Tedi Ardiasyah X MIPA 3
Perkembangan Kehidupan Masyarakat Pra-Aksara
Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan 1. Keadaan lingkungan
Pada masa ini, manusia hidup di alam terbuka bersama hewan dan tumbuhan. Untuk menghindari diri dari panas, hujan, dan bahaya, manusia tinggal di dalam gua atau membuat sarang di atas pohon.
Di era modern, ditemukan beberapa lukisan di dalam gua yang merupakan hasil karya manusia purba. Mereka menggambar dirinya, aktivitasnya, dan buruannya. Lukisan dinding gua banyak ditemukan di Sulawesi Selatan, Papua, Kalimantan Timur, dan Pulau Seram.
Lingkungan sekitar menjadi sumber pangan dan kehidupan manusia. Mereka berburu hewan besar bertulang belakang seperti rusa, babi, dan kerbau. Mereka juga mengumpulkan buah-buahan dan umbi-umbian. Selain itu, mereka juga menangkap ikan.
2. Alat-alat yang digunakan -Kapak perimbas
Kapak yang tidak memiliki tangkai. Digunakan dengan cara digenggam. Kapak perimbas diyakini sebagai hasil kebudayaan Pithecantropus erectus.
-Kapak penetak
Mirip dengan kapak perimbas tetapi lebih besar dan masih kasar. Kapak penetak berfungsi membelah kayu, pohon, dan bambu.
-Kapak genggam
Mirip dengan kapak perimbas dan kapak penetak, namun ukurannya lebih kecil, masih sederhana, dan belum diasah.
-Alat serpih (flakes)
Bentuknya seperti pisau dan sangat sederhana. Ukurannya antara 10-20 sentimeter. Alat serpih digunakan untuk memotong, menusuk, mengupas, dan menggali tanah.
-Alat dari tulang
Tulang-tulang sisa binatang buruan dimanfaatkan oleh manusia sebagai alat.
3. Sistem kepercayaan
Mereka percaya adanya hal-hal yang lebih kuat di luar kehendak mereka. Ini dibuktikan dengan adanya penguburan terhadap anggota yang telah meninggal.
Penguburan berarti menghormat mereka yang telah meninggal. Manusia pada zaman ini sudah meyakini ada kehidupan setelahnya.
Masa Bercocok Tanam dan Berternak
Masa bercocok tanam yaitu suatu masa dimana saat manusia mulai memenuhi kebutuhan hidupnya dengan memanfaatkan hutan belukar buat dijadikan ladang dan memelihara hewan dengan
beternak. Terjadinya masa bercocok tanam ini, dimana pada saat cara hidup berburu dan
mengumpulkan makanan ditinggalkan. Lalu, pada masa itu mereka mulai hidup menetap di suatu tempat.
I. Kehidupan Sosial
-Dikenal dengan kehidupan berhuma, setiap manusia akan membersihkan hutan dan bercocok tanam dan kalo tanah yang ditanam dirasa tak subur maka mereka akan berpindah dan hal ini akan dilakukan berulang kali.
-Dengan tinggal disekitaran huma, memelihara hewan jadi hal ini bisa disebut menetap.
-Dengan tinggal menetap menunjukkan kemajuan pada kehidupan manusia.
-Adanya peningkatan populasi manusia dengan rata – rata usia 35 tahun.
-Mulai adanya peraturan masyarakat, karena mereka sudah menetap lama dan membentuk perkampungan.
-Mengangkat seorang pemimpin.
-Saling bergotong royong, saling membantu, dan saling melengkapi.
II. Kehidupan Budaya
-Dengan adanya perkembangan dalam kebudayaan secara pesat, maka manusia juga udah bisa mengembangkan dirinya buat menciptakan kebudayaan yang lebih baik.
-Peninggalan kebudayaan manusia pada masa bercocok tanam semakin banyak dan beragam, baik yang terbuat dari tanah liat, batu ataupun tulang.
III. Kehidupan Teknologi
Selanjutnya dalam sejarah masa bercocok tanam ini, dimana pada kebudayaan orang – orang purba mengalami perkembangan yang luar biasa.
Pada masa itu, terjadi revolusi secara besar – besaran dalam peradaban manusia seperti kehidupan food gathering yang menjadi food producing. Makanya, hal tersebut membuat terjadinya perubahan yang sangat pesat dan meluas dalam seluruh penghidupan umat manusia saat itu.
IV. Bidang Kepercayaan
Kepercayaan masyarakat masa itu bisa diwujudkan dengan berbagai kegiatan upacara tradisi, upacara penguburan mayat dan dibekali dengan adanya benda-benda yang mereka punya ikut masuk ke dalam kuburannya.
Ada seorang kepala suku yang mempunyai kekuasaan dan bentuk tanggung jawab secara penuh terhadap beberapa kelompok – kelompok suku.
Masa Perundagian
i. Ciri – Ciri Masa Perundagian
-Kepercayaan yang mereka anut adalah kepercayaan Animisme dan Dinamisme.
-Tempat mereka tinggal di daerah pegunungan atau dataran rendah.
-Sudah mahir atau bisa dalam teknik bersawah yang baik (sistem pengaturan air).
-Berkemampuan dalam membentuk suatu kelompok kerja dalam bidang pertukangan.
-Berkemampuan dalam membuat berbagai perkakas dari logam.
-Sudah menganut suatu keyakinan dan melakukan pemujaan terhadap roh nenek moyang, yang terbuat dari batu – batu besar.
ii. Kehidupan Sosial Masa Perundagian
-Jumlah dari penduduk semakin meningkat lalu pengelolaan pertanian dan perternakan udah semakin berkembang.
-Mereka udah mempunyai pengetahuan mengenai adanya suatu gejala alam dan musim.
Dengan menerapkan sebuah system persawahan, maka mereka udah mulai mengerti dalam membagi waktu dan semakin ketatnya perkerajaan.
-Ada masyarakat yang muncul dari golongan undagi, yang mana mereka adalah golongan yang sangat mahir dalam mengelola benda logam.
-Dari segi social, dimana kehidupan pada masyarakat di masa ini udah semakin teratur. Contohnya seperti diterapkannya pembagian kerja yang baik.
-Sistem pembagian kerja udah semakin kompleks, yang mana para kaum wanita bukan Cuma bekerja di rumah saja tapi mereka juga mulai melakukan perdagangan di pasar.
iii. Corak Kehidupan Masyarakat Perundagian
Pada saat berlangsungnya proses pembauran, antara pendatang Melayu Austronesia dari Yunan Selatan dengan Australomelanesid pada sekitar tahun 300 SM. Lalu, tiba gelombang II emigran Melayu Austronesia yang berasal dari Dong Son (Vietnam sekarang).
Kebudayaan bangsa Melayu Austronesia gelombang II ini setingkat lebih maju dari pada emigrant bangsa Melayu Austronesia gelombang I mereka udah menguasai teknologi seperti:
-Teknologi pertanian basah yaitu bersawah.
-Teknologi metalurgi/pengecoran logam.
Permukiman atau desa yang mereka bangun menyebar di segala tempat dan permukiman itu tersebar mulai dari tepi pantai sampai ke pedalaman di gunung – gunung. Pembangunannya lebih teratur dan juga di pagar dengan tempat penguburan di luar pemukiman.
iv. Kepercayaan Masyarakat pada Masa Perundagian 1. Dinamisme
Dalam kepercayaan dinamisme ini, masyarakat percaya kalo arwah yang udah meninggal akan hidup kembali di tempat yang berbeda. Para orang tua juga mempercayai hal mistis, seperti kekuatan pada batu akik, belati, panah, dan lain sebagainya.
Kepercayaan dinamisme ini mendorong penganutnya memperoleh kekuatan melebihi makhluk halus dan juga alamnya. Selain itu, juga mempercayai kekuatan tunggal.
2. Animisme
Animisme ini orang – orang percaya pada suatu benda yang mempunyai kekuatan hal gaib dan makhluk halus. Dipercaya, kalo orang – orang tersebut ada pada keadaan mendesak benda ini akan membantu pemiliknya.
Roh – roh yang dianggap kuat dan mempunyai ilmu tinggi, sangat dihormati dan juga dijunjung tinggi pada penganut kepercayaan animisme tersebut.