• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DAFTAR ISI "

Copied!
219
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Fraktur dapat menyebabkan kecacatan pada anggota tubuh yang patah, oleh karena itu diperlukan tindakan segera untuk menyelamatkan klien dari kecacatan fisik. Prinsip penatalaksanaan fraktur meliputi reduksi dan imobilisasi. Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada posisi sejajar dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup mengembalikan fragmen tulang ke posisinya dengan manipulasi manual dan traksi, sedangkan imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksternal dan internal (Nurarif Huda, 2015). Pembedahan merupakan pengalaman yang penuh tekanan bagi sebagian klien, hal ini disebabkan oleh ketakutan akan anestesi, ketakutan akan rasa sakit dan kematian, ketakutan akan hal yang tidak diketahui atau ketakutan akan cacat atau ancaman lain terhadap citra tubuh, sehingga menimbulkan kecemasan. mengalami kecemasan mungkin karena merupakan respons antisipatif terhadap pengalaman yang mungkin dianggap klien sebagai ancaman terhadap perannya dalam hidup, integritas tubuh, dan bahkan kelangsungan hidup klien sendiri (Trise & Nuriala, 2015).

Perawat mempunyai kontak yang paling lama ketika menangani permasalahan klien dan peranan perawat dalam penyembuhan klien sangatlah penting. Seorang perawat harus mampu mengetahui kondisi dan kebutuhan klien. Ini juga termasuk merawat klien selama periode pasca operasi. periode waktu. Perawatan dapat mengurangi risiko pasca operasi, pada masa pasca operasi sangat diperlukan peran perawat dalam proses penyembuhan dengan perawatan yang tepat dalam menjalankan tahapan asuhan keperawatan (Arif Kurniawan, Yunie Armiyati, 2017).

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

  • Bagi peneliti
  • Bagi tempat penelitian
  • Bagi perkembangan ilmu keperawatan

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Dasar Medis

  • Definisi
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Manisfestasi klinis
  • Penatalaksanaan
  • Pathway

Intervensi bedah pada patah tulang tertutup adalah ORIF (Open Reduction Internal Fixation) yaitu intervensi bedah yang dilakukan untuk menyatukan dan memperbaiki kedua ujung fragmen tulang yang patah serta mengoptimalkan penyembuhan dan hasil dengan memasang pelat dan sekrup setelah tulang tersambung (satu atau dua tahun) barulah plat dan sekrupnya dilepas, di rumah sakit pengangkatan ini sering disebut operasi ROI. Jika hal ini tidak dilakukan maka dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan menimbulkan reaksi penolakan dari tubuh seperti infeksi (Adhi dkk. ., 2015). Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang ke posisi sejajar dan rotasi anatomisnya. Reduksi tertutup, mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (tepinya saling terhubung) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat yang digunakan biasanya berupa traksi, rel dan alat lainnya. Editorial terbuka, dengan pendekatan bedah Alat fiksasi internal berupa pin, kabel, sekrup, pelat, paku.

Imobilisasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode eksternal dan internal untuk mempertahankan dan memulihkan fungsi. Status neurovaskular selalu dipantau, termasuk sirkulasi darah, nyeri, sentuhan, gerakan. Perkiraan waktu imobilisasi yang diperlukan agar tulang yang patah dapat menyatu adalah sekitar 3 bulan.

Konsep asuhan keperawatan pada klien post operatif fracture

  • Pengkajian
  • Diagnosa keperawatan
  • Intervensi
  • Implementasi keperawatan
  • Evaluasi keperawatan

Pada kasus patah tulang biasanya klien takut akan kecacatan sehingga klien harus menjalani pengobatan yang membantu penyembuhan tulang. Selain itu juga diperlukan pengkajian yang mencakup kebiasaan gaya hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mempengaruhi metabolisme kalsium, konsumsi alkohol. , klien apakah dia berolahraga atau tidak. Setelah dilakukannya tindakan keperawatan diharapkan gangguan mobilitas fisik dapat teratasi sesuai kriteria hasil. Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan gangguan integritas kulit/jaringan dapat teratasi sesuai dengan kriteria outcome.

Tindakan edukatif merupakan tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam merawat dirinya sendiri dengan cara membantu klien memperoleh perilaku baru yang dapat mengatasi permasalahan. Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan tindakan perawat untuk mengetahui efektifitas tindakan yang dilakukan terhadap pasien. Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses keperawatan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan (Andi Parellangi 2017).

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan (Desain Penelitian)
  • Subyek Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Batasan Istilah (Definisi Operasional)
  • Prosedur Penelitian
  • Teknik dan Instrument Pengumpulan Data
  • Keabsahan Data
  • Analisis Data

Pada riwayat kesehatan saat ini, data klien didapatkan pada tanggal 25 April 2021, saya mengalami kecelakaan tunggal dan terjatuh dari sepeda motor karena menghindari kucing, kaki kiri sakit, kemudian klien dibawa ke IGD, klien mulai berpuasa pukul 22.30 klien memulai operasi pada pukul 14.00 dan operasi pada pukul 15.10 P : klien mengatakan nyeri pada kaki kiri saat digerakkan Q : klien mengatakan nyeri seperti ditusuk R : klien menyatakan nyeri pada kaki kiri yang dioperasi, S : klien menyatakan skala nyeri 5 dan T : nyeri dirasakan saat bergerak dan hilang saat istirahat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan
  • Perencanaan
  • Pelaksanaan
  • Evaluasi

S : Klien mengatakan skala nyerinya 5. T : Klien menyatakan nyeri dirasakan saat kaki digerakkan dan hilang saat istirahat. 2) Killen mengatakan dia mengerti apa yang terjadi. diajarkan oleh perawat untuk mengurangi myeri.

Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien 1 dan 2 dengan post op Fracture
Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien 1 dan 2 dengan post op Fracture

Pembahasan

  • Diangosa keperawatan
  • Implementasi

Pada saat pemeriksaan mata, data yang diperoleh peneliti dari mata 1 lengkap dan simetris kanan dan kiri, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, kornea bersih, konjungtiva tidak anemia, sklera baik. tidak ikterik, pupil inti, sedangkan mata 2 lengkap dan simetris. kanan dan kiri, kelopak mata tidak bengkak, kornea bening, konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik, pupil iscor, sedangkan baji. Pada pengkajian telinga, data yang peneliti peroleh dari klien 1 dan 2 adalah cuping telinga kiri dan kanan simetris dengan ukuran sedang, saluran pada kedua telinga tidak kotor dan tidak terdapat benda asing, ketajaman pendengaran baik. Pada saat pengkajian hidung, data yang peneliti peroleh diambil dari klinik 1 dan 2, tidak ditemukan adanya pernafasan pada lobus hidung, tidak terdapat luka atau sumbatan pada lubang hidung, pernafasan baik.

Pada evaluasi pemeriksaan dada : bagian sistem pernafasan, data diperoleh peneliti untuk klien 1 dimana peneliti tidak hadir. Pada pemeriksaan pemeriksaan jantung : sistem kardiovaskular, data yang diperoleh peneliti untuk klien 1 tidak nyeri dada, CRT <2 detik, tidak ada gangguan sistem kardiovaskular, sedangkan klien 2 tidak nyeri dada, CRT <2 detik. , tidak ada masalah dengan sistem kardiovaskular. Pada pengkajian bagian sistem saraf, penelitian yang dilakukan peneliti untuk klien 1 tidak terdapat masalah pada 12 saraf kranial untuk peningkatan daya ingat, sedangkan pada klien 2 tidak terdapat masalah pada 12 saraf kranial untuk peningkatan daya ingat.

Pada studi sistem saluran kemih, data yang diperoleh peneliti untuk Kilen 1, Kilen 1 sudah terpasang kateter ukuran 18, tidak ada nyeri tekan dan pembesaran kandung kemih/kandung kemih, tidak ada keluhan kencing, sedangkan Kilen 2 tidak dipasang kateter. Dok, tidak ada nyeri tekan dan tidak ada pembesaran kandung kemih, ada keluhan kencing. Mengenai sistem endokrin, data yang diperoleh peneliti pada kasus 1 dan 2 tidak menunjukkan adanya pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada riwayat cedera sebelumnya, atau riwayat amputasi. Pada penelitian seksualitas dan reproduksi, data yang diperoleh peneliti berada di klinik 1 dan 2 dimana bentuk payudara simetris kanan dan kiri, tidak ada benjolan, alat kelamin normal.

Kilen melakukan tindakan pencegahan jatuh yang bertujuan untuk mengurangi risiko jatuh dengan memasang pegangan tangan pada tempat tidur, memastikan roda tempat tidur terkunci, memasang gelang risiko jatuh dan menyarankan untuk memanggil perawat jika memerlukan bantuan untuk bergerak. Masalah keperawatan ini banyak ditemukan di Kilen 1 dan Kilen 2. Penegakan dilakukan berdasarkan SDKI (2017) dengan keluhan Kilen 1. Data Subjektif : Kilen mengetahui tanda dan gejala infeksi. Data obyektif : Kilen tampak sudah terpasang kateter, kondisi luka baik, tidak ada tanda-tanda infeksi. Sedangkan di Kilen 2 diperoleh Data Subyektif: Kilen mengaku tidak mengetahui tanda dan gejala infeksi. Data obyektif: Tidak ditemukan tanda-tanda infeksi pada luka, tidak ditemukan data besar maupun kecil pada luka. Kemudian pada pasien 1 dan pasien 2 tingkat mobilisasi belahan dada sudah teratasi sebagian dan dapat memenuhi kebutuhan klinis seperti wiping, tidak terdapat angka drop pada pasien 1 dan pasien 2 serta pada pasien 1 dan pasien 2 tidak terdapat tanda-tanda infeksi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan pada klien 1 pasca operasi patah tulang femur kiri di Ruang Flamboyan B RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo, Kalimantan Timur dan klien 2 dengan patah tulang dextra femur pasca operasi di Ruang Anggrek Hitam lantai 5 RSUD dr. Hasil penelitian yang didapat dari kedua pasien menunjukkan tanda dan gejala yang sama yang dirasakan kedua kasus.

Tanda dan gejala yang tampak dirasakan kedua pasien adalah nyeri ekstremitas bawah pasca operasi. Pasien dibantu dalam memenuhi kebutuhannya, seperti mobilitas fisik, perawatan diri, pencegahan jatuh dan pencegahan infeksi. Jika seseorang terdiagnosis patah tulang, tidak menutup kemungkinan penderitanya akan mengalami masalah dan keluhan yang sama. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien 1 dan pasien 2 adalah nyeri berhubungan dengan cedera fisik (intervensi bedah), berkurangnya mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan gangguan muskuloskeletal, risiko jatuh berhubungan pasca operasi dan risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (pemasangan penis).

Hasil intervensi yang dilakukan peneliti adalah mengukur skala nyeri pasien dengan mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, yang bertujuan untuk menurunkan skala nyeri pada pasien fraktur pasca operasi dan membantu memenuhi kebutuhan mobilisasi fisik dengan mengajarkan latihan ROM, pendampingan personal. kebutuhan perawatan dengan membantu menyiapkan alat bantu mandi, memandikan pasien, membantu mencegah jatuh dengan memasang rel tempat tidur, memastikan roda tempat tidur terkunci, memasang gelang risiko jatuh, menganjurkan untuk memanggil perawat jika memerlukan bantuan bergerak dan membantu mencegah infeksi dengan memantau kadarnya, mengajarkan tanda-tanda dan gejala infeksi, mencuci tangan, menjelaskan tanda dan gejala infeksi. Implementasi keperawatan pada Pasien 1 dan Pasien 2 konsisten dengan intervensi yang direncanakan berdasarkan teori yang ada dan sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil evaluasi yang dilakukan peneliti terhadap Pasien 1 menunjukkan bahwa permasalahan keperawatan Pasien 1 telah teratasi, dibuktikan dengan menurunnya skala nyeri pasien dari 5 menjadi 3.

Hasil evaluasi keperawatan pasien 2 menunjukkan perkembangan kesehatan dan masalah keperawatan yang mulai teratasi juga terlihat dari penurunan skala nyeri dari 5 menjadi 3.

Saran

Hasil studi kasus ini dapat digunakan sebagai dasar penelitian selanjutnya dan sebagai bahan perbandingan dalam melakukan studi kasus lebih lanjut terkait asuhan keperawatan pada pasien pasca operasi patah tulang ekstremitas bawah. Pengaruh pendidikan kesehatan pra operasi terhadap tingkat kecemasan pada pasien pra operasi di RSUD Kudus. Çelik, et.al 2018 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN FRAKTUR PASCA OPERASI DENGAN MASALAH MOBILITAS.

ASUHAN KEPERAWATAN KEBUTUHAN AKTIVITAS TERBATAS PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH DI ROSULASI ATAU RUANG GENDRAL AHMAD YANI METRO TAHUN 2020. Analisis Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dengan Resiko Jatuh Pada Pasien Fraktur RS Mardi Waluyo Blitar STIKES Karya Husada Kediri Email : [email protected] Pendahuluan. Pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri pada klien pasca operasi patah tulang femur di RS Karima Utama Surakarta.

Hubungan pelayanan rawat jalan dini dengan aktivasi peristaltik usus pada pasien patah tulang ekstremitas bawah pasca operasi dengan anestesi umum di ruang Mawar II RSUD Dr. PERAWATAN MEDIS SETELAH BEDAH PASIEN FRAKTUR FEMOR DENGAN MASALAH KEPERAWATAN DEFISIT PERAWATAN DIRI (MANDI). RSUD SLEMAN Siti Arifah & Ida Nuriala Trise Poltekkes Kemenkes Semarang Program Studi Keperawatan RS Jiwa Ghrasia Jogyakarta.

Gambar

Tabel 4.1 Hasil Anamnesis Klien 1 dan 2 dengan post op Fracture
Tabel 4.2 Hasil observasi dan pemeriksaan fisik pada Klien 1  dan 2 di RSUD dr.Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
Tabel 4.3 hasil pemeriksaan penunjang pada klien 1 dan kilen 2 di  RSUD dr.Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
Tabel 4.10 Implementasi Keperawatan Klien 2 dengan Post Operasi  Fracture di RSUD dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya dan sholawat serta salam yang selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW

Alhamdulillah atas segala pertolongan, rahmat, dan kasih sayang-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsinya yang berjudul “ Pengaruh Rating dan