• Tidak ada hasil yang ditemukan

E 3 Makalah Perencanaan Teknis Usaha Ayam Pembibit

N/A
N/A
Diva Mayrani Hidayat

Academic year: 2023

Membagikan "E 3 Makalah Perencanaan Teknis Usaha Ayam Pembibit"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

DOKUMEN PERENCANAAN TEKNIS USAHA

Breeder Parent Stock yang menghasilkan ayam Broiler komersial (final stock) strain Cobb

Oleh Kelompok 3 | Kelas E

Sansan Swandita 200110210092 Arief Rahayu Dharmala 200110210194 Anisa Vira Dwiyanti 200110210187 Arina Zharfan R 200110210206 Dewi Fitriyani 200110210302 Sabilla Gusty P 200110210310 Ahmad Tanzilal Aziz 200110210315

FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

NOVEMBER 2023

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmatnya kami dapat menyelesaikan tugas “Perencanaan Teknik Usaha Ayam Pembibit” tepat pada waktunya. Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Produksi dan Manajemen Ternak Unggas Pembibit.

Makalah ini merupakan proses dari pembelajaran, kami berharap maalah ini dapat bermanfaat bagi setiap pembacanya. Selesainya makalah ini tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, terima kasih kepada Dr. Ir. Iwan Setiawan, DEA. selaku dosen mata kuliah Produksi dan Manajemen Ternak Unggas Pembibit dan teman-teman kelompok 3 yang selalu bekerja sama untuk menyelesaikan laporan praktikum ini.

Dengan segala kerendahan hati, kami mohon kritik dan saran yang bersifat membangun. Sehingga apa yang kami harapkan tercapai dan dapat menjadi lebih baik di tugas laporan praktikum selanjutnya. Karena kami menyadari bahwa laporan praktikum kami masih jauh dari kata sempurna.

Sumedang, 26 November 2023

Penyusun

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan... 1

BAB II PERENCANAAN TEKNIS USAHA ... 2

2.1 Rencana Pemasaran ... 2

2.2 Rencana Produksi ... 4

2.2.1 Perhitungan Rencana Produksi ... 4

2.2.2 Rencana Pemilihan Lokasi Kandang dan Pembuatan Kandang (ukuran, jumlah, dan peralatan) ... 5

2.2.3 Rencana Penyediaan dan Pemberian Pakan ... 6

2.2.4 Rencana Penyediaan SDM ... 8

BAB III PENUTUP ... 9

DAFTAR PUSTAKA ... 10

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evolusi sektor peternakan merupakan komponen penting dalam upaya pengembangan sektor pertanian, yang memiliki tujuan untuk menghasilkan produk hewan yang bernutrisi tinggi dan memiliki daya saing yang kuat. Di Indonesia, pertumbuhan perusahaan pembibitan (Breeding Farm) menunjukkan peningkatan yang signifikan dan tersebar luas di seluruh wilayah. Potensi untuk membuka usaha peternakan bibit ayam parent stock di Indonesia menunjukkan prospek yang cerah, mengingat jumlah perusahaan peternakan di Indonesia masih terbatas hingga saat ini.

Dalam rangka mencapai keberhasilan produksi yang optimal, makalah ini akan membahas aspek-aspek tambahan, termasuk kondisi lingkungan yang ideal untuk breeding farm ayam broiler. Hal ini mencakup aspek desain kandang close house, pengaturan suhu dan kelembaban yang optimal, serta sistem ventilasi yang efisien guna memastikan kesejahteraan dan kesehatan ayam. Pertimbangan lainnya mencakup perencanaan kebutuhan pakan sesuai dengan jumlah produksi harian dan komposisi nutrisi yang dibutuhkan. Analisis biaya operasional, termasuk biaya pakan, peralatan, dan tenaga kerja, juga akan menjadi fokus untuk memastikan keberlanjutan usaha.

Selain itu, makalah ini akan membahas teknologi terkini dalam mesin tetas dan peralatan lainnya yang dapat meningkatkan efisiensi produksi. Pemilihan strain ayam broiler yang sesuai dengan tujuan produksi dan pasar yang dituju juga akan menjadi bagian penting dari analisis. Dengan menggali lebih dalam ke dalam aspek-aspek ini, makalah ini bertujuan untuk memberikan panduan komprehensif bagi para pemangku kepentingan dalam industri breeding farm ayam broiler untuk mencapai produktivitas dan keberlanjutan yang optimal.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menganalisis aspek teknis dan manajerial dalam operasional suatu perusahaan breeding farm ayam broiler. Makalah ini bertujuan untuk merinci koefisien teknis yang diperlukan, termasuk analisis mengenai jumlah induk betina dan jantan yang dibutuhkan, kandang close house yang optimal, peralatan yang diperlukan beserta jumlahnya, kebutuhan ransum atau pakan, serta penggunaan teknologi seperti mesin tetas.

(5)

2

BAB II

PERENCANAAN TEKNIS USAHA

2.1 Rencana Pemasaran

Suatu perusahaan akan memiliki peluang sangat besar untuk mengembangkan perusahaannya dengan memanfaatkan permintaan DOC yang semakin meningkat sehingga pemasaran akan terbuka lebar.Dimulai dengan pemanfaat dengan bijak keuntungan perusahaan dari tahun ke tahun dan lebih memaksimalkan Sumber Daya Manusia(SDM) yang tersedia.

Pertumbuhan penjualan.Untuk merumuskan strategi pemasaran, dilakukan analisis Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats (SWOT) berdasarkan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dengan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) dengan matriks External Factor Evaluation (EFE) (Rangkuti, 2008). Selanjutnya dilakukan pemetaan dengan matriks Internal External (IE) untuk mengetahui posisi perusahaan saat ini dan menghasilkan strategi pemasaran peternakan ayam, sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi maupun yang akan diantisipasi.

Dengan peningkatan permintaan konsumsi daging ayam setiap tahun nya di setiap daerah membuka peluang besar bagi perusahaan peternakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Semisalnya produksi perusahaan tidak juga dapat memenuhi permintaan Untuk itu, perusahaan dapat meningkatkan pengadaan ayam pedaging (komersial) dengan jumlah yang suda dihitung setiap harinya, dengan cara melakukan intensifikasi kerja sama dalam bentuk pola kemitraan dengan pihak ketiga yang mash terbuka untuk peningkatan populasi ayam pedaging.Selain itu juga Untuk menunjang hal tersebut, direncanakan perusahaan membangun pabrik pakan dan juga mendirikan Rumah Potong Ayam (RPA) dan pabrik pakan yang secara nyata dapat mengelola harga dan dapat beroperasi lebih efisien dan efektif, yang pada akhirnya peternakan ini menuju arah small integrated. Pola produksi ayam yang dihasilkan adalah atas dasar kebutuhan yang bukan musiman, dimana produksinya berkesinambungan dan mash tetap jalan untuk memenuhi kebutuhan.Dengan membuat RPA, akan ada pertambahan nilai yang teriadi pada suatu komoditi dalam hal ini daging ayam akibat mengalami pengolahan lebih lanjut dalam suatu proses produksi. Semula daging ayam dijual langsung ke pedagang pada saat panen kedepan daging ayam siap panen akan diolah sendiri ole perusahaan melalui RPA yang menghasilkan produk ayam berbentuk karkas dengan nilai jual lebih tinggi dan jauh lebih menguntungkan perusahaan.

(6)

3 A. Bauran Pemasaran

1. Harga

Penetapan harga yang diberlakukan perusahaan didasarkan kesepakatan harda dendan perusahaan lain yang tergabung dalam GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas). Perusahaan juga ikut membentuk organisasi yang secara rutin menetapkan kuota dan mengontrol harga pasar, sehingga tetap menguntungkan. Penetapan hargatersebut didiskusikan pada suatu forum diskusi yang dilaksanakan pada setiap minggunya. Harga yang diberlakukan biasanya sama antar tiap perusahaan. tetapi perusahaan dapat menentukan harga di atas harga vang telah disepakati. Harga yang telah ditetapkan melalui Kesepakatan tersebut dapat menutupi semua ongkos produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan, sehingga dengan tingkat harga tersebut perusahaan tidak akan mengalami Kerugian dan bankan mesin tetap menguntungkan bagi perusahaan. Selain itu,perusahaan melakukan upaya efisiensi biaya produk baik langsung maupun tidak langsung guna memaksimalkan margin yang diharapkan dalam menunjang strategi penentuan harga jual.

2. Produk

kemampuan bersaing dalam bisnis ayam pedaging (komersial arenturan olen penyediaan pakan dan DOC dan Final Stock yang bermutu dan murah).

Pakan dan DOC komponen terbesar dalam biava produksi avam.sehinaaa sangat menentukan penetapan strategi harga jual. Hal lainnya, dalam jangka panjang membentuk divisi pakan tersendiri untuk mengontrol biaya pakan dan meningkatkan pola kemitraan untuk meningkatkan jumlah produksi

3. Distribusi

Saluran distribusi adalah salah satu faktor penentu untuk meningkatkan hasil penjualan Saluran distribusi tersebut merupakan jalur penyampaian suatu produk, jika saluran tersebutdapar dimanfaatka dengan baik danoptimal,maka konsumen dapat dengan mudahmemper- oleh produk tersebut.

4. Promosi

Promosi dapat dilakukan dengan banyak cara tetapi perlu memilih cara yang tepat dan efektif sesuai target maket yang dituju.

(7)

4 2.2 Rencana Produksi

2.2.1 Perhitungan Rencana Produksi

NO KOEFISIEN TEKNIS KETERANGAN SATUAN

1 Jumlah DOC 400.000 ekor

2 DOC betina 240.000 ekor

3 DOC jantan 160.000 ekor

4 DOC keseluruhan (tanpa afkir) 408.163 ekor

5 Telur yang fertil 458.610 butir

6 Telur tetas hasil seleksi 503.967 butir

8 Telur tetas 514.253 butir

9 Telur tetas per hari 128.563 butir

10 Induk Ayam Betina 156.784 ekor

11 Induk Ayam Jantan 19.598 ekor

12 Luas Kandang 44.805 m2

13 Jumlah kandang 0

14 Tempat pakan 5.879 buah

15 Tempat minum 22.048 buah

16 Nest 39.196 buah

17 Mesin tetas Setter 51 buah

18 Mesin Hatcher 10 buah

19 Konsumsi pakan

Umur 1-4 minggu 1.578.756,07 kg/ekor

Umur 5-23 minggu

10.376.689,95

kg/ekor

Umur 24-62 minggu

46.426.945,39

kg/ekor

20 Box DOC 4.000 buah

21 Egg tray 17.142 buah

22 Vaksin NB umur 1 hari 200.000 ml

23 Vaksin IBD umur 1 hari 200.000 ml

24 Vaksin HVT (Mareks) 400 ampul

(8)

5

25 Vaksin Salmonella Enteritidis dan Pullorum 200.000 ml

2.2.2 Rencana Pemilihan Lokasi Kandang dan Pembuatan Kandang (ukuran, jumlah, dan peralatan)

Penentuan lokasi kandang mencangkup aspek ekonomis, higienis, dan aspek produksi.

Pedoman dalam pemilihan lokasi kandang yaitu jauh dari keramaian, jauh dari pemukiman, ada jalan transportasi, ada sumber air, ada sisa tanda kondisi alam yang menunjang dan aman.

Untuk mendirikan kandang dipilih tempat yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya, sehingga drainase dapat dibuat secara baik. Lokasi kandang yang lebih tinggi dari sekitarnya bertujuan agar air hujan tidak menggenang dalam kandang dan di sekeliling bangunan kandang. Arah kandang menghadap barat-timur sehingga ayam terkena panas matahari secara langsung baik pagi maupun siang.

Untuk pemeliharaan ayam pembibit dengan kapasitas 400.000 ekor, diperlukan kandang dengan ukuran 515 m x 87 m dengan kepadatan 9 ekor/m². Kandang ayam memerlukan konstruksi yang memenuhi syarat. Konstruksi yang perlu diperhatikan adalah atap, dinding, lantai, dan ventilasi. Atap kandang terbuat dari seng yang dilapisi foam dengan sistem gable (desain ini memiliki bentuk segitiga yang menonjol ke atas, dan memiliki dua sisi miring yang bertemu di puncak bangunan). Bentuk dinding yang dipakai adalah kandang dinding terbuka biasanya menggunakan kawat dengan menggunakan bilah bambu (dapat dimodifikasi dengan tirai yang fleksibel untuk dibuka atau ditutup). Lantai kandang disemen karena kuat dan tahan lama, tidak mudah menjadi sarang tikus dan mudah dibersihkan. Sistem slat dan liter adalah sistem kombinasi antara slat dan liter. Alas slat digunakan untuk tempat pakan dan tempat minum sehingga tumpahan air tidak membasahi lantai kandang, alas liter diletakkan di tengah-tengah. Sistem ini memang sering digunakan untuk peternakan bibit ayam terutama broiler. Ukuran slat memiliki tinggi 50-68 cm dan jarak antar bilah slat 2,5-5 cm agar kaki ayam tidak terperosok atau terjepit diantara bilah-bilah tersebut. Luas lantai kandang 60%

sistem slat dan 40% sistem liter. Bagian kandang slat terbagi menjadi dua bagian meliputi 30%

di sisi kandang sebelah kanan dan 30% disisi kandang sebelah kiri. Diantara kedua sisi terdapat 40% sisa luas lantai yang digunakan untuk sistem kandang liter. Ventilasi dibentuk untuk mengatur kondisi suhu dan kelembaban di dalam kandang (suhu yang baik bagi ayam bekisar 21-27’C, kelembaban sekitar 60%).

Dalam pemeliharaan ayam pembibit broiler membutuhkan peralatan sebagai berikut:

a. Tempat pakan

(9)

6 b. Tempat minum (nippel)

c. Tempat ayam bertelur atau sangkar (nest)

d. Egg tray (tempat telur) yang berkapasitas 30 butir e. Disinfektan dan kain lap

2.2.3 Rencana Penyediaan dan Pemberian Pakan

Strain ayam Cobb umumnya dikembangkan untuk kualitas tertentu seperti pertumbuhan cepat, konversi pakan yang efisien, atau tingkat produksi telur yang tinggi, tergantung pada tujuan pemeliharaan atau produksi yang ditetapkan peternakan. Cobb memiliki berbagai strain ayam yang dikembangkan untuk berbagai tujuan, termasuk ayam broiler (untuk daging) dan ayam petelur. Mereka terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan sifat-sifat genetik yang diinginkan dalam ayam mereka, seperti laju pertumbuhan, efisiensi pakan, kualitas daging, atau jumlah telur yang dihasilkan.

Di Indonesia strain ayam yang banyak dipelihara di peternakan adalah strain cobb dan ross. Kedua strain tersebut memiliki ciri-ciri yang hampir sama yaitu bulunya putih, jengger single yang berwarna merah, dan paruh berwarna kuning. Perbedaan kedua strain tersebut ada pada sifatnya. Pada saat periode layer, strain cobb memiliki kuantitas produksi telur sebanyak 84% dari jumlah populasi betina, sedangkan strain ross memiliki kuantitas produksi telur sebanyak 87% dari jumlah populasi betina. Di lain sisi strain Cobb memiliki pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan strain Ross.

Untuk rencana penyediaan dan pemberian pakan ayam broiler parent stock yang akan digunakan adalah pakan yang di diproduksi oleh PT. Charoen Pokphand Indonesia dengan kode 532. Ini berdasarkan referensi dari manajemen pakan yang diterapkan oleh PT. Charoen Pokphand Jaya Farm Bali Unit 1.

Rencananya pendistribusian pakan akan dilakukan dengan cara pemesanan sebulan sekali oleh supervisor farm sesuai dengan program. Pakan dapat disimpan terlebih dahulu di dalam gudang untuk nantinya akan digunakan. Pakan yang datang terlebih dahulu harus didistribusikan terlebih dahulu ke dalam kandang (first in first out) supaya pakan tidak terlalu lama tersimpan dan berjamur.

Pemberian pakan setiap harinya akan disesuaikan dengan nilai point feed yang telah ditentukan oleh manajer kemudian supervisor tinggal menghitung kilogram pakan yang akan diberikan pada hari tersebut. Pakan yang digunakan pada periode grower merupakan pakan

(10)

7

jenis crumble. Pemberian pakan pada ternak disesuaikan dengan umur, kesukaan terhadap pakan, dan jenis pakan (Alamsyah, 2005).

Proses pemberian pakan akan dilakukan secara otomatis. Through berjalan pada pukul 05.00 WIB sebelum lampu menyala agar pakan merata terlebih dahulu, dan ayam akan makan bersamaan dengan waktu lampu menyala. Pan feeder diturunkan bersamaan dengan waktu through dijalankan. Setelah pakan habis pan feeder segera dinaikkan kembali. Jumlah pakan yang diberikan sesuai dengan point feed. Pengisian pakan dalam box dilakukan dengan cara, mengangkut pakan dari gudang menggunakan lori kemudian pakan dimasukkan dalam box secara manual, begitu juga dengan pengisian pan feeder dan sesuai dengan perhitungan kebutuhan pakan harian.

Standar pemberian pakan akan bergantung dari nilai point feed yang ditentukan oleh manajer farm. Supervisor farm menghitung nilai point feed yang telah ditentukan kemudian

disesuaikan dengan populasi ayam yang ada dalam kandang. Point feed adalah pakan (dalam satuan kg) untuk 100 ekor ayam. Misalkan nilai point feed adalah 10, artinya 10 kg pakan untuk 100 ekor ayam. Penentuan point feed juga memperhatikan actual body weight, jika body weight kurang dari standar maka point feed ditambah dan jika body weight lebih dari standar maka point feed dikurangi. Pada pemeliharaan ayam broiler parent stock tidak terdapat istilah FCR (Feed Convertion Ratio) karena tidak bertujuan untuk mendapatkan body weight yang maksimal.

Selain pemberian pakan, pemberian minum pun harus diperhatikan. Pemberian air minum akan dilakukan secara adlibitum dengan penambahan chlorine sebanyak 3 ppm.

Pemberian minum secara adlibitum bertujuan memperlancar proses pencernaan dan agar ayam tidak dehidrasi. Pemberian chlorine bertujuan untuk menetralisir air dan membunuh bakteri dan kuman yang ada dalam air. Hal ini sesuai dengan pendapat Attahmid (2009) yaitu tujuan

(11)

8

dari klorinasi (pemberian kaporit/ klorin) adalah sebagai upaya sanitasi air minum supaya dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme lain yang mencemari air dengan cara memasukkan klorin sebanyak 3-5 ppm ke dalam air minum. Dengan rencana penyediaan dan pemberian pakan seperti yang di atas diharapkan produktivitas ayam meningkat dan semuanya sesuai ketentuannya.

2.2.4 Rencana Penyediaan SDM

Kandang closed house memiliki sistem otomatis untuk mengatur lingkungan yang optimal bagi ayam berkembang. Kandang ini mengatur suhu, kelembapan, kecepatan angin, pengaturan pakan dan m2inum. Hal ini karena lingkungan yang diterima ayam akan mempengaruhi produktivitas ayam tersebut. Dibuatnya kandang seperti ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas ayam yang dihasilkan nantinya. Selain itu, dibuatnya kandang dengan pemanfaatan teknologi seperti ini bertujuan untuk membantu dan meminimalisir pekerja yang ada.

Namun sumber daya manusia masih diperlukan di tengah berkembangnya teknologi dalam dunia peternakan. Anak buah kandang masih dibutuhkan untuk controlling mesin dan mengerjakan tugas yang tidak bisa dilakukan menggunakan teknologi yang digunakan pada kandang closed. Anak buah kandang ini juga harus memiliki kriteria yang kompeten dalam bidangnya. ABK ini harus mampu controlling hingga perawatan kandang, planning, doing, action untuk mencapai target standar produksi yang telah ditetapkan, pengecekan temperatur, kelembapan, serta kondisi ayam. Selain itu juga ABK harus melakukan recording setiap harinya mengenai kondisi doc hingga ayam siap panen.

Dalam penyediaan sumber daya manusia ini, harus memilih tenaga kerja berpengalaman dalam bidang peternakan ayam maupun kandang closed house. Tidak hanya itu, perlunya perencanaan tugas bagi setiap pekerja sehingga tau tugas pokok yang wajib mereka kerjakan. Siapkan pula tim untuk memantau kesehatan ayam dan langkah pencegahannya. Dalam kandang parent stock diharuskan biosekuriti yang ketat maka pastikan bahwa semua anggota tim mengikuti prosedur biosekuriti dengan ketat.

(12)

9

BAB III PENUTUP

Jika berdasar daripada isi makalah diatas, bisa kita ambil kesimpulan bahwa pada saat sebelum memulai usaha terutama pada usaha ayam pembibit harus membuat perencanaan teknisnya, seperti rencana pemasaran, perhitungan rencana produksi, perkandangan, rencana penyediaan dan pemberian pakan, rencana sumber daya manusia, dan lainlain. Perencanaan Teknis Usaha Ini dapat menjadi pedoman khususnya bagi kita pribadi dan umumnya bagi masyarakat luas yang ingin memulai usaha dalam bidang ayam pembibit.

(13)

10

DAFTAR PUSTAKA

Alamsyah, R. 2005. Pengolahan Pakan Ayam dan Ikan Secara Modern. Penebar Swadaya.

Jakarta.

Attahmid, N. F. U. (2009). Strategi Manajemen Mutu Proses Produksi Karkas Ayam Pedaging Di Rumah Pemotongan Ayam (RPA) PT. Sierad Produce, Tbk, Parung, Bogor.

Zulkarnain, F. (2013). Tata Laksana Pemeliharaan Ayam Broiler Parent Stock Periode Starter Dan Grower Di Pt. Charoen Pokphand Jaya Farm Bali Unit 1 Dan Manajemen Usaha Rumah Potong Ayam Di Ud. Phalosari Unggul Jaya Jombang Jawa Timur.

Panduan Manajemen Tambahan Cobb500 Breeder Fast Feather. Cobb. Cobb-Vantress.

Referensi

Dokumen terkait