• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA SOSIAL DAN KEBUDAYAAN PADA GENERASI MILENIAL

N/A
N/A
Mochammad Ikhsan

Academic year: 2023

Membagikan "DINAMIKA SOSIAL DAN KEBUDAYAAN PADA GENERASI MILENIAL "

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Muhamad Ikhsan

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Jl. A.H. Nasution 105 Cibiru, Bandung 40614, Indonesia

Email: [email protected]

ABSTRACT

The author's background in discussing "social and cultural dynamics in the millennial generation" is due to my interest as a writer to study what social shifts and developments are occurring at this time when viewed from an anthropological perspective. The author's goal is also to be able to deal with the changes that occur so that it is hoped that the author and the readers can act in accordance with the norms and rules that apply in facing this era. The method used in this journal is quantitative, where I only use books and websites as reference sources. The conclusion is that by writing this journal, hopefully it can broaden our insight into anthropology, especially in the discussion of this social anthropology.

KEYWORDS:

Dynamic; Culture; Millennial; Social.

ABSTRAK

Latarbelakang penulis dalam membahas “dinamika sosial dan kebudayaan pada generasi milenial” dikarenakan ketertarikan saya selaku penulis untuk mempelajari apa saja pergeseran dan perkembangan sosial yang terjadi pada saat ini jika ditinjau dari pandangan antropologi. Tujuan penulis juga ialah agar dapat menghadapi perubahan- perubahan yang terjadi sehingga diharapkan penulis maupun para pembaca sekalian dapat bersikap sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku dalam menghadapi era ini. Metode yang digunakan pada jurnal ini adalah kuantitatif yang mana saya hanya menggunakan buku dan website sebagai sumber rujukan. Kesimpulannya dengan ditulisnya jurnal ini semoga dapat menambah wawasan kita semua dalam ilmu antropologi khususnya pada pembahasan antropologi sosial ini.

KATA KUNCI:

Dinamika; Kebudayaan; Milenial; Sosial.

______________________________________________

A. PENDAHULUAN

“Dinamika sosial dan kebudayaan pada generasi milenial” alasan saya mengambil judul ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis terhadap beberapa pergerakan masyarakat dan kebudayaan yang terjadi di masa sekarang atau lebih dikenal generasi milenial (orang atau generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an atau kehidupan generasi yang tidak dapat dilepaskan dari teknologi informasi, terutama internet).1 Namun menurut Wikipedia, karakteristik

“milenial” ini berbeda-beda berdasarkan

1 https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/milenial pada tanggal 23 Januari 2021 jam 21.14 WIB.

2

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13270/

wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Generasi ini juga adalah masyarakat yang melek dan adaptable pada teknologi, mereka cenderung tidak bisa lepas dari teknologi dalam segala aktivitasnya.2 Terlepas dari itu semua tidak bisa disangkal juga pada generasi ini semakin melek dan toleran terhadap berbagai perbedaan contohnya dimana generasi sekarang tidak lagi merasa canggung dan gensi dalam mempelajari kebudayaan- kebudayaan lain hal itulah yang menjadikan pertukaran kebudayaan dan perkembangan informasi menjadi semakin cepat.

Generasi-Millennial-Sumber-Ide.htmlpada tanggal 24 Januari 2021 jam 15.11 WIB.

(2)

Era globalisasi ini juga tentunya membawa dampak buruk bagi moral anak-anak muda zaman sekarang. Tetapi semua kembali bagaimana kita bersikap menghadapi perubahan kebudayaan ini.

Pada “pembahasan” penulis akan lebih fokus membahas pada jenis-jenis dinamika sosial mulai dari pengertian, apa saja pembahasan yang dikaji pada “dinamika sosial dan kebudayaan” ini serta akan ditambahkan juga sedikit informasi perubahan yang terjadi pada anak-anak milenial ini.

Penulis disini menggunakan metode kualitatif yang mana saya hanya menggunakan data dari buku, jurnal, dan website sebagai sumber referensi.

B. PEMBAHASAN

Ada beberapa konsepsi khusus untuk menggambarkan proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan, termasuk lapangan penelitian ilmu antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik sosial (social dynamics). Di antara konsep-konsep yang terpenting ada yang mengenai proses belajar kebudayaan oleh warga masyarakat yang bersangkutan, diantaranya akan diuraikan sebagai berikut:

1. Proses Internalisasi

Proses internalisasi adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan, sampai ia hampir meninggal, di mana ia belaiar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, serta emosi yang diperlukannya sepanjang hidupnya.3

2. Proses Sosialisasi

Proses sosialisasi adalah proses seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-polatindakan dalam interaksi dengan segala mcam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.4 Sedangkan

3 Koentjaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1979), 228.

4Koentjaningrat, 229.

5 Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, Edisi II, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2000), 21.

Peter Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society” proses melalui mana seorang belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Berger, 1978).5 Menurutnya juga keseluruhan kebiasaan yang dipunyai manusia baik di bidang ekonomi, kekeluargaan, pendidikan, agama, politik, dan sebagainya harus dipelajari oleh setiap anggota baru masyarakat yang dinamakan sosialisasi. Dari sini tergambar pandangannya bahwa melalui sosialisasi “masyarakat” dimasukkan ke dalam manusia.6

3. Proses Enkulturasi

Enkulturasi (enculturation;

institutionalization)7, proses enkulturasi dapat juga kita terjemahkan dengan suatu istilah Indonesia yang cocok sekali, yaitu

“pembudayaan”. Dalam bahasa Inggris juga dipergunakan istilah institutionalization.

Dalam proses itu seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-adat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

4. Proses Evolusi Sosial

Evolusi (evolution) adalah proses perkembangan yang berjalan secara lambat dari bentuk atau wujud yang sederhana ke arah yang lebih sempuma atau lebih rumit.

Sedangkan evolusi sosial berarti proses perkembangan secara lambat dari bentuk- bentuk kehidupan sosial yang sederhana ke arah bentuk-bentuk kehidupan sosial yang lebih kompleks. Pandangan yang berpangkal pada teori evolusi biologi itu dikaitkan dengan kenyataan adanya aneka ragam bentuk kehidupan sosial dan budaya.8

Sudah lumrah jika mendengar kata evolusi yang berada dipikiran ialah tokoh bernama Darwin, tetapi banyak pendapat evolusionis dari antropolgi justru menyerang Darwin oleh

6Kamanto Sunarto, 21.

7Koentjaningrat et al., eds, Kamus Istilah Antropologi, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1984), 43.

8Koentjaningrat, 46-47.

(3)

karena itu tidak aneh jika kemudian evolusionisme dalam ilmu-ilmu budaya terbagi dalam dua kelompok besar berdasarkan perbedaan basis metafisika.

Kelompok pertama yang diturunkan dari Hegel ke Bergson, Croce, dan Collingwood, menganut konsep idealistik atau vitalistik.

Konsep ini mengaitkan evolusi dengan kerja pikiran kosmik dan supernatural serta life force. Kelompok kedua dimotori oleh Comte, Spencer, Darwin, Marx, Morgan dan Taylor.

Kelompok ini menganut konsep positivistis atau naturalistis. Konsep ini lebih mengandalkan data empiris dan physical causation. Kelompok kedua ini mencoba menjelaskan evolusi dalam kerangka kerja hukum alam yang rapi dan bersifat impersonal. Pandangan ini dikenal juga sebagai mechanism, khususnya dalam bidang biologi sebagai kebalikan dari vitalisme atau kepercayaan pada daya kreatif, nyata dan non material dalam hidup dan evolusi. Selain itu konsep ini disebut juga realisme sebagai lawan dari idealisme. Teori Spencer disebut dengan “teori evolusi sosial universal” yang mana Spencer melihat perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari tiap bangsa di dunia itu telah atau akan melalui tingkat- tingkat evolusi yang sama.9

Pada proses evolusi sosial juga terbagi menjadi dua proses yaitu: Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secara detail (proses microscopic) dan dipandang seolah-olah dari jauh dengan hanya memperhatikan perubahan-perubahan yang tampak besar saja (proses macroscopic).10

5. Proses Difusi

Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di

9 http://ikadbudi.uny.ac.id/informasi/herbert-spencer- dan-evolusi-budayapada tanggal 24 Januari 2021 jam 13.32 WIB.

10 Koentjaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1979), 235.

11Koentjaningrat, 244.

12Koentjaningrat, 247.

muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang dibawa oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi.11Proses difusi tidak hanya dari sudut bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di muka bumi saja tetapi, terutama sebagai suatu proses di mana unsur-unsur kebudayaan dibawa oleh individu-individu dari sesuatu lcebudayaan, dan harus diterima oleh individu-individu dari kebudayaan lain, maka terbukti bahwa tidak pernah terjadi difusi dari satu unsur kebudayaan.12 Sementara lebih spesifiknya difusi kebudayaan adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan di muka bumi. Kalau persebaran itu merupakan akibat pengaruh suku bangsa yang satu pada-suku bangsa yang lain, proses itu disebut difusi merangsang.13

6. Akulturasi

Istilah akulturasi, atau acculturation atau culture contact,14mempunyai berbagai arti di antara para sarjana antropologi, tetapi semua sefaham bahwa konsep itu mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.15

7. Asimilasi

Asimilasi (assimilation) adalah proses penyesuaian golongan manusia dengan latar

13Koentjaningrat et al., eds, Kamus Istilah Antropologi, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1984), 32.

14 Istilah culture contact terutama digunakan oleh sarjana'sarjana antropologi dari Inggris.

15 Koentjaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1979), 247-248.

(4)

belakang kebudayaan tertentu ke dalam golongan lain dengan kebudayaan yang berbeda sedemikian rupa sehingga sifat khas dan identitas kebudayaan goiongan pertama lambat laun berkurang dan menghilang.16 Proses ini timbul bila ada: (1) golongan- golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, (2) saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga (3) kebudayaan- kebudayaan golongan-golongan tadi masing- masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Biasanya golongan-golongan yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal itu golongan-golongan minoritas itulah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya, dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari golongan mayoritas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian kebudayaannya, dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.17 8. Inovasi

Inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru.

Dengan demikian inovasi itu mengenai pembaman kebudayaan yang khusus mengenai unsur teknologi dan ekonomi.

Proses inovasi sudah tentu sangat erat sangkutannya dengan penemuan baru dalam teknologi. Suatu penemuan biasanya juga merupakan suatu proses sosial yang panjang yang melalui dua tahap khusus, yaitu discovery dan invention. Suatu discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa suatu alat baru, suatu ide baru, yang

16Koentjaningrat et al., eds, Kamus Istilah Antropologi, (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1984), 13.

diciptakan oleh seorang individu, atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangkutan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu.

9. Dampak Perubahan Dinamika Sosial Generasi Milenial

Milenial juga dikenal dengan Generasi Y, bahkan sekarang orang sudah menyebutnya dengan Gen Z, Gen Z ini merupakan kelompok demografi terakhir setelah sebelumnya Gen X dan Y. Dinamika sosial (social dynamic) seperti telah dijelaskan pada sub-bab yang telah lalu adalah perubahan sosial yang terjadi akibat adanya interaksi dalam dua atau lebih individu dalam suatu masyarakat yang memiliki hubungan psikologis secara jelas dalam situasi yang dialami.

Perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat dapat mengenai norma-norma, pola- pola perilaku dan lainnya yang termasuk dalam elemen masyarakat, termasuk juga struktur dan lembaganya. Namun tidak semua perubahan sosial yang terjadi dalam struktur masyarakat bersifat kemajuan, bisa juga kemunduran, walaupun dalam dinamika sosial dinamika selalu diarahkan kepada gejala transformasi yang linear.

Tak tertinggal, bahkan generasi juga mengalami suatu perubahan sosial, khususnya generasi milenial yang diakibatkan oleh peningkatan teknologi. Di tengah era milenial ini, banyak remaja yang tidak melakukan tugas perkembangannya dengan benar, banyak dari remaja generasi milenial sudah menyimpang dari tugasnya, maraknya budaya global dan gaya hidup pop culture, dianggap sebagai dampak globalisasi yang sudah tidak terbendung lagi. Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan komunikasi, media, dan teknologi digital. Karena generasi milenial

17 Koentjaningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1979), 255.

(5)

dibesarkan oleh kemajuan teknologi inilah yang menyebabkan generasi milenial terfokus ke teknologi digital dibandingkan dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Perubahan sosial dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantara salah satu pendorongnya adalah teknologi. Dimana generasi milennial ini lahir pada era digital seperti halnya gadget merupakan salah satu teknologi digital yang sangat berperan dalam kehidupannya. Manusia seakan-akan tidak bisa hidup tanpa gadget, karena selalu dibawa kemana-mana, bahkan apabila lupa dibawa, mereka rela bersusah payah untuk mengambilnya karena mereka harus selalu berinteraksi dengan sesama dimanapun berada dan kapanpun. Mau tidak mau generasi milenial terpaksa mengikuti tren perkembangan gadget, sehingga ketergantungan pada alat ini membawa berbagai dampak negatif seperti pola hidup konsumtif. Lebih suka cara siap saji (instan) dibanding membuat sendiri, seperti halnya dalam makanan ia tinggal memesan yang siap dimakan melalui gadget mereka, dan dalam berbelanja pun mereka tidak langsung pergi ke toko hanya lewat gadget. maka generasi milenial lebih suka yang tidak menghabiskan waktu dan tenaga.

Generasi milenial juga disebut sebagai generasi yang materialistis, karena menurut mereka materi dapat membeli segalanya. Pola dan gaya hidup milenial khususnya yang tinggal dikota besar lebih mengutamakan mencari kesenangan semata (hedonis), sebagai cara untuk mengekspresikan kesenangan, mereka haus akan dunia hiburan, berhura- hura dan tidak terlepas dari teknologi internet. Gaya hidup, hobi dan olahraga, menjadi rutinitas sehari- hari dan tingkah laku terhadap internet dan interaksi online mereka di sosial media sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Gaya hidup milenial selalu ingin mencari perhatian dan ingin eksistensinya diakui lewat benda yang dimilikinya, akibatnya tidak sedikit dari mereka terlibat persaingan yang tidak sehat. Mereka menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuannya.

Generasi milenial lahir dan berkembang bersamaan pesatnya teknologi. Mereka mungkin tidak paham akan pentingnya etika dalam menggunakan media sosial. Internet sebagai penghubung media sosial sangat cepat menyebarkan luaskan informasi dari seseorang ke orang lain kepada seluruh orang yang terkoneksi dalam jaringan internet.

Sehingga apa yang diunggah (upload, posting) ke media sosial, bukan hanya orang- orang dalam jaringan kita yang akan melihat namun dapat di-share oleh teman kita sehingga dapat dilihat oleh orang lain yang tidak berteman dengan kita karena media sosial bersifat publik. Maka dalam mengunggah ke media sosial kita harus berhati-hati dalam bertinadak supaya tidak menyinggung, menyakiti perasaan orang lain.

Di era digital ini yang digunakan oleh generasi milenial juga memiliki sisi negatif yang membuat mereka tidak lepas dari kritikan tajam para netizen. Aspek yang paling sering disoroti dari generasi milenial adalah etika dan moral yang mereka tampilkan di ruang publik virtual. Karena Indonesia adalah menikuti adat negara timur yang memegang tinggi namanya etika dan moral, namun dengan adanya teknologi digital tersebut masuknya budaya barat yang serba bebas. Mereka akan cenderung melakukan pelanggaran terhadap etika dan moral sosial beararti mereka mengingkari sistem sosial yang ada.

Dengan norma kebebasan yang dibawa oleh generasi milenial mereka sering mengabaikan terhadap etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Hal-hal tidak etis seperti, ujaran kebencian, bullying, akses konten pornografi, menyebar hoax, judi online, penipuan, dan lain sebagainya. Hal ini dibutuhkan peran penting orang tua untuk mengawasi anaknya dalam menggunakan media maya tersebut supaya tidak terjerumus pada sisi negatif dari teknologi digital. Dan yang dilakukan pemerintah untuk memyelesaikan masalah itu yaitu dengan mengeluarkan suatu hukum sebagai sanksi pada pelaku penyalahgunaan teknologi digital. Sehingga pelanggar dalam

(6)

penyalaggunaan teknologi tersebut dapat dibatasi dan terkontrol. Tapi kembali lagi pada masing-masing individu apakah ia memanfaatkan perkembangan

teknologi dengan baik dan benar atau tidak. Perubahan sosial dalm kehidupan era milenial ini berupa perubahan pola dan gaya hidup, pola pikir yang inovatif dan cerdas, perubahan tingkah laku dan lainnya sebagainya.18

C. KESIMPULAN

Dari berbagai pemaparan yang telah dijelaskan dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan-perubahan sosial dari zaman dahulu sampai pada yang kekinian yaitu generasi milenial dapat menjadi perubahan yang baik dan membawa kemajuan bagi bangsa dan juga dapat menjadi buruk bahkan bisa menghancurkan generasi tersebut apabila kita tidak bisa menyikapinya dengan hal-hal yang baik dan juga didukung dengan aturan serta norma-norma yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

(2020). Retrieved 23 Januari, 2021, from kbbi.kemdikbud.go.id website:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/milenial, 2021.

Budi. (2020) Generasi Millennial Sumber Ide. Retrieved 24 Januari, 2021, from djkn.kemenkeu.go.id website:

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/bac a/13270/Generasi-Millennial-Sumber- Ide.html.

Sulanjari, Bambang. (2012). Retrieved 24 Januari, 2021 from ikadbudi.uny.ac.id website:

http://ikadbudi.uny.ac.id/informasi/herbert- spencer-dan-evolusi-budaya.

Koentjaningrat. (1979). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaningrat. Budhisantoso.

Danandjaya, J. Suparlan, Parsudi.

Marsinambow, E.K.M. Sofion, Anrini. Kamus

18

https://www.kompasiana.com/diyonsutopo/5eafa99a0 97f3645e217a5c3/perubahan-sosial-dalam-kehidupan-

Istilah Antropologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1984.

Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi, Edisi II. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2000.

Sutopo, Diyon. (2020). Retrieved 24 Januari, 2021 from www.kompasiana.com website:

https://www.kompasiana.com/diyonsutopo/5 eafa99a097f3645e217a5c3/perubahan-sosial- dalam-kehidupan-era-milenial?page=all.

era-milenial?page=all pada tanggal 24 Januari 2021 jam 14.57 WIB.

(7)

Referensi

Dokumen terkait