• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Orang

N/A
N/A
Naya Hasan

Academic year: 2025

Membagikan "Dua Orang"

Copied!
198
0
0

Teks penuh

(1)

Two Persons

By

Naya Hasan

(2)

Satu

London, UK.

“Menurutmu bagaimana hasilnya?”

“Kau mau bertaruh?”

Gadis itu menggigit bibir. Ia menyelipkan rambut sandy blonde bergelombangnya ke belakang telinga dan menatap pria di sampingnya lurus-lurus.

Alisnya berkerut. “Entahlah. Aku... jujur saja, aku tidak yakin, Ray.”

Ray—seorang pria tinggi kurus dengan rambut keriting berwarna pirang stroberi dan pipi serta hidung yang hampir selalu merah sampai ke telinga—meluncur dari atas kap mobil yang mereka duduki. Ia berdiri tegak dan mengangkat bahu ketika menatap gadis itu kembali.

“Aku tidak suka mengatakan ini. Tapi aku juga.”

“Tapi aku berharap ini tidak benar. Aku ingin mendengar kabar baik.”

“Yeah, sama.”

Kedua orang itu saling bertukar tatap prihatin dan serba salah, yang jelas bukan ditujukan untuk satupun di antara mereka.

“Hei, itu dia sudah keluar!”

Gadis itu, Serra, mengikuti arah pandang Ray. Mereka melihat seorang gadis berukuran mini (mereka lebih senang menyebutnya begitu demi menggambarkan ukuran gadis itu yang cenderung kurus dan keterlaluan pendek) dengan rambut cokelat gelap yang dikuncir asal-asalan. Gadis itu memakai kaus lengan pendek

(3)

berwarna cokelat—yang menegaskan bahwa ia kurus dan hampir rata—serta celana jins biru tua yang robek di bagian lutut. Oh, ini tahun berapa memangnya? Ia masih senang memakai jins jenis itu, mungkin jins yang sama dengan yang dibelinya lima tahun lalu. Ia mengepit setumpuk kertas di lengannya seraya ia berbicara pada seorang wanita setengah baya di teras kantor penerbitan itu.

“Jangan menyerah, ya. Kami akan senang menerima karyamu lagi.”

Wanita itu tersenyum, dan gadis itu tersenyum lebih lebar. Tapi Serra dan Ray sudah sepakat dengan kesimpulan mereka tadi. Senyum itu sama sekali tidak meyakinkan. Terbukti, ketika wanita gemuk itu kembali ke dalam, gadis itu secara drastis merubah ekspresinya menjadi semacam... depresi? Atau marah. Ia menendang kerikil dan berjalan tergesa-gesa menghampiri kedua rekannya.

“Bagaimana?” Serra yang sudah turun dari mobil menegarkan hatinya untuk mencoba bertanya. Gadis itu tidak menjawab, dan Serra maupun Ray sudah menduganya. Lampu hijau bagi penyakit frustasinya akan kambuh sebentar lagi.

Mereka menemukan gadis itu membuka pintu mobil dan membantingnya di belakangnya. Benar, kan? Ini alamat tidak bagus bagi Serra maupun Ray. Meski mereka terbiasa dengan mood gadis itu yang seperti gunung dan lembah setiap harinya, tetap saja ia mengerikan jika dalam kondisi begini. Ray mengikuti untuk duduk di samping gadis itu, perlu keberanian untuk melakukannya, sedangkan Serra mengambil tempat di belakang kemudi, seperti biasa—ia dan mobilnya yang baik hati rela mengangkut dua orang tidak bermodal itu kemana-mana.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Ray lagi dengan santai, berusaha menciptakan situasi yang lebih rileks. Serra menggigit bibirnya lagi, dalam hati ia ingin sekali membenturkan kepala Ray ke aspal. Ia justru hanya akan membuat gadis itu tambah kesal, tahu!

(4)

Terbukti, Sophie—gadis itu—segera melempar naskah di tangannya ke pangkuan Ray. Ia mendengus kuat-kuat dan memandang jendela dengan gusar, seolah jendela mobil tak berdosa itulah yang telah membawa kesialan untuknya. Demi Neptunus! Mungkin ia memang sudah ditakdirkan selalu sial sejak dilahirkan.

Mungkin... Alfa, kakak laki-lakinya telah menguras habis semua jatah keberuntungan di perut ibu mereka dan membawanya bersamanya sewaktu dilahirkan, sehingga ia akhirnya menjadi idola papan atas di Indonesia sana dan diminati banyak wanita, berkebalikan dengan adik kandungnya, yang hanya ia sisakan jatah kesialan itu.

“Ditolak. Untuk ke—“ gadis itu menghitung dengan jari, “dua belas kalinya.”

“Uhm... Sophie, aku turut kecewa,” lirih Ray dengan tampang menyesal yang sungguh-sungguh, tampak polos.

“Mereka hanya belum melihat bakatmu,” Serra menimpali.

Dan Sophie, tidak menggeser arah pandangnya untuk menatap Ray atau Serra, memastikan seberapa tulusnya mereka—ia sudah tahu. Ia masih terus memelototi jendela dan menopangkan dagunya pada telapak tangan, mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk.

“Mereka adalah orang-orang idiot yang tidak pernah mengerti seni! Mereka hanya mementingkan komersialitas! Lihat saja apa yang mereka terbitkan? Sampah.

Cerita-cerita vampire itu... yang benar saja!”

Baik Ray maupun Serra bungkam dan saling bertatapan melalui sudut mata, tahu bahwa mereka tidak bisa menyangkal apa-apa atau Sophie akan mengamuk. Jadi mereka memilih cara aman dengan mengangguk-angguk seperti Woody Wookpacker.

“Coba kalian bayangkan. Cerita tentang pria sok tampan yang hidup selamanya dan menggigit. Mereka menggigit dan menghisap darah! Ya Tuhan, bisa kau bayangkan seberapa menjijikkannya itu? Dan itu basi, sangat basi. Misalkan itu

(5)

keju, pasti sudah tumbuh ribuan belatung menjijikkan di atasnya. Belum lagi karakter perempuannya, sok polos, sok lemah, padahal otak mereka dipenuhi hasrat untuk bercinta dengan vampire itu. Astaga! Membaca satu paragraf pertama saja aku sudah mual!”

Serra dan Ray masih setia mengangguk-angguk, sadar bahwa Sophie berada dalam tahap korsleting tertingginya. Tinggi darah gadis itu mungkin sedang menyaingi tinggi menara jam Big Ben.

“Atau cerita tentang pria dingin dan kaku yang tampan tak manusiawi yang membunuh hanya dengan matanya. Pikir, apa itu masuk akal? Aku pasti tidak tahan berada dua menit saja bersamanya. Tapi kenapa semua gadis memujanya? Penulis- penulis kisah picisan macam itu pasti otaknya sudah bergeser.”

Atau otakmu yang sebenarnya sudah bergeser terlalu jauh, Sophie, Ray membelot dalam hati. Serra mengangguk penuh persetujuan padanya, seolah ia adalah seorang pembaca pikiran.

Sophie menghela napas panjang yang berat, seakan-akan sebongkah kerikil besar sudah disumpalkan di hidungnya yang lurus dan kecil. Ia sekarang menyingkirkan tangannya dan memutar leher agar menatap kedua makhluk khilaf yang bersedia menjadi temannya, meskipun hanya khilaf.

“Coba kalian katakan, dengan jujur, dimana kekurangan naskahku?”

“Kesalahan ketik.”

“Terlalu banyak istilah aneh.”

“Rumit.”

“Alurnya kacau.”

(6)

Serra dan Ray menjawab nyaris bersamaan, sehingga kalimat mereka menjadi tumpang tindih. Sophie melayangkan tatap kematian terbaiknya.

“Ups, sorry, sobat,” Ray mengoreksi, “tapi begitulah... ceritamu terlalu... sulit dimengerti. Aku bertaruh, Prof. Jeff yang botak setengah itu pasti akan kehilangan seluruh rambutnya sampai tak bersisa hanya dengan membaca novelmu.”

Serra meringis, tepat setelah naskah tebal Sophie mendarat manis ke kepala udang Ray. Ray itu... selalu keceplosan. Oh, ia merasa akan gila mempunyai dua orang teman aneh seperti dua orang di belakangnya ini. Sophie yang bercita-cita besar menjadi penulis dan imajinatif, sayangnya, imajinasinya cenderung berlebihan dan menular hingga ke dunia nyata, dan Ray, pria ajaib yang kadang mulutnya lebih mengerikan dari seorang wanita, meskipun Ray tidak melambai dan Ray telah memiliki seorang wanita yang ia perjuangkan mati-matian. Ya, orang-orang sering salah menilai, mengira Ray adalah homoseksual hanya karena ia tidak pernah terlihat berkencan dengan gadis-gadis. Tidak seperti itu. Itu karena, pria aneh ini telah jatuh cinta untuk seseorang sehingga tidak bisa melihat gadis lainnya.

Sophie adalah orang ajaib lainnya. Ia pemalas, itu adalah hal pertama yang bisa terpikirkan. Lalu ia pendiam dan cerewet sekaligus—pendiam dan jutek pada setiap orang asing dan mencereweti Ray dan Serra dengan hal monoton setiap harinya. Rendah hati dan sombong sekaligus—seperti tadi, tapi kadang ia juga begitu putus asa. Tapi menurut Serra pribadi, Sophie itu adalah gadis yang manis.

Ia sendiri, pasti punya keajaiban sendiri sehingga memiliki dua sahabat aneh macam Ray dan Sophie.

“Aku mau pulang,” cicit Sophie, nadanya merajuk.

***

“Sophie?”

(7)

Gadis itu berhenti di ayunan langkah kedua. Ia menoleh ke belakang dengan tampang datar. Dilihatnya wajah tirus Serra menyembul dari jendela di belakang kemudi.

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

“Jangan bunuh diri, ya. Kumohon,” timpal Ray, rambut keritingnya memenuhi jendela di bagian belakang mobil.

Sophie mendengus, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia memutar lehernya kembali ke arah semula dan mulai berjalan cepat meninggalkan kedua sahabatnya yang menyebalkan itu. Yah, kadang, di saat tertentu semua orang bisa menjadi begitu menyebalkan bagi Sophie, dan kedua sahabatnya tahu itu, mereka tidak keberatan.

Gadis itu menekan tombol kode flatnya dan segera menghilang masuk tanpa permisi.

Semua yang bisa ia pikirkan adalah tidur. Yah, jika orang berpendapat bir adalah cara terbaik melupakan masalahmu, bagi Sophie jawabannya hanya ada dua; novel dan tidur. Masuk akal, bukan? Karena ketika kau tidur kau tidak perlu berpikir. Gadis itu masih ingat bagaimana bentuk dan keadaan kasurnya saat ditinggalkan—berantakan.

Dan ia berniat sepenuh hati ia akan membuatnya lebih berantakan lagi, tunggu saja sampai ia menggulung diri di atasnya.

Gadis itu melangkah gontai dari lift menuju flatnya yang berjarak hanya beberapa meter dan menekan kata sandi dengan ogah-ogahan, seolah energinya sudah terkuras habis hanya untuk merasa emosi sepanjang perjalanan tadi. Dan yang tersisa sekarang hanya lelah. Matanya mulai mengantuk, dan ia sempat merasa salah flat setelah membuka pintu. Flat itu bersih. Ia mengucek matanya, dan memang benar- benar bersih, rapi. Oh Tuhan, ia hampir tidak mengenali tempat itu, kecuali lukisan- lukisan timbul pemandangan alam di dinding dan letak furniture yang masih sama.

Sophie menanggalkan sepatunya dan melangkah ragu-ragu ke dalam, ke arah

(8)

melapisi kemeja putihnya, dengan lengan kemeja di gulung, pria itu tampak sedang memotong sayuran atau apa dan memasak sesuatu di atas kompor. Sophie memperhatikannya, rambutnya hitam pekat, tidak panjang tapi tidak cukup cepak.

Pria itu tinggi namun tidak terlalu, 180 senti, kira-kira. Dan punggungnya... ia memiliki punggung yang bagus. Selalu menyenangkan melihatnya seperti itu, tanpa tongkat dan tampak sempurna—meskipun ia tetap tampak sempurna dengan tongkatnya.

Sophie tidak menyadari entah berapa lama dirinya menatap setiap gerakan kecil pria itu dari belakang, sampai akhirnya pria itu berbalik menghadapnya, menghadapkan dalam garis lurus matanya dengan manik mata Sophie, yang sama- sama berwarna cokelat, hanya saja punya Sophie sedikit lebih terang. Pria itu tersenyum manis.

“Hai,”

Sophie mengerjap, merasakan disorientasi pada otaknya setelah melihat pria itu, dan melihat senyumnya. Ia berdeham pelan hanya agar dapat menemukan kembali suaranya.

“Hai. Kapan... kau datang?”

“Tadi pagi.”

“Kenapa tidak mengabariku?”

“Aku takut kau sedang kuliah. Aku tidak mau mengganggu.”

Yang benar saja, Sophie mendengus dalam hati. Ia bahkan hanya sibuk mengobrol dengan Ray, atau mencoret-coret bukunya, atau berselancar internet, atau melakukan sesuatu apa saja dengan ponselnya setiap mengikuti mata kuliah. Apanya yang sibuk? Pria ini jelas punya pandangan berbeda soal pendidikan dengan yang Sophie punyai, gadis itu kuliah demi memenuhi keinginan orang tuanya, tidak lebih.

(9)

Selain Bahasa Perancis, Bahasa Mandarin, dan Sastra Inggris, tidak ada mata kuliah yang menarik baginya.

“Tidak apa-apa.” Sophie tersenyum kikuk, dengan canggung ia mendudukkan diri di atas bangku tinggi dan melipat kedua lengannya di atas meja dapur.

“Kau lapar? Aku sedang membuat lasagna, kesukaanmu, kan?”

“Entahlah. Aku tidak ingin makan.”

Sesaat pria itu berhenti memasukkan sayuran ke dalam panci. Ia segera mematikan kompor, meraih tongkatnya yang bersandar tak jauh darinya, dan bergerak mendekati Sophie. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada gadis itu.

“Apa yang terjadi?”

Sophie menggeleng. Dan tatapan pria itu tidak berubah, malah semakin intens. Gadis itu menghela napas, ia tahu ia memang tidak akan pernah bisa menghindar. Matanya mulai basah dan wajahnya berkedut-kedut ingin menangis.

Pada akhirnya hampir selalu berakhir begitu. Ia tidak bisa menjadi kuat bersama pria itu. Ethan Allen, pria ini adalah satu-satunya yang membuatnya menunjukkan sisi-sisi rapuhnya, yang mengeksplore sisi femininnya, yang membuatnya merendah dan sanggup menangis. Karena bersama pria ini, ia merasa...

aman. Pria itu merengkuhnya ke dalam dadanya dan mengusap-usap rambutnya.

Aroma pria ini... masih sama, dan Sophie tidak pernah menolaknya. Ia terisak-isak, lagi, pada orang yang sama. Menangis seperti balita dan tahu, pria itu tidak pernah keberatan.

***

(10)

Dua

Wind

Yang tidak terlihat, tapi ada. Yang diam disekitarmu tanpa kau tahu.

Menunggu waktunya untuk berhembus.”

***

“Makan yang banyak,” Ethan menyenggol piring Sophie yang saat itu belum berkurang setengahnya dengan garpunya. Tersenyum begitu dihadapkan pada tampang cemberut Sophie. Ah, Sophie tanpa wajah kesal ibarat Sungai Thames tanpa jembatan dan terowongan, mereka sudah satu paket, tidak dapat dipisahkan.

Sophie melirik kalender, mengernyit sekali lagi pada sosok Ethan yang penuh senyum dan tampak hangat. “Ini baru minggu ke tiga, kenapa kau sudah datang?

Kebanyakan uang, ya?”

Oh, ya. Ethan menetap di Indonesia sementara Sophie mengejar studinya di London. Mereka bertemu ketika gadis itu liburan ke kota kelahirannya—Bandung—

mengunjungi keluarganya sekaligus menjemput takdirnya. Entah bagaimana sampai masing-masing bisa saling menyukai—mungkin mereka kelilipan waktu pertama kali bertatapan atau apa—tapi beginilah mereka akhirnya. Ethan datang satu atau dua bulan sekali ke London, hanya sehari-dua hari atau bahkan hanya beberapa jam.

Hanya demi melihat gadis itu.

“Kau mengusirku?”

Gadis itu mendengus, tapi tidak berhasil mengatakan apa-apa, mulutnya sedang terlalu penuh.

(11)

“Aku merindukanmu,” kata pria itu lagi, membuat Sophie tersedak. Ia hanya tertawa kecil, puas akan hasil perbuatannya. Memperhatikan bagaimana pipi gadis itu merona, membingkainya, berusaha mneyimpan itu semua dengan rapi di kepalanya.

Sophie menelan air putih banyak-banyak sampai merasa mual, ia tidak pernah suka air putih, tapi ditatap terus-terusan oleh orang yang kau suka dan membuat dirimu tampak konyol bukanlah pilihan yang lebih menyenangkan. Ia tahu ia merindukan pria di hadapannya ini teramat banyak. Ia ingin menahan pria ini di sisinya dan sanggup menghabiskan satu hari penuh hanya untuk menatapnya, hanya untuk meyakinkan diri bahwa pria ini memang nyata. Tapi ia juga tahu, ia tidak akan pernah mengatakan apa-apa. Tentang perasaannya, tentang menyuruhnya tinggal sedikit lebih lama, atau... tentang bagaimana ia merasa memiliki pria ini seperti bermimpi.

“Baiklah,” jawab gadis itu pelan, alih-alih mengatakan ‘aku juga merindukanmu’.

“Dan mulai saat ini kupastikan aku tidak akan terlalu merindukanmu lagi.”

“Apa?”

Sophie mendongak otomatis dan menatap lurus pada manik cokelat gelap pria itu. Matanya yang cokelat terang hampir terlihat seperti kecewa sebelum akhirnya Ethan menyorongkan alasan masuk akal dari pernyataannya.

“Aku akan tinggal di sini,”

Sophie berharap ia sedang mengunyah sesuatu sehingga ia bisa tersedak, karena rasanya hampir sama seperti itu.

“Di... sini? Di London? Bagaimana dengan pekerjaanmu di Bandung?”

(12)

“Apa? Tapi... tapi menjadi koki kan sudah impianmu? Dan kau menjadi kepala koki di restoran besar itu!”

Ethan tersenyum, lembut, seperti biasanya. “Tidak apa-apa. Aku sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah restoran, aku bisa mulai dari awal.”

“Dimana?

“The Duke. ”

“Oh, aku tahu tempat itu. Creek Road, kan? Serra pernah sekali mengajakku ke sana, katanya tempatnya nyaman dan makanannya enak. Tapi... kau serius meninggalkan pekerjaanmu?”

Ethan hanya mengangguk, sambil mengunyah makanannya pelan-pelan, dan

—lagi-lagi—tersenyum. Ia makan dengan anggun. Tersenyum dengan anggun.

Berjalan dengan anggun. Selalu tampak tenang apapun keadaannya. Bahkan mungkin jika badai katrina terjadi di dekatnya, wajahnya akan tetap sekalem itu. Dia pikir dirinya itu malaikat?

“Kenapa? Kenapa kau mau pindah? Pekerjaanmu sudah sangat mapan dan kau jelas menyukainya.”

“Pekerjaanku memang bagus, tapi tidak ada kau di sana. Aku ingin... berada di tempat yang ada Sophie-ku. Lihat, kau itu bahkan terlalu lemah untuk ukuran wanita. Aku harus menjagamu.”

Sophie mengutuk diri. Dia tidak perlu cermin untuk mengingat betapa berantakannya ia. Terutama saat ini. Kaus cokelat kusam, jins robek, rambut tanpa tersentuh sisir dan entah sudah berapa hari tidak pernah dibilas, wajah tanpa polesan make up apapun yang diperparah dengan bekas air mata lengket di pipinya.

Seberantakan itu. Itu pun hanya tampilan luar. Apa kabar dengan sifat cengeng, tukang mengeluh, moody, galak, pencemburu dan sederet sifat buruk miliknya?

(13)

Lebih-lebih, ia tidak pandai memasak apalagi membereskan rumah—Ethan yang membereskan rumahnya tadi meski dengan fakta bahwa pria itu memakai tongkat agar dapat berjalan, otot kakinya terlalu lemah setelah kecelakaan yang katanya ia alami sewaktu kecil.. Sekedar untuk bangun pagi-pagi dan menyeret dirinya ke kamar mandi saja adalah hal yang nyaris mustahil gadis itu bisa lakukan. Jadi sangat mengherankan ketika ia mendapati Ethan tidak kemana-mana, masih di sana dan masih menatapnya dengan cara yang sama.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ya?”

“Kenapa aku?”

“Hm?” Ethan memperlambat kunyahannya. Ia menaruh garpu dan sendoknya dan duduk lebih tegak, hanya agar bisa lebih fokus menatap gadis itu.

“Kenapa memilihku?” Sophie mengulang. “Aku tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya, tidak bisa memasak, tidak bisa bicara di depan banyak orang, bahkan...

berdandan saja tidak bisa!”

Alis pria itu berkerut, Sophie memperhatikan. Pria itu tidak langsung menjawab, ia menghabiskan makanan di mulutnya dan minum, untuk kemudian kembali menatap Sophie.

“Kenapa kau juga memilihku? Pasti banyak sekali pria-pria menarik di London,” Yeah, banyak pria tampan di sini, mereka yang tidak akan tertarik padaku,sela Sophie dalam hati. “Pria yang dapat berjalan di sisimu dengan sempurna, mengimbangi langkah pendekmu yang cukup cepat itu. Dan... kau tidak perlu bisa apa-apa. Aku akan melakukannya untukmu. Kau cukup tinggal di rumah, dan ada.

Membuatku berpikir aku ingin pulang dan makan di rumah, tinggal di rumah.

(14)

Tidak terhitung entah berapa kali sejak setengah jam terakhir Sophie merasa ingin tersedak. Ia merasa ingin muntah, sakit perut, dan segalanya. Kedatangan pria ini, dan bersamanya, selalu berhasil mengacaukan tidak hanya sistem peredarah darah dan detak jantung Sophie, tapi sistem pencernaannya juga.

“Dan aku bersyukur kau tidak berdandan saat keluar tadi,” lanjutnya, tangannya tergerak menjangkau beberapa helai rambut Sophie yang melekat di pipi, membebaskannya. Saat itu Sophie kembali menyadari bahwa pria ini memiliki lengan yang kokoh, sebuah lengan yang berjanji akan selalu melindunginya, seperti yang ia lakukan selama ini. “Aku takut pria lain dan kau menyadari pesonamu sendiri dan meninggalkanku. Kau hanya perlu berdandan untukku, setelah kita menikah nanti.”

“Menikah bokongmu,” Sophie mencibir, hanya itu yang bisa ia lakukan, guna mencegah wajahnya merona lebih-lebih.

Menikah, ya? Ia tidak yakin. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Alfa pasti akan menertawakannya sampai mulutnya robek jika mendengar Sophie, adiknya membahas topik sensitif ini. Sophie yang lebih seperti anak SMP ini, menikah? Yang benar saja. Pasti saat itu terjadi, London sudah pindah ke Afrika dan Indonesia sudah memenangkan piala dunia tujuh kali berturut-turut.

Tapi pria ini... menatapnya membuat Sophie menyadari bahwa kata menikah terdengar gampang, terdengar tidak burukt. Ia ingin hidup bersama pria ini.

“Sudah selesai? Makanlah yang banyak.”

Perkataaan pria itu menginterupsi lamunan memalukan Sophie. Gadis itu meringis, Ethan selalu menyuruhnya menghabiskan makanan yang jelas-jelas tidak bisa ia lakukan karena pria itu berada di sekitarnya. Sudah dikatakan, pria ini membuat eror sistem pencernaannya. Sophie kemudian hanya mendorong agar menjauh piringnya, dan Ethan hanya tertawa atas tatap putus asa gadis itu.

(15)

Pria itu mengambil piring Sophie bersama piringnya ke wastafel, menggulung lengan kemejanya lebih tinggi, dan mulai mencuci. Sekali lagi Sophie dihadapkan pada punggungnya. Bagaimana bisa sebidang punggung saja bisa membuatnya terpesona? Tapi itulah yang terjadi. Ia selalu menyukai punggung pria itu.

Dia terlalu sempurna, kan? Karena dia sempurna... jadi apakah ini nyata?

Apakah ia tidak sedang bermimpi? Sophie mendapati dirinya terus bertanya hal yang sama. Ia tidak tahu kapan ia bisa percaya bahwa pria itu benar ada, bukannya hanya karakter fiksi yang ia ciptakan dan mulai menjelma karena ilusi semata. Ia bisa menyentuh pria itu, membaui aromanya yang selalu wangi, mendengar suaranya yang renyah. Semua itu terlalu nyata. Dan karena terlalu nyata, kadang terasa menyesakkan. Bagaimana jika... suatu saat ia kehilangan sosok ini? Akan sehancur apa?

***

Hujan mengguyur kawasan West Parkside sore itu, kali itu cukup lebat, membuat orang-orang malas bepergian, kalaupun harus pergi, mereka akan mengumpat sepanjang jalan. Sophie yang tinggal di lantai dua mengangkut meja dan kursinya ke depan pintu kaca ganda yang menghubungkan ruang tengah dengan balkon dan menyibak tirai lebar-lebar. Ia selalu suka hujan, meskipun itu terdengar klasik. Ia tidak bisa duduk di balkon karena hujan disertai angin mungkin tempias sampai ke balkon. Ia duduk di sana, ditemani laptop dan segelas susu cokelat hangat dan lagu-lagu ballad koleksinya. Waktu yang sempurna untuk menulis, pikirnya sejak hujan mulai turun tadi, sampai sekarang.

“Tidak terasa hari sudah sore. Matahari mulai turun dan—Astaga! Kenapa ini terdengar seperti Teletubbies?!” gadis itu mendengus. Sudah satu jam ia berkutat dengan laptopnya, dalam waktu yang ia sebut sempurna untuk menulis tadi, yang

(16)

Gadis itu melepaskan matanya dari laptop yang menjengkelkan untuk menatap ke horison timur, arah flatnya menghadap. Matahari memang sedang turun, menyisakan hanya semburat jingga di antara deret bangunan pencakar langit, yang berwarna lemah karena tertutup mendung dan bias hujan. Pemandangan yang cantik, sebenarnya. Pergantian siang dan malam, cahaya yang remang, Sophie merasa bahwa saat matahari terbit dan saat matahari terbenam adalah sebuah keajaiban. Ia merasa mendapat inspirasi dan bersiap mengetik ketika suara teriakan samar terdengar dari jalan di bawahnya. Sontak Sophie melongokkan kepala, berharap melihat sesuatu di sekitar situ, namun tidak berhasil menemukan apa-apa.

Sophie berdiri dan cepat-cepat menutup kembali tirainya saat seseorang mendekapnya dari belakang. Ia nyaris melompat kaget, sebelum akhirnya bernapas lega. Aroma ini... ia mengenalinya.

Ethan Allen, meletakkan mug di tangannya ke atas meja, asap mengepul dan aroma susu cokelat panas menguar sedap dari sana. Masih dengan satu tangan menempel ketat di perut Sophie, ia melayangkan tangan satunya yang bebas untuk menyentuh rambut gadis itu, merapikannya, dan merelakan sepersekian detik untuk membebaskan kedua tangannya guna menguncir rambut berantakan gadis itu.

Kemudian kedua tangan itu memeluk Sophie lagi, lebih erat. Ethan mengistirahatkan dagunya di puncak kepala gadis itu, bertanya-tanya kenapa gadis ini pendek sekali?

Kurus sekali? Kecil sekali.

“Sofia?” panggilnya. Ia lebih senang memanggil gadis itu dengan nama Indonesianya yang benar, Sofia Hawa Riandi. Dan Sophie membiarkan pria itu sebagai satu-satunya yang memanggilnya begitu, ia akan selalu memperkenalkan diri sebagai Sophia Riandi kepada semua orang.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur. Ia hampir tidak sempat beristirahat, sebelum sampai di sini.

(17)

“Menulis, seperti biasanya,” balas Sophie, suaranya lebih tidak terkontrol.

“Aku membuatkanmu susu.”

“Aku sudah—“

“Kau membuatnya lebih dari satu jam yang lalu—aku belum terlalu tidur waktu itu—sekarang pasti sudah dingin. Jadi aku membuatkan yang baru.”

“Hm. Terimakasih.”

Hanya itu yang bisa Sophie katakan. Dalam hati ia sibuk mensugesti diri agar tetap bernapas, karena jantungnya dan otaknya benar-benar lumpuh dengan perlakuan intens pria itu. Dia tidak sadar apa?! Dia bisa membunuh kekasih kecilnya ini kapan saja dengan semua hal manis itu.

Sophie menggeliat kecil, ia ingin kembali duduk dan menulis, meski ia tahu seluruh fokusnya sudah buyar sekarang dan mustahil ia bisa melakukan sesuatu yang normal hingga beberapa jam mendatang. Tapi pria ini menahannya untuk tetap berada di pelukannya, dengan kekuatannya yang jelas jauh lebih besar itu. Sophie tidak akan bisa kemana-mana.

“Kekasihmu datang jauh-jauh dan kau malah sibuk dengan laptopmu. Tega sekali,” gumam pria itu dalam suara merajuk dibuat-buat. Hanya satu yang bisa Sophie sempat pikirkan; tidak cocok.

“Kau mau bagaimana?”

“Temani aku.”

“Aku di sini dan tidak kemana-mana dari tadi.”

“Haish, kau tahu bukan itu maksudku.”

(18)

Sophie terkikik dan menahan diri mati-matian agar tidak tertawa lebar atau mengamuk, Ethan menggelitik pelan pinggangnya. Pelan saja, tapi pria itu tahu benar bahwa tubuhnya keterlaluan sensitif, satu sentuhan saja sudah berhasil membuat semua bulu di kulitnya berdiri, apalagi gelitikan. Pria itu meraih kembali mug susu cokelat, dan tidak melepaskan pinggang gadis itu saat menyeretnya menuju sofa.

“Di luar hujan dan dingin. Saat terbaik untuk menonton film.”

“Film?” Sophie mengernyit. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil beberapa keping DVD dari rak di bawah televisi. “Aku hanya punya ini. Naruto, Inuyasha, Samurai X, Detective Conan, Resident Evil, dan Harry Potter. Kau mau yang mana?” tanyanya sambil menyengir. Ethan mendengus dan tertawa. Ia tidak pernah mengerti dengan selera gadis itu, heran sendiri bagaimana bersemangatnya Sophie setiap membahas anime, novel, atau film-film tidak lazim kesayangannya.

Yah, tidak lazim bagi Ethan, dan yang wajar bagi pria itu selalu yang membosankan bagi Sophie. Bayangkan saja, 2014 dengan ringtone Gangnam style, ia buta media atau apa? Ketinggalan jaman sekali. Untung saja ringtonenya bukan Arirang sekalian.

Yang membuat Sophie takjub kemudian adalah, bahwa pria itu tidak protes, meski ia tidak mengerti sama sekali tentang Naruto. Atau memang ia tidak berusaha mengerti. Pria itu membiarkan Sophie berteriak-teriak histeris melihat Uchiha Sazuke dan pertarungan-pertarungannya. Sementara ia menyandarkan kepala gadis itu di dadanya, memeluknya, dan berusaha menghafali aromanya.

“Sofia?”

“Hm?” Sophie menggunakan remote yang tidak pernah lepas dari tangannya untuk memperkecil volume. Gadis itu mendongak, mempertemukan tatapannya dengan tatap teduh Ethan.

“Menurutmu... sampai kapan kita akan seperti ini?”

(19)

“Seperti... apa?”

“Seperti sekarang. Aku... bahagia. Dan aku sangat takut kehilangan kau.”

Aku takut kehilanganmu melebihi apapun. Lagi-lagi, Sophie tidak bisa mengatakannya. Hanya memdekatkan posisi mereka dan menyamankan tubuhnya.

“Sofi?”

“Hm?”

“Aku menyayangimu.”

***

Dasar bodoh. Pria berambut flaxen yang tersisir rapi dan licin ke belakang itu menyeringai sinis. Di bawah kakinya, tertelungkup seorang pemuda dengan jins dan jaket denim serta kaos yang koyak-koyak. Rambut hitamnya bercampur lumpur dan genangan air hujan. Ia masih memberontak sesekali, meraung keras, lalu diam dan menggeram halus karena lelah. Bagaimana pun ia berusaha meronta dengan sepenuh kekuatannya, pria tinggi dan langsing ini selalu berhasil menjatuhkannya kembali dan menindihnya hanya dengan kaki, kekuatannya benar-benar melebihi apa yang terlihat.

“Diamlah, Bodoh!” desis Evan.

“Lepaskan! Kumohon lepaskan aku! Aku tidak akan mengulanginya!”

Evan menurunkan pantofel hitam mengilapnya dari tengkuk pemuda itu.ia berjongkok di sisinya dan menjambak rambutnya.

“Aku tidak yakin soal lain kali. Kau tahu namaku, kan? Evan si Tidak Kenal Belas Kasih.”

(20)

Perlahan, geraman itu mereda. Max menyerah melakukan perlawanan dan membiarkan rasa sakit membuatnya terkulai tak berdaya di atas kubangan air, disirami hujan yang membuat manusia manapun menggigil hebat jika berada dalam posisi itu. Evan di sisinya, berdiri tenang dengan tangan di saku, membiarkan matanya yang keterlaluan jeli memperhatikan jalanan kecil yang lengang itu. Tidak ada orang. Ini mulai gelap, dan hujan masih begitu deras. Semua yang berjenis manusia pasti memiliki beribu alasan untuk tinggal di dalam rumah, bergelung di dalam selimut, menghindari sakit dan hal apapun yang berbahaya di luar sana. Yah, bahaya. Saat gelap adalah saat semua bahaya yang bahkan tidak terduga mulai merayap bangkit. Kejahatan. Dan ia adalah bagian dari hal itu selama bertahun-tahun.

Sejak belia. Sejak orang tuanya yang saat itu masih bertempat tinggal di Rusia mulai sering bertengkar. Sejak kedua orang egois itu memutuskan bercerai pada akhirnya, memisahkan ia dan saudara kembarnya. Ibunya dan kembar identik Evan pulang ke tanah airnya, Indonesia, negara yang hanya pernah Evan kunjungi satu kali sewaktu ia masih berumur lima tahun. Ia tinggal bersama ayahnya, tertinggal tepatnya, karena tidak ada yang mau menerimanya. Ibunya jelas memilih Ethan yang pintar dan penurut. Dan Ayahnya... bajingan itu juga tidak punya pilihan, ia bahkan menganggap Evan tidak ada. Dan omong-omong, orang itu sudah meninggal dua tahun setelah perceraian, overdosis. Evan, dalam usia menginjak enam belas tahun, menemukan mayatnya, saat petang.

Petang. Waktu favorit Evan. Ia tidak ingin menodainya dengan kenangan yang tidak ingin ia ingat-ingat.

Evan mengedarkan pandangannya melewati lantai dua Da Vinci Lodge, bangunan flat bergaya unik yang ada di depannya. Dan mendadak, ia merasa sesuatu yang hebat tengah menahannya. Ia membeku, namun tidak lama. Tirai jendela di ruangan itu sudah tertutup, sehingga Evan tidak bisa memastikan apakah benar yang ia lihat tadi.

(21)

***

(22)

Tiga

Immortal

“Angin tahu kapan untuk bergerak. Angin selalu bergerak, dan tidak pernah menghilang. Mereka... abadi.”

***

“Haaaaah, aku lapar sekali! Dan sangat mengantuk. Mata kuliah Prof.

Watson tadi benar-benar menguras tenaga!” Sophie bersungut-sungut begitu ia dan kedua rekannya menyusuri koridor luas setelah keluar dari kelas yang terasa pengap.

“Menguras tenaga, bokongmu?! Aku melihat kau sibuk memasukkan camilan ke mulutmu saat di botak tua itu sedang lengah,” sahut Ray sedikit sinis. Ia, yang selalu duduk di sisi Sophie merupakan saksi mata setiap ulah gadis itu di dalam kelas, dan menikmati kudapan diam-diam saat kuliah sedang berlangsung adalah kegiatan favorit gadis itu. Yang benar saja! Bisa-bisanya ada gadis seperti itu.

Sophie menyengir, “itu kan karena aku sangat mengantuk. Makan di kelas diam-diam itu membangkitkan adrenalinku, kau tahu?”

“Yah, terserah kau saja lah. Ngomong-ngomong, ayo ke McDonalds! Aku juga lapar sekali dan sedang merindukan burger jumbo.”

“Setuju!” teriak Sophie. “Kau yang traktir, kan?”

“Apa?!” Ray melotot.

Sekali lagi, Sophie menyengir polos dan menyikut Serra yang sedang sibuk dengan ponselnya. Gadis itu gelagapan selama sepersekian detik, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum minta maaf.

(23)

“Ah, maaf Sophie, Ray. Hari ini aku ada janji dengan Dean.”

Tepat setelah Serra menyelesaikan kalimatnya, seorang pria tinggi dengan otot besar-besar memanggilnya. Selanjutnya ia melambai dan mendatangi mereka begitu ketiga orang itu menoleh. Dean Smith. Sophie mengenalinya sebagai cowok yang cukup populer di kalangan gadis pesolek, dengar-dengar dia sudah mengumpulkan banyak prestasi di bidang Judo.

“Oh, pacar baru lagi,” cibir Ray pelan. Memang sedikit ironi, saat Ray dan Sophie terkenal dengan kejombloan mereka yang mengenaskan, Serra malah mengencani berbagai jenis pria.

Serra mendengus sama pelannya pada Ray sebelum berlari menyongsong Dean dan menyergap pria itu dengan sebuah pelukan. Ia mengalungkan tangannya pada leher kekar Dean, mereka berciuman selama sedetik.

Oh, pemandangan yang tidak indah. Meski hal itu—bermesraan di depan umum—bukanlah barang baru bagi anak muda Inggris—semua orang melakukannya

—tetap saja Sophie harus memalingkan wajah setiap melihatnya. Pertama, karena ia ingat dengan adat ketimurannya. Kedua, hanya karena itu terlalu intim, dan ia terus merasa jijik terhadap itu semua.

“Aku tidak suka dengan Dean itu,” bisik Ray pelan.

“Sama.” Sophie membalas sama pelannya.

Seolah sadar dengan pelototan tidak nyaman kedua sahabatnya, Serra buru- buru melepaskan tautan mereka, sebagai gantinya, ia menggandeng lengan Dean.

“Baiklah, aku duluan, ya. Semoga kalian bersenang-senang!”

Dan bahkan pasangan itu melenggang pergi sebelum melihat apakah orang

(24)

“Ngomong-ngomong, kita jadi makan, kan, Ray? Sepertinya cacing di perutku mulai berdemonstrasi—Ray?”

Pria itu tidak mendengar, meskipun Sophie menyikutnya. Sophie bahkan berani bertaruh Ray sedang berusaha untuk tidak berkedip. Dan Sophie hafal di luar kepala alasannya. Ia mengikuti arah pandang Ray dan segera menemukan gadis itu.

Summer Julie Blackwood. Gadis tinggi dan kurus, dengan wajah tirus dan rambut kaku yang terlihat agar menyeramkan, terutama karena tatapan dinginnya,.

Gadis itu tengah berjalan lurus melintasi mereka sambil mendekap buku-buku tebal di tangannya dengan wajah fokus menghitung setiap langkahnya—setidaknya kelihatan begitu, ia terus menunduk. Oke, Sophie juga pemalu dan cenderung menunduk ketika berjalan, tapi ia tidak merasa separah itu. Setidaknya ia bisa bercakap dengan cukup wajar dengan orang lain jika semangatnya sedang cukup bagus, dan ia masih mempunyai teman. Tapi gadis itu, menatap horor pada semua orang dibalik rambut hitam lurusnya, seperti tokoh Sadako di film hantu Jepang. Dan dapat dipastikan, gadis itu hanya mampu bertahan hidup di perpustakaaan dan toilet, atau tempat sepi, dan bersahabat karib dengan kitab-kita kalkulus—semacamnya, yang jelas buku-buku tebal. Aneh saja tidak akan cukup untuk mendeskripsikannya.

Namanya saja yang Summer, kelakuannya benar-benar seperti batu es dari kutub utara.

Kalau ada yang lebih aneh dari itu, mungkin dia adalah Raymond Ayers, pria ajaib yang menggilainya setengah mati. Tidak, bukan setengah, tiga perempat, mungkin.

Sebelum sempat Sophie menginterupsi, pria itu seolah memiliki refleks tersendiri dalam tubuhnya untuk segera mengejar Summer bahkan sebelum otaknya berhasil mencerna apa yang terjadi. Dalam sekejap saja, si keriting-pirang-agak- sinting, Ray, sudah berdiri memblokir jalan gadis itu.

(25)

“Hei,” sapanya dalam suara parau karena gugup.

Summer hanya diam tidak menjawab, seperti diperkirakan. Namun matanya mendelik sedikit, tanda bahwa ia memperhatikan kehadiran Ray, ia melirik pria itu sesekali di bawah bulu matanya yang tipis, bergantian dengan betapa perhatiannya ia dengan ujung sepatunya.

“Kau... mau kemana?”

Masih tidak ada jawaban. Sophie berani bersumpah bahwa itu adalah pertanyaan yang keterlaluan bodoh. Bahkan seluruh Greenwich juga sudah tahu kalau gadis itu hanya mungkin berada di dua tempat; kelas dan perpustakaan. Karena ia mengambil arah barat, dipastikan ia akan ke perpustakaan.

“Aku... aku hanya ingin mengatakan kalau... swetermu tampak bagus hari ini.

Kau terlihat lebih cantik.”

Sebagai sahabat Ray, Sophie meringis. Baju itu memang jarang dipakai, tampaknya, tapi Sophie yakin pernah melihat sebelumnya, jadi itu bukan sweter baru lagi. Kenapa ia baru membahasnya sekarang? Ah ya, karena Ray memang akan selalu kehabisan topik jika mencoba mengajak bicara si patung berjalan itu. Di luar saja Ray tampak ahli dalam masalah percintaan, mengira dirinya titisan Dewa Amor karena anak-anak idiot yang sedang kasmaran itu mendatanginya untuk meminta nasehat.

Kenyataannya, Ray bahkan tampak begitu memalukan jika dihadapkan pada seorang Summer.

Sama saja dengan dirinya setiap berada dalam radius sepuluh meter dari Shin Ethan, prianya. Cinta itu kedengaran payah.

Ray tampak menggaruk kupingnya. Dan Summer diam, masih mendelik dingin. Astaga, gadis itu benar-benar tampak mengerikan. Dia benar-benar Sadako

(26)

berangsur-angsur berlalu setelah Summer melangkah pergi, masih tanpa mengatakan apa-apa pada Ray. Sophie melihat Ray tertunduk masam sepeninggal gadis itu.

Seperti biasanya, penolakan ke sekian ribu itu masih berhasil membuatnya patah hati.

Tapi Sophie tahu, pria itu akan jatuh cinta lagi setiap melihat gadis itu melintas.

Semudah itu.

“Lihat. Kau jelas-jelas ditolak.” Sophie menepuk pundak pria itu.

“Tidak. Kau tidak tahu saja, Sophie. Dia hanya perlu waktu.”

Oh, my goodness. Apa kau tidak melihat?”

“Apa?”

“Cincin. Ada cincin di jari manisnya.”

***

Max melangkah maju, sangat pelan. Seolah ia tidak ingin penglihatannya pada gadis itu berguncang karena gerakan tubuhnya sendiri. Sementara Evan mengambil sebuah buku paling tebal dengan kertas yang sudah menguning dan sampul terkelupas. Ia tidak berniat membacanya, hanya pura-pura. Supaya petugas penjaga perpustakaan, seorang wanita gendut dengan dagu runcing dan tampang galak yang setia mengawasi setiap orang tidak melirik sekali lagi kepadanya. Pada kenyataannya, sudut matanya masih dapat diandalkan untuk mengawasi Max.

Ini bukan tempat mereka. Tidak ada tempat berpendidikan untuk anak-anak jalanan seperti ia dan anggota gangnya. Yang hidup—bnar-benar hidup—di malam hari, menjadikan alkohol sebagai komsumsi pokok mereka, dan melakukan kerusakan di seluruh kota. Tidak hanya fasilitas umum, tapi kadang...para gadis juga. Well, Evan tidak cukup menyukai kegiatan itu, ia lebih suka sesuatu yang menantang adrenalinnya; berkelahi, atau yeah, merampok toko. Ia terbiasa dengan kehidupan macam itu sejak remaja.

(27)

Jadi kampus universitas sama sekali bukan tempat mereka. Ia merasa risih, bukan takut atau apa. Hanya... tidak nyaman. Jika saja bukan si bayi besar Max yang merengek-rengek ingin menemui pacarnya yang tampak aneh itu, ia jauh lebih baik menghabiskan waktu untuk tidur , bukannya memamerkan kantung mata di depan para mahasiswi-mahasiswi yang cekikikan padanya di sudut meja yang lain itu.

Satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini adalah membawa kedua kaki panjangnya jauh-jauh dari sini. Ia tidak suka tempat ini. Sama sekali. Namun sebelum ia sempat melaksanakan niatnya, sebuah suara menahan kakinya tetap di situ. Suara yang familiar, bergerak mendekatinya.

Evan mengangkat wajahnya, dan menemukan dia. Dia adalah seorang gadis mungil dengan sweter kebesaran dan jins kusam. Rambutnya cokelat gelap yang dikuncir asal-asalan, masih lembab dan beraroma kuat lilac.

“Dasar keras kepala! Apa kau tidak punya urat malu, huh? Kau ditolak untuk ke sekian ratus ribu kali sudah,” cibirnya.

“Hei! Kau itu temanku atau bukan, sih?!” jawab pria di sampingnya.

Evan menemukan dirinya terpaku mendengarkan gadis itu, suara kekanak- kanakkannya, juga tampak sampingnya. Semua itu tidak asing. Kemudian, seolah sadar sedang diperhatikan, gadis itu menoleh tepat ke arah Evan. Untuk sepersekian detik tatapan mereka saling mengunci. Untuk sepersekian detik itu juga Evan merasa... ada yang salah. Mendadak semua kemampuannya untuk mendengar, mencium, dan melihat dengan tajam menghilang; ia hanya bisa menemukan gadis itu.

Tidak, ini bukan hal semacam jatuh cinta atau bagaimana. Hanya... menatap gadis itu membuatnya tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. Gadis itu... tidak asing.

Dan sekelebat ingatan menghantamnya seperti hujan ribuan jarum secara tiba-tiba.

(28)

Chita, Russia.

“Katya Astyafyeva! Anak nakal! Kembali dan bersihkan rumah!”

Evan terbangun dari istirahatnya mendengar teriakan itu. Betapa menyebalkannya. Suara seorang wanita setengah baya, ia yakin tadi, padahal berjarak tidak dekat, tapi suaranya memekakkan telinga. Evan harus mengutuk kemampuan pendengarannya yang puluhan kali lebih baik dari milik manusia, dan mengutuk makluk berjenis wanita itu. Dimana-mana mereka sama saja, begitu berisik.

Evan menegakkan tubuh dan berdiri di bawah matahari musim dingin yang lemah. Matahari musim dingin, ia masih bisa menahannya sehingga tidak perlu repot-repot menyembunyikan diri seperti halnya saat datang musim panas. Ia bukannya vampire yang akan mati terbakar jika berada di bawah sinar matahari.

Tapi tetap saja, terik itu terasa seperti menghanguskannya, ia tidak menyukai rasa panas itu. Kulitnya agak sensitif soal cahaya. Ia menatap lurus ke arah dimana suara melengking tadi berasal. Dari sebuah rumah sederhana, kasta rakyat biasa, golongan pedagang, kira-kira. Dan ia melihat seorang gadis berlari keluar, mengangkat gaunnya hingga batas lutut agar ia bisa berlari lebih bebas. Itu... aneh.

Evan mengernyit. Seorang gadis tidak seharusnya mengangkat gaunnya setinggi itu.

Tidak seharusnya ia berlari seperti pencuri. Tidak seharusnya juga ia diteriaki dengan begitu ganas. Di jaman itu, seharusnya gadis-gadis dari golongan mereka tinggal di rumah, memasak dan bersih-bersih. Bukannya... bukannya lari keluar rumah demi salju.

Yah. Salju. Sekarang Evan mengerti alasan gadis itu kabur. Salju mulai turun, dan gadis itu tampak gembira. Ia berlari sejauh yang ia bisa dari rumahnya, baru berhenti di sebuah tanah lapang tertutup salju, dipagari pepohonan cemara, gadis itu berputar-putar riang di atas tumitnya dan menangkap salju dengan kedua telapak tangannya yang telanjang tanpa sarung.

(29)

Evan mendengus. Seperti anak kecil. Padahal dari aromanya, Evan bisa memperkirakan bahwa gadis itu telah berada di ujung masa remajanya, sembilan belas tahun, sekitar itu. Ia seharusnya sudah cukup dewasa meski tubuhnya agak lebih kecil dari seharusnya.

Evan merasakan kakinya, juga matanya tidak bisa beranjak dari sosok itu.

dari rambut gelapnya yang ikal, kulit putihnya yang aneh—kulitnya agak kekuningan seperti orang Asia, tidak seperti orang Russia pada umumnya—bibirnya ketika tersenyum, matanya yang berwarna cokelat gelap... ia cantik. Ia mendengar denyut jantung gadis itu, membaui aromanya yang pekat ditengah-tengah salju. Ia masih memiliki keinginan kuat untuk mencicipi jantung gadis itu, perasaan laparnya bangkit bergejolak. Tapi ia menemukan dirinya tidak bisa erbuat apa-apa, bahkan sekedar untuk bergerak. Ia hanya menatap gadis itu dari kejauhan, dan tahu... ia akan datang lagi ke sini esok hari untuk menemukan gadis itu lagi.

Untuk pertama kalinya, Evan merasa memiliki sebuah jantung yang hidup dan berdetak kencang di balik rusuknya. Meski kenyataannya tidak.

Dan sekarang, kembali kepada waktu dimana saat ini ia berada, kembali ke tujuh ratus tahun setelahnya, perasaan itu kembali memborbardirnya. Di waktu yang berbeda, kota berbeda, gadis berbeda, namun ada sesuatu padanya yang terasa begitu familiar, Evan merasa yakin. Mata cokelatnya yang mirip—ah, persis milik Katya, caranya menatap, caranya tersenyum, suaranya... seolah Katya dilahirkan kembali dalam wujud gadis itu. Katya, gadis yang pernah membuat seluruh tubuhnya merasa aneh. Sekarang, entah bagaimana melihat gadis ini—meski bukan untuk pertama kali, meski ia sudah melihatnya sebelumnya—membuatnya selalu merasa aneh.

Tepat saat bersamaan, sebelum Evan berhasil benar-benar pulih dari kenangan-kenangan yang menyerangnya, dengan sudut mata ia menangkap gerakan

(30)

jantung yang berdegup begitu kencangnya membuyarkan semua konsentrasi Max, ia kehilangan pikirannya tentang Summer dan mengikuti insting membunuhnya. Ia menyerang pria itu.

Kejadiannya begitu cepat bahkan untuk masuk dalam hitungan detik. Evan, dengan pergerakan yang jelas lebih terlatih, berhasil menghentikan pria itu tepat di detik terakhir, saat jemari Max sudah berubah runcing dan hampir menyentuh dada Ray. Ia menangkap kedua pergelangan Max dengan kuat dan memelintirnya ke belakang. Lalu, tatapannya terhenti pada mata gadis itu. Gadis itu, sekarang ia melihatnya dalam jarak dekat. Perasaan itu memabukkan, dan itu harusnya sudah cukup, ia tidak boleh terlibat lebih banyak. Secepatnya, sebelum siapapun sempat mengerjapkan mata, ia sudah membawa Max lari bersamanya, melompat melalui jendela besar di perpustakaan yang berada di lantai tiga itu.

Ketika semua orang sadar, mereka hanya bisa merasa kaget. Semuanya akan berpendapat sama; mereka akan merasa mendengar bunyi berisik yang keras namun sangat singkat, merasa ada angin aneh di sekitar mereka, dan angin yang tersisa di sekitar jendela perpustakaan. Tidak seorang pun akan berpikir dua orang pria telah melompat dari sana, lagipula itu memang tidak mungkin.

Ray meringis, merasakan perih di dadanya. Ketika ia memeriksa, ia menemukan ada tiga robekan kecil di kemejanya, ada gores kecil di dadanya. Dan ia tidak punya alasan kenapa.

“Sophie, aku merasa sesuatu yang aneh telah terjadi di sini tadi...” Ia menoleh pada Sophie, menemukan gadis itu menatap jendela dengan ekspresi kosong.

“Sophie?”

Sophie tidak mendengar. Barusaja... barusaja ia merasa sepasang mata biru ke-abuan telah menatapnya tadi, dan aroma dingin musim dingin terdingin tertinggal

(31)

di indera penciumannya. Entah bagaimana ia merasa, dan yakin, ada seseorang tadi, dan orang itu tidak terasa benar-benar asing.

***

(32)

“Kau... jatuh cinta? Ehm—maksudku, kau menemukan... apa itu namanya.. err...

blackrosemu?”

“Ya. Namanya Sophie.” Seketika, Max bisa melihat kesakitan di mata Evan, yang tidak pernah ia saksikan. “Aku harus bagaimana?”

***

Ethan menaburkan kacang, lalu menghiasnya dengan bebeapa iris lemon dan jeruk di atas krim, terakhir mengelap pinggiran piring saji St. Clement’s Pie yang baru selesai ia sajikan sebelum menyerahkannya pada Mr. Wood, kepala koki di restoran itu. Pria tinggi dan tambun yang usianya tidak kurang dari lima puluh tahun itu mengangguk singkat dengan wajah puas sebelum menyorongkannya pada pelayan untuk segera di hidangkan. Seorang anak laki-laki kecil dari keluarga kecil yang katanya datang dari Jerman untuk berlibur di London itu menginginkan St. Clement’s Pie, pie jeruk khas British kesukaannya sebagai kue hadiah ulang tahun. Dan Ethan berusaha sebisanya agar menghasilkan makanan terbaik.

“Kerja bagus,” ujar sang kepala koki pada Ethan, dan rekan-rekan yang lain.

Ia melirik jam dinding besar yang tergantung tepat di arah jam dua belas dari sudut penglihatannya. Sudah lewat tujuh menit dari jam sepuluh. “Ini pelanggan yang terakhir kukira, sudah waktunya restoran untuk tutup. Kalian boleh pulang duluan.”

“Terimakasih, Chef,” sahut semua orang nyaris berbarengan.

Ethan melepaskan topinya dan sarung tangan, ia berjalan ke arah ruang ganti.

Disimpannya seragam serta semua kelengkapannya sebagai asisten koki di dalam loker, dan menukarnya dengan pakaian ganti serta ranselnya. Pria itu membuat gerakan meluruskan punggung sebentar sebelum melangkah keluar dari ruang ganti.

Rasa-rasanya tubuhnya sudah mau rontok karena bekerja, meskipun ini baru hari pertamanya. Itupun sebuah pekerjaan yang ia dapatkan dari seorang koki kenalannya

(33)

yang memiliki hubungan dengan pemilik restoran di Inggris ini. Siang di Inggris yang lebih panjang dari Indonesia belum bisa benar-benar ia adaptasi. Benar-benar.

“Hei, Sobat!” Seseorang masuk, pria dengan bintik-bintik merah di hidungnya yang begitu ramah. Ia mengalamatkan tatapannya pada Ethan. “Ada seorang gadis menunggumu di luar. Pacarmu, ya?”

“Gadis?”

Tanpa berpikir banyak, Ethan segera mengambil ransel dan jaketnya untuk berlari ke luar ruangan, bahkan ia lupa untuk sekedar membalas pertanyaan rekan barunya tadi dengan benar. Satu hal yang bisa ia pikirkan hanya kekhawatiran.

Sofihee kah? Bagaimana mungkin gadis itu ada di tempat kerjanya malam-malam begini? Tapi... ia sendiri tidak memiliki kenalan lain di negeri asing ini.

Cukup dengan melihat punggungnya saja, yang saat itu sedang duduk di tangga di luar restoran, menghadap jalanan di luar, Ethan sudah bisa menyimpulkan bahwa tebakannya tidak salah. Ethan segera melangkah lebih cepat menghampirinya.

“Sofi?”

“Oh?” gadis itu berbalik, hidungnya mulai memerah karena udara dingin.

“Kau lama sekali?”

“Apa yang kau lakukan di sini?!”

Sophie—gadis itu—tidak langsung menjawab. Ia mencebik dan memperlihatkan dua kantung belanjaan besar. “Aku berbelanja tadi, dan kupikir...

kau bisa memasakkannya untukku.”

“Berapa lama kau menungguku?”

(34)

“Ya Tuhan! Kau di luar saja? Bahkan kau tidak memakasi jaket. Kau pikir tubuhmu itu robot? Kau bisa sakit, tahu!”

Tepat setelah Ethan mengatakannya, gadis itu segera bersin, dan menyengir.

Ia memang tidak memiliki sistem pertahanan tubuh yang cukup bagus.

Terburu-buru Ethan melepaskan jaketnya dan memasangkannya di pundak Sophie. Sophie tertegun, namun tidak cukup terkejut mendapati prianya ini adalah tipe pria klasik, gentleman yang menjadi impian setiap gadis. Apa yang sudah ia lakukan sampai ia bisa mendapatkan pria seperti ini?

“Ayo pulang ke flatku, jaraknya tidak jauh dari sini,” ujar pria itu seraya menggenggam tangan Sophie yang bebas dari sarung tangan, sama seperti tangannya sendiri. Kulit bertemu kulit. Mereka sama-sama tidak memakai sarung tangan, tapi anehnya... itu terasa hangat sekali.

“Aku tidak bawa mobil, dan flatku cukup dekat kok dari sini, kau tidak keberatan, kan jalan kaki?”

Sophie mengangguk. Tentu saja. Bukankah berjalan bergandengan tangan di bawah lampu-lampu sepanjang jalanan Creek Road di bawah langit London yang terbiasa muram seperti ini lebih romantis? Uh, ia hampir mati kedinginan tadi dan masih sempat-sempatnya memikirkan hal romantis.

***

Mereka mengambil simpang ke kiri, memasuki Norway Street sebelum kemudian nanti belok ke kiri lagi untuk sampai di Dowells street, letak flat Ethan berada. Di seberang jalan, di sisi jalan yang tidak terjangkau peron lampu, pria—

makhluk—itu menatap lurus pada keduanya. Tanpa kedip. Tanpa pergerakan apa-apa.

Tanpa hela napas sekalipun. Tidak ada yang bisa terbaca dari ekspresi Evan, wajahnya masih seperti biasa—kaku. Yang ia tahu hanya... ada perasaan tidak senang

(35)

berkecamuk di dadanya melihat mereka berjalan bergandengan tangan. Ada perasaan... bahwa ia ingin, ingin sekali menggantikan posisi pria di sana itu, menggenggam tangan gadis itu dan berada di sisinya sepanjang waktu tanpa potensi menyakitinya atau apa. Ia diingatkan kembali sekarang pada rasa yang terkubur ratusan tahun silam, meski ia memang tidak pernah bisa benar-benar melupakannya.

Saat itu, setiap melihat gadis itu dari jarak yang ia anggap aman, semua yang bisa ia lakukan hanyalah menyumpah dan berharap, seandainya ia bisa dilahirkan sebagai manusia biasa. Sebagai makhluk yang lemah itu. Makhluk yang bisa mati dengan mudah. Makhluk yang kompleks dengan perasaan dan ekspresi mereka. Makhluk yang setara dengan gadis itu dan mampu melindunginya, atau setidaknya mengira bisa melindungi orang-orang yang dicintai padahal tidak. Setidaknya, makhluk seperti manusia tidak makan jantung manusia lainnya, dan itu adalah poin paling melegakan jika saja ia menjadi manusia.

Ia tidak bisa bersama gadis itu karena rasa haus dan laparnya. Ia takut...

kehadirannya hanya akan menyakiti gadis itu, Katya. Dan ia pasti akan lebih mengutuk diri jika sesuatu terjadi pada gadis itu. Hal sial dari menjadi seorang Serdtser adalah bahwa kau tidak akan segampang itu jika ingin mencoba mati dan bunuh diri untuk mengakhiri semua rasa sakit, kau ditakdirkan menjadi makhluk abadi.

Katya. Seiring waktu Evan melihat gadis itu terus bertumbuh dewasa, ia menemukan cinta pertamanya sekaligus orang yang tepat untuknya beberapa tahun kemudian, seorang pria yang setara. Evan menyaksikan mereka menikah, lalu melahirkan anak-anak, dan Katya... terus berubah. Dalam waktu yang tidak begitu terasa, Evan mendapati dirinya masihlah sosok yang sama. Jaman berganti tapi ia masih setia dengan light blonde licin yang disisir ke belakang. Dan Katya sudah sama sekali tidak mirip gadis belia cantik yang pertama kali ia lihat membuatnya merasa

(36)

singkat itu bersamanya, menjadi tua sama-sama. Sayangnya, bahkan gadis itu tidak pernah menyadari keberadaannya. Sampai hari dimana Katya bernapas untuk terakhir kali di depan suami serta cucu-cucunya, Evan tahu... ada rasa sakit yang tidak akan pernah ada obatnya, yang akan ia tanggung sepanjang eksistensinya. Ia tidak akan pernah melihat Katya lagi.

Ternyata ia salah. Ia menemukan lagi gadisnya, dalam diri gadis itu. mereka tidak benar-benar mirip, namun Evan tahu bahwa gadis baru itu memiliki mata dan tawa yang persis seperti milik Katya. Sophie namanya. Sedikit sial, karena Sophie telah menemukan seorang pria yang setara di sisinya.

Blackrose... Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini... aku harus berhasil bersamamu.”

***

“Enak?”

Sophie menggangguk.

“Kenapa diam saja?”

“Aku...,” Sophie mengernyit. “Aku kenyang,” katanya sambil menyendok lagi dengan lemah sup kimchinya, dan memakannya bersama nasi. Sudah berapa lama ia hidup di London, makan tanpa nasi rasanya tetap seperti bukan makan. Ia berkhayal bisa memakannya selahap mungkin, semua tampak terlalu lezat dan menggiurkan.

Namun menyadari pria itu ada, duduk di sisinya, dan hampir seperti memperhatikan setiap gerak geriknya, seluruh rasa laparnya menguap entah kemana.

“Tidak usah memaksakan diri.”

“Tapi aku baru makan separuh.”

“Yah, perutmu kecil sekali. Sama seperti tubuhmu.”

(37)

Sophie mendelik. “Itu normal, kan? Kau mau memangnya berjalan bersama seorang gadis dengan badan kecil dan perut besar? Bisa-bisa aku dikira hamil.”

Ethan terkekeh. “Aku tidak keberatan.” Yang disambut Sophie dengan memutar bolamatanya.

“Astaga aku benar-benar kenyang!” Sophie menyerah, ia membalik sendok supnya dan bersandar di kursi. “Aku tidak ingin seperti gadis kebanyakan, yang makan sedikit demi gengsi di hadapan seorang pria. Aku ingin seperti gadis-gadis dalam novel dan drama yang bisa makan banyak tanpa merasa malu di hadapan pria itu.”

“Kau malu?”

“Yah... sedikit. Aku bukannya gengsi, tapi... kau tahu, aku merasa mulas dan kehilangan selera makan setiap melihatmu? Aku tidak mungkin makan sebanyak ini.”

Ethan tertawa, mengacak rambut Sophie.

“Percaya sekali dengan drama. Gadis yang kau iri itu tidak masuk akal, tetap kurus meski banyak sekali makan. Mereka cacingan memangnya? Tapi Sofi, aku minta maaf jika aku memang benar-benar menghilangkan selera makanmu. Kau mau aku pergi sebentar?”

Sophie mendongak, membiarkan irisnya menemukan kembali manik gelap pria itu meski sadar benar akan resikonya, ia akan kacau. Kemudian menggeleng, memutuskan bahwa kehilangan makanan lebih baik daripada kehilangan pria ini barang beberapa detik saja. Padahal selama dua puluh tahun hidupnya, makanan tetap berjaya dalam hal paling penting nomor satu menurut Sophie.

“Aku ingin kau makan dengan baik,” ujar Ethan lagi, merapikan anak rambut

(38)

“Aku juga sedang berusaha,” sungut gadis itu, kembali cemberut.

Sophie menatap piringnya lagi, mendengarkan baik-baik cara pria itu tertawa kecil sekarang. Entah sampai kapan, suara dan tawa pria itu akan selalu menjadi kesukaannya.

“Kalau sudah selesai, cuci piringnya sana!”

“Apa?” alis Sophie berkerut. “Biasanya kau yang mencucinya. Ini kan flatmu.”

“Istriku setidaknya harus bisa mencuci piring,” Ethan menyeringai setelah tadi penuh penekanan pada kata pertama; istri. “Yang bersih ya, Sayang.”

“Haish. Sayang, pantatmu!”

***

“Dasar aneh,”

Ethan menemukan Tim, rekannya yang bekerja sebagai pelayan di Th Duke.

Bersungut-sungut mendekati meja saji. Pria tinggi dan periang itu tidak biasa- biasanya menggerutu soal pelanggan.

“Ada apa?” tanya Ethan, bergerak mendekat karena penasaran.

“Ada yang minta jantung, kau buatkan satu porsi. Aku akan mengantarkan wine pesanannya.”

“Jantung?”

“Yeah, makanya kubilang aneh. Dia tidak peduli itu jantung apa, yang penting jantung, katanya.”

(39)

Sesaat Ethan ikut mengernyit, sebelum mengendikkan bahunya dan berkata,

“baiklah, akan kusiapkan,” ia menoleh pada rekannya yang lain. “Drew, kau masih menyimpan jeroan sapi yang tadi, kan?”

“Ada di lemari pendingin!”

Dengan cekatan, pria itu memutuskan untuk memasak modifikasi dari Cassoulet. Dia menggoreng bawang dan saus di wajan panas sambil dengan cekatan membersihkan dan memotong-motong jantung sapi yang disimpan Drew di lemari pendingin. Kemudian ia mencampur seledri, wortel, tomat, jantung, dan seluruh bahan bersama saus, sebelum kemudian menambahkan red wine dan air dingin. Lima belas menit, hidangan sudah siap, namun lima menit setelah disajikan, ia melihat Tim kembali.

“Ada apa?”

“Pelanggan yang tadi itu, ia ingin bertemu denganmu.”

***

Tinggi, ramping, rambut pirang cerah, dagu runcing, mata biru yang tajam.

Orang ini Eropa sekali, dan Ethan merasa yakin ia tidak pernah mengenal pria ini sebelumnya. Hal yang aneh mengingat pria itu tadi ingin bertemu dengannya, dan sekarang hanya diam memandanginya. Cassouletnya tampak habis, namun ia tidak menyentuh winenya sama sekali. Padahal itu Agricola Punica 2009, wine dari Italia yang berharga selangit.

“Apa kau menyukai masakanku? Atau ada masalah?” Ethan memutuskan untuk segera mengakhiri keheningan itu.

“Tidak. Makanannya lumayan,” jawab pria itu kaku. Kemudian diam lagi.

(40)

Pria itu masih diam. Ethan merasakan kerisihan yang makin besar, pria ini seolah menelitinya, hampir persis seperti seorang anak TK yang melihat hasil kerja temannya untuk menyontek. Tatapan pria asing itu benar-benar tajam.

Ethan berdeham lagi. “Kalau tidak ada apa-apa, saya akan kembali ke dapur, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”

Pria berambut pirang yang benar-benar terang itu hanya mengangguk singkat dan menjawab “ya,” yang tidak terdengar begitu jelas. Kemudian Ethan memohon diri dan meninggalkan kursinya. Meninggalkan serta pertanyaan-pertanyaan juga rasa penasaran. Tim benar, tamu mereka kali ini memang aneh. Benar-benar aneh.

***

(41)

Lima

Eternally

“Karena selamanya dan selama-lamanya memiliki arti yang berbeda.”

***

Cincin ini. Cincin sederhana dengan permata rubi kecil berbentuk hati di tengahnya, di jari manisnya. Summer tidak tahu kenapa ia masih berusaha mempertahankannya, seakan ia sedang mempertahankan semua kenangannya, impiannya, pertaruhan masa depannya, hanya pada sebentuk cincin itu.

Semua orang mengatakan pria itu sudah meninggal di medan perang. Yah, sudah berbulan-bulan sejak Max menelponnya, sekedar bertukar kabar dan memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Pria itu berjanji setelah kontrak dan tugas militernya habis, ia akan mengundurkan diri dari angkatan darat, dan memulai kehidupan yang baru sebagai pria yang bebas bersama Summer. Mungkin mereka akan berwira usaha? Max mengatakan ia ingin sekali memiliki peternakan. Ide yang tidak buruk bagi Summer yang mencintai kedamaian, angin gunung di atas bukit, mendengarkan suara kuda-kuda di kejauhan bersama pria itu, terdengar... sangat menyenangkan. Sekaligus sangat jauh. Kabar tentang kematian pria itu menghancurkan semua khayalannya. Summer tidak ingin memercayainya, selama jasad Max belum ditemukan dan bisa ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mau memercayainya. Max akan kembali. Pasti. Sampai saat itu Summer hanya akan terus menenggelamkan diri dalam tumpukan buku-bukunya, berharap semua itu membantu meredam rasa sakit meski hanya sedikit, membiarkan dirinya tidak terawat, dan semakin dingin. Ia sudah menjadi gadis pendiam sejak dulu, namun sekarang ia menjadi gadis pendiam yang mengerikan. Tidak ada yang mau

(42)

Summer memejamkan mata dan memasang kembali cincinnya. Seharusnya ia tidak boleh lama-lama menatap cincin itu—cincin yang hampir menjadi cincin pernikahannya—atau ia akan menangis. Dan ia tidak ingin menangis di sini, di tempat orang lain bisa melihatnya. Gadis itu mendekap bukunya lagi dan berdiri, meninggalkan bangkunya, bangku taman paling ujung dimana ia duduk sendirian.

Sepagian itu sudah mulai banyak mahasiswa berdatangan, dan itu bukan lagi tempat Summer, ia akan mencari yang lebih sepi.

Ray menatap gadis itu dari bangku lainnya. Ternganga antara takjub, atau apa, Sophie maupun Serra tak pernah habis pikir. Pria itu tidak bergeming meski Summer sudah jauh pergi. Ia baru sadar saat Serra mencubit pinggangnya.

“Aw!” protesnya, yang segera ia telan kembali begitu melihat pelototan galak Serra. “Owh, sampai mana kita tadi?”

“Sampai ayolah pergi Sabtu ini lalu tiba-tiba kau mengabdikan diri menjadi patung kampus saat melihat gadis aneh itu,” ucap Serra kesal.

Ray hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya seperti orang kutuan.

Atau memang benar ia menyimpan kutu di balik rambut pirang storberi keritingnya yang super lebat itu? Siapa tahu.

Pria itu berdeham, coba kembali ke topik. “Yah. Ayolah, Sophie. Kita pergi makan pizza jumbo di sana! Serra yang traktir, kau santai saja!” seketika, Serra melotot mendengar keputusan seenaknya Ray yang sedang mencoba membujuk Sophie agar mau ikut. Mereka berencana menghabiskan akhir pekan ke Pizza Express dan bukanlah hal lumrah saat Sophie menolak bergabung, apalagi Ray tadi sudah menegaskan bahwa dia akan ditraktir, gadis itu biasanya akan melaju lebih cepat daripada truk, tapi sekarang... ia masih menggeleng.

Hampir satu jam, dan bujukan itu masih belum berhasil.

(43)

“Aku benar-benar tidak bisa. Sorry.”

“Kenapa, huh?” rengek Ray. “Jangan bilang kau ada kencan!”

Sophie menyengir, pipinya merona samar. Yeah, Serra dan Ray memang belum tahu soal Ethan, bukannya ia tidak setia kawan atau bagaimana, tapi... ia hanya tidak siap bercerita topik jenis ini pada dua orang itu. Alasan pertama karena mereka berdua pasti akan mengejeknya habis-habisan. Dan yang kedua, karena ia bukan tipe gadis yang bisa membicarakan perasaannya dengan mudah saat bertatap muka.

“Konyol, Ray!” dengus Serra sebelum Sophie sempat mengaku. Oh, yang benar saja. Bahkan fakta bahwa seorang Sophia Hava Riandi yang urakan bisa mendapat pacar terdengar lebih mustahil daripada takhayul.

***

“Aku sakit perut!!! Astaga! Bagaimana ini?!” Sophie berguling di kasur, kali ini sambil menjaga agar tatanan rambutnya yang sudah diroll dan disisir sebaik yang ia bisa tidak kembali berantakan. Juga, agar gaun cantik satu-satunya yang ia punya itu tidak kusut.

Oke... tarik napas... buang. Tarik... buang. Sophie mencoba menerapi dirinya sendiri, meredakan mulas karena gugupnya yang menggila. Ini hanya kencan biasa kok. Iya, kencan. Baiklah! Ia akan berkencan dengan Shin Ethan dan itu bukanlah suatu hal yang biasa-biasa saja. Memang mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun, tapi berkencan secara khusus adalah peristiwa yang cukup langka, dan entah bagaimana Sophie selalu tidak berhasil mengendalikan diri dengan baik jika bertemu pria itu, setelah dua tahun sekalipun.

Ia melirik jam dinding yang mengabarkan bahwa tidak lebih dari dua puluh menit lagi pria itu akan datang, sehingga sakit diperutnya juga datang semakin

(44)

“Aku harus bagaimana?” Sophie merengek. “Aku tidak siap. Tidak pernah—“

Bel ruangan berbunyi tiba-tiba, mengagetkannya, menimbulkan sensasi seperti jantungnya berhenti untuk jeda yang singkat sebelum akhirnya menambah kecepatan detaknya menjadi setidaknya dua kali lipat. Ada tamu yang datang, dan entah bagaimana, ia punya firasat yang tidak bisa dibilang mengenakkan.

Kuharap itu bukan dia, batinnya berharap, namun tidak senada dengan perasaannya, otaknya berpendapat pria itu memang datang lebih cepat dari janji, seperti biasanya. Terbukti, otaknya yang jujur memang benar. Saat ia membuka pintu, saat itu juga Sophie membeku. Shin Ethan berdiri di depannya, dekat sekali, berbau parfum yang lebih mirip bau lemon, tersenyum manis dengan mata yang sendu, dengan kemeja putih berlapis jaket hitam, celana denim hitam, serta sepatu kanvas putih. Mengingatkan Sophie pada alasan kenapa ia jatuh cinta pada orang ini saat pertama kali melihatnya, kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.

Masih sambil ternganga—ia merasa begitu, namun tidak punya cukup kemampuan untuk menutupnya—dan Ethan yang masih sambil tersenyum misterius dengan kedua tangan tersembunyi di belakang panggung.

“Tebak apa yang kubawa untukmu?”

Bunga? Kalung emas berlian? Sophie berharap. Meskipun setelah menimbang singkat ia hanya mengatakan hal paling ekstrim yang terlintas di otaknya. “Bom?”

Otomatis, Ethan tertawa. Tergelak, malah. Mengacak rambut Sophie sebelum tersenyum lagi.”Kau lucu. Tapi tebakanmu salah.” Lalu sebelah tangannya yang masih tersembunyi keluar, membawakan sesuatu yang berbungkus plastik transparan dan berwarna merah muda.

Permen kapas.

“Ini...”

(45)

“Kesukaanmu. Tapi jangan makan terlalu banyak. Nanti sakit gigi.”

“Menurutmu aku anak kecil?” Sophie protes. “Kau bahkan tidak bermodal sekali dalam memberikan seseorang hadiah.” Karena permen kapas murah. Sangat sangat murah, apalagi jika dibandingkan dengan kalung emas berliontin berlian rubi seperti yang sempat Sophie bayangkan. Tapi wajahnya tidak bisa membohongi bahwa jelas ia senang dengan hadiah itu. Makanan enak mungkin memang selalu bisa menjadi hadiah terbaik baginya, hanya jika ia bisa mengurangi rasa mulasnya setiap di sisi Ethan.

“Terimakasih,” gumamnya pada permen kapas, bukannya pada Ethan.

“Ayo pergi. Kau sudah berjanji akan membawaku jalan-jalan di London. Aku sudah tidak sabar!”

Seperti yang dikatakannya, dengan tidak sabar pria itu meraih tas tangan Sophie, meletakkannya di bahunya, menguncikan flat Sophie dengan kode yang sudah dihafalkannya, sebelum hal terakhir yang dilakukannya yaitu menggandeng Sophie. Tanpa menyadari kekacauan yang diakibatkannya pada sistem peredaran darah di wajah gadis itu.

***

“Katedral?” Ethan bertanya untuk kedua kalinya dengan alis berkerut. Ia mengira Sophie akan mengajaknya ke Menara London, Jembatan London, kebun binatang, taman bermain, istana kerajaan, atau setidak-tidaknya berjalan menyusuri sungai Thames. Kenyataannya, gadis itu malah menyeretnya pada sebuah katedral.

Pada bangunan yang meski terlalu besar dan megah untuk disebuh ‘hanya sebuah bangunan’, tetap saja ini adalah sebuah gereja raksasa. Agak sulit diterima akal sehat bahwa Sophie itu adalah seseorang yang agamis, makanya Ethan merasa benar-benar

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil studi pendahuluan diatas terkait masih banyaknya orang tua yang membawa sibling ke RSUD Pandan Arang dengan beberapa alasan keluarga untuk membawa sibling ketika

 Sangat banyak dijumpai pelanggaran yang dilakukan oleh angkutan umum terhadap peraturan tempat menaikkan dan menurunkan penumpang (tempat menunggu penumpang/ngetem).

Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur tindakan medis (irigasi/operasi) Tujuan : Cemas klien berkurang/hilang..

Berdasarkan hasil analisis temuan penelitian dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa: (1) keberadaan orang tua di lingkungan sekolah yang sedang

Manusia sangat mendambakan kebahagiaan, oleh karena itu hendaknya manusia mencari kebahagiaan tersebut, dan tidak hanya menunggu saja tetapi harus berusaha, namum

harta alih, rekod, laporan atau dokumen atau organ manusia yang disita di bawah Akta ini dipegang dalam jagaan pegawai penguat kuasa sementara menunggu penyelesaian

: waktu malaikat Tuhan memberitahunya bahwa doanya sudah terjawab dengan akan datangnya murid Yesus yang akan menjelaskan tentang keselamatan, Kornelius tidak menunggu

Bulan dikatakan bulan merratte atau rata karena kalau semua orang menanam padi di bulan itu akan di yakini bahwa padi yang masyarakat tanam akan tumbuh bersama” dan subur sama rata