• Tidak ada hasil yang ditemukan

diagnosis dan penatalaksanaan rhinophyma

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2025

Membagikan "diagnosis dan penatalaksanaan rhinophyma"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN RHINOPHYMA

Oleh

Ni Ketut Ratih Nuryadi, Agus Rudi Astutha Bagian/SMF Ilmu Kesehatan THT-KL

Fakultas Kedokteran UNUD/RSUP Sanglah Denpasar I. PENDAHULUAN

Rhinophyma merupakan variasi dari derajat, tipe, dan perluasan bentuk hidung yang irregular, buruk, dan distorsi hipertrofik. Rhinophyma ini diduga merupakan bentuk akhir dari akne rosasea pada pria yang suka minum alkohol.

Kelainan hidung ini melibatkan kulit dan jaringan subkutan, otot, pembuluh darah, bahkan tulang rawan sampai terjadi proses patologi.1

Rhinophyma merupakan suatu deformitas hidung yang progresif akibat dari hiperplasia kelenjar sebasea dan jaringan ikat, dengan memberikan efek negatif pada kualitas hidup penderitanya.2 Rhinophyma ini biasanya terjadi pada pria kulit putih antara usia 40 dan 60 tahun. Dilaporkan juga pria lebih sering daripada wanita dengan rasio 12:1. Rhinophyma ini jarang terjadi pada orang kulit hitam.3

Rhinophyma ini ditegakkan tanpa pengujian khusus, biopsi kulit dapat dilakukan untuk mendukung diagnosis. Penatalaksanaan rhinophyma ini menggabungkan manajemen medis dan rencana pembedahan yang berstandar pada analisis estetika wajah dan hidung.4 Dalam tinjauan pustaka ini akan dibahas mengenai diagnosis klinis, histopatologi, dan penatalaksanaan dari rhinophyma.

(2)

2 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Rhinophyma pertama kali diperkenalkan di Yunani kuno dan Arabia.Rhinophyma berasal dari kata rhis yang berarti hidung dan phyma yang berarti pertumbuhan lambat.4-6 Beberapa istilah imajinatif yang digunakan untuk menggambarkan tipe rhinophyma yaitu eritema, hipertrofi, dan hidung yang mengalami peradangan. Jaman dahulu deformitas ini diibaratkan seperti akar sayuran ataupun moncong hewan. Istilah “rum blossom” atau “whiskey nose”

telah meresap dimasyarakat untuk menggabarkan rhinophyma.4,7

Rhinophyma ini dihubungkan dengan seseorang yang mengkonsumsi alkohol.

Kemerahan pada wajah yang disebabkan oleh zat vasoaktif dari kafein dan alkohol dapat memperberat kondisi ini. Rhinophyma ini juga merupakan bentuk berat dari rosasea.4

2.2 Anatomi

2.2.1 Anatomi Hidung

Hidung luar berbentuk piramida yang terdiri dari enam bagian yaitu pangkalhidung, batang hidung, puncak hidung, ala nasi, kolumela dan nares anterior. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Rongga hidungberbentuk terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh septum nasi dibagian tengah menjadi kavum nasi kanan dan kiri. Septum terdiri dari tulang dantulang rawan yang dilapisi oleh mukosa.8

Pada dinding lateral terdapat konka nasi. Konka nasi inferior adalah yang terbesar dan letaknya paling bawah. Kemudian yang lebih kecil adalah konka media, lebih kecil lagi konka superior, yang terkecil adalah konka suprema. Konka suprema biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid sedangkan konka lainnya merupakan bagian dari labirin etmoid.8

(3)

3 Gambar 1.Struktur hidung luar.9

Diantara konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior terletak diantara konka inferior dan dasar hidung, terdapat muara dari duktus nasolakrimalis. Meatus medius terletak diantara konka inferior dan media. Pada meatus medius terdapat muara dari sinus frontalis, maksila dan etmoidalis anterior. Meatus superior merupakan ruang diantara konka media dan superior. Pada meatus ini bermuara sinus etmoidalis posterior dan sfenoidalis.8,9 Hidung dibatasi di bagian inferior oleh dasar rongga hidung yang dibentuk oleh os maksila dan os palatum, bagian superior oleh lamina kribriformis, dan bagian posterior oleh os sfenoid.8,9

Bagian atas rongga hidung mendapat perdarahan dari a.etmoidalis anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmika dan a.karotis interna.Bagian bawah mendapat perdarahan dari cabang a.maksila interna diantaranya adalah ujung a.palatina mayor dan a.sfenopalatina yang keluar dari foramen sfenopalatina bersama dengan n.sfenopalatina dan memasuki rongga hidung dibelakang ujung posterior konka media. Bagian depan dari cabang a.fasialis venanya bermuara ke v.oftalmika yang berhubungan dengan sinus kavernosus. Vena di hidung tidak berkatup sehingga infeksi mudah menyebar keintrakranial.8,9

(4)

4 Saraf motorik hidung berasal dari n.fasialis. Bagian depan dan atas hidung mendapat persarafan sensoris dari n.etmoidalis anterior yang merupakan cabang dari n.nasosiliaris yang berasal dari n.oftalmikus. Rongga hidung lainnya mendapat persarafan sensoris dari n.maksila melalui ganglion sfenopalatina sedangkan saraf penghidu berasal dari n.olfaktorius.8

Aliran limfe dari vestibulum nasi mengalir ke depan ke arah bibir dan hidung bagian luar. Aliran limfe dari fosa nasalis mengalir ke posterior kemudian ke daerah retrofaring atau kelenjar limfe subdigastrikus. Secara histologi dan fungsional, terdapat dua mukosa rongga hidung yaitu mukosa pernafasan dan penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia dan diantaranya terdapat sel goblet. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga atas septum. Mukosa ini dilapisi oleh epitel torak berlapis semu tidak bersilia dan dibentuk oleh tiga macam sel yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu.8

2.2.2 Anatomi Kulit

Kulit terdiri atas tiga lapisan, yang masing-masing terdiri dari berbagai jenis sel dan memiliki fungsi yang bermacam-macam. Ketiga lapisan tersebut adalah epidermis, dermis dan subkutis. Diagram kulit diperlihatkan dalam Gambar 2.10

Epidermis adalah lapisan kulit terluar, mengandung reseptor-reseptor sensorik untuk sentuhan, suhu, getaran dan nyeri. Komponen utama epidermis adalah protein keratin. Keratin mencegah hilangnya air tubuh dan melindungi epidermis dari iritan atau mikro-organisme penyebab infeksi. Melanosit terdapat di bagian dasar epidermis, yang menghasilkan melanin. Melanin adalah pigmen hitam yang menyebar ke seluruh epidermis untuk melindungi sel dari radiasi ultraviolet. Sel- sel imun yang disebut sel Langerhans terdapat di seluruh epidermis. Sel Langerhans mengenali partikel asing atau mikro-organisme yang masuk ke kulit dan membangkitkan suatu serangan imun.10

(5)

5 Gambar 2. Gambaran tiga dimensi kulit.10

Lapisan yang terletak di bawah epidermis adalah dermis. Jaringan ini dianggap jaringan ikat longgar dan terdiri dari sel-sel fibroblas yang mengeluarkan protein kolagen dan elastin. Bahan ini menyebabkan kulit menjadi elastis dan memiliki turgor atau tegangan. Seluruh dermis dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat dan palit atau minyak atau sebasea. Pembuluh darah di dermis menyuplai makanan dan oksigen dermis dan epidermis serta membuang produk-produk sisa. Aliran darah dermis memungkinkan tubuh untuk mengontrol temperatur. Pada penurunan suhu tubuh, saraf-saraf simpatis ke pembuluh darah meningkatkan pelepasan norepinefrin. Pelepasan norepinefrin menyebabkan kontriksi pembuluh darah sehingga panas tubuh dapat dipertahankan. Apabila suhu tubuh terlalu tinggi maka

(6)

6 rangsangan simpatis terhadap pembuluh darah dermis berkurang sehingga terjadi dilatasi pembuluh darah. Saraf simpatis ke dermis juga mempersarafi kelenjar keringat, kelenjar sebasea serta folikel rambut.10

Lapisan yang terletak di bawah dermis adalah lapisan subkutis, yang terdiri dari lemak dan jaringan ikat, berfungsi sebagai peredam kejut dan insulator panas serta tempat penyimpanan kalori.10

Bagian lain dari kulit adalah rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.

Rambut adalah keratin yang mengeras yang tumbuh dengan kecepatan berbeda- beda di bagian tubuh yang berlainan. Rambut tumbuh sebagai suatu folikel di sebuah saluran, yang dimulai di bagian dalam dermis. Setiap folikel rambut saling berhubungan dalam saluran tersebut dengan sebuah kelenjar sebasea atau minyak dan serat otot polos, yang disebut otot erektor pili.10

Kelenjar sebasea mengeluarkan bahan berminyak yang disebut sebum ke saluran di sekitarnya. Kelenjar sebasea terdapat diseluruh tubuh, terutama di wajah, dada dan punggung. Testosteron meningkatkan ukuran kelenjar sebasea dan pembentukan sebum. Kadar testosteron meningkat pada pria dan wanita selama pubertas.10

Kelenjar keringat ada dua jenis yaitu: ekrin dan apokrin. Kelenjar keringat ekrin bermuara langsung ke permukaan kulit, berfungsi untuk mendinginkan tubuh melalui evaporasi panas. Kelenjar apokrin mengeluarkan keringat ke dalam saluran folikel rambut. Apabila dipengaruhi oleh bakteri permukaan maka sekresi kelenjar apokrin menimbulkan bau keringat yang khas.10

2.2 Epidemologi

Rhinophyma merupakan kelainan hidung yang jarang terjadi dan merupakan bentuk berat dari akne rosasea.11 Rhinophyma ini terjadi lebih banyak pada pria dibandingkan wanita dengan rasio 5:1 sampai 30:1 dengan rentang usia 45-60 tahun.2,4,11 Pada salah satu penelitian terhadap 108 pasien dengan rosasea, hanya 14% yang menderita rhinophyma dan 93% adalah laki-laki.7 Insidennya meningkat

(7)

7 pada pria diduga karena pengaruh dari hormon androgenik.4Rhinophyma juga lebih sering terjadi pada orang kulit putih seperti ding Inggris dan Irlandia dan jarang ditemukan pada kulit hitam seperti afrika.3 Rhinophyma ini jarang terjadi didaerah asia dengan20 kasus yang tercatat pada literatur di Jepang.4 Berdasarkan data epidemiologi belum dapat dipastikan adanya keterlibatan faktor genetik.11

2.3 Patogenesis

Patogenesis dari Rhinophyma sampai saat ini masih belum jelas. Adanya komponen herediter, berhubungan dengan alkohol dan terdapatnya kolonisasi bakteri pada kelenjar sebasea dapat diduga sebagai faktor yang mempengaruhi terjadinya rhinophyma.2,6 Rhinophyma tumbuh dengan lambat, berasal dari perkembangan akne rosasea, yang merupakan stadium akhir atau bentuk paling berat dari akne rosasea.4

Terdapat banyak faktor yang berpengaruh tetapi tidak satupun terbukti merupakan penyebab dari akne rosasea. Diantara faktor yang diduga sebagai penyebabnya adalah: 1). Makanan seperti kopi, teh panas, minuman keras, tembakau dan makanan pedas atau banyak rempah-rempah yang dapat menyebabkan muka merah, 2). Psikis diduga sebagai penyebab, tetapi tidak terbukti bahwa kelainan psikis menyebabkan terjadi akne rosasea, bahkan akne rosasea dapat menyebabkan terjadinya neurosis dan depresi, 3). Farmakologi, kemerahan pada muka disebabkan oleh stimulasi dari bradikinin yang dikeluarkan oleh adrenalin, 4). Infeksi, walaupun pada penderita akne rosasea pernah ditemukan Demodex folliculurum tetapi peranan sebagai penyebab akne rosasea dari tungau ini diragukan. Selain itu adanya Helicobacter pylorijuga ditemukan pada penderita rosasea yang disertai dengan keluhan-keluhan padasistem gastrointestinal tetapi belum ada penelitian yang mendukung hipotesis H. Pylori sebagai agen infeksi penyebab rosasea, 5). Iklim, beberapa ahli menduga bahwa perubahan iklim dapat menyebabkan kerusakan vaskuler dan memegang peranan pada patogenesis akne rosasea. Pada penelitian terbaru didapatkan bahwa pada

(8)

8 permulaan proses terjadinya akne rosasea terdapat degenerasi elastotik pada dermis yang diikuti oleh vasodilatasi dan peradangan. Dengan demikian diduga bahwa degenerasi pada dermis merupakan penyebab utama terjadinya akne rosasea. Dalam hal ini faktor paparan sinar matahari dikatakan sebagai faktor yang menyebabkan akne rosasea bertambah hebat. Namun peranan iklim pada kelainan jaringan ikat ini masih belum jelas, 6). Imunologis, ditemukan antibodi antikolagen dan antinuklear pada limfosit penderita akne rosasea. Diduga terdapat akumulasi imunoglobulin pada perbatasan epidermis-dermis dan antibodi pada kolagen papiler. Sebabnya mungkin adalah kerusakan kolagen karena pengaruh sinar matahari. Ditemukan juga antibodi antinuklear IgM yang beredar dalam darah pada beberapa penderita, diduga ada hubungan penyakit ini dengan penyakit autoimun.4,12-16

Perkembangan dari akne rosasea menjadi stadium akhir atau stadium komplikasi ke rhinophyma melewati beberapa stadium yaitu: 1). Stadium I, dengan gejala berupa episode flushing atau kemerahan atau pre-rosasea, berupa eritema sedang yang menetap disertai dengan teleangiektasis yang tersebar, 2).

Stadium II, dengan gejala berupa eritema yang menetap, banyak teleangiektasis, papula dan pustula, sering dikenal dengan gejala rosasea vaskular 3). Stadium III, dengan gejala berupa eritema hebat yang menetap disertai banyak teleangiektasis terutama pada hidung; papula, pustula dan nodul dengan edema yang mirip plakat, dikenal sebagai inflamatory rosacea 4) Stadium IV atau komplikasi menjadi rhinophyma, dengan gejala terjadi suatu pembengkakan yang menonjol, tidak merata pada hidung dan berlobus-lobus, dengan warna lesi bervariasi dari sesuai dengan warna kulit, biru kehijauan dan merah tua atau merah tembaga. Kadang- kadang disertai rasa sakit dan menimbulkan gangguan kosmetik bahkan dapat menyebabkan obstruksi hidung. Hanya beberapa pasien akne rosasea yang berkembang ke komplikasi rhinophyma.4, 12-15,17-20

Pada rhinophyma kelenjar sebasea mengalami pertumbuhan dan membuat bentuk yang tidak beraturan. Kelenjar ini menghasilkan substansi minyak yang

(9)

9 disebut sebum. Sebum ini terdiri dari lemak dan produksi sel yang mati. Substansi ini digunakan sebagai pelicin pada kulit yang tidak berambut, sebum ini dibawa kepermukaan kulit melalui pori-pori kulit. Kelebihan produksi sebum dapat terjadi pada kondisi pada respon terhadap hygiene yang buruk, makan makanan yang banyak mengandung lemak dan kondisi alami yang berhubungan selama masa remaja atau pubertas.12-15,19,20

Rhinophyma ini awalnya ditandai oleh peningkatan vaskularisasi kulit dan adanya peradangan kronis yang terus berlajut pada rosacea sehingga menyebabkan hipertrofi jaringan, fibroplasia, proliferasi kelenjar sebasea .4,6 Mekanisme lain yang berperan pada patofisiologi rhinophyma adalah terbentuknya fibrosis dan scar akibat terjadinya peningkatan transforming growth factor atau TGF- β1 dan transforming growth factor atau TGF- β2.6

2.4 Diagnosis

Diagnosis dari rhinophyma ini ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan histopatologi. Gejala klinis pada rhinophyma tampak eritema pada kulit hidung dengan gambaran telangiektasis, terkadang berwarna keunguan. Dalam beberapa kasus kulit hidung tampak berlubang-lubang, fisura, dan jaringan parut. Terdapat sebum dan bakteri sebagai akibat infeksi kronis dan sering tercium bau yang tidak enak.Ujung hidung tampak melebar, termasuk bagian dorsum hidung. Terdapatnya hipertrofi pada kulit hidung, hal ini akan mempengaruhi unit kosmetik hidung. Pasien juga sering mengeluhkan hidung buntu atau obstruksi saluran nafas. Rhinophyma ini tumbuhnya lambat, bentuknya nodular, dan dapat mempengaruhi tulang dan tulang rawan.4

Adapun klasifikasi rhinophyma berdasarkan derajat keparahan deformitasnya yaitu 1). Tipe early vascular, 2). Moderat yaitu perluasan yang difusa, 3). Awal yaitu tumor yang terlokalisasi, 4). Ekstensif dengan perluasan yang difusa, 5).

Ekstensif dengan tumor yang terlokalisasi-perluasan difusa.1,4

(10)

10 Gambar 3 A. pasien rhinophyma tampak depan, B.pasien rhinophyma

tampak bagian lateral.7

2.5 Histopatologi

Histopatologi dari rhinophyma sangat bervariasi. Mulai dari bertambahnya jumlah dan ukuran atau hiperplasia dan hipertropi dari kelenjar sebasea, folikel melebar dan sering terisi oleh debris berupa sebum, keratin dan bakteri.

Pemeriksaan histopatologi rutin dilakukan setelah pembedahan terutama pada rhinophyma. Rhinophyma memiliki 4 tipe yaitu: tipe glandular, tipe fibrous, tipe fibroangiomatosis dan tipe aktinik.12-16,20,21

Pada tipe glandular terjadi pembesaran hidung berhubungan dengan hiperplasia kelenjar sebasea yang berlobus-lobus dan dilatasi pembuluh darah kapiler. Permukaannya berbintik-bintik, benjolan atau pembesaran hidung biasanya asimetri dengan ukuran yang bervariasi. Ekskresi sebum meningkat, jika ditekan dengan jari pada permukaan yang berbintik-bintik tersebut akan keluar seperti pasta putih.12-16,20,21

Pada tipe fibrous pertumbuhan hidung berhubungan dengan peningkatan densitas dan hiperplasia menyeluruh dari jaringan penghubung hidung atau

A B

(11)

11 connective tissue yang merupakan variasi dari hiperplasia kelenjar sebasea. Pada tipe fibroangiomatosis tampak hidung merah tembaga sampai merah gelap dan ukuran yang sangat besar, edema pada connective tissue yang berisi pembuluh darah yang melebar. Tipe aktinik, jaringan elastik mengalami pertumbuhan bernodul, tipe ini sering dihubungkan dengan kerusakan kulit akibat paparan sinar terutama pada orang tua.12-16,20,21

Disimpulkan Rhinophyma memiliki dua gambaran histologi yang berbeda yaitu 1). Ditandai dengan hyperplasia kelenjar sebasea, inflamasi perifolikular, telangiektasis dermis, dan kadang-kadang tampak kista folikular yang secara klinis tampak pada hidung pasien rhinophyma , 2). Terdapat fibrosis dermis, penurunan atau ketidakhadiran struktur pilosebasea, terdapatnya telangiektasis, dan peningkatan sejumlah mucin dermis dan secara klinis menggambarkan hidung dengan belalai.6

Terdapatnya metaplasia skuamosa dan musinus pada kista berasal dari struktur folikel yang mengalami dilatasi. Tidak terdapatnya kista dan pilosebasea oleh karena inflamasi perikistik kronis yang merusak struktur residual pilosebasea.6

Gambar 4. Hiperplasia kelenjar sebasea, inflamasi perifolikular, dan telangiektasis dermal.7

2.6 Diagnosis Banding

Terdapatnya nodul pada hidung, hipertrofi dan eritema merupakan gambaran yang umum pada rhinophyma.Diagnosis banding dari rhinophyma ini hanya dapat

(12)

12 dilihat melalui gambaran histopatologi.4 Beberapa gambaran patologi yang menyerupai rhiophyma yaitu karsinoma adneksal mikrositik, karsinoma sebasea, karsinoma metastase, angiosarkoma, sarcoidosis, dan amiloidosis. Pada kanker kulit yaitu karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa juga terdapat gambaran rhinophyma.6

2.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan rhinophyma dapat dilakukan dengan pendekatan non bedah dan pembedahan. Pada terapi non bedah dilakukan untuk rosasea yaitu pemeberian antibiotika topikal atau oral dan pemberian retinoid, sedangkan untuk rhinophyma dipilih perubahan pola makan dan kombinasi dengan vitamin, uap merkuri, injeksi dari fibrolisin, dan penggunaan steroid. Terapi sinar X dapat disarankan untuk pasien rhinophyma pada tahun 1920 yang dapat menurunkan ukuran kelenjar sebasea.4

Terapi pembedahan merupakan manajemen utama dari rhinophyma yang meliputi pengangkatan jaringan yang berlebih. Kedalaman pengangkatan jaringan yang lebih adalah dengan menyisakan struktur adneksa kulit pada dasar luka untuk proses penyembuhan.3

Pembedahan pada rhinophyma dibagi dalam beberapa kategori yaitu 1).

Rekonstruksi dari permukaan kulit dengan planning, paring, eksisi, atau dekortikasi yaitu dengan wire-brushing, elektrokoagulasi, carbondioxide slush,dan reseksi dengan koagulasi wire loop, 2). Reseksi en blok pada kulit dan jaringan subkutan, 3). Reseksi subkutan pada jaringan lunak melalui insisi eksternal atau melalui intranasal insisi tanpa elevasi flap.1

Persiapan operasi pada rhinophyma waktunya dapat bervariasi dari satu minggu sampai satu bulan yaitu pembersihan secara intensif pada kulit dan pemberian antibiotik sistemik, pemberian antibiotik diberikan hingga proses penyembuhan yang sempurna.1

(13)

13 Teknik operasi yaitu menggunakan Castroviejo atau dermatome seperti alat pengupas kentang digunakan untuk memotong seluruh hidung bagian dorsum hingga ujung hidung, alae dan rim dengan ketebalan kurang lebih 1 mm dilanjutkan sampai permukaan hidung yang sakit hingga permukaanya tampak halus. Bagian kulit yang tersisa disimpan untuk menutup permukaan defek yang terjadi akibat defek operasi atau disimpan untuk proses penyembuhan yang lambat. Hemostasis dapat ditangani dengan elektrokoagulasi, pembuluh darah besar dapat dilakukan dengan penjahitan atau ligasi.1

Tepi luar dan peningkatan dermoepidermal flap, bila memungkinkan insisi dibuat pada bagian bebas tumor dari ujung hidung tetapi kadang-kadang melalui bagian yang sakit dibuat diatas dorsum hidung, yang lainnya dibuat secara vertikal pada garis tengah hidung. Insisi ini memungkinkan elevasi flap. Sedangkan pada rim dan ujung hidung flapnya sama diangkat pada bagian distal. Meskipun terjadi peningkatan vaskularisasi pada jaringan yang sakit flapnya relatif lebih tebal dan harus dielevasi.1

Reseksi jaringan yang terlibat dan dilakukan pemahatan. Eksisi en blok dibawah flap bertujuan untuk menghilangkan jaringan subkutan dan otot yang berlebih sehingga terlihat kerangka tulang rawan.1

Prosedur kedua yang dilakukan adalah membuang tulang rawan dan tulang yang menonjol sangat penting dilakukan sebagai rekonstruksi sekunder tulang rawan. Beberapa modalitas yang dapat dipilih adalah dengan asam tricloroasetik, wire brushing, pembedahan abrasi, pengangkatan dengan dermatom, abrasi dengan sandpaper, menggunakan diamond wheel atau chemical peel.1

(14)

14 Gambar 5. A, B. Tipe tumor yang ekstensif terlokalisasi- perluasan yang difusa, C. Setelah dilakukan Planing, eksisi, rekonstruksi tulang rawan dan penutupan flap, D.setelah dilakukan skin graft dari bagian hidung yang diambil selama proses dekortikasi, E, F. hasilnya setelah satu tahun.1

Gambar 6.Teknik rekonstruksi rinoplasti pada rhinophyma.1

(15)

15 Tindakan pembedahan lain yang dapat dilakukan adalah dermabrasi yaitu prosedur pembedahan yang mengangkat lapisan kulit epidermis dan dermis dengan kedalaman yang cukup untuk mengangkat tumor atau deformitas. Dasar fisiologi penyembuhan setelah dermabrasi tergantung pada kapasitas dari kulit untuk beregenerasi pada penutupan epidermis melalui epitelialisasi kulit khususnya unit pilosebasea.3

Gambar 7. Alogaritme penatalaksanaan rhinophyma.4

III. PEMBAHASAN

Rhinophyma merupakan penyakit inflamasi dermatologi yang ditandai dengan hipertrofi jinak pada struktur sebesea adneksa. Rhinophyma ini penyebabnya tidak diketahui, dan dihubungkan dengan tahap akhir dari akne rosasea.3 Adanya komponen herediter, berhubungan dengan alkohol dan terdapatnya kolonisasi

(16)

16 bakteri pada kelenjar sebasea dapat diduga sebagai faktor yang mempengaruhi terjadinyar rhinophyma.2,3,6

Freeman1, menggambarkan pada 55 pasien rhinophyma 12 pasien dilaporkan adanya hubungan keluarga, 18 pasien dilaporkan dengan riwayat peminum alkohol. Matton dkk22, juga melaporkan terdapat dua saudara memiliki penyakit yang sama. Ayer dan Anderson23, 1932 menyatakan terdapatnya hubungan antara infeksi Demodex folliculorum dan akne rosasea.

Rhinophyma ini terjadi lebih banyak pada pria dibandingkan wanita dengan rasio 5:1 sampai 30:1 dengan rentang usia 45-60 tahun.Pada salah satu penelitian terhadap 108 pasien dengan rosasea, hanya 14% yang menderitarhinophyma dan 93% adalah laki-laki.2,4,7,11

Karaterikstik morfologi dari rhinophyma adalah telangiektasis, hipervaskular, penebalan lapisan kutaneus hidung, kulit yang atrofi tertutup oleh nodul dengan perluasan ke pori-pori.3

Diagnosis dari rhinophyma ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan histopatologi.Histopatologi dari rhinophyma sangat bervariasi. Mulai dari bertambahnya jumlah dan ukuran atau hiperplasia dan hipertropi dari kelenjar sebasea, folikel melebar dan sering terisi oleh debris berupa sebum, keratin dan bakteri. Rhinophyma memiliki 4 tipe yaitu: tipe glandular, tipe fibrous, tipe fibroangiomatosis dan tipe aktinik.3

Penatalaksanaan rhinophyma dapat dibagi menjadi 2 yaitu terapi non bedah dan terapi pembedahan. Terapi pembedahan pada rhinophyma merupakan pilihan yang utama. Terdapat berbagai pilihan pembedahan yang dapat dipilih yaitu dermaplanning, dermabrasion, cryosurgery, laser carbon dioxide atau CO2, harmonic scalpel, ND Yag Laser, electrosurgery.3

Ammar dkk5, mengevaluasi dan membandingkan pembedahan laser dengan teknik konvensional yaitu dengan potong beku dan dermobraders pada rhinophyma. Penelitian dilakukan pada 7 pasien di poliklinik THT Al-Yarmouk hospital periode 1997-2004. Pasien dengan moderat sampai mayor rhinophyma, 4

(17)

17 pasien dengan teknik eksisi dan 3 pasien denan bedah laser. Follow up dilakukan rentang waktu 1-4 tahun. Hasil yang dipertoleh yaitu bedah laser relatif waktunya lebih panjang dari eksisi, tetapi hasilnya lebih baik pada aspek penyembuhan jaringan, tidak memelukan graft kulit, perdarahan intraoperatif lebih rendah, dan pada intinya bedah laser lebih mudah dikerjakan, prosedurnya halus, dan memberikan hasil kosmetik yang lebih baik

Greenbaum dkk24, 1998 melaporkan perbandingan laser CO2dan electrosurgery pada rhinophyma. Penelitian dari 3 pasien yaitu separuh hidung diterapi deng laser CO2 dan separuh lagi dengan biterminal electro cutting, dengan hasil penggunaan laser CO2 lebih mudahdan hasil yang lebih baik.

IV. KESIMPULAN

Rhinophyma merupakan suatu deformitas hidung yang progresif akibat terjadi hiperplasia kelenjar sebasea dan jaringan ikat, dengan memberikan efek negatif pada kualitas hidup penderitanya.2

Masalah utama yang muncul dari kelainan ini adalah faktor kosmetik dan estetika, tetapi secara anatomis juga menimbulakan masalah karena pertumbuhan pada hidung ini dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas sehingga mengganggu fungsi fisiologis dari hidung.4

Penatalaksanaan rhinophyma dapat dilakukan dengan pendekatan non bedah dan pembedahan. Pada terapi non bedah dilakukan untuk akne rosasea yang diduga sebagai salah satu faktor terjadinya rhinophyma, apabila sudah terjadi rhinophyma terapi pembedahan merupakan pilihan utama.3,4

(18)

18 DAFTAR PUSTAKA

1. Freeman, B. S. Reconstructive rhinoplasty for rhinophyma. Plast. Reconstr.

Surg. 46: 265, 1970. p.1185-92.

2. Wetzig T, Averbeck M, Simon JC, Kendler M.New Rhinophyma Severity Index and Mid-Term Result Following Shave Excision of Rhinophyma.

Dermatology. 2013:227. p. 31-6.

3. Biswari G, Gupta P, Das D. Management of Rhinophyma on basis of different excision procedures. Journal of college of Medical Science-Nepal. 2010:6:2.

p.50-5.

4. Rod J et al. Rhinophyma: Review and Update. University of Texas Southwestern Medical Center at Dallas. 2001:110:3. p.860-8.

5. Khammas AH, Albayati AI. Surgical Treatment of Rhinophyma, Conventional versus diode Laser Technique. IRAQI Journal of Laser.

2008.p.27-31.

6. Gugic D, Delair D, Vincek V. Unusual Cystic Variant of Rhinophyma . Departement of Pathology, Immunology & Laboratory Medicine. 2007.p.

484-5.

7. Faris C, Manjaly, Ismail-Koch H et al. Rapid Treatment of Rhinophyma with Powered Microdebrider. Departement of Otolaryngology and Head and Neck Surgery. 2013 p. 1-5.

8. Walsh WE, Kern RC. Sinonasal anatomy, function and evaluation. Dalam:

Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, penyunting. Head and Neck Surgery- Otolaryngology. Edisi ke-4. Lippincot William & Wilkins; 2006. p.307-18.

9. Marks SC. Nasal and sinus surgery. Pennsylvania: W.B. Sauders Company.

2000.

10. Corwin, Eliszabeth J. Integumen. Dalam: Endah P, editor. Buku Saku Patofisiologi/Elizabeth J, Corwin dengan judul asli Handbook of Pathophysiology. Jakarta: EGC, 2000. p. 589-92.

(19)

19 11. Bogetti P, Boltri M, Spagnoli G etal. Surgical Treatment of Rhinophyma: A

Comparison of Techniques. Aesth. Plast. Surg. 2002:26. p.57-60.

12. Edward A. Inflamatory Diseases of Epidermis Appendeges and Cartilage. In:

David E, editor. Lever´s Histopathology of the Skin. 8th ed. Philadelphia:

Lippincott Reven, 1997. p. 403-5.

13. Enny W. Akne Rosasea dan Akne Vulgaris. Dalam: Marwali H, editor. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates, 2000. h. 31-42.

14. Weedon D. Rosacea. In: Geoffrey S, editor. Skin Pathology. 2nd ed. Sydney:

Churchill Livingstone, 2002. p. 484-5.

15. McKee P, Calonje E, Granter S. Rosacea. In: McKee P, Calonje E, Granter S, editors. Pathology of the Skin with Clinical Correlations. 3rd ed. London:

Elsevier Mosby, 2005. p. 1121-4.

16. Plewig G, Kligman A. Rosacea. In: Plewig G, Kligman A, editors. Acne and Rosacea. New York: Springer-Verlag, 1975. p. 433-64.

17. Shahan F, at al. Management of Benign Facial Lesion. In: Bailey B, editor.

Head and Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams, 2006. p. 2731-48.

18. Hilger P. Diseases of the Nose. In: Boies A, Hilger P, editors. Boies Fundamental of Otolaryngology. 6th ed. Philadephia: W.B Saunders Company, 1989. p. 206-47.

19. Walter B, Naumann HH, Pfaltz CR. Rhinophyma. In: Richard A, editors. Ear, Nose and Throat Diseases A Pocket Reference. 3rded. New York: Thieme Medical Publishers Inc, 1989. p. 206.

20. Walter F, Gundula S. Inflamatory Diseases of Epidermis Appendeges and Cartilage. In: Walter F, Gundula S, editors. Histopathology of the Skin. 6th ed.

Philadelphia: Lippincott Williams, 1983. p. 198-200.

21. Epstein E. Rhinophyma. In: Epstein E, Jr, editor. Skin Surgery. 6th ed.

Philadhelpia: WB Saunders Company, 1987. p. 92-5.

(20)

20 22. Matton, G., Pickrell, K., Huger, W., and Pound, E. Surgical treatment of

rhinophyma. Plast. Reconstr. Surg.30: 403, 1962.

23. Ayers, S., Jr., and Anderson, N. P. Demodex folliculorum: Its role in the etiology of acne rosacea. Arch. Dermatol. Syphilol.25: 89, 1932.

24. Greenbaum S. S, Krull E. A., Watnick K. (1988): Comparison of CO2 laser and electro- surgery in the treatment of rhinophyma. J. American Acad. of Dermatology; 18: 363-368.

Referensi

Dokumen terkait

Gejala-gejala rinitis alergi yang perlu ditanyakan adalah diantaranya adanya rinore (cairan hidung yang bening encer), bersin berulang dengan frekuensi lebih dari

Sehu- bungan dengan fakta bahwa 78% kardiomiopati peripartum terjadi pada bulan ke-0 sampai dengan bulan ke-4 setelah mela- hirkan, dan pasien tidak mem- punyai kelainan

Karena komplikasi seperti ini sudah sangat jarang terjadi, kasus ini diajukan agar para ahli THT mengetahui dan dapat mengenali bila menjumpainya. Kasus: Dilaporkan satu

3,4 Insiden dari angiofibroma kavum nasi ini sangat jarang ditemui dimana dapat terjadi pada perempuan dan laki-laki tetapi kasus yang banyak dilaporkan perempuan lebih

Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien BPH dengan memakai IVP atau USG, ternyata bahwa 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran kemih bagian atas;

Pemeriksaan CT scan sesuai dengan teori bahwa tumor dapat terbatas pada rongga hidung dalam yang dapat berkisar dari beberapa milimeter hingga lebih dari 2

Tumor hipofisis yang berukuran kecil umumnya tidak bergejala, akan tetapi jika tumor membesar dapat menimbulkan gangguan dikarenakan efek kompresi dari tumor sendiri

Otore CSS akibat kelainan kongenital sering berhubungan dengan displasia telinga dalam Mondini. Pada kasus ini otore CSS terjadi karena aquaduktus koklea yang terbuka