BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Penerapan Model Pembelajaran Inovatif di MTs Negeri 1 Palembang
Data tentang penerapan model-model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah negeri 1 Palembang meliputi : 1). Jumlah guru yang menerapkan model pembelajaran inovatif, 2). Jenis-jenis model pembelajaran inovatif yang di terapkan, 3). Jumlah model pembelajaran inovatif yang di terapkan, 4). Alasan dalam menerapkan model pembelajaran inovatif.
Data-data tersebut diperoleh melalui wawancara dengan kepala Madrasah dan angket yang di isi oleh semuah guru yang berstatus sebagai guru tetap di Madrasah Tsanawiyah negeri 1 Palembang, namun dari angket yang di sebarkan kepada 44 responden guru, yang mengisi dan mengembalikan angket hanya 36 orang guru.
1. Jumlah guru yang menerapkan model pembelajaran inovatif
Hasil angket menunjukkan bahwa sebagaian besar (31 orang atau 86,1%) guru menyatakan telah menerapkan model-model pembelajaran inovatif, dan hanya (5 orang atau 13,9%) yang menyatakan belum menerapkan model-model pembelajaran inovatif
Berdasarkan data tersebut di atas dapat kita ketahui bahwa sebagian besar guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang sudah menerapkan model-model pembelajaran inovatif yaitu sekitar 86,1%.
2. Jenis-jenis model pembelajaran inovatif yang di terapkan
Hasil angket menunjukkan bahwa model-model pembelajaran inovatif yang di terapkan oleh guru-guru di Madrasah tsanawiyah Negeri 1 Palembang meliputi : Role Playing (bermain peran), Make A-Match (Mencocokkan gambar), Card sort (Menyortir Kartu), Information Search (Mencari informasi), Team Quiz ( Kuis kelompok), Jigsaw learning (pembelajaran tim ahli), Poster commen (komentar poster), Talking stick, Debate Active (debat aktif), Bilboard ranking, Every one is teacher here (semuah adalah guru), Poster sessions (Sesi poster), The power of two (kekuatan berdua), Critical incident (kejadian penting), Snow balling (Bola salju), Bertukar pasangan, Demonstration (Demonstrasi), Tebak kata, dan Example and examples.
Namun dari hasil wawancara dengan kepala madrasah sedikit berbeda dengan jawaban dari guru-guru, sedangkan menurut kepala madrasah adapun model-model pembelajaran inovatif yang di terapkan oleh guru-guru di madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang meliputi : Role playing, Make A-Match, Card sort, Talking Stick, Every one is teacher here, Active Debate, dan Jigsaw learning.
Berdasarkan data tersebut diatas, dapat di simpulkan bahwa jenis model pembelajaran inovatif yang di terapkan oleh guru cukup beragam. Namun berdasarkan hasil telaah dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang di buat oleh salah seorang guru, menunjukkan bahwa guru yang bersangkutan hanya menyatakan menggunakan model pembelajaran kooperatif learning tanpa menyebutkan tipe kooperatif learning mana yang di gunakan, hal ini menunjukkan
bahwa masih kurangnya pemahaman terhadap penerapan model-model pembelajaran inovatif serta terhadap pemahaman model yang di gunakan.
3. Jumlah model pembelajaran inovatif yang di terapkan
Hasil angket menunjukkan bahwa setiap guru di Madrasah Tsanawiyah negeri 1 Palembang telah menerapkan lebih dari satu model pembelajaran inovatif, namun bila di kaji lebih jauh, sebagaian besar guru, dari 31 orang atau (86,1%) ada 22 orang atau (61.1%) yang menyatakan baru menerapkan kurang dari 5 model pembelajaran inovatif, sisanya 9 orang atau (25%) menyatakan sudah menerapkan lebih dari 5 model pembelajaran inovatif. Namun tidak ada yang menyatakan bahwa sudah menerapkan lebih dari 10 model pembelajaran inovatif. Gambaran selengkapnya tentang penerapan model-model pembelajaran inovatif yang di terapkan oleh responden guru, dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.1. Jumlah model-model yang di terapkan guru MTs Negeri 1 Palembang
No Jumlah model yang di terapkan Frekuensi Persentase
1. Kurang dari 5 model 22 71%
2. 6 – 10 Model 9 29%
3. Lebih dari 10 Model - -
Jumlah 31 100%
Berdasarkan tabel diatas, dapat di simpulkan bahwa jumlah model pembelajaran yang di terapkan oleg sebagian besar guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang masih terbatas, karena kurang dari 5 model pembelajaran. Hal
ini di sebabkan oleh belum maksimalnya pemahaman guru tetntang model pembelajaran inovatif.
4. Alasan menerapkan model-model pembelajaran inovatif
Hasil angket terbuka menanyakan alasan guru menerapkan model pembelajaran inovatif menunjukkan bahwa sebagaian besar guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang memiliki alasan yang sama seperti, pembelajaran lebih menarik atau menyenangkan sehingga siswa tidak bosan (100%), pembelajaran menjadi lebih mudah karena siswa lebih paham (89,66%), siswa lebih aktif (13,79%), siswa lebih ingat (13,79%), siswa menjadi kreatif (10,34%), pembelajaran lebih efektif (6,89%), memotivasi belajar siswa (6,89%), terjalin komunikasi yang baik (3.44%), dan mengembangkan profesionalisme guru (3,44%).
5. Manfaat yang di rasakan dari menerapkan model pembelajaran inovatif Hasil angket terbuka menanyakan tentang manfaat yang di rasakan guru dari menerapkan model pembelajaran inovatif menunjukkan bahwah semuah guru (100%) merasakan manfaat yang besar dari menerapkan model pembelajaran inovatif, baik dalam meningkatkan hasil belajar siswa, membuat pembelajaran menjadi lebih menarik bagi siswa, meningkatkan motivasi belajar siswa, maupun menefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran.
Berdasarkan data tersebut diatas dapat di simpulkah bahwa semuah guru merasakan manfaat dari penerapan model pembelajaran inovatif baik secara langsung maupun secara tidak langsung dari pembelajaran yang di laksanakan.
B. Faktor-faktor yang mempengarui penerapan model-model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang
Data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan model-model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang di dalam penelitian ini meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal yang di teliti meliputi faktor usia, pendidikan terakhir, pengalaman mengajar, status kepegawaian, status sertifikasi, serta jenis dan jumlah workshop yang pernah di ikuti.
Sedangkan faktor eksternal yang akan di teliti meliputi faktor kuantitas dan kualitas sarana prasarana yang tersedia, serta dukungan pimpinan madrasah, baik berupa dukungan moral maupun dukungan program kerja sekolah.
1. Faktor Internal
di lihat dari usia dari 31 orang guru yang menjadi responden penelitian, 17 orang (54,83%) berusia 41-50 tahun, 8 orang (25,80%) berusia 31-40 tahun, 4 orang (12,90%) berusia diatas 50 tahun, dan 2 orang (6,45%) berusia 22-30 tahun. Dengan demikian sebagian guru di madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang berusia relatif tidak muda lagi.
Berkaitan dengan penerapan model pembelajaran inovatif, 5 orang (13,9%) yang menyatakan belum menerapkanya berusia 41 – 50 tahun, sedangkan 4 orang (12,90%) berusia diatas 50 tahun menyatakan sudah menerapkan model pembelajaran inovatif, ini berarti faktor usia guru tidak begitu mempengaruhi penerapan model pembelajaran inovatif, gambaran selengkapnya tentang usia responden guru dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.2. Distribusi Frekuensi usia responden
No. Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1. Diatas 50 tahun 4 13%
2. 41 – 50 17 55%
3. 31 – 40 8 26%
4. 22 – 30 2 6%
Jumlah 31 100%
Di lihat dari tingkat pendidikan, 26 orang (83,9%) berpendidikan S1/DIV, dan 5 orang (16,1%) berpendidikan S2. Serta (0%) berpendidikan di bawah S1. Denan demikian dapat di ketahui bahwa sebagian besar guru di madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang memenuhi persyaratan kualifikasi S1/DIV.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif, 5 orang (13,9%) yang menyatakan belum menerapkan model pembelajaran inovatif juga berpendidikan S1. Sedangkan 26 orang (83,9%) berpendidikan S1/DIV menyatakan sudah menerapkan model pembelajaran inovatif, ini berarti faktor tingkat pendidikan tidak begitu mempengaruhi dalam penerapan model pembelajaran inovatif. Gambaran
selengkapnya tentang tingkat pendidikan guru responden dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel IV.3. Distribusi Frekuensi tingkat pendidikan responden
No. Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1. S1/DIV 26 84%
2. <S1/DIV - 0%
3. S2 5 16%
Jumlah 31 100%
Di lihat dari pengalaman mengajar, 8 orang atau (25,8%) berpengalaman mengajar lebih dari 20 tahun, 7 orang atau (22,6%) berpengalaman mengajar selama 16 – 20 tahun, 8 orang atau (25,8%) berpengalaman mengajar selama 6 – 10 tahun, 5 orang atau (16,12%) berpengalaman mengajar selama 11- 15 tahun, dan 3 orang atau (9,7%) berpengalaman mengajar selama kurang dari 6 tahun. Dengan demikian, sebagian besar guru-guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang berpengalaman mengajar lebih dari 10 tahun.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif, salah seorang guru menyatakan belum menerapkanya yang berpengalaman mengajar lebih dari 20 tahun, sedangkan 3 orang atau (9,7%) berpengalaman mengajar selama kurang dari 6 tahun menyatakan sudah menerapkanya. Ini berarti faktor pengalaman mengajar guru tidak begitu mempengaruhi di dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif, untuk lebih jelasnya bisa di lihat di dalam tabel di bawah ini:
Tabel IV.4. Distribusi Frekuensi pengalaman mengajar responden
No. Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1. Lebih dari 20 tahun 8 26%
2. 16 – 20 tahun 7 23%
3. 6 – 10 tahun 8 26%
4. 11 – 15 tahun 5 16%
5. Kurang dari 6 tahun 3 9%
Jumlah 31 100%
Dilihat dari status kepegawaian, 31 orang atau (100%) berstatus PNS, jadi semuah guru yang di teliti di sini berstatus PNS, dengan demikian dapat di ketahui bahwa sebagian besar guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang yang menjadi pokus penelitian yaitu guru PNS.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif, salah seorang guru honorer yang peneliti wawancarai yaitu ibu Nurhidayah S.Pd.I.
menyatakan sudah menerapkan model pembelajaran inovatif. Ini berarti status kepegawaian guru tidak begitu berpengaruh juga terhadap penerapan model-model pembelajaran inovatif, untuk lebih jelasnya bisa di lihat di dalam tabel di bawah ini:
Tabel IV.5. Distribusi Frekuensi Status kepegawaian responden
No. Jawaban Responden frekuensi Persentase
1. PNS 31 97%
2. Honorer 1 3%
Jumlah 32 100%
Di lihat dari status sertifikasi, 26 orang atau (83,9%) sudah sertifikasi, dan 5 orang atau (16,1%) belum sertifikasi, dengan demikian dapat di ketahui bahwa sebagian besar guru-guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang sudah tersertifikasi.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif, salah seorang guru menyatakan belum menerapakanya sudah sertifikasi, sedangkan 5 orang atau (16,1%) yang belum sertifikasi menyatakan sudah menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Ini berarti faktor status sertifikasi tidak begitu berpengaruh dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang. Untuk lebih jelasnya bisa di lihat di dalam tabel frekuensi di bawah ini:
Tabel IV.6. Distribusi Frekuensi Status Sertifikasi Responden
No. Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1. Sudah sertifikasi 26 84%
2. Belum sertifikasi 5 16%
Jumlah 31 100%
Di lihat dari pelatihan/workshop yang pernah di ikuti, semua guru 100%
menyatakan pernah mengikuti pelatihan/workshop yang berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif. Adapun jenis-jenis pelatihan/workshop yang pernah di ikuti meliputi: workshop pembelajaran tematik, pelatihan/workshop pendidikan di Pusdiklat balai pendidikan Kemenag Sumsel, worshop aktif learning, workshop PAIKEM, dan workshop model-model pembelajaran.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif 2 orang atau (6,45%) yang menyatakan belum menerapkanya ternyata termasuk guru yang sudah pernah mengikuti pelatihan/workshop, termasuk pelatihan atau workshop
pembelajaran tematik, worshop PAIKEM, dan workshop model-model pembelajaran.
Ini berarti faktor ke ikutsertaan dalam pelatihan/workshop tidak begitu berpengaruh di dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Untuk lebih jelasnya maka bisa di lihat di dalam tabel di bawah ini:
Tabel IV.7. Distribusi Frekuensi pelatihan/workshop responden No
.
Jawaban Responden Frekuensi Persentase
1. Pernah 31 100%
2. Tidak pernah - 0%
Jumlah 31 100%
Dari data yang di paparkan diatas, maka dapat di katakan bahwa faktor-faktor internal seperti usia, pendidikan terakhir, pengalaman mengajar, status kepegawaian, status sertifikasi, serta pelatihan/workshop yang pernah di ikuti tidak begitu
mempengaruhi dalam penerapan model-model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang.
2. Faktor Eskternal
Di lihat dari kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana yang tersedia, 23 orang atau (74,2%) menyatakan bahwa kuantitas sarana dan prasarana termasuk media pembelajaran yang tersedia di madrasah ini sudah cukup memadai bagi guru-
guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif, namun 5 orang atau (25,8%) lainya menyatakan bahwa belum memadai.
Dari segi kualitasnya, 25 orang atau (80,6%) menyatakan bahwa kualitas sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia di Madrasah ini sudah cukup memadai, namun 6 orang atau (19,4%) lainya menyatakan bahwa kualitas sarana dan prasarana yang ada di madrasah ini belum memadai.
Dengan demikian, menurut guru-guru menganai kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana yang ada di madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang ini sudah cukup memadai bagi guru-guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif.
Adapun sarana dan prasarana yang pernah di gunakan dalam penerapan model-model pembelajaran inovatif antara laian: alat peraga, kertas karton, papan tulis, bolah, tongkat, CD, Tape, Perpustakaan, Al-quran, Gambar, Ruang Aula, dan proyektor, serta masih banyak lagi yang lainya.
Berkaitan dengan penerapan model-model pembelajaran inovatif di madrasah tsanawiyah negeri 1 palembang, salah seorang guru yang menyatakan belum menerapkanya juga menyatakan bahwa sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia di madrasah ini sudah cukup memadai, sedangkan sebagaian besar guru menyatakan belum memadai ternyata telah menerapkannya. Ini berarti faktor sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia tidak begitu berpengaruh dalam menerapkan model pembelajaran inovatif di madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang. Untuk lebih jelasnya maka bisa di lihat pada tabel-tabel di bawah ini:
Tabel IV.8. Distribusi Frekuensi jawaban responden tentang kualitas sarana dan prasarana di MTs Negeri 1 Palembang
No. Jawaban responden Frekuensi Persentase
1. Cukup memadai 23 74%
2. Kurang memadai 8 26%
Jumlah 31 100%
Tabel IV.9. Distribusi Frekuensi jawaban responden tentang kuantitas sarana dan prasarana di MTs Negeri 1 Palembang
No. Jawaban responden Frekuensi Persentase
1. Cukup memadai 25 81%
2. Kurang memadai 6 19%
Jumlah 31 100%
Di lihat dari dukungan pihak kepala madrasah, jawaban responden terhadap angket menunjukkan bahwa sebagian besar guru 29 orang (93,54%) menyatakan adanya dukungan moral dari pimpinan madrasah bagi guru dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif, namun ada 2 orang atau (6,45%) menyatakan bahwa tidak adanya dukungan dari pimpinan madrasah dalam menerapkan model- model pembelajaran inovatif.
Dari segi dukungan program jawaban responden terhadap angket menunjukkan bahwa sebagian besar guru, 21 orang atau (67,74%) menyatakan bahwa adanya dukungan program berupa program kegiatan dari pimpinan madrasah bagi guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif, namun ada 10 orang atau (32,25%) menyatakan bahwa tidak adanya dukungan berupa program dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif.
Dengan demikian menurut sebagian besar guru sudah ada dukungan dari pimpinan madrasah dalam penerapan model-model pembelajaran inovatif, baik berupa dukungan moral maupun dukungan program bagi guru dalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif. Adapun dukungan moral yang di lakukan oleh pimpinan madrasah seperti mengirim guru-guru dalam pelatihan/workshop mengenai penerapn model-model pembelajaran inovatif yang di adakan pihak lain dan memberikan motivasi bagi guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif.
Sedangkan untuk dukungan program, berdasarkan hasil wawancara dengan kepala madrasah tsanawiyah negeri 1 Palembang memang tidak ada program khusus yang mendorong guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif.
Program atau kegiatan yang di laksanakan selama ini adalah program atau kegiatan yang di laksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas mengajar guru seperti kegiatan Lesson Study, workshop pembelajaran, adapun workshop yang pernah di adakan di madrsah ini meliputi workshop model-model pembelajaran dan workshop pembelajaran tematik.
Berkaitan dengan penerapn model-model pembelajaran inovatif, salah seorang guru yang menyatakan belum menerapkanya juga menyatakan adanya dukungan moral maupun dukungan program dari pimpinan madrsah bagi guru untuk menerapkan model-model pembelajaran inovatif, sedangkan 10 orang atau (32,25%) yang menyatakan tidak adanya dukungan ternyata sudah menerapkanya. Ini berarti dukungan moral maupun program tidak menjadi pengaruh dalam menrapkan model-
model pembelajaran inovatif di Madrsah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang. Untuk lebih jelasnya maka bisa di lihat dari tabel di bawah ini:
Tabel IV.10. Distribusi frekuensi jawaban responden tentang dukunganmoral dari pimpinan madrasah
No. Jawaban responden Frekuensi Persentase
1. Ada 29 94%
2. Tidak ada 2 6%
Jumlah 31 100%
Tabel IV.11. Distribusi frekuensi jawaban responden tentang dukungan program dari pimpinan madrasah
No. Jawaban responden Frekuensi Persentase
1. Ada 21 68%
2. Tidak ada 10 32%
Jumlah 31 100%
Dari data yang di paparkan diatas, maka dapat di katakana bahwa faktor- faktor eksternal seperti kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana pembelajaran yang ada di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang yang tersedia, serta dukungan pimpinan madrasah berupa dukungan moral dan dukungan program juga tidak mempengaruhi dalam penerapan model pembelajaran inovatif di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Palembang.