• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi IV / 2023

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Edisi IV / 2023"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

Mengukuhkan deklarasi Desa Pancasila, sebanyak 401 Persatuan Kerukunan Umat Beragama (PKUB) yang tersebar di desa/kelurahan se-Kabupaten Klaten diresmikan Bupati Klaten Sri Mulyani akhir tahun lalu. Sekretaris Desa Nglinggi, Rudi Hermawan mengatakan, di Desa Nglinggi terdapat berbagai agama yang hidup berdampingan secara damai. Di Desa Nglinggi tidak ada warga masyarakat yang saling memandang rendah karena perbedaan agama.

Beragamnya perbedaan agama, asal usul daerah, pilihan politik dan status sosial di Desa Nglinggi tidak menjadi penghalang untuk hidup rukun dan damai. Dilihat dari keberadaan benda-benda pemujaan seperti masjid, gereja dan vihara di desa Kotesan menunjukkan bahwa masyarakat setempat mempunyai keberagaman agama. Keberagaman lain di Desa Kotesan juga terlihat dari perbedaan profesi atau gaya hidup masyarakatnya.

Dengan dibangunnya perumahan baru di Desa Kotesan, beberapa suku tinggal disini dan hidup damai. Di Desa Randulanang kita juga bisa menemukan dan mempelajari praktik toleransi di masyarakat. Di desa ini terdapat masjid, tempat ibadah umat Katolik (kapel), pura dan rumah ibadah bagi umat Kristiani.

Kehidupan sosial Desa Randulanang yang harmonis dan damai tercermin dari keramahan dan cara hidup masyarakatnya.

Tidak Ada Kesan

Desa ini memiliki beberapa perbedaan, mulai dari agama, asal daerah hingga status sosial penduduknya. Namun perbedaan tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga tidak timbul perpecahan atau konflik antar anggota masyarakat. Keharmonisan masyarakat tercermin dari keberadaan masjid yang berdiri di samping rumah warga non-Muslim.

Kegiatan keagamaan umat Kristiani juga dapat berlangsung dengan damai di rumah-rumah warga beragama Islam. “Semua warga masyarakat rukun dan damai,” kata Yanri, salah satu tokoh muda di Desa Dowor, Desa Randulanang. Kita bisa belajar tentang toleransi dan persatuan dari cara hidup masyarakat di berbagai desa di Kabupaten Klaten.

Di desa-desa ini kita dapat menemukan dan belajar tentang kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis di tengah perbedaan yang berbeda. Perbedaan agama dan keyakinan, perbedaan strata sosial dan profesi, perbedaan suku dan asal daerah, perbedaan pilihan politik dan berbagai perbedaan lainnya bukanlah halangan untuk tetap damai dan hidup rukun.

Berdampingan dengan Rukun dan Damai

KLATEN DALAM LENSA

Besar ADWI 2023, Menteri Sandiaga Kunjungi

Besar ADWI 2023,

Menteri Sandiaga Kunjungi Desa Wisata Sidowarno

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka evaluasi langsung terhadap desa wisata nominasi ADWI 2023. Dalam kunjungannya, Menteri Sandi didampingi Sekda Jateng Sumarno, Pemkab Klaten, Sri Mulyani, dan jajaran Pemkab Klaten. Forkopimda. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Sandi menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat setempat yang telah melestarikan wayang kulit yang merupakan warisan budaya nusantara dan identitas bangsa.

Menurutnya, keberhasilan Desa Sidowarno masuk dalam 75 besar ADWI 2023 tak lain adalah upaya masyarakat dalam mendukung aktivitas pariwisata di daerah tersebut. Selain rangkaian seremonial, Menteri Sandi menyempatkan diri menjajal langsung proses penyisipan lembaran kulit menjadi boneka sesuai motif. “Mudah-mudahan Desa Wisata Sidowarno masuk dalam nominasi yang lebih kecil sehingga bisa mendongkrak pariwisata di Kabupaten Klaten,” ujarnya.

Ribuan Umat Buddha

Ribuan Umat Buddha Rayakan Puncak Tri Suci Waisak di Candi Sojiwan

Beliau menyampaikan tiga hakikat ajaran Buddha yang diamalkan umat Buddha, yaitu berhenti berbuat jahat, memperbanyak perbuatan bajik, dan menyucikan hati dan pikiran (diam). Intinya, jika kita mengamalkan ketiga hal ini, kita akan bahagia dan orang-orang di sekitar kita pun ikut bahagia. “Mari kita saling mengingatkan ketiga hal ini, karena mudah dipahami dan mudah dipraktikkan,” jelas Nyoman.

Sementara itu, ketua panitia acara, Biksu Duta Shanti Mastawira mengatakan, sekitar 1.500 umat Buddha dari Jakarta, Bandung, Kediri, Jawa Tengah dan Timur mengikuti perayaan Tri Suci Waisak dengan penuh kegembiraan dalam melakukan puja dan Waisak. Acara dilanjutkan pada tanggal 3 Juni dengan penyembuhan massal dan bakti sosial bagi warga sekitar Candi Sojiwan serta meditasi di Candi Sojiwan. “Kemudian ada pawai Waisak dari Candi Plaosan ke Candi Sojiwan, dan malam ini malam baktinya,” kata Biksu Duta.

KERIPIK PARU GANG LATAR PUTIH

Di sepanjang Jalan Layar Putih, Desa Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, kita bisa menjumpai industri rumah tangga keripik paru yang sudah dikenal banyak masyarakat. Sementara itu, Ny. Mangun dan Ny. Toko Keripik Paru Darsono oleh anak dan cucunya. “Kualitas tepung beras yang digunakan akan mempengaruhi cita rasa keripik paru yang dihasilkan,” kata Ibu Hj.

Dari awal berdirinya hingga saat ini, keripik paru ini terus diproduksi dan terus didatangi pembeli. Kunci kelangsungan bisnis keripik paru ini terletak pada resepnya yang tidak berubah, dari dulu hingga sekarang. Pelanggan dapat membedakan antara chip paru-paru yang diproduksi oleh kami dan chip paru-paru yang diproduksi oleh produsen lain.

Selain keripik paru yang menjadi produk utamanya, toko-toko ini juga memproduksi keripik tempe, belut goreng, dan juga abon sapi selain berbagai makanan tradisional lainnya. Mas Hendro mengatakan meski tidak dipasarkan melalui media sosial, namun keripik paru-paru ini sudah dikenal masyarakat luas. “Dengan menjaga kualitas dan pelayanan yang baik, bisnis keripik paru ini bisa bertahan hingga saat ini,” kata Mas Hendro.

Toko keripik paru-paru di Jalan Selamat Putih sepertinya tak pernah sepi pengunjung. Hampir setiap hari pembeli di sekitar maupun luar kota membeli keripik paru-paru. Bagi anda yang sudah mengetahuinya, pemesanan biasanya melalui WhatsApp dan keripik paru akan kami kirimkan melalui pos.

Dengan berkembangnya usaha keripik paru dan semakin banyaknya peminat, keripik paru Bu Mangun yang dikelola oleh Mas Hendro saat ini mempunyai 6 orang karyawan. Sebab dari hasil usahanya, para pembuat keripik paru di Jalan Selamat Putih ini mampu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga serta membiayai biaya kuliah anaknya hingga lulus. Lebih dari itu, dari bisnis ini para pembuat chip paru-paru ini dapat membantu pihak lain yang membutuhkan.

NIKMATNYA BAKMI KALIKUNING

Bukan hanya karena cita rasa yang disajikan dengan kuat, tetapi juga karena ciri khas masa lalu yang masih dipertahankan. Jika menelusuri Dusun Kalikuning, Desa Ngemplak, Kecamatan Kalikotes, terdapat sebuah kedai mie yang cukup terkenal dan bisa dikatakan melegenda. Teras dan kondisi rumah bekas gempa tahun 2006 tempat berdirinya warung ini masih sama seperti dulu, tidak berubah.

Mulai dari rasa mie sebagai menu utama hingga piring, meja, kursi, hingga suasana tempatnya masih terjaga hingga saat ini. Rasa yang kuat dan khas ini ternyata adalah mie Kalikuning ala Suwarni yang dimasak dengan arang. “Jadi ya, pasti rasanya semakin enak,” kata Endang, salah satu juru masak Bakmi Suwarni Kalikuning.

Karena suasana dan rasanya yang melegenda, tak heran jika warung ini banyak dikunjungi kalangan lanjut usia. Saya dan teman-teman komunitas bersepeda selalu menyempatkan diri mampir ke sini setiap kali kami bersepeda menuju Kalikuning atau Rowo Jombor. “Harganya juga bagus, sangat sesuai dengan kenikmatan yang kita peroleh,” kata Suhono, salah satu anggota komunitas bersepeda.

Mie rebus atau mie godog menjadi menu populer di warung ini, selain mie dan nasi goreng. Warung Bakmi Suwarni Mie rebus Kalikuning dengan rasa mie yang lembut, kenyal, dan kental, kuah pedasnya nikmat, menghangatkan dan menyegarkan badan. Itu sebabnya di toko ini Anda bisa merasakan suasana ramah dan baik hati baik penjual maupun sesama pengunjung.

Bangunan toko yang tidak mengalami perubahan sejak didirikan ini mengingatkan kita pada rumah-rumah di desa masa lalu. Kita bisa menikmati mie lezat dengan santai sambil ngobrol dan bercanda bersama keluarga atau teman. Kini Suwarni, pemilik warung mie ini, di usianya yang masih belia tampak masih mahir memasak untuk melayani pesanan pelanggan.

KEARIFAN DI BALIK KEUNIKAN CANDI SOJIWAN

Candi Budha yang terletak di Jalan Banjarsari, Desa Kebon Dalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten ini, memiliki sekitar 20 relief di kaki candi yang berhubungan dengan cerita Pancatantra atau Jataka. Relief-relief tersebut didominasi oleh cerita-cerita dunia binatang yang sarat dengan ajaran dan pesan moral yang mendalam. Oleh karena itu, dengan mengunjungi Pura Sojiwan bersama keluarga, selain berwisata, kita akan mendapatkan hikmah untuk menjalani kehidupan saat ini dan masa depan.

Diutarakan penjaga Candi Sojiwan, Totok Setyawan, selain menikmati keindahan candi, pengunjung juga tertarik dengan pesan moral yang terkandung dalam relief tersebut. Di kaki Candi Sojiwan misalnya terdapat relief angsa dan kura-kura, relief Garuda dan penyu yang berlarian di laut, relief kera dan buaya, relief persahabatan tikus dengan ular dan masih banyak lagi. Relief angsa dan kura-kura menceritakan bagaimana seekor kura-kura dibawa pergi oleh sepasang angsa.

Persahabatan sejati mereka membuat sepasang angsa tersebut membawa penyu tersebut terbang ke sebuah danau baru yang penuh air dan banyak makanan. Sambil menggigit sepotong kayu di tengahnya, penyu itu diterbangkan oleh sepasang angsa yang bersahabat. Dari cerita yang masih hidup di masyarakat, bagaimana seekor kura-kura yang lemah berperang melawan garuda yang kuat.

Candi Pedharmaan

Rugi rasanya jika kita sampai di Candi Prambanan namun tidak mengunjungi Candi Sojiwan. Dari pintu gerbang Taman Wisata Candi Prambanan melintasi jalan raya Solo-Yogyakarta dan ambil jalan kecil menuju ke selatan. Pura Sojiwan dilengkapi dengan fasilitas berupa warung kecil di depan candi, tempat parkir dan toilet.

Referensi

Dokumen terkait