• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ringkasan Review Materi Peradaban Islam Asia Tenggara

N/A
N/A
Alvina Mailaffaiza

Academic year: 2024

Membagikan "Ringkasan Review Materi Peradaban Islam Asia Tenggara"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

REVIEW MATERI

PERRADABAN ISLAM ASIA TENGGARA Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

SEJARAH PERADABAN ISLAM

Dosen Pengampu

Muhammad Amiruddin, Lc., M.Pd.

Disusun Oleh :

1. Rara Puspita Putri (210703110015) 2. Nur Rasyid Saputro (210703110019) 3. Alvina Mailaffaiza (210703110040) 4. Hikmah Helmi Bahtiar(210703110054) 5. Carlyna Septi Aisya (210703110105)

JURUSAN FARMASI KELAS A

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2022

(2)

A. Sejarah Islam di Asia Tenggara

Sejarah Islam di Asia Tenggara, khususnya pada masa awal, luar biasa galau dan rumit. Kegalauan dan kerumitan itu bukan hanya disebabkan oleh kompleksitas di sekitar sosok islam itu sendiri sebagaimana direfleksikan oleh kaum muslimin di kawasan ini, baik melalui historiografi dan pengkajian-pengkajian sejarah Islam dengan berbagai aspeknya di Asia Tenggara yang dilakukan kalangan sejarawan asing maupun pribumi. Mereka pun hingga kini belum mampu merumuskan suatu paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama. Terdapat perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para ahli dalam mengkaji Islam di Asia Tenggara, yang kadang- kadang sulit dipertemukan satu sama lain.

Di kalangan masyarakat pribumi sebenarnya tidak kurang pula terdapat historiografi berupa hikayat, silsilah, babad, cerita, syair dan lain-lain yang mengungkapkan perkembangan awal Islam diberbagai kawasan Asia tenggara. Namun, para ahli seperti John menilai bahwa kebanyakan literatur melayu seperti itu mempunyai nama yang kurang baik, bukan hanya karena selintas tidak menarik, tetapi bahkan gayanya sulit dijelaskan. Menurutnya, kategori-kategori barat semacam roman, balada, dongeng, kronik (risalah) atau sejarah tidak cukup memadai untuk memberikan kerangka yang jelas mengenai karya-karya melayu ini.

Para pengembara atau wartawan Barat menulis tentang Asia Tenggara, khususnya bukanlah para ahli. Mereka umumnya membuat catatan-catatan berdasarkan kunjungan singkat dan kebanyakan mengamati dari daerah perkotaan, sehingga mereka sebenarnya tidak banyak tahu tentang keadaan nyata penduduk pedesaan, pola-pola sosial mereka dan lain-lainnya.

Mengenai tempat asal datangnya Islam ke Asia Tenggara, sedikitnya ada tiga teori besar:

1) Teori yang menyatakan bahwa Islam datang langsung dari arab, atau tepatny Hadramaut. Teori ini dikemukakan Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), De Hollander (1861), dan Veth (1878).

(3)

Crawfurd menyatakan bahwa Islam datang langsung dari arab, meskipun ia menyebut adanya hubungan dengan orang-orang “Mohammedan” di India Timur.

2) Teori yang mengatakan bahwa Islam datang dari India, pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel tahun 1872. Berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatan perjalanan Sulaiman, Marco Polo, dan Ibnu Battuta, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermadzhab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara.

3) Teori Fatimi, menyatakan bahwa Islam datang dari Benggali (kini Bangladesh). Islam muncul pertama kali di Semenanjung Malaya, dari arah pantai timur, bukan dari barat (Malaka) pada abad ke-11 melalui Kanton, Phanrang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Beberapa ahli sejarawan menyatakan bahwa teori Fatimi ini tidak bisa diterima, terutama karena penafsiranya atas prasasti yang ada dinilai merupakan

“perkiraan liar belaka”.

Akhirnya semua teori diatas jelaslah belum final. Meskipun telah banyak sejarahwan yang menulis tentang masalah ini, kesempatan masih tetap terbuka bagi munculya penafsiran-penafsiran baru berdasarkan penelitian atas sumber-sumber sejarah yang ada berdasarkan penelitian dan penulisan lebih lanjut menyangkut sifat penyebaran Islam di kawasan ini.

B. Kemajuan Islam di Asia Tenggara

Kedatangan Islam sejak abad 7 sampai abad ke-12 di beberapa daerah Asia Tenggara dapat dikatakan baru pada tahap pembentukan komunikasi Islam yang terutama terdiri dari para pedagang. Abad ke-13 sampai abad ke-16, terutama dengan munculnya kerajaaan bercorak Islam, merupakan kelanjutan dari penyebaran Islam. Perlu dibedakan antara tahap kedatangan, penyebaran, dan pembentukan struktur pemerintahan atau kerajaan. Ketiga tahap tersebut memerlukan waktu dan proses yang panjang, tergantung pada situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapi Islam.

(4)

Apabila gelombang pertama hanya menghasilkan komunitas Muslim yang terutama terdiri dari pedagang Muslim dan penyebaran Islam yang sangat terbatas, pada gelombang kedua, yang dimulai sejak abad ke-13, penyebaran Islam lebih mantab dan meluas. Hal ini bisa dilihat dengan berdirinya kerajaan Islam. Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara pada abad ke-13 di pesisir utara Aceh Utara, tepatnya di daerah Lhokseomawe. Sejak kerajaan Samudera Pasai tumbuh dan berkembang, yang umumnya diterima para ahli sejarah sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yaitu sejak abad ke- 13 sampai akhir abad ke-16, pelayaran dan perdagangan antara Muslim dari Arab, Persia, Irak, India Selatan, dan Srilanka semakin ramai. Mereka bukan hanya mendatangi ibukota kerajaan Samudera Pasai, tetapi juga meneruskan pelayaran dan perdagangannya ke negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara. Dari sinilah Islam di Asia Tenggara memperlihatkan kemajuan dan perkembangannya.

Telah disepakati bahwa Islam pada mulanya mendapatkan kubu-kubu terkuatnya di kota pelabuhan, seperti Samudra Pasai, Malaka, dan kota-kota pelabuhan lainya di pesisir utara Jawa. Berangkat dari teori bahwa Islam pada dasarnya adalah urban (perkotaan) dan bahwa peradaban Islam pada hakekatnya adalah (juga) urban. John menyatakan bahwa proses Islamisasi di Nusantara bermula dari kota-kota pelabuhan yang ada. Di perkotaan itu sendiri, Islam adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan resmi penguasa, yang kemudian memunculkan tokoh-tokoh ulama’ intelektual terkenal semacam Hamzah Fansuri, Shams al-Din Pasai, Nur al-Din al-Raniri, dan ‘Abd al- Ra’uf al-Singkili. Tokoh-totkoh ini mempunyai jaringan keilmuan yang luas baik dalam maupun luar negeri, sehingga menunjang pengembangan Islam dan gagasan mereka sendiri. Jaringan keilmuan semacam ini kemudian semakin diperkuat dan diperkaya terutama sejak abad ke-17 oleh tarekat- tarekat tasawwuf yang berkembang luas di Nusantara. Karakter organis yang inheren dalam jaringan semacam ini memberikan momentum yang terus-

menerus bagi pengembangan Islam.

(5)

C. Modernisasi Islam di Asia Tenggara

Penyebaran dan pengaruh pembaharuan Islam modern di Asia Tenggara sejak awal abad ke-20 dipelopori oleh gagasan pembaharuan Jamaluddin Al- Afghani dan Muhammad Abduh menjadi lebih tersebar luas di seluruh Dunia Islam, tatkala seorang murid Muhammad Abduh yang bernama Muhammad Rasyid Ridha (1865–1935) menerbitkan majalah Al-Manar di Mesir. Majalah Al-Manar inilah yang secara kongkrit menjabarkan ide-ide Jamaluddin al- Afghani dan Muhammad Abduh, serta berpengaruh langsung kepada gerakan modernisme Islam di Asia Tenggara pada awal abad ke-20.

Tidak diragukan lagi bahwa media cetak merupakan perangkat yang instrumental dalam penyebaran ide-ide kaum pembaru atau moderrnis di Asia Tenggara, terutama di Dunia Melayu-Indonesia. Dalam konteks ini, kita bisa dengan tepat menempatkan jurnal Al-Manar yang secara signifikan memengaruhi wacana pembaruan Islam. Jurnal ini tidak hanya memengaruhi secara langsung penyebaran pembaruan Islam lewat artikel-artikelnya, tetapi yang tak kurang pentingnya juga merangsang penerbitan jurnal dengan semangat yang sama di Asia Tenggara, terutama di kawasan Melayu- Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam perkuliahan ini dibahas materi-materi mengenai Sejarah Peradaban Islam masa Rasululllah, al Khulafa al Râsyidûn , Dinasti Umawiyah, Dinasti Abbasiyah, Umawiyah

Mata kuliah Sejarah Asia Tenggara Baru membahas dinamika perkembangan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sejak zaman kuno sampai zaman modern.. Di

Kawasan Asia Tenggara dilewati oleh garis khatulistiwa (ekuator) dan garis balik utara. Posisi geografis Asia Tenggara tersebut memengaruhi iklim dan kegiatan

Penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara ditandai dengan berdirinya kesultanan Islam di kawasan tersebut. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di

Pada abad ke-7 Islam sudah masuk ke Indonesia dan telah dianut sebagian besar orang Indonesia, baik sebagai agama maupun sebagai hokum.. Hal ini terjadi

Kawasan Asia Tenggara dilewati oleh garis khatulistiwa (ekuator) dan garis balik utara. Posisi geografis Asia Tenggara tersebut memengaruhi iklim dan kegiatan

Ke-dua perkembagan mutakhir hukum keluarga Islam di beberapa Negara Asia Tenggara seprti di Malaysia, Singapura, Thailandd dan Filipina dipengaruhi oleh tuntutan Umat Islam utuk

Ringkasan materi perkuliahan tentang pendekatan dalam pemikiran dan peradaban Islam serta konsep