Co-Asistensi Bidang Reseptir
“DIABETES INSIPIDUS PADA KUCING”
Jumat, ... 2024
AZZAHRA BUDIMAN
PEMBIMBING
Abdul Wahid Jamaluddin, S.Farm, M.Si, Apt.
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN 2024
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN Co-Asistensi BIDANG RESEPTIR
Co-Assistensi Bidang : Reseptir
Angkatan : 15
Tahun Ajar : 2024
Nama Mahasiswa : AZZAHRA BUDIMAN
NIM :
Makassar, ……….2024 Mengetahui,
Pembimbing Koordinator Bidang Reseptir
(Apt.Abdul Wahid Jamaluddin, S.Farm, M.Si) (Apt.Abdul Wahid Jamaluddin, S.Farm, M.Si) NIP 19880828 201404 1002 NIP 19880828 201404 1002
Menyetujui,
Ketua Program Profesi Dokter Hewan
(Drh. Fika Yuliza Purba, M.Sc, Ph.D) NIP 198607202010122004
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya laporan yang berjudul "Diabetes Insipidus pada Anjing". Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam penyusunan laporan ini, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Apt.Abdul Wahid Jamaluddin, S.Farm, M.Si selaku pembimbing, yang memberikan bimbingan, saran, ilmu dan kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam mengenaikasus pada laporan penulis.
2. Abdul Wahid Jamaluddin, S.Farm, M.Si, Apt, selaku kordinator bidang reseptir yang memberikan dorongan, masukan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa laporan ini sangatlah jauh dari kata sempurna. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan laporan ini.
Makassar, ... 2024
Azzahra Budiman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Anjing merupakan binatang peliharaan yang paling disukai dan seringkali disebut sebagai “men’s best friend”, yaitu sahabat terbaik manusia. Umumnya dikatakan bahwa anjing merupakan hewan peliharaan yang paling mudah menyesuaikan diri dan dapat menjadi teman sejati manusia (Saputra, 2016). Anjing diketahui sebagai hewan yang setia dan jujur yang mempunyai kemampuan indera pendengaran dan penciuman yang sangat tajam. Sebagai hewan sosial yang hidup berdampingan dengan manusia, anjing mempunyai perilaku seperti halnya manusia juga. Kedekatan pola perilaku anjing dengan manusia menjadikan anjing dapat dilatih, diajak bermain, tinggal bersama manusia, dan diajak bersosialiasi dengan manusia atau anjing yang lain (Mirwa, 2016).
Dalam pemeliharaannya, anjing bisa saja terserang penyakit baik itu penyakit yang disebabkan oleh agen patogen (penyakit infeksius) maupun penyait non infeksius. Salah satu penyakit non infeksius dapat disebabkan oleh ganggaun hormonal contohnya dapat terjadi pada anjing yaitu Diabetes insipidus. Menurut Kim et al (2022) diabetes insipidus adalah gangguan poliurik yang dihasilkan dari arginine vasopressin (AVP) yang tidak mencukupi untuk mengkonsentrasikan urin, yang mengganggu konservasi air atau karena gangguan respons nefron terhadap AVP. Diabetes insipidus terdiri atas beberapa jenis, salah satunya adalah diabetes insipidus sentral. Diabetes sentral adalah tipe yang paling umum dan disebabkan oleh produksi dan sekresi AVP yang tidak mencukupi dari hipofisis posterior sebagai respons terhadap stimulasi osmotik (Christ-Crain dan Odile, 2021).
Pengobatan yang dapat diberikan pada anjing yang mengalamai diabetes insipidus sentral yaitu dessmopressin acetate (DDAVP). DDAVP merupakan Peptida sintetis mirip dengan hormon antidiuretik (ADH), obat ini menghasilkan efek yang sama seperti ADH alami. Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, pada laporan ini akan dibahas mengenai diabetes insipidus sentral yang sering terjadi pada anjing, dimana akan dibahas pula mengenai treatment pengobatan yang sesuai
1.2 Rumusan Makalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dari laporan ini yaitu:
1. Bagaiman deskripsi singkat penyakit Diabets insipidus pada anjing?
2. Bagaimana jenis pengobatan yang dapat diberikan dan dan bagaimana deskripsi singkat mengenai pengobatan yang diberikan untuk penyakit diabetes insipidus pada anjing?
1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan dari laporan ini yaitu :
1. Untuk mengetahui deskripsi singkat penyakit Diabetes insipidus pada anjing, 2. Untuk mengetahui jenis pengobatan apa saja yang dapat diberikan dan deskripsi
singkat mengenai pengobatan yang diberikan untuk penyakit diabetes insipidus pada anjing.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etiologi
Diabetes insipidus dijelaskan pertama kali pada abad ke-18. Kelainan ini ditandai dengan rasa haus yang hebat meskipun mendapat banyak asupan cairan (polidipsi), dan berkemih berlebihan (poliuri). Hal ini terjadi karena tubuh tidak cukup menghasilkan anti- diuretic hormone (ADH)/arginine vasopressin (AVP), atau karena ginjal tidak dapat merespons hormon tersebut. Diabetes insipidus juga dapat terjadi saat kehamilan (diabetes insipidus gestasional), namun sangat jarang (Kusmana, 2016).
Diabetes insipidus diklasifikasikan berdasarkan sistem yang terganggu diantaranya, Diabetes insipidus sentral, diabetes insipidus nefrogenik, diabetes insipidus gestasional, dan diabetes insipidus dipsogenik. DI sentral pada kucing adalah kondisi yang ditandai dengan peningkatan produksi urin akibat gangguan pada hormon antidiuretik (ADH) (Kusmana, 2016).
Di sentral terjadi ketika ada kerusakan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus, yang dapat disebabkan oleh cedera kepala, tumor, penyakit inflamasi, dan gangguan genetik.
Kerusakan ini mengganggu produksi, penyimpanan, dan pelepasan ADH, yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dalam tubuh. Akibatnya, ginjal tidak dapat menyerap kembali air dengan baik, menyebabkan poliuria (produksi urin berlebihan) dan polidipsia (haus berlebihan) pada kucing (Kusmana, 2016). DI nefrogenik dapat terjadi akibat penggunaan obat tertentu, kelainan genetik, kadar elektrolit yang tidak seimbang, dan penyumbatan saluran kemih yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk memekatkan urin. DI gestasional merupakan kelainan akibat degradasi ADH oleh vasopressinase yang dihasilkan berlebihan oleh plasenta. DI dipsogenik merupakan kelainan akibat asupan
DIPSOGENIK Dipsogenik
Asupan cairan berlebihan
SENTRAL DIPSOGENIK
Dipsogenik
NEFROGENIK DIPSOGENIK
Dipsogenik
GESTASIONAL DIPSOGENIKD ipsogenik Kerusakan pada
hipotalamus Asupan cairan
berlebihan
Kerusakan pada tubulus ginjal
berlebihan
Plasenta menghasilkan vasopressinase cairan berlebihan
Kerusakan pada ginjal Asupan
cairan berlebihan
Pembuatan, penyimpanan, pelepasan ADH
Respon terhadap ADH menurun
ADH tergradasi
cairan berlebihan yang merusak pusat haus di hipotalamus. Asupan air berlebihan jangka panjang dapat merusak ginjal dan menekan ADH, sehingga urin tidak dapat dikonsentrasikan (Kun-Ho et al., 2022).
2.2 Patogenesis
Diabetes insipidus sentral disebabkan oleh insufisiensi hipofisis posterior untuk mensekresi AVP dalam kondisi hiperosmolalitas. Di sebagian besar kasus ini disebabkan oleh lesi anatomi yang dapat merusak neurohipofisis. Derajat destruksi neurohipofisis bertanggung jawab atas beratnya diuresis hipotonik yang dihasilkan, menyebabkan insufisiensi sekresi AVP baik sebagian atau seluruhnya. Salah satu penyebab DI sentral yaitu Makroadenoma hipofisis besar yang sepenuhnya menghancurkan hipofisis. Adenoma hipofisis yang besar seperti itu menyebabkan destruksi hipofisis posterior dengan memperbesar lesi intrasel dengan sangat lambat sehingga hanya terminal saraf yang rusak, tetapi tidak merusak badan sel neuron AVP sehingga tempat pelepasan AVP bergeser lebih superior ke tangkai hipofisis dan eminensia median. DI juga dapat bertahan dan menjadi permanen, yang berhubungan dengan lesi proksimal dari tangkai hipofisis atau hipotalamus. Pola selanjutnya yang dapat diamati, adalah respon trifasik yang dapat terjadi jika ada bagian tangkai hipofisis yang lengkap. Fase pertama terjadi dalam 24 jam pertama operasi dan disebabkan oleh syok akson dan kurangnya fungsi neuron yang rusak. Fase ini dapat berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Fase kedua adalah fase antidiuretik yang disebabkan oleh pelepasan AVP yang tidak diatur dari akson-akson hipofisis posterior yang terputus dan mengalami degenerasi. Pemberian cairan yang terlalu agresif selama fase kedua ini tidak menekan sekresi AVP dan dapat menghasilkan hiponatremia karena pelepasan vasopresin yang tidak diatur (Christ-Crain dan Odile, 2021).
Central Diabetes Insipidus (CDI) atau DI neurogenik adalah bentuk DI yang paling umum, terjadi. Hal ini disebabkan oleh sintesis/pelepasan AVP yang tidak adekuat, seringkali sekunder akibat pembedahan atau cedera kepala yang menyebabkan cedera traumatis pada hipotalamus atau kelenjar hipofisis posterior dan destruksi/degenerasi neuron yang berasal dari nukleus supraoptik dan paraventrikular hipotalamus. Gejala DI bermanifestasi setelah 80-90% neuron magnoseluler di hipotalamus rusak. Kerusakan pada bagian proksimal regio hipotalamus-neurohipofisis merusak lebih banyak neuron daripada cedera pada regio distal. Namun, cedera proksimal menyumbang 30- 40% dari CDI pasca
trauma dan pasca operasi, sementara cedera distal menyumbang 50-60% kasus (Karla et al., 2016).
2.3 Gejala Klinis
Poliuria dan polidipsia adalah tanda klinis yang paling umum pada anjing dengan diabetes insipidus. Pada anjing dengan NDI primer (genetik), tanda-tanda klinis biasanya menjadi jelas pada saat anjing berusia 8 hingga 12 minggu, dengan gejala poliuria, polidipsia, dan inkontinensia urin. Tanda-tanda neurologis telah dilaporkan, karena gangguan elektrolit atau neoplasia hipofisis, dengan depresi dan kejang diamati pada kasus yang jarang terjadi. Konsumsi air sering kali berlebihan, terkadang melebihi 800ml/kg/hari, dengan kompensasi produksi urin melebihi 50ml/kg/hari Tes darah biasanya dalam batas normal, tetapi mungkin termasuk hiponatremia yang diinduksi polidipsia (tidak diamati dalam kasus ini). Urinalisis biasanya menunjukkan hipostenuria atau isostenuria, dan hematuria tidak diamati secara teratur kecuali ada nefropati bersamaan (Brown, 2017).
Selain itu dengan adanya poliuria maka akan ada mineral yang akan terbuang bersama dengan urin diantaranya kalsium, Fosfor dan Natrium. Kalsium dan fosfor bahan utama dalam pembentukan tulang dan gigi. Tanpa adanya tulang yang berkembang maka pertumbuhan akan tidak sempurna. Karena itu kalsium mempunyai hubungan dengna pertumbuhan. Tulang bukan saja berfungsi sebagai kerangka tapi juga merupakan gudang kalsium dan fosfor dimana proses penyimpanan dan mobilisasi unsur-unsur tersebut dapat terjadi sepanjang hidup. Fraksi mineral dari tulang teridiri paling besar dari kalsium fosfat.
Bagian lain adalah karbonat, plourida, hidroksida dan sitrat. Selain dari ada pula megnesium. Natrium dan sedikit kalium. Selain itu kalsium juga dibutuhkan untuk proses pemberkuan darah dan juga berfungngsi mengatur keseimbangan air (Osmotic effect).
Fosfor penting dalam metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan juga penting untuk kontraksi urat daging, peyerapan dalam arti aktif transport. Natrium sendiri berfungsi Mengantur tekanan osmotis cairan badan, jadi melindungi badan terhadap hilangnya cairan yang terlalu banyak. (Wibawa, 2016).
2.4 Diagnosis
Diagnosis Diabetes Insipidus pada kucing dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, tes deprivasi air, tes vasopresin, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan fisik temuan dapat berupa pelvis penuh, nyeri panggul, atau nyeri menjalar ke area genitalia, juga pembesaran kandung kemih. Pada pengujian deprivasi air,
kucing diminta untuk tidak minum cairan selama beberapa jam. Jika kucing masih memproduksi urin yang encer dalam jumlah besar, ini menunjukkan adanya diabetes insipidus. Setelah tes deprivasi air, kucing mungkin diberikan vasopresin (ADH) untuk melihat respons ginjal. Jika produksi urin berkurang setelah pemberian vasopresin, ini menunjukkan diabetes insipidus sentral; jika tidak, kemungkinan besar adalah diabetes insipidus nefrogenik (Kusmana, 2016)..
2.5 Pengendalian dan Pengobatan
Volume urin normal yang dihasilkan oleh kucing dalam sehari bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk asupan cairan dan kondisi kesehatan. Namun, secara umum, volume urin yang dianggap normal untuk kucing adalah sekitar 20-40 ml per kg berat badan per hari (Caesar et al., 2019). Diabetes insipidus (DI) pada hewan, terutama pada anjing dan kucing, adalah kondisi yang ditandai oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengatur keseimbangan air, yang menyebabkan poliuria (produksi urine berlebihan) dan polidipsia (haus berlebihan).
Pengobatan diabetes insipidus pada hewan biasanya melibatkan beberapa pendekatan, tergantung pada jenis dan penyebabnya. DI sentral disebabkan oleh kurangnya produksi hormon antidiuretik (ADH) dari kelenjar pituitari. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian desmopressin, baik melalui semprotan hidung atau injeksi. Desmopressin membantu meningkatkan reabsorpsi air di ginjal, mengurangi volume urine yang dihasilkan, dan meningkatkan osmolalitas urine. Sementara DI nefrogenik terjadi ketika ginjal tidak merespons ADH dengan baik. Thiazide diuretik dapat digunakan untuk meningkatkan sensitivitas ginjal terhadap ADH dan mengurangi volume urin. Selain itu asien dianjurkan untuk minum banyak air untuk mencegah dehidrasi. Jika asupan cairan tidak mencukupi, penggantian cairan melalui infus bisa diperlukan. Diet rendah garam dan protein dapat membantu mengurangi produksi urine pada beberapa tipe diabetes insipidus (Kusmana, 2016).
2.6 Beberapa jenis pengobatan yang diberikan pada penderita Diabetes Insipidus pada hewan kecil
2.6.1 Desmopressin Acetate a) Indikasi
Desmopressin telah terbukti berguna dalam pengobatan diabetes insipidus sentral pada hewan kecil. Obat ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit
Von Willebrand Disease tapi pada kondisi ini obat ini hanya aktif bekerja selama 2-4 jam saja (Plumb, 2019).
b) Kontraindikasi
Desmopressin dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat ini. Obat ini tidak boleh digunakan untuk pengobatan penyakit Von Willebrand tipe IIB atau tipe platelet (pseudo) karena dapat menyebabkan agregasi platelet dan trombositopenia. Anjing German Shorthair Pointer berpotensi dapat mengalami tipe vWD ini. Desmopressin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang rentan terhadap kejadian trombotik. Penggunaan yang aman selama kehamilan belum ditetapkan namun, dosis aman hingga 125 kali dosis antidiuretik manusia rata-rata telah diberikan kepada tikus dan kelinci tanpa menunjukkan kerusakan janin (Plumb, 2019).
c) Mekanisme kerja
Desmopressin bekerja dengan meningkatkan reabsorpsi air oleh saluran pengumpul di ginjal, sehingga meningkatkan osmolalitas urine dan mengurangi produksi urine total. Obat ini dihancurkan di dalam saluran pencernaan, oleh karena itu obat ini harus diberikan secara parenteral. Waktu kerja antidiuretik pada anjing biasanya terjadi dalam waktu satu jam setelah pemberian, mencapai puncaknya dalam 2-8 jam dan dapat bertahan hingga 24 jam (Plumb, 2019).
2.6.2 Chlorothiazide a) Indikasi
Diuretik thiazide dapat digunakan untuk diabetes insipidus nefrogenik dan hipertensi pada anjing. Dalam dunia kedokteran hewan, thiazide masih digunakan untuk pengobatan hipertensi sistemik, diabetes insipidus nefrogenik, dan untuk membantu mencegah kekambuhan urolit kalsium oksalat pada anjing (Plumb, 2019).
b) Kontraindikasi
Desmopressin dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat ini. Obat ini berkontraindikasi terhadap pasien yang mengalami anuria dan hewan yang sedang bunting. Thiazide harus digunakan dengan sangat hati-hati, jika perlu tidak diberikan pada pasien dengan penyakit ginjal parah atau dengan kelainan keseimbangan elektrolit atau air yang sudah ada sebelumnya, fungsi hati yang terganggu (dapat memicu koma hepatik), hiperurisemia, lupus (SLE) atau diabetes melitus. Pasien dengan kondisi yang dapat menyebabkan
ketidakseimbangan elektrolit atau air (misalnya muntah, diare, dll.) (Plumb, 2019).
c) Mekanisme kerja
Diuretik thiazide bekerja dengan menghambat transportasi ion natrium melintasi epitel tubulus ginjal dengan mengubah metabolisme sel tubulus.
Lokasi utama aksi adalah di segmen pengencer kortikal dari nefron. Hasilnya adalah peningkatan ekskresi natrium, klorida, dan air. Thiazide juga meningkatkan ekskresi kalium, magnesium, fosfat, iodida, dan bromida serta menurunkan laju filtrasi glomerulus (GFR). Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai farmakokinetik obatini pada hewan (Plumb, 2019).
2.2 Manajemen Perawatan
Manajemen diabetes insipidus pada hewan memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan diagnosis yang tepat, pengobatan, pemantauan, dan edukasi pemilik.
Manajemen perawatan dapat dilakukan dengan memantau berat badan, kadar elektrolit, dan fungsi ginjal. Pastikan hewan memiliki akses terus-menerus ke air segar serta rutin memantau frekuensi dan volume urin pasien.
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Kasus
1) Anamnesa
Seekor kucing domestik berusia 1 tahun yang telah dikastrasi datang dengan keluhan poliuria dan polidipsia yang sudah memburuk sejak diadopsi, 7 bulan sebelumnya. Pemiliknya melaporkan bahwa kucing tersebut jatuh dari jendela tinggi saat berusia 2 bulan, tetapi kucing tersebut telah pulih tanpa masalah. Kucing tersebut telah menerima vaksinasi untuk rinotrakeitis virus kucing, calicivirus, dan panleukopenia, serta telah menerima praziquantel dan milbemycin untuk profilaksis infeksi endoparasit.
2) Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis dilakukan dengan mengukur bobot untuk memantau penurunan berat badan, pemeriksaan tanda vital meliputi suhu, nadi, dan pernapasan, mengevaluasi tanda-tanda dehidrasi seperti kelemahan, kulit yang kurang elastis, dan membran mukosa kering. Serta dilakuakan palpasi untuk menilai adanya pembesaran organ atau masalah lainnya.
3)
Pemeriksaan LanjutanDilakukan pemeriksaan urinalisis menunjukkan hipostenuria (berat jenis urin (USG) antara 1,004 dan 1,005 pada dua hari terpisah) tanpa kelainan lainnya.
Peningkatan ringan dalam urea dan konsentrasi protein total dan sesuai dengan dehidrasi ringan. USG abdomen menunjukkan pye lectasia bilateral ringan (pelvis ginjal kanan 2,2 mm, pelvis ginjal kiri 5 mm) tanpa tanda-tanda obstruksi ureter, dan sesuai dengan poliuria berat. Pemindaian MRI otak menunjukkan adanya kumpulan cairan di sella tursika, yang menekan kelenjar pituitari. Ciri-ciri ini menunjukkan adanya kista pituitari kongenital atau kraniofaringioma. MRI otak lanjutan dilakukan 9 bulan kemudian dan lesi ditemukan stabil.
Gambar 1. MRI otak
4) Diagnosis dan Prognosis
Dengan perawatan yang tepat, banyak kucing dengan diabetes insipidus dapat memiliki kualitas hidup yang baik. Namun, pemilik harus siap untuk memberikan perawatan jangka panjang dan memantau kondisi hewan secara teratur. Pada kasus ini, kucing yang mengalami CDI dengan kista hipofisis kongenital menunjukkan keberhasilan pengobatan dengan desmopressin.
3.2 Tata Laksana Terapi Desmopressin acetate
Jenis Obat Desmopressin acetate
Indikasi Diabetes insipidus
Kontraindikasi Desmopressin dikontraindikasikan pada pasien yang hipersensitif terhadap obat
ini. Obat ini tidak boleh digunakan untuk pengobatan penyakit Von Willebrand tipe IIB atau tipe platelet (pseudo) karena dapat menyebabkan agregasi platelet dan trombositopenia.
Dosis 1-4 tetes
Rute Okular
Frekuensi Setiap 12 jam
Nama Paten DDAVP
Dosis Pemberian 1-2 tetes
3.3 Resep
Klinik Hewan Pendidikan UNHAS Drh. Azzahra Budiman
Jl. Al Markas Al Islami Kompleks Perum Dosen Unhas blok IX Telp. (0401) 123456
SIP: 009/140801/DKPPP/XX/2024
No : 01/KHP/22 Makassar, 20 September 2024 R/ Desmopressin acetate No. I
S. 2.d.d. o.D.S
Pro : Pine (Domestik, jantan, 1 thn, 4 kg) Nama Pemilik : Juan
Alamat : Daya, Makassar No. Telp : 081234567765
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Diabetes insipidus sentral adalah tipe yang paling umum dan disebabkan oleh produksi dan sekresi AVP yang tidak mencukupi dari hipofisis posterior sebagai respons terhadap stimulasi osmotik. Pengobatan yang diberikan merupakan peptida sintetis yang memiliki mekanisme kerja mirip dengan hormon antidiuretik sehingga mampu menggantikan hormon yang hilang dengan rute pemberian di teteskan pada hidung atau pun mata. Selain itu jga dapat diberi terapi pakan untuk membantu melindungi fungsi ginjal.
4.2 Saran
Perlu dilakukan edukasi kepada pemilik untuk selalu memperhatikan kondisi kesehatan hewan peliharaan sehingga ketika terjadi ketidaknormalan maka penyakit dapat diteksi sedini mungkin
DAFTAR PUSTAKA
Christ-Crain, M. dan Odile G. 2021. Diabetes Insipidus. Presse Med 50 (2021) : 1-11.
Kim, S., Lee, H. J., Seo, K. W., & Song, K. H. (2022). Treatment Of Central Diabetes Insipidus With Anemia In A Dog. Korean Journal of Veterinary Service (KOJVS), 45(2), 139-143.
Mirwa, T. (2016). Hubungan Antarspesies: Visualisasi Anjing Setia Dalam Seni Patung.
Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa, 8(2) : 83- 111.
Wibawa, AAPP. 2016. Metabolisme Mineral dan Air. [Bahan ajar]. Denpasar: Universitas Udayana.