PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang yang disampaikan, maka rumusan masalah penelitiannya adalah “Bagaimana etika kesantunan berbahasa pada staf pengajar di SMAN 2 Jeneponto?”. Penelitian yang dilakukan oleh Muslimin (2012) berjudul “Kesantunan Linguistik dalam Interaksi Jual Beli di PPI Paotere Kota Makassar”. Hasil penelitian ini adalah tuturan di lingkungan terminal khususnya di Terminal Cappa Bungaya Gowa dan Terminal Mallengkeri Makassar yang diucapkan oleh pedagang kaki lima, pedagang asongan, supir dan pramugari tidak mengandung unsur kesantunan linguistik dan melanggar asas kesantunan Leech.
Dahlan (2014) dengan judul “Analisis Kesantunan Berbahasa Indonesia Siswa Kelas XI SMK Negeri 1 Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang. Kesantunan berbahasa merupakan hal yang harus diperhatikan seseorang ketika berkomunikasi karena pada saat proses komunikasi berlangsung dapat terjadi gesekan yang mengakibatkan konflik psikis dan fisik antara penutur dan lawan bicaranya, oleh karena itu setiap orang hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip etika berbicara sebagai wujud perilaku yang baik dan harmonis antara penutur dan lawan bicaranya.
Pendekatan deskriptif kualitatif tersebut di atas merupakan penelitian yang akan memberikan perbedaan penggunaan tuturan dan kesantunan berbahasa serta mengidentifikasi penggunaan dan penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa pada staf pengajar di SMAN 2 Jeneponto. Data dalam penelitian ini adalah hasil tuturan santun para pendidik (guru) di SMAN 2 Jeneponto, sedangkan sumber data dalam penelitian ini adalah para pendidik (guru) di SMAN 2 Jeneponto. Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, tujuan penelitian adalah “Mendeskripsikan etika kesantunan berbahasa pada guru SMAN 2 Jeneponto”.
Kesesuaian teori dengan data hasil penelitian berkaitan dengan pemenuhan prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech (dalam Rahardi: 2005). Dari enam maksim yang dikemukakan Leech, peneliti hanya menemukan 5 maksim kesantunan linguistik, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim pujian, maksim apresiasi, dan maksim konsensus. Pepatah ini menganjurkan agar penutur mengungkapkan sesuatu secara santun sesuai dengan prinsip kesantunan berbahasa.
Peneliti menitikberatkan pada kesantunan berbahasa (Leech) Kemudian akan dibahas hasil temuan data penelitian, yaitu sebagai berikut. Berdasarkan temuan peneliti di SMAN 2 Jeneponto, para pendidik (guru) bahasa terpelajar di sekolah sudah menggunakan bahasa santun dalam proses belajar mengajar. Santunan berbahasa guru di SMAN 2 yang paling dominan adalah pemenuhan kesantunan berbahasa dibandingkan dengan pelanggaran kesantunan yang dilakukan guru.
Kesantunan berbahasa adalah kesantunan dalam berbicara dan merupakan hal yang harus diperhatikan seseorang ketika berkomunikasi, karena dalam prosesnya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa guru SMAN 2 yang paling dominan adalah pemenuhan kesantunan berbahasa dibandingkan dengan pelanggaran kesantunan yang dilakukan guru.
Kajian Pustaka
- Penelitian yang Relevan
- Landasan teori
Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
- Batasan istilah
- Populasi dan Sampel
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Hasilnya kemudian dianalisis untuk melihat apakah terdapat penggunaan kesantunan dan penyimpangan prinsip kesantunan, guna mengetahui tingkat kesantunan pada objek penelitian. Deskripsi: tuturan tersebut menjelaskan bahwa guru memberikan kalimat pengantar sebelum menyebutkan judul materi yang akan dipelajari bersama siswa. Deskripsi : Tuturan ini bermaksud guru memberikan motivasi kepada siswanya untuk menjadi siswa yang baik, pintar dan cakap.
Deskripsi: Pepatah ini berarti seorang guru yang menyuruh siswanya mengeluarkan bukunya. Keterangan : Tuturan ini bermakna guru sedang memberikan pujian kepada siswa atas perbaikan penulisan huruf abjad yang ditulis temannya. Deskripsi: Pidato ini menunjukkan bahwa guru mengevaluasi siswa dalam menjawab pertanyaan.
Deskripsi: Pidato ini melibatkan guru yang mengajukan pertanyaan kepada siswanya tentang topik yang sedang dipelajari. Deskripsi: Tuturan tersebut menyatakan bahwa guru bertanya tentang langkah-langkah yang akan dibahas nanti. Deskripsi: Pidato ini melibatkan guru mengajak siswa yang menyampaikan untuk menanggapi dan guru mengajak mereka untuk menanggapi.
Deskripsi: Tuturan ini melibatkan guru yang bertanya kepada siswa apakah mereka memahami atau tidak apa yang dikatakan teman lain. Deskripsi : Tuturan tersebut menyatakan bahwa guru menanyakan maksud materi yang akan dibahas. Deskripsi: Ungkapan ini melibatkan guru yang bertanya kepada siswa apakah tulisannya benar atau tidak ada hubungannya dengan apa yang ditulis teman lain.
Keterangan: Pernyataan ini mempunyai arti guru menanyakan kepada siswa apakah ada yang ingin memperbaiki penulisan suratnya terkait dengan apa yang telah ditulis teman lain. Keterangan: Tuturan ini maksudnya guru mengajak siswa yang mengajukan permohonan untuk memperbaiki tulisan suratnya, dan guru mengajak siswa untuk memperbaikinya. Keterangan: Pernyataan ini mempunyai arti guru menanyakan kepada siswa apakah ada orang lain yang ingin memperbaiki penulisan suratnya terkait dengan apa yang telah ditulis teman lain.
Deskripsi: Tuturan ini melibatkan guru yang menanyakan kepada siswa apakah cara pengucapan huruf sudah benar atau belum. Identitas, termasuk kesantunan berbahasa, dimaksudkan agar suasana interaksi menyenangkan, tidak mengancam, dan efektif.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Teori prinsip kesantunan Leech menjelaskan enam maksim, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan hati, maksim syukur, maksim pujian, maksim persetujuan atau kecocokan, dan maksim kasih sayang. Gagasan dasar di balik maksim kebijaksanaan ini adalah bahwa peserta berbicara harus berpegang pada prinsip untuk selalu meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan berbicara. Sementara itu, dijelaskan pula dalam Rahardi bahwa jika seseorang menaati maksim hikmah ketika berbicara, maka ia akan mampu terhindar dari rasa iri, dengki, dan sikap tidak sopan lainnya terhadap pembicara.
Maksim kemurahan hati ini mempunyai skala pragmatis yang sama dengan maksim kebijaksanaan, yaitu sama-sama menggunakan skala untung-rugi. Jika pada maksim kebijaksanaan tidak terdapat unsur kerugian pada penuturnya, sedangkan pada maksim kemurahan hati terdapat implikasi adanya kerugian pada penuturnya. Dalam Rahardi dijelaskan bahwa dengan maksim kedermawanan tersebut, peserta pidato diharapkan dapat menghargai orang lain.
Ide dasar dari pepatah ini adalah peserta tutur diharapkan bersikap rendah hati dengan mengurangi sikap mengagung-agungkan diri sendiri. Pepatah ini beranggapan bahwa orang yang santun dalam berbahasa adalah orang yang selalu berusaha menghargai orang lain. Leech menyatakan bahwa dalam maksim kesepakatan terdapat dua prinsip, yaitu: Berusaha untuk memastikan perselisihan sesedikit mungkin antara diri sendiri dan orang lain; Maksim kesepakatan ini menggambarkan bahwa penutur dan mitra tutur dapat memaksimalkan kecocokan satu sama lain.
Rahardi juga menjelaskan bahwa kaidah ini lebih menekankan pada kemampuan para peserta tutur dalam membangun keselarasan atau kesepakatan satu sama lain dalam kegiatan berbicara. Berdasarkan uraian Bab IV yang telah dianalisis dan dibahas peneliti mengenai kesantunan berbahasa pada kalangan guru (guru) SMAN 2 Jeneponto, peneliti menemukan adanya kesantunan berbahasa (Leech) yang meliputi, yaitu maksim hikmah, pelanggaran maksim kebijaksanaan, maksim konsensus, maksim penghargaan, pelanggaran maksim penghargaan, maksim kemurahan hati, pelanggaran maksim kemurahan hati, maksim pujian. Peneliti menemukan kepatuhan terhadap maksim (Lintah) yaitu 5 ungkapan maksim kebijaksanaan, 3 ungkapan pelanggaran maksim kebijaksanaan, 3 ungkapan maksim kemurahan hati, 1 maksim pujian, 1 maksim penghargaan, 1 pelanggaran maksim apresiasi, 17 pernyataan maksim konsensus.
Analisis Kesantunan Bahasa Indonesia Maksim Kesepakatan atau Kesesuaian Guru Kelas 2 22 “Ada yang mau membetulkan hurufnya?” Maksim Persetujuan atau Kesesuaian Guru 2. 29 “Ada yang tahu mata pelajarannya apa?” Maksim persetujuan atau kesesuaian guru 2 30 “Ya, jadi topiknya adalah ide.
SIMPULAN DAN SARAN
Saran
Dengan cara ini, guru dapat menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara, terutama ketika berada di lingkungan sekolah. Penulis memulai pendidikan dasar di SD Negeri 17 Pokobulo pada tahun 2003 dan lulus pada tahun 2009. Pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Bontoramba dan lulus pada tahun 2012, setelah tamat SMP penulis melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Tamalatea dan lulus. pada tahun 2015.
Dan hal inilah yang mendorong penulis untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Muhammadiyah Makassar dan mendaftar menjadi mahasiswa di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Strata I. Pada tahun 2019, penulis menyelesaikan pendidikannya masa studi dengan menyusun karya ilmiah yang berjudul “(Etika Etika Berbahasa di Kalangan Pendidik)”. 1 Kuasai subjek dengan baik . 2 Kesesuaian materi yang dibahas dengan indikator . 5 Berikan waktu kepada siswa untuk menunggu untuk menjawab.
6 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya . 7 Menguasai alat dan bahan ajar 8 Panduan proses kegiatan. 8 “Saya mohon bantuannya, siswa menuliskan huruf abjad di papan tulis, karena ini pertemuan pertama, jadi kita belajar bahasa dasar.” 25 “Satu hal lagi yang ingin saya minta tolong, tolong sebutkan huruf-huruf abjadnya apakah ejaannya benar atau tidak.”
Yang perlu kita bahas ketika kita menulis adalah temanya, dan yang perlu kita bahas ketika kita bercerita adalah temanya.