• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskusi 1 - Penanganan dan Pengolahan Serealia dan Palawija (PANG4225) 044118792

N/A
N/A
Riva Novanda Ramadhani

Academic year: 2024

Membagikan "Diskusi 1 - Penanganan dan Pengolahan Serealia dan Palawija (PANG4225) 044118792"

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Riva Novanda Ramadhani NIM : 044118792

Prodi : Teknologi Pangan Kelas : PANG4225.5

DISKUSI 1 – PENANGANAN DAN PENGOLAHAN SEREALIA DAN PALAWIJA (PANG4225) Seorang petani padi mengeluhkan kerusakan gabah setelah disimpan beberapa waktu. Gabah mengalami perubahan warna dari warna kuning emas menjadi lebih gelap dan berdampak pada bulir beras yang mengalami pencoklatan setelah digiling. Diketahui, beras juga tidak utuh setelah digiling. Menurut Anda, apakah yang menyebabkan permasalahan perubahan warna pada gabah petani tersebut? Dan analisislah jenis kerusakan yang terjadi pada gabah tersebut!

Butir gabah yang mengalami perubahan warna dari kuning emas menjadi lebih gelap, bahkan hitam, disebabkan oleh penumpukan gabah terlalu lama dalam keadaan basah. Penumpukan ini dapat menimbulkan proses pemanasan yang akan merusak gabah. Proses pemanasan timbul akibat adanya akumulasi kalor hasil respirasi gabah basah saat ditumpuk atau akibat pertumbuhan jasad renik (jamur atau cendawan) dengan cepat yang makin merusak gabah. Oleh karena itu, gabah yang telah dirontokkan sebaiknya segera diwadahkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan praktis untuk penanganan lebih lanjut. Pemindahan harus dilakukan secepat mungkin untuk menghindari terjadinya penumpukan.

Usahakan agar gabah basah segera dijemur atau diangin-anginkan serta memperoleh aerasi (aliran udara) yang cukup untuk menghindari proses pemanasan akibat tertumpuk.

Sedangkan, butir beras yang tidak utuh setelah digiling disebabkan oleh keretakan beras akibat pengeringan gabah yang tidak baik. Pada pengeringan di atas lantai, kenaikan suhu yang terjadi (600 – 700C ) dapat mengakibatkan penguapan air gabah terlalu cepat, sehingga mudah terjadi keretakan. Gabah yang terlalu kering akan mudah pecah saat penggilingan. Oleh karena itu, pengeringan harus dilakukan secara baik, perlahan, dan merata dengan suhu tidak terlalu tinggi, lapisan hamparan tidak terlalu tipis (5 – 7 cm), dan harus sering dibolak-balik (minimal setiap 2 jam).

DAFTAR PUSTAKA

Wijandi, S. 2022. BMP Penanganan dan Pengolahan Serealia dan Palawija (Edisi 2). Tangerang Selatan:

Universitas Terbuka.

Referensi

Dokumen terkait