab akibat. Masalah tersebut adalah:

o Pemakaian barang dan jasa yang bagaimana yang dapat diidentifikasi dengan produk?

o Apabila biaya tidak menambah nilai produk tertentu, kapan biaya tersebut dapt dihubungkan secara langsung dengan pendapatan di masa yang akan datang?

Bagaimana biaya tersebut dapat dilaporkan denngan tepat sesuai dengan pendapatan ang diperoleh?

o Kapan biaya yang terjadi setelah penjualan dapat dicatat dan dilaporkan?

Berikut ini akan dibahas ketiga masalah tersebut dan alternatif pemecahannya.

1) Identifikasi Cost Produk

Sesuai dengan konsep penandingan, semua cost produksi harus dibebankan pad arpoduk yang bersnagkutan. Cost produk dapat dibagi menjadi dua. Pertama, cost produk yang melekat pada produk terjual dan nantinya akan dibebankan sebagai biaya. Kedua, cost yang yang melekat pada produk yang belum terjual (dilaporkan sebagai persediaan) dan dicatat sebagai aktiva sampai produk tersebut terjual.

Beberapa cost produk dapat langsung dihubungkan dengan produk tertentu, sementara cost yang lain hanya dapat dihubungkan dengan kegiatan produksi dan dialokasikan pada produk berdasarkan aturan ataun prosedur

(5)

tertentu. Disinilah pentingnya melakukan identifikasi untuk menentukan cost produk langsung (direct product cost) dan cost produk tidak langsung (indirect product cost). Cost produk langsung adalah cost barang dan jasa yang digunakan untuk memproduksi prodk tertentu dan yang secara langsung dapat diidentifikasi atau ditelusur ke produk yang dihasilkan. Cost bahan baku dan tenaga kerja langsung merupakan cost produk langsung karena terjadinya atau manfaat cost tersebut dapat diidentifikasi pada produk tertentu.

Cost produk tidak langsung adalah cost barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi, yang tidak dapat di identifikasi pada produk yang dihasilkan. Cost overhead pabrik adalah contoh cost produk tidak langsung.

Meskipun cost inisifatnya tidak langsung, namun cost tersebut tetap dibebankan pada produk atas dasar aturan atau metode tertentu. Yang menjadi masalah sekarang, di antara cost produk tersebut yang manakah yangdapat ditandingkan dengan pendapatan? Akuntan banyak tidak sependapat untuk merteembebankan semua cost produksi individual pada produk tertentu. Perbadaan ini muncul karena adanya dua konsep yang berbeda dalam menentukan elemen cost produk, yaitu konsep full costing, dan konsep direct costing.

Menurut konsep full costing, cost yang dianggap sebagai biaya adalah semua cost produk baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan produk yang terjual. Semetara menurut menurut konsep direct cisting, hanya cost produk variabel yang dianggap sebagai biaya atas produk terjual. Dengan demikian, cost produksi non variabel akan dibebankan sebagai biaya periode.

Masalah lain yang muncul adalah cost kapasitas menganggur dan cost produk rusak yang bersifat abnormal. Jenis cost tersebut umumnya dianggap sebagai rugi (losses) atau langsung dibebankan sebagai biaya. Perlakuan inipun masih menimbulkan masalah, apakah cost tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai rugi (losses) atau biaya.

(6)

Penentuan cost atas produk rusak sebagai rugi (losses) atau biaya sangat tergantung pada sifat dari kerusakan tersebut. Apabila kerusakan terjadi karena kejadian normal atau atau sering terjadi, maka cost tersebut diperlakukan sebagai biaya. Sebaliknya, apabila kerusakan terjadi karena hal yang tidak biasa(

tidak rutin), maka cost produk rusak tersebut diperlakukan sebagai rugi (losses).

2) Biaya Yang Langsung Berhubungan Dengan Pendapatan Masa Mendatang, Tetapi Tidak Masuk Dalam Cost Produksi

Pada beberapa kasus, cost yang dapat dihubungkan dengan pendapatan masa mendatang tidak dapat dibebankan secara langsung dengan prodruk tertentu. Hal ini disebabkan cost tersebut tidak menunjukkan nilai tambah pada produk yang bersangkutan. Contoh dari kasus ini adalah biaya penjualandan administrasi. Biaya penjualan dan administrasi tidak harus ditandingkan dengan pendapatan di masa mendatang jika tidak ada jaminan yang rasional untuk menghubungkan biaya tersebut dengan pendapatan di masa mendatang.

Meskipun jenis biaya tersebut idak secara langsung menghasilkan pendapatan karena secara teknis sulit mencari hubungan seba akibatnya, namun biaya tersebut harus tetap dibebankan sebagai biaya.

Tidak diperolehnya pendapatan atau tidak adanya kemungkinan rugi pada periode berjalan, bukan merupakan alasan untuk menunda pembebanan biaya. Alasannya adalah apabila suatu cost dan jasa tidak memberikan manfaat pada periode sekarang dan juga bukan merupakan rugi, maka cost tersebut tentu akan memberikan manfaat masa mendatang. Oleh karena itu, cost tersebut harus dialokasikan pada periode mendatnag agar dapat dilakukan penandingan antara biaya dengan pendapatan. Contohnya, cost pendirian perusahaan tidak dapat dihubungkan dengan produk karena biasanya tidak ada produk yang dihasilkan pada cost tersebut dikeluarkan. Meskipun demikian, cost tersebut dapat dihubungkan dengan pendapatan masa mendatang dan biasanya dikapitalisasi.

Jadi cost tersebut sering diperlakukan sebagai aktiva tidak berwujud.

(7)

Namun demikian, apabila tidak ada hubungan khusus antara pendapatan dan biaya, maka proses penandingan tidak dapat dilakukan. Konsekuensinya, tindakan menangguhkan pembebanan cost tersebut pada akhirnya akan menyebabkan perataan laba dan dan tidak menambah manfaat informasi yang dihasilkan. Contoh lainyang relevan dengan kasus diatas adalah cost penelitian dan pengembangan. Meskipun pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan mungkin memiliki manfaat dalam beberapa periode, namun tidak ada metode atau cara yang relevan dan bermanfaat untuk menerapkan konseppenandingannya.

3) Biaya Yang Berhubungan Dengan Pendapatan Yang Terjadi Setelah Pendapatan Diakui

Umumnya biaya yang belah penjerhubungan dengan pendapatan akan terjadi setelah pendapatan diakui. Masalh ini berkaitan dengan penentuan besarnya biaya yang akan timbul setelah penjualan. Apabila cost kegiatan tertentu dapat ditaksir secara layak dan cukup pasti, maka cost tersebut dapat diakui sebagai biaya pada periode pengakuan pendapatan. Jadi hubungan sebab akibat hsrus dapat diedintifikasi untuk menentukan bahwa pendapatan yang diakui memilki hubungan sebab akibat dengan cost yang bersangkutan.

Contohnya, jika suatu garansi diberikan selama penjualan pada periode tertentu, maka biaya atas jaminan tersebut mungkin saja terjadi pada masa mendatang.

Penandingan yang tepat akan memperlakukan garansi tersebut sebagai biaya pada saat penjualan dan mencatat hutang untuk menampung cost yang timbul dari garansi tersebut.apabila cost garansi yang benar-benar terjadi melebihi besanya cost yang ditaksir sebelumnya, maka kelebihan tersebut lebih tepat untuk diakui sebagai rugi (losses) dari pada biaya operasi.kriteria yang digunakan adalah kelayakan atau kemungkinan terjadinya cost tersebut.

Dasar penandingan-penandingan menurut hubungan sebab akibat dapat juga diterapkan pada perusahaan jasa. Pada perusahaan jasa umumnya tidak ada

(8)

suatu objek fisik yang daptp dijadikan dasar untuk menghubungkan pendapatan dan biaya. Oleh karena itu, dasar penandingan yang biasa digunakan adalah periodik. Cost yang ditandingkan adalah cost yang terjadi pada periode terjadinya pendapatan yang dianggap telah menghasilkan pendapatan tersebut.

Atas dasar prinsip pengakuan pendapatan, biaya tidak akan terjadi bila tidak ada pendapatan. Contohnya, dalam kontrak jangka panjang yang menggunakan metode kontrak selesai, tidak ada biaya selama tidak ada pendapatan yang diakui.

Cost yang terjadi akan dicatat sebagai aktiva dan total akumulasi cost tersebut akan diakui sebagai biaya dan ditandingkan dengan pendapatan pada saat proyek selesai dan diserahkan pada pemerintah.

Apabila digunakan metode persentase penyelesaian, cost yang sebenarnya terjadi pada periode dikeluarkannya cost tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghasilkan pendapatan. Oleh karena itu, biaya akan dicatat yang telah terjadi. Pada penjualan angsuran, total penjualan angsuran dan cost barang terjual (cost of goods sold) dicatat secara bersamaan. Perbedaan penjualan dan cost barang terjual dicatat dalam rekening hutang dengan nama “ Laba Kotor Belum Direalisir”. Laba tersebut akan dialokasikan secara proporsional sesuai dengan kas yang diterima.

Referensi

Dokumen terkait