• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIREKTORAT HUKUM - ppatk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DIREKTORAT HUKUM - ppatk"

Copied!
139
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dari pengertian TPPU sebagaimana disebutkan di atas, terlihat bahwa unsur penyembunyian atau penyamaran dalam delik TPPU merupakan unsur esensial (delik asal) dalam terjadinya tindak pidana pencucian uang. Hal ini merupakan unsur yang penting karena tujuan dari pencucian uang itu sendiri adalah untuk menyembunyikan dan/atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana. Mengenai pembuktian adanya unsur kesengajaan yang dalam hal ini adalah unsur kesengajaan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana.

Sedangkan pada Pasal 4 UU TPPU, unsur penyembunyian atau penyamaran ada pada wilayah perbuatan (actus reus).

Identifikasi Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Bagaimana seharusnya pembuktian penyembunyian atau penyamaran dalam penyidikan perkara tindak pidana pencucian uang, berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan? Menjelaskan bagaimana unsur penyembunyian atau penyamaran harus dibuktikan dalam penyidikan perkara pencucian uang berdasarkan ketentuan hukum dan putusan pengadilan. Untuk mengetahui bagaimana praktik pembuktian unsur penyembunyian atau penyamaran yang dilakukan aparat penegak hukum berdasarkan putusan pengadilan.

Secara teoritis, penelitian ini hendaknya memberikan wawasan untuk membuktikan unsur-unsur penyembunyian dan/atau penyembunyian dalam menangani kasus pencucian uang.

TINJAUAN PUSTAKA

Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana

Perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana Hukum pidana adalah suatu sistem norma bahwa Hukum pidana adalah suatu sistem norma yang menentukan perbuatan apa (melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana ada kewajiban untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan apa hukum itu, yang dapat dijatuhkan, serta hukuman apa yang dapat dijatuhkan atas perbuatan tersebut 15. Hukuman dalam arti obyektif adalah hukum pidana yang berlaku, atau disebut juga hukum positif atau ius poenale. 16. Hukum pidana subjektif adalah seperangkat aturan yang mengatur hak negara untuk menghukum seseorang yang melakukan perbuatan terlarang. 18 Aturan ini membatasi kekuasaan negara untuk menghukum 19 Hukum pidana subyektif tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya hukum pidana yang obyektif.

Keterkaitan antara hukum pidana subjektif (ius poenandi) dengan hukum pidana objektif (ius poenali) adalah bahwa kekuasaan pemerintah untuk menjatuhkan pidana sebagai perwujudan hukum pidana subjektif dilaksanakan berdasarkan ketentuan dan koridor yang ditetapkan dalam kerangka hukum pidana objektif. hukum.

Pembuktian dalam Perkara Pidana

Dasar pembuktian didasarkan pada keyakinan hakim yang timbul dari bukti-bukti negatif dalam undang-undang. Alat Bukti atau Bewijsmiddelen adalah alat bukti yang digunakan untuk membuktikan telah terjadi suatu peristiwa hukum. Dasar pembuktian didasarkan pada keyakinan hakim yang timbul dari bukti-bukti negatif dalam undang-undang.

Alat Bukti atau Bewijsmiddelen adalah alat bukti yang digunakan untuk membuktikan telah terjadi suatu peristiwa hukum.

Tindak Pidana Pencucian Uang

Proses pembuktian harus dilakukan dengan tetap memperhatikan hak-hak tersangka atau terdakwa, termasuk upaya pengumpulan alat bukti. Herbert L Packer menyatakan bahwa barang bukti yang diperoleh secara tidak sah tidak boleh dijadikan alat bukti di persidangan53. Secara umum pengertian tindak pidana pencucian uang (TPPU) adalah serangkaian perbuatan yang melibatkan harta kekayaan yang diketahui atau patut diduga diperoleh dari hasil tindak pidana dengan tujuan untuk menyembunyikan asal usul, sumber, lokasi atau untuk menyamarkan. penamaan.

Pencucian uang ditujukan pada legalisasi uang yang diperoleh melalui tindak pidana, yang ditanamkan pada sistem keuangan.54 Pencucian uang secara harafiah juga disebut dengan money laundering, money laundering, atau disebut juga pembersihan uang yang berasal dari transaksi yang tidak sah (legitimasi pendapatan haram). ) 55. Dalam Black’s Law Dictionary, istilah pencucian uang diartikan sebagai 56 Istilah yang digunakan untuk menggambarkan penanaman modal atau pemindahan uang lainnya yang berasal dari pemerasan, pengedaran narkoba dan sumber-sumber ilegal lainnya ke dalam jalur yang sah sehingga sumber aslinya tidak dapat ditelusuri. Dari segi hukum, pengertian tindak pidana pencucian uang terdapat pada angka 1 pasal 1 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU) yang menyatakan bahwa pencucian uang adalah segalanya.

56 Henry Campbell Black, M.A., Black's Law Dictionary, (st.paul, Minn, West Publishing Co.) sjette udgave, 1990, s. 884 yang dikutip oleh Ivan Yustiavandana, Op.Cit s. 10. Pencucian Uang : Pengertian, Sejarah, Faktor Penyebab dan Dampaknya Bagi Masyarakat, Jurnal Hukum Bisnis Vo.22-No.3, 2003, s.

METODE PENELITIAN

  • Definisi Penelitian Hukum
  • Tipe Penelitian
  • Jenis dan Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Metode Analisis

Sementara dalam ketentuan Pasal 5 UU KUHAP tidak ada frasa menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta benda yang berasal dari tindak pidana. Kaitannya dengan tindak pidana pencucian uang, keadaan psikologis pelaku adalah adanya keinginan atau niat untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana tersebut. Tipologi TPPU sebagai indikator adanya kesengajaan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan pidana.

Pada prinsipnya pencucian uang diartikan sebagai segala bentuk perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana. Keadaan seperti ini kemudian dikehendaki oleh para pelaku TPPU, sekaligus merupakan wujud kesengajaan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana tersebut. Mewujudkan maksud untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana.

Melainkan mencakup segala bentuk perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana. Menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang timbul dari tindak pidana inilah yang merupakan “essentialia van het delik” dari tindak pidana pencucian uang itu sendiri. Majelis Hakim tidak serta merta menyatakan perbuatan Terdakwa memenuhi rumusan delik menyembunyikan atau menyembunyikan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana.

Rangkaian perbuatan tersebut kemudian digambarkan sebagai perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana. Inti dari tindak pidana pencucian uang adalah tujuannya untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembuktian Unsur Menyembunyikan atau

Hakikat kriminalisasi tindak pidana pencucian uang sebenarnya adalah menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana, sehingga menimbulkan kesan bahwa harta kekayaan tersebut merupakan harta yang sah. Terkait dengan tindak pidana pencucian uang, perbuatan seseorang dianggap memenuhi definisi tindak pidana apabila perbuatan tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul suatu harta. Apabila dari rangkaian perbuatan pelaku terhadap hasil kejahatan itu tidak ada petunjuk-petunjuk bahwa telah dilakukan suatu tindakan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usulnya.

Cara menentukan unsur penyembunyian atau penyembunyian asal usul harta harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Pada prinsipnya penggunaan kuasa adalah penggunaan identitas pihak lain, baik keluarga, kerabat atau pihak lain, dengan tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil kejahatan. Wujud dari kesengajaan untuk menyembunyikan atau merahasiakan asal usul harta benda yang diperoleh melalui tindak pidana diwakili oleh penggunaan apa yang disebut dengan tipologi, yang terlihat dari kecenderungan pelaku TPPU dalam melakukan kegiatan transaksional.

Pada prinsipnya penggunaan kuasa adalah penggunaan identitas pihak lain, baik keluarga, kerabat atau pihak lain, dengan tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil kejahatan. Selain itu, dalam kaitannya dengan aspek hukum, uraian mengenai pemenuhan unsur-unsur yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul barang yang diperoleh harus dijabarkan secara jelas dalam putusan majelis hakim dalam perkara pidana pencucian uang. Fakta hukum tersebut menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan majelis dalam memutuskan terpenuhinya unsur yang bertujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil tindak pidana.

Majelis Hakim menjelaskan lebih spesifik mengapa penggunaan rekening atas nama Sekretariat Daerah Kabupaten Mamberamo Raya dimaksudkan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta benda pidana. Pertimbangan hukum hendaknya menjelaskan bagaimana tujuan penyembunyian atau penyamaran asal usul harta pidana dari penggunaan hasil kejahatan untuk kepentingan kontestasi politik harus dijelaskan. Ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk mencari indikasi adanya kesengajaan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul hasil kejahatan dari perbuatan “menukar” hasil kejahatan tersebut.

Apabila nasabah atau dalam hal ini terdakwa tidak memberikan keterangan yang faktual, maka perbuatan itu dapat digolongkan sebagai perbuatan yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana. Namun pertimbangan hukum tersebut tidak merinci bagaimana tujuan penyembunyian atau penyamaran asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana tersebut dicapai dari rangkaian perbuatan tersebut. Pertimbangan hukum masih banyak ditemukan dalam berbagai putusan yang tidak memberikan penjelasan secara sistematis terhadap terpenuhinya unsur penyembunyian atau penyamaran asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana.

PENUTUP

Kesimpulan

Oleh karena itu, maka perbuatan pelaku yang dinyatakan memenuhi rumusan tindak pidana JPZH, khususnya perbuatan yang dilakukan dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana tersebut harus jelas. dijelaskan dari segi perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan hasil tindak pidana dan parameter apa yang tercermin dari tindak pidana tersebut sehingga dapat diketahui bahwa tindak pidana tersebut mempunyai tujuan untuk menyembunyikan atau menutupi asal usul hasil tindak pidana tersebut. pelanggaran pidana. Pembuktian terhadap unsur penyembunyian atau penyamaran asal usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana dapat dilakukan dengan mengacu pada analisis tipologis terhadap perbuatan yang dilakukan pelaku serta analisis terhadap fakta obyektif atau faktual yang menyertai perbuatan tersebut. Selain itu, dalam beberapa putusan masih terdapat pertimbangan hukum yang memadukan pertimbangan hukum terkait kelengkapan unsur dan unsur “yang diketahui atau patut diduga”.

Hal ini kemudian berimplikasi pada pertimbangan hukum yang menjadi sepihak dan tidak menjelaskan secara lengkap dan jelas pengetahuan pelaku dan perbuatan pelaku yang bertujuan untuk menyembunyikan atau menutupi asal usul harta benda yang berasal dari tindak pidana.

Saran

Untuk membuktikan unsur penyembunyian atau penyembunyian asal usul harta kekayaan hasil tindak pidana dalam perkara tindak pidana pencucian uang, dilakukan dengan menganalisis tipologi dan fakta obyektif atau keadaan faktual yang berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan pelaku. Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian Dalam Perkara Pidana Bagi Mahasiswa dan Praktisi, Mandar Maju, Bandung, 2003,. Henry Campbell Black , M.A., Black's Law Dictionary, (st.paul, Minn, West Publishing Co.) edisi keenam, 1990 Reda Mantovani, Narendra Jatna, Rezim Anti Pencucian Uang dan Hasil Kejahatan di Indonesia, UAI Press, Cetak III, Oktober 2018 20.

Soetandyo Wignjosoebroto, “Kriminalisasi dan Dekriminalisasi: Apa Kata Sosiologi Hukum Tentangnya,” disampaikan pada seminar Kriminalisasi dan Dekriminalisasi dalam Reformasi Hukum Pidana Indonesia, Fakultas Hukum UII, Yogyakarta, 15 Juli 1993.

Referensi

Dokumen terkait

11.739.900.000, ( Sebelas milyar tujuh Ratus tiga puluh Sembilan juta Sembilan ratus ribu rupiah) sudah termasuk Pajak-pajak sebagai Harga Kontrak. Adapun Perusahaan

200.000,- (dua ratus ribu rupiah) dimana uang untuk membeli sabu-sabu tersebut adalah milik terdakwa, selanjutnya sekitar Jam 12.30 Wib terdakwa dan saksi Nori

- Tanggal 09 Juli 2010 Saksi Harsono Hartono melalui kasir menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp 22.700.300,- (dua puluh dua juta tujuh ratus ribu tiga ratus rupiah) untuk

mengatakan “kendaraan sudah dipersiapkan” sambil menyerahkan uang sebesar Rp.500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) kepada terdakwa sebagai uang jalan untuk membeli ganja, dan

Bahwa pada hari Jumat tanggal 27 Februari 2015, Terdakwa telah mengambil 3 (tiga) buah kardus berisi uang sejumlah Rp2.910.000.000,00 (dua miliar sembilan ratus sepuluh

2.574.602.354 (dua miliar lima ratus tujuh puluh empat juta enam ratus dua ribu tiga ratus lima puluh empat rupiah) dan apabila terdakwa tidak dapat membayar uang pengganti

( sembilan ratus tiga puluh lima juta lima ratus ribu rupiah); Menimbang, bahwa Pengadilan Tingkat Banding berpendapat, bahwa apa yang dilakukan oleh Tergugat

sejumlah uang Rp.94.263.840,-(sembilan puluh empat juta dua ratus enam puluh tiga ribu delapan ratus empat puluh rupiah) dalam bentuk garansi bank sebagai Jaminan