• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas anggaran (studi kasus pada badan perencanaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "efektivitas anggaran (studi kasus pada badan perencanaan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS ANGGARAN (STUDI KASUS PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH

KABUPATEN MAMASA TAHUN ANGGARAN 2019)

1Obed Paotonan, 2Nurdam Buhaerah, 3Hasrajuddin

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

Based on the 2019 BAPPEDA Mamasa District Budget Realization Report, it is known that the achievement of the overall budget target is 99.77% of the total budget of Rp. 6,389,177,211.00 and realized as much as Rp. 6,374,673,673.00. This research aims to find out the effectiveness of the budget at the Mamasa District Research and Development Planning Agency for the 2019 Fiscal Year. This research used a qualitative descriptive approach. The data used are secondary data with data collection techniques in the form of observation and documentation. Data were analyzed using effectiveness analysis. Effectiveness analysis is used to compare budget targets with their realization, if the percentage is 90% -100% then this is said to be effective. The results of the effectiveness analysis show that the effectiveness of the budget at the Mamasa District Regional Research and Development Planning Agency for the 2019 Fiscal Year has been effective.

Keywords: Effectiveness and Budget.

PENDAHULUAN

Salah satu upaya pemerintah dalam rangka memajukan pembangunan di daerah adalah dengan adanya otonomi daerah.

Dengan terbentuknya otonomi daerah, maka pemerintah daerah mempunyai hak dan wewenang yang luas untuk merencanakan dan mengelolah pembangunan daerahnya masing- masing, dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Pelaksanaan otonami daerah di Indonesia dilaksanakan berdasarkan undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah.

Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial.

Perencanaan pembangunan daerah disusun mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksaan, dan pengawasan. Anggaran pemerintah dibagi menjadi dua yaitu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). APBN merupakan rencana keuangan yang dibuat pemerintah setiap tahun yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran selama satu tahun anggaran. APBN terdiri dari anggaran pendapatan, belanja serta

pembiayaan. Sedangkan APBD adalah rencana keuangan yang dibuat pemerintah daerah setiap tahunnya. Efektivitas Anggaran didasarkan pada laporan realisasi anggaran.

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan peneliti terkait penganggaran dan pengelolaan anggaran pada Badan Perencanaan Pembangunan Penenelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa, diperoleh laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selama satu tahun, yakni pada tahun 2019 seperti yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja DaerahTahun

Anggaran 2019

Belanja Anggaran Realisasi

Belanja Operasi 6.339.177.211.00 6.324.923.673,00 Belanja Pegawai 3.084.369.711.00 3.073.458.173,00 Belanja Barang dan

Jasa 3.254.807.500,00 3.251.465.500,00 Belanja Modal 50.000.000,00 49.750.000,00 Belanja Modal

Peralatan dan Mesin 0,00 0,00 Belanja Modal Gedung

dan Bangunan 50.000.000,00 49.750.000,00 Jumlah 6.389.177.211,00 6.374.673.673,00

Sumber: data diolah (2019)

(2)

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 Sudah Efektif ? sedangkan tujuan dalam penelitian ini adalah untuk Menganalisis Efektivitas Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019.

TINJAUAN LITERATUR

Secara umum pengertian efektivitas dinyatakan pada tingkat tercapainya hasil, dalam bahasa sederhana hal tersebut dapat dijelaskan bahwa efektivitas dari pemerintah daerah adalah ketika tujuan pemerintah daerah tersebut bisa tercapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan. Sesuai dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 pasal 4 ayat 4, efektif adalah pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dan hasil (output-outcome). Outcome adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah Yunianti (2015).

Menurut Abdullah dan Siregar (2018), efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi dalam mencapai tujuan. Jika suatu tujuan behasil dicapai oleh organisasi, maka organisasi itu dikatakan efektif. Menurut Mahmudi (2015), efektivitas terkait dengan hubungan antara hasil yang duharapkan dengan hasil yang sesungg uhnya dicapai.

Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output dengan tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Efektivitas menunjukkan kesuksesan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan. Ukuran efektivitas merupakan refleksi output. Tujuan-tujuan organisasi harus spesifik, detail, dan terukur.

Menurut Paatet al (2019), Efektivitas merupakan perbandingan antara hasil yang diharapkan (target) dengan hasil yang sesungguhnya dicapai. Hasil atau target yang diharapkan merupakan outcome sedangkan hasil yang dicapai merupakan output.

Menurut Mahsun dalam junal Paat et al (2019), Efektivitas dapat diukur dengan cara membandingkan antara target anggaran belanja langsung dengan realisasi anggaran belanja langsung kemudian hasilnya dikalikan

dengan 100%. Berikut adalah rumus untuk menentukan efektivitas dari suatu anggaran belanja:

Efektivitas = x 100%

Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900-327 Tahun 1996 Tentang Pedoman Penilaian Kinerja Keuangan bahwa anggaran belanja dapat dikatakan efektif jika memenuhi kriteria-kriteria di bawah ini:

Tabel 2. Kriteria Efektivitas Persentase Keterangan

>100% Sangat Efektif

90%-100% Efektif

80%-90% Cukup Efektif 60%-80% Kurang Efektif

<60% Tidak Efektif

Sumber: jurnal Putra, Afuan Fajrian dan Novia Dhiniharitsa (2020)

Menurut Rachmat (2018), anggaran adalah rencana keuangan yang bersifat kuantitatif yang akan dilaksanakan satu tahun kedepan yang dinyatakan dalam bentuk satuan moneter. Menurut Hallim et al (2014), anggaran adalah suatu rencana yang dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu satu tahun. disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter yang berlaku untuk jangka waktu tertentu di masa yang akan datang. Anggaran merupakan rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program-program yang telah disahkan dalam suatu instansi. Dalam perkembangannya, mekanisme birokrasi menjadi mekanisme yang sistem penganggaran terjadi selaras dengan upaya pengalokasian sumber daya yang semakin lama semakin membaik dalam mengakomodasi berbagai penganggaran publik Bastian (2010).

Menurut Sugiono et al (2015), anggaran adalah suatu pernyataan kuantitatif atas rencana kegiatan yang diajukan oleh manajemen untuk jangka waktu tertentu dan untuk membantu mengkoordinasikan apa yang perlu dilakukan guna mengimplementasikan suatu rencana. Sementara itu, menurut Mardiasmo dalam Nordiawan dan Hertianti (2010), mendefenisikan anggaran sebagai pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu

(3)

yang dinyatakan dalam ukuran finansial.

Anggaran sektor publik adalah pertangungjawaban dari pemegang manajemen organisasi untuk memberikan informasi tentang segala aktivitas dan kegiatan organisasi kepada pihak pemilik organisasi atas pengelolaan dana publik dan pelaksanaan berupa rencana-rencana program yang dibiayai dengan uang publik Mahmudi (2015).

Menurut Sujarweni (2015), jenis anggaran sektor publik di bagi menjadi dua yaitu : 1) Anggaran operasional dipakai untuk melakukan perencanaan kebutuhan sehari-hari dalam menjalankan organisasi sektor publik.

Belanja operasi bukan untuk menaikkan aktiva organiasi. 2) Anggaran modal merupakan rencana pengeluaran aktiva tetap yang bersifat jangka panjang dan digunakan untuk keperluan organisasi misalnya gedung, peralatan, kendaraan, dan sebagainya. Belanja modal merupakan pengeluaran yang masa manfaatnya lebih dari satu tahun.

Sedangkan menurut Siregar dalam Sujarweni (2015), jenis anggaran ada dua yaitu: 1) Anggaran Tetap (fixed budget) adalah anggaran dengan besaran biaya absolutnya tanpa melihat tingkat operasi yang dilakukan.

2) Anggaran fleksibel (flexible budget) yaitu anggaran dimana tingkat biaya yang dianggarkan diskan dengan tingkat operasi yang dilakukan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, maka anggaran belanja dibagi kedalam dua bagian yaitu : 1) Anggaran belanja langsung adalah anggaran belanja yang mempunyai hubungan secara langsung atas pelaksanaan program dan kegiatan suatu organisasi. 2) Anggaran belanja tidak langsung adalah anggaran belanja yang tidak ada hubungannya secara langsung terhadap pelaksanaan program dan kegiatan suatu organisasi.

Menurut The dan Sugiono (2015), proses penyusunan anggaran dimulai dengan pengumpulan dan pengklasifikasian data pengajuan rencana kerja dan keuangan tiap- tiap bagian serta mengajukan kepada pimpinan perusahaan untuk disetujui dan dilaksanakan.

Sebelum penyusunan anggaran, perusahaan menyusun rencana strategis yang berdasarkan analisis kekuatan dan kelemahan internal.

Rencana strategis umumnya berjangka panjang kemudian dituangkan dalam rencana jangka pendek yang berbentuk anggaran.

Menurut Sujarweni (2015), penyusunan anggaran dan pelaksanaan anggaran dilakukan dalam satu periode dan merupakan satu rangkaian proses yang saling berkaitan.

Faktor-faktor yang terdapat dalam proses penyusunan anggaran adalah: 1) Tujuan dan target yang akan diraih. 2) Pemilikan sumber daya. 3) Waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan target. 4) Faktor-faktor lain yang mempengaruhi anggaran seperti peraturan baru, inflasi, fluktuasi pasar, bencana alam, dan lain sebagainya

Menurut Mahmudi (2015), penyusunan anggaran mempunyai empat tujuan yaitu : 1) Untuk memberikan bantuan organisasi pada sektor publik agar dapat mencapai tujuan dan meningkatkan koordinasi atar bagian dalam lingkungan. 2) Untuk membantu menciptakan efisiensi, efektivitas dan asas keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui proses prioritas. 3) Memungkinkan pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja. 4) Meningkatkan transparansi dan pertangung jawaban pemegang manajemen organisasi sektor publik.

Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama yaitu sebagai berikut : 1) Anggaran merupakan alat pengendali manajemen dalam rangka mencapai tujuan.

Anggaran perusahaan digunakan untuk merencanakan kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh perusahaan beserta rincian biaya yang dibutuhkan. Anggaran sebagai alat perencanaan digunakan untuk : a) Merumuskan tujuan dan sasaran kebijakan agar sejalan dengan visi, misi dan sasaran yang sudah ditetapkan. b) Merencanakan berbagai program, kegiatan, serta sumber pendapatan.

c) Mengalokasikan dana untuk program dan kegiatan yang sudah disusun. d) Menentukan indikator kinerja dan pencapaian strategi. 2) Anggaran sebagai alat pengendali manajerial, anggaran ini berfungsi untuk meyakinkan organisasi sektor publik bahwa organisasi mempunyai sumber dana untuk membiayai rencana program-program organisasi.

Pengendalian anggaran publik dapat dilakukan melalui empat cara : a) Membandingkan kinerja anggaran dengan realisasi. b) Menghitung selisih anggaran. c) Menemukan pos-pos biaya yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. d) Merevisi anggaran biaya dan pendapatan untuk tahun berikutnya.

3) Alat kebijakan fiscal Dengan menggunakan anggaran dapat diketahui bagaimana

(4)

kebijaksanaan fiskal yang akan dijalankan organisasi sektor publik, dengan demikian akan mudah untuk memprediksi dan mengestimasi ekonomi dan organisasi. 4) Alat politik Anggaran dapat digunakan sebagai alat politik yaitu bentuk dokumen politik yang dapat dijadikan komitmen kesepakatan eksekutif dan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. 5) Alat koordinasi dan komunikasi Dalam penyusunan anggaran dilakukan komunikasi dan koordinasi Antar unit kerja. Dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran harus dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi 6) Alat penilaian kinerja Perencanaan anggaran dan pelaksanaannya akan menjadi penilaian kinerja manajemen organisasi publik. Kinerja manajemen dan pimpinan akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran serta pelaksanaan efisiensi anggaran. 7) Alat motivasi Anggaran dapat digunakan untuk memberi motivasi bagi pimpinan dan karyawan dalam bekerja secara efektif dan efisien. Dengan membuat anggaran yang tepat dan dapat melaksanakannya sesuai target dan tujuan organisasi, maka manajemen dikatakan mempunyai kinerja yang baik. 8) Alat menciptakan ruang dan public Anggaran publik dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan ruang publik, di mana keberadaan keberadaan anggaran tidak boleh diabaikan oleh berbagai organisasi sektor publik seperti kabinet, birokrat dan DPR/MPR, maupun masyarakat, LSM, perguruan tinggi dan berbagai organsasi kemasyarakatan lainnya.

Karena anggaran merupakan alat perencanaan dan pengendalian, maka anggaran memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) Dapat mengestimasi tinggat laba dari suatu unit usaha. 2) Dinyatakan dalam satuan mata uang.

3) Hanya bersifat satu periode. 4) Merupakan komitmen manajemen (bahwa manajemen menerima tanggung jawab dalam pencapaian target). 5) Secara periodik, kinerja keuangan yang aktual akan dibandingkan dengan anggaran yang telah disusun sebelumnya untuk dilakukan analisis.

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau submasalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji kebenarannya Dalman (2016). Dalam suatu Penelitian, hipotesis merupakan pedoman karena data yang

dikumpulkan adalah data yang berhubungan dengan variabel-variabel yang dinyatakan dalam hipotesis tersebut Misbahuddin dan Hasan (2013). Berdasarkan kedua penelitian terdahulu yang telah diuraikan diatas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ Bahwa Pengelolaan Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 sudah Efektif

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode pendekatan kualitatif untuk menganalisis Efektivitas Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 14 desember 2020sampai dengan tanggal 08 januari 2021, penelitian ini dilakukan di Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Jl. Poros Mamasa- Polewali (komp. Perumahan Dinas), Dengen, Osango, Kec. Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat 91365. Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi.

Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yakni menguraiakan tentang Analisis Efektivitas Anggaran yang diterapkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 dengan cara membandingkan antara realisasi anggaran dengan target anggaran yang telah ditetapkan (Paat, Nangoi, dan Pusung 2019).

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 3. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja DaerahTahunAnggaran 2019

Belanja Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Belanja

Operasi 6.339.177.211.00 6.324.923.673,00 Pegawai 3.084.369.711.00 3.073.458.173,00 Barang dan

Jasa 3.254.807.500,00 3.251.465.500,00 Belanja

Modal 50.000.000,00 49.750.000,00 Modal

Peralatan dan Mesin

0,00 0,00

Modal Gedung dan Bangunan

50.000.000,00 49.750.000,00

Jumlah 6.389.177.211,00 6.374.673.673,00

Sumber: data diolah (2019) 1. Belanja Operasi

Efektivitas = x 100

= 99,78%

a. Belanja Pegawai

Efektivitas = x 100

= 99,65%

b. Belanja Barang dan Jasa

Efektivitas = x 100

= 99,90%

2. Belanja Modal

Efektivitas = x 100

= 99,50%

a. Belanja Modal Peralatan Dan Mesi

Efektivitas = x 100

= 0,00%

b. Jalan, Jaringan dan Instalasi

Efektivitas = x 100

= 99,50%

Anggaran merupakan rencana keuangan untuk kegiatan yang akan dilaksanakan yang dibiayai dengan uang dalam periode waktu tertentu. Anggaran pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa bersumber dari dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dimasukkan dalam Dana Alokasi Umum (DAU)

Proses penyusunan anggaran dimulai dari pembuatan Rencana Stratgi (RENSTRA) 5 tahunan yang kemudian dijabarkan dalam Rencana Kerja Tahunan (RENJA).

Selanjutnya masing-masing bidang menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) untuk diberikan kepada Kasubag Program dan Rekapitulasi setelah itu baru dibahas secara bersama untuk menentukan program kegiatan yang akan diprioritaskan. Kemudian setelah ada Pagu anggaran dari Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) maka akan dibahas kembali untuk menyesuaikan pagu angaran yang telah direncanakan dengan pagu yang diberikan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) sehingga Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) jadi dan siap untuk dibawa ke DPRD (Banggar) untuk dibahas. Kemudian dari hasil pembahasan itu nantinya akan menjadi Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) setelah dievaluasi oleh pemerintah provinsi.

Menurut Wardiyah (2017), Efektivitas merupakan suatu derajat tujuan organisasi yang sudah dicapai yang menunjukkan adanya tingkat keberhasilan tercapainya suatu tujuan yang sudah direncanakan.Untuk menganalisis efektivitas anggaran pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa tahun 2019, maka dapat dilihat dari perbandingan antara realisasi anggaran dengan target anggaran dalam tabel sebagai berikut :

(6)

Tabel 4. Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah

Kabupaten Mamasa Tahun 2019

Belanja Anggaran Realisasi % KET Belanja

Operasi

6.339.177.211.

00

6.324.923.67

3,00 99,78 Efektif Belanja

Pegawai

3.084.369.711.

00

3.073.458.17

3,00 99,65 Efektif Belanja

Barang dan Jasa

3.254.807.500, 00

3.251.465.50

0,00 99,90 Efektif Belanja

Modal 50.000.000,00 49.750.000,0

0 99,50 Efektif Peralatan

dan Mesin 0,00 0,00 0,00 Jalan

Jaringan dan Instalasi

50.000.000,00 49.750.000,0

0 99,50 Efektif

Jumlah 6.389.177.211, 00

6.374.673.67

3,00 99,77 Efektif

Sumber: data diolah (2019)

Berdasarkan perhitungan diatas, dapat dilihat bahwa efektivitas anggaran pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa tahun anggaran 2019 dengan persentase sebesar 99,77% dengan kategori efektif sesuai dengan kriteria rasio efektivitas.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap analisis Efektivitas Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 yang telah diuraiakan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa Efektivitas Anggaran pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 sudah Efektif melalui perbandingan antara realisasi anggaran dengan target anggaran dengan persentase mencapai 99,77%anggaran.

Kepada peneliti selanjutnya, data yang diperoleh dari penelitian terhadap Efektivitas Anggaran Pada Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Mamasa Tahun Anggaran 2019 sangat sedikit, disebabkan karena hanya satu variabel yang digunakan. Jadi untuk yang akan melanjutkan penelitian ini ada baiknya jika menambahkan variabel yang belum digunakan dalam penelitian ini.

Dengan adanya penelitian ini, penulis berharap realisasi anggaran dapat dipublikasikan sehingga masyarakat umum bisa mengetahui.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah., Ikhsan., & Siregar, S.K. (2018).

“Analisis Efektivitas Pajak Hotel Dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota medan.” kumpulan jurnal dosen universitas muhammadiyah sumatera utara.

Appa, A. (2020). “Analisis Pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja Pada Dinas Perhubungan Kota Makassar.

Bastian, I. (2010). Akuntansi Sektor Publik Suatu Pengantar. Yogyakarta: Erlangga.

Catatan Atas Laporan Keuangan. (2019).

“Laporan Realisasi Anggaran Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah.” Mamasa

Dalman. (2016). Menulis Karya Ilmiah.

Jakarta: Rajawali Pers

Darmawan, D. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Rachmat. (2018). Akuntansi Pemerintahan.

Bandung: CV Pustaka Setia

Hallim, A., Bambang S., dan Syam, M.

(2014). Akuntansi Manajemen. Yogyakarta:

BPFE

Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 1980 Tentang Pembentukan Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Dan Pengembangan Daerah

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

(2016)Luar Jaringan (Offline), Badan Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa Lasmi W., & Mia. (2017). Analisis Laporan

Keuangan. Bandung: CV Pustaka Setia Mahmudi. (2015). Manajemen Kinerja Sektor

Publik. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan STIM YKPN

Misbahuddin, dan Hasan, I. (2013). Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta:

PT. Bumi Aksara

Deddi, N. dan Hertianti, A. (2010). Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat Paat, H.P., Grace B. N., dan Pusung, R.

(2019). “Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Pelaksanaan Anggaran Belanja Badan Perencanaan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kota Tomohon.” Jurnal Emba:

(7)

Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi 7 (3)

Imanuel, P., dan Pinatik, S. (2016). “Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Belanja pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara.” Jurnal Emba:

Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi 3 (4).

Putra., Fajrian, A., dan Dhiniharitsa, N.

(2020). “Analisis Efektivitas dan Efisiensi Anggaran Belanja

Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 4 Ayat 4

Satori, D., dan Aan, K. (2014). metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta Sujarweni, V. W. (2015). Akuntansi Sektor

Publik. Yogyakarta: Pustaka Baru Press Yogyakarta

The, I., dan Sugiono, A. (2015). Akuntansi Informasi dalam Pengambilan keputusan.

Jakarta: Grasindo

Undang-Undang Nomor 23 Tahun2014 Tentang Pemerintahan Daerah

Umi, Y. (2015). “Analisis Efisiensi dan Efektivitas anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDesa)

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga, dalam hal ini penelitian difokuskan pada Organizational Citizenship Behavior (OCB) di Rumah Sakit Umum Haji Medan dengan mempertimbangkan hasil penelitian sebelumnya

Yes Yes Yes Yes Yes Yes Investigators accounted for unintended concurrent exposures that were differentially experienced by study groups and might bias results.. Yes Yes Yes Yes Yes