EVALUASI SIMPANG BERSINYAL PADA SIMPANG 3 (TIGA) PADA JL. CIPTO MANGUN KUSUMO, JEMBATAN MAHAKAM
DAN JL. BUNG TOMO DI KOTA SAMARINDA
DODY TRIYANTO Fakultas Teknik Sipil
Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, Samarinda. Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Seiring dengan pesatnya pembangunan di segala bidang maka, makin meningkat pula taraf hidup masyarakat. Mobilitas yang tinggi untuk melaksanakan aktifitas kehidupan sehari- hari menuntut tersedianya sarana dan prasarana yang aman, nyaman dan lancar. Hal ini membutukan terpenuhinya angkutan umum dan angkutan kota yang memadai.
Contohnya di bidang perdagangan, kita tidak lepas dari system pengangkutan barang dan orang dari suatu daerah ke daerah lain, hal ini membutuhkan sarana transportasi yang memadai demi lancarnya perdagangan. Di bidang pendidikan kita dapat melihat pada saat jam berangkat sekolah maupun saat pulang sekolah, dan dapat menimbulkan kepadatan arus lalu lintas di jalan raya.
Berdasarkan uraian di atas, salah satu titik ruas jalan yang mempunyai peranan di kota Samarinda adalah simpang Mahakam (arah luar kota) Jembatan Mahakam, pada Jalan Cipto Mangun Kusumo Dan Bung Tomo Tingkat kepadatan dan keramaian lalu lintas di titik ruas jalan ini cukup besar karena merupakan salah satu jalur utama yang
sanga, serta berpergian ke luar Kalimantan Timur. Sistem pergerakan transportasi dari berbagai macam karakteristik lalu lintas yang terjadi ditambah dengan perilaku pengguna jalan, khususnya angkutan kota yang berhenti di sepanjang jalan Cipto Mangun Kusumo mengakibatkan kondisi lalu lintas semakin padat terutama pada jam- jam sibuk / puncak.
Kemacetan dan panjang antrian semakin terlihat di simpang Mahakam, kendaraan pada jalan, Bung Tomo dan sekitarnya yang juga merupakan pusat padat penduduk.
II Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka bagaimana kinerja simpang bersinyal pada Jl.
Cipto Mangun Kusumo, Jembatan Mahakam Jl. Bung Tomo, dapat di lihat dari : a. Kapasitas Simpang (C)
b. Derajat Kejenuhan (DS) c. Tundaan Lalu-Lintas (DT) d. Tundaan Geometrik (DG)
1. Maksud dan Tujuan
Sehubungan dengan rumusan masalah yang telah di ungkapkan tersebut di atas, maka dapat di ketahui maksud dan tujuan, sebagai berikut :
a. Maksud
Untuk mengetahui analisa simpang bersinyal di daerah sekitar Jembatan Mahakam DI Kota Samarinda yaitu :
JL. Cipto Mangun Kusumo – Jembatan Mahakam – JL. Bung Tomo
b. Tujuan
a. Mengetahui kinerja simpang bersinyal yang meliputi Kapasitas simpang (C), Derajat kejenuhan (DS), Tundaan lalu-lintas (DT), tundaan geometric (DG).
2. Batasan Masalah
Mengingat luasnya ruang lingkup dan permasalahan yang akan dibahas pada laporan ini dan serta keterbatasan pengetahuan, maka batasan-batasan masalah yang akan diangkat pada laporan ini, adalah.
1. Jalan Cipto Mangun Kusumo, Jembatan Mahakam dan jalan Bung Tomo.
2. Data lalu lintas yang digunakan sebagai analisis simpang bersinyal berdasarkan pada volume jam puncak.
3. Analisa simpang bersimyal menggunakan MKJI 1997.
4. Hambatan samping objekfititas peneliti.
BAB III
METODE PENELITIAN
perencanaan dalam melakukan penelitian perlu dilakukan analisis yang teliti, semakin rumit permasalahan yang dihadapi semakin kompleks pula analisis yang akan dilakukan. Analisis yang baik memerlukan data atau informasi yang lengkap dan akurat disertai dengan teori atau konsep dasar yang relevan. Simpang yang akan diteliti adalah Simpang Mahakam , kota Samarinda.
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan merupakan rangkaian kegiatan sebelum memulai pengumpulan dan pengolahan data. Tahap ini dilakukan dengan penyusunan rencana sehingga diperoleh efisiensi serta efektifitas waktu dan pekerjaan. Tahap ini juga dilakukan pengamatan pendahuluan agar didapat gambaran umum dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang ada di lapangan. Tahap persiapan ini meliputi :
1) Studi pustaka terhadap materi untuk proses evaluasi dan perencanaan.
2) Data diperoleh melalui instansi dan institusi yang dapat dijadikan sumber data, seperti Dinas perhubungan, data penduduk dan pihak yang terkait.
3) Menentukan kebutuhan data, yaitu pengambilan data di lapangan dengan penempatan surveyor di lokasi yang ditinjau.
2. Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data merupakan langkah awal setelah tahap persiapan dalam proses pelaksanaan evaluasi dan perencanaan yang sangat penting, karena dari sini dapat ditentukan permasalahan dan rangkaian penentuan alternatifpemecahan masalah yang akan diambil. Adapun beberapa metode yang dilakukan dalam rangka pengumpulan data ini antara lain :
a) Studi pustaka
Metode studi pustaka yaitu dengan meminjam data dari instansi terkait sebagai landasan permasalahan yang ada sekaligus pembanding keadaan saat ini. Data yang diperoleh dari instansi terkait ini biasa disebut data sekunder. Data lalu lintas harian rata-rata merupakan data sekunder pada penelitian ini. Data ini diperoleh dari DPU Bina Marga dan Dinas Perhubungan Kota
Samarinda yang berfungsi untuk mengetahui angka pertumbuhan lalu lintas sehingga dapat diketahui kapasitas jalan yang ditinjau.
b) Survey
Metode survey yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung keadaan lapangan sesungguhnya. Hal ini mutlak dilakukan agar dapat diketahui kondisi aktual pada saat ini, sehingga diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam evaluasi dan perencanaan. Data yang diperoleh dari kegiatan survai ini disebut data primer. Data primer adalah data utama yang diperoleh dengan cara observasi langsung ke lapanga.
c) Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 3 hari secara acak, dengan hari yang telah ditentukan berdasarkan kondisi di lapangan. pada jam-jam sibuk saja, dilakukan pada hari Senin, Kamis, Sabtu dan minggu setiap:
Pagi : Pukul 07.00 – 09.00 WITA Siang : Pukul 13.00 – 15.00 WITA Sore : Pukul 17.00 – 19.00 WITA
Ket : Dengan interval per 15 (lima belas) menit.
d) Alat Penelitian
Peralatan yang digunakan dalam penelitian disesuaikan dengan kebutuhan, antara lain : 1) Formulir penelitian jumlah kendaraan yang keluar pada tiap-tiap lengan.
2) Meteran (roll meter) untuk mendapatan data geometrik jalan.
3) Jam tangan sebagai penunjuk waktu selama pelaksanaan survey.
4) Pencacah (hand counter) untuk menghitung jumlah kendaraan yang melintas.
5) Alat tulis dan peralatan tulis lainnya.
6) Kamera video.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah simpang tiga bersinyal dengan jumlah kendaraan yang keluar masuk pada tiap-tiap lengan dapat menimbulkan masalah pada kinerja simpang tersebut, adapun simpang yang diambil adalah yang mempunyai volume kendaraan yang tinggi pada tiap - tiap lengan, yaitu kaki simpang ke arah Jembatan Mahakam dan ke arah jalan Bung Tomo.
4. Rencana Penelitian
1. Variabel yang diukur
Variabel utama yang diukur yaitu: Jumlah dari masing-masing kendaraan tak bermotor, kendaraan bermotor, kendaraan ringan (sedan, station wagon, jeep, mikrolet, pickup, mobil box, taksi) dan kendaraan berat (Mobil tangki, bis kecil, bis besar, truk 2 as, truk 3 as, trailer) yang keluar pada tiap-tiap lengan.
2. Survey pendahuluan
Survai pendahuluan ini bertujuan untuk mengetahui data awal mengenai pola arus lalu lintas, lokasi survey yang akan dipilih dan jam puncak (peakhour) dan juga kondisi lingkungan di sekitar simpang. Adapun hal-hal yang fungsi diadakan survey ini yaitu:
a) Survey lampu lalu lintas
- Untuk mengetahui berapa detik hijau, kuning dan merah pada simpang.
b) Survey geometrik
- Untuk mengetahui lebar jalan, lebar tikungan, penempatan pensurvai pada simpang.
c) Survey lalu lintas
- Untuk mengetahui jumlah kendaraan yang melintas pada simpang.
d) Survey tundaan
- Untuk mengetahui tundaan kendaraan yang berhenti sebelum masuk lengan simpang.
e) Survey kecepatan
- Untuk mengetahui kecepatan kendaraan saat melaju pada simpang.
f) Survey antrian
- Untuk mengetahui antrian kendaraan yang mengantri pada lampu lalu lintas pada simpang.
3. Penjelasan cara kerja
Untuk memudahkan mendapatkan data hasil survey yang baik, harus diadakan penjelasan kepada seluruh pengamat yang bersangkutan dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing terdiri dari:
a) Cara dan pengisian formulir penelitian yang dibagi dalam periode tertentu yaitu: 15 menit tiap periode selama 2 jam untuk setiap pengamat.
b) Pembagian tugas, yang menyangkut pembagian arah dan jenis kendaraan bagi tiap pensurvey sesuai dengan formulir yang dipegang.
a. Tahap Pembahasan
Analisis dan pengolahan dilakukan berdasarkan data yang telah diperoleh, selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan identifikasi jenis permasalahan sehingga diperoleh analisis pemecahan masalah yang efektif dan terarah. Tahap ini dilakukan analisis dan pengolahan data dari kinerja lalu lintas di simpang jalan Cipto Mangun Kusumo, Jembatan Mahakaam dan jalan Bung Tomo.
BAB IV
ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN
1. Data Geometrik Simpang
Data geometrik simpang merupakan data memuat kondisi geometrik jalan pada simpang yang diamati. Data ini dapat diperoleh langsung di lapangan berupa data primer kondisi eksisting melalui dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Survai dilakukan pada saat kondisi jalan masih sepi dari kendaraan untuk menghindari arus lalu lintas. Adapun data geometrik dapat dilihat pada tabel 4.1. berikut.
Tabel 4.1. Kondisi Geometrik Simpang
Adapun setiap kaki persimpangan diberi kode pendekat U, S, B dengan keterngan seperti berikut:
PENDEKAT UTARA SELATAN BARAT
Tipe Lingkungan Jalan COM COM COM
Hambatan Samping Tinggi Tinggi Tinggi
Median Ada Ada Ada
Lebar Median (m) 0,80 0,80 0,80
Belok kiri jalan terus Tidak Ada Ada
Lebar Pendekat (m) 8,10 9,20 8,70
Lebar Pendekat masuk (m) 8,10 9,20 8,70
Lebar Pendekat LTOR 0 8,10 7,80
Lebar Pendekat keluar (m) 8,20 9,20 8,60
- U (utara) adalah kaki persimpangan disebelah utara yakni Jalan - S (selatan) adalah kaki persimpangan disebelah selatan yakni - T (timur) adalah kaki persimpangan disebelah timur yakni
2. Tipe Lingkungan Jalan dan Hambatan samping
Penggunaan tanah di daerah sekitar simpang termasuk daerah perkotaan dan difungsikan sebagai perkantoran, pertokoan, tempat fasilitas umum dan tempat pendidikan.
Persimpangan ini juga merupakan tempat pertemuan untuk jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan tersebut.
Tipe lingkungan kondisi jalan untuk setiap pendekat sesuai dengan MKJI 1997 dibagi dalam tiga tipe, yaitu :
- COM = Comersial (toko, restoran, kantor, dll) - RES = Resort (perumahan, permukiman)
- RA = Restricted Access (jalan masuk terbatas atau tidak ada)
Tingkat hambatan samping dianggap tinggi apabila besar arus berangkat pada tempat masuk dan keluar berkurang oleh karena aktivitas disamping jalan pada pendekat seperti angkutan umum berhenti, pejalan kaki berjalan disepanjang atau melintas pendekat, keluar masuk halaman disamping jalan, dan sebagainya. Sedangkan tingkat hambatan samping di anggap rendah apabila arus berangkat pada tempat masuk dan keluar tidak berkurang oleh hambatan samping tersebut.
Tabel 4.2. Tipe lingkungan dan Hambatan samping Jalan Bung Tomo, Jembatan Mahakam, dan Jalan Cipto Mangunkusumo
Keseluruhan data yang diperoleh telah dimasukkan ke dalam Tabel 4.14. Formulir Signalization I (SIG I) MKJI, 1997.
3. Data Lalu Lintas
Kegiatan pengumpulan data lalu lintas yang dilaksanakan hari Senin, Kamis, Sabtu dan Minggu tanggal 08, 11, 13 dan 14 Oktober 2012. Masa pelaksanaan survai untuk Tugas Akhir ini bertepatan dengan hari kerja dan hari libur. Untuk jam puncak pagi diperkirakan antara jam 07.00 s/d 09.00 wita, untuk jam puncak siang antara jam 12.00 s/d 14.00 wita, dan jam puncak sore antara jam 16.00 s/d 18.00 wita.
Keseluruhan perhitungan dilakukan berdasarkan Metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI 1997). Selain itu perhitungan yang perlu didapat adalah perhitungan perilaku lalu lintas berupa nilai derajat kejenuhan (DS) dan nilai panjang antrian (QL) yang pada akhirnya dapat menilai kinerja simpang dengan melihat efektif atau tidaknya pengaturn traffic light yang ada saat ini di Simpang Mahakam tersebut.
Kode Pendekat Tipe Lingkungan Hambatan Samping
U COM Tinggi
S COM Tinggi
B COM Tinggi
4. Rangkuman
Dari hasil perhitungan lalu lintas pada Simpang Mahakam, pertemuan Jalan Cipto Mangun Kusumo – Jalan Jembatan Mahakam - Jalan Bung Tomo, di Samarinda dapat diambil beberapa rangkuman antara lain :
Hasil perhitungan pada persimpangan jalan tersebut periode tiga hari saat jam-jam puncak pagi, siang dan sore hari diperoleh nilai Waktu Hijau pada tiap-tiap fase, dari hasil perhitungan dengan Metode Manual Kapasitas Jalan, 1997 (Tabel Formulir Signalization IV dan Tabel Formulir Signalization V) dibandingkan dengan Waktu Hijau yang ada di lapangan yaitu sebagai berikut :
Tabel 4.5. Waktu Hijau dan kapasitas pada Simpang Mahakam Samarinda
Kode Pendekat
Waktu Hijau Di Lapangan
(detik)
Waktu Hijau berdasarkan MKJI, 1997
(detik) Kapasitas (smp/jam)
Senin 08 0ktober
2012
Kamis 11 Oktober
2012
Sabtu 13 Oktober
2012
Minggu 14 Oktober
2012
Senin 08 0ktober
2012
Kamis 11 Oktober
2012
Sabtu 13 Oktober
2012
Minggu 14 Oktober
2012
U 18 23 23 31 28 1682 1561 1808 1670
B 38 20 30 27 25 1730 2312 1814 1710
S 18 17 16 23 21 1642 1339 1682 1583
Maka dapat diketahui bahwa penetapan waktu hijau pada pesimpangan Mahakam tersebut belum sesuai apabila dibandingkan dengan kapasitas kendaraan per jam puncak yang melewati persimpangan tersebut.
Derajat Kejenuhan (DS) pada jam-jam puncak adalah:
Dari perhitungan berdasarkan MKJI, 1997 yang telah dimasukkan dalam Tabel Formulir Signalization IV, diperoleh nilai derajat kejenuhan pada jam-jam sibuk sebagai berikut :
Tabel 4.6. Derajat kejenuhan pada Simpang Mahakam Samarinda
Kode Pendekat
Kapasitas (smp/jam) Derajat Kejenuhan
Senin 08 0ktober
2012
Kamis 11 Oktober
2012
Sabtu 13 Oktober
2012
Minggu 14 Oktober
2012
Senin 08 0ktober
2012
Kamis 11 Oktober
2012
Sabtu 13 Oktober
2012
Minggu 14 Oktober
2012
U 1682 1016 1315 889 0,791 0,819 0,971 0,614
B 1730 1505 1320 906 0,791 0,819 0,818 1,094
S 1642 871 1224 843 0,791 0,819 0,860 1,560
Kendaraan Terhenti dan Tundaan Simpang
Berdasarkan perhitungan didapat pula panjang antrian, lama antrian serta lama tundaan kendaraan terhenti saat waktu merah periode jam puncak pada Simpang Mahakam samarinda yaitu sebagai berikut.
Tabel 4.7. Panjang Antrian, Angka Henti, dan Jumlah Kendaraan Terhenti Simpang Tiga Mahakam Samarinda
Kode Pendekat
Senin/
08 Oktober 2012
Kamis/
11 Oktober 2012
Sabtu/
13 Oktober 2012
Minggu/
14 Oktober 2012 Panjang
Antrian (m)
Angka Henti (stop/smp)
Jumlah Kendaraan
terhenti (smp/jam)
Panjang Antrian (m)
Angka Henti (stop/smp)
Jumlah Kendaraan
terhenti (smp/jam)
Panjang Antrian (m)
Angka Henti (stop/smp)
Jumlah Kendaraan
terhenti (smp/jam)
Panjang Antrian (m)
Angka Henti (stop/smp)
Jumlah Kendaraan
terhenti (smp/jam)
U 110 0,065 806 545 0,551 714 949 0,539 947 359 0,516 529
B 107 0,064 87 752 0,371 714 438 0,313 468 1756 1,468 2731
S 98 0,068 89 411 0,642 714 477 0,401 580 2868 2,061 5071
Tabel 4.8. Tundaan Pada Simpang Tiga Mahakam Samarinda
URAIAN 08 0ktoberSenin
2012
Kamis 11 Oktober
2012
Sabtu 13 Oktober
2012
Minggu 14 Oktober
2012
Jumlah Kendaraan Terhenti (smp/jam) 262 2112 1996 8331
Kendaraan Terhenti rata-rata (stop/jam) 0,04 0,31 0,26 1,56
Tundaan Simpang Rata-Rata (det/smp) 45,37 490,01 558,35 10345,70 Berdasarkan hasil di atas diketahui bahwa rata-rata tundaan henti tiap kendaraan (detik) pada jam-jam puncak senin, kamis dan sabtu, nenunjukkan tingkat pelayanan F (≥60). Maka dapat disimpulkan kondisi simpang saat ini berada pada kondisi yang jelek, mengakibatkan semakin panjangnya antrian maka semakin panjang pula kemacetan yang ada.
Penentuan Fase Simpang Mahakam kondisi di Lapangan/actual Senin tanggal 08 Oktober 2012.
Tabel 4.9. Waktu Siklus Aktual Simpang Mahakam
Keterangan
Fase I (Utara)
Fase II (Barat)
Fase III (Selatan)
Cipto Mangun Kusumo
- Jembatan
Cupto Mangun Kusumo
- Bung Tomo
Jembatan - Cipto Mangun
Kusumo
Jembatan - Bung Tomo
Bung Tomo - Jembatan
Bung Tomo - Cipto Mangun
Kusumo
Hijau (Detik) 18 18 38 38 18 18
Kuning (Detik) 3 3 3 3 3 3
All Red (Detik) 2 2 2 2 2 2
Merah (Detik) 75 75 45 45 65 65
Total (Detik) 98 98 88 88 88 88
Berikut penggambaran waktu siklus pada persimpangan sesuai dengan fase yang telah ditetapkan dalam bentuk diagram:Gambar 4.2. Diagram Fase
UTARA FASE
BARAT
SELATAN
WAKTU (detik)
98 detik
18 detik
Hijau Kuning
3 detik 2 detik
All Red Merah
75 detik
Kuning
3 detik 2 detik All Red
88 detik
Merah 45 detik
32 detik Hijau Merah
45 detik
Kuning
3 detik 2 detik All Red Hijau
18detik Merah
65 detik
88 detik
FASE
HijauKuning All Red Merah
Simpang Mahakam kondisi di Lapangan Oktober 2012.
Penentuan Fase Simpang Mahakam berdasarkan Perhitungan MKJI, 1997 pada hari Senin tanggal 08 Oktober 2012.
Tabel 4.10. Waktu Siklus Aktual Simpang Mahakam
Keterangan
Fase I (Utara)
Fase II (Barat)
Fase III (Selatan)
Cipto Mangun Kusumo
- Jembatan
Cupto Mangun Kusumo
- Bung Tomo
Jembatan - Cipto Mangun Kusumo
Jembatan - Bung Tomo
Bung Tomo - Jembatan
Bung Tomo - Cipto Mangun Kusumo
Hijau (Detik) 23 23 20 20 17 17
Kuning (Detik) 3 3 3 38 3 3
All Red (Detik) 2 2 2 2 2 2
Merah (Detik) 50 50 50 50 40 40
Total (Detik) 78 78 75 75 62 62
Berikut penggambaran waktu siklus pada persimpangan sesuai dengan fase yang telah ditetapkan dalam bentuk diagram:
Gambar 4.3. Diagram Fase Simpang Mahakam Senin tanggal 08 Oktober 2012
480
TIMUR
SELATAN
WAKTU (detik) 78 detik
75 detik
3 detik 2 detik
Kuning
3 detik 2 detik All Red Kuning
3 detik 2 detik All Red
65 detik
Hijau
Hijau Merah
Merah
50 detik 20 detik
40 detik 17 detik
50 detik
Merah
HijauKuning All Red Merah
Penentuan Fase Simpang Mahakam berdasarkan Perhitungan MKJI, 1997 pada hari Kamis tanggal 11 Oktober 2012.
Tabel 4.11. Waktu Siklus Aktual Simpang Mahakam Kamis tanggal 11 Oktober 2012.
Keterangan
Fase I (Utara)
Fase II (Barat)
Fase III (Selatan)
Cipto Mangun Kusumo
- Jembatan
Cupto Mangun Kusumo
- Bung Tomo
Jembatan - Cipto Mangun Kusumo
Jembatan - Bung Tomo
Bung Tomo - Jembatan
Bung Tomo - Cipto Mangun Kusumo
Hijau (Detik) 23 23 30 30 16 16
Kuning (Detik) 3 3 3 3 3 3
All Red (Detik) 2 2 2 2 2 2
Merah (Detik) 53 53 43 43 60 60
Total (Detik) 81 81 78 78 81 81
Berikut penggambaran waktu siklus pada persimpangan sesuai dengan fase yang telah ditetapkan dalam bentuk diagram: Gambar 4.3. Diagram Fase Simpang Mahakam Kamis tanggal 11 Oktober 2012
481
TIMUR
SELATAN
WAKTU (detik)
78 detik
81 detik
Kuning
3 detik 78 detik Merah
43 detik 30 detik 43 detik
Merah
Kuning
3 d etik 2 detik All Red Hijau
Merah
60 detik 16
detik
UTARA FASE
109 detik
31 detik HijauKuning
3 detik 2 detik
All Red Merah
73 detik
Kuning All Red Hijau
Merah
Merah
Penentuan Fase Simpang Mahakam berdasarkan Perhitungan MKJI, 1997 pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2012.
Tabel 4.11. Waktu Siklus Aktual Simpang Mahakam Sabtu tanggal 13 Oktober 2012
Keterangan
Fase I (Utara)
Fase II (Barat)
Fase III (Selatan)
Cipto Mangun Kusumo
- Jembatan
Cupto Mangun Kusumo
- Bung Tomo
Jembatan - Cipto Mangun Kusumo
Jembatan - Bung Tomo
Bung Tomo - Jembatan
Bung Tomo - Cipto Mangun Kusumo
Hijau (Detik) 31 31 27 27 23 23
Kuning (Detik) 3 3 3 3 3 3
All Red (Detik) 2 2 2 2 2 2
Merah (Detik) 73 73 63 63 90 90
Total (Detik) 109 109 95 95 118 118
Berikut penggambaran waktu siklus pada persimpangan sesuai dengan fase yang telah ditetapkan dalam bentuk diagram:
Gambar 4.5. Diagram Fase Simpang Mahakam Sabtu tanggal 13 Oktober 2012
482
SELATAN
WAKTU (detik)
3 detik 2 detik
95 detik
Kuning
3 detik 2 detik All Red Hijau
Merah
90 detik 23
detik
118 detik
BAB V PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan anaalisa maka dapat di simpulkan sebagai berikut : a. Kapasitas simpang (C)
Pendekat Senin Kamis Sabtu Minggu
U 1628 smp/jam 1016 smp/jjam 1315 smp/jam 889 smp/jam S 1730 smp/jam 1505 smp/jam 1320 smp/jam 906 smp/jam B 1642 smp/jam 871 smp/jaam 1224 smp/jam 843 smp/jam
b. Derajat kejenuhan (DS)
Pendekat Senin Kamis Sabtu Minggu
U 0,791 1,259
B 0,791 1,259 1.182 2.918
C. Tundaan lalu-lintas rata-rata (DT)
Pendekat Senin Kamis Sabtu Minggu
U
26.7
det/smp 509.9 det/smp 648.5 det/smp 328.4 det/smp S
28.4
det/smp 505.1 det/smp 286.9 det/smp 1958.6 det/smp B
30.4
det/smp 515.1 det/smp 376.8 ddett/smp 3546.0 det/smp
D. Tundaan geometric rata-rata (DG)
Pendekat Senin Kamis Sabtu Minggu
U 46.0
det/smp 368.3 det/smp 413.9 det/smp 2116.9 det smp
S 85.9
det/smp 428.7 det/smp 490.8 det/ssmp 10925.2 det/smp
B 19.9
det/smp
790.2
det//smp 520.7 det/smp 8175.7 det/smp 2. Saran
1. Tundaan lalu-lintas rata-rata >60, maka tingkat pelayanaanya F harus di perbaiki setting lampu lalu-lintasnya.
2. Tundaan geometrik rata-rata >60, maka tingkat pelayanaanya F harus dilakukan pelebaran jalan.
3. Harus segera dibuat alternative pemilihan rute agar tidak membebani persimpangan.
4. Adanya penegakan disiplin berlalu lintas bagi angkutan umum supaya tidak berhenti dengan menaikturunkan penumpang dengan seenaknya. Kegiatan ini dapat dialihkan di halte yang sudah tersedia.
5. Pengecatatan kembali marka jalan yang ada di lapangan kondisinya sudah tidak layak lagi (kabur), sehingga hal ini dapat membantu para pemakai jalan untuk berdisiplin lalu lintas.
6. Membatasi dan mengalihkan truk atau kendaraan berat melewati simpang Mahakam pada jam-jam puncak.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Munawar, Manajemen Lalu Lintas Perkotaan, “Beta Offset” Jogjakarta 2004.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, Samarinda Dalam Angka (Samarinda In Figures) 2011.
C.Jotin Khisty B.Kent Lall, ( Dasar-dasar Rekayasa Transportasi, edisi ketiga jilid 1 ).
Direktorat Pembinaan Jalan Kota, Direktorat Jenderal Bina Marga, Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) No. 036/T/BM/1997, Jakarta 1997.
Edwar K. Morlok, Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi.
H.A. Abbas Salim. Manajemen Transportasi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2004.
Alamsyah Alik. A, Pelayanan ( Level Of Service ) Derajat Kejenuhan 2005.
Hobbs. FD, 1995, “ Perencanaan Teknik Lalu Lintas “, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, 1997, ’’ Manual Kapasitas Jalan Indonesia ’’ Drijen Bina Marga, Jakarta.