• Tidak ada hasil yang ditemukan

DPMPTSP Sulsel - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "DPMPTSP Sulsel - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 232); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 235); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2009 tentang Peraturan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 247);

KETENTUAN UMUM

Penanam Modal Dalam Negeri adalah perseorangan warga negara Indonesia, badan usaha Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, atau daerah yang melakukan penanaman modal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penanam modal asing adalah perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, dan/atau pemerintah asing yang menanam modal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Insentif merupakan dukungan kemudahan dan/atau kemudahan dari pemerintah daerah kepada investor dalam rangka mendorong peningkatan penanaman modal di daerah.

ASAS DAN TUJUAN

1). Penanaman Modal daerah berdasarkan asas

Pembinaan merupakan upaya atau kegiatan bagi pejabat penanaman modal dan pejabat perusahaan PMA/PMDN untuk memahami berbagai kebijakan dan peraturan terkait penanaman modal dengan memberikan kemudahan penyelesaian permasalahan dan hambatan dalam pelaksanaan proyek. Penyusunan peta investasi daerah provinsi dan potensi sumber daya daerah yang terdiri atas sumber daya alam, kelembagaan, dan sumber daya manusia termasuk pengusaha mikro, kecil, menengah, koperasi, dan besar berdasarkan usulan daerah kabupaten/kota.

BAB V

Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf b, meliputi: a.perencanaan dan promosi penanaman modal;. pengelolaan data dan sistem informasi investasi;. pendidikan dan pelatihan investasi; pemantauan dan evaluasi penanaman modal; dan h.kegiatan kerjasama lainnya di bidang penanaman modal. Perusahaan penanaman modal harus mengajukan permohonan tertulis kepada gubernur bank sentral untuk mendapatkan izin dan non izin sebagaimana dimaksud pada ayat Penanam modal yang telah memperoleh persetujuan penanaman modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat 5, wajib menjalankan kegiatan usahanya sesuai dengan izin yang dimilikinya.

BAB VI

BAB VIII KETENAGAKERJAAN

Pasal 19

Pelabur mempunyai hak untuk menggunakan tenaga kerja warga asing untuk jabatan dan keahlian tertentu.

Penanam modal berkewajiban

  • Dasar Pemikiran
  • Kewenangan
  • Insentif dan Kemudahan
  • Penanganan Masalah
  • PASAL DEMI PASAL

Penanaman modal yang dilakukan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini tetap berlaku sampai dengan berakhirnya Izin Usaha Penanaman Modal. Perjanjian penanaman modal yang dibuat sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini tetap berlaku sampai dengan perjanjian tersebut diakhiri. Ayat (1) b : Perizinan penanaman modal adalah perizinan yang merupakan kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Ayat (1) c : Cukup jelas.

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI SULAWESI SELATAN

TENTANG

PENYELENGGARAAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL PERUSAHAAN /

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DI SULAWESI SELATAN

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724);

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Negara Republik Indonesia) Nomor Indonesia 4737); Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah Provinsi (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5107);

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5305); Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil, dan Program Bina Lingkungan. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 235);

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penanaman Modal (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 13).

BAB I KETENTUAN UMUM

  • Pasal 1
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 13
  • Pasal 14
  • Pasal 15 Bagian Keenam

Tanggung jawab sosial, kemitraan dan pembangunan lingkungan hidup (corporate social responsiveness) merupakan kewajiban perusahaan untuk melakukan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan yang menguntungkan, baik bagi perusahaan itu sendiri, komunitas lokal, dan masyarakat pada umumnya. Dana Tanggung Jawab Sosial, Kemitraan, dan Bina Lingkungan merupakan dana dari dunia usaha yang dilaksanakan oleh perusahaan dalam rangka pelaksanaan Program Tanggung Jawab Sosial, Kemitraan, dan Bina Lingkungan untuk mendukung pembangunan di Sulawesi Selatan. Forum Komunikasi Pelaksana Tanggung Jawab Sosial, Kemitraan, dan Bina Lingkungan atau Forum Komunikasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang selanjutnya disebut Forum Komunikasi adalah wadah bagi perusahaan untuk menyelaraskan kegiatan tanggung jawab sosial, kemitraan, dan bina lingkungan dengan program dan kegiatan daerah. pemerintah.

MAKNA, TUJUAN, DAN RUANG LINGKUP Pasal 2 Maksud pelaksanaan tanggung jawab sosial, kemitraan, dan bina lingkungan adalah untuk memajukan program tanggung jawab sosial dan lingkungan hidup perusahaan dalam rangka optimalisasi program pembangunan di daerah. Ruang lingkup pelaksanaan program/kegiatan tanggung jawab sosial, kemitraan dan bina lingkungan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pemantauan dan evaluasi. Perencanaan pelaksanaan program tanggung jawab sosial, kemitraan dan bina lingkungan di daerah dilakukan melalui pendekatan: partisipatif, yaitu pendekatan yang melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan dalam pembangunan yang akan dibiayai oleh Perusahaan; Dan. sinkronisasi dan sinergi, yaitu pendekatan program dan kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama dengan mengutamakan kepentingan dan kebutuhan dalam mencapai kesejahteraan masyarakat.

Pelaksanaan program pembangunan di Sulawesi Selatan yang dapat dibiayai melalui tanggung jawab sosial, kemitraan dan dana bina lingkungan adalah: kemitraan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan koperasi, usaha kecil dan menengah. Alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan, kemitraan dan bina lingkungan serta anggaran APBD dan APBN disalurkan dengan memperhatikan wilayah dan sektor berdasarkan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Demi kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan program tanggung jawab sosial, kemitraan dan bina lingkungan, Forum Komunikasi melaksanakan pemantauan dan evaluasi perusahaan secara sinergis, terpadu dan berkelanjutan.

Pasal 17 Pemantauan, Evaluasi, dan Pelaporan 1) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan kemajuan pelaksanaan program tanggung jawab sosial, kemitraan, dan bina lingkungan kepada Gubernur oleh Sekretaris Daerah secara berkala atau sewaktu-waktu apabila dianggap perlu oleh Forum Komunikasi.

PEMBIAYAAN

Pasal 18

Pasal 20

KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI SULAWESI SELATAN

PROPINSI SULAWESI SELATAN

PERTAMA: Forum Komunikasi Tanggung Jawab Sosial, Kemitraan dan Bina Lingkungan Provinsi Sulawesi Selatan, dengan struktur keanggotaan sebagai berikut. KEDUA: Forum Komunikasi sebagaimana dimaksud pada Diktum KESATU bertugas membantu Gubernur sebagai wakil pemerintah dalam memfasilitasi pelaksanaan program dan kegiatan tanggung jawab sosial, kemitraan, dan bina lingkungan di daerah. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan, meliputi: kemajuan pelaksanaan program tanggung jawab sosial, kemitraan dan bina lingkungan, secara berkala atau sewaktu-waktu apabila dianggap perlu.

STRUKTUR ORGANISASI

URUSAN MONEV

KOORDINATOR 2KOORDINATOR 1

  • BANK 2. BUMN
  • BIDANG PENDIDIKAN 2. BIDANG KESEHATAN
  • BIDANG PENGEMB. SARANA DAN PRASARANA UMUM
  • BIDANG SARANA IBADAH
  • BIDANG PENGGULANGAN KEMISKINAN 9. BIDANG EKONOMI
  • BIDANG SOSIAL

PEDOMAN PEMBERIAN INSENTIF DAN / ATAU

MASYARAKAT DAN / ATAU BAGI PENANAMAN MODAL

DI SULAWESI SELATAN

  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 17
  • Pasal 20

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4724); Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pedoman dan Tata Cara Pemberian Insentif Penanaman Modal Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 88, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4861); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penanaman Modal (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 13);

Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 61 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal Provinsi Sulawesi Selatan (Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 61); Pemberian insentif merupakan dukungan pemerintah daerah kepada investor untuk mendorong peningkatan investasi di daerah. Pemberian insentif dan/atau fasilitasi penanaman modal dilakukan melalui pelayanan terpadu satu pintu sesuai peraturan perundang-undangan.

Jenis atau kegiatan usaha prioritas Pasal 9 Pemberian insentif dan/atau kemudahan penanaman modal kepada penanam modal pada bidang usaha prioritas, meliputi:. Usulan pemberian insentif dan/atau kemudahan Pasal 10 1) Pemberian insentif dan/atau kemudahan bagi penanaman modal dapat diajukan oleh penanam modal karena sesuai dengan Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9 Peraturan Gubernur ini. Dinas kabupaten/kota dan sektor sesuai kewenangannya dapat mengajukan usulan dan/atau menetapkan pemberian insentif dan/atau memfasilitasi penanaman modal berdasarkan kebutuhan, yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Permohonan pemberian insentif dan/atau fasilitasi penanaman modal yang tertunda dipenuhi berdasarkan ketentuan Peraturan Gubernur ini.

TATACARA PEMBERIAN SANKSI PENANAMAN MODAL

Tujuan pemberian sanksi administrasi adalah

Ruang lingkup pemberian sanksi administratif juga mencakup upaya penegasan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait penanaman modal yang wajib dipatuhi.

SANKSI

Pasal 9

Pasal 10

Biaya yang timbul dalam pelaksanaan sanksi dibebankan pada anggaran pendapatan dan belanja daerah provinsi Sulawesi Selatan. Untuk menciptakan iklim penanaman modal yang baik, pemerintah dan pemerintah daerah selalu memantau dan mengendalikan kegiatan penanaman modal dalam menjalankan usaha dan kegiatannya.

Pasal 13

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam teknis pelaksanaannya dalam Keputusan Gubernur ini, akan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Keputusan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

SYARAT DAN TATACARA PENGAJUAN PERMOHONAN

PERSETUJUAN PENANAMAN MODAL

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal; Keputusan Ketua Komite Koordinasi Penanaman Modal No. 1/P/2008 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal No. 57/SK/2004 tentang Pedoman dan Tata Cara Permohonan Penanaman Modal yang Didirikan Dalam Rangka Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing; Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang berada di bawah yurisdiksi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 235);

Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 1 Tahun 2010 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 1, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 250); Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 2259/IX/TAHUN 2010 Tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan Gubernur kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah untuk Pemberian Perizinan dan Nonperizinan di Bidang Penanaman Modal. Tim Teknis adalah tim yang membantu Gubernur sebagai Wakil Pemerintah untuk memberikan rekomendasi sebagai bagian dari penyelesaian permohonan persetujuan penanaman modal yang diajukan oleh investor.

Rekomendasi Tim Teknis merupakan bentuk persetujuan tertulis yang diberikan kepada investor sebagai salah satu syarat lengkap untuk mengajukan permohonan persetujuan investasi setelah melakukan presentasi di hadapan tim teknis. MAKNA, TUJUAN DAN RUANG LINGKUP § 2. 1) Permohonan persetujuan penanaman modal diajukan kepada SKPD manajer investasi. Ruang lingkup persyaratan dan tata cara pengajuan permohonan persetujuan penanaman modal mencakup seluruh bidang usaha yang menurut undang-undang memungkinkan untuk diajukan permohonan persetujuan penanaman modal.

Provinsi Sulawesi Selatan melalui UPTB Pelayanan Terpadu Satu Pintu; dan c.alur dan mekanisme pengajuan permohonan persetujuan. penanaman modal sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 61 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Pelayanan Penanaman Modal di Provinsi Sulawesi Selatan.

BAB IV

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 161, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4002; Dengan

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor