TOLERANSI IMUNOLOGI
(IMMUNOLOGICAL TOLERANCE)
DEFINISI
Toleransi imunologik adalah ketidakmampuan dari sistem
imunitas untuk memberikan respons (unresponsiveness) terhadap suatu antigen dikarenakan induksi dari antigen yang sama
sebelumnya.
Toleransi imunologik adalah ketidak tanggapan terhadap antigen
diri sendiri
Sel limfosit yang berhadapan dengan antigen dapat
aktif dan menghasilkan respons imun,
menjadi tidak aktif atau tereliminasi
Menghasilkan/menyebabkan toleransi.
Antigen yang menyebabkan toleransi disebut tolerogen (tolerogenic antigens).
Toleransi terhadap antigen yang diproduksi tubuh (self-antigen) disebut sebagai self-tolerance (Abbas, dkk 2007).
Ketika limfosit yang memiliki reseptor untuk suatu antigen spesifik, bertemu dengan antigen spesifik tersebut terdapat beberapa kemungkinan :
Dalam keadaan tertentu limfosit spesifik antigen mungkin tidak bereaksi dengan cara apapun fenomena ini disebut pengabaian imunologik ( immunological
ignorance)
Limfosit dapat diaktifkan sehingga berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel efektor dan memori, dan menghasilkan respon imun yang produktif. Antigen yang menghasilkan respon seperti ini disebut antigen imunogenik
Limfosit dapat secara fungsional menjadi tidak aktif atau dimatikan sehingga timbul toleransi disebut tolerogenik (toleransi imunogenik)
2 JENIS TOLERANSIYANG TERJADI
Toleransi central
Terjadi selama maturasi dalam organ limfoid primer dimana semua limfosit mengalami melewati stadium dimana pemaparan terhadap
antigen self mengakibatkan sel itu mati atau mengekspresikan reseptor antigen baru atau terjadi perubahan kemampuan fungsional
Toleransi perifer
Terjadi bila limfosit matur yang mengenali antigen self menjadi tidak mampu merespon antigen bersangkutan, atau kehilangan viabilitas hingga masa hidupnya berkurang atau mengalami apoptosis
Proses induksi toleransi (induced tolerance) ini kemudian dijelaskan dalam dua tipe, yakni toleransi sentral (central tolerance) dan toleransi peripheral (peripheral tolerance).
Toleransi sentral dijelaskan sebagai toleransi yang timbul selama perkembangan dari sel limfosit, sementara toleransi peripheral dijelaskan sebagai toleransi yang timbul setelah sel limfosit meninggalkan organ perkembangan primer (Shetty, 2005).
Toleransi sentral (central tolerance) terjadi pada organ primer/sentral dari perkembangan sel limfosit, yakni thymus pada sel T dan sumsum tulang pada sel B.
Selama perkembangan sel B dan sel T di sumsum tulang dan thymus, kehadiran antigen yang terdapat pada organ tersebut umumnya hanya berupa antigen sendiri (self- antigen). Hal ini dikarenakan antigen asing dari lingkungan luar, tidak akan ditrasport ke dalam timus, melainkan ditangkap dan ditransportasikan menuju organ limfoid perifer (Abbas, dkk 2007).
Paparan terhadap antigen sendiri dengan obat dosis tinggi akan memicu sel limfosit muda (immature) mengalami beberapa kemungkinan selama toleransi sentral,
yakni sel tersebut akan apoptosis (disebut juga clonal deletion), beberapa sel B muda yang tidak mati akan mengalami perubahan pada reseptor mereka sehingga tidak mengenali antigen sendiri (proses ini disebut juga receptor editing), dan beberapa CD4+ akan berdeferensiasi menjadi sel T regulator (biasa disebut sel T suppressor) yang kemudian bermigrasi ke organ perifer dan mencegah respons terhadap antigen sendiri. Toleransi peripheral terjadi saat limfosit dewasa yang mampu mengenal antigen sendiri akan kehilangan kemampuannya dalam memberikan respons (disebut anergy), turunnya viability sel, dan terinduksi memicu apoptosis (Abbas, dkk 2007).
Sistem imun pada dasarnya dipegang oleh dua sel utama, yakni sel limfosit B (berperan dalam respons humoral) dan sel limfosit T (berperan dalam respons seluler). Ketidakmampuan kedua sel tersebut dalam memberikan respons terhadap antigen spesifiknya dikenal dengan istilah anergy.
Lymphocyte anergy (disebut clonal anergy) adalah kegagalan dari klonal sel B ataupun sel T untuk bereaksi terhadap antigen dan menjadi
representasi terhadap mekanisme untuk mempertahankan toleransi imunologi tubuh sendiri (Cruse & Lewis, 2003).
TOLERANSI LIMFOSIT T
TOLERANSI SEL LIMFOSIT T SENTRAL
Mekanisme utamanya adalah
1. Kematian sel T immature
Limfosit yang belum menyelesaikan maturasinya dan berikatan kuat dengan antigen diri sendiri yang ditampilkan sebagai peptide yang terikat kuat oleh molekul MHC apoptosis
Belum diketahui factor apa yang menyebabkan sel T CD4+ timus akan mati atau akan menjadi T reg
2. Pembentukkan sel T regulator (Treg)
sebagian sel CD4+ imatur yang mengenali antigen diri sendiri dalam tymus dengan afinitas tinggi akan menjadi T reg akan masuk ke jaringan perifer
Diantara Sel imatur yang berkembang dari sel precursor banyak sel yang reseptor nya dapat mengenali secara spesifik kompleks self-peptide-
MHC dengan afinitas tinggi. Bila sel imatur tersebut terpapar pada self antigen dalam tymus maka yang terjadi adalah apoptosis
Protein self akan di proses dan dipresentasikan bersama MHC yang terdapat pada APC. Antigen self yang terdapat dalam tymus mencakup berbagai protein dalam sirkulasi maupun yang terdapat dalam sel
TOLERANSI SEL LIMFOSIT T PERIFER
Toleransi perifer di picu ketika sel T mature mengenali antigen diri sendiri di jaringan perifer, menimbulkan inaktivasi fungsional
(anergi) atau kematian sel tersebut, atau pada waktu sel T limfosit reaktif terhadap antigen diri ditekan oleh sel T regulator
MEKANISME UTAMA TOLERANSI SET T PERIFER
Anergi intrinsic
Anergi sel T menunjukkan pada Ketidaktanggapan fungsional yang berlangsung lama yang di picu ketika sel mengenali antigen diri
Regulasi respon sel T oleh reseptor penghambatan
Penekanan system imun oleh sel T regulator
Delesi : apoptosis limfosit mature
TOLERANSI SEL LIMFOSIT B