i
DETEKSI DINI PADA PENYAKIT DIABETES MELLITUS
Di ajukan sebagai salah satu tugas
Mata kuliah keperawatan Diabetes Mellitus semester 4
Dosen Pembimbing :
Endang Purwaningsih, S. Kep.Ns, M.Kep Kelas 2A/ Kelompok 1 :
1. Nadia Fitri Ajeng Pratiwi (P17250221002) 2. Vannela Salsabella (P17250221023) 3. Elok Faidzotul Himmah (P17250223027) 4. Rizal Mas’ud Al Yasin (P17250223034) 5. Elvita Delivia Agnistyasa (P17250223039) 6. Itsna Harisah Qurroh (P17250223040)
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG PRODI D-III KEPERAWATAN KAMPUS KAB. PONOROGO
2024
i
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memberi ilmu, inspirasi, dan kemuliaan. Atas Kehendak-Nya penyusun dapat menyelesaikan penugasan membuat makalah berjudul " DETEKSI DINI PADA PENYAKIT DIABETES MELLITUS”.
Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada Ibu Endang Purwaningsih S.Kep.Ns, M.Kep selaku dosen pembimbing mata kuliah Keperawatan DM. Oleh karena itu izinkan penulis untuk menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Berkat bantuan semua pihak, penulis berhasil menyelesaikan artikel ini dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, penulis sangat menyadari bahwa karya ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima segala kritik dan saran dari pembaca.
Akhir kata, penulis berharap para pembaca dapat terinspirasi dan mengambil manfaat dari makalah ini.
Ponorogo, 1 Februari 2024
Penyusun
ii DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ...i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang ... 1
B. Rumusan masalah... 1
C. Tujuan ... 2
D. Manfaat ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Pengertian Diabetes Mellitus ... 3
B. Klasifikasi/Macam Diabetes Mellitus ... 4
C. Etiologi Atau Penyebab Diabetes Mellitus ... 5
D. Patofisiologis Diabetes Mellitus ... 6
E. Menisfetasi Klinis Diabets Meliitus ... 7
F. Komplikasi Diabetes Meliitus ... 8
G. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Mellitus ... 9
H. Penatalaksanaan Diabetes Meliitus ... 10
I. Mengetahui Faktor Dan Upaya Deteksi Dini Diabetes Meliitus ... 13
BAB III PENUTUP ... 16
A. Kesimpulan ... 16
B. Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia 2018 didapatkan bahwa tingkat konsumsi makanan manis (87,9%) dan minuman manis (91,49%) di Indonesia sangat tinggi. Padahal telah terdapat anjuran mengenai konsumsi gula per hari agar tidak berlebihan.
Menurut Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total energi (200kkal). Konsumsi tersebut setara dengan gula 4 sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari
Adapun cara meneteksi dini diabetes mellitus dapat dilakukan melalui beberapa metode, termasuk pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diabetes mellitus adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat dari cacat dalam sekresi insulin, aksi insulin, atau keduanya. Beberapa cara untuk mendeteksi diabetes mellitus secara dini meliputi: Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah,gejala dan Faktor Risiko, pemeriksaan secara rutin dan kesadaran akan gejala serta faktor risiko B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian dari Diabetes Mellitus?
2. Apa saja klasifikasi/macam dalam Diabetes Mellitus?
3. Bagaimana etiologi atau penyebab dari penyakit Diabetes Mellitus?
4. Bagaimana patofisiologis dalam penyakit Diabetes Mellitus?
2
5. Bagaimana menisfetasi klinis dalam Diabets Meliitus ? 6. Apa saja komplikasi yang terjadi dalam Diabetes Meliitus ? 7. Apa saja pemeriksaan penunjang Diabetes Mellitus?
8. Bagaimana penatalaksanaan dalam Diabetes Meliitus ?
9. Apa saja faktor dan upaya yang mempengaruhi sehingga dilakukan deteksi dini Diabetes Meliitus?
C. Tujuan
1. Menegtahui pengertian dari Diabetes Mellitus 2. Mengetahui klasifikasi/macam Diabetes Mellitus
3. Mengetahui etiologi atau penyebab dari penyakit Diabetes Mellitus 4. Mengetahui patofisiologis dalam penyakit Diabetes Mellitus 5. Mengetahui menisfetasi klinis Diabets Meliitus
6. Mengetahui komplikasi Diabetes Meliitus
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang Diabetes Mellitus 8. Mengetahui penatalaksanaan Diabetes Meliitus
9. Mengetahui faktor dan upaya yang mempengaruhi deteksi dini Diabetes Meliitus
D. Manfaat
1. Memahami pengertian dari Diabetes Mellitus 2. Memahami klasifikasi/macam Diabetes Mellitus
3. Memahami etiologi atau penyebab dari penyakit Diabetes Mellitus 4. Memahami patofisiologis dalam penyakit Diabetes Mellitus 5. Memahami menisfetasi klinis Diabets Meliitus
6. Memahami komplikasi Diabetes Meliitus
7. Memahami pemeriksaan penunjang Diabetes Mellitus 8. Memahami penatalaksanaan Diabetes Meliitus
9. Memahami faktor dan upaya yang mempengaruhi deteksi dini Diabetes Meliitus
3 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian
Diabetes melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.
Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
Diabetes mellitus yakni satu gabungan keIainan metaboIik yang disifati dengan hiperglikemia sebab keIainan sekresi insulin dari seI beta pankreas, gangguan fungsi insulin/resistensi insulin alias ke2nya. Sesuai kIasifikasi WHO, disebut stabil kalau kadar glukosa plasma puasa < 110 mg/dI, glukosa plasma terganggu kalau kadar glukosa puasa sekitar 110- 125 mg/dI, tetapi toleransi glukosa terhalang ialah kadar glukosa darah setelah pembebanan glukosa 75 gr. Antara 140 sampai 199 mg/dI.
Dikatakan diabetes kalau kadar gula darah puasa > 126 mg/dI alias kalau glukosa dalam darah setelah pembebanan glukosa 75 gr > 200 mg/dI.
Resistensi insuiln berarti ketaksanggupan insulin membagi effek biologis yang stabil ke kadar gula darah ter tentu, disebut resistensi insulin kalau dibutuhkan kadar insulin yang Iebih banyak buat menggapai kadar glukosa darah yang stabill (Merentek, 2006)
Diabetes melitus salah satu penyakit kronis penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Menurut data dari Institude for Health Metrics and Evaluation bahwa diabetes merupakan penyakit penyebab kematian tertinggi ke 3 di Indonesia tahun 2019 yaitu sekitar 57,42 kematian per 100.000 penduduk. Data International Diabetes Federation (IDF) mendapati bahwa jumlah penderita diabetes pada 2021 di Indonesia meningkat pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Jumlah tersebut
4
diperkirakan dapat mencapai 28,57 juta pada 2045 atau lebih besar 47%
dibandingkan dengan jumlah 19,47 juta pada 2021.
B. Klasifikasi
a. Diabetes Tipe 1
Pada diabetes tipe 1, pankreas tidak dapat memproduksi insulin karena sel-sel penghasil insulin di pankreas telah dihancurkan. Pada kebanyakan orang, hal ini disebabkan oleh respons autoimun di mana sistem kekebalan secara keliru menyerang sel-sel yang mensekresi insulin. Penyebab reaksi ini belum diketahui. Terlepas dari orang yang memiliki kerusakan pada pankreas, diabetes tipe 1 hanya terjadi pada mereka yang memiliki kecenderungan genetik terhadap kondisi tersebut. Diabetes tipe 1 tampaknya datang tiba-tiba, tetapi penghancuran sel-sel penghasil insulin dapat dimulai beberapa bulan atau tahun sebelumnya, dan baru sekitar 80 persen atau lebih dari sel- sel ini telah dihancurkan sehingga gejala biasanya muncul (Permatasari, 2021).
b. Diabetes Tipe 2
Diabetes mellitus tipe 2 adalah diabetes yang disebabkan kenaikan gula darah karena penurunan sekresi insulin yang rendah oleh kelenjar pancreas (KEMENKES RI, 2020). Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) atau disebut sebagai NonInsulin-Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) merupakan salah satu tipe DM akibat dari insensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin) serta defisiensi insulin relatif yang menyebabkan hiperglikemia. DM tipe ini memiliki prevalensi paling banyak diantara tipe-tipe lainnya yakni melingkupi 90-95% dari kasus diabetes (Novianti, 2019)
c. Diabetes Gestasional
Diabetes yang muncul pertama kali dalam kehamilan dikenal sebagai diabetes gestasional. Terkadang, diabetes tipe 1 atau tipe 2 tidak terdiagnosis sebelum kehamilan. Lebih sering, bagaimanapun, pertama kali muncul selama kehamilan, sekitar 24-28 minggu, dan menghilang saat bayi lahir. Wanita yang mengidap diabetes tipe ini
5
berisiko tinggi terkena diabetes gestasional lagi di kehamilan berikutnya dan juga mengembangkan diabetes tipe 2 permanen dalam beberapa tahun
C. Etiologi
Beberapa penyebab/faktor risiko yang dapat menyebabkan diabetes antara lain:
a. Obesitas
Seorang obesitas memiliki lemak yang cukup besar tersimpan di bawah kulit di pinggul, paha dan diperut. Jika lemak pada penderita DM banyak otomatis akan menyimpan cadangan lemak yang juga banyak, karena lemak/lipid tersebut nantinya akan pecah dimetabolik menjadi glukosa. Kelebihan berat badan akan meningkatkan kebutuhan insulin pada tubuh. Orang dewasa yang kegemukan memiliki sel-sel lemak yang lebih besar pada tubuh mereka, sel-sel lemak yang lebih besar tidak merespons insulin dengan baik karena kurangnya kepekaan rangsang dari sel beta pancreas (Suwinawati et al., 2020)
b. Usia
Usia terbanyak penderita DM adalah > 40 tahun. Ini bisa disebabakan karna faktor degenerative atau mulai menurunnya fungsi tubuh, khususnya kemampuan dari sel β dalam memproduksi insulin untuk memetabolisme glukosa (Jannah, 2019). Faktor usia mengakibatkan penurunan aktivitas elektrik pada kanal sel beta pankreas yang sensitif ATP sehingga mempengaruhi proses sekresi insulin dan terjadi peningkatan kadar gluosa darah / hiperglikemia yang berujung pada DM.
c. Keturunan
Pada diabetes melitus, bila saudara identical twins mengidap diabetes melitus tipe maka kemungkinan juga terkena diabetes melitus adalah 90%. Bila salah satu orang tua terkena diabetes melitus maka kemungkinannya 40% juga terkena diabetes melitus. Apabila kedua orangtua terkena diabetes melitus, kemungkinan menderita diabetes melitus menjadi lebih dari 50% (Mahadewi, 2019).
6 d. Riwayat diabetes pada kehamilan
Diabetes pada kehamilan atau gestational diabetes dapat terjadi 2%
– 3 % pada ibu hamil. Semua ibu hamil harus diperiksa glukosa darahnya. Ibu hamil dengan diabetes dapat melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kg. apabila hal itu terjadi, besar kemungkinan si Ibu akan menderita diabetes melitus.
e. Penyakit lain
Beberapa penyakit tertentu dalam prosesnya cenderung diikuti dengan tingginya kadar glukosa darah di kemudian hari. Akibatnya, pasien juga bisa terkena diabetes. Penyakit – penyaki itu antara lain, hipertensi, radang sendi, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit pembuluh perifer, dan infeksi kulit yang berulang.
f. Pemakaian obat – obatan
Beberapa obat dapat meningkatkan kadar glukosa darah, bahkan bisa menyebabkan diabetes melitus. Obat – obatan yang dapat menaikkan glukosa darah antara lain, hormon steroid, beberapa obat antihipertensi, dan obat untuk menurunkan kolesterol.
D. Patofisiologis
Terdapat dua patologis utama pada diabetes yaitu gangguan sekresi insulin melalui disfungsi sel pankreas dan gangguan kerja insulin melalui resistensi insulin. Pada stadium prediabetes mula-mula timbul resistensi insulin yang kemudian disusul oleh peningkatan sekresi insulin untuk mengompensasi retensi insulin tersebut agar kadar glukosa darah tetap normal. Hal tersebut akan berdampak pada ketidaksanggupan sel β untuk mengompensasi retensi isnulin secara terus menerus hingga fungsi sel β akan mengalami penurunan.
Penurunan fungsi sel β berlangsung secara progresif sampai pada akhirnya sama sekali tidak mampu lagi menyekresi insulin. Resistensi insulin menyebabkan penggunaan glukosa yang dimediasi oleh insulin di jaringan perifer menjadi berkurang. Kekurangan insulin atau resistensi insulin menyebabkan kegagalan fosforilasi kompleks Insulin Reseptor Substrat (IRS), penurunan translokasi glucose transporter–4 (GLUT4) dan
7
penurunan oksidasi glukosa sehingga glukosa tidak dapat masuk kedalam sel dan terjadi kondisi hiperglikemia yang mengakibatkan diabetes melitus. Resistensi insulin dan disfungsi sekresi insulin itulah yang mengakibatkan diabetes mellitus.
E. Menisfestasi Klinis
Tanda dan gejala diabetes mellitus yang dapat terjadi diantarannya yaitu (Novianti, 2019):
a. Poliuria (peningkatan pengeluaran urine)
Peningkatan pengeluaran urine mengakibatkan glikosuria karena glukosa darah sudah mencapai kadar ”ambang ginjal”, yaitu 180 mg/dl pada ginjal yang normal. Dengan kadar glukosa darah 180 mg/dl, ginjal sudah tidak bisa mereabsobsi glukosa dari filtrat glomerulus sehingga timbul glikosuria. Karena glukosa menarik air, osmotik diuretik akan terjadi mengakibatkan polyuria
b. Polidipsia (peningkatan rasa haus)
Peningkatan pengeluaran urin yang besar dan keluarnya air dapat menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikutiekstrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradient konsentrasi ke plasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH dan menimbulkan rasa haus.
c. Polifagia (peningkatan rasa lapar)
Sel tubuh mengalami kekurangan bahan bakar (cell servation) sehingga memicu peningkatan rasa lapar dan peningkatan asupan makanan. Hal ini terjadi karena penurunan aktivitas kenyang di hipotalamus. Glukosa sebagai hasil metabolisme karbohidrat tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga menyebabkan terjadinya kelaparan sel.
d. Rasa lelah dan kelemahan otot
e. Kesemutan dan rasa kebas karena neuropati dan kerusakan jaringan perifer
8
f. Kulit kering, dan lesi yang sulit sembuh (dapat memicu luka diabetic/ganggren)
g. Sakit kepala, mengantuk, dan gangguan pada aktivitas h. Mual dan anoreksia
F. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi akibat penyakit DM dapat berupa gangguan pada pembuluh darah baik makrovaskular maupun mikrovaskular, serta gangguan pada sistem saraf atau neuropati. Gangguan ini dapat terjadi pada pasien DM yang sudah lama menderita penyakit atau DM yang baru terdiagnosis. Komplikasi makrovaskular umumnya mengenai organ jantung, otak dan pembuluh darah, sedangkan gangguan mikrovaskular dapat terjadi pada mata dan ginjal. Keluhan neuropati juga umum dialami oleh pasien DM, baik neuropati motorik, sensorik ataupun neuropati otonom(Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021). Beberapa komplikasi diabetes mellitus adalah(Decroli, 2019)
a. Ulkus kaki diabetic
Ulkus kaki diabetik (UKD) merupakan salah satu komplikasi kronik dari DM T2 yang sering ditemui.UKD adalah penyakit pada kaki penderita diabetes dengan karakteristik adanya neuropati sensorik, motorik, otonom dan atau gangguan pembuluh darah tungkai.
b. Penyakit Ginjal
Penyakit ginjal diabetes (PGD) menjadi penyebab utama penyakit ginjal tahap akhir. PGD terjadi sebagai akibat interaksi antara faktor hemodinamik dan metabolik. Faktor hemodinamik berkontribusi dalam perkembangan PGD melalui peningkatan tekanan sistemik dan intraglomerular, yang akan mengaktivasi jalur hormon vasoaktif seperti Renin Angiotensin System (RAS) dan endoteli
c. Penyakit Jantung
Adanya resistensi insulin dan hiperglikemia kronik dapat mencetuskan inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan availabilitas nitrit oksida endotel vaskuler. Kerusakan endotel akan menyebabkan terbentuknya lesi aterosklerosis koroner yang kemudian berujung pada penyakit
9
kardiovaskuler (CVD). Komplikasi makrovaskular yang sering pada penderita DMT2 adalah penyakit arteri koroner, penyakit arteri perifer, dan penyakit pembuluh arteri karotis.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis medis diabetes mellitus diantarannya (Rahmasari & Wahyuni, 2019).
a. Pemeriksaan Gula Darah Puasa atau Fasting Blood Sugar
Menentukan jumlah glukos darah pada saat puasa. Tidak makan selama 12 jam sebelum test biasanya jam 08.00 pagi sampai jam 20.00 namun masih diperbolehkan minum . Hasil: Normal yaitu 80-120 mg/100 ml serum dan Abnormal apabila nilai GDP 140 mg/100 ml atau lebih.
b. Pemeriksaan gula darah postprandial
Dilakukan 2 jam setelah makan atau setelah minum. Angka diatas 130 mg/dl mengindikasikan terjadinya diabetes.
c. Pemeriksaan ketone urine
Badan keton merupakan produk sampingan dari proses pemecahan lemak, dan senyawa ini akan menumpuk pada darah dan urine. Jumlah ketone yang besar pada urine akan mengubah pereaksi pada strip menjadi keunguan adanya ketonuria menunjukkan adanya ketoasidosis.
d. Pemeriksaan Hemoglobin A1c (HbA1c)
Pemeriksaan HbA1c (hemoglobin A1c) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis dan mengontrol kondisi diabetes. Pemeriksaan HbA1c berfungsi untuk mengukur rata-rata jumlah hemoglobin A1c yang berikatan dengan gula darah (glukosa) selama tiga bulan terakhir. Durasi ini sesuai dengan siklus hidup sel darah merah, termasuk hemoglobin, yaitu tiga bulan. Angka Hb1C yang melebihi 6,5% menunjukkan terjadinya diabetes
e. Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
10
TTGO adalah salah satu metode pemeriksaan untuk mendiagnosis diabetes. Tes ini mengukur kemampuan tubuh dalam menyerap glukosa di dalam darah. TTGO melibatkan pengambilan sampel darah sebelum dan setelah pasien mengonsumsi cairan glukosa. Sampel darah akan digunakan untuk mengukur kadar gula dalam darah.
Setelah berpuasa sebelum pemeriksaan kemudian pasien diberi air dengan 75 gr gula, dan akan diuji selama periode 24 jam. Angka gula darah yang normal dua jam setelah meminum cairan tersebut harus <
dari 140 mg/dl.
f. Tes glukosa darah dengan finger stick
Jari ditusuk dengan sebuah jarum, sample darah diletakkan pada sebuah strip yang dimasukkan kedalam celah pada mesin glukometer, pemeriksaan ini digunakan hanya untuk memantau kadar glukosa yang dapat dilakukan dirumah.
H. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus a. Terapi nonfarmakologis
1. Edukasi
Tujuan dari edukasi adalah mendukung usaha pasien yang menderita DM untuk mengerti perjalanan alami penyakitnya, mengetahui cara pengelolaannya, mengenali masalah kesehatan atau komplikasi yang mungkin timbul secara dini, ketaatan perilaku pemantauan dan pengelolaan penyakit secara mandiri, disertai perubahan perilaku kesehatan yang diperlukan (Rahmasari
& Wahyuni, 2019). 2. Latihan jasmani
Latihan jasmani secara teratur (3-4 kali seminggu selama 30 menit/
kali), merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DM . Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, dan berkebun harus tetap dilakukan. Latihan jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan adalah
11
berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, joging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan. Sementara bagi mereka yang sudah mengalami komplikasi DM, intensitas latihan jasmani dapat dikurangi (Decroli, 2019)
3. Terapi diet
Persentase asupan karbohidrat yang dianjurkan untuk pasien DM adalah sebesar 45-65% dari kebutuhan kalori total.
Persentase asupan lemak yang dianjurkan adalah sekitar 20-25%
dari kebutuhan kalori total. Asupan lemak ini tidak diperkenankan melebihi 30% dari kebutuhan kalori total. Persentase asupan lemak jenuh yang dianjurkan adalah kurang 7 % dari kebutuhan kalori total. Persentase asupan lemak tidak jenuh ganda yang dianjurkan adalah kurang 10 % dari kebutuhan kalori total.
Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah bahan makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain : daging berlemak dan susu penuh (whole milk). Anjuran konsumsi kolesterol adalah kurang 300 mg/hari. Persentase asupan protein yang dianjurkan adalah sebesar 10 – 20% dari kebutuhan kalori total. Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi, dll), daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan tempe. Pada pasien dengan PGD perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kgBB perhari atau sekitar 10% dari dari kebutuhan kalori total. Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran asupan natrium untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mg atau sama dengan 6-7 g (1 sendok teh) garam dapur.
Pada pasien DM dengan hipertensi, pembatasan asupan natrium diperlukan yaitu tidak lebih dari 2,4g garam dapur.
Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan
12
bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. Seperti halnya masyarakat umum penderita diabetes dianjurkan mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung vitamin, mineral, serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.
Anjuran konsumsi serat adalah sekitar 25 g/1000 kkal/hari.
Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis bergizi dan pemanis tak bergizi. Pemanis bergizi meliputi gula alkohol dan fruktosa. Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol, dan xylitol. Dalam penggunaannya, pemanis bergizi perlu diperhitungkan kandungan kalorinya. Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena dapat mempengaruhi kadar lemak darah. Pemanis tak bergizi seperti aspartam, sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame (Decroli, 2019).
b. Terapi Farmakologis
Pengaturan farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani.
Intervensi farmakologis terdiri atas pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan injeksi insulin (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2021)
1. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Berdasarkan cara kerjannya, OHO dibagi menjadi empat golongan:
a) Sulfonilurea
OHO golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya.
Sulfonilurea bekerja dengan cara menstimulasi penglepasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin, dan meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. Contoh obat sulfonilurea generasi pertama adalah asetoheksamida, klorpropamida, tolazamida, dan tolbutamida,
13
sedangkan generasi kedua antara lain gliburida (glibenklamida), glipizida, glikasida, glimepirida, dan glikuidon
b) Glinid
Merupakan obat yang cara kerjannya sama dengan sulfonylurea, dengan penakanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri atas dua macam obat yaitu Repaglinid (devisat asam benzoate) dan Neteglinid (devrivat fenilalanin). Obat ini diabsrobsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat malalui hati c) Penambah sensitivitas terhadap insulin
Tiazolidindion (rosiglitazone dan pioglitazone) berikatan pada PPAR-y, suatu reseptor inti di sel otot dan lemak. Golongan ini memiliki efek menurunkan ristensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer.
d) Penghambat gluconeogenesis (Metformin)
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati disamping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
2. Injeksi Insulin
Insulin adalah hormon yang dihasilkan dari sel β pankreas dalam merespon glukosa. Insulin mempunyai peran yang sangat penting dan luas dalam pengendalian metabolisme, efek kerja insulin adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel.
I. Deteksi Dini Diabetes Melittus
Faktor yang menyebabkna kita harus mendeteksi dini DM karena angka penderita DM diindonesia semakin tahun semakin meningkat.banyak masyarakat yang hanya melihat penyakit dari menular atau tidaknya saja, akan tetapi penyakit juga harus dilihat dari segi kronis atau tidaknya. Salah satu PTM adalah diabetes yang cukup memberatkan masyarakat dari segi politik dan kesehatan. Banyak orang yang menggangap masalah gula adalah masalah sepele namun nyatanya
14
masalah gula ini akan berdampak dalam kehidupan kita. Hal yang ng paling utama yaitu mendeteksi secara awal penyakit diabetes mellitus . Ini merupakan tahap terpenting karena berguna untuk mengetahui status diabetes tersebut sehingga cepat tertangani. Lalu tahap selanjutnya adalah penanganan dan yang terakhir adalah tahapan pencegahan dengan mengurangi resiko pemicu Diabetes. Tahap yang tidak kalah penting yaitu melakukan respon yang dilakukan di berbagai lingkungan seperti keluarga, komunitas dan swasta sehingga masyarakat menjadi sadar akan bahaya dari Penyakit Tidak Menular (PTM) terutama Diabetes. Tahap pencegahan juga harus dilakukan oleh masyarakat dengan cara Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan mengaplikasikan CERDIK yaitu cek kesehatan, enyahkan roko, rajin olahraga, Diet sehat dan seimbang, Istirahat dan Kelola stres.
Upaya yang dapat dilakukan dalam deteksi dini DM yaitu : Deteksi Dini diabetes melitus dilakukan melalui pemeriksaan gula darah sewaktu dan gula darah puasa 2 jam sebelum pemeriksaan GDS. Metode pengambilan sampel darah sebagai berikut (Agustina et al., 2021):
a. Pemeriksaan gula darah sewaktu
Pemeriksaan gula darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja tanpa perlu berpuasa dan tanpa perlu memperhatikan kapan terakhir kita makan, tes ini dapat dilakukan untuk memantau kadar gula darah pada penderita Diabetes atau untuk menilai tinggi rendahnya kadar gula.
Glukosa darah sewaktu merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan setiap hari tanpa memperhatikan makanan yang dimakan dan kondisi tubuh responden tersebut. Pemeriksaan ini dilakukan sebanyak 4 kali sehari pada saat sebelum makan dan sebelum tidur sehingga dapat dilakukan secara mandiri.
b. Pemeriksaan gula darah puasa 2 jam sebelum pemeriksaan GDS
Glukosa gula darah puasa ini merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan pada pasien yang melakukan puasa 2 jam sebelum melakukan pemeriksaan kadar gula darah. Pasien melakukan puasa sebelum melakukan tes untuk menghindari adanya peningkatan
15
gula darah lewat makanan yang mempengaruhi hasil tes. Glukosa 2 jam setelah makan merupakan pemeriksaan kadar glukosa darah yang dilakukan 2 jam dihitung setelah pasien selesai makan.
16 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi ins harus inulin. Banyak masyarakat hanya melihat penyakit dari menular atau tidaknya saja, akan tetapi penyakit juga harus dilihat dari segi kronis atau tidaknya. Salah satunya yaitu PTM diabetes. Banyak komplikasi yang disebebkan karena DM oleh karena itu , kita mendeteksi dini agar kita dapat lebih waspada dan dapat megubah pola kesehatan kita
B. Saran
Dengan adanya makalah ini, pembaca diharapkan harus lebih memperhatikan kesehatan dan mengetahui cara deteksi dini DM
17
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, V., Irma, M., Fanisa, T., Arum, C., Wulandari, D., Weya, A., Gritly, O.,
& Lampongajo, C. (2021). Deteksi Dini Penyakit Diabetes Melitus.
Pengabdian Masyarakat, 02(02), 300–309.
https://ejournal.uksw.edu/jms/article/view/5891
American Diabetes Association. (2016). Diabetes guidelines. Diabetes Care, S1–
106.
Decroli, E. (2019). Diabetes Melitus Tipe 2. Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Jannah, R. (2019). Analisis Faktor yang Mempengaruhi Diabetes Melitus.
Repository Unair. https://repository.unair.ac.id/93539/
KEMENKES RI. (2020). Infodatin Diabetes Melitus.
Mahadewi, N. L. P. (2019). Gambaran Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Dengan Gangguan Ganggguan Integritas Kulit Di Ruang Oleg RSUD Mangusada Badung 2019. Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. (2021). PEDOMAN PENGELOLAAN DAN PENCEGAHAN DIABETES MELITUS TIPE 2 DEWASA DI INDONESIA. PB. PERKENI.