BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembajakan buku di marketplace online merupakan tindakan yang
merampas Hak Cipta penulis yaitu penulis buku atas hasil karya ciptaannya. Hal ini melanggar Hak Cipta yaitu Hak Eksklusif dari penulis suatu buku. Hal ini selaras dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Menurut David I Baindridge, Intellectual Property is the legal right which protect the product of the human intellect. Maknanya adalah bahwa
melekatnya hak dalam kekayaan intelektual yaitu hak atas kekayaan yang berasal dari karya intelektual manusia.
Hak Cipta merupakan bagian Hak Kekayaan Intelektual yang sangat penting untuk dilindungi atas tindakan suatu pelanggaran karena apabila tidak dilindungi akan merugikan orang termasuk di dalamnya yaitu penulis buku yang telah bersusah payah berinspirasi, berimajinasi dan berpikir untuk menciptakan sesuatu.Sebagai pencapaian terhadap hasil karya ciptaan atas kemampuan
intelektual yang dibuat harus mendapat perlindungan hukum. Menurut Rayfel A.
Rantung: “Perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual khususnya hak cipta merupakan suatu terobosan tersendiri dalam perkembangan hukum di era modern”
B.Rumusan Masalah
1.Pengertian Buku Bajakan 2.Dasar hukum Membajak Buku 3.Landasan Teori
4.Hikmah dari Pembajakan Buku C.Tujuan Penulisan
1. Agar seseorang dapat memahami pengertian Buku Bajakan
2. Agar dapat mengetahui apakah membajak buku diperbolehkan, menurut hukum Negara
3. Mengetahui hikmah dari pembajakan buku
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Buku Bajakan
Buku bajakan adalah buku yang dicetak, diperbanyak dan diedarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab secara ilegal untuk keuntungan pribadi.
Buku yang dibajak biasanya buku best seller karya penulis ternama. Buku- buku tersebut dicetak dan digandakan tanpa seizin penulis bahkan penerbit resminya.
2.Dasar Hukum membajak buku
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, tepatnya pada Pasal 9 ayat (3) dinyatakan: “Setiap orang yang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang melakukan penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial ciptaan”. Pasal 10 dari undang-undang yang sama berbunyi “Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang basil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang
dikelolanya”.
3.Landasan Teori
Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan “buku adalah jendela dunia.” Hal senada dengan yang dikutip oleh Nkiko dari Okwilagwe dan Ekwueme dalam sebuah artikel jurnal berjudul “Book Piracy in Nigeria:Issues and
Strategies” (2014) bahwa buku adalah paspor dunia, kendaraan ilmu pengetahuan yang tak tergantikan, gudang dan pembawa budaya dan informasi, dan unsur penting dalam pembangunan. Namun, pada kenyataannya akses terhadap buku dan artikel jurnal akademik sangatlah terbatas. Akses terhadap jendela dunia ini
terbatas dan juga dibatasi. Seringkali untuk membuka jendela tersebut, kita perlu merogoh kocek yang tidak sedikit. Jika hal ini terus terjadi, maka buku hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki sumber daya lebih. Sedangkan, kondisi
sebaliknya terjadi pada mereka yang kekurangan sumber daya.
Hal ini pun mendorong terjadinya pembajakan. Pembajakan didefinisikan oleh Thomas yang dikutip oleh Garwe sebagai penyalinan tidak sah atau ilegal dari karya materi yang dimiliki orang lain dan menjualnya tanpa memberikan manfaat atau kompensasi kepada pemegang hak cipta. Nwafor mengungkapkan pembajakan yang terjadi karena beberapa alasan antara lain: harga buku yang tinggi, kelangkaan bahan penerbitan seperti kertas, mesin, tinta, dan sebagainya,
serta kondisi industri penerbitan di negara sedang berkembang yang masih bergantung pada negara-negara berkembang.
Pembajakan tidak hanya terjadi pada produk-produk fisik, tetapi juga pada produk yang lahir dari perkembangan teknologi, termasuk buku elektronik (e- book). Sahni dan Gupta mengungkapkan pembajakan digital bukan hanya tentang mengunduh, mengunggah, atau menyalin-membagikan sesuatu. Pembajakan digital lebih merupakan konsekuensi dari bagaimana kita mengonsumsi dan memproduksi media sebagai sebuah budaya. Banyak faktor yang memicu pertumbuhan
pembajakan ini, salah satunya adalah ketersediaan jaringan peer-to-peer yang mudah dan koneksi internet yang cepat dengan biaya rendah.
Data dari pelaku pembajakan dijelaskan oleh Chodak, bahwa pembajakan buku digital lebih sering dilakukan oleh laki-laki (66%) daripada perempuan.
Selain itu, dari segi usia pembajakan buku lebih sering dilakukan oleh kelompok usia muda di bawah 45 tahun sebesar 88%. Selanjutnya, dari kalangan
berpendidikan tinggi (lulusan perguruan tinggi dan pasca-perguruan tinggi) sebesar 72% dan berpenghasilan cukup baik yakni 66% dari kalangan berpenghasilan US$66.000 per tahun. Jika ditinjau dari sumbernya, mereka mendapatkan e-
book melalui situs torrent publik (31%), cyberlocker publik (31%), teman melalui pesan instan, e-mail, atau flash drive (30%), lelang online (27%), dan teman melalui jaringan internal tertutup (27%).
Garwe pun mengungkapkan bahwa pembajakan buku tidak hanya ilegal, tetapi juga tidak etis. Hal ini disebabkan oleh: Pertama, pembajak tidak pernah menerbitkan buku baru. Kedua, pembajak tidak membayar kompensasi atau royalti apapun kepada pemilik hak cipta atau penerbit yang sah. Ketiga, buku bajakan seringkali berkualitas rendah, tetapi di sisi lain perkembangan teknologi berhasil meniadakan poin ini karena dapat menghadirkan buku dengan kualitas yang sama baik dengan buku aslinya. Keempat, pembajak tidak mendapatkan risiko keuangan apapun karena berfokus pada produk yang memiliki permintaan tinggi. Dan,
terakhir, tindakan pembajakan ini juga berdampak pada pengurangan pendapatan pemerintah.
Kegiatan pembajakan memberikan dampak besar bagi
masyarakat. Nkiko menyebutkan bahwa pembajakan dapat menghancurkan kreativitas, mengurangi keuntungan ekonomi bagi penulis, serta membuat penerbitan tidak produktif dan lambat laun menjadi sektor yang tidak menarik.
Pembajakan buku memiliki efek destruktif jangka panjang pada akademisi dan kualitas pendidikan.
Di sisi lain, pembajakan buku ini tidak selalu dipandang negatif. Salah satunya disampaikan oleh Hardy, yang mengungkapkan bahwa pembajakan digunakan sebagai sarana untuk mencoba produk sebelum membelinya. Ada kemungkinan bahwa hal ini akan mengurangi dampak negatif dari pembajakan itu sendiri. Hal serupa pun disampaikan oleh Belleflamme dan Peitz yang
menyatakan bahwa pembajakan memberikan dampak positif pada pemilik hak cipta. Produk bajakan dianggap sebagai sampel yang akan menarik dan mendorong konsumen untuk membeli produk asli di kemudian hari. Argumen ini didasarkan pada pengamatan bahwa produk digital adalah experience goods yang kompleks dimana konsumen tidak mengetahui secara pasti nilai yang melekat pada produk digital tersebut sebelum mengonsumsinya.
Kemudian, pembajakan pun akan menghasilkan efek jaringan. Dalam hal ini, produk bajakan dinilai mampu meningkatkan daya tarik produk, sehingga mendorong peningkatan jumlah konsumen produk asli. Selain itu, pembajakan dinilai dapat meningkatkan permintaan barang yang melengkapi produk bajakan yang beredar. Sahni dan Gupta menuliskan adanya argumen yang mendukung pembajakan digital, terutama jika dilihat dari sudut pandang pelajar/mahasiswa.
Alasan keterbatasan keuangan serta tujuan pendidikan disebutkan menjadi alasan yang “sah” dari pembajakan digital bagi kalangan pelajar/mahasiswa.
Perdebatan pro-kontra terkait pembajakan buku, baik buku konvensional maupun digital, akan terus berlangsung. Namun, di sisi lain, kita perlu menaruh perhatian khusus terkait masalah ini guna mengatasinya. Garwe menuliskan strategi anti-pembajakan yang paling efektif adalah keterlibatan semua pemangku kepentingan dalam bahu-membahu untuk menjalaninya beberapa
langkah. Pertama, peningkatan kesadaran masyarakat dan memberikan advokasi, misalnya dengan membuat kampanye anti-pembajakan, baik di dunia nyata
maupun di dunia maya. Kedua, solusi teknologi dengan
pemberian watermark pada file yang asli atau dengan menggunakan kode enkripsi yang berlaku untuk satu akun atau satu gawai.
Ketiga, penyesuaian harga serta memperluas distribusi dan promosi.
Persoalan harga menjadi faktor utama pembajakan buku digital. Maka dari itu, penerbit perlu menetapkan harga yang sesuai dengan kondisi pasar atau
masyarakat. Untuk menyesuaikan harga ini, pihak penerbit bisa menggandeng swasta atau brand untuk memasang iklan sehingga masyarakat dapat
mengaksesnya dengan harga yang terjangkau. Keempat, penguatan dan penegakan kebijakan kekayaan intelektual yang membutuhkan kerangka hukum dan kebijakan yang relevan serta aparat penegak hukum yang memiliki integritas.
Nkiko pun menambahkan dalam memberantas pembajakan buku digital dibutuhkan revitalisasi perpustakaan. Menurut Nkiko, dengan perpustakaan yang memiliki fasilitas baik dan terjangkau oleh semua kalangan, maka lambat laun akan mendorong berkurangnya pencarian buku bajakan. Tak hanya dari fasilitas, perpustakaan juga perlu berkomitmen untuk menyediakan beragam buku yang terus diperbarui secara berkala. Di sisi lain, salah satu usulan Nkiko yang menarik adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk membuat pencarian otomatis dengan algoritma khusus. Selain itu, juga menyertakan informasi dari penulis dan editor berupa tindakan umum untuk mendeteksi dan menghapus file unduhan ilegal dari e-book.
Al-Rafee dan Rouibah mengungkapkan selain dengan peningkatan
kesadaran dan pemahaman hukum serta hak cipta dan kekayaan intelektual, untuk menghentikan pembajakan buku secara digital juga dibutuhkan peran agama. Dari studi yang dilakukan, agama memiliki efek yang signifikan dalam mencegah
pembajakan buku digital ini. Pemerintah bisa bekerja sama dengan petinggi agama untuk turut membantu menyebarkan kesadaran ini. Namun, tentu poin ini tidak bisa diterapkan secara umum. Faktor agama hanya akan berlaku pada negara- negara dengan penduduk dengan tingkat religiusitas tinggi.
Pembajakan Buku di Indonesia
Persoalan pembajakan buku, baik buku konvensional maupun digital, merupakan permasalahan yang telah lama terjadi di seluruh negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, perdebatan masih banyak seputar pembajakan buku konvensional yang dijual dengan harga murah dengan kualitas yang berbeda jauh dari aslinya. Faktor ekonomi menjadi faktor utama persoalan pembajakan buku di Indonesia. Pasalnya, harga buku memang masih tergolong mahal. Di sisi lain, industri buku yang berkembang masih terpusat di Jawa, sehingga distribusi buku ke daerah selain Jawa memakan banyak biaya yang tentunya membebani pembaca.
Di sisi lain, fasilitas perpustakaan di daerah, baik yang dikelola pemerintah daerah maupun swasta, memiliki fasilitas yang amat minim. Kesenjangan digital pun masih sangat tinggi, sehingga akses terhadap buku-buku digital pun masih minim. Kemudian, faktor penting lainnya adalah minat serta budaya baca di Indonesia yang masih rendah. Faktor-faktor kemudian ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya,
pembajakan buku ini serupa lingkaran setan yang sulit untuk diputus.
Dalam kasus di Indonesia, bagi penulis, pemerintah perlu memegang kendali besar dalam mengatasi permasalahan ini. Pemerintah bisa menggandeng pihak swasta untuk membangun taman baca atau perpustakaan di daerah-daerah.
Pemerintah juga dapat menyusun peraturan terkait distribusi buku ke pelosok dengan harga yang terjangkau, sehingga distribusi buku tidak hanya berpusat di Jawa.
Selain itu, pemerintah perlu mengatur ekosistem penerbitan buku dengan peraturan-peraturan yang relevan. Mulai dari pengaturan royalti penulis hingga kebijakan mengenai pembajakan buku, serta hak cipta itu sendiri. Selanjutnya, hal yang tak kalah penting adalah pemahaman pemerintah mengenai pelarangan atau pembakaran buku yang merupakan salah satu tindakan pembatasan penyebaran pengetahuan. Dengan begitu, jendela dunia (baca: buku) dapat diakses oleh siapa dan di mana saja.
4.Hikmah dari Pembajakan Buku
A.Ide dan Gagasan Penulis tak Ada Harganya
Membeli buku bajakan berarti kita tidak menghadirkan penulis dalam buku yang kita baca. Ide dan gagasan penulis yang bisa menghasilkan sebuah maha karya berupa buku tidak ada harganya, karena tidak ada royalti yang akan penulis dapatkan saat buku bajakan mereka laku. Padahal penulis hanya mendapat royalti 10% dari harga buku, misalnya harga novel Fiersa Besari Rp. 88.000 maka bung Fiersa hanya mendapat royalti sebesar Rp. 8.800 dari penjualan satu buku. Ketika anda membeli buku bajakan berarti anda mengambil paksa royalti yang seharusnya diterima bung Fiersa dari ide dan gagasannya dalam bukunya. Membajak buku laiknya coppy paste tanpa menyertakan sumber.
Bukan hanya penulis yang terdzolimi dalam kasus ini namun juga orang–
orang dibalik tercetaknya buku yakni, pembuat desain sampul, editor, penerbit, pembaca ahli. Di balik tercetaknya sebuah buku terdapat banyak orang dan proses yang panjang juga biaya yang tidak sedikit dikeluarkan oleh penerbit. Jika kita terus menerus egois dengan membeli buku bajakan secara tidak langsung kita mendzolimi orang-orang dibalik buku itu, jika penjualan buku asli menurun karena buku bajakan lebih laris maka penerbit akan bangkrut dan penulis tidak bisa
menyalurkan gagasannya lagi dan kita tidak akan bisa menikmati karya penulis itu lagi, kerugiatan yang akan nampak jangka panjang. Yang jarang terpikir oleh sebagian konsumen buku bajakan.
B. Memutus Mata Rantai Pembajakan Buku
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memutuskan mata rantai
pembajakan buku antara lain: pertama, Mulai dari diri sendiri, mengharamkan diri sendiri membeli buku bajakan, menyadarkan diri sendiri bahwa mebeli buku bajakan adalah perbuatan yang tidak terpuji dan harus dihindari. Selagi masih ada konsumen buku bajakan oknum-oknum pembajak buku akan tetap mengusahakan membajak buku, namun jika para konsumen menyadari bahwa ini salah dan beralih membeli buku asli para oknum pembajak akan meninggalkan pekerjaan mereka.
Kedua, Mengkapanyekan dan mengingatkan orang sekitar untuk tidak membeli buku bajakan. Bukan dengan cara menyalahkan mereka namun dengan cara halus dan lembut dengan mengedukasi mereka, menceritakan proses
terciptanya buku. Supaya rekan kita juga sadar bahwa membeli buku bajakan itu menyalahi aturan dan pastinya menyalahi perikemanusiaan.
Ketiga, Menabung untuk membeli buku asli. Salah satu alasan para konsumen membeli buku bajakan adalah karena uang pas-pasan jadi untuk
meminimalisir pembelian buku bajakan hendaknya menabung untuk membeli buku asli. Keempat jika ingin buku harga terjangkau bisa membeli buku saat toko buku cuci gudang, disitu harga buku diturunkan, buku yang dijual juga buku asli yang sudah lama cetakannya. Toko buku seperrti gramedia sering mengadakan cuci gudang dengan menjual buku dengan harga terjangkau.
Kelima pemerintah memberikan sanki tegas kepada para pembajak buku, dan pengedar. Perketat UU tentang pembajakan, pembajakan berarti pencurian ide secara terang-terangan banyak pihak yang dirugikan. Pemerintah harus
memberikan sanksi yang bisa membuat jera para oknum buku bajakan. Keenam, memberikan sanksi kepada aplikasi belanja atau online shop yang menjajahkan buku bajakan dilapaknya. Buku bajakan sangat mudah diperoleh di aplikasi belanja atau online shope dengan harga yang sangat terjangkau para penjual bahkan
menyediakan ratusan buku bajakan dengan masing-masing judul. Pemberian sanki kepada pengelola aplikasi belanja salah satu cara supaya peredaran buku bajakan terhenti.
Ketujuh, razia buku palsu rutin digalakan, seperti satpol PP yang merazia PKL. Satpol PP mengadakan razia rutinan pada pasar buku dan tempat
penggandaan buku bajakan, hal ini dilakukan untuk meninimalisir pembajakan buku. Kedelapan, membeli buku di toko buku besar seperti gramedia, toga mas, gunung agung. Toko buku besar menyediakan buku asli meskipun harganya lebih mahal dari pada di pasar buku, harga mahal berbanding lurus dengan kualitas dan keaslian buku. Bijaklah dalam memilih, jadilah warga negara yang taat pajak dengan membeli buku asli. Membeli buku asli adalah salah satu cara mengahargai jeripayah penulis.
Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat yaitu, novel bajakan memiliki kualitas yang buruk dan merugikan penulis novel tersebut. Hal yang dapat dilakukan yaitu, tidak
membeli novel bajakan. Dengan tidak membeli buku bajakan kita sudah berperan dalam menghentikan penggandaan atau pembajakan novel secara ilegal. jadilah warga negara yang taat pajak dengan membeli buku asli. Membeli buku asli adalah salah satu cara menghargai jeri payah penulis.untuk orang-orang yang memilih jalan sebagai penulis profesional, pembajakan buku adalah musuh yang
mengancam piring nasi mereka. Jelas, mereka dirugikan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Pembajakan Buku ”. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran saudara yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi kita semuanya dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan kita semua.
Kuningan, 18 Maret 202
Pengarang.