118 Gambar 4.14 Peta Tata Guna Lahan Wilayah Kota Sinjai119 Gambar 5.1 Peta Wilayah Rawan Banjir di Wilayah Kota Sinjai. Menyimpang dari keseluruhan pembahasan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul penelitian terkait Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Terdampak Banjir di Kota Sinjai.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
Sistematika Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
- Pengertian Pengendalian Pemanfaatan Ruang
- Kajian Kebijakan Pengendalian Pemanfaaran Ruang
- Pedoman Pelaksanaan Pengendalian Pemanfaatan
Tinjauan Pemanfaatan Lahan
- Pengertian Lahan
- Pengertian Pemanfaatan Lahan
- Jenis Pemanfaatan dan Penggunaan Lahan
Pengertian Dampak
Tinjauan Tentang Bencana
- Pengertian Bencana
- Manajemen Bencana
Tinjauan Tentang Banjir
- Pengertian Banjir
- Jenis-Jenis Banjir
- Kerentanan Banjir
- Topologi Kawasan Banjir
Kriteria Parameter Kerawanan Banjir
- Curah Hujan
- Pengaruh Fisiografi
- Kemiringan Lereng
- Jenis Tanah
- Bentuk Lahan
- Penutupan Lahan dan Buffer Sungai
- Erosi dan Sedimentasi
- Kapasitas Sungai
- Kapasitas Drainase yang Tidak Memadai
Penurunan Risiko Bencana
Tinjauan Peraturan Zonasi dan Usulan Perizinan
- Pengertian Peraturan Zonasi
- Pengertian Perizinan
- Konsep Strategi Penanganan Banjir Di Negara Luar
- Konsep Pennganan Banjir Kuala Lumpur, Malasia
- Konsep Penanganan Banjir Belanda
Kerangka Pikir
Keaslian Penelitian/Road Map
METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah perkotaan Sinjai dan akan fokus pada wilayah rawan banjir di berbagai kecamatan yang ada di perkotaan Sinjai yaitu Kecamatan Biringere, Kecamatan Lappa, Kecamatan Balangnipa. dan Kecamatan Samataring akibat curah hujan yang tinggi sehingga daya tampung drainase tidak kuat sehingga menghambat aliran air dan menyebabkan Sungai Tangka dan Sungai Mangottong meluap. Pada musim penghujan akan terjadi banjir setiap tahunnya di wilayah tersebut serta wilayah lain yang berkontur rendah di perkotaan mengakibatkan kerugian harta benda, rusaknya bangunan kawasan yang mengakibatkan banjir dan terganggunya aktivitas masyarakat sebagai kawasan perkotaan. Sinjai merupakan pusat dari segala kegiatan yang ada di wilayah Kabupaten Sinjai sehingga menjadi alasan utama peneliti memilih lokasi ini dan nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat yang terkena dampak banjir serta sebagai informasi untuk memahami dampak bencana banjir di masa yang akan datang. memperkecil. Lokasi penelitian ini adalah wilayah perkotaan Sinjai yang terdiri dari dua kecamatan yaitu Kecamatan Sinjai Utara dan sebagian Kabupaten Sinjai Timur dengan luas sempadan ± 40,31 Km2. 53. Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian wilayah kota Sinjai menjadi dua kecamatan adalah sebagai berikut:
Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
55 sampel penelitian dengan pertimbangan tertentu bertujuan agar data yang diperoleh nantinya lebih representatif. Alasan penggunaan teknik purposive sampling adalah karena tidak semua sampel mempunyai kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti. Oleh karena itu, penulis memilih teknik purposive sampling, yaitu menentukan pertimbangan atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh sampel yang digunakan dalam penelitian ini.
Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah masyarakat yang bertempat tinggal tetap dan secara administratif tercatat sebagai penduduk di wilayah penelitian yang terkena dampak bencana banjir. Jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini akan ditentukan dengan menggunakan rumus slovin. Dari hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini sebagai perwakilan seluruh populasi adalah 100 jiwa.
Jenis dan Sumber Data
- Jenis Data
- Sumber Data
57 penggunaan lahan/lahan yang ada untuk mengetahui seberapa besar perubahan penggunaan lahan yang terjadi saat ini di wilayah perkotaan Sinjai dan lain sebagainya. Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka-angka atau menggambarkan secara deskriptif keadaan lokasi penelitian secara umum. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari pengamatan langsung di lapangan atau lokasi penelitian, data primer yang diperlukan antara lain data eksisting/penggunaan lahan, data luas wilayah banjir di perkotaan Sinjai dan lain sebagainya.
Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui dokumen resmi terkait penelitian ini diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti data kependudukan, data aspek fisik dasar diantaranya; topografi, kemiringan lereng, penggunaan lahan, jenis tanah, curah hujan, dan lain-lain, yang diperoleh dari dokumen Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sinjai dan RTRW Wilayah Sinjai, dokumen dan peta RDTR Wilayah Kota Sinjai yang mendukung survei ini karena terdapat peta penggunaan lahan dan lainnya diperoleh dari BAPEDA/PU wilayah Sinjai. 58 pandemi covid-19 sehingga dikhawatirkan akan adanya pembatasan pendataan dari instansi terkait sehingga menyebabkan tertundanya penelitian.
Teknik Pengumpulan Data
- Observasi
- Wawancara
- Kajian Kepustakaan
59 merupakan semua objek yang berkaitan dengan variabel yang diangkat dalam penelitian ini yaitu pada curah hujan, topografi, jenis tanah, kemiringan lereng dan penggunaan lahan, semua variabel dalam penelitian ini juga harus dicermati agar dapat diamati secara langsung berkaitan dengan bagaimana konteks/lingkungannya. pengaruh dari masing-masing indikator terhadap permasalahan banjir yang terjadi di wilayah perkotaan Sinjai. Wawancara yang sering juga disebut dengan wawancara atau angket lisan adalah suatu dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai (Suharsimi Arikunto dalam (JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, n.d.). Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara bebas terbimbing yang artinya , bahwa pertanyaan yang diajukan tidak terfokus pada pedoman wawancara dan dapat dijabarkan atau dikembangkan sesuai situasi dan kondisi di lapangan. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak banjir di kota Sinjai.
Tinjauan pustaka merupakan kegiatan meneliti dan mempelajari teori-teori yang terdapat di perpustakaan terkait dengan topik penelitian yang disajikan dalam penelitian ini. Sedangkan tinjauan pustaka ini dilakukan dalam rangka mengkaji dokumen perencanaan terkait yang memuat informasi mengenai penelitian ini.
Variabel Penelitian
Metode Analisis
- Analisis GIS Dengan Metode Analisis Superimpose
- Analisis GIS Dengan Metode Scoring penetuan
- Analisis Deskriptif Kualitatif
- Analisis Amplop Ruang
Terdapat lima wilayah rawan banjir di wilayah Kota Sinjai yakni Kecamatan Biringere, Kecamatan Balangnipa, Kecamatan Lappa, Kecamatan Bongki, dan Kecamatan Samataring. Kondisi fisik tanah dalam hal ini menjelaskan kondisi alam di kawasan perkotaan Sinjai.
Definisi Operasional
- Diagram Alir Penelitian
Gambaran Umum Wilayah
Gambaran Umum Kabupaten Sinjai
- Letak Geografis dan Administrasi
- Kondisi Fisik Wilayah
- Historikal Bencana Kabupaten Sinjai
Gambaran Umum Kawasan Perkotaan Sinjai
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, intensitas curah hujan di wilayah Kota Sinjai terbagi dalam 2 kategori yaitu separuh luas wilayah. Sebaran tingkat wilayah rawan banjir di wilayah perkotaan Sinjai menghasilkan tiga kelas tingkatan, yaitu wilayah banjir rendah, wilayah banjir sedang, dan wilayah banjir tinggi. 121 Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan Arcgis 10.3 Tingkat zona banjir pada zona banjir rendah (tidak rawan atau berpotensi banjir) mempunyai luas 1.077.254 ha atau 27% dari luas wilayah perkotaan di Sinjai.
Luas wilayah banjir dengan kondisi tingkat rawan banjir sedang (rawan) mencapai 1.713.259 hektar atau 42% dari luas wilayah perkotaan Sinjai. Sedangkan tingkat wilayah rawan banjir tinggi (sangat rawan banjir) mempunyai luas 1.240.943 Ha atau 31% dari luas wilayah perkotaan Sinjai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.1 luas wilayah rawan banjir di wilayah kota Sinjai dan tabel 5.2 luas wilayah rawan banjir pada setiap kelurahan di wilayah kota Sinjai berikut ini.
Analisis Dan Pembahasan
Analisis Kawasan Rawan Bencana Banjir Pada Kawasan
Tingkat kelas daerah rawan banjir diperoleh dari hasil perhitungan nilai bobot dan skor setiap parameter dan variabel yang digunakan dalam menentukan kelas daerah rawan banjir. Kriteria yang digunakan dalam menentukan daerah rawan banjir adalah kemiringan lereng, topografi, jenis tanah, curah hujan dan penggunaan lahan. Keenam kriteria tersebut kemudian ditumpangkan sehingga menghasilkan peringkat sensitivitas banjir dengan bobot total 70-280 poin.
Karakteristik Kawasan Rentan Terdampak Banjir Pada Kawasan
- Faktor Penyebab Banjir
- Lama dan Tinggi Genangan
- Sarana dan Prasarana Yang Terdampak Banjir
- Dampak Bencana Banjir Terhadap Kondisi
125 Kelurahan Samataring pada dasarnya penyebab banjir di 2 kelurahan tersebut berbeda, salah satu staf di Kelurahan Lappa menjelaskan penyebab banjir di kelurahan Lappa karena drainase yang buruk dan tersumbatnya drainase akibat tumpukan sampah yang menyebabkan air mengalir. yang seharusnya mengalir di outlet, membanjiri pemukiman warga. Misalnya seperti yang terjadi di koridor Jalan Amanagappa, penyebab banjir lainnya adalah terjadinya meluapnya air Sungai Tangka akibat banjir yang berasal dari hulu dan tertahan oleh air pasang laut, sehingga mengakibatkan tidak mencukupinya kapasitas sungai dan permukaan tanah. sejajar dengan permukaan laut. Ketinggian banjir yang terjadi di wilayah rawan terdampak bervariasi antara 30-70 cm, dan jika intensitas hujan semakin besar maka ketinggian banjir hampir mencapai 100 cm, seperti yang dikatakan salah satu warga Desa Biringere. , yaitu Ashar Ramadhan yang ditemui di Jalan Watch saat peneliti meneliti kawasan tersebut. Sudirman, dan yang lebih parah lagi, diketahui ada rumah sakit yang ada warganya yang sakit juga ikut terendam banjir, yakni RSUD yang terletak di Jalan Jendral Sudirman.
Dampak yang dirasakan masyarakat terdampak banjir di daerah rawan berada pada klasifikasi sedang. Dampak sosial dari banjir ini lebih dirasakan oleh masyarakat yaitu kepala keluarga mengalami kendala dalam bekerja, siswa sulit bersekolah karena gedung dan prasarana sekolah tidak memungkinkan siswa dan guru melakukan proses belajar mengajar. , terganggunya masyarakat yang keluar rumah menggunakan kendaraan roda dua/roda empat akibat terputusnya akses jalan Akbitar akibat banjir dan menurunnya kondisi kesehatan pasien yang berada di RSUD Sinjai. yang sudah terlanjur sakit dan merasa tidak nyaman karena dikelilingi dataran banjir. Hujan yang tidak kunjung reda dan menyebabkan saluran air meninggi (saluran air tidak cukup menampung air hujan).
Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang Terhadap RDTR
Namun terdapat penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan Sinjai dimana pembangunannya tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan, penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. yang memiliki. seluas 193.302 ha. Pada titik kerentanan fisik, indikator yang digunakan untuk kerentanan fisik ada 2 indikator yaitu wilayah rawan banjir dan rencana penggunaan lahan wilayah kota Sinjai (RDTR). Rekayasa Struktural Mitigasi Bencana dan Rekayasa Non Struktural Mitigasi Bencana pada wilayah terdampak banjir di perkotaan Sinjai adalah sebagai berikut;
Acuan yang digunakan dalam analisis selubung ruang ini adalah rencana rinci tata ruang dan aturan zonasi kawasan perkotaan Sinjai, yang dalam analisis ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga yaitu bagaimana konsep pengendalian pemanfaatan ruang bagi masyarakat terdampak banjir. wilayah di wilayah perkotaan Sinjai. Adapun penelitian ini berlokasi di wilayah perkotaan Sinjai berdasarkan hasil rumusan masalah kedua dimana terdapat tiga klasifikasi sensitivitas banjir tinggi, sedang dan rendah. Pola spasial wilayah rawan banjir kecil Tidak ada pola spasial Luas (ha) % .. 2) Kondisi kegiatan dan penggunaan lahan.
Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan pada kawasan rawan banjir di wilayah perkotaan Sinjai sesuai dengan jumlah klasifikasi sensitivitas banjir yaitu tinggi, sedang atau rendah. Pada prinsipnya setiap wilayah yang terkena banjir harus mempunyai fasilitas kegiatan dan penggunaan lahan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah tersebut. Ketentuan kegiatan dan penggunaan lahan pada daerah rawan banjir tinggi, sedang, dan rendah dapat diuraikan sebagai berikut.
Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Rentan Banjir Pada RDTR
- Analisis Pemanfaatan Ruang Kawasan Rentan Banjir
- Pemanfaatan Ruang Kawasan Rentan Banjir
Analisis Kawasan rentan Banjir pada Kawasan Perkotaan
- Kerentanan Fisik
- Kerentanan Sosial
- Kerentanan Ekonomi
- Kerentanan Banjir
Konsep Strategi Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pada
- Arahan Konsep Strategi Penanganan Banjir Kawasan
- Analisis Amplop Ruang
Hal ini untuk menghindari penggunaan lahan yang tidak terkendali sehingga mengakibatkan kerusakan pada daerah aliran sungai yang merupakan daerah tadah hujan. Analisis selubung spasial pada penelitian ini merupakan wujud pengendalian pemanfaatan ruang yang mengatur peraturan zonasi dan usulan perizinan tiga klasifikasi kerawanan banjir tinggi, sedang, dan rendah di wilayah perkotaan Sinjai, dimana peneliti berupaya untuk mengatur atau mengusulkan peraturan zonasi dan perizinan. setiap daerah. pola spasial yang terkena dampak banjir pada setiap klasifikasi bahaya yang ada pada peta detail perencanaan fisik wilayah kota Sinjai. 170 diperbolehkan, kegiatan dan penggunaan lahan dengan kondisi terbatas, kegiatan dan penggunaan lahan dalam kondisi tertentu, serta kegiatan dan penggunaan lahan yang tidak diperbolehkan dalam suatu zona.
Ketentuan mengenai kegiatan dan penggunaan lahan dirumuskan berdasarkan ketentuan dan standar yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang, ketentuan peraturan daerah bangunan gedung, dan ketentuan khusus mengenai unsur atau komponen bangunan gedung dalam pembangunan. Di daerah yang sering dilanda banjir besar, penggunaan layanan kesehatan masyarakat (pusat bersalin dan IGD) tidak diperbolehkan. Pada wilayah yang mempunyai risiko banjir tinggi, penggunaan lahan komersial dan jasa (SPBU) tidak diperbolehkan. 4) Area kantor.