Temperatur
DR. IR. BAMBANG SUHARDI, ST, MT, IPM, ASEAN.ENG
Tekanan panas yang mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan permasalahan kesehatan hingga kematian.
Efek penyakit akibat panas yang paling fatal adalah heat stroke. Bila dibiarkan tanpa penanganan yang serius, kondisi ini bisa mengancam jiwa pekerja.
Para pekerja lapangan terutama pekerja konstruksi, industri minyak dan gas bumi (migas), dan galangan kapal tentu sudah terbiasa bekerja di lingkungan yang panas dalam waktu lama. Kondisi seperti ini berpotensi menimbulkan heat stress bagi pekerja?
Lingkungan kerja yang tidak nyaman seperti temperatur yang melebihi nilai ambang batas (NAB) mengakibatkan panas yang dapat mempengaruhi performa kerja dan juga kesehatan tubuh pekerja. Bila pekerja yang terpapar panas tidak mampu menjaga atau mengatur suhu normal dalam tubuhnya, hal ini bisa memicu timbulnya heat stress. Lebih fatal lagi, bila dibiarkan tanpa penanganan serius bisa mengakibatkan kematian.
Apa Itu Heat Stress dan Bagaimana Pekerja Bisa Terkena Heat Stress?
Tekanan panas atau heat stress dapat dikatakan sebagai reaksi fisik dan fisiologis pekerja terhadap suhu yang berada di luar kenyamanan bekerja. Suhu yang dimaksud adalah suhu panas yang ekstrem
Paparan panas di lingkungan kerja bisa berasal dari:
Suhu dan kelembaban tinggi, paparan sinar matahari secara langsung
Gerakan atau aliran udara yang terbatas
Kerja fisik yang berat
Panas metabolisme tubuh
Pakaian kerja
Tingkat aklimatisasi
Faktor iklim kerja dan non iklim tersebut yang dapat meningkatkan risiko pekerja terkena heat stress. Sebetulnya heat stress terjadi apabila tubuh pekerja sudah tidak mampu lagi menyeimbangkan suhu tubuh normal karena besarnya paparan panas dari luar. Sederhananya, heat stress bisa terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu internal.
Jika tubuh terpapar panas, maka sistem yang ada di dalam tubuh akan mempertahankan suhu tubuh internal agar tetap berada pada suhu normal (36-37,5°C) dengan cara mengeluarkan keringat dan mengalirkan darah lebih banyak ke kulit.
Dalam kondisi demikian, jantung bekerja keras memompa darah ke kulit bagian luar (permukaan tubuh) dan kelenjar keringat terus mengeluarkan cairan yang mengandung elektrolit ke permukaan kulit dan penguapan keringat menjadi cara efektif untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap normal.
Namun, jika suhu di luar dan kelembaban terlampau tinggi, maka keringat tidak dapat menguap dan tubuh akan gagal mempertahankan suhu internalnya, dalam kondisi inilah tubuh mulai terganggu. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja di lingkungan panas.
Dengan banyaknya darah mengalir ke kulit, maka pasokan darah ke otak, otot-otot aktif dan organ tubuh lainnya menjadi berkurang, sehingga kelelahan dan permasalahan kesehatan akibat panas pun lebih cepat terjadi. Kegagalan tubuh menyeimbangkan suhu tubuh internal ini yang pada akhirnya bisa memicu timbulnya heat stress pada pekerja.
Siapa Saja yang Berisiko Terkena Heat Stress?
Seseorang yang mengenakan pakaian pelindung dan bekerja di lingkungan panas, kelembaban tinggi dan melakukan kerja fisik berat adalah pekerja yang paling berisiko terkena heat stress. Umumnya heat stress dialami oleh pekerja konstruksi, pertambangan, pabrik kaca dan pabrik karet, pabrik peleburan logam, pekerja di ruang boiler, dan pekerja yang terpapar panas lainnya.
Apa Pengaruh Heat Stress Terhadap Pekerja?
Heat stress termasuk potensi bahaya di lingkungan kerja yang harus mendapat perhatian khusus. Heat stress, baik akibat proses metabolisme tubuh maupun paparan panas dari lingkungan kerja dapat menimbulkan masalah kesehatan dari yang ringan, seperti heat cramps dan heat exhaustion hingga yang serius, yaitu heat stroke.
Heat Cramps
Heat cramps adalah kejang atau kram pada otot, bahkan bisa mengakibatkan pingsan pada penderita. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan cairan dan garam selama melakukan kerja fisik yang berat di lingkungan panas.
Gejala:
Kram pada otot, nyeri atau kejang di perut, lengan atau kaki.
Pertolongan pertama:
Hentikan semua aktivitas dan istirahatlah di tempat sejuk dan teduh
Minum cairan elektrolit, namun tidak melebihi air minum biasa. Hindari mengonsumsi tablet garam kecuali jika direkomendasikan oleh dokter
Hindari kembali melakukan kerja fisik berat selama beberapa jam setelah kram mereda
Segera hubungi petugas medis jika kram tidak mereda dalam waktu satu jam.
Heat Exhaustion
Heat exhaustion terjadi akibat kurangnya cairan tubuh atau volume darah. Kondisi ini terjadi jika jumlah air yang dikeluarkan seperti keringat melebihi dari air yang diminum selama terpapar panas.
Gejala:
Nadi cepat
Keringat berlebih
Kulit pucat
Kelelahan ekstrem
Pusing
Mual dan muntah
Emosi tidak stabil
Pernapasan pendek dan cepat
Suhu tubuh sedikit mengalami peningkatan (37-40°C)
Kehilangan kesadaran
Pertolongan pertama:
Beristirahatlah di tempat yang sejuk dan teduh
Minumlah air yang banyak
Longgarkan pakaian dan kompres bagian kepala, leher, dan wajah menggunakan handuk dingin
Basuh kepala, wajah, dan leher dengan air dingin
Jika gejala tidak mereda, segera hubungi petugas medis
Pastikan ada rekan kerja yang menemani korban sampai bantuan tiba.
Heat Stroke
Heat stroke adalah efek heat stress paling serius/ fatal karena jika dibiarkan tanpa penanganan serius, kondisi ini bisa mengakibatkan koma dan kematian. Penyebabnya adalah paparan panas yang terus-menerus dan ekstrem, serta kegagalan regulator suhu tubuh.
Gejala:
Suhu tubuh tinggi (di atas 40°C)
Kurang berkeringat saat cuaca panas
Mual dan muntah
Kulit memerah
Napas cepat dan dangkal
Peningkatan denyut jantung
Sakit kepala
Kebingungan, kejang, halusinasi
Pingsan
Kram otot
Pertolongan pertama:
Segera hubungi petugas medis
Bawa korban ke tempat sejuk dan teduh
Lepas pakaian pelindung/ pakaian luar yang korban kenakan
Tempatkan tubuh korban di dalam bak air dingin atau air es atau membungkus korban dengan selimut
pendingin khusus dan menyelimuti korban dengan es. Terutama pada daerah leher, pangkal paha dan ketiak untuk menurunkan suhu tubuh.
Apa yang Harus Dilakukan Perusahaan dan Pekerja untuk Mencegah Heat Stress?
Pada kebanyakan kasus, heat stress dapat dicegah atau setidaknya risiko terkena heat stress dapat diminimalkan.
Berikut rekomendasi pencegahan heat stress menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA):
1. Membuat program pencegahan heat stress
Perusahaan harus memilih dan menentukan pekerja yang terlatih dan kompeten dalam menangani bahaya di tempat kerja, salah satunya bahaya paparan panas. Selanjutnya, pekerja ini yang akan bertanggung jawab dalam merencanakan, mengembangkan, melaksanakan dan mengelola program terkait paparan panas di tempat kerja.
2. Melakukan identifikasi bahaya
Perusahaan dan pekerja wajib melakukan identifikasi bahaya paparan panas untuk meminimalkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan penurunan produktivitas kerja. Kegiatan identifikasi bahaya ini meliputi:
Mengenali bahaya paparan panas dan risiko penyakit akibat panas bagi pekerja
Menghitung indeks tekanan panas melalui pengukuran faktor-faktor eksternal lingkungan yang mempengaruhi tekanan panas, yaitu suhu, kelembaban, kecepatan angin, suhu kering, suhu basah dan suhu radiasi.
Melakukan evaluasi terhadap kesehatan pekerja akibat paparan panas, yaitu dengan mengukur tekanan darah, denyut nadi dan suhu tubuh pekerja
Menentukan langkah pengendalian dan perbaikan untuk meminimalkan bahaya paparan panas.
3. Melakukan pengendalian teknik
Pengendalian teknik yang dapat dilakukan adalah memasang ventilasi umum, memasang exhaust fan, memasang dust collector, penggunaan penyekat (shielding) terutama untuk mengurangi panas radiasi serta mengurangi suhu dan kelembaban melalui pendingin udara.
4. Melindungi pekerja dari risiko terkena heat stress
Untuk mencegah pekerja dari heat stress, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Hindari melakukan aktivitas fisik berat, lingkungan panas yang ekstrem, paparan sinar matahari, dan lingkungan dengan kelembaban tinggi bila memungkinkan. Jika tidak memungkinkan, lakukan langkah-langkah pencegahan berikut ini:
Awali hari dengan minum air putih secukupnya. Hindari alkohol dan minuman yang mengandung kafein karena dapat menyebabkan dehidrasi
Gunakan pakaian berwarna cerah, ringan/ tipis, dan menyerap keringat (bahan katun). Hindari pakaian berbahan sintetis.
Lakukan diet seimbang. Konsumsi buah, sayuran, protein, serat akan sangat membantu.
Konsumsi cairan elektrolit, namun tidak melebihi air minum biasa
Gunakan pelindung wajah dan leher
Pastikan di area kerja terdapat stasiun air minum dan mudah diakses
Minumlah satu gelas air setiap 15 menit, sekalipun Anda belum merasa haus
Lakukan istirahat secara berkala saat melakukan pekerjaan berat di lingkungan dengan suhu panas dan kelembaban tinggi.
Beristirahatlah di tempat sejuk dan teduh.
Pertimbangkan untuk menyediakan wadah air bertanda khusus yang berisi air dan es untuk membasahi handuk leher, lengan dan lainnya
Pantau kondisi fisik Anda dan rekan kerja untuk mengetahui adanya tanda atau gejala penyakit akibat panas. Laporkan kepada supervisor bila Anda atau menemukan rekan kerja yang mengalami gejala heat stress.
5. Aklimatisasi
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan proses penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Aklimatisasi terhadap panas ditandai dengan penurunan suhu tubuh dan pengeluaran garam dari dalam tubuh. Proses aklimatisasi ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa waktu.
Aklimatisasi panas biasanya tercapai setelah dua minggu, tergantung faktor lingkungan kerja dan faktor pribadi individu (konsumsi obat, kondisi fisik, usia dan berat badan). Setiap pekerja baru dan pekerja lama yang absen selama dua minggu atau lebih dari pekerjaannya harus dimulai dengan 20% beban kerja di hari pertama, lalu meningkat secara bertahap tidak lebih dari 20% beban kerja di hari berikutnya.
6. Mengatur waktu kerja
Perubahan jadwal kerja dan pengaturan frekuensi istirahat dilakukan dalam upaya untuk meminimalkan risiko paparan.
Perusahaan dapat mengatur jadwal kerja dan istirahat dengan memperhatikan NAB paparan panas.
Di Indonesia, mengenai kegiatan kerja di industri yang dapat menimbulkan iklim kerja panas di atur dalam SNI 16-7063- 2004 dan Permenakertrans No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Kimia di Tempat Kerja.
Pengaturan Waktu Kerja Setiap Jam
Indeks Suhu Basa dan Bola (ISBB °C) Beban Kerja
Waktu Istirahat Ringan Sedang Berat
25% 30.6 28.0 25.9
50% 31.4 29.4 27.9
75% 32.2 31.1 30.0
Kriteria beban kerja menurut SNI:
Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 – 200 Kkal/jam.
Beban kerja sedang membutuhkan kalori >200 – 350 Kkal/jam.
Beban kerja berat membutuhkan kalori >350–500 Kkal/jam.
NAB ini membatasi pemaparan panas lingkungan kerja 8 jam/ hari terhadap tenaga kerja dengan mempertimbangkan kategori beban kerja dan pembagian waktu kerja – istirahat.
* Permenakertrans No. PER. 13/MEN/X/2011 juga memberikan NAB yang sama dengan SNI tersebut di atas.
7. Memberikan pelatihan kepada pekerja
Perusahaan juga wajib memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai bahaya dan efek paparan panas, gejala penyakit akibat panas, bagaimana cara dan kapan harus merespons bila timbul gejala awal dan bagaimana cara mencegah penyakit akibat panas.
8. Melakukan pengawasan untuk tanda dan gejala awal
Pekerja bisa membuat sebuah sistem untuk memantau dan melaporkan tanda dan gejala awal penyakit akibat panas.
Hal ini dapat membantu perusahaan juga manajemen dalam mendeteksi secara dini penyakit akibat panas dan melakukan tindakan pengendalian sesegera mungkin.
9. Membuat perencanaan dan pelaksanaan tanggap darurat
Buatlah prosedur tanggap darurat terkait penyakit akibat panas. Komunikasikan prosedur tanggap darurat tersebut kepada supervisor dan pekerja. Perencanaan tanggap darurat meliputi:
Apa yang harus dilakukan seseorang bila mengalami atau melihat rekan kerja menunjukkan tanda-tanda penyakit akibat panas
Cara menghubungi unit tanggap darurat
Memperhitungkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk petugas tanggap darurat tiba ke lokasi dan melatih pekerja dalam melakukan pertolongan pertama sampai bantuan tiba.
Studi IOSH: 42 Persen Kasus Kematian Akibat Melanoma Maligna Terjadi di Sektor Konstruksi
Hasil studi Institution of Occupational Safety and Health (IOSH), lembaga keselamatan dan kesehatan kerja di Inggris, menunjukkan:
Sekitar 240 kasus baru melanoma terdiagnosis setiap tahunnya. Mayoritas disebabkan oleh paparan sinar matahari di tempat kerja.
Hampir setengah dari seluruh kasus diderita oleh pekerja konstruksi dan sebanyak 42 persen meninggal akibat melanoma.
Lebih dari 2/3 pekerja konstruksi berisiko terkena melanoma.
Selain pekerja konstruksi, melanoma juga bisa menyerang pekerja di bidang pertanian, administrasi, pertahanan publik, serta transportasi darat. Melanoma lebih banyak diderita pria dibanding wanita, yaitu sebanyak 39 korban meninggal dan 184 kasus.
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Lesley Rushton dari Imperial College London juga menunjukkan, lebih dari 8000 korban meninggal akibat kanker per tahunnya disebabkan oleh penyakit akibat kerja (PAK).
Mengenal Melanoma Maligna
Melanoma maligna atau biasa disebut dengan melanoma merupakan penyakit kanker yang menyerang kulit di mana sel-sel kanker berkembang pada sel melanosit yang menghasilkan melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit.
Umumnya, penyebab kanker kulit melanoma ini adalah paparan sinar matahari berlebih.
Sinar matahari yang mengandung ultraviolet bisa memengaruhi kulit. Meski kebanyakan kasus melanoma disebabkan oleh paparan sinar matahari, penyebab lain juga bisa meningkatkan seseorang terkena melanoma, di antaranya:
Memiliki banyak bintik-bintik
Memiliki banyak tahi lalat
Usia
Warna kulit yang pucat lebih mudah terbakar dan kulit sulit berubah jadi hitam
Mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh
Faktor genetik, ada anggota keluarga yang mengidap melanoma
Di Inggris, penyakit ini sudah merenggut nyawa sekitar 1.200 orang setiap tahunnya, namun banyak orang yang tetap tidak menyadari bahaya kanker kulit, dengan gejala kulit terbakar, serta tanda-tanda penyakit mematikan ini. Studi British Association of Dermatologist (BAD) menunjukkan, sebanyak 77 persen orang tidak mengenali tanda-tanda melanoma, tumor kanker kulit ganas.
Munculnya melanoma ditandai dengan adanya tahi lalat yang memiliki karakteristik yang berbeda dari biasanya.
Bentuk tahi lalat tidak teratur (bukan oval atau bulat), warna tahi lalat terus berubah dan tidak merata, tahi lalat berdiamater 1/4 inci atau sekitar 6 mm, dan merasa gatal pada area tahi lalat, terkadang mengalami pendarahan.
Melanoma bisa tumbuh di bagian tubuh manapun, tapi beberapa bagian tubuh yang sering terpengaruh adalah wajah, tangan, punggung, dan kaki.
Kanker kulit melanoma ini merupakan kanker paling umum ke-19 di dunia. Sebanyak 200.000 kasus baru melanoma terjadi di dunia. Kasus melanoma tertinggi terjadi di Australia dan New Zealand, sedangkan Negara- negara Asia umumnya memiliki kasus melanoma terendah. Menurut WHO, sekitar 3.300 kasus melanoma baru terjadi di Indonesia. Meski terhitung jarang, kanker kulit jenis ini dapat berakibat fatal jika tidak terdiagnosis secara awal. Kanker tak hanya menyerang kulit kulit, tetapi bisa menyebar ke organ tubuh lainnya, hingga mengakibatkan kematian.
Langkah Pencegahan Melanoma Maligna untuk Pekerja Konstruksi
Studi IOSH menemukan, pekerja konstruksi rata-rata bekerja tujuh jam per hari dan 60 persen pekerja mengaku kulitnya sering terkena paparan sinar matahari. Meski demikian, hanya 39 persen yang berisiko terkena kanker kulit. Untuk mengatasi hal ini, sebanyak 86 persen pekerja diharuskan banyak minum air putih, 57 persen mengenakan kacamata pelindung sinar UV, dan 57 persen menggunakan krim anti UV.
IOSH juga mendorong manajemen perusahaan untuk menerapkan strategi bekerja aman di bawah paparan sinar matahari untuk para pekerjanya, antara lain:
1. Mengakses informasi prakiraan cuaca terbaru mengenai indeks UV.
2. Meminimalkan paparan sinar matahari di tengah hari, sebab sekitar pukul 11.00-13.00 matahari sedang berada di puncak terpanas. Tetapi pada waktu berbeda, matahari juga bisa terasa sangat menyengat dan memiliki efek merusak. Bila Anda terpaksa harus bekerja di luar ruangan pada jam-jam tersebut, usahakan tutupi diri Anda dengan pakaian yang tepat serta memakai tabir surya.
3. Mewajibkan para pekerja untuk mengenakan alat pelindung diri lengkap ketika bekerja di bawah terik matahari, antara lain mengenakan pakaian berlengan panjang, pelindung leher, kacamata pelindung sinar UV, sepatu tertutup, dan menggunakan helm keselamatan.
4. Banyak minum air putih minimal 8 gelas per hari untuk melembabkan kulit dan mencegah keriput akibat pajanan sinar matahari.
PENILAIAN
BEBAN KERJA
Beban Kerja
1. Beban yang dialami oleh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaan yang
dilakukannya.
2. Pengaruhnya dominan terhadap kinerja SDM bahkan dapat berpengaruh negatif
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Pelaksanaan bersamaan dengan pengukuran iklim kerja sesuai
Permenakertrans No. Per.13/MEN/X/2011
dan SNI 16-7061-2004
Ruang Lingkup Beban Kerja
Standar penilaian beban kerja berdasar kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi.
Prinsip penilaian :
a.
Peralatan penilaian,
b.Prosedur kerja
penlaian,
c.
Pengukuran berat badan,
d.
Pengamatan aktivitas kerja,
e.
Perhitungan beban
kerja baik di tempat
panas atau tempat
kerja lainnya
Istilah Dan Definisi
1. Beban kerja adalah beban yang dialami oleh tenaga kerja sebagai akibat
pekerjaan yang dilakukan olehnya.
2. Metabolisme basal adalah energi minimal yang diperlukan tubuh untuk
mempertahankan proses hidup yang dasar
dalam satuan kalori per satuan waktu.
Istilah Dan Definisi (lanjutan)
3. Kerja ringan adalah pekerjaan yang
membutuhkan kalori untuk pengeluaran energi sebesar 100 kkal per jam sampai dengan 200 kkal per jam.
4. Kerja sedang adalah pekerjaan yang
membutuhkan kalori untuk pengeluaran
energi lebih besar dari 200 kkal per jam
sampai dengan 350 kkal per jam.
Istilah Dan Definisi (lanjutan)
5.
Kerja berat adalah pekerjaan yang membutuhkan kalori
untuk pengeluaran energi lebih besar dari 350 kkal per
jam sampai dengan 500 kkal per jam.
Penilaian
PRINSIP
Penilaian beban kerja dilakukan dengan
mengukur berat badan tenaga kerja, mengamati aktivitas tenaga kerja dan menghitung
kebutuhan kalori berdasarkan pengeluaran
energi sesuai tabel perhitungan beban kerja.
Penilaian ( lanjutan )
PERALATAN :
1.
Stop watch
2.
Timbangan berat badan
Penilaian ( lanjutan )
PROSEDUR KERJA
1.
Mengukur berat badan
2.
Mengamati aktivitas kerja tenaga kerja :
a. Mengamati setiap aktivitas tenaga kerja (kategori jenis pekerjaan dan posisi
badan), sekurang-kurangnya 4 jam kerja
dalam satu hari kerja dan diambil rerata
setiap jam.
Penilaian ( lanjutan )
b. Menghitung dan mencatat waktu aktivitas tenaga kerja dengan dinilai dengan menggunakan stop watch.
c. Menilai beban kerja setiap aktivitas kerja tenaga kerja dinilai dengan
menggunakan daftar penilaian.
Penilaian ( lanjutan )
d. Menghitung rerata beban kerja
berdasarkan tingkat kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi dengan menggunakan rumus RERATA
BEBAN KERJA
Perhitungan
(BK1 x T1) + (BK2 x T2) + … + (BKn x Tn)
Rerata BK = --- x 60 kkal/jam (T1 + T2 + … + Tn)
Total BK = rerata BK + MB
MB laki-laki = berat badan dalam kg x 1 kkal per jam MB perempuan = berat badan dalam kg x 0,9 kkal per jam
Perhitungan ( lanjutan )
CATATAN :
BK : beban kerja per jam
BK1, BK2,…BKn : beban kerja sesuai aktivitas kerja
tenaga kerja 1,2,…,n
T : waktu (dalam satuan menit)
T1, T2,…,Tn : Waktu sesuai aktivitas kerja tenaga
kerja 1,2,…,n (dalam satuan menit).
MB : metabolisme basal
Contoh Penilaian
Seorang tenaga kerja laki-laki umur 28 tahun, berat badan 64 kg,
melakukan pekerjaan menempa besi sambil berdiri selama 30 menit, duduk mengemas barang selama 10 menit, berjalan membawa besi dengan berat 5 kg selama 7 menit dan memindahkan barang seberat 3 kg sambil berjalan mendaki
selama 10 menit.
Contoh Penilaian ( lanjutan )
Kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi dari
aktivitas tenaga kerja yang dikeluarkan oleh tenaga kerja dihitung sebagai berikut :
(2,85 x 30) + (4,60 x 7) + (1,55 x 10) + (12,55 x 10)
Rerata BK = --- x 60 kkal/jam (30 + 7 + 10 + 10)
= 271,8 kkal/jam
MB laki-laki = 1 kkal x 64 kg x 1 jam = 64 kkal/jam Total BK = 271,8 + 64 = 335,8 kkal/jam
Beban kerja tenaga kerja termasuk kategori “berat”
17
Pengukuran di Lapangan
Contoh Lingkungan Kerja
Panas
Contoh Alat Peraga yang
Memadai
21