[01.02.3-T2-3 E] Irfan Ananda
Irfan Ananda Ismail*
Pendidikan Profesi Guru – Universitas Negeri Padang
“Made adalah seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah negeri wilayah Bali, tepatnya di salah satu desa di Kabupaten Buleleng. Di sekolah tersebut, Ia mengampu mata pelajaran bahasa Indonesia untuk murid-murid kelas 7. Ia hendak mengajarkan materi teks deskripsi pada muridnya. Pada buku cetak yang menjadi panduannya saat mengajar, terdapat beberapa contoh teks deskripsi yang menceritakan tentang bangunan-bangunan pencakar langit dan beragam alat transportasi. Tentu saja, contoh-contoh tersebut sebagian besar hanya dapat ditemukan di Ibu Kota.
Made menyadari bahwa latar belakang pengalaman belajar serta hasil pengamatan terhadap lingkungan di sekitar merupakan bekal yang mumpuni bagi setiap muridnya dalam memahami dan membuat teks deskripsi yang kaya akan informasi. Setelah mempertimbangkan dan memperhatikan latar belakang setiap muridnya tersebut, Made pun mencoba untuk memberikan contoh berbeda sesuai dengan konteks tempat murid-muridnya belajar. Ia memberikan contoh teks deskripsi tentang pantai dan beberapa makanan khas di Bali. Made juga membedah satu persatu penggunaan gaya bahasa dalam teks deskripsi dengan mengambil contoh-contoh yang dapat diamati murid-muridnya dengan mudah. Misalnya, angin pantai semilir membuat nyiur melambai girang, matahari terbenam di antara langit yang berwarna jingga, nikmatnya sate lilit yang membuat lidah bergoyang, dan lain sebagainya. Berkat modifikasi yang Made lakukan, sebagian besar murid dapat memahami dan membuat teks deskripsi dengan mudah”.
Dari contoh Made di atas, menurut Anda,
1. Tantangan apa yang mungkin muncul jika Made tidak menerapkan pembelajaran yang tanggap budaya di kelasnya?
= Menurut saya, beberapa tantangan yang mungkin muncul jika Made tidak menerapkan pembelajaran yang tanggap budaya di kelasnya antara lain:
Pertama, murid-murid akan kesulitan memahami contoh-contoh teks deskripsi yang diberikan karena tidak sesuai dengan pengalaman dan lingkungan mereka sehari-hari. Contoh teks tentang bangunan pencakar langit dan alat transportasi modern akan terasa asing bagi murid di desa tersebut. Akibatnya, mereka akan kebingungan dan kesulitan membayangkan objek yang dideskripsikan.
Kedua, murid-murid akan merasa kurang tertarik dan termotivasi untuk belajar karena tidak dapat menemukan relevansi antara materi yang diajarkan dengan kehidupan mereka. Contoh yang terlalu jauh dari keseharian murid bisa membuat mereka bosan dan tidak antusias mengikuti pelajaran.
Ketiga, hasil pembelajaran berupa kemampuan mendeskripsikan akan kurang maksimal karena murid tidak memiliki gambaran yang jelas tentang objek deskripsi. Tanpa contoh-contoh konkret dari lingkungan sekitar, mereka akan kesulitan menuangkan deskripsi dengan baik dalam tulisan.
Jadi menurut saya, dengan tidak memperhatikan aspek tanggap budaya, Made berisiko mengalami hambatan dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Oleh karena itu, langkah Made memodifikasi materi ajar dengan menyesuaikan konteks lokal merupakan keputusan bijak demi keberhasilan pembelajaran.
[01.02.3-T2-3 E] Irfan Ananda
2. Mengapa?
= Ada beberapa alasan mengapa memperhatikan aspek tanggap budaya dalam pembelajaran itu penting:
• Membuat materi lebih relevan dan kontekstual bagi peserta didik
Dengan mengaitkan materi dengan budaya dan pengalaman sehari-hari peserta didik, mereka akan lebih mudah memahami dan mengaplikasikan materi tersebut. Ini karena materinya lebih dekat dengan realitas kehidupan mereka.
• Meningkatkan minat dan motivasi belajar
Peserta didik akan lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar jika materinya terkait erat dengan latar belakang budaya mereka. Mereka merasa materi pelajaran lebih bermakna.
• Menghargai keragaman budaya peserta didik
Dengan memperhatikan perbedaan latar belakang budaya peserta didik, guru menunjukkan sikap menghargai dan peduli terhadap keragaman tersebut. Ini membuat peserta didik merasa dihargai dan nyaman.
• Membantu pencapaian tujuan pembelajaran
Materi yang sesuai konteks budaya memudahkan peserta didik memahami dan mengaplikasikannya. Ini membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih baik.
Jadi memperhatikan aspek tanggap budaya sangat krusial demi keberhasilan dan kebermaknaan pembelajaran bagi peserta didik.
3. Apa kaitannya dengan teori yang sudah Anda pelajari pada topik sebelumnya?
= Kaitannya dengan teori yang sudah saya pelajari pada topik sebelumnya adalah:
Pembelajaran yang tanggap budaya sejalan dengan teori perkembangan kognitif Vygotsky yang menekankan pentingnya scaffolding. Scaffolding berarti memberikan dukungan untuk membantu peserta didik belajar sesuai dengan zona perkembangan terdekatnya.
Salah satu bentuk scaffolding adalah mengkaitkan materi dengan konteks budaya peserta didik agar lebih mudah dipahami.
Pembelajaran tanggap budaya juga selaras dengan teori belajar bermakna Ausubel.
Menurut Ausubel, pengetahuan baru harus dikaitkan dengan pengetahuan awal peserta didik agar terjadi belajar bermakna. Pengetahuan awal dipengaruhi oleh latar belakang budaya masing-masing individu.
Selain itu, memperhatikan keragaman budaya peserta didik sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif menekankan penghargaan terhadap perbedaan individu, termasuk perbedaan budaya. Semua peserta didik berhak mendapatkan layanan pendidikan yang adil dan merata.
Jadi, penerapan pembelajaran tanggap budaya mencerminkan beberapa teori dan prinsip penting dalam dunia pendidikan yang bertujuan untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan efektif bagi semua peserta didik dengan latar belakang yang beragam.