MENGGAMBAR TEKNIK
Penulis :
Dodit Ardiatma S.T., M.Sc
Penerbit PT Kimshafi Alung Cipta
Anggota IKAPI No. 440/JBA/2022
MENGGAMBAR TEKNIK
Penulis :
Dodit Ardiatma S.T., M.Sc
Editor : Dr. Ratna Dewi Mulyaningtiyas, S.P., M.Si Tata Letak : Kimshaheen
Desain Cover : Keisha Ukuruan : 15,5 x 23 cm Halaman : iv, 109 Terbitan : April 2023
ISBN : 978-623-09-2961-8
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanik, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penerbit.
PENERBIT PT KIMSHAFI ALUNG CIPTA
Taman Cibodas Lippo Cikarang Jalan Ciliwung 1 No 1 Kabupaten Bekasi – Jawa Barat
www.publisher.alungcipta.com Surel : [email protected] Phone 085810672763
Hak Cipta 2022 @ PT Kimshafi Alung Cipta dan Penulis
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga buku ajar menggambar teknik dapat dipublikasikan serta diharapkan dapat hadir memberikan kontribusi positif dalam ilmu pengetahuan khususnya terkait dengan Teknik Lingkungan
Sistematika buku menggambar ini mengacu pada pendekatan konsep teoritis dan contoh penerapan. Oleh karena itu diharapkan Buku menggambar teknik ini dapat menjawab tantangan dan persoalan dalam sistem pengajaran baik di perguruan tinggi dan sejenis lainnya.
Kami menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih terdapat banyak kekurangan, sejatinya kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, kami tentu mengharapkan saran dan masukan dari pembaca demi penyempurnaan buku ini dimasa mendatang.
Akhirnya kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung dalam proses penyusunan dan penerbitan buku menggambar teknik, secara khusus kepada Penerbit PT Kimshafi Alung Cipta sebagai insiator Buku ini.
Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Bekasi, 01 April 2023 Tim Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB 1 ... 1
DEFINISI GAMBAR TEKNIK... 1
A. Pengertian Gambar Teknik ... 1
B. Sejarah Gambar Teknik ... 3
C. Fungsi Gambar Teknik... 5
D. Jenis-Jenis Gambar ... 9
DAFTAR PUSTAKA ... 13
BAB 2 STANDARD GAMBAR ... 14
A. Teknik Menggambar ... 14
B. Garis ... 17
C. Jenis garis ... 19
D. Standar Garis ... 21
E. Ukuran Gambar ... 25
DAFTAR PUSTAKA ... 39
BAB 3 JENIS GARIS, UKURAN, TEKSTUR DAN SIMBOL GAMBAR ... 40
A. Jenis Garis ... 40
B. Skala ... 44
C. Skala mendatar (horisontal) ... 47
D. Skala balok ... 49
DAFTAR PUSTAKA ... 55
BAB 4 PROYEKSI ... 56
A. Definisi Proyeksi ... 56
B. Proyeksi Aksonometri ... 59
C. Proyeksi Isometri ... 59
D. Proyeksi Dimetri ... 60
E. Proyeksi Trimetri ... 61
F. Proyeksi Miring (Oblique) ... 61
G. Proyeksi Perspektif ... 62
H. Proyeksi Ortogonal ... 63
I. Proyeksi Eropa ... 63
J. Proyeksi Amerika ... 64
Daftar Pustaka ... 65
BAB 5 SKALA ... 66
A. Pengertian Skala ... 66
B. Fungsi Skala ... 67
C. Menghitung Skala ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 72
BAB 6 Standardisasi Menggambar Teknik Sesuai ISO ... 73
A. Sejarah ISO Menggambar Teknik... 73
B. Standar Gambar Teknik untuk Indonesia... 75
C. Standar Ukuran Kertas Gambar ... 77
D. Standar Huruf dan Angka ... 80
E. Ukuran Huruf Standar ... 82
DAFTAR PUSTAKA ... 84
BAB 7 GAMBAR POTONGAN ... 85
A. Pengertian Gambar Potongan ... 85
B. Fungsi Gambar Potongan ... 87
C. Kelengkapan Mengkomunikasikan Gambar Tampak 98 D. Arsiran ... 101
E. Penerapan Arsiran ... 103
F. Gambar Yang Diarsir ... 106
Daftar Pustaka ... 109
BAB 1 DEFINISI GAMBAR TEKNIK
A. Pengertian Gambar Teknik
Gambar teknik adalah gambar yang dibuat dengan menggunakan ketentuan caracara, ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang telah disepakati bersama oleh ahli-ahli teknik.1 Gambar teknik merupakan mata kuliah dasar yang menjadi bagian dari desain teknik. Berbeda dengan istilah menggambar yang sering dikenal, menggambar teknik bukan seperti melukis yang lebih mengharuskan adanya sentuhan seni/art pada proses pembuatannya. Gambar teknik lebih mengacu pada standar teknik yang diatur dalam aturan standar internasional ISO atau JIS (Standar Jepang), dan sebagainya, dalam proses penggambarannya. Gambar teknik merupakan tool atau alat untuk mengkomunikasikan desain teknik secara visual.
Pengertian gambar teknik menurut para ahli : 1. Menurut James S. Rising dan Maurice W.Almfeldt
Engineering graphic is the combination of these arts and science of drawing applicable of the solution of engineering problems.Gambar teknik adalah kombinasi seni dan ilmu menggambar sebagai solusi masalah teknik.2
1 Purwanto, Gandung. Menggambar Teknik Dasar (Yogyakarta : Kanisius, 2002)
2S. Rising, James dan Maurice, W.Almfeldt.Engineering Graphics.
2. Homas E. French dan Charles I.Fierck
Engineering drawing is the graphic language used intu the industrial world by engineers and designers to express and record the ideas and information necessary for the building of machines and structures. Gambar teknik adalah bahasa grafis yang digunakan di dunia industri oleh para insinyur dan desainer untuk mengekspresikan dan mencatat ide-ide dan informasi yang diperlukan untuk membangun mesin dan struktur.3 3. Warren I. Luzadder
Technical drawing is a graphic language that is used universally by engineers to describe the shape and size of structures and mechanism. Gambar teknik adalah bahasa grafis yang digunakan secara universal oleh para insinyur untuk menggambarkan bentuk dan ukuran struktur dan mekanisme.4
4. FH. Homan dan Ir.Sutomo Wongsocitro
Gambar teknik adalah bahasa yang dipergunakan antara perancang dan pelaksana. Seperti bahasa selalu harus dipelajari dengan sungguh-sungguh.5
3French, E. Thomas (1915), Agricultural Drawing and The Design of Farm Structure, W. Ives Frederick. London. McGraw Hill Book Company
4 Luzadder, Warren J. 1986. Menggambar Teknik Untuk Desain,
PengembanganProduk dan Kontrol Numerik. Edisi kedelapan. Penerjemah:
Hendarsin H. Jakarta: Erlangga
5Homan, F.H dan Ir. Sutomo. 2008. Pengenalan Gambar Teknik dan Gambar Piktorial dalam Labsheet Universitas Negeri Yogyakarta.hlmn(1-3).
Gambar teknik merupakan perpaduan antara gambar seni dan gambar sains yang dapat digunakan untuk menyelesaikan beberapa problem keteknikan. Seni dalam hal ini mengenai aspek keindahan bentuknya, sedang sains menyangkut segi ukuran, kekuatan, ketahanan, bahan, efisiensi, cara mengerjakan dan sebagainya. Dengan demikian bentuk harus dibuat seindah mungkin, tetapi faktor sains lebih diutamakan dalam Gambar Teknik.
B. Sejarah Gambar Teknik
Sejarah perkembangan gambar teknik didahului oleh perkembangan gambar seni. Sedangkan perkembangan gambar seni bersamaan dengan sejarah perkembangan peadaban manusia. Para ahli benda purbakala mendapatkan gambar seni pada batu-batu dan dinding- dinding purbakala, yang membuktikan bahwa pada sejak zaman dulu manusia telah menyatakan buah pikiran, kehendak, perasaan dan peristiwa yang terjadi pada zamannya dalam bentuk gambar seni.
Antara abad XV dan XVI Leonardo Da Vinci telah mempraktikkan penggunaan gambar teknik dalam penyampaian ide-idenya, oleh karena itu dia memperolah sebutan Bapak Gambar Teknik. Akhir abad XVI seorang ahli matematika bangsa Perancis bernama Gaspard Monge menemukan sistem menggambar dengan menggunakan dua bidang proyeksi yang saling tegak lurus.Selanjutnya sistem ini dikenal dengan proyeksi siku-siku atau proyeksi
orthogonal (orthographic projection). Proyeksi ini pada waktu itu banyak digunakan untuk menggambar perancangan bangunan kapal dan peralatan perang.
Gambar 1.1 Gaspard monge Sumber :Sciencephoto.com
Abad XVIII James Watt dari Inggris menemukan mesin uap, sehingga proses produksi yang semula menggunakan tenaga manusia dan hewan diganti dengan mesin uap secara besar-besaran. Dengan berkembangnya mesin itu, di dalam proses produksi sangat dibutuhkan bahasa yang singkat dan jelas antara perencana dan pelaksana, yaitu gambar kerja yang harus dipahami oleh kedua belah pihak. Sehingga pada saat itu banyak didirikan sekolah teknik yang mengutamakan mata pelajaran gambar teknik di dalam kurikulumnya.6
Bila pada zaman permulaan industri perencana dan pelaksana produksi merupakan orang yang sama, berbeda
6Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. 2008.
Pengenalan Gambar Teknik Dan Gambar Piktorial. Universitas Negri Yogyakarta.
dengan kondisi sekarang. Dewasa ini perencana dan pelaksana bukan lagi merupakan orang yang sama, tetapi mempunyai ketergantungan satu sama lain. Dengan meningkatnya ukuran industri maka banyak pula perusahaan yang mempergunakan gambar, oleh karenanya standar gambar yang dibuat harus mempertimbangkan perusahaan-perusahaan lain dan harus senantiasa dirubah menurut ukuran industri, cara-cara produksi dan reproduksi, mesin gambar, instrumentasi dan sebagainya.
Secara singkat standar gambar akan berubah sesuai keadaan Teknik.
C. Fungsi Gambar Teknik
Gambar merupakan sebuah alat untuk menyatakan maksud dari seorang sarjana teknik. Oleh karena itu gambar sering juga disebut sebagai “bahasa teknik” atau “bahasa untuk sarjana teknik”. Perbandingan antara bahasa dan gambar diperlihatkan pada tabel 1. seperti tampak pada tabel, standar gambar merupakan tata bahasa dari suatu bahasa. Penerusan informasi adalah fungsi yang penting untuk bahasa maupun gambar. Gambar bagaimanapun juga adalah “bahasa teknik”, oleh karena itu diharapkan bahwa gambar harus meneruskan keterangan-keterangan secara tepat dan obyektif.
Dalam hal bahasa, kalimat pendek dan ringkas harus mencakup keterangan-keterangan dan pikiran-pikiran yang berlimpah. Hal ini dapat dicapai oleh kemampuan, karir dan
watak dari penulis. Di lain pihak keterangan dan pikiran demikian hanya dapat dimengerti oleh pembaca yang terdidik. Keterangan-keterangan dalam gambar yang tidak dapat diberikan dalam gambar, tergantung dari bakat perancang gambar (design drafter). Sebagai juru gambar sangat penting untuk memberikan gambar yang “tepat”
dengan mempertimbangkan pembacanya. Untuk pembaca, penting juga banyak keterangan yang dapat dibacanya dengan teliti dari gambar.
Tabel 1.1 Perbandingan Bahasa dengan Gambar Lisan Kalimat Gambar
Indra Akustik Visual Visual
Ekspresi Suara Kalimat Gambar
Aturan Tata Bahasa Standar Gambar
Sumber : Universitas Negeri Yogyakarta, 2008.7 Beberapa keuntungan menggunakan gambar sebagai alat komunikasi, yaitu;
1. Praktis
Dengan gambar komunikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah, simpel. Misalnya pada gambar 1.2 berikut ini, bisa dilihat dengan mudah bentuk bendanya, yaitu benda yang mempunyai bentuk dasar tabung dan berulir dan mempunyai kepala berbentuk segi enam . Ketika
7Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. 2008. Pengenalan Gambar Teknik dan Gambar Piktorial. Universitas Negri Yogyakarta.
orang melihat gambar tersebut langsung dapat membayangkan seperti apa benda yang dimaksud.
Gambar 1.2 Ilustrasi Gambar Baut Sumber : Universitas Negeri Yogyakarta, 2008 Akan lain halnya apabila obyek pada gambar 1.2 tersebut saat dijelaskan dengan menggunakan bahasa lisan atau tulisan. Pasti akan membutuhkan banyak kata dan belum tentu orang lain yang mendengarkan atau membaca uraian dari obyek.
2. Tidak menyebabkan salah persepsi
Karena gambar merupakan proyeksi dari obyek yang dikenal oleh manusia, maka berkomunikasi dengan gambar tidak akan menimbulkan salah persepsi, bahkan meskipun yang berkomunikasi adalah orang yang tidak saling mengenal. Suatu obyek lingkaran, maka akan tetap dikenali sebagai lingkaran oleh semua orang, obyek berbentuk kotak akan selalu dikenal sebagai kotak oleh
semua orang. Ini berbeda dengan bahasa lisan atau tulisan, yang akan terbatasi oleh perbedaan bahasa manusia. Lingkaran dalam bahasa Indonesia tentu tidak dikenal oleh orang Eropa yang tidak mengenal bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan bahasa gambar adalah bahasa yang universal.
3. Mudah dimengerti
Memahami secara visual dengan melihat obyek gambar akan jauh lebih mudah dilakukan di bandingkan dengan memahami kata-kata yang hanya berupa tulisan atau yang diungkapkan secara lisan. Orang akan lebih cepat memahami sebuah gambar mobil yang berwarna merah, daripada harus memahaminya bila diungkapkan dengan kalimat-kalimat.8
4. Gambar sebagai alat desain produk.
Desain produk merupakan suatu kegiatan untuk merancang suatu produk barang baik baru maupun pengembangan dari produk yang sudah ada. Dalam menuangkan suatu ide, seorang pendesain memerlukan suatu alat untuk memvisualisasikan ide yang ada dalam
8Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. 2008. Pengenalan Gambar Teknik dan Gambar Piktorial. Universitas Negri Yogyakarta.
pikirannya. Dan untuk itulah gambar akan memainkan fungsinya.
Gambar 1.3 Contoh desain gambar mixing tank Sumber :contohm.blogspot.com
Dengan gambar teknik suatu rancangan akan mampu
mewakili banyak bahasa/keterangan yang menceritakan ide dengan sangat rinci, detail dan jelas. Akan berbeda bila rancangan teknik hanya dituangkan lewat bahasa lisan atau tulisan. Persepsi yang akan muncul bisa jadi akan sangat berbeda, antara si desainer dengan orang yang mendengarkan penjelasannya.
D. Jenis-Jenis Gambar
1. Sistem gambar satu-satu, adalah jenis gambar dimana suatu benda digambar pada satu lembar kertas gambar.
Sistem ini cukup sederhana untuk merencanakan proses kerja, cara produksi, pembukuan dan sebagainya.
Gambar 1.4 Salah satu gambar Contoh P & ID Sumber : Doc Proyek CHEMINUSA
2. Sistem gambar kelompok, adalah jenis gambar dimana beberapa benda digambar pada satu lembar kertas gambar. Sistem ini banyak digunakan karena mudah untuk menunjuk kembali hubungan- hubungan antara gambar yang satu dengan yang lain.
Gambar 1.5 Contoh gambar izin mendirikan bangunan
Sumber :https://imbkarawangbekasi.wordpress.com 3. Gambar berlembar banyak, adalah jenis gambar dimana
sebuah benda digambar pada beberapa lembar kertas gambar. Jenis ini digunakan jika benda yang digambar cukup rumit dan tidak mungkin digambar dalam satu lembar kertas.
Gambar 1.6 Contoh gambar sistim bangunan irigasi Sumber :https://desainirigasi.blogspot.com
DAFTAR PUSTAKA
Fakultas Teknikuniversitas Negeri Yogyakarta. 2008.
Pengenalan Gambar Teknik Dan Gambar Piktorial.
Universitas Negri Yogyakarta.
French, E. Thomas. 1915.Agricultural Drawing and The Design of Farm Structure, W. Ives Frederick. London : McGraw Hill Book Company.
Homan, F.H dan Ir. Sutomo. 2008. Pengenalan Gambar Teknik dan Gambar Piktorial dalam Labsheet Universitas Negeri Yogyakarta.hlmn(1-3).
Khumaedi, Muhammad. 2015.Buku Ajar Gambar Teknik Jurusan Teknik Mesin. Fakultas Teknik Unversitas Negeri Semarang.
Luzadder, Warren J. 1986. Menggambar Teknik Untuk Desain, PengembanganProduk dan Kontrol Numerik .Edisi kedelapan. Penerjemah: Hendarsin H.Jakarta: Erlangga.
Purwanto, Gandung. 2002. Menggambar Teknik Dasar.
Yogyakarta : Kanisius
S.Rising, James dan Maurice, W.Almfeldt.1983.Engineering Graphics. Kendall Hunt Pub Co; 6 edition.
BAB 2 STANDARD GAMBAR
A. Teknik Menggambar
Dalam dunia industri apabila akan dibuat suatu benda kerja, maka pemesan atau perencana cukup memberikan gambar kerja pada pelaksana atau teknisi, tidak perlu membawa contoh benda aslinya yang akan dibuat. Hal seperti ini dapat terjadi mengingat gambar dalam teknik dipakai sebagai sarana untuk mengemukakan gagasan tentang konstruksi pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan demikian secara ringkas dapat dikatakan bahwa gambar berfungsi sebagai “bahasa teknik‟ di beragam bidang industry (Khumaedi, 2015) 9.
Untuk dapat melakukan fungsinya sebagai bahasa di industri, maka gambar teknik harus menjadi alat komunikasi utama di antara orang-orang di dalam membuat desain dan komponen industri, bangunan dan peralatan konstruksi, dan pelaksana proyek penghasil permesinan dengan manajemen atau staf ahli. (Khumaedi, 2015)
Agar dapat melakukan fungsinya sebagai bahasa teknik, maka perlu penguasaan di dalam: (a) penggunaan perkakas gambar, (b) membuat gambar sendiri, dan (c) memahami atau membaca gambar yang dibuat oleh orang
9 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang.
Universitas Negeri Semarang. Hal 4-5
lain. Dari tujuan-tujuan tersebut, maka kemampuan dalam gambar teknik mesin dapat dilihat dari bagaimana ia memahami atau membaca gambar yang dibuat oleh orang lain dan bagaimana kinerjanya dalam membuat gambar agar dapat dipahami oleh orang lain, sedangkan kemampuan penggunaan perkakas gambar sudah termasuk dalam kemampuan membuat gambar, sebab bagaimanapun hasil gambar yang standar pasti diperoleh dari seseorang yang sudah mempunyai keterampilan dalam penggunaan perkakas gambar (Khumaedi, 2015).
Gambar teknik mesin harus cukup memberikan informasi untuk meneruskan maksud apa yang diinginkan oleh perencana kepada pelaksana, demikian juga pelaksana harus mampu mengimajinasikan apa yang terdapat dalam gambar kerja untuk dibuat menjadi benda kerja yang sebenarnya sesuai dengan keinginan perencana atau pemesan (Khumaedi, 2015) 10.
Agar dapat menggunakan standar-standar gambar yang ada sebagai bahasa, maka gambar teknik yang dibuat harus dapat memberikan pandangan pada bidang yang cukup dan aturan-aturan yang benar, sehingga menunjukkan gambar yang lebih jelas. Selain itu untuk dapat menggunakan gambar sebagai bahasa, orang perlu
2 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang.
Universitas Negeri Semarang. Hal 5
mempunyai kemampuan: memahami gambar teknik, membuat sketsa-sketsa yang digambar secara bebas atau diagram-diagram detail, penguasaan seluruh lingkup teknik menggambar yang khas bagi gambar kerja dalam lapangan kejuruan yang relevan, dan membuat gambar rancangan (design) lengkap (Khumaedi, 2015).
Suatu gambar memiliki unsur-unsur pembentuk yang dapat dipilah-pilah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Bagian bagian pembentuk suatu gambar ini disebut dengan nama elemen dari gambar atau disebut dengan nama elemen gambar. Ada lima elemen gambar yang ada, kelima elemen utama gambar tersebut adalah (M.S. Gumelar, 2015) 11 : 1. Pembuatnya (The Maker)
2. Media, Alat, dan Teknik (Media, Tools, & Techniques) 3. Penikmat (The Enjoyer)
4. Elemen Menggambar (Element of Drawing) a. Ide Unik (Unique Idea)
b. Area dan Ruang (Space) c. Titik dan Bintik (Point & Dot)
d. Garis, Goresan, dan Arsir (line, stroke and hatching) e. Dimensi (Dimension)
f. Teks (Text)
g. Objek & Subjek Gambar (Model)
11 Gumelar. 2015. Elemen dan Prinsip Menggambar. Hal 15
h. Pencahayaan dan Bayangan (Lighting & Shading) i. Warna (Colour/Hue)
5. Prinsip Menggambar (Principles of Drawing) a. Tujuan dan Pesan (Goal & Message) b. Penekanan (Emphasis)
c. Riset (research)
d. Area & Ruang (Space) e. Perspektif (Perspective) f. Komposisi (Composition) g. Ritme (Rhythm)
h. Gaya Gambar (Drawing Style) i. Gaya Desain (Design Style) j. Konsisten (Consistency) 12 B. Garis
Garis (line) dapat dibentuk dari titik dan bintik yang saling menimpa. Tetapi dengan satu coretan (goresan) panjang tanpa membuat gabungan titik dan atau bintik, garis dapat berupa garis lurus (straight line), garis lengkung (curve line), garis saling silang (cross line), dan pertemuan garis yang lancip (pointy). Garis merupakan titik awal membuat goresan menjadi suatu gambar yang sangat menarik selain dapat dilakukan dengan titik dan bintik.
12Gumelar. 2015. Elemen dan Prinsip Menggambar. Hal 16
Gambar dengan berbagai pesona dibuat sesuai dengan tujuan pembuatnya (M.S. Gumelar, 2015) 13
Gambar 2.1 Garis lurus (kiri), garis lengkung (kanan), dan beberapa variasi lancip. (Sumber : Gumelar, M. S.
2015)
1. Ketebalan Garis
Ketebalan garis pada gambar teknik merepresentasikan keutamaan elemen gambar dan juga, beberapa ketebalan garis yang tidak sama, akan meningkatkan keterbacaan. Berikut adalah contoh standard ketebalan garis dalam mm dan kegunaannya 14.
Tabel 2.1 Ketebalan garis Ketebalan
Garis
mm Penggunaan
Sangat tipis (fine) = H
0.15-0.18 Pola dan indikasi material, hatch.
13Gumelar. 2015. Elemen dan Prinsip Menggambar. Hal 37
14 Indraprastha. 2015. Standar Informasi Dalam Gambar Manual. Bandung.
Institut Teknologi Bandung. Hal 11
Tipis (Thin) = HB
0.2-0.25 Garis dimensi, garis notasi dan keterangan, garis grid, garis untuk objek-objek proyeksi dan objek-objek yang tersembunyi, garis as, garis sempadan.
Sedang
(Medium) = B
0.35 Garis objek, teks, angka dimensi, garis batas properti.
Tebal (Wide)
= 2B
0.4-0.5 Objek terpotong, judul gambar, garis horizon pada gambar tampak
Sangat Tebal (Extra Wide)
= 3B
>0.7 Garis batas lembar gambar.
(Sumber : Indraprastha, A, et al. 2015)
Untuk gambar‐ gambar teknik arsitektural, ketebalan garis dari 0.18, 0.25, 0.35 dan 0.4 adalah cukup untuk merepresentasikan semua elemen dan informasi gambar.
C. Jenis garis
Ada beberapa jenis garis yang bisa merepresentasikan objek‐ objek tertentu. Umumnya garis menerus (continuous) digunakan untuk menggambarkan apapun yang terlihat. Jenis garis putus‐putus (hidden) digunakan untuk merepresentasikan garis virtual yang bisa merupakan
proyeksi objek tertentu, lintasan pergerakan objek tertentu, atau simbol tertentu. 15
Tabel 2.2. Jenis dan Nama Garis
Tabel 2.3 Jenis dan ketebalan garis
(Sumber : Indraprastha, A, et al. 2015)
Indraprastha. 2015. Standar Informasi Dalam Gambar Manual. Bandung.
Institut Teknologi Bandung. Hal 12
Jenis Garis Nama Garis (Auto CAD)
Penggunaan
Continous Continous Umumnya semua objek gambar yang nyata.
Dotted Dot
Dashed Hidden Garis proyeksi objek yang tidak berada pada bidang gambar.
D. Standar Garis
Dalam gambar teknik digunakan beberapa jenis garis, yang masing-masing mempunyai arti dan penggunaannya sendiri, Oleh karena itu, penggunaannya harus sesuai dengan maksud dan tujuannya. Ada lima jenis garis gambar, yaitu: 16
Gambar 2.2 Jenis garis gambar (Sumber : Ferdiana, 2014) 17 1. Garis gambar
Garis ini digunakan untuk membuat batas dari bentuk suatu benda dalam gambar.
2. Garis bayangan
Garis ini berupa garis putus-putus dengan ketebalan gads
% tebal garis biasa, Garis inl digunakan untuk membuat batas suatu benda yang tidak tampak iangsung oleh mata.
16 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT. Macananjaya Cemerlang. Hal 1
17 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT.
Macananjaya Cemerlang. Hal 1
3. Garis titik strip
Garis ini berupa garis "strip, titik, strip, titik" dengan ketebalan garis ~ garis biasa. Garis ini digunakan misalnya untuk menunjukkan sumbu suatu benda yang digambar.
4. Garis ukuran
Berupa garis tipis dengan ketebalan % dari tebal garis biasa. Garis ini digunakan untuk menunjukkan ukuran suatu benda atau ruang. Garis ukuran terdiri dari garis petunjuk batas ukuran dan garis petunjuk ukuran. Garis petunjuk batas ukuran dibuat terpisah dari garis batas benda sehingga tidak mengacaukan pembaca gambar, sedangkan garis petunjuk ukuran dibuat dengan ujung pangkalnya diberi anak panah tepat pada garis petunjuk batas ukuran. Semua gambar teknik yang dikehendaki dengan pemotongan, batas potongan harus digaris dengan garis potong ini.
5. Garis potong
Garis ini berupa garis "strip, titik, titik, strip" dengan ketebalan 0.5 tebal garis biasa. Jenis garis menurut tebalnya ada tiga macam, yaitu: garis tebal, garis sedang, dan garis tipis. Ketiga jenis tebal garis ini menurut standar ISO memiliki perbandingan 1:0,7:0,5. Tebat garis dipilih sesuai besar kecilnya gambar, dan dipiiih dari deretan tebal berikut: 0,18; 0,25; 0,35; 0,5; 0,7; 1;
14; dan2 mm.Karena kesukaran-kesukaran yangada pada
cara reproduksi tertentu, tebal 0,18 sebaiknya jangan digunakan. Pada umumnya, tebal garis adalah 0,5 atau 0,7.
Gambar 2.3 Jarak antara garis-garis (Sumber : Ferdiana, 2014) 18
Keterangan:
a. Tebal garis
b. Jarak antaragaris (dianjurkan nilai minimum = 3a) c. Huang antar garisminimum 0,7 mm
18 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT.
Macananjaya Cemerlang. Hal 2
Tabel 2.4 Macam garis
(Sumber : Ferdiana, 2014) 19
19 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT.
Macananjaya Cemerlang. Hal 3
E. Ukuran Gambar
Macam-Macam Cara Pemberian Ukuran
Untuk menunjukkan panjang, lebar, tinggi atau diameter benda, maka pada gambar dicantumkan ukurannya. Ukuran yang tercantum ini bisa yang sesungguhnya, tetapi jika benda yang digambar diperbesar atau diperkecil, maka dapat menggunakan skala. Pemberian ukuran pada gambar mesin tidak bisa dibuat sembarangan melainkan mengikuti aturan-aturan yang sudah ditetapkan.
Penyusunan ukuran pada gambar kerja, dapat dilakukan dengan beberapa macam cara ukuran, yaitu:
ukuran berantai, ukuran sejajar, ukuran berurutan dan ukuran gabungan
Gambar 2.4 Macam-macam cara pemberian ukuran
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 20 Aturan Memberi Ukuran
Penempatan angka ukuran pada gambar kerja mengikuti prosedur sebagai berikut: dilakukan 1 mm di atas garis ukur, ditengah-tengah dan teratur, angka dan garis ukuran harus terbaca baik horisontal maupun vertikal, ukuran- ukuran kecil (di bawah 10 mm) tanda panahnya ditempatkan di luar arah ukur dan ukurannya dicantumkan di atas atau disamping tanda panah ukuran, serta pengukuran dimulai dari basis yang terkecil hingga yang terbesar. Semua ukuran dalam gambar teknik mesin dalam satuan mm, dan tidak perlu dicantumkan satuannya, apabila ukuran dalam satuan yang lain, maka satuannya dicantumkan (misal inchi).
Untuk membatasi bagian yang diberi ukuran pada ujung garis ukurnya diberi anak panah. Perbandingan ukuran panjang dan lebar anak panah adalah 3 : 1 dan dihitamkan (lihat Gambar 2.5). Jika jarak antara dua garis lebih kecil dari 7 mm, garis ukuran pada kedua sisinya diperpanjang kemudian gambar panahnya diberikan sebelah luar, sedangkan untuk ukuran yang saling merapat dapat digunakan titik sebagai pengganti anak panah.
20 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 28
Gambar 2.5 Tanda anak panah
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 21
Untuk menulis ukuran-ukuran pada gambar kerja dilaukan sebagai berikut: gambarlah angka-angka ukuran dengan jelas, angka-angka ukuran digambarkan sedemikian, sehingga dapat dibaca dari sebelah bawah dan kanan dari gambar, dan ukuran ditempatkan sedemikian di mana bentuk atau profil dari potongan kerja diperlihatkan paling jelas.
Untuk angka ukuran yang tidak horisontal maupun vertikal, penempatannya diatur sedemikian sesuai dengan garis ukurnya. Ada daerah- daerah yang sebaiknya dihindari untuk penempatan angka ukuran, yaitu pada daerah 300 sebelah kiri bagian atas garis vertikal dan 300 bagian sebelah kanan garis vertikal bawah, pada Gambar 2.6 adalah daerah yang diarsir.
21 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 29
Gambar 2.6 Penempatan angka ukuran pada bentuk miring
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 22
Adanya ukuran pada gambar yang dibuat sesuai dengan aturan akan memperjelas bagi pembaca gambar tentang benda yang sebenarnya, tetapi ada kalanya ukuran yang berlebihan justru akan membingungkan. Untuk itu penunjukkan ukuran sebaiknya tidak berulang-ulang (hanya sekali).
Pada gambar, penunjukkan ukuran seluruhnya seharusnya diberikan agar mempermudah dalam menentukan kebutuhan bahan dari benda yang dibuat oleh pekerja. Ukuran seluruhnya (jumlah) bisa menjadi ukuran pembantu, tetapi bisa juga menjadi ukuran yang penting.
22 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 30
Pada Gambar 26 diperlihatkan di mana pada gambar a menunjukkan ukuran jumlah sebagai ukuran pembantu, sedangkan pada gambar b menunjukkan ukuran jumlah sebagai ukuran penting (pokok). Di dalam penunjukkannya ukuran pembantu ditulis di dalam kurung.
Gambar 2.7 Ukuran seluruh ukuran bantu dan pokok (Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015)
Pada gambar yang ditunjukkan bagian dalamnya, pemberian ukuran dipisahkan antara bagian luar dan bagian dalamnya. Untuk itu apabila ukuran bagian luar ditempatkan bagian atas, maka ukuran bagian dalam ditempatkan pada bagian bawah, demikian sebaliknya (lihat Gambar 2.8).
Gambar 2.8 Penempatan ukuran bagian luar dan dalam
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 23
Ukuran untuk bagian yang berbentuk bulat, segi empat, dan sebagianya, apabila tidak dibuat gambar pandangan samping, atas atau bawah, maka pada pengukurannya perlu diberi lambang untuk bagian permukaan tersebut, dengan Ø dan . Gambar 2.9 menunjukkan penulisan ukuran lambang-lambang tersebut.
Gambar 2.9 Ukuran dengan lambang bulat dan segi empat
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 24
23 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 31
24 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 32
Angka-angka ukuran pada sumbu dan arsiran tidak boleh terpotong. Sumbu dan arsir dihilangkan pada angka ukuran yang dimaksud (lihat Gambar 29 di bawah ini.
Gambar 2.10 Angka ukuran dalam arsir (Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015)
Penulisan ukuran yang sama, bisa dibuat satu dengan mencantumkan jumlah, kemudian ditulis ukurannya. Misal ada lubang yang berdiameter 10 mm dan jumlahnya 8 buah, maka penulisan ukurannya dapat dilakukan seperti terlihat pada Gambar 2.11 di bawah ini.
Gambar 2.11. Penulisan ukuran lubang dengan diameter sama
(Sumber : Khumaedi, Muhammad. 2015) 25
Gambar 2.12 Ilusi forms karena tekstur pada suatu permukaan yang berkerikil dapat diterapkan pada bidang datar
(Sumber : Gumelar, 2015)
25 Khumaedi. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik. Semarang. Universitas Negeri Semarang. Hal 33
Tekstur penting dalam dunia desain untuk memberikan nilai pada uang kertas, uang koin, dan sebagainya bagi tunanetra, dengan memberikan tekstur, maka akan sangat membantu dalam mengidentifikasi nilainya dengan cara meraba. Tekstur juga dapat meningkatkan keunikan karya lukis, seperti gaya lukis impressionism, expressionism, abstract dan decorative painting cenderung memiliki tekstur yang mampu mengangkat nilai artistik karya lukisan tersebut.
Simbol
Simbol merupakan sebuah tanda, isi yang singkat, menyertai sifat sebuah obyek, proses berkualitas, kuantitas, memenuhi muatan-muatan tertentu. Simbol dapat membantu memberikan informasi dalam melihat gambar.
Simbol-simbol garfis merupakan tanda-tanda yang mempunyai arti tertentu (Wasilah, 2918). 26
Pemberian simbol keterangan tinggi suatu obyek dapat dituliskan dengan:
1. TOC (Top Of Concrete), jika obyek diukur dimulai dari titik 0,00 hingga bagian atas bidang tanpa diberikan material penutup misalnya Elev. Balok + 3,45 TOC 2. BOC (Bottom Of Concrete), jika obyek diukur dimulai
dari titik 0,00 hingga bagian bawah bidang tanpa
26 Wasilah, dkk. 2018. Teknik Gambar dalam Perspektif Intergrasi Islam.
Makassar. Tanahindie Press. Hal 157
diberikan material penutup misalnya Elev. Balok + 3,05 BOC
3. TOF (Top Of Finishing) jika obyek diukur dimulai dari titik 0,00 hingga bagian atas bidang yang telah diberikan material penutup misalnya Elev. Balok + 3,50 TOF 4. BOF (Bottom Of Finishing) jika obyek diukur dimulai
dari titik 0,00 hingga bagian bawah bidang yang telah diberikan material penutup misalnya Elev. Balok + 3,00 BOF
Pemberian simbol keterangan detail gambar berfungsi untuk memudahkan pencarian rujukan gambar utama ke gambar detail. 27
1. Untuk merujuk gambar potongan pada denah ke gambar potongan gambar
Gambar 2.13 Simbol potongan pada denah (Sumber : Wasilah, dkk. 2018)
27 Wasilah, dkk. 2018. Teknik Gambar dalam Perspektif Intergrasi Islam.
Makassar. Tanahindie Press. Hal 158-159
2. Untuk merujuk gambar detail ke gambar kerja
Gambar 2.14 Simbol gambar detail (Sumber : Wasilah, dkk. 2018)
3. Untuk merujuk gambar detail pada interior
Gambar 2.15 Simbol detail pada interior (Sumber : Wasilah, dkk. 2018)
Arsiran
Dalam gambar rekayasa, suatu arsiran mempunyai makna tertentu yang dapat menyatakan pasir, rumput, potongan obyek, bayangan, serat kayu, kumpulan batuan, ornamen keramik dan lain sebagainya. Tujuan pemberian
arsiran adalah menambah kejelasan kesan obyek (Wasilah, 2918) 28.
Bahan bangunan yang sering digunakan struktural adalah beton, beton bertulang, baja/besi, kayu, pasangan batu kali (fondasi), sedangkan untuk arsitektural adalah kaca, pasangan batu bata, batu tempel, dan lainnya, Untuk kondisi sekitar, misal seperti muka air, muka tanah asli, dan permukaan batu keras (Ferdiana, 2014)29.
Beberapa ketentuan dalam menggambar bahan bangunan, yaitu:
1. Gambar irisan diarsir dengan satu arah saja.
2. Semua garis arsir digambar miring 45 derajat dengan tebal sama.
3. Jarak antara garis arsir berbanding dengan luas bagian yang hendak diarsir. Semakin luas bidang yang akan diarsir, semakin jauh/renggang jarak garis dibanding bidang arsir lain yang lebih sempit.
4. Bidang miring diarsir dengan cara membuat sudut 45 derajat terhadap sumbu panjang bidang yang diiris.
5. Apabila jenis gambar tidak memungkinkan untukmembedakan jenis gambar dengan perbedaan arsiran, maka dapat dipergunakan cara yang ditentukan.
28 Wasilah, dkk. 2018. Teknik Gambar dalam Perspektif Intergrasi Islam.
Makassar. Tanahindie Press. Hal 159
29 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT.
Macananjaya Cemerlang. Hal 11
Berikut ini beberapa contoh simbol tekstur atau arsiran material yang sering digunakan dalam gambar teknik bangunan.
Gambar 2.16 Simbol material (Sumber : Ferdiana, 2014) 30
30 Ferdiana. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan. Yogyakarta. PT.
Macananjaya Cemerlang. Hal 12-13
DAFTAR PUSTAKA
Ferdiana, D. M. 2014. Dasar-Dasar Menggambar Bangunan.
Yogyakarta. PT. Macananjaya Cemerlang.
Indraprastha, A, et al. 2015. Standar Informasi Dalam Gambar Manual. Bandung. Institut Teknologi Bandung
Khumaedi, Muhammad. 2015. Buku Ajar Gambar Teknik.
Semarang. Universitas Negeri Semarang.
Wasilah, dkk. 2018. Teknik Gambar dalam Perspektif Intergrasi Islam. Makassar. Tanahindie Press.
BAB 3 JENIS GARIS, UKURAN, TEKSTUR DAN SIMBOL GAMBAR
A. Jenis Garis
Dalam gambar dipergunakan beberapa jenis garis, yang masing-masing mempunyai arti dan penggunaannya sendiri. Oleh karena itu penggunaannya harus sesuai dengan maksud dan tujuannya.8 Jenis-jenis garis yang dipergunakan dalam gambar mesin ditentukan oleh gabungan bentuk dan tebal garis.8 Tiap jenis dipergunakan menurut peraturan tertentu.Ada lima jenis gari gambar, yaitu :31
Gambar 3.1 Jenis Garis dan Gambar.1 Sumber : Maria, 2014
1. Garis gambar
3 Ir. Sutikno, Endi. M.T. Modul Tugas Besar Menggambar Teknik. Asisten Studio Gambar Teknik dan Mesin Fakultas Teknik Jurusan MesinUniversitas Brawijaya. 2016/2017, hal.8
Garis gambar
Garis ukuran
Garis bayangan
Garis potongan
Garis titik strip
Garis ini digunakan untuk membuat batas dari suatu benda dalam gambar.
2. Garis bayangan
Garis ini berupa garis putus – putus dengan ketebalan garis ½ tebal garis biasa. Garis ini digunakan untuk membuat batas suatu benda yang tidak tampak langsung oleh mata.
3. Garis titik strip32
Garis berupa garis “strip, titik, strip, titik” dengan ketebalan garis ½ garis biasa. Garis ini digunakan misalnya untuk menunjukkan sumbu suatu benda yang digambar.
4. Garis ukuran
Berupa garis tipis dengan ketebalan ½ dari tebal garis biasa. Garis ini digunakan untuk menunjukkan ukuran suatu benda atau ruang. Garis ukuran terdiri dari garis petunjuk batas ukuran dan garis petunjuk ukuran. Garis petunjuk batas ukuran dibuat terpisah dari garis batas benda sehingga tidak mengacaukan pembaca gambar, sedangkan garis petunjuk ukuran dibuat dengan ujung pangkalnya diberi anak panah tepat pada garis petunjuk batas ukuran. Semua gambar teknik yang dikehendaki
1 Dwi Ferdiana, Maria. 2014. Dasar – Dasar Menggambar Teknik. Yogyakarta:
Taka Publisher, hal. 1-2
dengan pemotongan, batas potongan harus digaris dengan garis potong ini.1
5. Garis potong
Garis ini berupa garis “strip, titik, titik, strip” dengan ketebalan ½ tebal garis biasa. Jenis garis menurut tebalnya ada tiga macam, yaitu garis tebal, garis sedang, dan garis tipis. Ketiga jenis garis ini menurut standar ISO memiliki perbandingan 1: 0, 7 : 0,5. Tebal garis dipilih sesuai besar kecilnya gambar, dan dipilih dari deretan tebal berikut : 0,18;0,25;0,35;0,5;0,7;1;14;2mm. karena kesukaran – kesukaran yang ada pad acara reproduksi tertentu, tebal 0,18 sebaiknya jangan digunakan. Pada umumnya tebal garis adalah 0,5 atau 0,7.233
Tabel 3.1 Jenis garis
Sumber : Maria, 2014 Garis-garis yang berimpit10
Bila dua garis atau lebih yang berbeda-beda jenisnya berimpit, maka penggambarannya harus dilaksanakan sesuai urutan prioritas berikut:
Lihat Gambar Jenis Garis Penggunaan
A
0.6 0.8
Tebal kontinyu
A1. Garis Nyata Benda A2. Garis Tepi
B
0.1 0.2
Tipis Kontinyu
B1. Garis Berpotong Khayal
B2. Garis Ukur B3. Garis Proyeksi (bantu)
B4. Garis Penunjuk B5. Garis Arsir B6. Garis nyata
penampang yang diputar
C Garis tipis
bebas
C1. Garis batas-batas dari potongan sebagian atau bagian yang di potong, bila batasnya bukan garis bergores tipis
F
0.3 0.4
Garis sedang (putus-putus)
F1. Garis benda yang terhalang/tidak langsung terlihat
G
0.1 0.2
Garis tipis (strip titik)
G1. Garis sumbu/lintasan G2. Garis simetri
H
0.2 0.6
Garis strip titik, strip tebal pada ujungnya
H1. Garis untuk memotong penampang
J 0.6 Garis tebal
(strip titik)
J1. Garis untuk menunjukan permukaan yang
1. Garis benda yang lansung terlihat (garis tebal)
2. Garis yang tidak langsung terlihat (garis putus-putus) 3. Garis sumbu (garis strip titik)
4. Garis bantu, garis ukur dan garis arsir (garis tipis, jenis )34
B. Skala
Setiap jenis gambar mempunyai ukuran yang berbeda-beda, ada yang kecil dan ada yang besar. Oleh karena itu, seringkali tidak memungkinkan menggambar suatu gambar dalam kertas gambar ukuran tertentu dalam ukuran sebenarnya. untuk itu, ukuran gambar harus diperkecil jika bendanya besar, dan harus diperbesar jika Bendanya terlalu kecil.pengecilan atau pembesaran gambar dilakukan dengan skala tertentu. Skala adalah perbandingan ukuran linear pada gambar terhadap ukuran linear dari benda sebelum nya. Ada tiga macam skala gambar yaitu4 : 1. Skala Pembesaran
“Pembesaran digunakan jika gambarnya dibuat lebih besar daripada benda sebenarnya.” (Maria Dwi Ferdiana:
1 Dwi Ferdiana, Maria. 2014. Dasar – Dasar Menggambar Teknik. Yogyakarta:
Taka Publisher, hal.3
2 Ir. Sutikno, Endi. M.T. Modul Tugas Besar Menggambar Teknik. Asisten Studio Gambar Teknik dan Mesin Fakultas Teknik Jurusan MesinUniversitas Brawijaya. 2016/2017, hal. 10
1 Dwi Ferdiana, Maria. 2014. Dasar – Dasar Menggambar Teknik. Yogyakarta:
Taka Publisher, hal.4
2014)35 Misalnya, jika Bendanya kecil dan rumit seperti pada rangkaian kontrol pada lampu Jalan, maka harus menggunakan skala pembesaran untuk menggambarkan rangkaian ini. Penunjukan untuk skala pembesaran adalah X:1, sedangkan ukuran lengkap yang dianjurkan adalah4 :
50:1 20:1 10:1 5:1 2:1 2. Skala Penuh
Skala penuh digunakan bila mana gambarnya dibuat sama besar dengan benda sebenarnya. Skala ini dianjurkan untuk sedapat mungkin dipergunakan supaya dapat membayangkan benda yang sebenarnya atau untuk memudahkan pemeriksaan. Penunjukan skala penuh adalah 1:1.4
3. Skala Pengecilan
Skala pengecilan digunakan bilamana gambar yang dibuat lebih kecil daripada gambar yang sebenarnya.
Penunjukannya adalah 1:X. Berikut ini daftar penunjukan skala pengecilan yang dianjurkan.
1:2 1:5 1:10
1:20 1:50 1:100
1:200 1:500 1:1000 1:2000 1:5000 1:10000
Bila dibuat pada skala besar, pada saat gambar diperkecil dianjurkan untuk mengacu ke format DIN (Deutsche Industrie Norma/ norma industri Jerman) sehingga detail-detail akan tampak jelas. Contoh penggunaan : bangunan dengan ukuran 10 m X 20 m akan digambar dengan ukuran 10 cm X 20 cm Apabila menggunakan skala 1 : 100.436
Untuk menggambarkan benda dalam kertas gambar agar dapat dilihat dengan jelas maka perlu adanya pengaturan letak gambar dan besar kecilnya gambar.
Dengan penampilan gambar sesuai dengan proporsi dan ketentuan dalam penggambaran maka gambar akan terlihat menjadi baik.36
“Skala adalah perbandingan antara obyek aslinya turunan pandangan, baik perbandingan diperbesar ataupun perbandingannya diperkecil dari bentuk aslinya.” (Suparno:
2008)36
4. Penggunaan Skala
1 Maria Dwi Ferdiana, Dasar-Dasar Menggambar Bangunan, (Yogyakarta, TAKA Publisher, 2014), hal 4
2 Suparno, Teknik Gambar Bangunan Jilid 1 , Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008., hal. 36
Pada prinsipnya penggunaan skala dapat dibagi menjadi:
a. skala mendatar (horisontal) b. skala tegak (vertikal) c. skala kemiringan d. skala balok
Cara perhitungan besaran skala.
Sebagai contoh kita mau menggunakan skala 1 : 100, sedangkan yang akan digunakan dalam penggambaran dalam milimeter (mm), dan obyek aslinya menggunakan meter (m), maka 1 m Æ 1000 mm. Jadi penggambaran skala 1 : 100 menjadi 1000 mm : 100 = 10 mm = 1 cm untuk setiap 1 meter (obyek asli).
C. Skala mendatar (horisontal)
Skala yang menyatakan arah perbandingan ukurannya mendatar.3637
2 Suparno, Teknik Gambar Bangunan Jilid 1 , Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Hal. 37
Gambar 3.2 Skala Mendatar Sumber : Suparno, 2008.
Skala tegak (vertikal)
Skala yang menyatakan arah perhitungan perbandingan ukurannya tegak. Penggambaran ini biasanya dipergunakan untuk menyatakan ketinggian bangunan yaitu yang terlihat dalam gambar potongan.37
Gambar 3.3 Skala Tegak Sumber : Suparno, 2008.
Skala kemiringan
Skala yang menyatakan perbandingan antara sisi tegak dan sisi mendatar, sehingga mendapatkan hasil
kemiringan suatu lereng atau kemiringan dataran. Dan dapat juga dipakai pedoman dalam menentukan kemiringan saluran untuk arah pengaliran.37
Gambar 3.4 Skala Kemiringan Sumber : Suparno, 2008.
D. Skala balok
Skala yang menyatakan perbandingan antara ukuran gambar yang diperkecil atau diperbesar tidak sesuai aturan.
Gambar balok sudah diukur berdasarkan skala awal. Jadi skala yang dibuat mengikuti perbandingan panjang balok, karena bila diperhitungkan akan mengalami kesulitan dalam perkaliannya.3838
2 Suparno, Teknik Gambar Bangunan Jilid 1 , Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Hal. 37-38
Gambar 3.5 Skala Balok Sumber : Suparno, 2008.
5. Simbol Tekstur atau Arsiran Material
Tekstur dapat memberikan keunikan tersendiri dalam menggambar. Tekstur dapat disebabkan karena media kertas, kanvas dan media tradisional sejenisnya yang memang sudah memiliki tekstur pada permukaannya sehingga membawa dampak pada hasil karya yang lebih artistik.39 Namun tekstur juga dapat dibuat ilusinya, sama seperti ilusi forms. Hal ini dapat dilakukan dengan menggambar di area yang bertekstur untuk kertas yang tidak bertekstur dengan tujuan hasil goresan seolah-olah di kertas yang bertekstur. Ilusi tekstur ini dapat juga digunakan secara digital untuk menyimulasikan tekstur kertas, kanvas dan tekstur lainnya sesuai keperluan.
Sebelum menggambar teknik konstruksi, ada baiknya pahami terlebih dahulu beberapa notasi bahan bangunan konstruksi beserta notasi kondisi sekitar bangunan yang sering digunakan dalarn gambar konstruksi. Bahan
39 Gumelar. 2015. Elemen dan Prinsip Menggambar. Hal 85
bangunan yang sering digunakan struktural adalah, beton, beton bertulang, baja/besi, kayu, pasangan batu kali (fondasi), sedangkan untuk arsitektural adalah kaca, pasangan batu bata, batu tempel, dan lainnya, Untuk kondisi sekitar, rnisal seperti muka air, muka tanah asli, dan permukaan batu keras.1140
Beberapa ketentuan dalam menggambar bahan bangunan, yaitu:
1. Gambar irisandiarsir dengan satu arah saja.
2. Semua garis arsir digambar miring 45 derajat dengan tebal sama.
3. Jarak antaragaris arsir berbanding dengan luas bagian yang hendak diarsir. Semakin luas bidang yang akan diarsir, semakin jauh/renggang jarak garis dibanding bidang arsir lain yang lebih sempit.
4. Bidang miring diarsir dengan cara membuat sudut 45 derajat terhadap sumbu panjang bidang yang diiris.
5. Apabila jenis gambar tidak memungkinkan untukmembedakan jenis gambar dengan perbedaan arsiran, maka dapat dipergunakan cara yang ditentukan.
3 Dwi Ferdiana, Maria. 2014. Dasar – Dasar Menggambar Teknik. Yogyakarta:
Taka Publisher, hal. 11
Berikut ini beberapa contoh simbol tekstur atau arsiran material yang sering digunakan dalam gambar Teknik.
Tabel 3.2 Simbol Tekstur
Sumber : Maria, 2014
Nama Bahan Bangunan/Materi
al
Simbol Nama Bahan Bangunan/Materi
al
Simbol
Beton Batu tempel
Beton bertulang Serat kayu
melintang
Batu kali Lantai kerja beton
Pasir Serat kayu
memanjang
Tanah liat/urug Permukaan tanah
Transram Permukaan batu
keras
Kaca Pasangan bata
Lantai Kerja Beton
Besi tempa Dan Baja Tuang Besi Cair/Baja Cair Baja Istimewa
DAFTAR PUSTAKA
Dwi Ferdiana, Maria. Dasar – Dasar Menggambar Teknik.
Yogyakarta: Taka Publisher. 2014.
Gumelar, M. S. 2015. Elemen Dan Prinsip Menggambar.
Suparno, Teknik Gambar Bangunan Jilid 1 , Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
Ir. Sutikno, Endi. M.T. Modul Tugas Besar Menggambar Teknik.
Asisten Studio Gambar Teknik dan Mesin Fakultas Teknik Jurusan MesinUniversitas Brawijaya. 2016/2017
BAB 4 PROYEKSI
A. Definisi Proyeksi
Gambar merupakan suatu alat untuk menyatakan maksud, pokok-pokok pikiran atau gagasan dari seseorang perencana teknik (juru gambar) kepada operator permesinan atau konsumen yang memerlukan informasi teknik (Emrizal, 2006: 1). Ada bermacam-macam aturan dan ketentuan gambar teknik yang ada, salah satunya tentang gambar proyeksi dan cara penyajiannya.
Gambar proyeksi adalah gambar dari suatu benda yang diproyeksikan secara tegak lurus pada bidang dua dimensi atau kertas gambar sesuai dengan ketentuan dari jenis proyeksi yang digunakan (Emrizal, 2006: 11). Gambar proyeksi yang digunakan dalam bidang teknik ada dua macam, yaitu Gambar Proyeksi Piktorial dan Gambar Proyeksi Ortogonal.
Proyeksi Piktorial
Proyeksi piktorial adalah cara menampilkan gambar benda yang mendekati bentuk dan ukuran sebenarnya secara tiga dimensi, dengan pandangan tunggal. Gambar piktorial disebut juga gambar ilustrasi, tetapi tidak semua gambar ilustrasi termasuk gambar piktorial.
Gambar 4.1 Jenis Proyeksi
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
PROYEKSI PIKTORIAL
Aksonometri
Isometri
Dimetri
Trimetri
Miring
Perspektif
PROYEKSI ORTOGONAL
Proyeksi Eropa
Proyeksi Amerika
Dari contoh berikut dapat dibedakan gambar ilustrasi teknik jenis piktorial dan yang bukan piktorial.
Gambar 4.2 Proyeksi Piktorial
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
Gambar 4.3 Proyeksi Non Piktorial
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
B. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi aksonometri merupakan salah satu jenis proyeksi piktorial. Proyeksi ini merupakan proyeksi gambar dimana bidang-bidang atau tepi benda dimiringkan terhadap bidang proyeksi, maka tiga muka dari benda tersebut akan terlihat serentak dan memberikan gambaran bentuk benda seperti sebenarnya.
C. Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri menyajikan benda dengan tepat, karena panjang garis pada sumbunya menggambarkan panjang sebenarnya. Cara menggambarnya sangat sederhana karena tidak ada ukuran benda yang mengalami skala perpendekan.
Gambar 4.4 Proyeksi Aksonometri Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar
Teknik, 2013
60
Gambar menampilkan kedudukan sumbu-sumbu isometri, yang dapat dipilih sesuai dengan tujuan dan hasil yang akan memberikan kesan gambar paling jelas.
D. Proyeksi Dimetri
Proyeksi dimetri merupakan penyempurnaan dari gambar isometri, dimana garis-garis yang tumpang-tindih yang terdapat pada gambar isometri, pada gambar dimetri tidak kelihatan lagi.
Gambar 4.5 Proyeksi Isometri
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
Gambar 4.6 Proyeksi Dimetri
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik,
61 E. Proyeksi Trimetri
Proyeksi trimetri merupakan proyeksi yang berpatokan kepada besarnya sudut antara sumbu-sumbu (x,y,z) dan panjang garis sumbusumbu tersebut. Sudut proyeksi trimetri adalah 20° untuk alfa dan 30° untuk beta atau 10° untuk alfa dan 20° untuk beta.
F. Proyeksi Miring (Oblique)
Proyeksi miring merupakan proyeksi gambar dimana garis-garis proyeksi tidak tegak lurus bidang proyeksi, tetapi membentuk sudut sembarang (miring). Permukaan depan dari benda pada proyeksi ditempatkan dengan bidang kerja proyeksi sehingga bentuk permukaan depan tergambar seperti sebenarnya.
Gambar 4.7 Proyeksi Trimetri
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
Gambar 4.8 Proyeksi Miring
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar
Jika kedalaman benda sama dengan panjang sebenarnya disebut proyeksi miring cavalier, sedangkan untuk panjang kedalaman yang diperpendek disebut dengan proyeksi miring cabinet. Gambar oblique biasanya dimulai dengan 3 basis sumbu yaitu 0°, 45° dan 90°.
G. Proyeksi Perspektif
Proyeksi perspektif merupakan proyeksi piktorial yang terbaik kesan visualnya, tetapi cara penggambarannya sangat sulit dan rumit, apalagi untuk menggambar bagian- bagian yang rumit dan kecil. Pada proyeksi perspektif garis-garis pandangan (garis proyeksi) di pusatkan pada satu atau beberapa titik. Titik tersebut dianggap sebagai mata pengamat. Bayangan yang terbentuk pada bidang proyeksi disebut dengan gambar perspektif.
Gambar 4.9 Proyeksi Perspektif
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
H. Proyeksi Ortogonal
Proyeksi ortogonal adalah gambar proyeksi yang bidang proyeksinya mempunyai sudut tegak lurus terhadap proyektornya. Proyektor adalah garis-garis yang memproyeksikan benda terhadap bidang proyeksi.
I. Proyeksi Eropa
Proyeksi Eropa termasuk kedalam jenis proyeksi ortogonal, disebut juga proyeksi sudut pertama atau proyeksi kuadran I. Proyeksi Eropa merupakan proyeksi yang letaknya terbalik dengan arah pandangnya. Coba kita perhatikan kembali gambar dibawah ini, dengan model yang sama kita proyeksikan gambar tersebut kedalam proyeksi Eropa.
Gambar 4.10 Proyeksi Ortogonal Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar
Teknik, 2013
J.Proyeksi Amerika
Proyeksi Amerika disebut juga proyeksi sudut ketiga atau proyeksi kuadran III, perbedaan istilah ini tergantung dari masing-masing pengarang yang menjadi refernsi.
Proyekasi Amerika merupakan proyeksi yang letak bidangnya sama dengan arah pandangannya. Coba perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar 4.12 Proyeksi Amerika
Sumber: Buku Teks Bahan Ajar Siswa Gambar Teknik, 2013
Daftar Pustaka
Kurniawan Arif S,dkk. 2012. Penerapan Video CAD (Computer Aided Design) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menggambar Proyeksi Dengan Sistem Amerika dan Sistem Eropa. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Tim Penyusun. 2013. Buku Teks Bahan Ajar Siswa GambarTeknik. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
BAB 5 SKALA
A. Pengertian Skala
Setiap jenis gambar mempunyai ukuran yang berbeda-beda, ada yang kecil dan ada yang besar. Oleh karena itu, sering kali tidak mernungkinkan menggambar suatu gambar dalam kertas gambar ukuran tertentu dalam ukuran sebenarnya. Untuk itu, ukuran gambar harus diperkecil jika bendanya besar, dan harus diperbesar jika bendanya terlalu kecil. Pengecilan atau pembesaran gambar dilakukan dengan skala tertentu. Skala adalah perbandingan ukuran linear pada gambar terhadap ukuran linear dari benda sebenarnya (Ferdiana Dwi M, 2014).
Ada tiga macam skala gambar, yaitu:
1. Skala Pembesaran
Skala pembesaran digunakan jika gambarnya dibuat lebih besar daripada benda sebenarnya.
2. Skala Penuh
Skala penuh dipergunakan bilamana gambarnya dibuat sama besar dengan benda sebenarnya.
3. Skala Pengecilan
Skala pengecilan dipergunakan bilamana gambarnya dibuat lebih kecil dari benda sebenarnya.
Penunjukan Skala
x : 1 Skala pembesaran 1 : 1 Skala penuh 1 : x Skala pengecilan
Tabel 5.1 Skala yang disarankan
Skala pembesaran Ukuran penuh Skala pengecilan 50 : 1 1 : 1 1 : 2
20 : 1 1 : 20
10 : 1 1 : 200
5 : 1 1: 2000
2 : 1 1 : 5
1 : 50 1 : 500 1 : 5000 1 : 10 1 : 100 1 : 1000 1 : 10000
B. Fungsi Skala
Tujuan/Fungsi dari skala gambar adalah untuk:
Memudahkan untuk membuat gambar (proporsional) Untuk membuat detail dari bagian gambar yang tidak jelas (Basri, Hasan : 2010)41
Jenis – Jenis Skala
Pada prinsipnya, penggunaan skala dapat dibagi menjadi:
41 Hasan Basri Siregar, Menggambar Teknik, Graha Ilmu, Yogyakarta : 2010
1. Skala mendatar (horizontal)
Skala yang menyatakan arah perbandingan ukuran secara mendatar, misalnya seperti ukuran panjang balok as ke as, jarak kolom as ke as, dan ukuran struktur tampak atas.
(Ferdiana Dwi M, 2014)42. 2. Skala tegak (vertikal)
Skala yang menyatakan arah perhitungan perbandingan ukuran secara tegak. Penggambaran ini biasanya digunakan untuk menyatakan ketinggian bangunan, yaitu yang terlihat dalam gambar potongan, blasanya dinyatakan dalam ukuran angka atau keterangan ketinggian elevasi dari rnuka tanah (±0,00)
3. Skala kemiringan
Skala yang menyatakan perbandingan antara sisi tegak dan sisi mendatar, sehingga mendapatkan hasil kemiringan suatu lereng ataukemiringan dataran. Dapat juga digunakan sebagai pedoman dalam menentukan kemiringan saluran untuk arah pengaliran, Cara penulisannya, angka depan perbandingan menunjukkan sisi tegak dan angka belakangnya menunjukkan sisi mendatar.
4. Skala balok/skala grafik
Skala grafik atau skala balak/bar scale merupakan skala yang penulisannya berbentuk balok yang diarsir dengan
42Maria Dwi Ferdiana, Dasar – dasar Menggambar Bangunan, Taka Publisher, Yogyakarta : 2014.
ukuran yang sudah ditetapkan. Penggunaan skala lni biasanya pada peta dan berfungsi mengkonversikan jarak pada peta ke jarak sesungguhnya pada permukaan bumi.
Skala ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu skala primer dan skala tambahan. Skala primer berada pada bagian sebelah kanan dari nol skala ditandai dengan unit ukur penuh, sedangkan skala tambahan berada pada bagian sebelah kiri dari nol. Kebanyakan peta memiliki tiga atau lebih skala grafik yang masing-masing menggunakan unit ukur yang berbeda-beda (Ferdiana Dwi M, 2014)43. C. Menghitung Skala
Skala gambar adalah perbandingan antara jarak pada gambar dengan jarak sebenarnya. Misalkan : Pada gambar ditulis skala 1:100 artinya setiap 1 cm pada gambar mewakili 100 cm pada jarak sebenarnya atau setiap 1 cm mewakili 1 meter pada jarak sebenarnya.
Skala = jarak pada gambar : jarak sebenarnya Latihan Soal
43Maria Dwi Ferdiana, Dasar – dasar Menggambar Bangunan, Taka Publisher, Yogyakarta : 2014.
Lihat gambar denah rumah. Pada denah tertulis skala 1 : 100. Jika panjang ruang tamu pada gambar 3,5 cm, berapakah panjang sebenarnya ?
Jawab :
Panjang sebenarnya = panjang pada denah x penyebut skala
= 3,5 x 100 cm
= 350 cm
= 3,5 m
Jadi panjang ruang tamu sebenarnya adalah 3,5 meter.
2. Pak Obed membangun rumah setinggi 6 m. Pada gambar rencana, tinggi rumah itu digambarkan setinggi 4,8 cm. Bila pada gambar rencana tampak kosen pintu setinggi 2,2 cm, berapakah tinggi kosen pintu itu sebenarnya ?
Jawab :
Langkah pertama carilah skala terlebih dahulu Skala = tinggi rumah di gambar rencana / tinggi rumah sebenarnya
= 4,8 cm / 600 cm
= 1/125
Kemudian cari tinggi kosen pintu sebenarnya : Tinggi kosen pintu sebenarnya = penyebut skala x tinggi kosen pintu gambar rencana
= 125 x 2,2
= 275 cm
= 2,75 m
Jadi tinggi kosen pintu itu sebenarnya adalah 2,75 m.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan Basri Siregar, Menggambar Teknik, Graha Ilmu, Yogyakarta : 2010
Maria Dwi Ferdiana, Dasar – dasar Menggambar Bangunan, Taka Publisher, Yogyakarta : 2014.