Penilaian mencakup unsur individu yang akan menilai, materi yang akan dinilai, waktu pelaksanaan penilaian, alat penilaian, standar penilaian, dan lain sebagainya. Tujuan pendidikan kesehatan mempunyai cakupan yang lebih luas, sedangkan tujuan pendidikan gizi dikhususkan pada bidang upaya peningkatan gizi. Secara umum tujuan pendidikan gizi adalah untuk meningkatkan status gizi masyarakat khususnya kelompok rentan gizi (ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita) dengan mengubah perilaku masyarakat ke arah yang baik sesuai dengan kaidah ilmu gizi.
Sasaran penyuluhan adalah kelompok masyarakat yang akan menerima penyuluhan. Kelompok masyarakat dapat dilihat dari masyarakat rentan gizi seperti ibu hamil, ibu menyusui, masyarakat berpendapatan rendah dan kelompok rentan gizi lainnya seperti anak sekolah. Penentuan metode juga ditentukan berdasarkan tujuan penyuluhan. Apabila tujuan pendidikan gizi adalah untuk mengubah pengetahuan, maka penyuluhan dapat dilakukan dengan metode ceramah, untuk mengubah sikap dapat dilakukan dengan metode simulasi atau role play. Yang dimaksud dengan media adalah alat, bahan atau sesuatu yang digunakan sebagai media penyampaian pesan dengan tujuan untuk lebih menjelaskan pesan tersebut.
Untuk melakukan penyuluhan, selain mengetahui masalah gizi juga perlu mengetahui sasaran yang akan diberikan penyuluhan. Konseling pembuka merupakan upaya yang dilakukan seorang instruktur untuk menciptakan kondisi bagi sasaran agar pikiran dan perhatiannya terfokus pada hal yang akan dipelajari sehingga materi yang akan disampaikan mudah dipahami. Evaluasi ini memberikan informasi yang akan digunakan untuk pengembangan program, sehingga program dapat lebih sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran.
22 Penentuan tujuan merupakan langkah awal, jika tujuan sudah ditentukan maka akan mempengaruhi komponen yang akan dievaluasi.
Pengetahuan
Umpan balik sangat penting bagi masyarakat untuk mengetahui apakah program penyuluhan berhasil atau gagal. Dengan mengetahui tingkat keberhasilan program serta faktor pendukung dan penghambat program, maka dapat disarankan perbaikan kelemahan-kelemahan pada pelaksanaan program berikutnya. Penerapan diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari dalam situasi dan kondisi sebenarnya.
Analisis adalah kemampuan mengungkapkan materi atau suatu objek dalam komponen-komponennya, namun dalam struktur organisasi masih saling berkaitan satu sama lain. Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk menampilkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi satu kesatuan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan menyusun formulasi baru dan formulasi lama.
Jika penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran akan sikap positif, makan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh. Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya fasilitas yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
Pengalaman sebagai sumber ilmu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu dengan cara mengulangi ilmu yang diperoleh dalam menyelesaikan permasalahan yang pernah kita hadapi di masa lalu. Semakin bertambah usia maka semakin berkembang pula pola pemahaman dan berpikirnya, sehingga ilmu yang diperoleh akan semakin baik. Menurut Notoatmo (2012), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui wawancara atau kuesioner yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Arikunto (2006) dalam Budiman 2013 mengkategorikan tingkat pengetahuan seseorang berdasarkan nilai persentase menjadi tiga tingkatan, yaitu.
Sikap
Sikap dapat berubah, oleh karena itu sikap dapat dipelajari dan diubah pada diri seseorang apabila terdapat keadaan dan kondisi tertentu yang memudahkan sikap orang tersebut. Objek sikap adalah perolehan suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. Budaya yang berkembang dalam keluarga akan membentuk karakteristik anak mengenai suka dan tidak suka makanan.
Jika budaya dalam keluarga diikuti dengan tingkat pengetahuan gizi yang baik, maka pola hidup yang terbentuk pada diri anak juga akan baik, begitu pula dengan cara anak memilih jajanan. Proses pembelajaran mengenai memilih makanan yang sehat dan tidak sehat akan diterima anak di sekolah. Memberikan jawaban bila ditanya, melaksanakan tugas yang diberikan merupakan indikasi sikap akibat usaha menjawab pertanyaan atau melaksanakan tugas yang diberikan.
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah dengan orang lain merupakan indikasi sikap tingkat ketiga. Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilih dengan segala resikonya adalah memiliki sikap yang tertinggi. Cara mengukur sikap dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disiapkan dalam alat yang telah ditentukan dan diberikan langsung kepada subjek yang dipelajari.
Cara mengukur sikap sederhana dan tidak memerlukan persiapan yang mendalam, misalnya pengukuran sikap menggunakan wawancara bebas, observasi langsung, dan survei. Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan yang akan dinilai oleh responden, terlepas dari apakah pernyataan tersebut didukung atau ditolak dalam rentang nilai tertentu. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur persepsi, sikap, atau pendapat seseorang atau kelompok berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh peneliti.
Jajanan Sehat
Jajanan/jajanan adalah makanan yang dimakan di antara dua waktu makan yang terdiri atas jajanan basah dan jajanan kering. Dalam makanan siap saji, yang terpenting adalah menyediakan energi dari setiap bahan makanan yang dikonsumsi. Minuman olahraga (sports drink/isotonik) hanya boleh dikonsumsi oleh anak sekolah yang berolahraga lebih dari 1 jam.
Pola makan seimbang adalah makanan yang dikonsumsi seseorang sehari-hari dan bervariasi serta mengandung 5 kelompok zat gizi dalam jumlah yang cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan (Dirjen BKM, 2002). Sarapan pagi anak sekolah sebaiknya dilakukan pada pukul 06.00 atau sebelum pukul 07.00, yaitu sebelum terjadi hipoglikemia atau kadar gula darah. Protein merupakan zat gizi yang berfungsi untuk tumbuh, memelihara sel atau jaringan yang telah terbentuk, serta menggantikan sel-sel yang rusak, sehingga protein sangat diperlukan pada masa pertumbuhan.
Kebanyakan makanan cepat saji adalah makanan yang tinggi gula, garam, dan tanpa lemak. Membersihkan gigi sebelum tidur juga perlu dilakukan dari sisa-sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Untuk menghindari bahaya tersebut pada makanan yang Anda beli, Anda perlu mengetahui cara membeli makanan yang aman.
Label pangan adalah segala keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, gabungan keduanya atau bentuk lain yang ditempelkan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan atau menjadi bagian pada kemasan. Bertujuan untuk memberikan informasi yang akurat mengenai berbagai hal terkait keamanan jajanan anak sekolah, baik positif maupun negatif. Anak sekolah merupakan kelompok sosial yang paling peka dalam menerima perubahan atau pembaharuan yang diberikan, karena anak sekolah sedang dalam fase pertumbuhan dan perkembangan.
Anak sekolah biasanya banyak melakukan aktivitas bermain yang banyak menguras energinya, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara energi yang keluar dan energi yang masuk. Anak sekolah juga mempunyai keinginan untuk memilih makanan mana yang disukainya dan mana yang tidak. Anak mempunyai sifat plin-plan terhadap makanan, sehingga anak selalu ingin mencoba makanan baru yang dikenalnya.
Anak sekolah masih mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan, oleh karena itu anak tetap perlu mengonsumsi makanan yang cukup dan bergizi. Anak sekolah juga membutuhkan zat gizi setiap hari yang diperoleh dari berbagai jenis makanan dan minuman, yang digunakan sebagai sumber energi, pertumbuhan, pengganti sel-sel yang rusak, dan untuk pemeliharaan.
Pengaruh Penyuluhan terhadap Pengetahuan
Salah satu caranya adalah dengan mengukur berat badan dan tinggi badan berdasarkan usia dan jenis kelamin. 39 Hasil penelitian Hamidah; dkk pada tahun 2012, efektivitas peningkatan kesadaran untuk meningkatkan pengetahuan tentang keamanan bekal makan siang di sekolah bagi siswa sekolah dasar menunjukkan hasil yang baik. Hasil penelitian Syahrial; dkk (2013) dalam judul penelitian ‘Pengaruh Konseling Menggunakan Metode Ceramah dan Diskusi Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Anak tentang PHBS di SD Negeri 065014 Desa Namogajah Kecamatan Medan Tuntungan’ juga menunjukkan adanya perubahan tingkat pengetahuan yang signifikan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan WHO dalam Notoatmojo (2007), salah satu strategi perubahan perilaku adalah dengan memberikan informasi untuk menambah pengetahuan sehingga timbul kesadaran dan pada akhirnya masyarakat akan bertindak sesuai dengan pengetahuannya. Perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan keyakinan atau keyakinan yang diperoleh dari hasil indrawi, yang salah satunya diperoleh melalui pendidikan atau proses belajar. Menurut hasil penelitian Wati (2011), hasil pre-test pengetahuan siswa kelas 5 SDN Bulukantil Surakarta menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan meningkat menjadi pengetahuan baik setelah diberikan intervensi berupa penelitian.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner cuci tangan dengan PHBS kemudian membandingkan hasil sebelum dan sesudah tes. Berdasarkan hasil penelitian Pratama, 2013 tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan disimpulkan terdapat pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan responden. Penelitian Edyati (2014) yang berjudul “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Viedo Terhadap Pengetahuan dan Sikap Personal Hygine Siswa SD Negeri 1 Kepek Pengasih Kulon Progo”, mempengaruhi pengetahuan personal hygine di SD 1 Kepek Pengasih Kulon Progo.
Hal ini membuktikan bahwa mayoritas responden kelompok eksperimen setelah dilakukan penyuluhan mempunyai tingkat pengetahuan dalam kategori baik. Wulan (2012) dalam penelitiannya “Perubahan Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Setelah Diberikan Konseling Dengan Metode Ceramah Melalui Media Leaflet Pada Anak Sekolah Dasar Di SDN 1 Klego Surakarta” menunjukkan adanya perubahan pengetahuan tentang gizi seimbang setelah diberikan konseling . . Dalam penelitian Astuti, Selawati, dkk (2012) yang berjudul “Pengaruh Penyakit Cacing Terhadap Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Siswa Madrasah Ibtidaiyah An Nur Kecamatan Pedurungan Kidul Kota Semarang” menunjukkan bahwa setelah dilakukan postal test, tingkat pengetahuan sebagian besar dari mereka meningkat menjadi lebih baik.
Pengaruh Penyuluhan terhadap Sikap