1. Kecelakaan Kerja
a. Definisi Kecelakaan Kerja
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 3/MEN/1998 Tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan, Kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan dan tidak diharapkan yang berpotensi menimbulkan korban jiwa atau harta benda. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja dan kembali ke rumah secara wajar sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Menurut Suma'mur (2009), kecelakaan kerja adalah kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang menyebabkan kerugian pada manusia, kerusakan harta benda, atau kerugian proses. Kecelakaan kerja juga dapat didefinisikan sebagai kejadian tidak diinginkan dan tidak diantisipasi yang berpotensi merugikan orang atau harta benda.
Berdasar definisi dari berbagai sumber di atas, dapat diasumsikan bahwa kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak diinginkan dan tidak terduga yang terjadi selama proses produksi, yang menyebabkan kerugian harta benda dan korban jiwa.
b. Klasifikasi Kecelakaan Kerja
Pengelompokan kecelakaan kerja menurut Organisasi Perburuhan Internasional 1962 yang dirujuk oleh Suma'mur (2009) adalah sebagai berikut:
1) Karakterisasi sesuai dengan jenis kecelakaan, yaitu jatuh, tertimpa benda, tergencet atau tertimpa benda, terjepit benda, pengaruh suhu tinggi, terkena arus listrik, kontak dengan bahan berbahaya atau radiasi, dan berbagai jenis termasuk kecelakaan di mana informasinya kurang atau kecelakaan lain yang yang belum masuk klasifikasi.
2) Klasifikasi menurut penyebab :
a) Mesin, seperti mesin pembangkit listrik, mesin distribusi, mesin gergaji kayu, mesin pertanian, mesin pertambangan, dan sebagainya yang tidak termasuk dalam klasifikasi.
b) Peralatan pengangkat dan transportasi seperti mesin dan peralatan pengangkat, peralatan transportasi yang dipasang di rel dan beroda,
peralatan transportasi berbasis udara dan air, dan jenis peralatan transportasi lainnya.
c) Perangkat lainnya misalnya, bejana tekan, dapur pemanasdan pembakar, peralatan pendingin, peralatan listrik, perangkat dan perlengkapan kerja, bangku pijakan, rangka, dan perlengkapan lainnya tidak termasuk dalam pengelompokan ini.
d) Bahan, zat, dan radiasi, contohnya pada bahan peledak, debu, gas, cairan, dan bahan kimia, benda melayang, serta bahan dan zat lainnya.
e) Lingkungan bekerja, baik di dalam dan diluar gedung maupun di bawah tanah.
f) Berbagai penyebab yang belum masuk dalam golongan ini seperti hewan.
3) Klasifikasi berdasarkan jenis luka atau kelainan, seperti patah tulang, dislokasi, otot tegang, memar, luka dalam, amputasi, luka permukaan, gegar dan remuk, luka bakar, keracunan mendadak karena cuaca, mati lemas, efek radiasi, efek arus listrik, dan luka dari berbagai jenis.
4) Klasifikasi berdasarkan letak kelainan atau luka pada tubuh, seperti kepala, leher, badan, bagian atas dan bawah, dan kelainan lainnya.
c. Teori Kecelakaan Kerja
Beberapa teori mengenai terjadinya kecelakaan kerja, yaitu:
1) Teori Domino Heinrich ini dipresentasikan oleh W.H Heinrich, pada tahun 1931. Heinrich mengatakan bahwa tindakan tidak aman menyumbang (unsafe action) 88% kecelakaan kerja, kondisi tidak aman menyumbang (unsafe conditions) 10%, dan peristiwa yang tidak dapat dihindari menyumbang (anavoidable) 2%. Karena itu, menurut dia, mayoritas kecelakaan adalah akibat kesalahan manusia. Lima komponen W.H. Teori domino Heinrich adalah sebagai berikut:
a) Ancestry and social environment: karakter buruk seseorang untuk bertindak tidak aman, seperti ceroboh. Kesalahan individu juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya.
b) Fault of person: sifat negatif yang membuat seseorang menjadi salah adalah motivasi untuk melakukan tindakan berbahaya.
c) Unsafe act and/or mechanical or physical hazard: perilaku tidak aman yang dilakukan seseorang, seperti berdiri di ketinggian atau menyalakan mesin tanpa mengikuti prosedur yang benar.
d) Accident: kejadian yang mengakibatkan kecelakaan, seperti jatuh atau terbentur benda.
e) Injury: masalah fisik yang merupakan akibat dari kecelakaan. Cara menghindari kecelakaan sesuai teori Domino adalah dengan menghilangkan faktor utama yang menyebabkan kecelakaan, yaitu unsafe action.
2) Loss Causation Model Teori Bird dan Germain atau Teori Manajemen, terdiri atas :
a) Kelemahan kontrol manajemen dapat dipengaruhi oleh empat faktor:
perencanaan, pengorganisasian, memimpin, dan pengendalian manajemen. Kelemahan dalam pengendalian manajemen tersebut adalah:
Program yang tidak sesuai standar, seperti kepemimpinan dan administrasi, pelatihan, inspeksi, investigasi kecelakaan, regulasi, dan APD.
Program yang tidak sesuai norma
Program yang bertentangan dengan aturan.
b) Penyebab esensial terdiri dari dua elemen, yaitu faktor individu (personal factors) dan faktor pekerjaan (job factor):
Faktor Individu seperti berikut ini:
- Usia, masa kerjanya atau pengalaman, sikap, kurangnya keahlian, pengambilan keputusan yang lamban, dll.
- Fisik yang tidak mampu atau psikologis (seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, kapasitas paru-paru berkurang, cacat fisik permanen atau sementara, gerakan tubuh terbatas, dan sebagainya).
- Mental yang tidak mampu atau psikologis (seperti kecemasan dan fobia, gangguan emosi, ketidakmampuan untuk merespons, pelupa, dll.)
- Kemampuan yang kurang (kegagalan mendapatkan perintah, ketiadaan persiapan, ketidakberdayaan untuk melakukan praktek, dan sebagainya.).
- Kurangnya pemahaman
- Tekanan fisik atau fisiologis (kelelahan, terpapar suhu yang berlebihan, kurangnya oksigen, glukosa rendah, obat-obatan, dll).
- Stres psikologis atau mental (seperti rangsangan emosi yang berlebihan, frustrasi, dan cacat padamental).
- Kurang adanya motivasi
c) Faktor pekerjaan, misalnya, manajemen yang kurang baik, wewenang atau pengawasan yang tidak memadai, perolehan barang dagangan yang tidak menguntungkan, pemeliharaan peralatan yang tidak baik, prinsip kerja K3 yang buruk, dan perangkat keras yang tidak memadai serta penyalahgunaan.
d) Penyebab langsung gejala yang dapat menyebabkan cedera, misalnya perilaku dan kondisi lingkungan kerja yang berisiko dapat menyebabkan kecelakaan kerja
e) Kontak dengan berbagai bahan dan hal-hal yang berisiko di tempat kerja f) Kerugian yang merupakan akibat dari kecelakaan kerja seperti
terputusnya siklus kerja, hilangnya harta benda dan mempengaruhi pekerja.
3) James Reason pertama kali mengusulkan Swiss-Cheese Teori. Hipotesis ini menekankan bahwa penyebab kecelakaan kerja adalah karena kecerobohan atau kesalahan manusia. James Reason membagi penyebab kelalaian atau kesalahan manusia menjadi empat kategori, yaitu sebagai berikut:
a) Pengaruh organisasi (organization influences).
b) Pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision) yaitu kurangnya tindakan lanjut dari pihak pengawasan pada kondisi dan tindakan tidak aman.
c) Prakondisi yang dapat membuat tindakan tidak aman (precondition for unsafe act) yaitu situasi atau kondisi memiliki potensi untuk memulai, memperburuk, dan memicu suatu peristiwa yang tidak diinginkan.
d) Tindakan tidak aman (unsafe action) yaitu tindakan yang salah atau tidak sesuai dengan tata tertib kerja yang telah ditentukan
4) Teori faktor manusia
Menurut teori ini kesalahan manusia (Human Error) adalah penyebab utama kecelakaan. Kesalahan Manusia terdiri dari :
a) Beban kerja berlebih (work overload)
Beban kerja didapat dari penjumlahan tugas tanggung jawab ditambah beban lingkungan kerja (bising, tekanan dari panas, dan sebagainya), faktor internal (tingkat stress, tingkat emosional dan sebagainya), faktor eksternal berupa perintah yang kurang jelas.
b) Ketidaktepatan Reaksi (Inappropriate Response)
Seperti halnya mendeteksi adanya bahaya namun enggan memperbaikinya, standar keselamatan yang diabaikan.
c) Ketidaktepatan Aktivitas (inappropriate activities) seperti melakukan tugas namun tanpa pelatihan, salah dalam menilai besaran risiko dari suatu tugas dan sebagainya
5) Accident/Incident
Model teori ini diciptakan oleh Ferrel’s Human Theory dan Heinrich’s Domino Theory adalah inspirasi untuk teori ini. Petersen menegaskan bahwa keputusan untuk membuat kesalahan, kelebihan beban, dan jebakan ergonomis semuanya berkontribusi pada kesalahan manusia. Kecelakaan dapat secara langsung disebabkan oleh kesalahan manusia atau kegagalan sistem yang akhirnya menyebabkan kecelakaan.
Petersen membagi ketidakcocokan menjadi faktor ergonomis (ergonomic trap) dari faktor lingkungan seperti desain tempat kerja.
Kesalahan dalam pengambilan keputusan (decision of error), yang meliputi keputusan mengenai biaya dan waktu produksi, merupakan faktor kedua yang menyebabkan human error. Akibatnya, akan membuat kesalahan secara tidak sengaja.
Petersen menegaskan bahwa humman error hanyalah salah satu komponen dari model yang lebih besar. Kecelakaan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk sistem yang tidak berfungsi, kurangnya pelatihan, ketidakmampuan manajemen untuk menemukan kesalahan dan kecelakaan, dan ketidakmampuan organisasi untuk memperbaikinya.
d. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Menurut Teori Tiga Faktor (Three Main Factor Theory) faktor yang menyebabkan kecelakaan kerja yaitu :
1) Faktor Manusia
Faktor manusia pada saat bekerja adalah variabel yang mengacu pada masalah apa pun yang memengaruhi cara seseorang menangani pekerjaan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan. Kecelakaan kerja sering disebabkan oleh faktor manusia seperti:
a) Umur
Kecelakaan cenderung lebih parah seiring bertambahnya usia orang.
Menurut Suma'mur (2009), keterampilan fisik seperti kecepatan, kelenturan, kekuatan, dan koordinasi akan menurun seiring bertambahnya usia, oleh karena itu usia dikaitkan dengan kinerja seseorang. Performa menurun seiring bertambahnya usia.
b) Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempengaruhi kinerja individu. Hal ini menunjukkan perbedaan yang jelas dalam kinerja antara pria dan wanita. Perbedaan fisik dan fisiologis di antara manusia merupakan pemikiran positif dalam menyelesaikan suatu karya (Mangkunegara, 2010).
c) Masa Kerja
Istilah "masa kerja" mengacu pada jumlah waktu yang dihabiskan karyawan untuk bekerja di lokasi tertentu. Masa kerja dapat mempengaruhi kinerja positif maupun negatif. Dampak positif pada kinerja ketika individu tersebut memiliki lebih banyak pengalaman dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sebaliknya, jika masa kerja lebih lama akan menimbulkan kebiasaan tenaga kerja, hal ini akan merugikan. Menurut Sulhinayatillah (2017), penyebab paling umum dari hal ini adalah pekerjaan yang monoton atau berulang. Menurut Tulus (1992), ada dua jenis jam kerja: masa kerja lama: ≥ 6 tahun dan Masa kerja Baru : < 6 tahun
d) Tingkat pendidikan
Latar belakang pendidikan banyak mempengaruhi tindakan seseorang dalam bekerja. Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung berfikir lebih panjang atau dalam memandang sesuatu
pekerjaan akan melihat dari berbagai segi. Demikian juga dalam menerima latihan kerja baik praktek maupun teori termaksud diantaranya cara pencegahan ataupun cara menghindari terjadinya kecelakaan kerja (Sucipto, 2014).
e) Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain.
seorang memperoleh pengalaman, tangan atau kakinya terkena api.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010).
f) Perilaku
Perilaku adalah salah satu di antara faktor individual yang mempengaruhi tingkat kecelakaan. Sikap terhadap kondisi kerja, kecelakaan dan praktik kerja yang aman bisa menjadi hal yang penting karena ternyata lebih banyak persoalan yang disebabkan oleh pekerja yang ceroboh dibandingkan dengan mesin-mesin atau karena ketidakpedulian karyawan. Pada satu waktu, pekerja yang tidak puas dengan pekerjaannya dianggap memiliki tingkat kecelakaan kerja yang lebih tinggi (Swaputri, 2010).
g) Pelatihan
Pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat, dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek daripada teori, dalam hal ini yang dimaksud adalah pelatihan K3. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah mengurangi timbulnya kecelakaan kerja, kerusakan, dan peningkatan pemeliharaan terhadap alat kerja (Sastrodiwiryo, 2019).
h) Human error atau kesalahan manusia merupakan perilaku manusia yang tidak sesuai atau tidak diinginkan sehingga mengakibatkan penurunan efektivitas, keselataman kerja, serta perfomansi sistem. Terdapat empat sebab human error, yaitu :
Skill based error (Slips and Lapses) adalah kesalahan dilakukan berhubungan dengan keahlian yang dimiliki.
- Slips adalah suatu kesalahan tanpa disadari karena tidak sesuai dengan kebiasaannya. Contoh : menjalankan pekerjaan dan mengoperasikan peralatan tanpa wewenang, posisi yang salah dalam bekerja, membetulkan mesin dalam keadaan menyala, dan sebagainya.
- Lapses adalah kesalahan karena lupa melakukan suatu pekerjaan.
Contoh : tidak memberi peringatan bahaya, tidak menggunakan APD dengan benar, tidak menempatkan alat kerja sesuai tempatnya, dan sebagainya.
Rule based error (mistakes) adalah kesalahan ini disebabkan karena salah dalam menggunakan peraturan dan prosedur kerja yang masih menggunakan peraturan dan prosedur lama. Contoh : pekerja tidak membaca dan mengenali prosedur yang berlaku sebelum melakukan pekerjaan, perusahaan tidak melakukan pengawasan serta identifikasi bahaya dan risiko, tidak dilakukannya perbaikan alat oleh ahli, dan sebagainya.
Knowledge based error (mistakes) adalah kesalahan yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, lingkungan pekerjaan yang baru, beban kerja yang berlebihan, dan pengaruh dari kondisi psikologis seperti stress. Contoh : pekerja melakukan pekerjaan dengan terburu-buru karena kejar target, pekerja kurang menguasai alat dan lingkungan setempat.
Pelanggaran (violation) adalah kesalahan yang dilakukan dengan sengaja, seperti melanggar peraturan K3 dengan tidak menggunakan APD, melempar alat saat memberikan kepada rekan, merokok saat bekerja, bergurau berlebihan saat bekerja, mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan dan sebagainya. Kesalahan dengan melakukan pelanggaran dapat disebabkan oleh kurangnya motivasi yang dapat terjadi akibat :
- Dorongan pribadi, misal seorang pekerja bekerja dengan terburu- buru karena ingin cepat menyelesaikan tugasnya sehingga
pekerja tersebut menggunakan jalan pintas, malas menggunakan APD lengkap dan benar karena alasan ketidaknyamanan, menghilangkan APD.
- Dorongan lingkungan kerja seperti lingkungan fisik, dan sistem manajemen dalam penerapan K3 yaitu atasan atau pemimpin, pengawas, rekan kerja dan lainlain. Contohnya : tekanan dari pengawas, tekanan dari teman
2) Faktor Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang buruk secara tidak langsung akan mempengaruhi keselamatan kerja karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Faktor lingkungan kerja terbagi menjadi 3 yaitu, lingkungan fisik, kimia, dan biologi.
a) Lingkungan Fisik
Kondisi lingkungan fisik yang mempengaruhi kinerja yaitu kondisi pencahayaan, kebisingan, dan suhu udara. Standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja industri telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016.
b) Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia dapat berasal dari bahan baku suatu produk, dari proses produksi suatu produk, serta limbah produksi
c) Lingkungan Biologi
Jasad renik yang ada di lingkungan kerja merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja ditinjau dari kondisi lingkungan biologi. Beberapa penyakit lainnya sepeti infeksi, alergi, dan sengatan serangga maupun binatang juga dapat berakibat kematian pada pekerja (Sucipto, 2014).
3) Faktor Peralatan
Faktor peralatan juga dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja.
Penyebab yang menjadi dasar dari pernyataan ini adalah kondisi mesin yang rusak dan tidak segera diantisipas atau dibenahi. Dengan menggunakan mesin dan alat-alat mekanik maka dapat meningkatkan produksi dan produktivitas perusahaan. Selain itu, penggunaan mesin dan alat mekanik juga akan menekan beban kerja faktor manusia, sehingga manusia tidak cepat merasa lelah (Suma’mur, 2013).
e. Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja
Kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh kecelakaan kerja dapat berupa kerugian yang bersifat ekonomi, baik langsung maupun tidak langsung antara lain kerusakan, mesin, peralatan, bahan dan bangunan, biaya pengobatan dan perawatan korban, tunjangan kecelakaan, hilangnya waktu kerja dan menurunnya jumlah maupun mutu produksi, sedangkan kergian yang bersifat non ekonomi antara lain, berupa penderitaan, luka atau cidera berat maupun ringan, penderitaan keluarga bahkan menyebabkan kematian (Sucipto, 2014).
Menurut Ramli (2010) kerugian akibat kecelakaan kerja dikategorikan menjadi dua kerugian, yaitu :
1) Kerugian Langsung merupakan kerugian akibat kecelakaan yang langsung dirasakan dan membawa dampak terhadap organisasi atau perusahaan.
Kerugian dapat berupa :
a) Biaya pengobatan dan kompensasi. Kecelakaan mengakibatkan cedera, baik cedera ringan, berat, cacat atau menimbulkan kematian. Cedera ini akan mengakibatkan seorang pekerja tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga mempengaruhi produktivitas. Jika terjadi kecelakaan, tempat kerja harus mengeluarkan biaya pengobatan dan tunjangan kecelakaan sesuai ketentuan yang berlaku.
b) Kerusakan sarana produksi akibat kecelakaan seperti kebakaran, peledakan dan lain-lain
2) Kerugian Tidak Langsung Di samping kerugian langsung, kecelakaan juga menimbulkan kerugian tak langsung:
a) Kerugian jam kerja, jika terjadi kecelakaan, kegiatan pasti akan terhenti sementara untuk membantu korban yang cedera, penganggulangan kejadian, perbaikan kerusakan atau penyelidikan kejadian. Kerugian jam kerja yang hilang akibat kecelakaan jumlahnya cukup besar yang dapat mempengaruhi produktivitas.
b) Kerugian produksi, kecelakaan juga mengakibatkan kerugian terhadap proses produksi akibat kerusakan atau cidera pada pekerja. Perusahaan tidak bisa berproduksi sementara waktu sehingga kehilangan peluang untuk mendapat keuntungan.
c) Kerugian sosial, kecelakaan dapat menimbulkan dampak sosial bagi keluarga korban yang terkait langsung dengan lingkungan sosial sekitar
f. Pencegahan Kecelakaan Kerja
Menurut Ridley (2008), untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja perlu dilakukan upaya menghilangkan bahaya yang ada pada tempat kerja, apabila tidak dapat dihilangkan, tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk meminimalkan resiko dari bahan-bahan kimia yang dihadapi pekerja. Tujuan utama tindakan-tindakan pencegahan ini haruslah untuk melindungi seluruh karyawan perusahaan. Beberapa prinsip pencegahan kecelakaan menurut Ridley (2008) yaitu:
1) Mengidentifikasi bahaya, meliputi teknik-teknik yang harus dilakukan yaitu : a) Melakukan inspeksi
b) Melalui patrol dan inspeksi keselamatan kerja c) Laporan dari operator
d) Laporan dalam jurnal-jurnal teknis
2) Menghilangkan bahaya, dengan sarana-sarana teknis yaitu : a) Mengubah material
b) Mengubah proses
3) Mengurangi bahaya hingga seminim mungkin jika penghilangan bahaya tidak dapat dilakukan.
a) Dengan saran teknis dan memodifikasi perlengkapan b) Pemberian pelindung/kumbung
c) Pemberian alat pelindung diri (personal protective equipment) 4) Melakukan penelitian resiko residual
5) Mengendalikan resiko residual