Dharmasisya Dharmasisya
Volume 1 NOMOR 3 SEPTEMBER 2021 Article 27
November 2021
PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI POLITIK YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN POLITIK YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)
DAN BELANJA NEGARA (APBN)
Suci Monawati Sukma [email protected]
Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya
Part of the Administrative Law Commons, Civil Law Commons, Constitutional Law Commons, Criminal Law Commons, and the International Law Commons
Recommended Citation Recommended Citation
Sukma, Suci Monawati (2021) "PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI POLITIK YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)," Dharmasisya: Vol. 1 , Article 27.
Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya/vol1/iss3/27
This Article is brought to you for free and open access by the Faculty of Law at UI Scholars Hub. It has been accepted for inclusion in Dharmasisya by an authorized editor of UI Scholars Hub.
PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI POLITIK YANG PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI POLITIK YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN) BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN)
Cover Page Footnote Cover Page Footnote
Ratnah S, Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Defisit APBN Indonesia, Jurnal Economix, Vol. 3, No.
2, Desember 2015, hal. 2. Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Jakarta : Sekretariat Jenderal MPR RI, 2002), Pasal 23 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 119 Miftah Thoha, Birokrasi &
Politik di Indonesia, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 97 Pengaturan Bantuan Partai Politik yang Bersumber dari APBN/APBD, melalui http://bandaaceh.bpk.go.id/wp-content/uploads/2017/11/
PENGATURAN-BANTUAN-PARTAI-POLITIK-YANG-BERSUMBER-DARI-APBN-APBD.pdf, yang diakses pada 20 Desember 2019. Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik dan lihat juga dalam Pasal 34 ayat 3 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3) Yoga Sukmana, “BPK : Banyak Masalah dalam Pertanggungjawaban Bantuan Dana Parpol melalui : https://money.kompas.com/read/2019/09/18/103000726/bpk---banyak-masalah-dalam- pertanggungjawaban-dana-bantuan-parpol?page=all, diakses pada 20 Desember 2019 Payerli Pasaribu, Peranan Partai Politik dalam Melaksanakan Pendidikan Politik, Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik, hal. Vol. 5, No. 1, 2017, hal. 54 Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801, Pasal 34 Patty Regina, Rafli Fadilah Achmad, dan Valeryan Natasha, “Makalah : Pemberian Dana APBN kepada Partai Politik, (Depok : Universitas Indonesia, 2015), diakses melalui https://www.academia.edu/14086946/Pemberian_Dana_APBN_Kepada_Partai_Politik CNN Indonesia,
“Wacana APBN untuk Parpol dan Ancaman Masalah Baru”, melalui https://www.cnnindonesia.com/
nasional/20181205140243-32-351334/wacana-apbn-untuk-parpol-dan-ancaman-masalah-baru, diakses pada 21 Desember 2019 Faisal, Bariroh Barid, dan Didik Mulyanto, Pendanaan Partai Politik di Indonesia Mencari Pola Pendanaan Ideal untuk Mencegah Korupsi, Jurnal KPK, Vol 4, No. 1, Juni 2018, hal. 281 CNN Indonesia, “Wacana APBN untuk Parpol dan Ancaman Masalah Baru”, melalui
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181205140243-32-351334/wacana-apbn-untuk-parpol-dan- ancaman-masalah-baru, diakses pada 21 Desember 2019 Lihat dalam Pasal 9 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik, PP Nomor 1 Tahun 2018, Lembaran Negara Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6177 dan lihat juga dalam Pasal 34 ayat 3 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Tentang Pedoman Tata Cara Penghitungan, Penganggaran dalam APBD, dan Tertib
Administrasi Pengajuan, Penyaluran, dan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014, Berita Negara Tahun 2014 Nomor 1744, Pasal 25 Alex Victor Wanma, Pentingnya Pendidikan Politik Generasi MudaTerhadap Partisipasi Politik di Distrik Samofa Kabupaten Biak Numfor, Jurnal Politico, Vol. 2, No. 6, 2015, hal. 6 Mustafa Lutfi, Hukum Sengketa Pemilukada di Indonesia (Yogyakarta, UII Press, 2010), hal.115 Halking, Aspek-Aspek Pendidikan Politik dalam Kehidupan Demokrasi untuk Mewujudkan Kecakapan Warga Negara yang Smart and Good Governance, Jurnal Ilmu Sosial, Vol. 4, No. 3, Tahun 2018, hal. 1206 Moeljarto Tjokrowinoto, Birokrasi dalam Polemik (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hal. 21 Moch Nurhasim, Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014 (Jakarta : Graha Wiya Lipi, 2014), hal. 41 Muhammad Arifin Nasution, Peranan Partai Politik dalam Pendidikan Politik dan Wawasan Kebangsaan, Jurnal Politeia, Vol. 4, No 1, hal. 36 Angga Natalia, Peran Partai Politik Dalam Mensukseskan Pilkada Serentak di Indonesia Tahun 2015,Jurnal Pemikiran Politik Islam, Vol. 11, No. 1, 2015, hal. 66 Deddy Ismatullah v. Enung Nurjanah, Politik Hukum Kajian Hukum Tata Negara (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2018), hal. 39 Miftah Thoha, Birokrasi
Politik di Indonesia, (Jakarta:Rajawali Pers, 2016), hal. 97 Sodikin, Hukum Pemilu Sebagai Praktek Ketatanegaraan (Bekasi : Gramata Publishing, 2014), hal. 217 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum:
Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta : Genta Publishing, 2009), hal. 1 Suhartono, “Tesis : Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan dalam Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara (Solusi Penyerapan Anggaran Belanja Negara yang Efisien dan Akuntabel”, Magister Hukum Universitas Indonesia, 2011.
Dalam Patty Regina, Rafli Fadilah Achmad, dan Valeryan Natasha, “Makalah : Pemberian Dana APBN kepada Partai Politik, (Depok : Universitas Indonesia, 2015), Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Pasal 39 Sekar Anggun Gading Pinilih, Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Pengaturan Keuangan Partai Politik, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 29, No. 1, Februari 2017 Rooseno, Penelitian Hukum tentang Akuntabilitas Pendanaan Partai Politik dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, (Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan HAM RI, 2014), hal. 38 Republik Indonesia, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Pemeriksaan Laporan Pertanggungjawaban Partai Politik, Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2015, Berita Negara Tahun 2015 Nomor 136, Pasal 8 Republik Indonesia, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Pemeriksaan Laporan Pertanggungjawaban Partai Politik, Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2015, Berita Negara Tahun 2015 Nomor 136, Pasal 9 Lihat dalam Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik Komisi Informasi Pusat, “Transparansi Pendanaan Parpol,” melalui https://komisiinformasi.go.id/?p=2166 diakses pada 20 Desember 2019 Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2012/04/04/19393778/Laporan.Keuangan.
Parpol.Tertutup.Bisa.Indikasi.Korupsi dalam Rooseno Penelitian Hukum tentang Akuntabilitas Pendanaan Partai Politik dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, hal. 24
This article is available in Dharmasisya: https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya/vol1/iss3/27
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
PROBLEMATIKA KENAIKAN BANTUAN KEUANGAN PARTAI POLITIK YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
NEGARA (APBN) Suci Monawati Sukma
Fakultas Hukum Universitas Indonesia Korespodensi: [email protected]
Abstrak
Terbentuknya partai politik berasal dari sekelompok warga negara yang secara sukarela memiliki persamaan kehendak untuk memperjuangkan kepentingan negara, masyarakat, bangsa dan negara, hal ini menjadi awal mula mengapa partai politik layak untuk didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena pada dasarnya partai politik itu terdiri dari warga negara juga. Pasca diberlakukannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bantuan Partai Politik (Banparpol), bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN dinaikkan menjadi Rp. 1000,00/suara sah. Kenaikan dana partai politik ini didasari dengan tujuan menekan angka korupsi. Permasalahan seperti korupsi dianggap bisa diatasi dengan diberlakukannya mekanisme kenaikan pendanaan dari APBN kepada partai politik, dimana nantinya sumber pendanaan dari APBN ini menjadi sumber utama keuangan partai. Adanya mekanisme pendanaan dari APBN ini tentunya akan menutup kemungkinan adanya sumbangan yang ilegal dan memiliki kepentingan khusus, karena kebutuhan anggaran partai sudah tercukupi dan tertutupi dengan dana yang berasal dari APBN. Hal ini akan memberi ruang bagi negara melakukan audit terhadap partai politik itu sendiri. Negara memiliki kewenangan untuk membubarkan partai politik yang terindikasi melanggar ketentuan pembiayaan tersebut. Terhadap bantuan keuangan yang diberikan negara kepada partai politik, partai politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran bantuan keuangan dari APBN dan kepada BPK setahun sekali. Terhadap partai politik yang tidak memberikan laporan pertanggungjawabannya, maka akan dikenai sanksi administratif, yaitu tidak akan menerima bantuan keuangan pada tahun berikutnya sampai pemerintah menerima laporan pertanggungjawaban oleh partai politik tersebut.
Kata Kunci : APBN, Partai Politik, Bantuan keuangan, Pendanaan, Laporan Abstract
The formation of political parties comes from citizens who voluntarily have the same will and ideals to fight for the interests of the state, society, nation and state, this is the beginning why political parties deserve to be funded by the APBN, because basically political parties consist of citizen too. Then formed and enacted Law Number 2 of 2011 on Basic Regulation of Political Parties and Government Regulation Number 1 of 2018 on Basic Regulation of Political Party Assistance, the financial assistance of political parties sourced from the APBN was raised to Rp. 1.000,00/votes. The increase in political party funds was based on the aim of suppressing the number of corruption. Problems such as corruption are considered to be overcome by the implementation of a mechanism for increasing funding from the APBN to political parties, where later the source of funding from the APBN will become the main source of party finance. With the existence of a funding mechanism from the state budget, it will certainly cover the possibility of illegal contributions and special interests, because the party's budgetary needs are fulfilled and covered with funds from the APBN. This will provide space for the state to conduct an audit of the political parties themselves. The state has the authority to dissolve political parties that are indicated to violate the funding provisions. With regard to financial assistance provided by the state to political parties, political parties are required to submit accountability reports on the receipt and expenditure of financial assistance from the APBN and to the BPK on a yearly basis. For political parties that do not provide accountability reports, administrative sanctions will be imposed, they will not receive financial assistance the following year until the government receives an accountability report by the political party.
Keywords: APBN, Political Parties, Financial Aid, Funding, Reports.
I. PENDAHULUAN
Setiap penyelenggaraan dan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan pemerintah tiap tahunnya diatur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). APBN merupakan rencana keuangan tahunan yang berfungsi untuk mengatur pengeluaran dan pendapatan negara, baik dalam membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan seperti pembangunan nasional, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas perekonomian dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
1464
DHARMASISYA Vol. I N0. 3 (September 2021)
umum.1 Perumusan APBN tidak dapat dipisahkan dengan konsep keuangan negara, yang artinya perlu melihat dasar hukum ketentuan mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara dalam Pasal 23 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) yang menyatakan :2 “Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesar- besarnya kemakmuran rakyat.”APBN berfungsi untuk mengakomodir kegiatan negara yang tujuannya mencapai kesejateraan masyarakat, salah satunya kegiatan yang berhubungan dengan partai politik.
Partai politik adalah organisasi dari aktivitas-aktivitas politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintahan serta merebut dukungan rakyat atas dasar persaingan dengan suatu golongan atau golongan-golongan lain yang mempunyai pandangan yang berbeda.3 Partai politik dan kekuasaan tidak bisa dipisahkan, karena partai politik diadakan tidak lain untuk mencapai kekuasaan baik di lembaga eksekutif maupun legislatif.4 Dengan demikian, partai politik merupakan perantara yang besar yang menghubungkan kekuatan-kekuatan dan ideologi- ideologi sosial dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan yang mengkaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat yang lebih luas.
Dalam menjalankan kegiatannya, partai politik akan memiliki pengeluaran-pengeluaran yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya. Oleh karena itu, partai politik harus mempunyai sumber keuangan yang jelas dan dikelola dengan baik, agar tugas dan fungsi partai politik tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya.5 Awalnya besaran dana bantuan keuangan parpol yang bersumber dari APBN adalah sebesar Rp. 108,00/suara sah, namun dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018, besaran niai bantuan keuangan kepada partai politik tingkat pusat yang mendapatkan kursi di DPR dinaikkan menjadi Rp 1.000,00/suara sah. Serta besaran nilai bantuan keuangan kepada Partai Politik tingkat provinsi yang mendapatkan kursi di DPRD provinsi sebesar Rp1.200,00 (seribu dua ratus rupiah) per suara sah.6 Kenaikan bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN ini menjadi problematika banyak kalangan, karena dianggap tidak efektif. Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas 10 laporan pertanggungjawaban dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), tidak semua partai politik memiliki bukti pertanggungjawaban dana bantuan yang sah.7 Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya transparansi dan akuntabilitas terkait dengan laporan pertanggungjawaban bantuan keuangan yang selama ini diberikan kepada partai politik. Jika hal ini tidak dibenahi, memberi kenaikan bantuan keuangan yang cukup besar pada partai politik hanya akan menjadi tambahan beban dalam hal pembiayaan negara.
1 Ratnah S, Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Defisit APBN Indonesia, Jurnal Economix, Vol. 3, No.
2, Desember 2015, hal. 2.
2 Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, (Jakarta : Sekretariat Jenderal MPR RI, 2002), Pasal 23
3 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 119
4 Miftah Thoha, Birokrasi & Politik di Indonesia, (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012), hal. 97
5 Pengaturan Bantuan Partai Politik yang Bersumber dari APBN/APBD, melalui http://bandaaceh.bpk.go.id/wp-content/uploads/2017/11/PENGATURAN-BANTUAN-PARTAI-POLITIK- YANG-BERSUMBER-DARI-APBN-APBD.pdf, yang diakses pada 20 Desember 2019.
6 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik dan lihat juga dalam Pasal 34 ayat 3 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik, Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3)
7 Yoga Sukmana, “BPK : Banyak Masalah dalam Pertanggungjawaban Bantuan Dana Parpol melalui : https://money.kompas.com/read/2019/09/18/103000726/bpk---banyak-masalah-dalam-pertanggungjawaban- dana-bantuan-parpol?page=all, diakses pada 20 Desember 2019
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan diatas, maka menarik untuk diangkat menjadi sebuah penelitian dengan permasalahan mengapa pemerintah menaikkan pendanaan terhadap bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN? Lantas bagaimana pertanggungjawaban partai politik terhadap bantuan keuangan yang bersumber dari APBN tersebut?. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan alasan pemerintah menaikkan pendanaan terhadap bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN, dan untuk menjelaskan pertanggungjawaban partai politik terhadap bantuan keuangan yang bersumber dari APBN.
II. PEMBAHASAN
1. Alasan Kenaikan Bantuan Keuangan Partai Politik yang Bersumber dari APBN a. Pendanaan Partai Politik yang Bersumber dari APBN
Terbentuknya partai politik berasal dari sekelompok masyarakat/warga negara yang secara sadar dan sukarela memiliki persamaan cita-cita dalam memperjuangkan kepentingan negara, masyarakat, bangsa dan negara,8 maka hal ini menjadi awal mula mengapa partai politik layak untuk didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), karena pada dasarnya partai politik itu terdiri dari warga negara juga. Artinya pendanaan tersebut diberikan kepada warga negara yang memiliki tujuan untuk memajukan bangsa Indonesia melalui keikutsertaan dalam partai politik. Bantuan keuangan partai politik selain bersumber dari APBN juga bersumber dari iuran anggota dan sumbangan yang sah menurut hukum.9 Pendanaan partai politik selain yang bersumber dari APBN dianggap sebagai penyebab tumbuhnya budaya oligarki di Indonesia.
Mengingat pentingnya fungsi partai politik di suatu negara, besarnya cost politic, dan vitalnya ketersediaan dana politik, menyebabkan pemerintah harus ambil bagian dalam menyelesaikan masalah tersebut. Salah satunya adalah dengan memberikan pendanaan kepada partai politik melalui APBN.10 Selanjutnya, seluruh ketentuan mengenai pendanaan dan bantuan keuangan partai politik termasuk yang bersumber dari APBN diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang kemudian diubah menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011.
b. Alasan Kenaikan Pendanaan Partai Politik yang Bersumber dari APBN
Pasca diberlakukannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik dan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bantuan Partai Politik (Banparpol), bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN dinaikkan menjadi Rp. 1000,00/suara sah. Kenaikan dana partai politik ini didasari dengan tujuan menekan angka korupsi. Bahkan timbul wacana pemerintah ingin mendanai partai politik secara penuh melalui APBN.11
Permasalahan seperti korupsi dianggap bisa diatasi dengan diberlakukannya mekanisme kenaikan pendanaan dari APBN kepada partai politik, dimana nantinya sumber pendanaan dari
8 Payerli Pasaribu, Peranan Partai Politik dalam Melaksanakan Pendidikan Politik, Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik, hal. Vol. 5, No. 1, 2017, hal. 54
9 Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801, Pasal 34
10 Patty Regina, Rafli Fadilah Achmad, dan Valeryan Natasha, “Makalah : Pemberian Dana APBN kepada Partai Politik, (Depok : Universitas Indonesia, 2015), diakses melalui https://www.academia.edu/14086946/Pemberian_Dana_APBN_Kepada_Partai_Politik
11 CNN Indonesia, “Wacana APBN untuk Parpol dan Ancaman Masalah Baru”, melalui https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181205140243-32-351334/wacana-apbn-untuk-parpol-dan-
ancaman-masalah-baru, diakses pada 21 Desember 2019
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
1466
DHARMASISYA Vol. I N0. 3 (September 2021)
APBN ini menjadi sumber utama keuangan partai. Dengan adanya mekanisme pendanaan dari APBN ini tentunya akan menutup kemungkinan adanya sumbangan yang ilegal dan memiliki kepentingan khusus, karena kebutuhan anggaran partai sudah tercukupi dan tertutupi dengan dana yang berasal dari APBN. Adanya sumbangan yang ilegal dan memiliki kepentingan khusus merupakan penyebab utama terjadinya oligarki. Sehingga dengan kenaikan pendanaan dari APBN, partai politik akan mendapatkan dana yang lebih besar dari pemerintah dan sumber- sumber pendanaan lain dapat dikurangi.12 Hal ini akan memberi ruang bagi negara melakukan audit terhadap partai politik itu sendiri. Negara memiliki kewenangan untuk membubarkan partai politik yang terindikasi melanggar ketentuan pembiayaan tersebut.13
Adapun bantuan keuangan partai politik yang bersumber dari APBN berdasarkan Pasal 9 Peraturan Pemerintah tentang Banparpol, diprioritaskan untuk melaksanakan:14 pendidikan politik bagi anggota partai politik (paling sedikit 60%) dan operasional sekretariat partai politik.
Selanjutnya, berdasarkan Pasal 25 Permendagri tentang Banparpol, pendidikan politik berkaitan dengan kegiatan:15
1) pendalaman mengenai Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2) pemahaman mengenai hak-hak dan kewajiban Warga Negara Indonesia dalam membangun etika dan budaya politik;
3) pengkaderan anggota Partai Politik secara berjenjang dan berkelanjutan.
Tujuan pendidikan politik ini ialah menciptakan generasi muda Indonesia yang sadar akan kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai salah satu usaha untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.16 Pada dasarnya semua aspek penyelenggaraan pemilihan umum harus dikembalikan kepada rakyat untuk menentukannya,17 maka sangat perlu terselenggaranya pendidikan politik demi rakyat itu sendiri, karena dengan adanya pendidikan politik memungkinkan lebih terpeliharanya stabilitas serta memperlancar usaha cita-cita dan tujuan nasional.18 Hal ini dapat tercermin dalam pastisipasi masyarakat melalui pemilihan umum.
Namun, cerminan partisipasi politik oleh masyarakat bukan hanya hanya terlibat aktif dalam proses pemberian suara pada pemilihan umum, sejatinya masih terdapat berbagai bentuk partisipasi lain yang berjalan secara berkelanjutan dan tidak terbatas pada masa pemilihan umum tersebut.19 Akan tetapi, dalam hal pemilihan umum menjadi dasar penghitungan angka partisipasi politik dan terlaksananya pendidikan politik kepada masyarakat. Integrasi nasional,
12 Faisal, Bariroh Barid, dan Didik Mulyanto, Pendanaan Partai Politik di Indonesia Mencari Pola Pendanaan Ideal untuk Mencegah Korupsi, Jurnal KPK, Vol 4, No. 1, Juni 2018, hal. 281
13 CNN Indonesia, “Wacana APBN untuk Parpol dan Ancaman Masalah Baru”, melalui https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181205140243-32-351334/wacana-apbn-untuk-parpol-dan-
ancaman-masalah-baru, diakses pada 21 Desember 2019
14 Lihat dalam Pasal 9 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik, PP Nomor 1 Tahun 2018, Lembaran Negara Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6177 dan lihat juga dalam Pasal 34 ayat 3 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik.
15 Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Tentang Pedoman Tata Cara Penghitungan, Penganggaran dalam APBD, dan Tertib Administrasi Pengajuan, Penyaluran, dan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014, Berita Negara Tahun 2014 Nomor 1744, Pasal 25
16 Alex Victor Wanma, Pentingnya Pendidikan Politik Generasi MudaTerhadap Partisipasi Politik di Distrik Samofa Kabupaten Biak Numfor, Jurnal Politico, Vol. 2, No. 6, 2015, hal. 6
17 Mustafa Lutfi, Hukum Sengketa Pemilukada di Indonesia (Yogyakarta, UII Press, 2010), hal.115
18 Halking, Aspek-Aspek Pendidikan Politik dalam Kehidupan Demokrasi untuk Mewujudkan Kecakapan Warga Negara yang Smart and Good Governance, Jurnal Ilmu Sosial, Vol. 4, No. 3, Tahun 2018, hal. 1206
19 Moeljarto Tjokrowinoto, Birokrasi dalam Polemik (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004), hal. 21
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
pembentukan identitas nasional, serta loyalitas kepada negara akan di tunjang pertumbuhannya melalui partisipasi politik. Sejarah mencatat bahwa pemilu yang dilakukan secara bebas dan tanpa tekanan, dengan maksud kebebasan pemilih benar-benar dijamin oleh konstitusi dan undang- undang terjadi sejak tahun 1999.20
Selain tujuannya kepada masyarakat luas, pendidikan politik juga bertujuan untuk pembenahan partai politik itu sendiri, termasuk anggota partai politik secara keseluruhan.
Pengkaderan anggota partai politik perlu dibekali pendidikan partai politik agar dalam menjalankan kegiatannya, anggota partai politik benar-benar memiliki tujuan yang sesuai dengan kehendak bangsa.
Parpol memiliki tanggung jawab besar menghadirkan kandidat-kandidat berkualitas, karenanya parpol harus kuat dan berfungsi penuh di samping para kandidat itu. Sehingga partai politik dapat menjalankan peran dan fungsi sebagai sarana pencapaian cita-cita bangsa.21 Terlebih lagi kandidat yang merupakan kader partai dan bukan dari struktur partai. Dalam kerangka itulah, parpol yang berkonflik perlu berkaca diri dan berikhtiar untuk kembali bersatu.22
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik tidak mengatur tentang sanksi bagi partai politik yang tidak melaksanakan pendidikan politik. Pada kenyataannya bahwa setiap produk hukum merupakan produk keputusan politik, sehingga setiap produk hukum akan ditentukan oleh keseimbangan kekuatan atau konfigurasi politik yang melahirkannya.23 Selain itu partai politik juga tidak bisa dipisahkan dengan kekuasaan. Justru tidak lain partai politik diadakan itu tidak ada lain kecuali untuk mencapai kekuasaan.24 Meskipun dari sudut das sollen ada pandangan bahwa politik harus tunduk pada ketentuan hukum, namun secara das sein hukumlah yang dalam kenyataannya ditentukan oleh konfigurasi politik yang mewarnainya. Padahal sejatinya pendidikan politik merupakan kewajiban yang tertulis didalam undang-undang parpol, tetapi sangat disayangkan dalam undang-undang tersebut tidak mengatur tentang sanksi bagi partai politik yang tidak menjalankan amanat pendidikan politik. Pendidikan politik tentunya sangat diperlukan karena juga efektif untuk mencegah pelanggaran-pelanggaran yang tejadi. Karena proses pemilu adalah sebagai sebuah proses politik yang bukan berarti tanpa permasalahan.25 Sehingga diperlukan pula sanksi yang mengatur mengenai pentingnya pendidikan politik dalam undang-undang partai politik. Keberadaan sanksi dalam aturan hukum sebenarnya adalah mempertegas bahwa ada nilai, ada kebenaran atau ada hukum yang memang layak untuk dipertahankan dan harus dipertahankan yang diatur dalam aturan hukum. Hukum harus diterapkan maka dari itu hukum harus memiliki sanksi. Agar hukum dapat diterapkan hukum harus dipaksakan, paksaan tersebut adalah sanksi. Ketika dalam hukum diletakkan dengan sanksi bagi siapa pun yang melanggarnya maka dengan demkian hukum dapat diberlakukan atau dengan kata lain memiliki kepastian.26 2. Pertanggungjawaban Partai Politik terhadap Bantuan Keuangan yang Bersumber
dari APBN
20 Moch Nurhasim, Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014 (Jakarta : Graha Wiya Lipi, 2014), hal. 41
21 Muhammad Arifin Nasution, Peranan Partai Politik dalam Pendidikan Politik dan Wawasan Kebangsaan, Jurnal Politeia, Vol. 4, No 1, hal. 36
22 Angga Natalia, Peran Partai Politik Dalam Mensukseskan Pilkada Serentak di Indonesia Tahun 2015,Jurnal Pemikiran Politik Islam, Vol. 11, No. 1, 2015, hal. 66
23 Deddy Ismatullah v. Enung Nurjanah, Politik Hukum Kajian Hukum Tata Negara (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2018), hal. 39
24 Miftah Thoha, Birokrasi Politik di Indonesia, (Jakarta:Rajawali Pers, 2016), hal. 97
25 Sodikin, Hukum Pemilu Sebagai Praktek Ketatanegaraan (Bekasi : Gramata Publishing, 2014), hal.
217
26 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis (Yogyakarta : Genta Publishing, 2009), hal.
1
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
1468
DHARMASISYA Vol. I N0. 3 (September 2021)
Filosofi dari APBN adalah sebagai bentuk kepercayaan rakyat kepada pemerintah untuk mengelola keuangan negara sehingga pengelolaannya diharapkan dapat memenuhi syarat akuntabilitas, transparan dan kewajaran.27 Partai politik mempunyai tanggung jawab dalam hal pengelolaan keuangan yakni partai politik wajib menyelenggarakan pengelolaan keuangan secara transparan dan akuntabel.28 Penjewantahan lebih lanjut dari syarat akuntabilitas, transparan dan kewajaran dimanifestasikan melalui adanya mekanisme laporan keuangan terhadap dana yang digunakan dan berasal dari APBN, dimana penggunaannya harus dicatat dan dipertanggungjawabkan sesuai hukum.29
Partai Politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran bantuan keuangan dari APBN dan APBD kepada BPK secara berkala 1 (satu) tahun sekali untuk diperiksa paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir dan BPK sudah selesai memeriksa laporan tersebut 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Selanjutnya BPK menyampaikan hasil pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran tersebut kepada Partai Politik paling lama 1 (satu) bulan setelah pemeriksaan selesai dilakukan.30
Berdasarkan Pasal 8 Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 2 Tahun 2015, adapun laporan pertanggungjawaban yang diserahkan kepada BPK terdiri atas:31 rekapitulasi realisasi penerimaan dan belanja Banparpol dan rincian realisasi belanja dana bantuan partai politik per kegiatan; dan rekapitulasi barang inventaris/modal (fisik), barang persediaan pakai habis, dan penggunaan jasa yang dibiayai dari dana bantuan partai politik. Setelah BPK menerima laporan pertanggungjawaban dari partai politik, BPK akan melakukan pemeriksaan terhadap laporan pertanggungjawaban tersebut yang kemudian akan disampaikan kepada pemerintah.
BPK akan melakukan pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban oleh partai politik.
Pemeriksaan dilakukan terhadap laporan pertanggungjawaban yang telah diterima BPK paling lama satu bulan setelah tahun anggaran berakhir.32 Terhadap dokumen berserta bukti yang terlampir dalam laporan pertanggungjawaban, apabila belum lengkap maka BPK dapat meminta partai poltik untuk melengkapi dokumen. BPK melakukan pemeriksaan tehadap laporan pertanggungjawaban paling lama 3 (tiga) bulan setelah laporan pertanggungjawaban diterima.
BPK selanjutnya menyerahkan laporan hasil pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban bantuan keuangan parpol yang bersumber dari APBN kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai politik.
Apabila partai politik tidak memberikan laporan keuangannya, maka akan dikenakan sanksi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018
27 Suhartono, “Tesis : Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan dalam Pelaksanaan Anggaran Belanja Negara (Solusi Penyerapan Anggaran Belanja Negara yang Efisien dan Akuntabel”, Magister Hukum Universitas Indonesia, 2011. Dalam Patty Regina, Rafli Fadilah Achmad, dan Valeryan Natasha, “Makalah : Pemberian Dana APBN kepada Partai Politik, (Depok : Universitas Indonesia, 2015),
28 Republik Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Pasal 39
29 Sekar Anggun Gading Pinilih, Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Pengaturan Keuangan Partai Politik, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 29, No. 1, Februari 2017
30 Rooseno, Penelitian Hukum tentang Akuntabilitas Pendanaan Partai Politik dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, (Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan HAM RI, 2014), hal. 38
31 Republik Indonesia, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Pemeriksaan Laporan Pertanggungjawaban Partai Politik, Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2015, Berita Negara Tahun 2015 Nomor 136, Pasal 8
32 Republik Indonesia, Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Pemeriksaan Laporan Pertanggungjawaban Partai Politik, Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2015, Berita Negara Tahun 2015 Nomor 136, Pasal 9
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik, menyatakan bahwa :33
(1) Bagi partai politik yang melanggar ketentuan melewati batas waktu atau tidak menyerahkan laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dikenai sanksi administratif berupa tidak diberikan bantuan keuangan APBN/APBD pada tahun anggaran berkenaan sampai laporan pertanggungjawaban diperiksa oleh BPK.
(2) Pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada tahun anggaran berikutnya.
(3) Laporan hasil pemeriksaan BPK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Partai Politik.
Berdasarkan ketentuan diatas, terhadap partai politik yang tidak memberikan laporan pertanggungjawaban terkait dengan penggunaan dana bantuan partai politik dari APBN, maka akan dikenai sanksi administratif. Partai politik tidak akan menerima bantuan keuangan pada tahun berikutnya sampai pemerintah menerima laporan pertanggungjawaban oleh partai politik tersebut. Namun faktanya, partai politik belum mempunyai perangkat transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelelolaan keuangan yang bersumber dari APBN. Studi yang dilakukan Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menunjukkan, bantuan keuangan yang selama ini diberikan kepada partai politik tidak dikelola dengan transparan dan akuntabilitas.34 Banyak laporan pertanggungjawaban yang tidak sesuai dengan bukti yang disertakan. Bahkan berdasarkan data yang diperoleh oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) sebagian besar partai politik cenderung tertutup terhadap laporan keuangan partai maupun sumber keuangan partai. Hal ini menimbulkan dugaan, adanya dana-dana tak wajar yang mengalir ke partai politik selain bantuan dari APBN. Salah satu contoh dari tertutupnya partai politik dalam membuka informasi bantuan keuangan yang diterimanya, ditunjukkan melalui hasil uji akses informasi laporan keuangan yang dilakukan ICW. Seperti partai Hanura yang merupakan satu-satunya dari 9 parpol di parlemen yang tidak bersedia memberikan laporan penggunaan dana APBN.35
III. KESIMPULAN
Permasalahan seperti korupsi dianggap bisa diatasi dengan diberlakukannya mekanisme kenaikan pendanaan dari APBN kepada partai politik, dimana nantinya sumber pendanaan dari APBN ini menjadi sumber utama keuangan partai. Mekanisme pendanaan dari APBN ini tentunya akan menutup kemungkinan adanya sumbangan yang ilegal dan memiliki kepentingan khusus, karena kebutuhan anggaran partai sudah tercukupi dan tertutupi dengan dana yang berasal dari APBN. Adanya sumbangan yang ilegal dan memiliki kepentingan khusus merupakan penyebab utama terjadinya oligarki. Sehingga dengan kenaikan pendanaan dari APBN, partai politik akan mendapatkan dana yang lebih besar dari pemerintah dan sumber-sumber pendanaan lain dapat dikurangi. Hal ini akan memberi ruang bagi negara melakukan audit terhadap partai politik itu sendiri. Negara memiliki kewenangan untuk membubarkan partai politik yang terindikasi melanggar ketentuan pembiayaan tersebut.
Partai Politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran bantuan keuangan dari APBN kepada BPK secara berkala 1 (satu) tahun sekali
33 Lihat dalam Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik
34 Komisi Informasi Pusat, “Transparansi Pendanaan Parpol,” melalui https://komisiinformasi.go.id/?p=2166 diakses pada 20 Desember 2019
35 Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2012/04/04/19393778/Laporan.Keuangan.
Parpol.Tertutup.Bisa.Indikasi.Korupsi dalam Rooseno Penelitian Hukum tentang Akuntabilitas Pendanaan Partai Politik dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, hal. 24
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
1470
DHARMASISYA Vol. I N0. 3 (September 2021)
untuk diperiksa paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir dan BPK sudah selesai memeriksa laporan tersebut 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Selanjutnya BPK menyampaikan hasil pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran tersebut kepada Partai Politik paling lama 1 (satu) bulan setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Terhadap partai politik yang tidak memberikan laporan pertanggungjawaban terkait dengan penggunaan dana bantuan partai politik dari APBN, maka akan dikenai sanksi administratif. Partai politik tidak akan menerima bantuan keuangan pada tahun berikutnya sampai pemerintah menerima laporan pertanggungjawaban oleh partai politik tersebut.
Daftar Pustaka Artikel
Anggun Gading Pinilih, Sekar. Mendorong Transparansi dan Akuntabilitas Pengaturan Keuangan Partai Politik, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. 29, No. 1, Februari 2017
Arifin Nasution, Muhammad. Peranan Partai Politik dalam Pendidikan Politik dan Wawasan Kebangsaan, Jurnal Politeia, Vol. 4, No 1.
Faisal, Bariroh Barid, dan Didik Mulyanto. Pendanaan Partai Politik di Indonesia Mencari Pola Pendanaan Ideal untuk Mencegah Korupsi, Jurnal KPK, Vol 4, No. 1, Juni 2018.
Halking, Aspek-Aspek Pendidikan Politik dalam Kehidupan Demokrasi untuk Mewujudkan Kecakapan Warga Negara yang Smart and Good Governance, Jurnal Ilmu Sosial, Vol. 4, No. 3, Tahun 2018.
Natalia, Angga. Peran Partai Politik Dalam Mensukseskan Pilkada Serentak di Indonesia Tahun 2015,Jurnal Pemikiran Politik Islam, Vol. 11, No. 1, 2015.
Pasaribu, Payerli. Peranan Partai Politik dalam Melaksanakan Pendidikan Politik, Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik, hal. Vol. 5, No. 1, 2017.
Ratnah S, Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Defisit APBN Indonesia, Jurnal Economix, Vol.
3, No. 2, Desember 2015.
Rooseno. Penelitian Hukum tentang Akuntabilitas Pendanaan Partai Politik dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011. Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementrian Hukum dan HAM RI, 2014.
Victor Wanma, Alex. Pentingnya Pendidikan Politik Generasi MudaTerhadap Partisipasi Politik di Distrik Samofa Kabupaten Biak Numfor, Jurnal Politico, Vol. 2, No. 6, 2015.
Buku
Ismatullah, Deddy. v. Enung Nurjanah. Politik Hukum Kajian Hukum Tata Negara. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2018.
Lutfi, Mustafa. Hukum Sengketa Pemilukada di Indonesia. Yogyakarta, UII Press, 2010.
Nurhasim, Moch. Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014. Jakarta : Graha Wiya Lipi, 2014.
Satjipto Rahardjo. Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis. Yogyakarta Genta Publishing, 2009.
Sodikin. Hukum Pemilu Sebagai Praktek Ketatanegaraan. Bekasi : Gramata Publishing, 2014.
Thoha, Miftah. Birokrasi Politik di Indonesia. Jakarta:Rajawali Pers, 2016.
Tjokrowinoto, Moeljarto. Birokrasi dalam Polemik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004.
Peraturan
Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta : Sekretariat Jenderal MPR RI, 2002.
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4801.
Indonesia, Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik, PP Nomor 1 Tahun 2018, Lembaran Negara Tahun 2018 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6177
Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Tentang Pedoman Tata Cara Penghitungan, Penganggaran Dalam APBD, dan Tertib Administrasi Pengajuan, Penyaluran, dan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2014, Berita Negara Tahun 2014 Nomor 1744
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan tentang Pemeriksaan Laporan Pertanggungjawaban Partai Politik, Peraturan BPK Nomor 2 Tahun 2015, Berita Negara Tahun 2015 Nomor 136.
Internet
CNN Indonesia, “Wacana APBN untuk Parpol dan Ancaman Masalah Baru”, melalui https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181205140243-32-351334/wacana- apbn-untuk-parpol-dan-ancaman-masalah-baru, diakses pada 21 Desember 2019 Komisi Informasi Pusat, “Transparansi Pendanaan Parpol,” melalui
https://komisiinformasi.go.id/?p=2166 diakses pada 20 Desember 2019
Pengaturan Bantuan Partai Politik yang Bersumber dari APBN/APBD, melalui http://bandaaceh.bpk.go.id/wp-content/uploads/2017/11/PENGATURAN- BANTUAN-PARTAI-POLITIK-YANG-BERSUMBER-DARI-APBN- APBD.pdf, yang diakses pada 20 Desember 2019.
Regina, Patty. Rafli Fadilah Achmad, dan Valeryan Natasha, “Makalah : Pemberian Dana APBN kepada Partai Politik, (Depok : Universitas Indonesia, 2015), diakses melalui https://www.academia.edu/14086946/Pemberian_Dana_APBN_Kepada_Partai _Politik
Sukmana, Yoga. “BPK : Banyak Masalah dalam Pertanggungjawaban Bantuan Dana Parpol melalui: https://money.kompas.com/read/2019/09/18/103000726/bpk-banyak- masalah-dalam-pertanggungjawaban-dana-bantuan-parpol?page=all, diakses pada 20 Desember 2019
DHARMASISYA
Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 3 (September 2021) 1463-1472
e-ISSN: xxxx-xxxx; p-ISSN: xxxx-xxxx
1472
DHARMASISYA Vol. I N0. 3 (September 2021)