• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demokrasi Kita, Demokrasi Kapitalisme

N/A
N/A
Fanny

Academic year: 2025

Membagikan "Demokrasi Kita, Demokrasi Kapitalisme"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Demokrasi Kita, Demokrasi Kapitalisme Oleh : Maria Stefanny Bintang

2021

Gerakan buruh pasca Soeharto menunjukkan tren yang berbeda. Di tengah himpitan fleksibilitas pasar tenaga kerja neoliberal, pekerja masih sering melakukan aksi protes di jalanan.

Kenaikan upah minimum dan perubahan status kepegawaian selalu menjadi tuntutan utama.

Tidaklah terlalu spekulatif untuk mengklaim bahwa kita perlu bersiap-siap untuk menghadapi letusan politik, ekonomi, sosial, dan ekologis yang akan muncul pasca-pandemi. Saat ini, dunia kerja menjadi wahana horror bagi para tenaga kerja dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh calon tenaga kerja. Lapangan kerja yang sangat minim, gaji pekerja magang kurang memuaskan, gaji pekerja tetap yang tidak memenuhi kebutuhan hidup layak, regulasi tenaga kerja yang tidak memadai perlindungan pekerja, birokrasi yang cukup rumit dalam registrasi pekerjaan, ketidakpastian kerja pada fresh graduate, dan problematika lainnya menjadi keresahan dan menjadi pemicu meningkatnya “quarter life crisis” terhadap seluruh masyarakat usia kerja. Problematika ini dipicu oleh kebijakan fleksibilitas tenaga kerja sudah dilegalkan melalui UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Bahkan, masih dianggap kurang fleksibel oleh kaum kapitalis hingga nampaknya sudah terlalu liberal.

Beberapa pasal yang memuat perlindungan, kepastian kerja, serta penurunan kesejahteraan terhadap pekerja atau buruh dihilangkan. Jika pasal-pasal ini tidak ditindaklanjuti, akan timbul degradasi kesejahteraan dan kondisi kerja terhadap para tenaga kerja maupun calon tenaga kerja.

Kondisi yang memprihatinkan ini semakin diperkeruh dengan keberadaan gig economy (ekonomi gig) yang marak beroperasi akhir-akhir ini yang menjadi andalan para perusahaan digital. Periode globalisasi pasca-pandemi yang diiringi dengan kemajuan teknologi membawa pengaruh besar terhadap munculnya regulasi dan tren pemberdayaan tenaga kerja. Ekonomi gig saat ini ramai digandrungi oleh platform digital yang berupa pasar tenaga kerja dengan kontrak jangka pendek tanpa regulasi yang jelas. Disamping itu, para tenaga kerja tidak memiliki kepastian jaminan sosial, dan kesejahteraan kerja, serta pendapatan dan jam kerja yang jelas dikarenakan ekonomi gig ini memakai sistem dimana besaran upah tergantung dari besarnya hasil produksi dan effort yang dikeluarkan oleh tenaga kerja. Ekonomi gig berkontribusi besar terhadap kerentanan kerja. Jelas sekali bahwa sistem ini mengadaptasi hubungan kerja yang mencerminkan perbudakan.

Ekonomi gig juga melahirkan fleksibilitas tenaga kerja yang diadaptasi oleh pengusaha untuk menekan output biaya industri atau menghemat pengeluaran agar mereka bisa memenuhi celengan mereka dengan faktor utama upah murah yakni kenaikan inflasi. Omong kosong yang mereka lontarkan justru lebih menjengkelkan, mereka menekankan fleksibilitas kerja diberikan sebagai bentuk variasi ketika bekerja, sehingga membuat para pekerja tidak merasa bosan serta menekan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. Justru momen ini menyiksa para tenaga kerja yang ingin menggarap kemampuan nya serta dianggap menendang mereka dalam jurang minimnya lapangan kerja. Pemerintah sudah gagal melindungi para tenaga kerja dengan mengabaikan hak- hak normatif dan belum sadar akan hak advokasi dan melawan.

(2)

Tenaga kerja dalam zona fleksibilitas dapat dipindah-pindahkan oleh kaum kapitalis dengan mudah menyesuaikan kebutuhan pabrik yang mereka kelola. Peristiwa ini meningkatkan potensi pengangguran di Indonesia semakin parah. Keberadaan rezim oligarki memperkuat hastrat kaum kapitalis untuk melanggengkan penindasan yang mencabik-cabik kebutuhan hidup layak para tenaga kerja dengan membuat kesepakatan dengan dalih investasi untuk kemakmuran kemajuan ekonomi bangsa. Nyatanya, rezim oligarki dibuat puas akan suntikan dana yang mengucur deras dari kaum kapitalis. Dibalik permukaan busuk itu, pengusaha dengan segala kekayaannya mendorong pemerintah untuk meluncurkan aturan-aturan yang memberatkan pemerintah agar ia bisa terus menjadi peran terkuat dalam sistem ini. Rezim oligarki mengabulkan permintaan mereka dengan menerapkan Omnibus law Cipta kerja, UU Nomor 78 Tahun 2015, UU Nomor 13 Tahun 2003, serta PP Nomor 36 Tahun 2021. Regulasi tersebut disahkan berturut-turut agar kaum kapitalis dapat menghilangkan hak atas kesejahteraan bagi tenaga kerja secara perlahan. Realita dapat berbicara bahwa memang benar para pekerja ditindas tanpa ampun melalui aturan-aturan tersebut. Beberapa serikat pekerja yang lulus masuk dalam Lembaga Kerja Sama Tripartit (LKS Tripartit) juga tidak menunjukkan keberpihakkan pada rakyat. Hal ini menjadi salah satu indikator pada langgengnya penindasan terhadap tenaga kerja.

Indonesia dilanda krisis terhadap kesejahteraan pekerjanya, fleksibilitas dan pengangguran menjadi isu yang harus dituntaskan. Demokrasi Pancasila sudah lenyap, rezim oligarki menunjukkan keberpihakannya pada kaum kapitalis. Demokrasi kita sudah berubah menjadi demokrasi kapitalisme.

REFERENSI

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Referensi

Dokumen terkait

Pekerja tidak tetap adalah orang yang bekerja pada perusahaan/usaha dengan menerima upah/gaji dengan memperhitungkan jumlah hari masuk kerja/kehadiran pekerja tersebut. s.d kol

Rata-Rata Jam Kerja Seminggu yang Lalu dan Rata-Rata Upah/Gaji/Pendapatan Bersih (rupiah) Sebulan Pekerja *) Menurut Jenis Pekerjaan Utama dan Lapangan Pekerjaan Utama/ Average of

Tabel Table B Rata-Rata Jam Kerja Seminggu yang Lalu dan Rata-Rata Upah/Gaji/Pendapatan Bersih (rupiah) Sebulan Pekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama/Average of Working Hours