• Tidak ada hasil yang ditemukan

"Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI "Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan ""Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI "Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

"Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI

"Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI

Volume 1 "Dharmasisya” Jurnal Fakultas

Hukum Universitas Indonesia Article 29

July 2022

IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA PEMEGANG SAHAM PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA

PEMEGANG SAHAM PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA PERJANJIAN PISAH HARTA

PERJANJIAN PISAH HARTA

Putra Fajar Utama

[email protected]

Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya

Part of the Commercial Law Commons, Labor and Employment Law Commons, and the Law and Economics Commons

Recommended Citation Recommended Citation

Utama, Putra Fajar (2022) "IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA PEMEGANG SAHAM PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA PERJANJIAN PISAH HARTA," "Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI: Vol. 1, Article 29.

Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya/vol1/iss4/29

This Article is brought to you for free and open access by the Faculty of Law at UI Scholars Hub. It has been accepted for inclusion in "Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI by an authorized editor of UI Scholars Hub.

(2)

IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA PEMEGANG SAHAM IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA PEMEGANG SAHAM PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA PERJANJIAN PISAH HARTA

PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA PERJANJIAN PISAH HARTA

Cover Page Footnote Cover Page Footnote

Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas disertai dengan ulasan menurut UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Cet ke I, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995), hal 50 Kurniawan,

“Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif”, Jurnal Mimbar Hukum Hukum Bisnis Universitas Mataram, Volume 26, Nomor 1, (Februari 2014): 71 Etty Rochaeti, “Analisis Yuridis Tentang Harta Bersama (Gono Gini) Dalam Perkawinan Menurut Pandangan Hukum Islam Dan Hukum Positif”, Jurnal Wawasan Hukum, Vol.28 No.1, (2013), Hlm. 651. Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bandung:Alumni, 2004), Hlm. 56. I Gusti Rai Widjaja, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas (Khusus Pemahaman Atas Undang – Undang No.1 Tahun 1995), (Bekasi:

Kesaint Blanc, 2006), Hlm.1. Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), Hlm. 41. R. Ali Ridho, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf, (Bandung: Alumni, 2004), Hlm.45 Rachmadi Usman, Ibid, Hlm. 154. Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007), (Bandung:

Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 13. Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan Serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, Dan Pembubaran Perseroan Yang Memenuhi Kriteria Untuk Usaha Mikro Dan Kecil, LN RI No.18 Tahun 2021, TLNRI No.6620, Pasal 6 Ayat (1). ________, ibid, Pasal 7 ayat (1). Etty Rochaeti, Ibid, Hlm. 651 Elvareta Bayu Samudra dan

Rusdianto Sesung, “Pendirian Perseroan Terbatasoleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin Ditinjau dari UU PT”, Jurnal Al-Qanun Vol.21 No.2, 2018, Hlm. 369. Besse Sugiswati, “Konsepsi Harta Bersama Dari Perspektif Hukum Islam, Kuhper, Dan Hukum Adat”, Jurnal Perspektif Vol. XIX No.3, 2014, Hlm. 207 Rachmadi Usman, Ibid, Hlm.56 Risma Permatasari, Akibat Hukum Perseroan Terbatas Yang Didirikan Oleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin: Jurnal Mimbar Keadilan Vol.14No.28, 2019, Hlm. 229.

This article is available in "Dharmasisya” Jurnal Program Magister Hukum FHUI: https://scholarhub.ui.ac.id/

dharmasisya/vol1/iss4/29

(3)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

2049

DHARMASISYA Vol. I N0. 4 (Deseember 2021)

IMPLEMENTASI ATURAN PERSEROAN PERORANGAN PADA PEMEGANG SAHAM PASANGAN SUAMI ISTRI TANPA PERJANJIAN PISAH HARTA

Putra Fajar Utama

Fakultas Hukum Universitas Indonesia Korespodensi: [email protected]

Abstrak

Seiring dengan perkembangan investasi yang sangat signifikan di Indonesia, dibutuhkan suatu aturan yang dapat menyaring jenis investasi yang tidak berkualitas masuk ke Indonesia sehingga dapat mempengaruhi daya saing. Presiden Joko Widodo dalam pidato perdananya setelah dilantik kembali menjadi Presiden menyampaikan bahwa akan membuat suatu undang- undang yang akan merevisi beberapa undang-undang sekaligus, konsep ini disebut dengan Omnibus law. Undang-undang tersebut kemudian dikenal sebagai Undang-undang Cipta Kerja, dan Undang-undang ini diharapkan akan mengubah iklim dalam berusaha di Indonesia. Dengan disahkannya Undang-undang Cipta Kerja salah satunya berdampak pada sektor Usaha Mikro Kecil (UMK), di mana akibat dari Undang-undang ini, pendirian dari Perseroan Usaha Mikro Kecil dapat dilakukan oleh 1 (satu) orang saja. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan konsep Perseroan Terbatas yang dikenal selama bertahun – tahun bawah Perseroan itu merupakan suatu persekutuan modal, sehingga pendirian dari Perseroan tidak boleh dilakukan oleh satu orang atau pasangan suami istri yang hartanya bercampur tanpa perjanjian pisah harta.

Kata Kunci: Undang-undang Cipta Kerja, Persero Perorangan, Usaha Mikro Kecil.

Abstract:

Along with the very significant development of investment in Indonesia, a regulation is needed that can filter out the types of investment that are not of good quality entering to Indonesia, so that it can affect competitiveness. President Joko Widodo in his inaugural speech after being re-inaugurated as President, said that he would make an act that would revise several laws at once, this concept is called the Omnibus law. This act later became known as Undang-undang Cipta Kerja, and it is hoped that this law will change the climate for doing business in Indonesia. One of the impact of this Undang-undang Cipta Kerja is on the sector (UMK), where as a result of this Act, the establishment of a company can be carried out by only 1 (one) person. With the enactment of the Undang-undang Cipta Kerja, one of which has an impact on the Micro Small Business (Usaha Mikro Kecil (UMK)) sector, where as a result of this act, the establishment of a Micro Small Business Company can be carried out by only 1 (one) person.

This is of course very different from the concept of a Limited Liability Company which has been known for many years under the fact that the Company is a capital partnership, so that the establishment of the Company may not be carried out by one person or a married couple whose assets are mixed without a separation agreement.

Keywords : Undang-undang Cipta Kerja, Private Limited Liability Company, Micro Small Business

I. PENDAHULUAN

Presiden Joko Widodo dalam pidato perdananya setelah dilantik menjadi Presiden periode 2019 – 2024, menyinggung akan membuat sebuah konsep hukum perundang- undangan yang disebut Omnibus Law. Omnibus Law ini nantinya akan merevisi beberapa Undang-undang bahkan puluhan menjadi satu Undang - Undang. Presiden Joko Widodo menyebutkan ada dua Rancangan Undang-undang yang akan tercakup di dalamnya, yaitu RUU Cipta Lapangan Kerja dan RUU Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Dilakukannya penyatuan ini terkait dengan penyederhanaan kendala regulasi yang berbelit dan panjang. Penyatuan kedua Rancangan Undang-undang digabung menjadi satu RUU dengan nomenklatur cipta kerja yang kemudian dikenal sebagai Undang-undang Cipta Kerja.

Dengan disahkannya Undang-undang No.11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) pada tanggal 05 Oktober 2020, Pemerintah berharap dengan adanya UU Cipta Kerja ini akan mampu menyerap tenaga kerja Indonesia yang seluas – luasnya di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif dan tuntutan globalisasi ekonomi. Undang-undang ini juga diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam melakukan perbuatan usaha, khusunya kemudahan berusaha bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil (UMK). Meningkatkan daya saing Usaha Mikro Kecil (UMK) di Indonesia pada saat ini dirasa sebagai salah satu bentuk upaya perwujudan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Kemudahan berusaha yang diberikan UU Cipta Kerja bagi para pelaku usaha UMK ini langsung dapat terlihat pada Bagian Kelima UU Cipta Kerja yaitu pada bagian Perseroan Terbatas, yang salah satunya adalah penyederhanaan pembuatan perseroan dengan Kriteria Usaha Mikro Kecil. Disebutkan bahwa Perseroan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan

(4)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

Kecil dapat didirikan oleh 1 (satu) orang. Tidak hanya dapat didirikan oleh cukup dengan satu orang, pendaftaran Perseroan UMK sangat sederhana, yaitu hanya dilakukan dengan mendaftarkan secara elektronik, hal ini tentunya berbeda dengan Perseroan pada umumnya yang dilakukan dengan Akta Notaris.

Jika dilihat kembali pada hakikatnya Perseroan Terbatas merupakan badan hukum yang mandiri serta memiliki tanggung jawab yang terbatas, yaitu hanya bertanggung jawab terhadap segala akibat dan utang yang timbul atas perbuatan Perseroan Terbatas, serta tidak dapat dituntut membayar dari harta kekayaan pribadinya sekalipun yang melakukan perbuatan adalah pemegang saham Perseroan Terbatas.1 Akan tetapi apabila dapat dibuktikan bahwa telah terjadi percampuran harta kekayaan pribadi pemegang saham dengan harta kekayaan perseroan, maka tanggung jawab yang terbatas akan dapat berubah menjadi tanggung jawab tidak terbatas, artinya pemegang saham ikut bertanggung jawab secara pribadi terhadap kerugian perseroan.2

Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, bagaimana jika pemegang saham ini adalah suami istri? Pada Undang-undang No.16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang- undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami dan istri. Perkawinan ini tidak hanya menyatukan seorang pria dan wanita dalam sebuah keluarga tetapi juga perkawinan selalu membawa konsekuensi hukum baik bagi suami istri3, khusunya terkait dengan harta kekayaan. Pada dasarnya, suami istri dalam suatu ikatan perkawinan berada dalam satu kesatuan harta, dan dianggap sebagai satu pihak saja.4

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, menarik kiranya untuk membahas terkait dengan implementasi peraturan terkait Perseroan Perorangan jika pemegang saham adalah pasangan suami istri dihubungkan dengan konsep – konsep dari Perseroan Perseorangan yang bukan merupakan persekutuan modal bila dikaitkan dengan konsep Pemegang Saham Suami – Istri yang hartanya bercampur dari hasil pernikahan. Atas dasar itu penulis tertarik untuk membuat tulisan dengan rumusan masalah bagaimanakah implementasi dari aturan Perseroan Perseorangan pada pemegang saham perseroan Suami – Istri tanpa perjanjian pisah harta dihubungkan dengan Undang-undang Cipta Kerja berserta peraturan pelaksanaannya?

II. PEMBAHASAN

Implementasi Dari Aturan Perseroan Perseorangan Pada Pemegang Saham Perseroan Suami – Istri Tanpa Perjanjian Pisah Harta

Perseroan Terbatas merupakan salah satu bentuk Badan Usaha yang banyak dipilih oleh para pelaku usaha. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Perseroan Terbatas mempunyai andil penting dalam memberikan kontribusi untuk dapat bergeraknya kehidupan perekonomian negara. Kata “Perseroan” pada pengertian umumnya adalah perusahaan atau organisasi usaha, sedangkan Perseroan Terbatas adalah salah satu bentuk organisasi usaha atau badan usaha yang ada dan dikenal dalam sistem hukum dagang Indonesia.5Menurut Zaeni Asyhadie Perseroan Terbatas adalah suatu bentuk usaha yang berbadan hukum, yang pada

1 Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas disertai dengan ulasan menurut UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, Cet ke I, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995), hal 50

2 Kurniawan, “Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif”, Jurnal Mimbar Hukum Hukum Bisnis Universitas Mataram, Volume 26, Nomor 1, (Februari 2014): 71

3Etty Rochaeti, “Analisis Yuridis Tentang Harta Bersama (Gono Gini) Dalam Perkawinan Menurut Pandangan Hukum Islam Dan Hukum Positif”, Jurnal Wawasan Hukum, Vol.28 No.1, (2013), Hlm. 651.

4 Rachmadi Usman, Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bandung:Alumni, 2004), Hlm. 56.

5 I Gusti Rai Widjaja, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas (Khusus Pemahaman Atas Undang – Undang No.1 Tahun 1995), (Bekasi: Kesaint Blanc, 2006), Hlm.1.

(5)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

2051

DHARMASISYA Vol. I N0. 4 (Deseember 2021)

awalnya dikenal dengan nama Naamloze Vennootschap (NV). Istilah “Terbatas” didalam Perseroan Terbatas tertuju pada tanggung jawab pemegang saham yang hanya terbatas pada nominal dari semua saham yang dimilikinya.6

Di Indonesia pengaturan mengenai Perseroan Terbatas diatur pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut “UU PT”) yang menggantikan Undang-undang sebelumnya yaitu Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Di undangkan UUPT ini menjadi salah satu cerminan dari keseriusan pemerintah untuk bisa menetapkan suatu aturan mengenai perseroan terbatas yang seiring dengan perkembangan hukum korporasi di dunia. Pada UUPT lebih lanjut menjelaskan terkait dengan pengertian Perseroan Terbatas, yaitu pada Pasal 1 UUPT, yang berbunyi:

“Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.”

Suatu Perseroan terbatas dapat dikatakan memiliki status badan hukum jika mempunyai unsur – unsur, antara lain adanya harta kekayaan yang terpisah, Mempunyai tujuan tertentu, Mempunyai kepentingan sendiri, dan Adanya organisasi yang teratur.7 Selama belum memperoleh status sebagai Perseroan Terbatas sebagai badan hukum, PT tersebut menjadi tidak berbeda dengan Firma, Persekutuan Komanditer, atau Persekutuan Perdata.8 Perseroan Terbatas merupakan badan hukum persekutuan modal, dan didirikan berdasarkan perjanjian untuk melakukan usaha. Bentuk Kegiatan dari Perseroan Terbatas harus sesuai dengan maksud dan tujuannya serta tidak bertentangan bertentangan dengan peraturan perundang- undangan, ketertiban umum dan atau kesusilaan.9

Lahirnya UU Cipta Kerja kemudian merevisi beberapa pasal dari UU PT yang selama ini kita kenal, dalam hal ini yang akan dibahas ialah terkait dengan peraturan pembuatan Perseroan untuk Usaha Mikro dan Kecil yang dapat didirikan oleh satu orang saja. Pada Bagian Kelima UU Cipta Kerja yaitu pada bagian Perseroan Terbatas, Pasal 109 angka 5 UU Cipta Kerja menyebutkan bahwa UU Cipta Kerja menambahkan 10 (sepuluh) Pasal yang kemudian disisipkan diantara Pasal 153 dan 154 pada UU PT, adapun salah satunya ialah penambahan Pasal 153A yang berbunyi:

“Pasal 153A

(1) Perseroan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan Kecil dapat didirikan oleh 1 (satu) orang.

(2) Pendirian Perseroan untuk Usaha Mikro dan Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan surat pernyataan pendirian yang dibuat dalam Bahasa Indonesia.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendirian Perseroan untuk Usaha Mikro dan Kecil diatur dalam Peraturan Pemerintah.”

Terkait dengan pendaftarannya, Perseroan Perorangan untuk UMK ini juga dinilai sangat sederhana, yaitu hanya dilakukan dengan mendaftarkan secara elektronik, hal ini tentunya berbeda dengan Perseroan pada umumnya yang dilakukan dengan Akta Notaris.

Terkait dengan pendaftaran lebih lengkapnya dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan Serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, Dan Pembubaran Perseroan Yang Memenuhi Kriteria Untuk Usaha

6 Zaeni Asyhadie, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), Hlm. 41.

7 R. Ali Ridho, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf, (Bandung: Alumni, 2004), Hlm.45

8 Rachmadi Usman, Ibid, Hlm. 154.

9 Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 13.

(6)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

Mikro Dan Kecil (PP No.8/2021). Pada Pasal 6 ayat (1) jo. Pasal 7 ayat (1) PP No.8/2021 menyebutkan:10

Perseroan perorangan didirikan oleh Warga Negara Indonesia dengan mengisi Pernyataan Pendirian dalam bahasa Indonesia.”

Selanjutnya Pasal 7 Ayat (1) PP No.8/2021 juga menyebutkan:11

“Pernyataan Pendirian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) didaftarkan secara elektronik kepada Menteri dengan mengisi format isian.”

Adapun format isian yang dimaksud pada Pasal 7 ayat (1) No.8/2021 memuat nama dan tempat kedudukan Perseroan Perorangan, jangka waktu berdirinya Perseroan Perorangan, maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan perorangan, jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor, nilai nominal dan jumlah saham, alamat perseroan perorangan, dan nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal, nomor induk kependudukan, dan nomor pokok wajib pajak dari pendiri sekaligus direktur dan pemegang saham Perseroan perorangan. Dari Pasal – Pasal yang disebutkan diatas sangat terasa kesederhanaan dan kemudahan dalam pendirian Perseroan Perorangan ini.

Dijelaskan lebih lanjut, Perseroan Perorangan ini dapat didirikan oleh WNI minimal berusia 17 Tahun dan cakap hukum. Status Badan Hukum Perseroan Perorangan nantinya akan diperoleh setelah Perseroan Perorangan ini didaftarkan kepada Menteri dan mendapatkan sertifikat pendaftaran secara elektronik. Perseroan perorangan yang telah memperoleh status badan hukum, nantinya akan diumumkan oleh Menteri dalam laman resmi direktorat jenderal.

Perlu diingat kembali, hal ini hanya berlaku untuk perseroan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro dan Kecil bukan Perseroan Terbatas pada umumnya. Pengklasifikasian suatu Perseroan untuk dapat dikatakan sebagai suatu usaha mikro atau usaha kecil dapat dilihat berdasarkan kriteria dari modal usahanya dan hasil penjualan tahunannya. Untuk mengetahui pengklasifikasian tersebut, kita harus melihat kembali pada peraturan pelaksananya, dalam hal ini yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, Dan Pemberdayaan Koperasi Dan Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (PP No.7/2021).

Pada Pasal 35 PP No.7/2021 jika disimpulkan secara sederhana untuk suatu usaha dapat dikatakan Usaha Mikro harus memiliki modal usaha sampai dengan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (Satu Miliar Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan keterbatasan hasil penjualan tahunan Usaha Mikro sampai dengan paling banyak Rp.2.000.000.000,- (Dua Miliar Rupiah). Sedangkan untuk usaha dapat dikatakan Usaha Kecil yaitu wajib rnemiliki modal usaha lebih dari Rp. l.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (Lima Miliar Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, dan hasil penjualan tahunan Usaha Kecil dibatasi dari Rp2.000.000.000,- (Dua Miliar Rupiah) sampai dengan paling banyak Rp15.000.000.000,- (Lima Belas Miliar Rupiah), lebih dari itu suatu usaha tidak dapat dikatakan usaha kecil.

Pertanyaannya adalah bagaimana jika Perseroan Perorangan ini didirikan oleh pasangan suami istri. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa perkawinan yang timbul ini tidak hanya menyatukan seorang pria dan wanita namun juga menyatukan hartanya. Harta benda dalam perkawinan yang dihasilkan oleh pasangan suami – istri secara bersama sama

10 Indonesia, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 8 Tahun 2021 tentang Modal Dasar Perseroan Serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, Dan Pembubaran Perseroan Yang Memenuhi Kriteria Untuk Usaha Mikro Dan Kecil, LN RI No.18 Tahun 2021, TLNRI No.6620, Pasal 6 Ayat (1).

11 ________, ibid, Pasal 7 ayat (1).

(7)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

2053

DHARMASISYA Vol. I N0. 4 (Deseember 2021)

selama masa perkawinan masih berlangsung disebut dengan Harta Gono – Gini.12 Terdapat dua jenis hak dalam harta bersama, yaitu hak milik dan hak guna.13

Kebersamaan harta kekayaan dalam perkawinan tidak hanya berupa benda-benda bergerak dan tidak bergerak yang diperoleh selama masa perkawinan, baik dengan atas nama atau tidak atas nama istri/suami, tetapi juga berkaitan dengan yang dibawa oleh mereka berdua dalam perkawinan.14 Akibat dari penyatuan harta ini nanti menjadikan pasangan suami istri akan dianggap sebagai satu pihak. Hal ini pula menyebabkan kedua orang tersebut akan dianggap menjadi satu orang di mata hukum. Dengan demikian jika adanya persatuan harta kekayaan maka dalam melakukan perbuatan hukum, masing - masing suami istri harus memperoleh persetujuan suami atau istri, karena dengan persatuan harta, kekayaan kewenangan masing-masing pihak dalam melakukan perbuatan hukum menjadi terbatas dalam menggunakan harta bersama.15

Jika konsep ini diterapkan pada perseroan terbatas pada umumnya, yaitu persekutuan modal, hal ini akan tidak dapat diterapkan dikarenakan harta kekayaan milik pasangan suami istri yang dijadikan sebagai modal awal pendirian perseroan terbatas merupakan Harta Gono – Gini, maka pada saat modal yang disetor ke dalam Perseroan Terbatas oleh suami dan istri tidak terjadi persekutuan modal, dikarenakan modal suami dan istri berasal dari satu sumber harta kekayaan yang sama dan tidak terdapat modal yang bersekutu yang merupakan persatuan harta kekayaan, sehingga tidak memenuhi dari definisi Perseroan Terbatas.16

Penulis disini beranggapan terkait dengan penerapan pendirian perseroan oleh pasangan suami istri ini dapat di implementasikan pada pendirian persero perorangan, dimana pendirian dapat dilakukan oleh 1 (satu) orang saja. Walaupun pada Pasal 9 PP No.8/2021 disebutkan bahwa Perseroan Perorangan harus mengubah status badan hukumnya menjadi Perseroan jika pemegang saham menjadi lebih dari 1 (satu) orang, namun perlu diingat kembali bahwa pasangan suami istri ini harta mereka bercampur dan dianggap 1 (satu) orang dimata hukum walaupun sebenarnya mereka adalah dua orang. Berbeda cerita jika pasangan suami istri ini memiliki perjanjian pemisahan harta, sehingga jelas harta mereka terpisah dan mereka dianggap sebagai 2 (dua) orang di mata hukum. Penerapan Pasal 9 PP No.8/2021 barulah berlaku dalam hal pasangan suami istri ini memiliki perjanjian pisah harta.

III. KESIMPULAN

Disahkannya Undang-undang Cipta Kerja salah satunya berdampak pada Usaha Mikro Kecil, dimana pembuatan perseroan usaha mikro kecil dapat dilakukan oleh 1 (satu) orang saja dan kemudian dikenal dengan sebutan Perseroan Perorangan. Perseroan Perorangan memberikan warna baru dalam bidang usaha dimana sebelumnya suatu perseroan itu berlandaskan perjanjian dan wajib didirikan oleh 2 (dua) orang, dan pula pendirian Perseroan Perorangan hanya dilakukan dengan pendaftaran. Penerapan pendirian perseroan oleh pasangan suami istri ini dapat di implementasikan pada pendirian persero perorangan. Harta benda dalam perkawinan yang dihasilkan oleh pasangan suami – istri secara bersama sama selama masa perkawinan masih berlangsung disebut dengan Harta Gono – Gini. Akibat dari penyatuan harta ini nanti menjadikan pasangan suami istri akan dianggap sebagai satu pihak.

12 Etty Rochaeti, Ibid, Hlm. 651

13 Elvareta Bayu Samudra dan Rusdianto Sesung, “Pendirian Perseroan Terbatasoleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin Ditinjau dari UU PT”, Jurnal Al-Qanun Vol.21 No.2, 2018, Hlm. 369.

14 Besse Sugiswati, “Konsepsi Harta Bersama Dari Perspektif Hukum Islam, Kuhper, Dan Hukum Adat”, Jurnal Perspektif Vol. XIX No.3, 2014, Hlm. 207

15 Rachmadi Usman, Ibid, Hlm.56

16 Risma Permatasari, Akibat Hukum Perseroan Terbatas Yang Didirikan Oleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin: Jurnal Mimbar Keadilan Vol.14No.28, 2019, Hlm. 229.

(8)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

Hal ini pula menyebabkan kedua orang tersebut akan dianggap menjadi satu orang di mata hukum, sehingga aturan dari pendirian Perseroan Perorangan ini masih dipenuhi dan tidak dilanggar.

Daftar Pustaka Artikel

Kurniawan. “Tanggung Jawab Pemegang Saham Perseroan Terbatas Menurut Hukum Positif”. Jurnal Mimbar Hukum: Volume 26. Nomor 1. (2014): 70-83

Rochaeti, Etty. “Analisis Yuridis Tentang Harta Bersama (Gono Gini) Dalam Perkawinan Menurut Pandangan Hukum Islam Dan Hukum Positif”. Jurnal Wawasan Hukum:

Volume 28 No.1. (2013): 650-661

Samudra, Elvareta Bayu dan Rusdianto Sesung. “Pendirian Perseroan Terbatasoleh Suami Istri Tanpa Perjanjian Kawin Ditinjau dari UU PT”. Jurnal Al-Qanun: Volume 21 No.2.

(2018)

Sugiswati, Besse. “Konsepsi Harta Bersama Dari Perspektif Hukum Islam, Kuhper, Dan Hukum Adat”. Jurnal Perspektif: Volume. XIX No.3. (2014).

Buku

Asyhadie, Zaeni. Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. 2005.

Fuady, Munir. Doktrin-Doktrin Modern Dalam Corporate Law Dan Eksistensinya. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014. Cet. 3.

Ginting, Jamin. Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007). Bandung: Citra Aditya Bakti. 2007.

Mahmud Marzuki, Peter. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana, 2017.

Prasetya, Rudhi. Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas disertai dengan ulasan menurut UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995. Cet ke I

Ridho, R. Ali. Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi, Yayasan, Wakaf. Bandung: Alumni.2004.

Shidarta. Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

2006. Edisi Revisi.

Simanjuntak, P.N.H., Pokok-pokok Hukum perdata Indonesia. Jakarta: Djambatan, 2009.

Suherman, E. Masalah Tanggung Jawab Pada Charter Pesawat Udara Dan Beberapa Masalah Lain Dalam Bidang Penerbangan (Kumpulan Karangan). Bandung: Alumni. 1979. Cet. 2.

Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Bandung:Alumni. 2004.

Widjaja, I Gusti Rai. Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas (Khusus Pemahaman Atas Undang-undang No.1 Tahun 1995). Bekasi: Kesaint Blanc. 2006.

Undang-undang

Indonesia. Undang - Undang Tentang Perseroan Terbatas. UU No. 40 Tahun 2007. LN No.106, Tahun 2007 TLN No. 4756.

_______. Undang-undang Tentang Perubahan Atas Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. UU No. 16 Tahun 2019. LN No.186, Tahun 2019 TLN No.6401

(9)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

2055

DHARMASISYA Vol. I N0. 4 (Deseember 2021)

_______. Undang-undang Tentang Cipta Kerja. UU No. 11 Tahun 2020. LN No.245, Tahun 2020 TLN No.6573

_______. Peraturan Pemerintah Tentang Kemudahan, Perlindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. PP No.7 Tahun 2021. LN No.17, Tahun 2021 TLN No. 6619

_______. Peraturan Pemerintah Tentang Modal Dasar Perseroan Serta Pendaftaran Pendirian, Perubahan, dan Pembubaran Perseroan Yang Memenuhi Kriteria Untuk Usaha Mikro dan Kecil. PP No.8 Tahun 2021. LN No.18, Tahun 2021 TLN No. 6620 _______. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Tentang Syarat dan Tata Cara

Pendaftaran Pendirian, Perubahan, dan Pembubaran Badan Hukum Perseroan Terbatas. Permenkumham No.21 Tahun 2021.

(10)

DHARMASISYA

Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 1 Nomor 4 (Desember 2021) 2049-2056

e-ISSN: 2808-9456

Referensi

Dokumen terkait

DHARMASISYA Jurnal Program Magister Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Volume 2 Nomor 1 Maret 2022 307-320 e-ISSN: 2808-9456 dimana lebih lanjut lagi pasal 88 di

Lebih lanjut diatur dalam Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: HKI.2.OT.03.01-04 Tahun 2016 Tentang Pengesahan Petunjuk Pelaksanaan Penarikan,

3 Ketentuan lebih lanjut mengenai penggabungan atau peleburan badan usaha yang dilarang sebagaimana dimaksud ayat 1, dan ketentuan mengenai pengambilalihan saham perusahaan sebagaimana

Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, monopoli didefinisikan sebagai suatu bentuk penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu

KPK dalam menjalankan kewenangannya untuk melakukan tugas penyelidikan, penyidikan, atau penuntutan dapat meminta keterangan kepada bank atau lembaga lain tentang keadaan keuangan

Hemat penulis, selain karena telah didaftarkannya Batik sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, yang dapat menjadi pertimbangan dan yang lebih massif lagi adalah bagaimana kesadaran

Berdasarkan Pasal 1 3 POJK Penawaran Tender Sukarela, disebutkan pengertian Penawaran Tender Sukarela adalah sebagai berikut: “Penawaran Tender Sukarela adalah penawaran yang dilakukan

Jika tidak ditangani secara tepat, permasalahan likuiditas tersebut dapat menyebabkan permasalahan solvabilitas dan bagi bank berdampak sistemik akan turut mempengaruhi psikologis