• Tidak ada hasil yang ditemukan

dampak pernikahan di bawah umur terhadap

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "dampak pernikahan di bawah umur terhadap"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Apa saja faktor penyebab terjadinya perkawinan di bawah umur di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Realitasnya, masalah perkawinan anak akibat pra-kehamilan masih banyak terjadi di masyarakat, sehingga pergaulan bebas harus dihindari.

Kajian Pustaka

Ketiga, karya ilmiah berjudul “Perkawinan di Bawah Umur di Desa Sidomulya Kecamatan Kebonagung Pacitan Ditinjau dari Penegakan Hukum Perkawinan Indonesia” yang diteliti oleh Rahman Afandi pada tahun 2014. Penelitian ini difokuskan pada faktor kemudahan administrasi terkait pemalsuan umur pasangan. calon mempelai, sehingga tidak perlu khawatir tentang putusnya perkawinan di Pengadilan Agama. 10. Keempat, Erifa Khoirul Anam (2009) meneliti karya ilmiah berjudul “Implementasi UU No. 1 Tahun 1974 dan KHI (Kajian Perkawinan Anak di Desa Ngrupit, Kecamatan Jangan, Provinsi Ponorogo)”.

10 Rahman Afandi, Perkawinan anak di bawah umur di Desa Sidomulya, Kabupaten Kebonagung Pacitan dalam rangka penegakan hukum perkawinan Indonesia, (Ponorogo: Stain Ponorogo, 2014), disertasi. Penelitian yang akan dilakukan peneliti sebaiknya lebih fokus pada pelaku perkawinan di bawah umur sehingga dapat diketahui penyebab perkawinan di bawah umur dan dampak perkawinan di bawah umur terhadap kesejahteraan rumah tangga.

Metode Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik dan memaparkan berbagai hal tentang data terkait faktor-faktor perkawinan anak di desa Kedungbanteng dan dampak perkawinan anak terhadap kesejahteraan rumah tangga. Dalam penelitian ini, peneliti secara langsung mengamati lokasi penelitian di lapangan dan mencatat sebagian data yang diperoleh. Dalam penelitian ini peneliti mewawancarai pasangan di bawah umur KUA Kecamatan Sukorejo dan tokoh masyarakat di desa Kedungbanteng.

Dalam penelitian ini reduksi data digunakan untuk memilah hasil wawancara, yaitu data mana yang diberi kode, mana data yang dibuang, dan mana cerita yang dikembangkan. Dalam penelitian ini, peneliti memeriksa keabsahan data dengan mengamati ciri-ciri dan unsur-unsur situasi yang paling relevan dengan masalah atau isu yang dihadapi.

Sistematika pembahasan

  • Pengertian Perkawinan
  • Dasar Hukum Perkawinan
  • Tujuan Perkawinan
  • Hak dan Kewajiban Suami Isteri
  • Perkawinan Di Bawah Umur
  • Batas minimal Usia Perkawinan

Bab tiga : merupakan pemaparan data yang meliputi gambaran umum Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo dan faktor-faktor penyebab pelaku melakukan perkawinan anak serta dampak perkawinan anak terhadap kesejahteraan keluarga. Yang meliputi analisis data faktor penyebab perkawinan anak di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo, serta analisis dampak perkawinan anak terhadap kesejahteraan keluarga di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo. Keempat, perkawinan diartikan sebagai edh-dhamm (penyatuan mutlak) dan al-ikhtilath (campuran).23 Makna perkawinan di Indonesia sendiri tertuang dalam UU Perkawinan No. antara pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan mewujudkan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Perkahwinan menjadi haram bagi orang yang tidak mempunyai kemampuan dan tanggungjawab untuk menunaikan kewajipan dalam rumahtangga sehingga apabila berlaku perkahwinan dia dan isterinya ditinggalkan. Kedamaian dan ketenteraman keluarga bergantung kepada kejayaan pembinaan keharmonian antara suami isteri dalam satu rumah tangga. Apabila hak dan kewajipan setiap lelaki dan perempuan ditunaikan, hajat lelaki dan perempuan dalam bahtera rumah tangga terlaksana, atas dasar cinta dan kasih sayang.

Hak dan kewajiban suami istri dalam UUP diatur dalam Bab VI Pasal 30 sampai dengan Pasal 34. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam (Jakarta: Siraja Mulia untuk menegakkan sakinah, mawaddah, dan rahmah sebagai dasar struktur masyarakat”. 35. Pasal 33 UUP menegaskan bahwa: “Suami dan istri wajib saling mencintai, menghormati, setia dan memberikan pertolongan persalinan.

Pengaturan ketentuan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam Kompendium Hukum Islam lebih sistematis dibandingkan dengan UUP. Kediaman juga berfungsi sebagai tempat menyimpan kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur peralatan listrik. 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk itu, perkawinan antara calon suami dan istri yang masih di bawah umur harus dicegah. Demikian pula ketentuan mengenai batas usia perkawinan juga disebutkan dalam Kompendium Hukum Islam (KHI) pasal 15. 1) Untuk kemaslahatan keluarga dan keluarga, perkawinan hanya dapat dilakukan oleh calon mempelai yang telah mencapai usia yang ditentukan dalam Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974, yaitu calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun.

Konsep Sosiologi Keluarga

Pada umumnya para remaja sangat penasaran sehingga mereka ingin berpetualang, mencoba sesuatu yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Dalam hal ini sangat penting bagi remaja untuk memberikan bimbingan agar rasa ingin tahunya yang besar dapat diarahkan pada hal-hal yang positif. Jika salah satu pasangan kemudian tidak melakukannya, dapat terjadi keresahan dalam keluarga, yang berujung pada perceraian dan poligami.

Keluarga merupakan tempat yang nyaman bagi anggotanya untuk menghindari hal-hal negatif. Fungsi ini bertujuan untuk memberikan suasana yang menyenangkan dalam keluarga dengan berbagai fasilitas seperti media TV dan sebagainya. Mendorong keluarga dan seluruh anggotanya menjadi umat yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Misalnya, status dianggap berasal dari wanita, seseorang mencapai status melalui tahapan-tahapan tersendiri yang dicapai. Keberhasilan atau kegagalan keluarga dalam menjalankan fungsinya dapat kita pahami dari realita atau realitas sosial yang muncul. Sedangkan keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas dasar perkawinan yang sah, mampu mencukupi kebutuhan lahir batin, kehidupan yang baik, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

52 Ibid., 17. . memiliki hubungan yang serasi, serasi, dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan. Untuk mencapai tujuan perkawinan, suami istri berperan penting dalam mewujudkan keluarga bahagia, sukses, menambah pengetahuan tentang bagaimana membina kehidupan keluarga yang sesuai dengan tuntunan agama dan ketentuan hidup bermasyarakat. Dengan ini diharapkan suami istri mampu menciptakan kemantapan dalam kehidupan rumah tangga yang tenteram dan damai. A.

PAPARAN DATA

Faktor yang menyebabkan pernikahan Dibawah Umur Di

Dari hasil investigasi lapangan yang penulis peroleh dari informan yaitu kepala KUA Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo menunjukkan bahwa kasus perkawinan di bawah umur yang terjadi di Kecamatan Sukorejo berjumlah dua belas kasus, namun dari dua belas kasus tersebut terbanyak berada di Desa Kedungbanteng yaitu tiga kasus. Angka tersebut penulis peroleh dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Sukorejo sebagai lembaga pelaksana pencatatan nikah, rujuk, pengurusan dan pemeliharaan masjid, zakat, wakaf, baitul maal dan bakti sosial. Ketika calon mempelai belum cukup umur, pengurus KUA berhak menolak perkawinan tersebut, oleh karena itu mereka mengajukan permohonan dispensasi perkawinan ke Pengadilan Agama yang dijadikan salah satu syarat perkawinan anak di bawah umur. untuk dimasukkan ke dalam. dipegang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Sukorejo, kasus perkawinan anak terbanyak berasal dari desa-desa di pinggiran kota. Perkawinan anak disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor ekonomi, faktor pendidikan, faktor lingkungan, faktor budaya atau tradisi dan faktor tekanan orang tua. Seperti yang peneliti lakukan dalam melakukan wawancara personal dengan pelaku perkawinan anak.

Seperti diungkapkan Mbak Devi (bukan nama sebenarnya), ia menikah pada tahun 2013 saat berusia 15 tahun dengan suaminya, Mas Faris (bukan nama sebenarnya), yang saat itu berusia 18 tahun. Selain itu, Mbak Reni (bukan nama sebenarnya) juga mengungkapkan dirinya menikah pada tahun 2017 dan masih berusia 15 tahun dengan suaminya, Mas Agus (bukan nama sebenarnya), yang berusia 20 tahun. Sebenarnya orang tua saya tidak setuju saya menikah di usia muda, tapi bagaimana kalau sudah terlanjur ya mbak?” 58 Dari keterangan kedua informan tersebut, jelas bahwa perkawinan anak yang dilakukan di Kecamatan Sukorejo adalah penyebabnya. dari faktor hamil sebelum menikah.

Selain faktor kehamilan di luar nikah, pernikahan di bawah umur yang terjadi di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Provinsi Ponorogo disebabkan karena kehendak pasangan sendiri. Seperti yang dikatakan Mbak Yola (bukan nama sebenarnya) dan Mas Doni (bukan nama sebenarnya). Dari keterangan para informan di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan di bawah umur bukan hanya karena hamil di luar nikah, tetapi juga karena kemauan dan keinginan mereka sendiri.

Dampak Pernikahan Di Bawah Umur Terhadap

Sehingga dampak perkawinan anak akan menimbulkan berbagai permasalahan rumah tangga seperti pertengkaran, perselisihan, bentrok antara suami istri yang berujung pada perceraian. Persoalannya adalah apakah pemberlakuan perkawinan anak tersebut sejalan dengan maksud dan tujuan perkawinan. Dalam hal ini terjadinya perkawinan anak di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo adalah kurangnya kontrol dan pengawasan orang tua terhadap anaknya sehingga terjerumus dalam pergaulan bebas dan mengakibatkan perkawinan anak yang berdampak pada kesejahteraan keluarga.

Berbeda dengan pernikahan di bawah umur yang berdampak pada diri sendiri dan keluarganya. Dampak perkawinan di bawah umur yang terjadi di desa Kedungbanteng sangat mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga, baik kesejahteraan rumah tangga suami istri maupun kesejahteraan orang tua. Perkawinan di bawah umur yang berdampak pada kesejahteraan rumah tangga termasuk dalam kategori indikator keluarga sejahtera I yaitu keluarga yang telah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, namun belum mampu memenuhi kebutuhan sosio-psikologisnya.

Faktor penyebab terjadinya perkawinan di bawah umur di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Provinsi Ponorogo adalah karena faktor kemauan sendiri dan juga faktor kehamilan di luar nikah. Berdasarkan konsep sosiologi keluarga dengan paradigma perilaku sosial pada kasus perkawinan anak di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo dipengaruhi oleh kurangnya kontrol dan pengawasan orang tua terhadap anaknya sehingga terjerumus dalam pergaulan bebas dan pergaulan bebas. mengakibatkan perkawinan anak. Hal ini terlihat dari beberapa fenomena yang terjadi di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo yaitu mereka merasakan kurangnya kemandirian, beban orang tua dan juga kasus perceraian setelah melakukan perkawinan di bawah umur.

Maka, bagi para remaja saat ini sebaiknya memperhitungkan dampak yang mereka hadapi setelah melakukan pernikahan di bawah umur karena kurangnya pengetahuan rumah tangga yang memadai, yang nantinya akan mempengaruhi kualitas keluarga yang mereka bangun. Perkawinan di bawah umur adalah perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang belum cukup umur. Berapa rata-rata tingkat pendidikan pelaku perkawinan di bawah umur yang terjadi di desa Kedungbanteng.

Bagaimana dampak yang muncul bagi pelaku perkawinan di bawah umur terhadap kesejahteraan rumah tangganya. Dan setelah mereka menikah di bawah umur berapapun kebutuhannya, orang tuanya tetap memikulnya karena masih kurang mandiri.

Referensi

Dokumen terkait

Faktor-Faktor Geografis yang Menyebabkan Terjadinya Banjir Di Desa Sukahurip Kecamatan Pamarican .... Morfologi Sungai/ Bagian-bagian Sungai