xiv
DAFTAR SINGKATAN
WHO : World Health Organization FIKes : Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Unsoed : Universitas Jenderal Soedirman KBBI : Kamus Besar Bahasa Indonesia Bapendik : Bidang akademik dan kemahasiswaan UKM : Unit kegiatan mahasiswa
SIPO : Sistem poin
HMJK : Himpunan Mahasiswa Jurusan Keperawatan N-SURE : Nursing Soedirman Rescue and Emergency Kemdikbud : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sig. : nilai signifikansi
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: LEMBAR INFORMASI DAN PERSETUJUAN BAGI
RESPONDEN PENELITIAN ... 44
Lampiran 2: Kuesioner Aktivitas Berorganisasi ... 47
Lampiran 3: Kuesioner Kemampuan Pengambilan Keputusan ... 48
Lampiran 4: Persetujuan Etik ... 50
Lampiran 5: Surat Keterangan Terjemahan Kuesioner ... 51
Lampiran 6: Permohonan Ijin Pra Survey dan Permohonan Data Mahasiswa ... 52
Lampiran 7: Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner Aktivitas Berorganisasi ... 53
Lampiran 8: Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner Kemampuan Pengambilan Keputusan ... 54
Lampiran 9: Proses Pengambilan Data ... 55
Lampiran 10: Hasil Uji Normalitas Data Numerik ... 56
Lampiran 12: Hasil Analisis Statistik Univariat... 64
Lampiran 13: Hasil Analisis Statistik Bivariat ... 70
Lampiran 14: Biodata Penulis ... 71
1
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa merupakan individu yang belajar di perguruan tinggi baik dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Mahasiswa umumnya berusia 18 hingga 25 tahun (Tabroni, Nauli dan Arneliwati, 2021).
Menurut World Health Organization (WHO) kategori remaja berada pada rentang usia 10-19 tahun. Menurut Hurlock dalam (Haqi, 2019) usia dewasa awal yaitu dalam rentang 20-40 tahun. Berdasarkan uraian tersebut, mahasiswa masuk kedalam kategori remaja dan dewasa awal.
Membuat keputusan merupakan hal dasar ketika individu akan melakukan suatu tindakan. Jika seseorang menginginkan tindakannya memuaskan dan terarah, maka individu harus mampu dan berani mengambil keputusan yang tepat. Namun demikian, pada kenyataannya tidak semua individu, termasuk mahasiswa dapat mengambil keputusan yang baik seperti yang diharapkan, mahasiswa yang termasuk dalam kategori remaja dan dewasa awal cenderung terlalu cepat mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan lebih jauh akibat dari keputusan tersebut (Refti, 2010). Rentang usia mahasiswa adalah antara masa remaja akhir dan masa dewasa awal, dimana masa ini merupakan masa kondisi mental yang masih labil, banyak dihadapkan konflik dan tuntutan, serta perubahan suasana hati (Suryanto dan Nada, 2021).
Kemampuan pengambilan keputusan merupakan skill yang harus dimiliki oleh perawat. Pengambilan keputusan sangat penting dalam asuhan dan manajemen keperawatan. Pengambilan keputusan adalah suatu proses yang mencakup semua kegiatan yang diperlukan untuk menghasilkan pilihan terbaik untuk memecahkan suatu masalah tertentu (Rahayu dan Mulyani, 2020). Oleh karena itu, perawat perlu dibekali kemampuan pengambilan keputusan yang baik sejak menjadi mahasiswa.
Mahasiswa khususnya Jurusan Keperawatan tentunya akan menghadapi berbagai permasalahan baik pribadi maupun klinis ketika menjalani masa studinya namun jika mahasiswa memiliki soft skill yang mumpuni, masalah-
masalah yang muncul akan terselesaikan dengan keputusan yang memuaskan.
Salah satu cara meningkatkan soft skill yaitu dengan berorganisasi.
Menurut KBBI, organisasi adalah kesatuan (susunan dan sebagainya) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dan sebagainya) dalam perkumpulan dan sebagainya untuk tujuan tertentu atau kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Organisasi lingkup universitas merupakan wadah kegiatan untuk mahasiswa yang mempunyai peranan penting kawasan perguruan tinggi dan mendapat pendanaan kegiatan kemahasiswaan dari pengelola perguruan tinggi, kementerian atau lembaga terkait. Organisasi mahasiswa terdiri dari tingkat universitas, organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas, organisasi kemahasiswaan tingkat program studi, dan organisasi kemahasiswaan berdasarkan minat dan bakat mahasiswa yang dikenal dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Aktivitas berorganisasi dapat membentuk soft skill mahasiswa, manfaat yang diperoleh dalam organisasi antara lain bantuan dan peningkatan kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kerjasama tim, perluasan relasi, penyelesaian masalah dan manajemen konflik (Rusdianti dan Suranto, 2018).
Banyak soft skill yang didapat dari aktivitas berorganisasi, namun belum ada penelitian yang membahas mengenai hubungan aktivitas beroganisasi dengan soft skill kemampuan pengambilan keputusan atau decision making. Mayoritas mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman merupakan mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi.
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan pada 6 mahasiswa keperawatan yang terdiri dari 3 mahasiswa angkatan 2020, 2 mahasiswa angkatan 2022, dan 1 mahasiswa angkatan 2021 didapat hasil bahwa aktivitas berorganisasi berada pada rata-rata skor 53 dengan skor tertinggi 59 dan terendah 49, semakin tinggi skor maka semakin tinggi aktivitas berorganisasi mahasiswa. Pada kemampuan pengambilan keputusan rata-rata skor 57 dengan skor tertinggi 62 dan terendah 52, semakin tinggi skor maka semakin baik kemampuan pengambilan keputusan. Skor tertinggi pada kedua aspek tersebut didapat oleh satu mahasiswa yang sama. Berdasarkan hasil wawancara, 4 dari 6 mahasiswa menyatakan setelah mengikuti organisasi mereka memiliki
3
pemikiran lebih terbuka ketika mendapat masukan dan pendapat dari orang lain terkait suatu permasalahan.
Hal tersebut mengasumsikan bahwa terdapat kemungkinan hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan, namun perlu dibuktikan secara ilmiah. Maka dari itu dilakukan penelitian lebih detail dan ilmiah untuk menggali lebih dalam mengenai hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa Jurusan Keperawatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena pentingnya memiliki kemampuan pengambilan keputusan bagi mahasiswa Jurusan Keperawatan dan aktivitas berorganisasi pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman, rumusan masalah yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah “Apakah terdapat hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman?”
C. Tujuan
Adapun tujuan umum dan tujuan khusus dari penelitian ini, yaitu:
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui:
a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, tahun angkatan, dan usia.
b. Gambaran aktivitas berorganisasi pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman.
c. Gambaran kemampuan pengambilan keputusan pada mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman.
d. Hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1) Bagi mahasiswa
Hasil penelitian dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan, sehingga mahasiswa dapat menjadikannya sebagai pembelajaran.
2) Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi kepada institusi pendidikan mengenai pentingnya aktivitas berorganisasi bagi mahasiswa sehingga institusi dapat membuat kebijakan yang mendukung organisasi mahasiswa.
3) Bagi penelitian selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar mengenai aktivitas berorganisasi dan kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman untuk penelitian selanjutnya, seperti untuk menganalisis faktor lain yang mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan mahasiswa.
4) Bagi perawat
Perawat perlu terus mengasah kemampuan pengambilan keputusan agar bisa membuat keputusan pribadi maupun klinis terbaiknya pada berbagai setting dan kondisi. Hasil penelitian ini dapat menambah informasi bagi perawat mengenai hubungan aktivitas berorganisasi dengan kemampuan pengambilan keputusan dan menjadikannya bahan pembelajaran.
E. Keaslian Penelitian Tabel 1. 1 Keaslian Penelitian
Nama Peneliti (tahun)
Judul Penelitian
Desain Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Yusminunita
Refti (2010)
Hubungan antara Religiusitas dengan Kemampuan
Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif korelasi untuk meneliti adakah hubungan
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh adanya hubungan positif
yang sangat
signifikan antara
Persamaan:
Variabel terikat:
kemampuan pengambilan keputusan
5
Nama Peneliti (tahun)
Judul Penelitian
Desain Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Pengambilan
Keputusan
antara religiusitas terhadap
pengambilan keputusan.
religiusitas dengan kemampuan
pengambilan keputusan.
Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasi
Perbedaan:
Variabel bebas:
religiusitas Suranto dan
Familia Rusdianti (2018)
Pengalaman Organisasi Dalam Membentuk Soft Skill Mahasiswa
Jenis Penelitian ini adalah kualitatif.
Subjek yang diwawancara diambil dari sembilan mahasiswa pendidikan akuntasi yang aktif dalam organisasi dari unit organisasi yang berbeda.
Pengalaman
berorganisasai dapat membentuk soft skill mahasiswa, manfaat yang didapatkan diorganisasi yaitu diantaranya
membantu dan meningkatkan kepemimpinan, kemampuan komunikasi, teamwork, memperluas jaringan,
problem solving dan manajemen konflik.
Persamaan:
Variabel bebas:
pengalaman organisasi
Perbedaan:
Variabel terikat: soft skill
mahasiswa Metode penelitian:
kualitatif
Chen, Binkai; Lin, Wei; Wang, Ao (2021)
The causal impact of economics education on decision- making:
Evidence from a natural experiment in China
Dilakukan survei pada mahasiswa jurusan ekonomi di Chinda dengan metode pengambilan sampel kuasi eksperimen.
Terdapat tiga kesimpulan dari penelitian ini, pertama, mahasiswa jurusan ekonomi cenderung
berperilaku sebagai seseorang yang tidak mengambil risiko besar, Kedua, mahasiswa lebih memegang teguh preferensi sosial yang dimiliki (norma, aturan, dll). Ketiga, karena mata kuliah wajib statistika, mahasiswa memiliki bekal mengenai probabilistik.
Persamaan:
Variabel terikat:
pengambilan keputusan
Metode pengambilan data penelitian menggunakan survei.
Perbedaan:
Variabel bebas:
pendidikan ekonomi
Melinda Sureti Rambu Guna (2019)
Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemampuan Pengambilan Keputusan Mahasiswa Pria Etnis
Jenis penelitian kuantitatif.
Pengambilan sampel menggunakan metode probability sampling, cara pengambilan sampel yang digunakan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pola asuh orang tua terhadap kemampuan
pengambilan keputusan
Persamaan:
Variabel terikat:
kemampuan pengambilan keputusan Metode pengambilan
Nama Peneliti (tahun)
Judul Penelitian
Desain Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Sumba di
Salatiga
adalah simple random sampling.
mahasiswa pria etnis Sumba di Salatiga.
sampel:
probability sampling
Perbedaan:
Variabel bebas:
pola asuh orang tua
Cara pengambilan sampel: simple random sampling
Bayu Tresna Aji,
Hasanah, dan Nugraheni (2022)
Pengaruh Dukungan Sosial Orang
Tua dan
Pengalaman Organisasi Terhadap Kecerdasan Emosional Remaja di Organisasi Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Metode penelitian kuantitatif dengan rumusan masalah assosiatif. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari mahasiswa yang menjadi anggota organisasi di 20 organisasi
mahasiswa
Universitas Negeri Jakarta. Teknik pengambilan sampel dengan
mengggunakan teknik proportionate random sampling dengan
menggunakan rumus Slovin.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara simultan antara dukungan sosial orang tua dan pengalaman
organisasi terhadap kecerdasan
Emosional.
Persamaan:
Variabel bebas 2: pengalaman organisasi Metode penelitian kuantitatif Pengambilan sampel dengan proportionate random sampling dengan rumus Slovin
Perbedaan:
Variabel bebas 1: dukungan sosial orang tua Variabel terikat:
kecerdasan emosional mahasiswa
7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab dua mengenai tinjauan pustaka pustaka terdiri dari kajian teori, kerangka teori, kerangka konsep, dan hipotesis.
A. Kajian Teori
Kajian teori dari penelitian ini mencakup aspek-aspek aktivitas organisasi meliput pengertian organisasi, macam dan tipe organisasi, faktor- faktor yang mempengaruhi aktivitas organisasi serta aspek-aspek mengenai kemampuan pengambilan keputusan, yaitu pengertian kemampuan pengambilan keputusan, faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan, keterampilan dan proses pengambilan keputusan.
1) Pengertian Organisasi
Organisasi merupakan suatu kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan batas yang relatif dapat ditentukan dan berfungsi secara berkesinambungan untuk mencapai tujuan bersama (Robbins, Stephen dan Timothy, 2017). Organisasi dapat diartikan dalam makna dinamis dan statis.
Organisasi dalam arti dinamis, organisasi adalah suatu proses penentuan dan pembagian pekerjaan yang harus dilaksanakan, pembatasan tugas dan kewajiban, wewenang dan tanggung jawab, serta penentuan hubungan antar unsur-unsur organisasi. Dengan cara ini, orang-orang yang bergabung dalam organisasi dapat bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama secara efisien dan efektif. Sedangkan organisasi dalam arti statis adalah suatu struktur yang berwujud dan bergerak untuk mencapai tujuan bersama, dengan kata lain sering disebut dengan struktur atau prosedur organisasi.
Dengan demikian, struktur merupakan wujud organisasi yang menunjukkan hubungan antara interaksi fungsi wewenang dan tanggung jawab orang- orang yang diberi tugas dan tanggung jawab atas seluruh kegiatan. Struktur organisasi dapat dilihat sebagai suatu rancangan terpadu dan lengkap yang menunjukkan hubungan fungsional setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Oleh karena itu, organisasi dalam pengertian dinamis lebih cenderung disebut organisasi sebagai wadah (Gani et al., 2021).
Organisasi ialah aktivitas menyusun dan membentuk hubungan- hubungan sehingga terwujudlah kesatuan usaha dalam mencapai maksud- maksud dan tujuan tertentu. Di dalam organisasi seseorang mampu mengasah kemampuan diri sendiri seperti, komunikasi, mental, tanggung jawab dan lainnya. Dengan keaktifan organisasi maka seseorang mendapatkan pengalaman dari organisasi tersebut (Sihotang dan Samuel, 2019)
Dapat disimpulkan bahwa organisasi merupakan wadah untuk melakukan aktivitas dengan tujuan tertentu yang terstruktur dengan pembagian tugas masing-masing individu yang jelas dan berjalan bersamaan.
2) Macam dan Tipe Organisasi
Secara umum, organisasi dibagi menjadi dua macam, yaitu formal dan informal. Organisasi formal adalah kumpulan dua orang atau lebih yang secara sadar terikat dengan tujuan bersama dan memiliki hubungan kerja yang rasional. Contohnya adalah perseroan terbatas, sekolah, negara, universitas, dan sebagainya. Organisasi informal merupakan kumpulan dua orang atau lebih yang terlibat dalam suatu kegiatan dan mempunyai tujuan yang sama dan tidak disadari. Contohnya yaitu arisan, belajar kelompok, dan lain-lain (Feriyanto danTriana, 2015).
Menurut Ulum (2016) terdapat empat tipe organisasi jika dilihat dari segi wewenang, tanggung jawab, dan hubungan kerja dalam organisasi.
Yang pertama organisasi garis (line organization), yaitu organisasi yang memiliki ciri pimpinan berhubungan langsung secara vertikal dengan bawahan. Tugas perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan berada pada satu tangan dan garis wewenang langsung dari pemimpin kepada bawahannya. Dalam organisasi ini, seseorang atau bawahan hanya bertanggung jawab kepada satu orang atasan saja. Yang kedua, organisasi garis dan staf (line and staf organization), organisasi tipe ini biasanya digunakan untuk organisasi besar, dengan ruang kerja yang luas, dan dengan area kerja yang beragam atau kompleks. Ciri-cirinya yaitu organisasi yang besar dan kompleks, wilayah kerja yang luas, jumlah pegawai yang relatif
9
banyak, tidak semua pimpinan dan bawahan saling mengenal, serta terdapat spesialisasi tugas antar pegawai. Yang ketiga, organisasi fungsional (functional organization), organisasi fungsional disusun berdasarkan sifat dan fungsi yang perlu dijalankan. Ciri-ciri organisasi ini diantaranya tugas- tugas dapat dibedakan secara jelas dan tegas, pelaksanaan tugas tidak memerlukan banyak koordinasi, pembagian satuan organisasi berdasarkan spesialisasi tugas, dan pimpinan unit tertentu memiliki wewenang dalam untitnya sendiri tanpa persetujuan langsung dari pimpinan. pemimpin tertinggi. Dan yang keempat yaitu organisasi panitia (committee organization), ciri-ciri organisasi ini adalah mempunyai tugas tertentu dan masa kerjanya terbatas, tanggung jawab dijalankan secara kolektif, seluruh anggota memiliki hak, wewenang dan tanggung jawab yang sama, dan para pelaksana dikelompokkan menurut kompetensi bidang tertentu.
Jika meninjau macam dan tipe organisasi, organisasi mahasiswa yang berada di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman yang menjadi batasan dalam penelitian ini merupakan organisasi formal. Tipe organisasi mahasiswa umumnya tipe organisasi garis dan organisasi panitia.
3) Aktivitas Berorganisasi
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi kembali menegaskan bahwa mahasiswa berhak mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan bakat, minat, potensi dan kemampuannya. Mahasiswa diharapkan menguasai tidak hanya bidang ilmu yang dipelajarinya (hard skill), namun juga bidang lain yang dapat menunjang keberhasilannya di masa depan (soft skill). Oleh karena itu, Univeristas Jenderal Soedirman memiliki berbagai organisasi yang dapat dipilih berdasarkan keinginan mahasiswanya.
Perguruan tinggi harus dapat memfasilitasi organisasi secara materi maupun moral.
Aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang akan membentuk sebuah hal baru berupa keterampilan, kebiasaan, perilaku, pola pikir, atau lainnya. Dalam organisasi terdapat aktivitas-aktivitas yang dilakukan orang yang dilaksanakan secara relatif teratur dan cenderung berulang. (Gani et al, 2020). Keaktifan dalam berorganisasi memberikan pengalaman dan ilmu yang baru di luar kegiatan perkuliahan (Setyaningrum, Sawiji dan Ninghardjanti, 2018). Pada organisasi mahasiswa terdapat peran pengurus dan anggota. Fokus pada penelitian ini yaitu mahasiswa yang menjadi pengurus organisasi lingkungan Universitas Jenderal Soedirman baik lingkup jurusan, fakultas, atau universitas.
Aktivitas yang pada umumnya dilakukan pada organisasi mahasiswa diantaranya rapat divisi, rapat bulanan, pelaksanaan program kerja, dan peningkatan bounding antar pengurus. Menurut Suryosubroto (2009) dalam (Aji, Hasanah dan Nugraheni, 2022) ciri keaktifan mahasiswa dalam mengikuti organisasi, yaitu tingkat kehadiran dalam pertemuan, jabatan yang dipegang, pemberian saran, usulan, kritik, dan pendapat bagi peningkatan organisasi, kesediaan anggota untuk berkorban, dan motivasi anggota.
Pada masa jabatan kepengurusan organisasi, mayoritas satu periodenya memiliki jangka waktu satu tahun. Pada satu tahun tersebut pengurus organisasi akan melakukan tanggung jawab sesuai tugas pokok dan fungsinya.
4) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Berorganisasi
Mahasiswa dalam keikutsertaan organisasi dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Pertama, faktor intrinsik yang terdiri dari bakat, presepsi, dan minat mahasiswa. Dalam faktor intrinsik, faktor yang sangat mempengaruhi mahasiswa mengikuti organisasi yaitu presepsi dari bakat dan minat mahasiswa karena sebagian besar mahasiswa mengikuti organisasi karena minat dari diri sendiri untuk aktif dalam organisasi. Kedua, faktor ekstrinsik yang menjadi alasan utama untuk aktif dan tidak aktif pada organisasi mahasiswa ditentukan oleh faktor lingkungan kampus karena sebagian besar mahasiswa mengisi waktu
11
longgar perkuliahan yaitu dengan mengikuti suatu organisasi. Selain lingkungan kampus, dorongan dari keluarga dan masyarakat juga bisa menjadi hal yang berpengaruh bagi mahasiswa mengikuti organisasi (Rusdianti dan Suranto, 2018). Lingkungan kampus mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman sangat mendukung mahasiswa untuk mengikuti organisasi karena banyak organisasi dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang bisa dipilih sesuai minat dan bakat. Selain itu, sistem poin (SIPO) yang berlaku sebagai prasyarat wisuda juga mendukung mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan selain kegiatan akademik, termasuk berorganisasi.
5) Pengertian Kemampuan Pengambilan Keputusan
Penggunaan istilah pengambilan keputusan biasanya identik dengan kegiatan kepemimpinan atau manajerial dalam suatu kelompok atau dalam suatu organisasi, namun jika didefinisikan lebih mendalam, setiap individu merupakan seorang pemimpin yang harus mengambil keputusan untuk dirinya dan kehidupannya. Pengambilan keputusan adalah salah satu proses kognitif dasar dari perilaku manusia dimana manusia akan memilih pilihan yang lebih disukai atau berdasarkan kriteria tertentu (Lunenburg dan Fred, 2021).
Pengambilan keputusan adalah proses kognitif yang kompleks yang sering didefinisikan sebagai proses memilih tindakan tertentu (Marquis dan Huston, 2015). Pengambilan keputusan adalah proses memilih sekumpulan alternatif (Usman, 2022).
Keputusan merupakan pilihan yang dibuat antara dua alternatif atau lebih (Robbins dan Stephen, 2014). Keputusan adalah suatu pilihan yang dipilih diantara alternatif-alternatif yang tersedia (Stoner, 2016).
Berdasarkan pengertian-pengertiam tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan satu pilihan dari berbagai pilihan yang tersedia untuk menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapi,
Pada mahasiswa Jurusan Keperawatan, kemampuan pengambilan keputusan merupakan hal yang penting karena perawat nantinya akan
mengambil keputusan pada berbagai setting, termasuk klinis yang keputusannya menyangkut asuhan keperawatan terhadap pasien.
6) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Pengambilan Keputusan Jika setiap orang menerima informasi yang sama dan menggunakan metode pendekatan yang sama untuk memecahkan masalah, maka dapat dibuat sebuah asumsi bahwa keputusan identik akan dihasilkan. Namun, dalam praktiknya, hal tersebut tidak terjadi. Alasannya pengambilan keputusan melibatkan persepsi dan evaluasi dari seseorang individu.
Awalnya individu melihat suatu hal dengan sensasi dan intuisi kemudian mengevaluasi persepsi mereka dengan berpikir dan merasakan. Maka dari itu, tidak dapat dihindari bahwa individualitas berperan dalam pengambilan keputusan. Setiap orang memiliki nilai dan pengalaman hidup yang berbeda, setiap individu juga memiliki cara pandang dan berpikir yang unik.
Terdapat lima faktor yang mempengaruhi keputusan pengambilan keputusan menurut Marquis dan Huston (2015), yaitu:
a. Gender
Pria dan wanita memiliki struktur dan rangkaian yang berbeda di otak sehingga kemungkinan pria dan wanita menggunakan otak mereka dengan cara berbeda. Terdapat temuan bahwa bagian lobus frontal, yang bertanggung jawab untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, dan korteks limbik yang bertanggung jawab untuk mengatur emosi, lebih besar pada wanita.
b. Nilai
Keputusan individu didasarkan pada sistem nilai yang dipegangnya. Seobjektif apapun individu dalam membuat keputusan, nilai yang dipegang akan selalu berperan dalam pengambilan keputusan, baik secara disadari maupun tidak disadari. Nilai memengaruhi persepsi, pengumpulan informasi, pemrosesan informasi, dan hasil akhir. Nilai juga menentukan masalah mana dalam kehidupan pribadi atau profesional seseorang yang akan ditangani atau diabaikan.
c. Pengalaman hidup
13
Setiap orang mempertimbangkan pengambilan keputusan pada pengalaman masa lalu. Semakin dewasa seseorang dan semakin luas latar belakangnya, semakin banyak alternatif yang dapat dia identifikasi.
Setiap kali perilaku atau keputusan baru diamati, kemungkinan itu ditambahkan ke repertoar pilihan orang tersebut. Salah satu pengalaman hidup yaitu kegiatan berorganisasi.
d. Preferensi individu
Individu yang akan membuat keputusan akan melihat keputusan tertentu melibatkan risiko pribadi yang lebih besar daripada yang lain dan karena itu dapat memilih alternatif yang lebih aman. Risiko fisik, ekonomi, dan emosional serta pengeluaran waktu dan energi adalah jenis risiko pribadi yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
e. Genetik
Pemikir otak kiri yang memproses informasi secara analitis, linier berbeda dari pemikir otak kanan yang kreatif, intuitif. Pemikir otak kiri cenderung lebih baik dalam memproses bahasa, logika, dan angka, sedangkan pemikir otak kanan unggul dalam ide dan kreativitas nonverbal.
Penelitian yang dilakukan oleh Refti (2010) menunjukkan terdapat hubungan antara religiusitas terhadap kemampuan pengambilan keputusan.
Penelitian yang dilakukan oleh Guna (2019) juga menemukan terdapat pengaruh dari pola asuh orang tua terhadap kemampuan pengambilan keputusan.
7) Keterampilan dan Proses Pengambilan Keputusan
Terdapat tujuh elemen yang harus ada jika ingin membuat keputusan berkualitas, yaitu menetapkan tujuan dengan jelas, mengumpulkan informasi dengan cermat, meluangkan waktu yang diperlukan, menggunakan pendekatan berbasis fakta, memikirkan berbagai alternatif, berpikir secara rasional, dan memilih keputusan dan bertindak tegas.
Ketujuh elemen tersebut akan mendukung proses pengambilan keputusan yang baik. Proses pengambilan keputusan yang baik perlu melewati 6 tahapan, yaitu membangun lingkungan pengambilan keputusan yang
positif, menghasilkan alternatif-alternatif solusi, mengevaluasi berbagai solusi, memutuskan, memeriksa keputusan, dan yang terakhir mengkomunikasikan dan menerapkan (Marquis dan Huston, 2015).