Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk menggunakan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit 2020.2819 RAJ. Penulis tentu menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kesalahan dan kekurangan di dalamnya.
POTENSI, BEKAL AJAR AWAL, DAN KESULITAN PESERTA DIDIK DALAM
BAB 1
- Sosiologi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia
- Potensi Peserta Didik dalam Pembelajaran Sosiologi
- Kecerdasan Linguistik; merupakan kemampuan menggunakan kata dengan efektif, baik bahasa lisan maupun bahasa tertulis
- Kecerdasan Matematis-Logis; kemampuan dalam penggunaan angka dengan baik (misalnya untuk membaca data statistik sosial)
- Kecerdasan Spasial; adalah kemampuan dalam mempersepsikan dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikan persepsi
- Kecerdasan Kinetis-Jasmani; kemampuan untuk memanfaatkan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan
- Kecerdasan Musikal; kemampuan untuk menangani bentuk- bentuk dari musikal, dengan cara mempersepsi, membedakan,
- Kecerdasan Interpersonal; kemampuan untuk mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan
- Kecerdasan Intrapersonal; kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini
- Kecerdasan Naturalis; keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini
- Kecerdasan Eksistensial; kecerdasan ini berkaitan dengan kapasitas dan kemampuan agar berpikir kosmis atau hal-hal yang
- Bekal Ajar Awal Peserta Didik dalam Pembelajaran Sosiologi
- Kesulitan Belajar Peserta Didik pada Pembelajaran Sosiologi
- Prinsip-prinsip Pembelajaran Sosiologi
Setiap siswa mempunyai kecepatan dan ritme perkembangan yang berbeda dengan ritme perkembangan siswa lainnya. Ada siswa yang sudah berusaha keras belajar, namun nilai yang didapat selalu rendah.
PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN SOSIOLOGI
BAB 2
- Pendekatan Pembelajaran Sosiologi
- Pendekatan Ditinjau dari Segi Pengolahan Pesan
- Pendekatan Ditinjau dari Pengorganisasian Peserta Didik a. Pembelajaran Secara Individual
Dari keberagaman tersebut, setiap siswa akan memberikan perhatian khusus pada beberapa aspek hubungan tersebut. Dengan menghubungkan setiap materi pembelajaran dengan situasi kehidupan praktis, ia dapat memunculkan makna materi pembelajaran bagi siswa itu sendiri.
Pendekatan Ditinjau dari Segi Format Belajar
Pembelajaran tatap muka; merupakan proses pembelajaran dimana guru dan siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Bahan ajar jenis ini dapat berupa salah satu atau gabungan dari media program seperti modul, film, kaset audio, program radio, slide, CD, program video, komputer, dan lain-lain.
Strategi/Model dan Teknik Pembelajaran Sosiologi
Apalagi saat melaksanakan pembelajaran, guru tidak bisa mengontrol dan mengetahui batas kemampuan siswa. Selain itu sering terjadi siswa salah memahami materi pembelajaran yang disampaikan atau diajarkan.
Bentuk Simulasi
Kemudian meminta siswa memainkan peran tertentu sesuai isi cerita dalam drama b) Psikodrama; Psikodrama hampir mirip dengan sosiodrama. Fungsi psikodrama adalah agar siswa lebih memahami diri sendiri dan reaksinya terhadap tekanan yang dihadapi.
Teknik Simulasi
Diskusi kelas atau diskusi kelompok disebut juga diskusi kelompok merupakan suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi. Diskusi panel adalah diskusi mengenai suatu topik yang dilakukan oleh beberapa panelis, biasanya terdiri dari 4-5 orang, di hadapan audiens.
Proses pembelajaran hendaknya merangsang keingintahuan siswa untuk menganalisis permasalahan yang ada disekitar lingkungan sosialnya dan sekaligus membentuk opini pribadi mengenai permasalahan tersebut. Ketiga, siswa dipaksa untuk menguasai materi dalam jumlah sangat besar yang penuh dengan berbagai konsep abstrak, bahkan ada yang tidak kontekstual, dalam waktu yang sangat singkat.
SENI MENEMUKAN DAN MENGONSTRUKSI KONSEP SOSIOLOGI OLEH SISWA DALAM
BAB 3
- Kedudukan Konsep dalam Materi Ajar Sosiologi
- Menemukan Konsep dengan Case-Method Thinking dengan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery
- Menemukan Konsep dengan Case-Method Thinking
- Kelas Sebagai Laboratorium Konsep atau Miniatur Masyarakat dengan Model Pembelajaran CTL (Contextual
Oleh karena itu, guru hendaknya memilih fakta yang dapat membantu siswa memahami konsep dan generalisasi. Hamid Husen (1995) menyatakan bahwa: “Konsep adalah suatu abstraksi dari sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama”. Dalam pendekatan CTL, proses pembelajaran diharapkan terjadi secara alami berupa aktivitas siswa, kerja dan pengalaman, bukan transfer ilmu dari guru ke siswa.
Dengan demikian, dalam proses belajar mengajar, seorang guru hendaknya mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media kasat mata, memberikan kesempatan menulis dan bertanya atau menjawab, sehingga tercipta dialog kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif.
PENGAJARAN SOSIOLOGI YANG
Sosiologi sebagai bidang yang bertujuan membekali peserta didik untuk mengembangkan penalarannya selain aspek nilai dan moral banyak memuat materi sosial dan dihafal, sehingga ilmu dan transformasi yang diterima peserta didik merupakan produk hafalan. Sifat mata pelajaran IPS mempengaruhi proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan eksplanatif, terutama guru yang menggunakan metode ceramah sehingga siswa kurang terlibat atau cenderung pasif. Padahal, keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar harus bersifat total, artinya meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar, dan psikomotorik.
MENYENANGKAN DENGAN PENERAPAN METODE INOVATIF LIMA-I
BAB 4
- Emosi dan Motivasi Belajar
- Penerapan Lima-I Meningkatkan Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran Sosiologi
- Keterkaitan Tujuan dan Materi Pembelajaran dengan Lima-i
- Rincian Pokok Materi Pembelajaran
- Proses Pembelajaran
Tujuan umum: untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, siswa mempelajari konsep interaksi sosial sebagai wujudnya. Tujuan khusus: Mahasiswa menguasai faktor-faktor yang mendorong interaksi, syarat-syarat interaksi sosial dan bentuk-bentuk interaksi sosial serta implikasinya terkait Lima-i. Bahwa peserta didik dengan memahami dan menguasai faktor-faktor pendorong, kondisi dan bentuk interaksi sosial, mengenal dan memantapkan diri berkenaan dengan minatnya serta penerapan konsep interaksi sosial dalam kegiatan tertentu.
Kemungkinan penerapan konsep interaksi sosial dalam berbagai aspek kehidupan dan pekerjaan, dapat dilakukan sendiri atau berkelompok.
GAGASAN ALTERNATIF MENUJU
Ia mengemukakan bahwa sosiologi refleksif sangat memperhatikan apa yang ingin dilakukan sosiolog, yang sebenarnya dilakukan di dunia (apa yang ingin dilakukan sosiolog dan apa yang sebenarnya mereka lakukan di dunia). Sosiologi refleksif merupakan evaluasi diri secara kritis melalui proses kepekaan agar nilai-nilai ideologis dan penerapan nyata selaras dengan budaya di mana seseorang hidup (Goulder dalam Susanto. Sejumlah intelektual Dunia Ketiga telah melakukan berbagai langkah untuk merumuskan sosial. ilmu pengetahuan (baca: sosiologi) untuk mendapatkan penjelasan tentang permasalahan sosial, politik, budaya dan agama di negaranya, khususnya negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin.
Ilmu-ilmu sosial yang didasarkan pada konteks sosial-politik masyarakat nasional diharapkan menjadi ilmu-ilmu sosial yang memerdekakan, ilmu-ilmu sosial yang sesuai dengan pola masyarakat nasional atau dalam konteks kita, sesuai dengan nusantara atau ilmu-ilmu sosial yang ada. tidak terjajah.
REKONSTRUKSI MATERI AJAR SOSIOLOGI DARI TEKSTUAL KE KONTEKSTUAL
BAB 5
- Urgensi Kontekstual Materi Sosiologi
- Kekuatan Kontekstual Materi Sosiologi yang Bermuatan Lokal
Dalam konteks ini, rekonstruksi berarti transformasi nilai-nilai budaya secara sistematis, terencana, dan melembaga ke dalam suatu proses pendidikan. Kedua analisa para ahli di atas memberikan semangat untuk mengedepankan nilai-nilai budaya lokal untuk tujuan pendidikan yang benar-benar demi kepentingan kemanusiaan. Aliran ini mewakili pandangan bahwa pendidikan adalah upaya untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan sosial sebagai nilai-nilai kemanusiaan (Komarudin, 2013: 2).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka perlu dikembangkan bahan ajar sosiologi dengan memberikan nilai-nilai budaya lokal (kasus Kota Padang).
INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (MINANGKABAU) KE DALAM MATERI
BAB 6
- Strategi Internalisasi Pendidikan Karakter pada Mata Pelajaran Sosiologi
- Internalisasi Nilai-nilai Kearifan lokal (Minangkabau) untuk Membentuk Karakter Peserta didik
Oleh karena itu, penggalian nilai-nilai kearifan lokal merupakan upaya strategis dalam membangun karakter bangsa di era global. Salah satu mata pelajaran yang berperan dalam pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter adalah mata pelajaran sosiologi. 2 Tahun 2011 yang memuat 18 indikator nilai karakter bangsa, namun sesuai dengan ciri mata pelajaran sosiologi itu sendiri, nilai karakter yang sudah ada seperti: keramahan atau komunikatif, peduli sosial, peduli lingkungan, setia, solidaritas dan toleransi .
Internalisasi nilai-nilai kearifan lokal (Minangkabau) untuk membentuk karakter siswa.
Pada bagian ini disajikan beberapa contoh pengintegrasian nilai-nilai dalam kurikulum 2013, seperti kesopanan, kejujuran, percaya diri, kepedulian sosial, tanggung jawab, kecerdasan, kerjasama, upaya menghargai keberagaman dan nilai-nilai demokrasi, menjadi indikator-indikator yang kemudian direfleksikan dalam materi pelatihan atau kegiatan. Mengajar sosiologi di sekolah menengah. Materi sikap merupakan suatu hal yang krusial dalam kurikulum khususnya pada kurikulum 2013, karena sikap merupakan landasan dan tujuan akhir pembelajaran. Oleh karena itu, materi sikap dinilai sangat strategis dalam membentuk keterampilan kognitif dan psikomotorik siswa. Pembahasan ini menjelaskan dua komponen sikap, yaitu (a) komponen materi sikap yang diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya Minangkabau pada tahun 2011 oleh Kementerian Pendidikan Pemuda dan Olahraga Wilayah Sumatera Barat, dengan misi pendidikan karakter yang mempunyai muatan lokal. dan (b) komponen materi sikap yang diidentifikasi dalam penelitian ini dan diintegrasikan ke dalam bahan ajar sosiologi yang mengacu pada kurikulum sosiologi 2013.
Komponen Materi Sikap yang diintegrasikan ke dalam berbagai bahan ajar pada setiap jenjang pendidikan (Kasus Provinsi.
Nilai-nilai sinergis antara agama dan adat istiadat Islam telah menjadi pedoman kehidupan masyarakat Minangkabau secara turun-temurun (Hakimy, 2004: 15). Nilai-nilai budaya yang diangkat dalam penelitian ini tentunya berangkat atau menyimpang dari nilai-nilai agama dan adat Minangkabau dan telah disahkan oleh para ahli budaya Minangkabau. Nilai-nilai kearifan lokal Minangkabau mempunyai dimensi karakter yang komprehensif terkait dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, manusia, dan alam.
Khususnya dalam pembelajaran sosiologi, peran internalisasi nilai-nilai karakter (lokal) semakin terbuka dalam membentuk kepribadian siswa.
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN SOSIOLOGI
BAB 7
- Memperbaiki dan Mengembangkan Pembelajaran Sosiologi
- Melaksanakan Pembelajaran yang Kontekstual
- Kemampuan Mengaitkan Materi dengan Pengetahuan Lain yang Relevan
- Melaksanakan Pembelajaran yang Memungkinkan Tumbuhnya Kebiasaan Positif (Nurturant Effect)
- Kemampuan Mengajarkan Materi Praktik Penelitian
- Kemampuan Memilih dan Menyeleksi Buku Sumber
- Akar Persoalan dan Solusi
- Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
Dengan aspek ekonomi, guru dapat menginformasikan kepada siswa bahwa konflik sosial disebabkan oleh kemiskinan. Pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan-kebiasaan positif merupakan refleksi materi terhadap sikap dan perilaku siswa setelah mempelajari materi tersebut. Dalam proses pembelajaran, guru menyampaikan atau membimbing siswa untuk menyajikan fakta atau peristiwa nyata dari kehidupan masyarakat kepada siswa.
Kemudian guru membimbing siswa untuk mencari dan menyimpulkan informasi berdasarkan fakta atau peristiwa tersebut.
PENGEMBANGAN KURIKULUM SOSIOLOGI
BAB 8
- Tujuan Pembelajaran dan Pengalaman Belajar Sosiologi
Tugas utama guru adalah mendidik peserta didik sedemikian rupa sehingga kurikulum yang menjadi tanggung jawab sekolah – tempat guru diangkat – dikuasai oleh peserta didik. Siswa dapat memilih alternatif yang sesuai dengan kemampuan, bakat atau minat siswa yang bersangkutan. Prinsip ini mengandung gagasan bahwa perlunya menjaga atau memelihara keterpaduan materi pembelajaran pada satuan dan jenjang pendidikan yang berbeda.
Prinsip ini berkaitan dengan tingkat kinerja atau keberhasilan yang direncanakan atau diinginkan (achieved) untuk dilaksanakan.
MEDIA DAN TEKNOLOGI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI
BAB 9
- Sumber Belajar
- Bahan ajar
- Pemanfaatan TIK dalam Pembelajaran Sosiologi
- Peranan E-Learning dalam Pembelajaran
- Implementasi TIK dalam Pembelajaran Sosiologi
- Kepala Sekolah
- Guru
- Peserta Didik
Untuk membantu sekolah menyediakan sumber informasi terkini dan relevan bagi guru dan siswa; Untuk membantu siswa menyelesaikan tugas dan ujian yang diberikan guru secara online; Memotivasi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi;.
Komputer menyediakan akses fleksibel di mana siswa dapat menggunakannya kapan pun mereka mau.
DAFTAR PUSTAKA
2012. Pribumisasi Sosiologi: Pengembangan Materi Sosiologi yang Mengandung Nilai-Nilai Budaya Lokal Minangkabau di Sekolah Menengah Atas Provinsi Sumatera Barat. Ilmu Pengetahuan Sosial, Budaya Intelektual dan Jiwa Profesi, Makalah pada Seminar Nasional “Kekuatan Budaya Lokal Dalam Mendukung Pendidikan Nasional”, 8 Mei 2014 di Unnesa Surabaya. Makalah dalam Seminar Nasional “Kekuatan Budaya Lokal Dalam Mendukung Pendidikan Nasional”, 8 Mei 2014 di Unnesa Surabaya.
Penanaman Nilai Karakter Melalui Topik Sosiologi Sosiologi Pendidikan, Artikel Jurnal Komunitas no.
TENTANG PENULIS
Pada tahun 2001–2009 diangkat menjadi dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Sejarah FIS UNP, mulai tahun 2009 bergabung menjadi dosen pada Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Pendidikan Agama Islam FIS UNP (2018 --). Selain itu beliau juga merupakan dosen di lingkungan Pascasarjana UNP antara lain Magister Pendidikan Ilmu Sosial, Magister Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Magister Pendidikan Geografi, Magister Administrasi Publik dan Magister Ilmu Lingkungan. Penulis juga aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan antara lain Tim Instruktur Kurikulum 2013, Instruktur PPG Sosiologi, dan Tim Pembina Olimpiade Guru dan Siswa Provinsi Sumatera Barat, serta Tim Pembina Seleksi dan Pembina Tenaga Kependidikan.