• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari tentang Ghazali menuju Diri-Ghazali (1)

N/A
N/A
Backup 2018 User

Academic year: 2023

Membagikan "Dari tentang Ghazali menuju Diri-Ghazali (1)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Sebuah Rekonstruksi Dari “Tentang Al-Ghazâli

Menuju Diri Al-Ghazâli”:

Antara Persepsi dan Realitas

Husain Heriyanto

Public Lecture Apakah Al-Ghazali Membunuh Sains di Dunia Sunni?”

Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 18 Juli 2023

(2)

Islamic, Islamicate, Islamdom

Islamic” refers to the religion of Islam;

Islamicate” refers to social and cultural complex

associated with Islam and its civilization

Islamdom” denotes the geographical region or

civilization where Islam and its adherents have been

prevalent and socially dominant

(Hodgson, The Venture of Islam)

(3)

Reality and Perception of Reality

Diri Ghazâli; Ghazâli ipseity

Tentang Ghazâli; Perception about Ghazâli

(4)

Tentang Al-Ghazâli (G)

G adalah tokoh antagonis:

teolog anti filsafat

sufi yang memusuhi rasionalitas dan ilmu pengetahuan

teolog fanatik Asy’ari

teolog-sufi yang menyebabkan kejumudan umat Islam

G adalah tokoh protagonis:

pemikir besar hujjatul Islam

menghidupkan ilmu-ilmu agama

sintesis fiqh-kalam-sufi-filsafat

Inspirator/sejalan dgn pemikiran dan sains modern

otonom dan independen dari

Diri Al-Ghazâli (G)

Lahir di Thus-Khurasan, Iran pada tahun 450 H/1050 M dan wafat pada 505

H/1111 M

Hidup selama 5 periode/fase:

awal di Thus; Nisapur (belajar pada Imam Haramain al-Juwaini)

guru besar di Madrasah Nizhamiyyah, Baghdad atas permintaan Nizham al- Mulk wazir Bani Seljuk pada 484- 488 H/1091 – 1095 M

Uzlah ke Suriah, Quds, Makkah,

Madinah (1095 – 1105; versi lain 1095 1098)

mengajar di Madrasah Nizhamiyyah di Naisapur atas permintaan Fakhr al-

Mulk, putra Nizham al-Mulk (1106 – 1109)

khanaqah di Thus (1109 – 1111)

(5)

Tentang Al-Ghazâli

• Tokoh yang kontra Ghazâli:

Ibn Rusyd: “G jahil dan nakal”

Ibn Taimiyyah: “G pembuat banyak bid’ah ajaran Islam”

Russel: “G is the cause of

stagnation of Islamic thought

• Tokoh yang pro-Ghazâli:

Syed Muh. Naquib Alatas

Osman Bakar: “atomisme Asy’ari- Ghazalian sesuai dgn fisika

modern dan teori big bang

Kasus Yasien Mohammad di IIUM

Diri Al-Ghazâli

• Penulis kitab-kitab:

Taḫâfut al-Falâsifah

Iĥyā` ‘Ulūm al-Dīn

Bidāyat al-Hidāyah

Fayṣal al-Tafrīqah bayn al-Islām wa al-Zindīq

Kimiyā` al-Sa’ādah

Al-Risālah al-Ladunniyyah

Misykāt al-Anwār

Al-Munqidz min al-Dhalāl

Minhāj al-’Ᾱbidīn

(6)

Ketika diminta memberi endorsement buku “Islam dan Evolusi: Imam al- Ghazali dan Paradigma Evolusi Modern” karya Shoaib Ahmed Malik,

saya buat sbb (yang kemudian di-drop karena menolak membuang alinea kedua..)

Penulis berhasil secara argumentatif membuktikan bahwa teori evolusi tidak berkorelasi dengan ateisme sebagaimana persepsi populer dan pada saat yang sama tidak jatuh pada persepsi populis lainnya Intelligent Design. Usaha akademis ini patut diapresiasi.

Mengenai kompatibilitas evolusi dengan teologi Asy'ari versi al-Ghazali penulis tampak melakukan penyimpulan yang melompat (jump conclusion) ketika mengaitkan gagasan kebetulan dan keacakan (mutasi acak dalam seleksi alamiah) versi Neo-Darwininisme dengan gagasan mu'jizat dan okasionalisme. Gugusan konsep yang pertama lahir dari spekulasi berbasis eksperimen indrawi sementara gugusan konsep yang kedua muncul dari spekulasi berdasarkan pengalaman religius tertentu. Dalam hal ini, penulis belum membangun kerangka kerja epistemologis untuk menjembatani kedua wilayah dan sistem tanda yang berbeda itu.

(Husain Heriyanto)- penulis "Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan"; "Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam"; dosen filsafat ilmu Universitas Paramadina dan Unversitas Indonesia

(7)

Rekonstruksi Persepsi siapa Al-Ghazâli ?

Perlu taĥqîq, riset ulang secara mendasar dan menyeluruh, siapa dan bagaimana sesungguhnya sosok Al-Ghazâli

Betulkah Al-Ghazâli menolak filsafat, pengetahuan burhani dan tajribi?

Apakah Al-Ghazâli seorang pemikir orisinal yang bebas pengaruh dari Ibn Sina, Ikhwân al-Shafâ`, Abu Hayyan al-Tawhidi, Ibn Miskawayh, Raghib al-Isfahani, Al-

Biruni ?

Dari mana Al-Ghazâli memperoleh bahan untuk menulis Maqâshid al-Falâsifah?

Betulkah karya ini dipersiapkan sebagai pengantar Taḫâfut ataukah hal itu alamiah sejalan dengan perkembangan pemikiran Al-Ghazâli tetapi lalu disisipkan kemudian

agar tampak dipersiapkan untuk Taḫâfut?

Apa yag terjadi sesungguhnya pada Al-Ghazâli sehingga dia harus meninggalkan jabatan prestigious di pusat khalifah Abbasiyah di bawah kendali Bani Seljuk dan lalu mengembara dan khalwat ke Suriah, Al-Quds, Makkah, Madinah selama 10-11

tahun ?

Bagaimanakah konteks sosio-politik dan sosio-budaya zaman kehidupan Al- Ghazâli? Benarkah dia steril dari pengaruh dan motivasi sosial politik ?

(8)

Pendekatan

Hermeneutika

• Hermeneutika Metodologis (studi naskah; filologi;

content analysis)

• Hermeneutika Kritis (studi psiko-sosio-politik-kulural)

• Hermeneutika Filosofis

• Eksistensialis-religious (evolusi akal/ruhani)

• Telaah konsistensi karya

(9)

Re-Evaluasi Al-Ghazali

Pembacaan ulang secara sistematis dan radikal

Contoh: telaah fakta dan teori kemunculan Maqâshid al-Falâsifah

Teori mainstream:

Buku ini ditulis oleh al-Ghazâli saat mengajar di Madrasah Nizhamiyyah Baghdad.

Dalam prolog Maqâshid, al-Ghazâli bertutur bahwa dia bermaksud menulis kitab kritik (radd) terhadap teori-teori para filosof Muslim. Karena ia merasa bahwa kritik terhadap teori-teori para filosof Muslim tak mungkin dilakukan kecuali setelah

melakukan kajian yang mendalam terhadap filsafat, ia memandang perlu menulis buku lain yang berisi eksposisi objektif tentang filsafat Islam seperti yang diajarkan oleh al-Farabi dan Ibn Sina.

Dari mana al-Ghazâli mendapatkan bahan untuk menulis Maqâshid?

Jules Janssens menduga referensi yang dipakai oleh al-Ghazâli untuk menulis Maqâshid adalah Dânesy-Nâmeh ‘Ala’i karya Ibn Sina. Maqâshid al-Falâsifah sejatinya adalah terjemahan dan parafrase dari kitab karya Ibn Sina

(Jules Janssens,Al-Ghazzâlî’s Taḫâfut: Is It Really A Rejection of Ibn Sina’s Philosophy?, Journal of Islamic Studies 12:1 (2001), Oxford Center of Islamic Studies (2001)

Seyyed Hossein Nasr pun menyebutkan hal ini dalam bukunya Three Muslim Sages

(10)

Artikel Janssens: https://www.ghazali.org/articles/120001.pdf

(11)

Tak ada korelasi awal Maqâshid dengan Taḫâfut

• Berdasarkan telaah content analysis, Jules Janssens menduga Maqâshid ditulis oleh Al-Ghazâli di masa mudanya, ketika masih

belum mengajar di Madrasah Nizhamiyyah. Pada masa itu, Al-Ghazâli adalah seorang pengikut Ibn Sina. Dan ketika menulis Maqâshid, al- Ghazâli sepenuhnya percaya pada apa yang ia tulis.

• Setelah mengajar di Baghdad, al-Ghazâli mulai bersikap kritis

terhadap pemikiran pendahulunya ini dan menulis Taḫâfut. Pada fase di Baghdad inilah, Al-Ghazâli menulis paragraf-paragraf yang

menjelaskan bahwa Maqâshid dimaksudkan sebagai prolog Taḫâfut.

dan kemudian ia selipkan ke dalam buku tersebut.

(12)

Analisis Frank Griffel

• Yang tak kalah menarik adalah analisis Frank Griffel.

• Dalam bukunya Al-Ghazali’s Philosophical Theology (Oxford

University Press, 2010), melalui content analysis, Griffel tiba pada

kesimpulan bahwa Taḫâfut sesungguhnya ditulis lebih awal daripada Maqâshid.

• Mengapa demikian?

• Karena secara tekstual, Maqâshid mengutip Taḫâfut. Sebaliknya,

walaupun Taḫâfut berkali-kali mengutip karya-karya al-Ghazâli yang lain, ia sama sekali tidak pernah menyinggung Maqâshid.

• Nah, dalam konteks ini, sebagaimana Janssens, Griffel berkesimpulan bahwa Maqâshid ditulis tidak dipersiapkan sebagai pengantar untuk Taḫâfut.

(13)

https://www.amazon.com/Al-Ghazalis-Philosophical-Theology-Frank-Griffel/dp/019977370X

(14)

Sebuah hasil riset mutakhir

Melalui riset disertasinya berjudul Al-Ghazālī and Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’: Their Influence on His Thought”, Abdullak Okzan menulis:

In his Munqidh, al-Ghazālī states that there were four classes of seekers of truth at his time: the theologians, the followers of the doctrine of Ta‘līm, the philosophers, and the Sufis. He depicts himself here as a Sufi who denounces the others, especially philosophy. This image of al-Ghazālī became the major perception of him from the beginning.

But this perception changed completely in the twentieth century. The most recent scholarship challenges this image and views him as a kind of scholar who was heavily influenced by philosophy and disseminated its teachings in disguise. However, the concentration is given mostly to the

philosophy of Ibn Sīnā while searching the source of this influence.

While not denying the influence of Ibn Sīnā, this study argues that Rasā’il Ikhwān Ṣafā’ must be taken seriously as a major source of philosophical influence on al-Ghazālī’s thought despite the negative remarks he makes about them. It tries to prove its argument first by situating al-Ghazālī’s negative remarks in the political and social conditions of his time and second by comparing his

(15)

Abdullah Okzan, Al-Ghazālī and Rasā’il Ikhwān al-Ṣafā’: Their Influence on His Thought” (University of California, 2016)

For its purpose, this study considers al-Ghazālī as a philosopher whose main concern was to direct the attention of his readers to their inner states and the behaviors resulting from them. This concern led him to search for and develop an ethical theology in which the theory of the soul and its

purification played a role of utmost importance.

The study shows that during his search, al-Ghazālī found the essential ingredients of this theology in the work of Ikhwān al-Ṣafā’, gave it a new form, and put it on the market with a new name, “the Science of the

Hereafter” (‘ilm al-akhirah) with its two subdivisions: the science of practice (‘ilm al-mu‘āmalah) and the science of unveiling (‘ilm al-mukashafah).

(16)
(17)
(18)

Michael Marmura merevisi pandangannya tentang Al-Ghazâli. Melalui artikelnya

Ghazali and Demonstrative Science”, dia membuktikan bahwa Ghazâli sejatinya adalah pengikut Ibn Sina

https://www.ghazali.org/articles/marmura.pdf

(19)

Hasil riset Richard M. Frank: “Al-Ghazâli sangat

dipengaruhi Ibn Sina dan bukan seorang teolog Asy’ari

In 1992 and 1994, Richard M. Frank published two books that would change the study of Islamic

intellectual history. In Creation and the Cosmic System: al-Ghazālī & Avicenna, Frank portrays Abū Ḥāmid al- Ghazālī as a thinker who was deeply influenced by the philosophy of Avicenna.

He thus deconstructed the myth of the Ashʿarite theologian’s ferocious and uncategorical animosity to philosophy.

Two years later, Frank followed up with his monograph Al-Ghazālī and the Ashʿarite School where he analyzes several of al-Ghazālī’s late works and sheds new light on his complicated relationship with his fellow Ashʿarite theologians. The two books’ novel approach and ground-breaking theories initiated a conversation among scholars of falsafa and kalām in the West that resulted in a paradigm shift away from the narrative of decline espoused and popularized by 19th and 20th centuries orientalists.

In addition to their special place within Richard M. Frank’s oeuvre, these two books denote one of the earliest instances of a neoteric disciplinary habitus that continues to undergird much of today’s vanguard research in the fields of Ghazalian studies and post-classical falsafa and kalam

(https://philevents.org/event/show/97834)

(20)
(21)

Peneliti lain, Kojiro Nakamura, juga menolak anggapan umum Al-Ghazâli sebagai seorang Asy’ari https://www.ghazali.org/articles/nak-ash.pdf

(22)

Artikel Abdurrahman Badawi: Sumber-sumber

Neoplatonik Al-Ghazali

(23)

Abdurrahman Badawi menggali lebih jauh siapa sesungguhnya

sosok Al-Ghazali

https://www.ghazali.org/articles/lactualite-badawi.pdf

Referensi

Dokumen terkait