• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen tanpa judul (23)yaayayyyayayayay

N/A
N/A
Nicholas Siahaan

Academic year: 2023

Membagikan "Dokumen tanpa judul (23)yaayayyyayayayay"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KEPRIBADIAN MANUSIA

DOSEN PENGAMPU:

ROSLIAN LUBIS,S.Pd., M.Pd.

Oleh:

Nicholas Nehemia Siahaan

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI……….i

BAB I………...1

PENDAHULUAN………...1

A. LATAR BELAKANG………..1

B. RUMUSAN MASALAH……….1

C. TUJUAN………..1

BAB II……….2

PEMBAHASAN………..2

A. KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KEPRIBADIAN………....2

B. PROSES MENGETAHUI, MENGHAYATI, MELAKUKAN, DAN MEMBIASAKAN KARAKTER YANG BAIK……….3

BAB III………...5

PENUTUP………...5

DAFTAR PUSTAKA………..6

(3)

BAB I

PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Karakter merupakan kunci kepemimpinan. Istilah karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Pada dasarnya karakter akan terbentuk bila aktivitas dilakukan berulang-ulang secara rutin hingga menjadi suatu kebiasaan yang akhirnya tidak hanya menjadi suatu kebiasaan tetapi sudah menjadi suatu karakter. Istilah karakter dalam bahasa Yunani dan latin character berasal dari kata charassein yang artinya mengukir corak yang tetap dan tidak terhapuskan. Karakter merupakan ciri khas seseorang dan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu. Watak atau karakter merupakan perpaduan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain.

Pendidikan merupakan peran yang penting dalam proses pembentuk kepribadian.

Pemahaman tentang kepribadian manusia dasar untuk mengenal diri sendiri yang akan membantu setiap pribadi untuk mengendalikan hawa nafsu, memelihara diri dari perilaku menyimpang, dan mengarahkan hidupnya menuju kepada kebaikan dalam tingkah laku yang benar. Pemahaman ini merupakan landasan untuk hidup sesuai dengan fitrah kejadian dan dapat dijadikan pedoman untuk menuju kehidupan yang damai, dinamis, dan bahagia di dunia akhirat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Karakter sebagai Pembentuk Kepribadian Manusia?

2. Bagaimana Pembentukan Karakter, Proses Pembentukan Mulai dari Mengetahui, Menghayati, Melakukan dan Membiasakan?

C. TUJUAN

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KEPRIBADIAN

Manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah tertanam saat manusia dilahirkan. Setiap orang memiliki kepribadian pasti ada kelemahan dan kelebihannya di setiap aspek kehidupan sosial dan pribadi masing masing.

Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Hal itu menjadi pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan dibina sejak usia dini.

Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian manusia ada 4, yaitu:

1. Koleris: tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka menantang, menjadi bos, atas dirinya sendiri.

2. Sanguin: tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan sosial dan bersenang-senang.

3. Plegmatis: tipe ini bercirikan suka bekerja sama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.

4. Melankolis: tipe ini bercirikan suka dengan hal yang detail, menyimpan kemarahan, perfeksionis, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin yang disukai Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda.

Dari ke 4 kepribadian tersebut, masing masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing masing.

Kita semua mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter.

Karakter, akan menjadikan seseorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang kita hargai dalam kehidupan ini.

2

(5)

B. PROSES MENGETAHUI, MENGHAYATI, MELAKUKAN DAN MEMBIASAKAN KARAKTER YANG BAIK

Terbentuknya karakter seseorang melalui proses yang panjang. Ini bukanlah proses sehari dua hari, namun bisa bertahun tahun. Dalam ilustrasi seorang yang tinggal sementara di Singapura sebelumnya, kita berharap sepulangnya dia dari sana karakternya akan berubah, tapi kenyataannya tidak. Ini menunjukkan, waktu satu tahun belum sanggup membentuk karakter

Suatu sikap atau perilaku dapat menjadi karakter melalui proses berikut:

1. Mengetahui 2. Menghayati 3. Melakukan

4. Membiasakan menjadi karakter yang baik

Karakter menjadi kuat jika rangkaian proses tersebut dilewati. Tahapan diatas dapat dikelompokkan lagi atas dua bagian. Bagian pertama dominan aspek kognitifnya, yakni mulai dari Tahap Pengenalan hingga Tahap Penerapan. Selanjutnya bagian kedua mulai didominasi oleh ranah afektif, yakni mulai dari pengulangan sampai internalisasi menjadi karakter. Bagian kedua ini, dorongan untuk melakukan sesuatu sudah berasal dari dalam dirinya sendiri.

Pemahaman atas tahapan pembentukan karakter ini akan sangat mempengaruhi jenis interferensi apa yang diperlukan untuk membentuk karakter secara sengaja. Akan sangat berbeda interferensi yang dilakukan pada saat karakter baru pada tahap pengenalan dengan tahapan pengulangan atau pembiasaan.

1. Mengetahui (knowledge)

Pembentukan karakter dimulai dari fase ini yaitu kesadaran dalam bidang kognitif. Untuk seorang anak, dia mulai mengenal berbagai karakter baik dari lingkungan keluarganya. Misalnya pada keluarga yang suka memberi, bersedekah dan berbagi. Dia kenal bahwa ada sikap yang dianut oleh seluruh anggota keluarganya, yakni suka memberi. Kakaknya suka membagi makanan atau meminjamkan mainan. Ibunya suka menyuruh dia memberikan sedekah ketika ada peminta-minta datang kerumah. Ayahnya suka memberikan bantuan pada orang lain. Pada tahapan ini dia berada pada ranah kognitif, dimana perilaku seperti itu masuk dalam memorinya.

(6)

Dia kemudian membayangkan betapa senangnya si peminta-minta jika dia diberi uang atau makanan.

Pada tahap ini, si anak mulai paham jawaban atas pertanyaan “mengapa.”

Pada tahap ini yakni kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu.

3. Melakukan (acting)

Jika kedua aspek diatas sudah terlaksanakan maka akan dengan mudah dilakukan oleh seseorang yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan suatu pekerjaan. Didasari oleh pemahaman yang diperolehnya, kemudian si anak ikut menerapkannya. Pada tahapan awal, dia mungkin sekedar ikut-ikutan, sekedar meniru saja. Mungkin saja dia hanya melakukan itu jika berada dalam lingkungan keluarga saja, di luar dia tidak menerapkannya. Seorang yang sampai pada tahapan ini mungkin melakukan sesuatu atau memberi sedekah itu tanpa didorong oleh motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Seandainya dia kemudian keluar dari lingkungan tersebut, perbuatan baik itu bisa jadi tidak berlanjut.

4. Membiasakan menjadi karakter yang baik

Tingkatan berikutnya, adanya terjadinya internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam suatu sikap atau perbuatan di dalam jiwa seseorang. Sumber motivasi melakukan suatu respon adalah dari dasar hati nurani. Karakter ini akan menjadi semakin kuat jika ikut didorong oleh suatu ideologi atau believe.

Dia tidak memerlukan kontrol sosial untuk mengekspresikan sikapnya, sebab yang mengontrol ada di dalam sanubarinya. Disinilah sikap, perilaku yang diekspresikan seseorang berubah menjadi karakter.

Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang suka berbagi, kemudian tinggal dalam masyarakat yang suka bergotong royong, suka saling memberi, serta memiliki keyakinan ideologis bahwa setiap pemberian yang dia lakukan akan mendapatkan pahala, maka suka memberi ini akan menjadi karakternya.

Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak menekankan sopan santun, tinggal dalam lingkungan yang suka bertengkar dan mengeluarkan makian dan kata-kata kotor, dan tidak memiliki pemahaman ideologi yang baik, maka berkata kotor mungkin akan menjadi karakternya.

Tahapan yang telah dipaparkan di atas akan saling pengaruh-mempengaruhi.

Mekanismenya ibaratkan roda gigi yang saling menggerakkan. Mengenal sesuatu akan menggerakkan seseorang untuk memahaminya. Pemahaman berikutnya akan memudahkan dia untuk menerapkan suatu perbuatan. Perbuatan yang berulang-ulang akan melahirkan kebiasaan. Kebiasaan yang berkembang dalam suatu komunitas akan menjelma menjadi kebudayaan, dan dari kebudayaan yang didorong oleh adanya values atau believe akan berubah menjadi karakter.

(7)

BAB III

KESIMPULAN A. KESIMPULAN

Manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah tertanam saat manusia dilahirkan. Setiap orang memiliki kepribadian pasti ada kelemahan dan kelebihannya di setiap aspek kehidupan sosial dan pribadi masing-masing. Pendidikan Karakter adalah pemberian, pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti, kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Hal itu menjadi pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan dibina sejak usia dini.

Karakter kita terbentuk dari kebiasaan kita. Kebiasaan kita saat anak-anak biasanya bertahan sampai masa remaja. Orang tua bisa mempengaruhi baik atau buruk, pembentukan kebiasaan anak-anak mereka. Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena pikiran yang didalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan.

Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan.

B. SARAN

Diharapkan dalam pembentukan kepribadian dalam pendidikan karakter harus memberikan kontribusi pada upaya pencapaian tujuan pembangunan karakter bangsa, yaitu mewujudkan masyarakat yang berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

(8)

DAFTAR PUSTAKA

Handoyo, Eko dan Tijan. 2010. Model Pendidikan Karakter. Semarang : Widya Karya Press Kemdiknas, 2010.Panduan Pendidikan Karakter, Jakarta: Kemendiknas

.

6

Referensi

Dokumen terkait

27.4 Apabila setelah ditunda selama 2 (dua) jam, hanya ada 1 (satu) atau tidak ada peserta sebagai saksi, maka pembukaan Dokumen Penawaran Sampul II tetap dilanjutkan dengan

ditetapkan oleh Pokja ULP berdasarkan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai dengan yang tercantum dalam LDP. nilai penawaran biaya terendah

Ringkasan Satu Kalimat: Sirkus Pohon karya Andrea Hirata berkisah tentang perjalanan seorang guru muda yang menginspirasi murid-muridnya di sebuah sekolah terpencil di

NW Boro’Tumbuh Mapel : Bahasa

17.30-18.40 Pendidikan Agama SAHRIAL SAHRIALPendidikansi12 https://chat.whatsapp.com/HJ0HheTeQio8cQ4tRpeyyl 19.15-21.00 Matematika YULIA

Elemen <item> memiliki tiga elemen pokok, yaitu : – <title> : mendefinisikan judul dari suatu item (contoh : RSS Tutorial).. – <link> : mendefinisikan link ke

Dokumen ini berisi deskripsi pekerjaan untuk posisi IT Development di Division Teknologi

DigitalDoodle: Drawing App Start a New Project Name the Project DigitalDoodle: Drawing App - 1 Tutorial ini akan menunjukkan bagaimana cara menggambar garis pada layar sewaktu