DIKOTOMI KEILMUAN
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Wahdatul Ulum
Dosen Pengampu:
Dr. Mohammad Al-Farabi, M.Ag.
Oleh:
Rahmawarni Harahap NIM: 3003223028
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATAERA UTARA MEDAN
2023
i
KATA PENGANTAR
﷽
Alh}amdulilla>h atas rahmat dan hidayah-Nya makalah ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. S}alawa>t dan sala>m penulis sanjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad Sallalla>hu a|laihi wa sallam serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Semoga kelak kita mendapatkan syafa>a|t-nya dan dapat berkumpul bersamanya di surga firdaus. Aamiin.
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai tugas salah satu syarat pendukung proses pembelajaran mata kuliah “Wahdatul Ulum” yang diampu oleh Dr. Mohammad Al-Farabi, M.Ag. serta sebagai bahan bacaan atau tambahan referensi bagi para pembaca.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, baik dari isi, penulisan dan penyampaian. Oleh karena itu, penulis berharap kepada para pembacaa agar dapat memakluminya dan memberikan kritik dan sarannya. Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi para pembaca dan pendengar, dan penilis mohon maaf jika terdapat kesalahan yang tidak berkenan dalam makalah ini. Terimakasih.
Medan, 10 Maret 2023
Rahmawarni Harahap
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
PENDAHULUAN 1
PEMBAHASAN 2
A. Defenisi Dikotomi Keilmuan 2
B. Sistem Keilmuan Yang Dikotomis 4
C. Bahaya Dikotomi Keilmuan 6
PENUTUP
A. Kesimpulan 8
DAFTAR PUSTAKA 10
1
PENDAHULUAN
Ketika filsafat dan ilmu pengetahuan khususnya melalui komentar-komentar Ibnu Rusyd ditransfer oleh umat Islam ke Eropa melalui Spanyol, Itali, dan saluran lainnya, muncullah Averroism di Barat dan menjadi energi utama pada perkembangan ilmu pengetahuan juga memberi jalan bagi Eropa dan dunia memasuki abad modern.
Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan mengalami interupsi dari gereja karena banyaknya penemuan ilmu yang bertentangan dengan keyakinan gereja. Pada akhirnya banyak para ilmuan yang dieksekusi sebagai puncak dari konflik ilmu dengan gereja, sehingga muncul dua kebenaran (double truth) yang mengawali sekularisme di Eropa dan dunia, disebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan di luar agama.
Pada perkembangan berikutnya, terjadilah dikotomi ilmu yang sangat signifikan. Di satu sisi ilmu bersiat sekuler-dikotomis, yaitu percekcokan ilmu dengan agama akibat sekularisme yang radikal. Dikotomi ilmu juga terjadi akibat cara berpikir yang tertutup, sebab enggan memahami agama dan menafsirkan wahyu sebagai sesuatu yang menyejarah (korpus tekstual), sehingga studi agama berjalan sendiri dan tidak dikomunikasikan pada perkembangan ilmu dan peradaban yang luas .1
Seiring dengan perkembangan dan kemajuan peradaban di dunia, lembaga pendidikan tidak kalah dengan kemajuannya yang melahirkan para ilmuan disetiap bidangnya. Berbagai cabang keilmuan tentu ada para ahli yang kompeten di bidangnya masng-masing. Namun hal yang sangat disayangkan ketika suatu ilmu yang berasal dari sumber yang sama, akan tetapi dalam dunia pengajaran bahkan dalam pengaplikasian ilmu itu seolah dua hal yang sangat jauh berbeda, dan dianggap tidak ada kaitannya.
Tidak jarang ditemui, seseorang yang ahli dalam ilmu biologi, namun tidak mengetahui bahwa agama sendiri punya jawaban dan ilmu tentang biologi itu sendiri, dan ini adalah masalah besar dalam dunia pendidikan. Sekilas gambaran tentang dikotomi keilmuan yang akan dibahas dalam makalah berikut.
1 Syahrin Harahap, dkk. Wahdatul ’Ulum: Paradigma Integrasi Keilmuan Dan Karakter Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan (Jakarta: Kencana, 2022). Hal. 8.
2
PEMBAHASAN A. Defenisi Dikotomi Keilmuan
Salah satu masalah besar yang terjadi dalam dunia pendidikan Islam setelah dijajah oleh bangsa-bangsa Barat ialah munculnya dikotomi pendidikan. Dikotomi pendidikan ialah adanya pertentangan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama. Dalam prinsip dikotomis, pendidikan umum dan agama dipandang sebagai dua kutub yang berlawanan dan tidak akan mungkin dipersatukan.
Sementara di dalam doktrin agama Islam tidak ada pertentangan antara disiplin ilmu.
Pada hakikatnya seluruh ilmu berasal dari Allah Ta’ala. Ada yang secara langsung melalui wahyu Al-Qur’an ada pula yang melalui proses pengkajian hukum-hukum yang diciptakan Allah Ta’ala di dalam alam raya. Paham dikotomi pendidikan ini telah memecah dunia pendidikan di negeri-negeri muslim malai dari tingkat filosofis, institusional, hingga sosiologis. 2
Kata dikotomi diambil dari kata dichotomy yang berarti pembagian dua bagian, pembelahan dua, bercabang dua bagian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikotomi mempunyai pengertian sebagai pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan. 3Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry mengartikan dikotomi sebagai pembagian dalam dua bagian yang saling bertentangan.
Sedangkan Mujammil Qomar mengartikan dikotomi sebagai pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan dan Jamaladdin Idris seperti yang dikutip oleh Yuldelasharmi mengartikan dikotomi sebagai pemisah secara teliti dan jelas dari suatu jenis menjadi dua yang terpisah satu sama lain dimana yang satu sama sekali tidak dapat dimasukkan ke dalam yang satunya lagi dan sebaliknya. Bagi al-Faruqi, dikotomi adalah dualisme religius dan kultural."
Secara terminologis, dikotomi dipahami sebagai pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual, dikotomi dalam dunia pendidikan Islam dan bahkan dikotomi dalam diri muslim itu sendiri. Dengan demikian, segala hal yang membagi sesuatu menjadi
2 Hasan Asari, Sejarah Pendidikan Islam: Membangun Relevansi Masa Lalu Dengan Masa Kini Dan Masa Depan (Medan: Perdana Publishing, 2020). Hal, 80-81.
3 Kamus Besar Bahasa Indonesia Online.
3
dua kelompok yang berbeda, bahkan saling bertentangan antara kelompok tersebut adalah dikotomi.
Berarti, pengertian dikotomi ilmu adalah membedakan, memisahkan ilmu menjadi dua kelompok atau dua bagian yang saling berbeda dan bertentangan. Istilah dikotomi dalam tulisan ini adalah sikap atau paham yang membedakan, memisahkan dan mempertentangkan antaru "ilmu-ilmu agama" dan "ilmu-ilmu non-agama (ilmu umum)".4
Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa dikotomi keilmuan adalah pemisahan antara ilmu agama yang merupakan sumber dari segala keilmuan dari ilmu umum yang berasal dari pemikiran barat dan menjadikannya sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat disatukan dan tidak saling berkaitan.
Dalam dunia keilmuan Islam, ada lima dikotomi yang dihadapi. Pertama, dikotomi vertikal, ketika ilmu pengetahuan terpisah dari Tuhan. Para ilmuan secara antrophosentrik merasa dapat mencapai prestasi keilmuan dan berbagai penemuan tanpa terkait dengan Tuhan.
Begitupula dengan pelaksanaannya yang sering bertentangan dan melawan perintah Tuhan.
Kedua, dikotomi horizontal, hal ini dapat terjadi dalam tiga bentuk, yaitu:
1. Pengembangan ilmu-ilmu keislaman (islamic studies) dalam bidang tertentu brjalan di lorong ortodoksinya masing-masing, hanya memperhatikan satu dimensi dan perspektif serta mengabaikan perkembangan bidang-bidang ilmu keislaman yang lain.
2. Atomistik, di mana pendekatan dalam bidang ilmu-ilmu keislaman (islamic studies) tidak dikomunikasikan dengan pendekatan dalam bidang ilmu pengetahuan Islam (islamic science).
3. Eksklusif, di mana islamic studies tertentu dikembangkan secara eksklusif, jika bukannya bersifat radikal-undamentalis, sehingga kurang kontributif dan kurang ramah pada kemanusiaan. Dan pengembangan islamic studies semacam ini menutupi pesan rahmatan lil’alamin yang inheren di dalamnya.
Ketiga, dikotomi aktualitas, ketika terjadi jarak yang sangat jauh diantara pendalaman dan aktualisasi ilmu dalam membantu mengembangkan kehidupan peradaban manusia. Pada hal ini ontologi dan epistimologi ilmu hanya menjadi tugas pokok keilmuan, adapun implementasinya atau aksiologi dari ilmu tersebut dianggap sebagai sesuatu yang tidak
4Ahmad Zamakhsari, Rekonstruksi Pemikiran Mulla Sadra Dalam Integrasi Keilmuan: Membangun Pendidikan Integratif Non Dikotomik (Sakata Cendikia, 2014). Hal. 23-24.
4
terpikirkan, sehingga menyebabkan ilmu cenderung hanya untuk ilmu (science for science).
Keempat, dikotomi etis, adanya jarak antara penguasaan dan kedalaman ilmu dengan etika dan kesalehan perilaku. Ilmu tidak sejajar dengan akhlak dan spiritual para penekunnya yang membuat penekunnya mengalami dilema etis yaitu sulit untuk menempatkan diri sebagai umat beragama yang taat atau warga negara yang sejati.
Kelima, dikotomi intrapersonal, yaitu ketika para penekun ilmu tidak menyadari kaitan antara roh dengan jasadnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.5
B. Sistem Keilmuan Yang Dikotomis
Di Indonesia, bentuk dikotomi pendidikan berlangsung sejak adanya sistem lembaga pendidikan di era pertengahan abad ke-19 hingga memasuki masa kemerdekaan. Kala itu, belanda menerapkan politik etik yang salah satu bentuknya membuka sekolahan bagi kaum bumi putera (SR) pada tahun 1870. Tentu, dengan tujuan untuk kepentingan mereka di tanah jajahannya, seperti untuk mencetak tenaga kerja. Dalam sitem pendidikan ini, pendidikan agama tidak diberikan di sekolah dengan alasan pemerintah bersikap netral untuk tidak mencampuri masalah pendidikan agama, karena pendidikan agama merupakan tanggung jawab keluarga.
Dipihak lain, pribumi Indonesia yang memiliki keteguhan aqidah serta jiwa nasionalis (kaum Santri) tak mau mengikuti pola pendidikan belanda. Mereka memperkuat basis pendidikan agama melalui lembaga pesantren. Di pesantren, peserta didik mendapatkan pelajaran agama secara mendalam, hanya mendapat sedikit porsi pendidikan umum (Sains).
Setelah Indonesia merdeka, para pemimpin dan perintis kemerdekaan menyadari betapa pentingnya pendidikan agama. Bahkan, Kihajar Dewantoro selaku Menteri pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan pada kabinet pertama menyatakan pendidikan agama perlu diajarkan di sekoklah-sekolah negeri. Akan tetapi, praktek dikotomi juga tak langsung berhenti hingga saat ini baik secara kultural mapun struktur kenegaraan.
5Syahrin Harahap, Wahdatul ’Ulum: Paradigma Integrasi Keilmuan Dan Karakter Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan. (Jakarta: Kencana, 2022), Hal. 9-10.
5
Secara kultural, masyarakat umum bahkan sebagian pelaku pendidikan masih menganggap adanya pemilahan “ilmu-ilmu agama” (al-‘umum al-diniyyah atau religious sciences) dengan “ilmu-ilmu umum”. Dari sisi struktural nampak lebih nyata. Meskipun telah menjadi bagain dari sistem pendidikan nasional melalui UU Sisdiknas 3003, namun pendididkan Agama Islam melalui madrasah, institut agama, dan pesantren masih menjadi kaplingan Kemementrian Agama, sedangkan pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah, dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Kementerian Pendidikan Nasional.
Padahal sesungguhnya ilmu tak berbeda, semuanya datang dan milik Allah juga, pendidikan Islam tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan Islam secara teoritik belaka, tetapi pendidikan Islam juga menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku serta memberi bekal pengetahuan teknologi serta kecakapan hidup layaknya pendidikan umum. Kegundahan akan adanya dikotomi pendidikan harus lekas diakhiri.
Al-Faruqi menawarkan Islamisasi ilmu dalam pendidikan Islam, yakni dengan melebur dua sistem pendidikan; tradisional dan modern, menjadi sistem pendidikan yang berwawasan Islam. Ide ”Islamisasi Ilmu” dalam pendidikan Islam berisikan suatu prinsip;
bahwa keilmuan Barat tidak harus ditolak, dapat diterima tetapi harus melalui proses filterisasi yang disejalankan dengan nafas Islami.6
Hampir seluruh negara Islam menganut dua sistem dalam pendidikan (dualisme pendidikan), yaitu sistem tradisional dan modern. Adapun pada masa awal agama Islam hanya menganut satu sistem saja yang mengajarkan ilmu agama dan modern (ilmu keduniawian) seperti teknik, kedokteran dan ilmu alam. Sistem pendidikan tradisional ialah yang mengajarkan mata pelajaran inti seperti membaca al-Qur’an, fiqhi, tafsir dan hadits maupun bahasa Arab dan juga mengajarkan sejarah Islam, matematika dan logika klasik, tanpa menyertakan ilmu-ilmu sains, sosial, filsafat dan perkembangan di Barat. Keshalehan merupakan tujuan pendidikan dan metode pendidikan tidak memberikan kebebasan dalam berpikir.
Pendidikan modern berarti pendidikan sekuler yang menyamakan cara pengajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu non agama, yang berarti pengetahuan itu sangat skeptik, sehingga tujuan pendidikan tidak dapat secara harmoni menyeimbangkan antara intelek, emosi, jasmani
6 Achmad Nasrudin, “Madrasah Sebagai Solusi Dikotomi Pendidikan."
6
dan rohani. Dunia Islam menjelang abad ke-XIX M, bahkan lebih awal dari itu terputus dari arus besar sains dan teknologi. Sementara Eropa kemudian meraih banyak kemajuan dalam bidang sains dan teknologi. Pada saat yang sama umat Islam justru menutup diri dan menyenangi keterpencilan intelektual. Ketika bangsa Eropa tiba-tiba menjajahnya, mereka baru sadar dan merasa tidak kuasa untuk mempertahankan kemunduran intelektual dan politiknya.7
C. Bahaya Dikotomi Keilmuan
Dampak negati atau bahaya dari dikotomi keilmuan antara lain:
1. Munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam. Sementara ini, dengan pendidikan pesantren, masih dirasakan adanya kekurangan dalam program yang diterapkan. Misalnya dalam bidang mu’amalah (ibadah dalam arti luas) yang mencakup penguasaan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan, terdapat anggapan bahwa seakan semua itu bukan merupakan bidang garapan Islam, melainkan bidang garapan khusus sistem pendidikan sekuler.
Sistem madrasah apalagi sekolah dan perguruan tinggi Islam, telah membagi porsi materi pendidikan Islam dan materi pendidikan umum dalam presentase tertentu. Hal itu tentu menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak lagi berorientasi sepenuhnya pada tujuan pendidikan Islam. Namun ironisnya, juga tidak mampu mencapai tujuan pendidikan Barat.
Pada akhirnya, pendidikan Islam di sekolah dan perguruan tinggi (terutama umum) diketahui sebagai materi pelengkap yang menempel sebagai pencapaian orientasi pendidikan sekuler.
2. Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam. Pandangan dikotomis yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum bertentangan dengan konsep ajaran Islam yang memiliki ajaran integralistik. Islam mengajarkan bahwa urusan dunia tidak terpisah dengan urusan akhirat. Implikasinya, bila merujuk pada ajaran Islam ilmu- ilmu umum seharusnya difahami sebagai bagian tak terpisahkan dari ilmu-ilmu agama.
Oleh karenanya, bila paham dikotomi dan ambivalen dipertahankan, output pendidikannya itu tentu jauh dari cita-cita pendidikan Islam itu sendiri.
7 Samrin, “Dikotomi Ilmu Dan Dualisme Pendidikan,” Al-Ta’dib 6 Nomor 1 (2013). Hal. 192-193.
7
3. Disintegrasi sistem pendidikan Islam. Hingga saat ini, boleh dikatakan, bahwa dalam sistem pendidikan kurang terjadinya perpaduan (usaha integralisasi). Kenyataan ini diperburuk oleh ketidakpastian hubungan antara pendidikan umum dan pendidikan agama.
Bahkan hal itu ditunjang juga oleh kesenjangan antara wawasan guru agama dan kebutuhan anak didik, terutama di sekolah umum. Dualisme dan dikotomi pendidikan dari sistem pendidikan warisan zaman kolonial yang membedakan antara pendidikan umum di satu pihak dan pendidikan agama di pihak lain, adalah penyebab utama dari kerancuan dan kesenjangan pendidikan khususnya di Indonesia dengan segala akibat yang ditimbulkannya.
Menurut Marwan Saridjo akibat dan dampak negatif dari sistem pendidikan dualistik, yaitu (1) Arti agama telah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi Islam seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah agama selama ini; (2) Sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam rata-rata ber I.Q rendah dari kelompok residual.8
8 Abdul Wahid, “Dikotomi Ilmu Pengetahuan,” Istiqra 1 Nomor 2 (2014). Hal, 280-281.
8
KESIMPULAN
Kata dikotomi diambil dari kata dichotomy yang berarti pembagian dua bagian, pembelahan dua, bercabang dua bagian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikotomi mempunyai pengertian sebagai pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan.
Secara terminologis, dikotomi dipahami sebagai pemisahan antara ilmu dan agama yang kemudian berkembang menjadi fenomena dikotomik-dikotomik lainnya, seperti dikotomi ulama dan intelektual, dikotomi dalam dunia pendidikan Islam dan bahkan dikotomi dalam diri muslim itu sendiri. Dengan demikian, segala hal yang membagi sesuatu menjadi dua kelompok yang berbeda, bahkan saling bertentangan antara kelompok tersebut adalah dikotomi.
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa dikotomi keilmuan adalah pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum yang pada dasarnya berasal dari satu sumber ilmu dan dijadikan seolah bertentangan dan tidak ada kaitannya. Dikotomi keilmuan ini melahirkan berbagai fenomena dikotomik lainnya, bukan hanya ilmunya bahkan lembaga pendidikan, tenaga kependidikan menjadi dua bagian yang dianggap memiliki perbedaan yang signifikan.
Adapun sistem keilmuan yang dikotomis yaitu sistem pendidikan dualisme yang merupakan dua sistem pendidikan yang berbeda. Pertama, sistem pendidikan tradisional yaitu sistem pendidikan yang mengajarkan mata pelajaran inti seperti membaca al-Qur’an, fiqhi, tafsir dan hadits maupun bahasa Arab dan juga mengajarkan sejarah Islam, matematika dan logika klasik, tanpa menyertakan ilmu-ilmu sains, sosial, filsafat dan perkembangan di Barat.
Keshalehan merupakan tujuan pendidikan dan metode pendidikan tidak memberikan kebebasan dalam berpikir.
Kedua, sistem pendidikan modern berarti pendidikan sekuler yang menyamakan cara pengajaran ilmu-ilmu agama dan ilmu non agama, yang berarti pengetahuan itu sangat skeptik, sehingga tujuan pendidikan tidak dapat secara harmoni menyeimbangkan antara intelek, emosi, jasmani dan rohani.
9
Terjadinya dikotomi keilmuan memberikan dampak negati maupun bahaya bagi para pelajar khususnya, diantaranya ialah:
1. Munculnya ambivalensi orientasi pendidikan Islam
2. Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam.
3. Disintegrasi sistem pendidikan Islam. Hingga saat ini, boleh dikatakan, bahwa dalam sistem pendidikan kurang terjadinya perpaduan (usaha integralisasi).
Menurut Marwan Saridjo akibat dan dampak negatif dari sistem pendidikan dualistik, yaitu (1) Arti agama telah dipersempit yaitu sejauh yang berkaitan dengan aspek teologi Islam seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah agama selama ini; (2) Sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam rata-rata ber I.Q rendah dari kelompok residual.
10
DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahid. 2014. “Dikotomi Ilmu Pengetahuan.” Istiqra 1 Nomor 2.
Achmad Nasrudin. “Madrasah Sebagai Solusi Dikotomi Pendidikan.
Ahmad Zamakhsari. 2014. Rekonstruksi Pemikiran Mulla Sadra Dalam Integrasi Keilmuan:
Membangun Pendidikan Integratif Non Dikotomik. Sakata Cendikia.
Hasan Asari. 2020. Sejarah Pendidikan Islam: Membangun Relevansi Masa Lalu Dengan Masa Kini Dan Masa Depan. Medan: Perdana Publishing.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online.
Samrin. 2013. “Dikotomi Ilmu Dan Dualisme Pendidikan.” Al-Ta’dib 6 Nomor 1.
Syahrin Harahap, dkk. 2022. Wahdatul ’Ulum: Paradigma Integrasi Keilmuan Dan Karakter Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Medan. Jakarta: Kencana.