BAB III
HASIL & PEMBAHASAN
A. MODUS OPERANDI PENIPUAN MELALUI GAME ONLINE
Pengertian modus operandi dalam lingkup kejahatan yaitu operasi cara atau teknik yang berciri khusus dari seorang penjahat dalam melakukan kejahatannya1.
Modus Operandi berasal dari Bahasa Latin, artinya prosedur atau cara bergerak atau berbuat sesuatu. Menurut Wikipedia modus operandi adalah cara operasi orang-perorang atau kelompok penjahat dalam menjalankan kejahatannya2.
Dalam dunia game online, begitu banyak modus operandi untuk melakukan penipuan dalam game online, mulai dari cara yang mudah hingga cara yang sulit. Hingga sampai saat ini, telah begitu banyak modus-modus operandi penipuan di dalam game online yang telah memakan banyak korbannya. Dibawah ini terdapat beberapa modus operandi penipuan yang sudah sering terjadi di dalam dunia game online :
1. Menyamarkan Nama atau Kamuflase Nick
Yang dimaksud dengan menyamarkan nama atau kamuflase nick yaitu, ada seorang player terkenal yang sudah super recommended dalam proses jual beli, misalnya nickname dia Superman , si penipu itu akan menggunakan nama yang
1 Alfitra, Modus Operandi Pidana Khusus Di Luar KUHP (Jakarta: RAS/Penebar,2014)
2 https://id.wikipedia.org/wiki/Modusoperandi, Ambon, 26 Januari 2019 pukul 12.33
hampir sama atau nyaris susah dibedakan , seperti Svperman atau Supperman sehingga target yang ingin ditipu mengira jika kita adalah pengguna asli nama itu. Biasanya penipu ini menarget player(pemain) yang dekat dengan pemain yang namanya dia pakai. Penipu jenis ini biasanya mudah terbaca gerak gerik nya, tinggal lihat nickname(nama dalam game) saja.3
2. Menggunakan Character Orang Lain
Penipu jenis ini susah ditebak, dia biasanya pelaku membeli akun character dari pemain yang sudah tenar dan menggunakan akun tersebut untuk menipu. Hampir sama seperti modus kamuflase nick hanya saja ini memang character aslinya tetapi sudah berbeda kepemilikan, biasanya penipu ini memanfaatkan hal-hal seperti ini untuk menipu teman terdekat pemilik akun sebelumnya dengan cara mengaku bahwa penipu sebagai pemilik akun sebelumnya. Untuk menghindari modus ini, kita harus selalu mengikuti kabar dalam game yg kita mainkan, bila anda adalah penjual character, maka bila character anda telah sold(terjual), segera umumkan dalam game tersebut, untuk menghindari penipuan.4
3. Reputasi
Biasanya ketika bertransaksi, harus ada salah satu pihak yang memberikan barang atau membayar uang terlebih dulu. Biasanya mereka yang punya reputasi
3 https:// duniagames.co.id / news /4595- lima- jenis- penipuan- yang- sering- kita-temui- saat-bermain-game-online?page=1, Ambon 27 Januari 2019 pukul 23.32
4 https:// www. kaskus.co.id/thread / 5388059e6507 e7440e8b4732 / kumpulan-modus- penipuan-game-online/?fbclid=IwAR0QCKUx1zjhi0ePK4Lq-jkWjAMRjP0ULwPwjYb1ueVTC- uOVk-KCXXXRuI, Ambon 29 Januari 2019 pukul 11.33
tinggi di dalam game memanfaatkan hal ini. Kebanyakan dari mereka yang merasa terkenal di dalam game, ketika bertansaksi ia tidak mau membayar duluan, ia hanya mau bayar setelah menerima barang duluan. Tetapi yang terjadi, kebanyakan orang memanfaatkan hal ini dan yang terjadi setelah dia menerima barang akhirnya dia akan lari begitu saja.5
4. Pemalsuan Bukti Transfer
Penipu yang memakai cara ini biasanya dia yang sudah pintar dalam mengedit foto, biasanya penipu ini memalsukan bukti transfer dengan mengedit foto seolah-olah bahwa dia telah memberikan bukti transfer yang benar6. Modus seperti ini sudah tidak asing lagi bagi para pemain game online. Walaupun begitu masih tetap ada yang tertipu, banyak yang menjadi faktornya, mulai dari kurangnya pengetahuan, kurang teliti, tidak mengecek ulang saldo di bank, dll.
5. Hode (Menyamar Menjadi Pemain Perempuan)
Biasa digunakan di dalam dunia game dengan ciri-ciri mempunyai karakter di dalam game dengan jenis kelamin yang berbeda dengan aslinya di dunia nyata, biasanya cowo yang menggunakan karakter cewe di dalam dunia game 7
5 https:// duniagames.co.id / news / 4595- lima- jenis -penipuan- yang- sering- kita-temui -saat-bermain-game-online?page=1, Ambon, 12 Maret 2019 pukul 21:01
6 https:// economy.okezone.com /read/2018/03/24/320/1877277/ 6-modus-penipuan- online-yang-harus-anda-waspadai?fbclid=IwAR1Tn4So9obSw311p5hAbFSkyIJjH8Z-
TZclE142xRIhpAj34WVyNd1HeQs, 12 Maret 2019 pukul 21:38
7 https://kitabgaul.com/word/hode, Ambon, 1 Ferbruari 2019 12 Maret 2019 pukul 22:11
Tak bisa dipungkiri bila perempuan sering menjadi titik lemah laki-laki. Di dalam game online sendiri kita semua sudah tau bahwa kebanyakan di dominasi oleh laki-laki.. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh pemain laki-laki lain yang menyamar seolah-olah menjadi perempuan (hode). Tujuannya tentu supaya gamer yang diincar jadi bersimpati kepadanya. Setelah mendapat simpati, aksinya dilanjutkan dengan 'menguras' seluruh item (barang) dan kekayaan di dalam game yang dimiliki oleh sasarannya tadi.8
B. HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PENEGAKKAN HUKUM PELAKU TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM GAME ONLINE
Faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaku penipuan jual-beli di dalam game online adalah dari pihak yang dirugikan atau korban yang tidak mau melaporkan atas kerugian yang dialaminya yang disebabkan oleh rasa malu karena telah tertipu dan masih berharap mendapatkan keuntungan. Dan hingga saat ini proses penegakan hukumnya masih lamban, dengan hal ini dapat menghambat proses-proses penegakan hukum secara menyeluruh.
Meskipun sudah ada beberapa pasal yang bisa menjerat pelaku ke penjara masih dijumpai adanya hambatan-hambatan dalam pelaksanaan di lapangan yang antara lain sebagai berikut:
8 https://duniagames.co.id/news/4595-lima-jenis-penipuan-yang-sering-kita-temui-saat- bermain-game-online?page=2&fbclid=IwAR1Nn_Eg8N-lbPV0kkzfxIe-
lZXuXidFhvYP4CKRQ5KnjT2Vnu1kwpTgJ18, Ambon, 12 Maret 2019 pukul 17:33
1. Perangkat hukum yang belum memadai Para penyidik (khususnya Polri) melakukan analogi atau perumpamaan dan persamaan terhadap pasal-pasal yang ada dalam KUHP sependapat bahwa perlu dibuat undangundang yang khusus mengatur cybercrime.
2) Kemampuan penyidik Secara umum penyidik Polri masih sangat minim dalam penguasaan operasional komputer dan pemahaman terhadap hacking komputer serta kemampuan melakukan penyidikan terhadap kasus-kasus itu. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh (determinan) adalah:
a. Kurangnya pengetahuan tentang komputer.
b. Pengetahuan teknis dan pengalaman para penyidik dalam menangani kasus-kasus Cybercrime masih terbatas.
c. Faktor sistem pembuktian yang menyulitkan para penyidik.
3) Alat Bukti Persoalan alat bukti yang dihadapi di dalam penyidikan terhadap Cybercrime antara lain berkaitan dengan karakteristik kejahatan cybercrime itu sendiri, yaitu ; sasaran atau media cybercrime adalah data dan atau sistem komputer atau sistem internet yang sifatnya mudah diubah, dihapus, atau disembunyikan oleh pelakunya, Cybercrime seringkali dilakukan hampir-hampir tanpa saksi, di sisi lain, saksi korban seringkali berada jauh di luar negeri sehingga menyulitkan penyidik melakukan pemeriksaan saksi dan pemberkasan hasil penyidikan..
4) Fasilitas komputer forensik Untuk membuktikan jejak-jejak para pelaku dalam melakukan aksinya terutama yang berhubungan dengan program- program dan data-data komputer, sarana Polri belum memadai karena belum ada komputer forensik. Fasilitas ini diperlukan untuk mengungkap data-data digital serta merekam dan menyimpan bukti- bukti. Dalam hal ini Polri masih belum mempunyai fasilitas forensic computing yang memadai9.
Teori yang dipergunakan dalam menjawab permasalahan yang ada dalam penulisan skripsi ini adalah teori Soejono Soekanto yang mengemukakan bahwa dalam penegakan hukum terletak beberapa faktor-faktor penghambat dalam penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:10
1. Faktor Hukumnya Sendiri
Penegakan hukum terhadap tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online akan sulit di tegakkan karena dibatasi oleh undang-undang saja yaitu pasal 378 KUHP yang sanksinya terlalu ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku. Hal ini mengakibatkan tidak tercapainya tujuan dari pemidanaan KUHP yang merupakan sebagai peraturan utama dari hukum pidana yang sudah terlalu lama digunakan, sehingga pasal-pasalnya tidak lagi berkompeten dan
9 https:// media.neliti.com / media / publications / 24189 – ID – kasus – cybercrime – di - indonesia.pdf , Ambon, 9 Maret 2019 pukul 18:33
10 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hal. 8.
ketidakjelasan arti kata-kata di dalam undang-undang juga mengakibatkan kesimpangsiuran dalam penafsiran serta penerapannya sehingga sulit untuk menangkap pelaku lain yang juga membantu tetapi tidak melaporkan. Akan tetapi seiring perkembangan zaman yang tentunya mengalami peningkatan kualitas modus operasi kejahatan yang melibatkan komputer atau alat elektonik lainnya sebagai sarana atau alat, maka diperlukan suatu aturan khusus yang berisi tentang ancaman peyalahgunaan komputer. Indonesia sesungguhnya telah memiliki sejumlah perundangan untuk sementara, misalnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik.
2. Faktor Penegak Hukum
Kuantitas dari penegak hukum seperti kepolisian yang menjadi bagian terdepan dari penegakan hukum sangat menentukan hasil dari proses penegakan hukum itu sendiri. Jumlah anggota kepolisian yang kurang sehingga mnimbulkan banyak hambatan seperti pada saat proses penyelidikan apalagi kasus penipuan jual-beli di dalam game online ini menggunakan media elektronik yang sudah pasti perlu dan korbannya pun sangat banyak. Kualitas dari penegak hukum juga sangat menentukan dan sangat diperlukan karena pengetahuan aparat penegak hukum yang kurang mengenai penipuan jual-beli di dalam game online ini dapat menjadi faktor penghambat dalam penegakan hukum.
3. Faktor Sarana dan Fasilitas
Keterbatasan sarana dan fasilitas merupakan faktor penghambat yang masih ada pada saat ini. Sarana dan fasilitas tersebut mencakup, tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil, peralatan yang memadai dan sebagainya. Dan sumber daya manusia maupun sarana prasarana tidak memadai dimana kebanyakan masih di koordinasi dengan Mabes Polri dalam menggunakan media elektronik. Jika hal-hal tersebut tidak terpenuhi, amat mustahil penegakan hukum akan mencapai tujuan dengan sempurna. Sehingga penegakan hukum dapat berlangsung dengan baik apabila didukung dengan sarana dan fasilatas yang cukup seperti yang telah disebutkan.11
4. Faktor Masyarakat
Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian masyarakat, karena dapat mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri.
Persoalan penegakan hukum terhadap tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online ini merupakan suatu persoalan yang sangat rumit. Masyarakat atau konsumen tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban dari kejahatan. Taraf pendidikan dan pengetahuan masyarakat Indonesia yang rendah, menjadikan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap hukum mengakibatkan masih banyaknya masyarakat yang tidak mengetahui atau tidak menyadari apabila hak- hak mereka yang dilanggar tersebut dilindungi oleh Undang-Undang. Rendahnya
11 Hasil wawancara Rizki Amalia dengan Prof. Dr. Sanusi Husin, S.H.,M.H selaku akademisi hukum pidana difaklutas hukum Universitas Lampung, Tgl 29 desember 2016
kesadaran hukum yang mempertahankan hak-haknya, membuat masyarakat enggan untuk melaporkan ke kepolisian atau menempuh jalur hukum menyebabkan pelaku tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online sulit untuk dijerat. Tuntutan ekonomi yang mendesak dan berkurangnya peluang serta penghasilan di bidang lain yang tidak memberikan suatu hasil yang tepat, adanya kesempatan untuk melakukan penipuan yang mempunyai nilai yang besar yang membuat pelaku tanpa berfikir panjang akhirnya ikut terbujuk dan bersedia menjadi pelaku penipuan tersebut.
5. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan merupakan salah satu faktor yang paling lama hidup dan berkembang ditengah masyarakat. Budaya masyarakat yang memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan membuat para pelaku tindak pidana penipuan jual beli di dalam game online memanfaatkan situasi seperti ini. Kesadaran masyarakat akan hukum yang rendah pun menjadi penghambat dari penegakan hukum terhadap pelaku penipuan jual-beli di dalam game online ini.
Faktor-faktor penghambat dalam upaya penegakan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana penipuan dalam game online disebabkan karena rendahnya ancaman sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online yang ditetapkan dalam KUHP, kurangnya faktor penegak hukum anggota atau tim penyidik yang benar-benar berkompeten dalam menangani kasus tersebut sehingga dalam proses penyidikan sedikit terkendala. Faktor sarana dan
prasarana yang dimiliki aparat penegak hukum yang kurang memadai serta kurangnya kesadaran masyarakat dalam menyikapi fenomena hukum yang terjadi disekitarnya merupakan penyebab penegakan hukum pidana di Indonesia sulit untuk ditegakkan.
Faktor yang paling relevan dan dominan dalam proses penegakan hukum terhadap tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online ini yaitu faktor hukumnya sendiri yang dalam hal ini undang-undang yang sanksinya terlalu ringan. Faktor sarana dan fasilitas yang masih sangat kurang sehingga mempersulit tim penyidik dalam hal mengumpulkan barang bukti dan minimnya pengetahuan manusia terhadap hukum juga sangat mempengaruhi proses penegakan hukum ini, kemudian faktor masyarakat juga berpengaruh besar sehingga menimbulkan keengganan korban untuk melaporkan ke pihak yang berwajib. Dari beberapa faktor diatas faktor sarana dan fasilitas sangat berpengaruh besar dalam proses penyidikan seperti anggaran yang terkadang tidak mencukupi dan juga faktor masyarakat yang memiliki budaya ikut-ikutan sehingga sangat berpengaruh besar terhadap para pelaku yang lain untuk melakukan penipuan jual-beli di dalam game online ini.
C. BENTUK-BENTUK PENEGAKKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA PENIPUAN DALAM GAME ONLINE
Menurut Soejono Soekanto penegakan hukum bukan semata-mata berarti pelaksanaan perundang-undangan. Walaupun dalam kenyataan Indonesia
kecenderungannya adalah demikian. Sehingga pengertian law enforcement begitu populer. Bahkan ada kecenderungan untuk mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksanaan keputusan-keputusan pengadilan.Pengertian yang sempit ini jelas mengandung kelemahan, sebab pelaksanaan perundang-undangan atau keputusan pengadilan, bisa terjadi justru menganggu kedamaian dalam pergaulan hidup masyarakat.12
Penegakan hukum dilaksanakan sesuai dengan sistem hukum yang berlaku, yaitu melalui pemidanaan yang bertujuan untuk mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat;
menyelesaikan konflik yang ditimbulkan tindak pidana; memulihkan keseimbangan; mendatangkan rasa damai pada masyarakat; memasyarakatkan dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang baik dan membebaskan rasa bersalah pada terpidana.
Salah satu jenis tindak pidana di bidang cyber adalah penipuan berupa jual beli dalam game online. Para gamer memanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi dari jual-beli karakter atau perlengkapan tempur tokoh fantasi yang dimainkannya dalam game tersebut13.
Polri sendiri sebagai salah satu aparat penegak hukum memiliki cara dalam upaya penanggulangannya yaitu secara Represif dan Prefentif. Represif adalah penekanan dalam penerapan pidana setelah kasus ini terjadi dan Preventif adalah pencegahan tanpa pidana sebelum kasus ini terjadi.
12 Soerjono Soekanto, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, Rajawali, 1983, hlm. 65
13 http://sobatmuda.multiply.com/journal / item / 300 / Berbag UntungMainanFantasi, Ambon, 11 Februari 2019 pukul 11:58
1. Upaya secara Represif
Atau penekanan dalam penerapan pidana setelah kejahatan terjadi.
Penegakan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana penipuan dalam game online belum diatur secara tegas diatur dalam suatu undang-undang khusus yang bisa memberatkan pidana bagi pelaku. Pelaku hanya dikenakan tuntutan penipuan atau perbuatan curang yaitu Pasal 378 KUHP dengan ancaman pidana pejara paling lama empat tahun. Oleh sebab itu aparat penegak hukum untuk masalah ancaman ini mereka juga menggunakan Pasal 45 ayat (2) UU ITE, dimana dalam pasal ini ancaman pidananya lebih berat sehingga para pelaku akan jera dengan perbuatannya. Pihak kepolisian apabila mendapat laporan mengenai kasus seperti ini dapat langsung melakukan penyelidikan terhadap pelaku yang telah dilaporkan oleh korban, dan bila terindikasi melakukan kejahatan berupa penipuan yang disebutkan dalam KUHP maka akan langsung diproses lebih lanjut.
2. Upaya secara Preventif
Atau pencegahan sebelum kasus terjadi untuk menjaga kemungkinan terjadinya kejahatan atau pelanggaran hukum di dalam masyarakat menggunakan cara-cara persuasif, seperti himbauan yang dilakukan oleh Bimas dan Dirkrimum Polda selaku aparat penegak hukum. Penanganan secara prefentif terhadap tindak pidana penipuan jual-beli dalam game online ini, adalah pilihan yang sangat tepat mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami tentang modus penipuanini, apalagi kasus ini berkaitan erat dengan budaya malas bekerja yang masih banyak terdapat di negara kita. Hal inilah yang harus dirubah dengan
upaya preventif yang dinilai efektif oleh polri dibandingkan dengan represif yang dilakukan setelah terjadinya sebuah kasus.
Ketentuan yang berkaitan dengan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online pada prinsipnya sama dengan penipuan konvensional. Yang membedakan hanya sarana transaksinya dimana untuk penipuan jual-beli dalam game online untuk transaksinya tidak dilakukan secara langsung tetapi melalui media elektronik. Sehingga secara hukum, penipuan secara online dapat diperlakukan sama sebagaimana tindak pidana konvensional yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).Dan untuk lebih khusus mengatur mengenai tindak penipuan ini dapat menggunakan Undang-Undang ITE.
Suatu perbuatan untuk di pidanakan tentu harus ada dasar hukum yang mengatur dan terkait atas tindakan yang diperbuat oleh seseorang yang melanggar hukum tersebut, mengenai Kasus tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online ini sudah jelas diatur dalam Kitab Undang-Undang Pidana, serta Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sehingga kasus ini dapat diproses sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara pidana.Penegakan hukum yang dilakukan dalam kasus ini yaitu proses tahap formulasi didalam tahapan ini penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana penipuan bisnis online ini dapat dikenakan Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi:
“Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian kebohongan menggerakan orang lain untuk meyerahkan sesuatu benda
kepadanya, atau supaya memberi hutang maupu menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun”.
Dimana penegakan hukumnya dimulai dari beberapa tahapan. Tetapi karena dalam Pasal 378 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) untuk ancaman pidananya terlalu ringan maka aparat kepolisian menggunakan Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sudah mampu menjerat pelaku. Dan didalam tahap aplikasi aparat penegak hukum yang dilakukan dalam kasus tindak pidana penipuan jual-beli di dalam game online ini yaitu proses di lakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian apakah benar telah terjadi peristiwa penipuan, kemudian di lakukan penyidikan dengan cara olah TKP oleh pihak kepolisian lalu di teruskan ke kejaksaan untuk di lakukan penuntutan baru setelah itu di serahkan ke pengadilan guna untuk di adili.
AKBP I Ketut Seregig menyatakan bahwa dalam tahap penyidikan hal pertama dilakukan setelah menerima laporan adalah pertama laporan tersebut dikaji lebih dalam apakah perbuatan memalsukan identitas pribadi tersebut memenuhi unsurunsur dalam pasal-pasal atau undangundang yang terkait dengan tindak pidana pemalsuan dokumen. Kemudia apabila setelah dikaji perbuatan tersebut ternyata telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana pemalsuan dokumen maka langkah selanjutnya yang dilakukan oleh tim penyidik yaitu mengkroscek atau mengintrogasi pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini, yaitu dengan cara meminta keterangan terhadap orang tua dan anak selaku korban untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya.Kemudian mencari keterangan ke bank untuk
mengetahui nomor transaksi yang digunakan oleh pelaku serta membawa dokumen yang berisikan nomor rekening yang digunakan pelaku dalam aksinya.14
14 Hasil wawancara Rizki Amalia pada Direktorat Reserse Kriminal UmumPolda Lampung dengan AKBP Dr. I Ketut Seregig, S.H.,M.H selaku Kabag Bin Ops DiReskrimum Polda Lampung , 09 Desember 2016