1
EFEKTIFITAS PELATIHAN TERHADAP PENINGKATAN BUDAYA ORGANISASI BISNIS KULINER
(Studi Eksperimen Statistik Nonparametrik Pelatihan Karyawan pada Restoran Sate Hotplet Batu dan Bakso Cakman Kota Malang)
Oleh:
Annas Arhasyadika Andhimas
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Armanu, SE., M.Sc., Ph.D.
The importance of organizational culture urges the organization of employee trainings which ensure that the staff understand about and apply organizational culture for the sake of human resource quality improvement. The objective of this study is to determine the effectiveness of trainings in enhancing organizational culture in culinary business.
Using Randomized Pretest- Posttest Comparison Group Design, this study tries to identify any progress after trainings in the same business group were held. Using cluster sampling, two culinary business namely Sate Hotplete and Bakso Cak Man were selected as the sample. The analysis was performed using N-Gain and Mann-Whitney and Wilcoxon nonparametric tests in SPSS for Windows 25. This study finds that, for related samples, there is significant progress of organizational culture in both samples before and after the trainings. In the free samples, differences were not found before and after the training, but differences in training evaluations were identified.
Therefore, it can be concluded that employee trainings are effective for improving organizational culture.
Keywords: training effectiveness, organizational culture improvement, culinary business, experimental, nonparametric.
Pentingnya budaya organisasi dalam bisnis kuliner, maka perlu diadakanya pelatihan karyawan agar dapat mengerti dan menerapkan budaya organisasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Efektifitas Pelatihan Terhadap Peningkatan Budaya Organisasi Bisnis Kuliner sudah efektif. Jenis penelitian adalah Experimental Randomized Pretest- Posttest Comparison Goup Design yang bertujuan mengetahui perbedaan pelatihan sebelum dan sesudah pelatihan kelompok bisnis yang sama. Sampel pada penelitian ini adalah usaha bisnis kuliner Sate Hotplet dan Bakso Cak Man. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Cluster Sampling. Teknik analisis data menggunakan uji N-Gain dan pendekatan non paramerik Uji Man whitney dan Wilcoxon dengan program SPSS for
2
windows versi 25. Hasil penelitian menunjukkan untuk sampel berhubungan terdapat perbedaan signifikan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan secara meningkat di kelompok Sate Hotplet maupun Bakso Cakman. Untuk sampel bebas tidak terdapat perbedaan sebelum pelatihan, tidak terdapat perbedaan sesudah pelatihan dan terdapat perbedaan evaluasi pelatihan. Kesimpulan penelitian pelatihan cukup efektif terhadap peningkatan budaya organisasi kuliner
Kata Kunci: Efektifitas Pelatihan, Peningkatan Budaya Organisasi, Bisnis Kuliner, Experimental, Nonparametrik.
1. PENDAHULUAN
Rendahnya pertumbuhan usaha bisnis di Indonesia dalam persaingan global, menjadikan sesuatu hal yang penting untuk meningkatkan bisnis usaha terutama dalam bidang kuliner.
Pertumbuhan usaha di Indonesia masih masih ralatif kecil dibandingkan negara tetangga Indonesia.
Menurut Setyanti (2012) bisnis usaha kuliner termasuk yang menjadi pilihan banyak orang, karena dianggap jenis bisnis yang lebih mudah dilakukan daripada bisnis lainnya.
Namun, bisnis kuliner termasuk bisnis yang tergolong rumit karena membutuhkan banyak inovasi dan kreatifitas yang berkelanjutan.
Menurut Snell (2010) Sumber Daya Manusia adalah mempelajari
bagaimana memperdayakan karyawan dalam perusahaan atau organisasi, membuat perkejaan dan kelompok kerja, mengembangkan karyawan para karyawan yang mempunyai kemampuan, dalam usaha kuliner terdapat organisasi yang bergerak di industri jasa yang banyak melibatkan tenaga kerja yang kompeten dan professional yang dijadikan aset utama untuk industri kuliner.
Budaya perusahaan atau organisasi penting untuk meningkatakan ciptaan, perilaku dan asumsi dasar dalam perusahaan. Budaya organisasi adalah pola dasar yang diterima oleh organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi
3
dengan lingkungan dan
mempersatukan anggota-anggota organisasi. Untuk itu harus diajarkan kepada anggota termasuk anggota yang baru sebagai suatu cara yang benar dalam mengkaji, berpikir dan merasakan masalah yang dihadapi (Schein, 2007).
Pelatihan tingkatan budaya organisasi perlu dilaksanakan agar karyawan dapat mengerti dan mempraktekan budaya perusahaan secara benar. Menurut Russel (2013) Pelatihan didefinisikan sebagai segala upaya untuk meningkatkan kinerja karyawan pada pekerjaan yang saat ini diadakan atau yang terkait dengan itu.
Ini biasanya berarti perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, atau perilaku spesifik. Agar efektif, pelatihan harus melibatkan pengalaman belajar, menjadi kegiatan organisasi yang direncanakan, dan dirancang untuk menanggapi kebutuhan yang diidentifikasi.
Kota Malang memiliki beragam wisata kuliner, diantaranya terdapat Sate Hotplet dan Bakso Cak Man.
Usaha bisnis kuliner tersebut memiliki beberapa kesamaan diantaranya sama sama berangkat dari bisnis keluarga dan sama sama bisnis yang di turunkan dalam pengelolaanya.
Melihat Sate Hotplet dan Bakso Cak Man sebagai kesaaman usaha bisnis dalam karakteristiknya, dan pentingnya peningkatan Budaya Organisasi bukan hanya untuk perusahaan besar saja, akan tetapi Usaha Kecil Menengah perlu juga di perhatikan maka perlu diadakanya pelatihan. Maka dari itu diperlukan penelitian lebih jauh tentang perbedaan tersebut., menurut Djamarah (2002), menjelaskan pengertian metode penelitian eksperimen merupakan penelitian yang berusaha melakukan percobaan sesuatu sendiri, sehingga menghasilkan suatu kesimpulan. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan penelitian ini berguna untuk menguji adanya perbedaan pemahaman dan penerapan pelatihan budaya organisasi antara sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan sebagai variabel terikat.
Sedangkan untuk mengetahui besaran
4 pelatihan tersebut efektif atau tidaknya maka di perlukan evaluasi pelatihan sebagai variabel bebas yang sudah di manipulatif untuk keperluan penelitian.
Menyadari pentingnya pelatihan untuk usaha bisnis yang bergerak di bidang kuliner dan ingin mengetahui perbedaan kelompok pelatihan yang diteliti melalui sebelum dan sesudah pelatihan, maka penulis tertarik untuk mengambil judul “Efektifitas Pelatihan Terhadap Peningkatan Budaya Organisasi Bisnis Kuliner (Studi Ekperimen Statistik Nonparametrik Pelatihan Karyawan Pada Restoran Sate Hotplet Batu dan Bakso Cak Man Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelatihan
Menurut Mathis (2006) Pelatihan adalah suatu proses dimana orang orang mencapai kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi.
Metode & Bentuk Pelatihan
Metode pelatihan tenaga kerja menurt Wilson (2012) terdapat dua
yaitu,. Metode On The Job Training yaitu, para karyawan mempelajari pekerjaannya sambil mengerjakan secara langsung. Metode Off The Job Training, yaitu, para karyawan mempelajari pekerjaanya dengan didatangkan pelatih atau pelatihan.
Bentuk pelatihan menurut Noe (2013) terdapat tiga bentuk yaitu, pelatihan bentuk presentasi, pelatihan berkelompok dan pelatihan tidak langsung.
Evaluasi Pelatihan
Menurut Mathis dan Jackson (2006), evaluasi pelatihan membandingkan hasil hasil sesudah pelatihan pada tujuan-tujuan yang diharapkan oleh para manajer, pelatih, dan peserta pelatihan. Faktor-faktor yang menunjang kearah Efektivitas Pelatihan menurut Veithzal Rivai (2004) antara lain: Materi Pelatihan, Metode Pelatihan, Pelatih (Instruktur) Pelatiha, Peserta Pelatihan dan Sarana Pelatihan.
Tahapan Evaluasi Pelatihan
5 Model TVS (Training Validition Systems) yang dikembangkan oleh Fitz- Enz dalam Eseryel, (2002) mengunakan Sebelum pelatihan situasion, Intervention & sesudah pelatihan menggunakan, impact, value untuk menilai efektivitas dalam sebuah program pelatihan.
Penilaian Kebutuhan Pelatihan Menurut Goldstein dan Bukston (1982) penilaian kebutuhan sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu, Analisis organisasi, analisis individu karyawan dan analisis tugas/ pekerjaan.
2.2 Budaya Organisasi
Menurut Cushway dan Lodge (2000), budaya organisasi merupakan sistem nilai organisasi untuk mempengaruhi cara pekerjaan dilakukan dan cara para karyawan berperilaku.
Tingkatan Budaya Organisasi.
Menurut Scheinz (2009) terdapat tingkatan budaya diantaranya:
1. Ciptaan (Artefak)
pada tingkat artefak, budaya sangat jelas dan memiliki dampak emosional langsung tetapi seseorang tidak benar- benar tahu mengapa anggota organisasi berperilaku.
2. Perilaku (Behavior)
Tingkat Behavior atau perilaku adalah tingkat yang lebih dalam pemikiran dan persepsi umtuk pendorong perilaku terbuka.
3. Asumsi Dasar (Value)
Asumsi Dasar adalah nilai-nilai yang dipelajari bersama dan keyakinan yang bekerja sangat baik,
HIPOTESIS PENELITIAN
Gambar 1 Hipotesis Penelitian Berdasarkan konsep penelitian yang ada, maka dapat dirumuskan dari hipotesis statistik yang akan dituju dalam penelitian ini adalah:
H1
H5 H6
H3
H4
Sumber: Peneliti, 2019
Sebelum Pelatihan(Y1)
Sesudah Pelatihan(Y2) Kelompok Sate Hotplet
Evaluasi Pelatihan(X) Sebelum Pelatihan(Y1)
Sesudah Pelatihan(Y2)
Evaluasi Pelatihan(X)
Kelompok Bakso Cak Man
H2
6 H1: Terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Sate Hotplet yang signifikan H2: Terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Bakso Cak Man yang signifikan
H3: Terdapat perbedaan seebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Sate Hotplet dan kelompok Bakso Cakman yang signifikan
H4: Terdapat perbedaan evaluasi pelatihan kelompok sate Hotplet dan kelompok bakso Cak Man
H5: Terdapat efektifitas pelatihan terhadap peningkatan budaya organisasi di kelompok Sate Hotplet H6: Terdapat efektifitas Pelatihan terhadap peningkatan budaya organisasisi Bakso Cak Man.
3. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Experiment Randomized Pretest- Posttest Comparison Goup Design, dengan pendekatan kuantitatif dalam hal ini beda kelompok treatment yaitu Sate Hotplet dan Bakso Cak Man.
variabel dependen yang di manipulative yaitu pelatihan (X) untuk melihat besaran pengaruh variabel indpenden akibat dari treatment yaitu Tingkatan Budaya Organisasi (Y).
Penelitian ini menggunakan teknik Cluster Sampling dimana penyebaran kuesioner berdasarkan kelompok sesuai dengan tujuan penelitian.
Terdapat 32 sampel di antaranya 7 responden berasal dari Sate Hotplet Batu dan 25 berasal dari Bakso Cak Man Malang Sampel berasal dari responden peserta pelatihan di Sate Hotplet dan Bakso Cak Man.
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang diukur dengan menggunakan skala likert. Terdapat tiga Instrumen yaitu sebelum pelatihan (Y1), Sesudah Pelatihan (Y2), Evaluasi Pelatihan (X). Instrumen tersebut diuji menggunakan uji validitas, uji reliabilitas dan uji asumsi klasik.
Analisis data menggunakan analisis uji beda nonparametrik. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji N- Gain, Uji Wilcoxon dan Uji Mann
7 Whitmey. Adapun kerangka pemikiran sebagai berikut.
Gambar 2 Kerangka Pemikiran 4. HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data yang diperoleh, responden berasal Sate Hotplet Batu dan Bakso Cakman Malang yang mengikuti pelatihan usia rata- rata 20 sampai 23 tahun, didominasi oleh karyawan yang terdiri dari pelayan, pruduksi dan kasir / keungan dengan lama bekerja rata- rata 1 tahun hingga 5 tahun. Instrumen yang disebar telah memenuhi uji valiitas, uji reliabilitas dan uji asumsi klasik untuk mengetahui
parametrik berupa uji normalitas, uji multikolinieritas dan uji hereroskedastisitas. Penelitain tetap memakai uji non parametrik sebagai bentuk uji coba penelitan eksperimen.
4.1 Hasil Uji 1. N-Gain
Tabel 1. Hasil Uji N-Gain
Hasil Uji N-Gain terdapat 10 item dengan kenaikan tertinggi untuk sate Hotplet terdapat pada item no 10 dengan kenaikan 100% dapat dikatakan bahwa dalam pelatihan “kerja tim”
mengalami peningkatan yang sangat efektif. Sedangkan untuk kenaikan terendah adalah item no 6 yang berbunyi “pelayanan yang bagus akan menciptakan kesan yang bagus”
dengan kenaikan 0.00 dapat dikatakan untuk pelayanan, pelatihan tidak
Hasil Uji N-Gain Variabel
Y1 dan Y2
Kelompok Sate Hotplet Kelompok Bakso Cak Man Y2-Y1 Ymax-Y1 N-Gain % Y2-Y1 Ymax-Y1 N-Gain % Item 1 1.28 1.43 0.90 90% 0.88 1.60 0.55 55%
Item 2 1.14 1.29 0.88 88% 0.40 0.80 0.50 50%
Item 3 1.14 1.29 0.88 88% 0.56 0.96 0.58 58%
Item 4 0.57 1.43 0.40 40% 0.48 0.84 0.57 57%
Item 5 0.14 0.72 0.19 19% 0.36 0.80 0.45 45%
Item 6 0.00 0.15 0.00 00% 0.60 0.76 0.79 79%
Item 7 0.29 0.29 1.00 100% 0.60 1.04 0.58 58%
Item 8 0.57 0.72 0.79 79% 0.52 0.80 0.65 65%
Item 9 0.57 0.72 0.79 79% 0.32 0.84 0.38 38%
Item 10 0.15 0.15 1.00 100% 0.12 0.16 0.75 75%
Minimal N-Gain 0.00 00% Minimal N-Gain 0.38 38%
Maximal N-Gain 0.38 38% Maximal N-Gain 0.79 0.79 Rata-rata N-Gain 0.68 68% Rata-rata N-Gain 0.58 0.58 Sumber: data diolah, 2019
8 efektif. Nilai rata-rata N-Gain sebesar 68% dapat dikatakan bahwa pelatihan yang diselenggarakan cukup efektif.
Berdasarkan Tabel 4.13 Hasil Uji N- Gain terdapat 10 item dengan kenaikan tertinggi untuk sate Hotplet terdapat pada item no 6 dengan kenaikan 79%
dapat dikatakan bahwa dalam pelatihan
“pelayanan yang bagus akan menciptakan kesan yang bagus”
mengalami peningkatan yang sangat efektif. Sedangkan untuk kenaikan terendah adalah item no 9 yang berbunyi “harga yang terjangkau akan menciptakan pelanggan” dengan kenaikan 0.38 dapat dikatakan untuk harga dalam, pelatihan tidak efektif.
Nilia rata-rata sebesar 58% dapat dikatakan bahwa pelatihan yang diselenggarakan cukup efektif.
2. Hasil Uji Mann Whitney Tabel 2 Hasil Uji Man Whitney
variabel Sebelum Pelatihan Sate Hotplet mempunyai nilai rata- rata sebesar 15.36 dan Bakso Cak Man mempunyai nilai rata-rata 18.20 dengan nilai signifikansi sebesar 0.713. hal tersebut dapat dikatakan 0.713 > 0.05 bahwa t-Tabel lebih kecil disbandingkan t-hitung. Maka untuk variabel sebelum pelatihan tidak terdapat perbedaan antara Sate Hotplet dan Bakso Cak Man.
Variabel sesudah pelatihan Sate Hotplet mempunyai nilai rata- rata sebesar 19.36 dan Bakso Cak Man mempunyai nilai rata-rata 15.70 dengan nilai signifikansi sebesar 0.357. hal tersebut dapat dikatakan 0.357 > 0.05 bahwa t-Tabel lebih kecil disbandingkan t-hitung. Maka untuk variabel sesudah pelatihan tidak terdapat perbedaan antara Sate Hotplet dan Bakso Cak Man.
Variabel Evaluasi Pelatihan Sate Hotplet mempunyai nilai rata- rata sebesar 24.29 dan Bakso Cak Man mempunyai nilai rata-rata sebesar 14.32 dengan nilai signifikansi sebesar
Hasil Uji Man Whitney
Variabel Kelompok Experimen Mean Asymp Sig (2-Tailed) Sebelum Pelatihan Sate Hotplet 15.36
0.713 Bakso Cakman 18.20 Sesudah Pelatihan Sate Hotplet 19.36
0.357 Bakso Cak Man 15.70 Evaluasi Pelatihan Sate Hotplet 24.29
0.012 Bakso Cak Man 14.32 Sumber: data diolah, 2019
9 0.012. hal tersebut dapat dikatakan 0.012 < 0.05 bahwa t-Tabel lebih besar disbandingkan t-hitung. Maka untuk variabel evaluasi pelatihan terdapat perbedaan antara Sate Hotplet dan Bakso Cak Man
3. Hasil Uji Wilcoxon
Hasil Uji Wilcoxon diatas, untuk Sate Hotplet mengalami Negative ranks / Penurunan Nilai antara sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan Sate Hotplet berjumlah 0 dengan rata rata 0 dapat disimpulkan tidak ada penurunan nilai dalam sebelum dan sesudah pelatihan. Sedangkan untuk Positive ranks / Kenaikan Nilai sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan sate Sate Hotplet berjumlah 9 dengan rata- rata 5.00 dapat disimpulkan jumlah 9 item mengalami kenaikan dengan rata- rata 5.00. Ties / Nilai sama sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan Bakso Sate Hotplet berjumlah 1, dapat
disimpulkan terdapat 1 nilai yang sama antara sebelum dan sesudah pelatihan
Bakso Cak Man mengalami Negative ranks / penurunan nilai antara sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan Bakso Cakman berjumlah 0 dengan rata rata 0 dapat disimpulkan tidak ada penurunan nilai dalam sebelum dan sesudah pelatihan.
Positive ranks / sampel sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan sate Bakso Cak Man berjumlah 10 dengan rata- rata 5.50 dapat disimpulkan jumlah 10 variabel mengalami kenaikan dengan rata 5.50. Ties / sampel sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan Bakso Cak Man berjumlah 0, dapat disimpulkan tidak ada nilai yang sama antara sebelum dan sesudah 4.2 Uji Hipotesis
1. Uji Hipotesis Perbedaan Sebelum Pelatihan dengan Sesudah Pelatihan Sate Hotplet
diketahui bahwa variabel perbedaan sebelum pelatihan (Y1) dengan sesudah pelatihan(Y2) Sate Hotplet berbeda secara signifikan dan meningkat.
Kelompok
Experimen Variabel
Ranks
Positif Mean Negatif Mean Ties Asym sig 2-Tailed Sate
Hotplet
Sebelum Peltihan
9 5.00 0 0.00 1 0.007
Sesudah Pelatihan Bakso Cak
Man
Sebelum Pelatihan
10 5.50 0 0.00 0 0.005
Sesudah Pelatihan
10 sebesar 0.00 dapat dilihat dari nilai signifikansi yaitu sebesar 0,007 sedangkan nilai tTabel (α = 0.05).
Tingkatan tersebut dilihat dari positif rank sebesar 4.00, yang dinyatakan mengalami kenaikan rata-rata sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan sebesar 4.00. sedangkan negative rank sebesar 0.00 yang dinyatakan bahwa sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan tidak mengalami penurunan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Sate Hotplet,
2. Uji Hipotesis Perbedaan Sebelum pelatihan dengan Sesudah Pelatihan Bakso Cak Man
variabel perbedaan sebelum pelatihan (Y1) dengan sesudah pelatihan (Y2) kelompok Bakso Cak Man berbeda secara signifikan dan meningkat.. nilai signifikansi tersebut dapat dilihat dari t-hitung sebesar 0,005 dan nilai t-Tabel (α = 0.05). Hasil tersebut menyatakan t-hitung lebih kecil dibandingkn t- Tabel yang menyebabkan perbedaan signifikan. Hasil meningkat dapat
dilihat dari positif rank sebesar 12.35 yang menggambarkan bahwa kenaikan rata-rata sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan sebesar 12.35, sedangkan negative rank sebesar 9.67 yang menggambarkan bahwa sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan mengalami penurunan 9.67. dari hasil positive rank yang lebih besar dibandingkan negative rank dan t- hitung lebih kecil dibandingkan t-Tabel maka dapat disimpulkan bahwa sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok bakso Cak Man mengalami perbedaan signifikan dan meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Bakso Cakman, 3. Uji Hipotesis Perbedaan Sebelum
Pelatihan dan Sesudah Pelatihan, Sate Hotplet dan Bakso Cak Man variabel sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan Sate Hot dan Bakso Cak Man tidak terdapat perbedaan signifikan. Nilai signifikasnsi pada dapat dilihat dari t-hitung Sate Hotplet 0.713 dan untuk Bakso Cak Man 0.357
11 lebih besar dari t-Tabel (α = 0.05). hasil tersebut menggambarkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada Sate Hotplet dan Bakso Cak Man sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Bakso Cakman,
4. Uji Hipotesis Perbedaan Evaluasi Pelatihan Sate Hotplet dan Bakso Cak Man
variabel evaluasi pelatihan (X) Sate Hotplet dan evaluasi pelatihan (X) Bakso Cak Man berbeda signifikan.
Nilai signifikansi tersebut dapat dilihat dari t-hitung sebesar dan t-Tabel sebesar 0.012 dan nilai t-Tabel (α = 0.05). Hasil tersebut menyatakan t- hitung lebih kecil dibandingkn t-Tabel yang menyebabkan perbedaan signifikan. dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan evaluasi pelatihan Sate Hotplet dan Bakso Cakman yang signifikan.
5. Uji Hipotesis Efektifitas Pelatihan Terhadap Peningkatan Budaya Organisasi Sate Hotplet Efektifitas dapat dilihat dari hasil N- Gain dengan perbandingan evaluasi pelatihan. Hasil N-Gain untuk Sate Hotplet memiliki nilai rata-rata sebesar 68%. Sesuai dengan Tabel Hake untuk mengukur efektifitas dapat disimpulkan bahwa 68% berada ditingkatan cukup efektif. Sedangkan untuk evaluasi memiliki nilai rata-rata 4.40. Hal ini dapat dinyatakan bahwa efektifitas pelatihan terhadap peningkatan budaya organisasi berlangsung cukup efektif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Sate Hotplet
6. Uji Hipotesis Efektifitas Pelatihan Terhadap Peningkatan Budaya Organisasi Bakso Cak Man.
diketahui bahwa efektifitas dapat dilihat dari hasil N-Gain dengan perbandingan evaluasi pelatihan. Hasil
12 N-Gain untuk Sate Hotplet memiliki nilai rata-rata sebesar 58%. Sesuai dengan Tabel Hake untuk mengukur efektifitas dapat disimpulkan bahwa 58% berada ditingkatan cukup efektif.
Sedangkan untuk evaluasi memiliki nilai rata-rata 4.02. Hal ini dapat dinyatakan bahwa efektifitas pelatihan terhadap peningkatan budaya organisasi berlangsung cukup efektif.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan kelompok Bakso Cakman
4. KESIMPULAN DAN SARAN Dapat disimpulkan bahwa terdapat efektifitas pelatihan terhadap peningkatan budaya organisasi di Sate Hotplet dan Bakso Cak Man Melalui perbedaan sebelum pelatihan dengan sesudah pelatihan dan evaluasi pelatihan.
Sate Hotplet dan Bakso Cakman diharapkan dapat melakukan pengembangan setelah di adakanya pelatihan, agar pelatihan yang sudah
dilakukan dapat berguna untuk karyawan maupun organisasi
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2016. Jumlah Bisnis Kuliner. Usaha Kecil dan Menengah. Dipetik pada 15
Februari 2019,
<https://www.bps.go.id/>
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002.
Psikologi Belajar. PT. Rineka Cipta: Jakarta.
Goldstein, I. L. & Buxton, V. M.
1982. Training and Human Performance. Lawrence Erlbaum Associates, New York.
Noe, Raymond A. 2013. Employee Training and Development.
New York: McGraw-Hill.
Rivai, Veithzal. 2009. Performance Appraisal: Sistem yang Tepat untuk Menilai Kinerja Karyawan dan Meningkatkan Daya Saing Perusahaan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Schein, H. Edgar 2009, Organizational Culture and Leadership, Josey Bass, San Fransisco
Siegel, Sidney. 2017. Statistik Non- Parametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: Gramedia.