EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP KEMAMPUAN KOMUNIKASI
MATEMATIS SISWA MATERI PROGRAM LINEAR KELAS XI DI MAN 2 ACEH BESAR
Skripsi
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika
Oleh
Nova Surya Alami 1711050012
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH
2021
v
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN SAMPUL JUDUL
PERSETUJUAN PEMBIMBING PERSETUJUAN KOMISI PENGUJI
KATA PENGANTAR ... i
ABSTRAK ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 6
1.3Tujuan Penelitian ... 6
1.4Manfaat Penelitian ... 7
1.5Definisi Istilah ... 7
1.6Hipotesis ... 10
BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1PembelajaranMatematika ... 11
2.2komunikasi ... 12
2.3Kemampuan komunikasi Matematis Siswa ... 13
2.4Pembelajaran kooperatif ... 19
2.5Pemebelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw ... 20
2.6Materi Ajar... 24
2.7 Penelitian Yang Relevan………. 28
v BAB III METODE PENELITIAN
3.1Pendekatan Penelitian ... 32
3.2Populasi dan Sampel ... 33
3.3Instrumen Penelitian ... 33
3.4Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.5Teknik Analisis Data ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Gambaran Umum Penelitian ... 40
4.2Pretest ... 42
4.3postest ... 53
4.4Uji T-test ... 66
4.5Deskripsi Hasil Wawancara ... 67
4.6Analisis Hasil Pre-tes Dan Pos-tes ... 70
4.7Analisis Hasil Wawancara... 72
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………. 73
5.2 Saran………. 74
DAFTAR PUSTAKA ... 75
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Bangsa yang telah maju sudah tentu memiliiki pendidikan yang maju. Di Indonesia pendidikan yang berkualitas masih merupakan menara gading, artinya belum semua daerah mampu menikmati pendidikan yang bermutu. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, berbagai usaha telah dilakukan melalui pelatihan, penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam hal ini perlu adanya peningkatan hasil belajar, tercapainya tujuan belajar diperlukan proses pembelajaran yang tepat dan berpengaruh positif.
Faktor yang perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan dan pengajaran adalah faktor tujuan, kualitas guru, kualitas siswa, materi pelajaran, pendekatan pembelajaran serta alat bantu pengajaran. Pentingnya kemampuan komunikasi matematika siswa karena kemampuan komunikasi matematika merupakan salah satu penentu apakah siswa sudah paham terhadap konsep- konsep matematika yang telah dipelajari selama proses pembelajaran (Harahap,2017).
Menurut Elida (2012:178), Matematika sebagai ilmu dasar mempunyai peranan sangat penting untuk mencapai keberhasilan pembangunan dalam segala bidang. Pernyataan tersebut berlandaskan pada asumsi bahwa
2
penguasaan matematika akan menjadi sarana yang ampuh untuk mempelajari mata pelajaran lain, baik pada jenjang pendidikan yang sama maupun pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Matematika juga merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari semua orang, karena matematika dapat digunakan sebagai pelayan dalam mempelajari suatu disiplin ilmu lainnya. Berdasarkan pernyataan Martini, Jamaris (2014: 177) bahwa matematika adalah suatu satu bidang studi hidup, yang perlu dipelajari karena hakikat matematika adalah pemahaman terhadap pola perubahan yang terjadi di dalam dunia nyata dan di dalam pikiran manusia serta keterkaitan diantara pola-pola tersebut secara holistik.
Menurut Majid dan Chaerul (2015:196) bahwa komunikasi merupakan suatu proses yang didalamnya terjadi pertukaran informasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang melibatkan dua orang atau lebih. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Dengan komunikasi, baik tulisan maupun lisan dapat membawa siswa pada pemahaman yang mendalam tentang matematika yang dapat memecahkan masalah dengan baik.
Kemampuan matematis yang harus dicapai oleh siswa dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan komunikasi matematis. Melalui
3
komunikasi, siswa dapat menyampaikan ide-idenya kepada guru dan kepada siswa lainnya. Berdasarkan hal ini kemampuan komunikasi matematis siswa harus diperhatikan oleh setiap guru. Dengan mengomunikasikan ide-ide matematisnya kepada orang lain, seorang siswa bisa meningkatkan pemahaman matematisnya. Dan dapat disimpulkan komunikasi matematis merupakan satu kemampuan dasar matematis yang esensial dan perlu dimiliki oleh siswa sekolah menengah (SM) (Ismarwan, 2013).
Ada dua alasan mengapa kemampuan komunikasi matematis penting dalam pembelajaran matematika. Pertama, matematika adalah bahasa esensial yang tidak hanya alat berpikir, menemukan rumus, menyelesaikan masalah atau menyimpulkan saja, namun matematika juga memiliki nilai yang tak terbatas untuk menyatakan beragam ide secara jelas, teliti dan tepat. Kedua, matematika dan belajar matematika adalah jantungnya kegiatan sosial manusia, misalnya interaksi antara guru dan siswa, siswa dan siswa, serta antara siswa dan bahan pembelajarannya. Kedua alasan ini menunjukkan bahwa matematika sebagai ilmu memuat sesuatu yang masuk akal dan diperlukan kemampuan komunikasi untuk menyampaikan idenya kepada orang lain (Baroody dalam Sunarmo dan Hendriana, 2014:30).
Rendahnya kemampuan peserta didik di bidang matematika bukan hal yang baru karena peserta didik beranggapan bahwa pelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit (Rangkuti,2014). Kemampuan siswa dalam
4
komunikasi matematis masih kurang, hal ini terlihat ketika siswa enggan dan ragu dalam mengungkapkan pendapat untuk menyelesikan permasalahan dalam bentuk lisan maupun tulisan apabila dihadapkan dengan permasalahan (Arifin, dkk, 2016).
Namun kenyataannya, kemampuan komunikasi matematika siswa masih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Ansari (2016:3), bahwa kemampuan komunikasi matematika siswa rendah disebabkan karena (a) dalam mengajar guru sering mencontohkan pada siswa bagaimana menyelesaikan soal, (b) siswa belajar dengan cara mendengar dan menonton guru dalam memecahkan masalah matematika, dan (c) pada saat mengajar matematika guru langsung menjelaskan materi yang dipelajari. Untuk mengatasi masalah di atas, maka diperlukan pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif yaitu Menurut Isjoni (2014:54), pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.
Model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw adalah sebuah model belajar yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti yang diungkapkan (Lie dalam Majid, 2016:182) bahwa pembelajaran kooperatif model Jigsaw ini merupakan model belajar dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4 sampai
5
dengan 6 orang secara heterogen, dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
Menurut (Ibrahim dalam Majid, 2016:182), dalam terapan tipe Jigsaw, materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu dari bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas atau topik yang sama, yakni berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli.
Berkaitan dengan pentingnya kemampuan komunikasi yang sejalan dengan materi program linear dimana menyelesaikan masalah yang bersifat kontekstual ke dalam ide atau model matematika. Siswa dituntut untuk dapat mengumpulkan data serta mengkomunikasikan permasalahan yang disajikan dalam bentuk soal cerita dalam kehidupan sehari hari menjadi model matematika (Isnaeni, et. Al, 2019).
Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas XI MIA 1 ketika dilaksanakan proses pembelajaran matematika terdapat beberapa masalah yaitu: kesulitan menyelesaikan permasalahan pada program linear. Selain itu siswa juga hampir tidak pernah mengajukan pertanyaan jika ada materi yang belum dimengerti dan masih banyak siswa yang kurang berani menyampaikan hasil kerjanya di depan kelas. Kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh
6
guru, siswa kurang berani memberikan pendapat dan menaggapi pertanyaan dari teman lainnya, siswa terlihat bingung ketika dihadapkan dengan rumus- rumus dalam bentuk lambang atau notasi matematika sehingga tidak mampu mengkomunikasikannya.
Berdasarkan berbagai pemikiran yang telah disampaikan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa pada Materi Program Linier Kelas XI Di MAN 2 Aceh Besar”
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah efektif pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear kelas XI Di MAN 2 Aceh Besar?
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear kelas XI Di MAN 2 Aceh Besar.
7 1.4Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
Memotivasi siswa untuk memaksimalkan potensi belajar dan pencapaian hasil belajar siswa melalui pembelajaran ini siswa dapat berinterakasi sesama teman kelompoknya.
2. Bagi Guru
Sebagai referensi untuk melakasanakan pembelajaran dan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa dengan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.
3. Bagi Sekolah
Meningkatkan hasil belajar matematika dan citra sekolah di masyarakat .
4. Bagi Peneliti lainnya (referensi)
Pengalaman yang berharga untuk melaksanakan tugas di masa yang akan datang dan menjadikan bekal bagi peneliti.
1.5Definisi Istilah
Agar tidak menimbulkan salah penafsiran,berikut ini adalah beberapa istilah khusus yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1.Efektivitas
8
Efektivitas merupakan suatu keadaan yang mengandung pengertian mengenai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kata efektif diartikan sebagai terjadinya suatu efek atau akibat yang dikehendaki dalam suatu perbuatan yang dilakukan. Efektivitas pembelajaran dapat diukur berdasarkan ketercapaian aktivitas guru,aktivitas siswa, hasil belajar siswa dan respon siswa yang sesuai dengan harapan ( mencapai kategori baik).
2.Kemampuan komunikasi
Secara umum, komunikasi dapat diartikan sebagai proses untuk mencapai tujuan komunikasi itu sendiri yaitu untuk menyampaikan pesan dari satu orang ke orang lain baik secara langsung (lisan) maupun tidak langsung. Komunikasi merupakan cara berbagai ide dan memperjelas pemahaman. Komunikasi merupakan suatu proses penerimaan dan penyampaian hasil pemikiran individu melalui simbol kepada orang lain menurut Baird (Hendriana, 2017).
3.Kemampuan komunikasi matematis siswa
Kemampuan komunikasi matematis adalah kemampuan siswa dalam menyampaikan dan menyatakan ide-ide atau gagasan dalam matematika yang merupakan bawaan sejak lahir atau hasil latihan baik secara lisan maupun tulisan dalam bentuk gambar, diagram, dan simbol. Kesanggupan siswa dalam mengkomunikasikan ide-ide atau konsep yang terkandung dalam matematika secara tepat.
9 4.Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu strategi belajar dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok setiap anggota saling bekerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran
5.Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal. Pembelajaran model jigsaw adalah meningkatkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif dan penguasaan pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh peserta didik apabila peserta didik mempelajari materi secara individu.
6. Progam Linear
Program linear adalah suatu cara untuk menyelesaikan persoalan tertentu berdasarkan kaidah matematika dengan menyelidiki model matematikanya (dalam bentuk sistem pertidaksamaaan linear) yang memiliki banyak penyelesaian. Dari banyak penyelesaian yang mungkin itu, kita pilih penyelesaian yang optimum, artinya memenuhi syarat pertidaksamaan.
10 1.6. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Ha: Hipotesis alternative yang cenderung dinyatakan dalam kalimat positif.
Ho: Hipotesis nol yang cenderung dinyatakan dalam kalimat negatif.
Dalam penelitian ini, hipotesis yang diajukan adalah efektivitas pembelajaran tipe jigsaw terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear kelas XI di MAN 2 Aceh Besar. Untuk kepentingan uji statistik maka dikembangkan.
Berdasarkan uraian diatas peneliti mengajukan hipotesa yaitu :
: Tidak terdapat efektivitas pembelajaran tipe jigsaw terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear kelas XI ipa 1 MAN 2 Aceh Besar.
: Terdapat efektivitas pembelajaran tipe jigsaw terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa pada materi program linear kelas XI ipa 1 MAN 2 Aceh Besar.
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)