Pendahuluan
Latar Belakang
Kawasan KBAK di Indonesia telah ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi nasional dan bagian dari kawasan cagar alam geologi (Keputusan Menteri ESDM No. 32 Tahun 2016). AQBK ini merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Nasional, sehingga arah kebijakan pengembangan, pemanfaatan dan pengelolaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Kebijakan nasional tersebut mencakup upaya pelestarian dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Lebih spesifiknya, upaya perlindungan kawasan ini diatur dalam Pasal 104 PP no. 26 Tahun 2008 peraturan zonasi untuk perlindungan batuan fosil.
Peraturan zonasi kawasan ini telah disusun dengan ketentuan pemanfaatan kegiatan pariwisata tanpa mengubah bentang alam, ketentuan larangan pemindahan batu, dan penggalian yang hanya dapat dilakukan untuk penelitian geologi dan arkeologi. Keadaan penggunaan lahan yang ada saat ini tentu sangat berbeda dengan arahan ketentuan zonasi PP No. Keadaan kerusakan ini semakin parah karena kawasan yang telah ditetapkan sebagai bagian dari kawasan lindung secara nasional dan regional di Provinsi Jawa Tengah, belum memiliki ketentuan hukum formal untuk penggunaan yang lebih rinci.
Sementara dalam RTRW, belum ada aturan zonasi yang jelas di 3 kabupaten tersebut yang disusun sesuai peraturan perundang-undangan. Kesenjangan regulasi dalam ketentuan peraturan zonasi ini diharapkan dapat terisi dan kualitas RTRW sebagai instrumen pengarahan pemanfaatan ruang sekaligus sebagai instrumen pengendalian (dasar pemberian izin, pemberian izin, dan pemberian izin). insentif dan disinsentif serta penerapan sanksi) akan lebih baik.
Tujuan dan Sasaran Penelitian
Ruang Lingkup
- Ruang Lingkup Wilayah
- Ruang Lingkup Materi
Ruang lingkup bahan penelitian ini adalah mengkaji Ketentuan Umum Peraturan Zonasi (KUPZ) di kawasan lanskap Karst Sukolilo Kabupaten Grobogan sebagai sarana pengarah pemanfaatan ruang dan sarana pengendalian. Peraturan zonasi sebagai alat dasar pengendalian pemanfaatan ruang harus disusun berdasarkan ketentuan zonasi yang baik dan akurat. Peraturan zonasi sesuai Pasal 36 bagian ketiga Pengendalian Pemanfaatan Ruang disusun sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang.
Petunjuk RTRWP Pengawasan Pemanfaatan Ruang Provinsi, memuat petunjuk petunjuk tata tertib zonasi provinsi... (Pasal 23 ayat 1 huruf f). RTRW Kabupaten/Kota Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten, yang memuat ketentuan umum mengenai rencana zonasi... (Pasal 26 ayat 1 huruf f). RTR METROPOLITAN Fasilitas pengendalian pemanfaatan ruang wilayah metropolitan dan/atau megapolitan dengan rencana zonasi... (ps.
Rencana zonasi kabupaten/kota merupakan penjabaran dari ketentuan umum rencana zonasi yang tercantum dalam rencana tata ruang kabupaten/kota. (3) Peraturan zonasi kabupaten/kota menjadi dasar pemberian insentif dan disinsentif, pemberian izin, dan pemberian sanksi pada tingkat kabupaten/kota.
Kajian Teori dan Kebijakan
Kajian Teori
- Zonasi dan Peraturan Zonasi
Zonasi adalah pembagian lingkungan perkotaan menjadi zona-zona dan penetapan kendali atas penggunaan ruang atau penegakan berbagai ketentuan hukum (Barnett, 1982). Secara umum, kawasan distrik khusus dibagi menjadi kawasan pemukiman, komersial dan berbagai keperluan industri, pertanian dan ruang terbuka. Dengan menciptakan kawasan zonasi yang memisahkan penggunaan, kota memastikan tersedianya ruang yang cukup untuk setiap penggunaan dan terdapat transisi zona atau penyangga antara kegunaan yang berbeda dan mana yang tidak kompatibel. Pemisahan penggunaan yang memadai dapat mencegah kemacetan, mengurangi kebakaran dan bahaya kesehatan dan keselamatan lainnya, serta menjaga kawasan pemukiman bebas dari potensi gangguan komersial dan industri seperti asap, kebisingan, dan kurangnya penerangan (Leageu dari Minnesota City, 2017).
Peraturan zonasi menurut Denny Zulkaidi dan Petrus Natalivan (2008) adalah ketentuan yang mengatur penggolongan zona, peraturan lebih lanjut mengenai tata guna lahan dan tata cara penegakan pembangunan. Peraturan zonasi yang dijadikan dasar pengendalian pemanfaatan ruang harus didasarkan pada peruntukan zonasi yang sesuai. Zonasi adalah kegiatan membagi lingkungan kota menjadi zona/zona fungsional dan menetapkan aturan pengendalian penggunaan ruang/ketentuan hukum yang berbeda-beda pada setiap zona (Barnett, 1982).
Tujuan utama ditetapkannya peraturan zonasi adalah untuk menjamin bahwa pembangunan yang dilakukan akan mampu mencapai standar mutu minimal (kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan) sesuai yang diharapkan, kegiatan pembangunan baru tidak mengganggu pengguna ruang yang sudah ada, nilai properti akan tetap terjaga. tidak menurun, menjaga kualitas lingkungan dan menentukan nilai kualitasnya, serta menyediakan perangkat peraturan yang seragam untuk setiap zonasi (Denny Zulkaidi dan Petrus Natalivan, 2008). 13 Peraturan zonasi dalam praktiknya juga dapat digunakan untuk membatasi jenis dan lokasi bangunan, yang mengarah pada penerapan peraturan yang berlaku sama di setiap zona yang sama dalam suatu kabupaten, namun mungkin berbeda dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. Peraturan zona khusus untuk kawasan lindung atau kawasan lindung akan lebih banyak memuat kriteria upaya perlindungan sumber daya dan pada akhirnya mengarah pada terciptanya rencana peraturan untuk setiap zona (Farzam Hasti1at all, 2016).
Peraturan zonasi ini merupakan bagian penting dari prinsip-prinsip perencanaan, yang saat ini dianggap sebagai alat pengelolaan penting di kawasan lindung (Walther, 1986; Sabtini dkk, 2007).
Kawasan Karst
Kajian Kebijakan
- Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
- Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
RTRWN Petunjuk Pengendalian Pemanfaatan Ruang Daerah Nasional yang memuat indikasi petunjuk peraturan zona sistem nasional... (pasal 20 ayat 1 huruf f). Peraturan zonasi dalam OP ini merupakan ketentuan yang mengatur persyaratan pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian serta disusun untuk setiap blok/zona peruntukan yang zonasinya ditetapkan dalam rencana detail tata ruang. Peraturan zonasi kabupaten/kota menjadi dasar pemberian insentif dan disinsentif, pemberian izin, dan pemberian sanksi pada tingkat kabupaten/kota. arah peraturan zonasi sistem nasional; arahan peraturan zonasi sistem provinsi; dan C. peraturan zonasi pada wilayah kabupaten/kota.
Pasal 150 menjelaskan bahwa peraturan tata ruang dari Pasal 149 memuat ketentuan tentang: jenis kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat dan tidak diperbolehkan; minimnya prasarana dan sarana; dan D. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota pada Ayat 4 Pasal 153 dijelaskan sebagai berikut :. Lokasi penelitian ini adalah Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo (KBAK), Kecamatan Klambu dan Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan. Secara administratif merupakan Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo (KBAK) di Kecamatan Klambu dan Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan.
24 Berdasarkan tabel data wilayah administrasi Kecamatan Klambu dan Kabupaten Brati diketahui wilayah terluas adalah Kecamatan Brati dengan luas 5490 Ha, dan desa terluas adalah Desa Katekan dengan luas 1088 Ha. hektar. Berdasarkan tabel data penduduk di Kecamatan Klambu dan Kabupaten Brati diketahui kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Brati yaitu 852 jiwa/Km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 46.781 jiwa. Berdasarkan informasi yang tersaji pada tabel di atas, diketahui bahwa pola ruang/rencana penggunaan lahan di Kecamatan Brati dan Klambu adalah sebagai berikut: Permukiman Kepadatan Sedang, Permukiman Kepadatan Rendah Sepanjang Sempadan Sungai, Pertanian Lahan Basah, Pertanian Lahan Kering, Kesehatan, Perkantoran , kawasan negara bagian, pendidikan, komersial dan jasa, kuburan, ruang terbuka desa, cagar alam geologi.
Berdasarkan tabel penggunaan lahan terlihat bahwa rencana kawasan pada lokasi ini diperuntukkan bagi kawasan pengembangan, kawasan inti, dan kawasan penyangga. Berdasarkan tabel diatas terlihat bulan dengan curah hujan tertinggi pada bulan Oktober dan hari hujan tertinggi pada bulan Februari yaitu sebanyak 20 hari hujan. Berdasarkan informasi tabel terlihat cekungan air tanah terluas terdapat di Desa Kandangrejo Kecamatan Klambu dengan luas 669.4392 hektar.
Berdasarkan informasi pada tabel diatas terlihat terdapat 55 mata air dan yang debit airnya paling besar adalah Mata Air Pengilon 1 yang berada di Dusun Katekan, Desa Katekan, Kecamatan Brati dengan debit sebesar 1,25 l/detik. itu permanen.
Metode Penelitian
Tahapan-Tahapan Penelitian
Lokasi Penelitian
Peubah yang Diamati/Diukur (Parameter dan Variabel penelitian)
Model yang digunakan Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deduktif kualitatif rasionalistik.
Model yang Digunakan Model Penelitian yang Digunakan dalam
Rancangan Penelitian
Ketentuan Umum Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo
Analisis Pengolahan dan Tabulasi Data
- Data Wilayah Administratif
- Data Kependudukan
- Analisis Pola Ruang
- Analisis Tata Guna Lahan
- Analisis Fisiografis
- Analisis Curah Hujan
- Analisis CAT (Cekungan Air Tanah)