Adapun masuknya Islam ke negara-negara di Asia Tenggara hampir seluruhnya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Benggala, Cina, Gujarat, Iran, Yaman, dan Arab Selatan. Dengan latar belakang yang berbeda-beda tersebut, perkembangan Islam di Asia Tenggara mengalami dinamika yang unik, memiliki karakter dan ciri yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah, sehingga hal ini turut mempengaruhi terbentuknya pola pendidikan Islam di Asia Tenggara. 5Azyumardi Azra, Islam di Asia Tenggara, Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi Azra (Ed), Perspektif Islam di Asia Tenggara, (Jakarta: Obor Foundation, 1989), hal.
Namun untuk wilayah Thailand Selatan, hal ini menjadi pertimbangan tersendiri karena perkembangan Islam di Thailand Selatan khususnya wilayah Patani sangat pesat perkembangan pendidikan Islamnya. Meskipun pengembangan pendidikan Islam di Patani tidak banyak mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah Thailand, namun hal ini disebabkan oleh beberapa alasan dan pengaruh intrik politik dari kekuatan mayoritas agama. Jika kita mencermati berbagai perkembangan masuknya Islam ke Asia Tenggara, hal ini tentu berdampak pada pola perkembangan pendidikan Islam di Asia Tenggara.
Dalam hal ini perkembangan pendidikan Islam di Asia Tenggara dapat dipetakan pada beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan mempunyai ciri khas yang menjadi grand design pengembangan pendidikan Islam di masing-masing negara yaitu Indonesia, Malaysia, Burnai Darussalam dan wilayah selatan. Thailand. Perkembangan peradaban Islam di Asai Tenggara tidak lepas dari proses Islamisasi besar-besaran terhadap kerajaan-kerajaan Islam (kesultanan). Sementara itu, terkait pendidikan Islam di Malaysia juga mengalami perkembangan yang signifikan, seperti halnya di Indonesia.
Pendidikan Islam di Malaysia Sejak kemerdekaan pada tahun 1957, ilmu agama Islam telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan nasional Malaysia dan diajarkan selama 120 menit per minggu.
Grand Desain Pendidikan Islam di Asia Tenggara
- Desain Pendidikan Islam Indonesia a. Pendidikan Islam di Zaman Kerajaan Islam
- Tingkat Dasar
- Tingkat Menengah Pertama
- Tingkat Menengah Atas
- Pra-Universitas
- Pendidikan Tinggi
- Surau dan Masjid
- Pondok Tradisional
- Madrasah
- Pondok Modern
Keberadaan lembaga pendidikan Islam di suatu negara cukup beragam jenis dan tingkatannya tergantung pada tradisi masyarakat Islam setempat dan kebijakan pemerintah suatu negara. Dengan adanya variasi dan kebijakan yang berbeda-beda di setiap negara, hal ini pada akhirnya mempengaruhi corak Islam. pendidikan di kawasan Asia. Tenggara sampai sekarang. ulama dari negara-negara Islam yang berbeda untuk membahas masalah agama dan sekuler pada saat yang bersamaan.31. Banyak ulama dari Afganistan, Malabar, Hindustan dan khususnya dari Arab yang berperan menyebarkan Islam di Malaka, para ulama ini biasanya diberi kedudukan tinggi di kerajaan, dan banyak ahli ilmu datang dari Asia Tenggara, dari Jawa, Sunan Bonang dan Sunan Giri pernah belajar di Malaka, dan setelah menyelesaikan studinya mereka mendirikan pusat-pusat pendidikan Islam di tempatnya masing-masing. Pendidikan Islam berkembang pesat setelah para ulama menulis buku-buku pelajaran Islam dalam bahasa Melayu, seperti karya Hamzah Fanzuri, Nuruddin al-Raniri, Abd.
Di Jawa lembaga pendidikan Islam disebut Pesantren, di Aceh disebut Dayah atau Rangkang, di Minangkabau disebut surau.37 Pesantren berasal dari nama lembaga pra Islam yaitu santri yang berasal dari bahasa Tamil yang artinya artinya guru mengaji. 38 Dari lembaga pendidikan inilah agama Islam menyebar ke berbagai tempat. daerah terpencil di Pulau Jawa dan Indonesia Timur. Itulah sebabnya lembaga pendidikan sudah ada di Jawa sejak abad ke-15 dan ke-16. Pendidikan Islam pada zaman Belanda dibiarkan berfungsi di bawah sistem Kerajaan Malaka. Namun, perlahan-lahan mereka mengubahnya sedikit demi sedikit. Sejak Perjanjian Raksasa (1755 M) Belanda mulai berusaha melumpuhkan mereka. Hal inilah yang mendorong Diponegora menentang penjajah. Pasca kekalahan di Dipuonegora, Belanda melanjutkan upaya menghancurkan organisasi pendidikan Islam resmi. Hak kepemimpinan mereka dicabut. Vakuf sawah yang luas, kadang berhektar-hektar, yang semula untuk biaya pendidikan hanya hibah masjid.
Pengawas tidak lagi menjadi hakim agama, namun diangkat oleh Belanda sendiri, dan tidak jarang yang diangkat tidak memahami urusan agama, akibat campur tangan Belanda inilah pendidikan Islam lambat laun mengalami kemunduran dan semakin tersingkir dari pendidikan Barat. .39. Oleh karena itu, Belanda mendirikan sekolah-sekolah dasar di setiap kabupaten, dimaksudkan untuk menyaingi dan menyaingi madrasah, pesantren, dan kajian Islam di desa tersebut.40 Kemunduran pendidikan Islam mencapai puncaknya sebelum tahun 1900 M, yang meliputi seluruh wilayah. Indonesia. Pada tahun 1925 Belanda mengeluarkan beberapa peraturan. Tegasnya, tidak semua kiai bisa memberikan pengajaran agama. Peraturan ini merupakan dampak dari tumbuhnya organisasi-organisasi pendidikan Islam, seperti Muhammadiyah, Syarikat Islam, dll. Dan juga telah dikeluarkan peraturan-peraturan yang bisa memberantas sekolah-sekolah yang tidak mempunyai izin. Kalau kita lihat peraturan Belanda yang begitu ketat. dan menekan pendidikan Islam yang seolah-olah mampu menghancurkan Islam, namun justru sebaliknya. Mereka juga mengenal surat kabar dan majalah untuk mengikuti perkembangan terkini, sehingga mendorong mereka untuk menerapkan reformasi dalam pendidikan Islam.
Oleh karena itu pembaharuan pendidikan Islam telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Hal ini ditandai dengan berdirinya ormas Islam yang mendirikan sekolah Islam dengan metode kurikuler dan tidak lagi di masjid. Sedangkan pada masa-masa awal, pemerintah Jepang terkesan membela ajaran Islam. Untuk meraih dukungan rakyat Indonesia, pemerintah Jepang mengizinkan pendirian sekolah agama dan pesantren yang bebas dari pengawasan Jepang. IAIN berkembang pesat dan mendirikan cabang di berbagai daerah dan banyak perguruan tinggi swasta bermunculan dan pendidikan Islam mengalami kemajuan dalam membimbing modernisasi. Pada tahun 2002, IAIN Syarif Hidayatullah berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) yang menyelenggarakan pendidikan selain Fakultas Agama. Dalam implementasi kurikulum pendidikan Islam di Malaysia tidak jauh berbeda dengan pendidikan Islam di Indonesia, yaitu kurikulum pendidikan Islam yang memuat dua kurikulum inti sebagai kerangka operasional dasar pengembangan kurikulum. Pertama, tauhid sebagai unsur dasar yang tidak dapat diubah. Kedua, perintah membaca ayat.
48 Adi Radili, “Dinamika Perkembangan Islam di Asia Tenggara”, Ar-Sembilan Blog: http://arsembilan.blogspot.com/2013/10/makalah-bisnis-perkembangan.html (5 November 2017). Lihat Andi Aslindah, Pendidikan Islam di Malaysia, Jurnal Lentera Pendidikan Vol. 18. 2015, hal. 49Andi Aslindah, Pendidikan Islam di Malaysia, Jurnal Lentera Pendidikan Vol. 18. 2015, hal. Pondok merupakan lembaga pendidikan tertua di Patana dan diantara pondok-pondok tertua adalah Pondok Dala, Bermin, Semela, Dual, Kota, Gersih, Telok Manok yang mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan pendidikan Islam di daerah tersebut, karena banyak dari pondok-pondok tersebut dihadiri oleh siswa.
Ia dikenal sebagai sosok yang membawa perubahan pada lembaga pendidikan Islam di Thailand Selatan yaitu Haji Solong.Belajar di pondok adat ini tidak hanya belajar membaca Al-Quran saja, melainkan menghafal Al-Quran dan menghafal kitab-kitab klasik. Tidak ada yang mengenal Haji Solong, beliau adalah penggagas berdirinya tempat tinggal Islam di Thailand dan tokoh reformasi pendidikan di Thailand Selatan (Patani). Dengan kurang efisiennya sistem asrama Islam, Haji Solong akhirnya membangun lembaga pendidikan Islam baru yang dikenal dengan nama Madrasah. Madrasah yang ada di Patani tidak jauh berbeda dengan madrasah yang ada di Indonesia. Sama seperti madrasah di Indonesia, madrasah di Patani juga mempunyai tiga pola, yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Mutawasittah (sejenis MTs), dan Madrasah Tsanawiyah (sejenis MA). 4) Pondok Modern. Menurut Kasim,58 Pola pendidikan Islam di Thailand Selatan (Patani) mempunyai ciri yang hampir sama dengan di nusantara, di Patani terdapat beberapa jenis pola pendidikan Islam, ada pendidikan Islam yang berlangsung di surau atau masjid, ada pula yang pendidikan pesantren tradisional (tempat tinggal Islam di Indonesia), ada Madrasah (seperti di Indonesia), dan ada Pondok Modern yang merupakan gabungan antara sekolah Islam dan umum (seperti Sekolah Islam Terpadu di Indonesia).
Pola pendidikan Islam di Thailand tidak jauh berbeda dengan Indonesia, terdapat pesantren dan madrasah.
Penutup
Mohon diperhatikan: Madrasah Mutawasitah dan Madrasah Tsanawiyah serta Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah digabung menjadi satu dan dapat ditempuh tanpa dipungut biaya apapun dalam jangka waktu 6 tahun. Rahman, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara Islam dan Barat, Yogyakarta: Gamma Media, 2003.