• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN REDAKSI - uinsby.ac.id

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DEWAN REDAKSI - uinsby.ac.id"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

Pada Gambar 4, jumlah sel terbanyak dapat dilihat pada perlakuan fotoperiode 12:12 untuk setiap variasi limbah cair tahu. Berdasarkan seluruh variasi volume limbah cair tahu pada Gambar 5, lipid tertinggi dihasilkan pada perlakuan 20% dan 0%.

Gambar 1. Chamber Cahaya
Gambar 1. Chamber Cahaya

Pengaruh Volume Limbah Cair Tahu dan Fotoperiod terhadap Efisiensi

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang terlihat pada Gambar 5 yaitu pada saat sel memasuki fase kematian maka lipid yang dihasilkan mengalami penurunan.

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (BPPT) dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Samarinda. Peningkatan kandungan lipid pada kultur Arthrospira Maxima (Setchell & N.L Gardner) sebagai biodiesel dengan media limbah cair tahu.

INTRODUCTION

In developing countries, a majority of the population does not have access to proper sanitation. The deterioration of the environment and public health has an impact on the economic aspect.

METHOD

The aspects to be evaluated are the type of program implemented, influencing factors, the result of the program. The factors that influence the success and sustainability of the program will be studied further.

RESULT AND DISCUSSION

  • Case study area description
  • Description of programs implemented .1 Community-Led Total Sanitation
    • PAMSIMAS
  • Result of program implementation In the first case study that is implemented
  • Factors influencing success and failure Like every activity there are supporting

In household waste management, the goal of improving human health and environmental quality can be achieved through the involvement of the local community. (Ismail &. In the second case study, since the implementation of CLTS in 2009, only about 8.51% of the community or as many as 60 people in the village of Perning still frequently defecate in the open.

Table 2. Supporting and Inhibiting factors  Case
Table 2. Supporting and Inhibiting factors Case

CONCLUSION

Community participation can be in the form of money, materials, manpower, skills, ideas, social, decision-making, representation. Of the 4 case studies above, only one case study clearly mentioned that they received funding from the government.

& Novotny, 2018) However, there are some cases where the implementation of local community bylaws that are accepted by community members can result in changing social norms. A systematic review of success factors in community management of rural water supplies over the past 30 years.

Analisis Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat untuk Berpartisipasi dalam Program Citarum Harum

PENDAHULUAN

Perilaku masyarakat terhadap lingkungan memegang peranan penting dalam penanggulangan pencemaran dan pelaksanaan program Citarum Harum karena pelaku utamanya adalah masyarakat DAS Citarum yang terlibat langsung khususnya dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah (Erianti & Djelantik, 2019). Selain itu, perilaku juga menunjukkan kepedulian dan komitmen masyarakat sebagai wujud partisipasinya dalam program Citarum Harum. Model TPB yang dikembangkan oleh Hu berfokus pada niat perilaku seseorang untuk berpartisipasi dalam program peduli lingkungan yang selaras dengan konteks penelitian ini (Hu, Zhang, Wang, Yu, & Chu, 2019).

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi niat perilaku masyarakat untuk mengikuti program Citarum Harum. Dalam penelitian ini dikembangkan model berdasarkan tujuan penelitian yang ingin dicapai yaitu mengetahui faktor-faktor Theory of Planned Behavior yang mempengaruhi Behavioral Intention masyarakat untuk mengikuti program Citarum Harum. Insentif merupakan salah satu faktor ekonomi atau non-ekonomi yang akan mempengaruhi perilaku seseorang dan membuat perilaku peduli lingkungan menjadi lebih menarik dan menyenangkan untuk dilakukan (Hu, et al., 2018).

Karena faktor ekonomi (kompensasi, uang, dll) merupakan faktor yang sangat penting dan dapat mengubah perilaku seseorang secara positif ketika dihadapkan pada sesuatu yang baru seperti suatu program, terutama mengenai program peduli lingkungan (Hu, dkk. Dan juga faktor non ekonomi pada Misalnya, penghargaan juga berdampak pada individu atau seseorang yang dihadapkan pada pilihan apakah akan berpartisipasi dalam suatu program atau sesuatu yang baru baginya (Hu et al., 2019). Hu, et al., (2019) adalah kemampuan untuk menempatkan program ke dalam praktek.

Gambar 1 Presentase penyebab pencemaran DAS  Citarum
Gambar 1 Presentase penyebab pencemaran DAS Citarum

METODE PENELITIAN 1 Sampel Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Evaluasi Model Pengukuran

Hasil perhitungan yang disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh variabel telah memenuhi uji model pengukuran validitas konvergen, validitas diskriminan, dan reliabilitas. Evaluasi model struktural menggambarkan hubungan antar variabel laten yang terbagi menjadi variabel eksogen dan variabel endogen (Ghozali, 2014). Nilai r-square (r2) yang ditunjukkan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel ATT mempunyai nilai sebesar 0,204 yang berarti variabel ETK dan EPK mampu menjelaskan variabel ATT sebesar 20,4%.

Relevansi prediktif (Q2) yang ditunjukkan pada Tabel 3 menunjukkan bahwa variabel ATT dan BI mempunyai relevansi prediktif yang baik (Q2) karena nilainya di atas 0 (Ghozali, 2014). H1, H2 dan H3 merupakan faktor yang mempengaruhi niat dan perilaku masyarakat dalam membuang sampah berdasarkan teori perilaku terencana (TPB). Hal ini sesuai dengan penelitian Yadaf & Pathak (2016) yang menyatakan bahwa Pengetahuan Teori Lingkungan (ETK) mempunyai pengaruh positif terhadap Attitude Toward Behavior (ATT).

Hal ini dapat diartikan bahwa norma pribadi (PN) mempunyai pengaruh positif yang signifikan terhadap niat berperilaku masyarakat (BI) untuk mengikuti program Citarum Harum. Dapat diartikan bahwa perilaku masa lalu (PB) tidak memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap niat perilaku masyarakat (BI) untuk berpartisipasi dalam program Citarum Harum. Sedangkan faktor Pengetahuan Teori Lingkungan (ETK) dan Pengetahuan Praktik Lingkungan (EPK) berpengaruh langsung terhadap sikap terhadap perilaku (ATT) masyarakat saat mengikuti program Citarum Harum.

Tabel 3. Nilai r-square dan predictive relevance
Tabel 3. Nilai r-square dan predictive relevance

Sistem Penyediaan Air Minum Kabupaten Manggarai dengan Sistem Zonasi di Desa Bangka Kenda

  • METODE PERENCANAAN
  • Kondisi Eksisting Broncapturing M
  • Pengukuran elevasi dan jarak
  • Perhitungan dimensi perpipaan Dimensi perpipan jaringan distribusi
  • Permodelan EPANET V2.0
    • HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikutnya PDAM Tirta Komodo ingin mengembangkan layanan air minum di desa Bangka Kenda, Golo Wua, Golo Watu dan Poco (Utama dkk, 2018). Berdasarkan RISPAM 2016 Kabupaten Manggarai, Kecamatan Ruteng merupakan daerah sasaran pengembangan air minum di Kabupaten Manggarai (Tim Konsultan Lumbung Cita Laksana 2016). Oleh karena itu, diperlukan perencanaan rinci sistem penyediaan air minum dengan sumber air dari Mata Air Wae Decer untuk meningkatkan pelayanan air minum di Kabupaten Manggarai.

Jaringan distribusi air minum di desa Bangka Kenda dimulai dari waduk distribusi yang terletak dekat dengan pintu masuk desa. Berdasarkan hasil perhitungan pada jaringan distribusi, diperoleh tekanan yang bervariasi dari reservoir hingga setiap ujung jaringan distribusi. Warga Desa Bangka Kenda juga tinggal di sana di jalur utama dan membangun rumah sehingga tersedia juga air minum di jalur utama.

Hasil analisis jaringan distribusi air minum menggunakan pemodelan EPANET memberikan nilai tekanan yang memuaskan (Jumanalmath dan Shivapur 2017). Pemanfaatan software EPANET dalam dunia jaringan air minum merupakan suatu kemajuan dalam teknologi penyediaan air minum (Nallanathel et al. 2018). Perencanaan jaringan distribusi di Desa Bangka Kenda menghasilkan nilai tekanan air berkisar antara 5,76 meter hingga 93,82 meter.

Tabel 1 Koefisien kekasaran pipa  Bahan Pipa Distribusi  Nilai C
Tabel 1 Koefisien kekasaran pipa Bahan Pipa Distribusi Nilai C

Analisa Dampak Pembuangan Limbah Pengolahan Tepung Ikan Terhadap Kualitas Air Sungai dan Ekosistem Mangrove di

Sungai Kalimireng, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik

METODE PENELITIAN

Kadar TSS pada Sungai Kalimireng masih dibawah baku mutu kadar TSS untuk mutu air Kelas III berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 dan berjumlah 400 mg/L. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air selama pengamatan, nilai TDS di lokasi penelitian adalah mg/L, dan baku mutunya adalah kadar TDS. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 adalah baku mutu mutu air dengan pH kelas III 6 – 9.

Nilai tersebut masih memenuhi baku mutu air Kelas III berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan COD pada Sungai Kalimireng tidak memenuhi baku mutu air Kelas III berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 .2001 sebesar 50 mg/L. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001, baku mutu kadar BOD untuk mutu air Kelas III adalah 6 mg/L.

Parameter kualitas air Sungai Kalimireng yang memenuhi baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 untuk mutu air kelas III adalah pH, ​​TSS, DO dan BOD. Status indeks pencemaran Sungai Kalimireng termasuk kategori pencemaran ringan dengan nilai indeks pencemaran kualitas air sebesar 0,05 – 8. Pengaruh Pembuangan Limbah Cair Industri Tahu Terhadap Kualitas Air Sumur di Desa Krobokan Kota Semarang.

Tabel 2. Standar baku kerusakan hutan mangrove   Kriteria
Tabel 2. Standar baku kerusakan hutan mangrove Kriteria

Analisis Timbulan Sampah Pasar Tradisional (Studi Kasus

Pasar Ujungberung, Kota Bandung)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sampling Timbulan Sampah

Hasil perhitungan menunjukkan volume sampah yang dihasilkan di Pasar Ujungberung hanya berkisar m3/hari. Padahal, TPS pasar yang didirikan sudah mempunyai kapasitas yang cukup untuk melayani kebutuhan pasar Ujungberung. Secara umum terlihat pada tabel diatas bahwa sampah yang ada di pasar Ujungberung didominasi oleh sampah plastik, kertas dan organik.

Sampah plastik lain yang mendominasi komposisi Pasar Ujungberung adalah penggunaan kantong plastik sebagai wadah utama dalam kegiatan jual beli. Berdasarkan hasil kuesioner terhadap 85 responden diketahui bahwa 31% pedagang di Pasar Ujungberung tidak pernah menangani sampah yang dihasilkannya. Meski Pasar Ujungberung merupakan pasar tradisional, namun komposisi sampah terbesarnya tidak didominasi sampah organik, melainkan sampah plastik.

Hal ini disebabkan heterogenitas pasar Ujungberung sehingga terdapat 30 jenis barang mulai dari makanan pokok hingga perhiasan. Pada dasarnya fasilitas TPS di Pasar Ujungberung sudah mencukupi untuk melayani kebutuhan penyimpanan sampah sementara pasar, namun karena letak pasar yang strategis dan dekat dengan pemukiman penduduk, kawasan pertokoan dan terminal, maka TPS tersebut bukan lagi TPS pasar, melainkan bekas. sebagai TPS umum. Walaupun kebersihan Pasar Ujungberung dikelola oleh PD Kebersihan, namun hal tersebut belum cukup karena diperlukan kerjasama yang baik antara petugas kebersihan dengan pedagang pasar sebagai konsumen untuk menghasilkan pengelolaan sampah yang lebih baik.

Tabel 2 Timbulan Sampah Selama Sampling
Tabel 2 Timbulan Sampah Selama Sampling

Pengaruh Waktu Tinggal dan Media Tanam pada Constructed Wetland untuk Mengolah Air Limbah Industri Tahu

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Awal Limbah Tahu

Nilai pH air limbah yang netral menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di sistem lahan basah yang dibangun adalah baik. Penelitian yang dilakukan oleh (Sukmawati & Pungut, 2014) menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan kadar BOD5 pada air limbah rumah sakit domestik menggunakan pasir dengan waktu retensi 2 hari adalah sebesar 59. Gambar 4 menunjukkan bahwa tingkat efisiensi penyisihan BOD5 tertinggi adalah 1. 18 jam dengan efisiensi penyisihan sebesar 50,52%.

Berdasarkan Gambar 5 terlihat efisiensi penyisihan COD tertinggi terjadi pada operasi 12 jam ke-4 dengan efisiensi penyisihan sebesar 28,25%. Berdasarkan Gambar 6 terlihat efisiensi penyisihan COD tertinggi terjadi pada operasi 18 jam ketiga dengan penyisihan sebesar 41,68%. Berdasarkan Gambar 7 terlihat efisiensi penyisihan COD tertinggi terjadi pada 12 jam pertama pengoperasian dengan efisiensi penyisihan sebesar 35,50%.

Berdasarkan Gambar 8 terlihat efisiensi penyisihan COD maksimum terjadi pada 18 jam pertama pengoperasian dengan efisiensi penyisihan sebesar 55,02%. Pemanfaatan lahan basah buatan Typha latifolia untuk menurunkan kadar COD pada air limbah domestik dengan menggunakan campuran biochar dan tanah dengan waktu tinggal selama 24 jam mampu menurunkan kadar COD dengan efisiensi sebesar 86% (Vijay et al., 2017). Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa efisiensi maksimum dalam menurunkan kadar BOD5 dan COD dicapai pada reaktor yang menggunakan media dengan biochar dan waktu retensi 18 jam dengan efisiensi penyisihan sebesar 50,52% untuk BOD5 dan 55,02% untuk COD .

Gambar 1 Grafik Efisisensi Penyisihan Kadar BOD 5
Gambar 1 Grafik Efisisensi Penyisihan Kadar BOD 5

Gambar

Gambar 3.  Bentuk  sel  mikroalga  Scenedesmus  sp.
Gambar 5.  Grafik  hubungan  volume  limbah  cair  tahu  terhadap  kadar  lipid  pada  variasi  fotoperiod  (a) 16:8, (b) 14:10, (c) 12:12, dan (d) 24:0
Gambar 6.  Grafik hubungan volume limbah cair tahu  dan  fotoperiod  terhadap  efisiensi  penurunan parameter COD
Tabel 1 Hasil Konsentrasi COD Awal dan Akhir  Kultivasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

ON RELIGIOUS DRESS Sacred Congregation for Religious and Secular Institutes This Sacred Congregation has been receiving reports from various countries that religious men and women, in