• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas pendekatan metakognitif terhadap

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "efektivitas pendekatan metakognitif terhadap"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS PENDEKATAN METAKOGNITIF TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS

SISWA KELAS VII DI MTS NEGERI 2 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020

oleh

Andari Filna Jesika NIM. 160103068

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(2)

EFEKTIVITAS PENDEKATAN METAKOGNITIF TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS

SISWA KELAS VII DI MTS NEGERI 2 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram

untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan

oleh

Andari Filna Jesika NIM. 160103068

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Andari Filna Jesika, NIM: 160103068 dengan judul “Efektivitas Pendekatan Metakognitif terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.

Disetujui pada tanggal: 18 Juni 2020

Pembimbing I Pembimbing II

Samsul Irpan, M.Pd Sofyan Mahfudy, M.Pd

NIP. 198007082009121002 NIP. 198503292015031002

(4)

Mataram, 18 Juni 2020 Hal: Ujian Skripsi

Yang Terhormat

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Di Mataram

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Dengan hormat, setelah melakukuan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudari:

Nama : Andari Filna Jesika

NIM : 160103068

Program Studi : Tadris Matematika

Judul : Efektivitas Pendekatan Metakognitif terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020”

telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.

Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh

Pembimbing I Pembimbing II

Samsul Irpan, M.Pd Sofyan Mahfudy, M.Pd

NIP. 198007082009121002 NIP. 198503292015031002

(5)
(6)

MOTTO

“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani),

yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit”

~ Ali bin Abi Thalib ~

(7)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini untuk :

 Kedua orang tuaku tercinta, Ibu Hayati dan Ayah Ahmad Zamhari terima kasih atas do’a, dukungan, motivasi serta pengorbanan yang tiada hentinya kepada saya sehingga mampu menyelesaikan skripsi ini.

 Guru-guru serta dosen-dosen saya yang tak pernah bosan untuk membimbing dan memberikan ilmu kepada saya.

 Teman-temanku kelas C angkatan 2016 (COMATH 2016) UIN Mataram, Marhaeni, KKP Terara, dan PPL MTsN 2 Mataram, atas dukungannya selama ini agar bisa menyelesaikan skripsi.

 Dan yang terpenting, skripsi ini akan saya persembahkan untuk almamater saya tercinta Universitas Islam Negeri Mataram yang telah memberikan saya kesempatan untuk mencari ilmu, mencari pengalaman, dan mencari jati diri kurang lebih 4 tahun lamanya.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian proposal ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.

1. Bapak Samsul Irpan, M.Pd. sebagai Pembimbing I dan Bapak Sofyan Mahfudy, M.Pd. sebagai Pembimbing II yang telah memberikan saran, bimbingan dan pengarahan selama penyusunan skripsi ini, sehingga bisa terselesaikan;

2. Bapak Dr. Alkusairi, M.Pd selaku Ketua Program Studi Tadris Matematika dan Bapak Erpin Evendi, M.Pd selaku Sekretaris Program Studi Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Mataram;

3. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Tadris Matematika, atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan tanpa mengenal lelah;

4. Orang tua, keluarga dan teman-teman yang selalu memberikan dukungan dan do’a;

(9)

5. Drs. H. Marzuki, M.Pd selaku kepala sekolah MTs Negeri 2 Mataram dan Ibu Yunita, S.Pd selaku guru mata pelajaran matematika kelas VII MTs Negeri 2 Mataram yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca. Aamiin.

Mataram, 18 Juni 2020 Penulis,

Andari Filna Jesika

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ………….. ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan dan Batasan Masalah ... 6

1. Rumusan Masalah... 6

2. Batasan Masalah ... 6

C. Tujuan dan Manfaat ... 6

1. Tujuan ... 6

2. Manfaat ... 7

D. Definisi Operasional ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN ... 10

A. Telaah Pustaka ... 10

B. Landasan Teori ... 12

C. Kerangka Berpikir ... 31

D. Hipotesis Penelitian ... 34

BAB III METODE PENELITIAN ... 35

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 35

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 35

C. Waktu dan Tempat Penelitian... 37

D. Variabel Penelitian ... 37

E. Desain Penelitian ... 38

F. Instrumen/Alat dan Bahan Penelitian ... 39

G. Teknik Pengumpulan Data/Prosedur Penelitian ... 40

H. Teknik Analisis Data ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Hasil Penelitian ... 45

(11)

1. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 45

2. Analisis Data... 47

B. Pembahasan ... 51

BAB V PENUTUP ... 57

A. Kesimpulan ... 57

B. Saran ... 57

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 62

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Komponen Kegiatan Pendekatan Metakognitif

Tabel 2.2 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Robert Ennis Tabel 2.3 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Tabel 3.1 Rincian Banyak Siswa Kelas VII MTs Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020

Tabel 3.2 Kisi-kisi Soal Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Tabel 4.1 Nilai Pretest dan Posttsest

Tabel 4.2 Deskripsi Statistik Data Hasil Pretest dan Posttest Tabel 4.3 Hasil Validasi Ahli

Tabel 4.5 Uji Normalitas Data Pretest Tabel 4.6 Uji Normalitas Data Posttest

Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis Paired Sample T Test

(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Gambar 3.1 One Group Pretest Posttest Design

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest Lampiran 2 Uji Hipotesis Paired Sample T Test

Lampiran 3 Soal Pretest dan Posttest Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa

Lampiran 4 Kunci Jawabab Soal Pretest dan Posttest Tes Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa

Lampiran 5 Pedoman Penskoran Lampiran 6 RPP

Lampiran 7 LKS

Lampiran 8 Lembar Validasi Instrumen

(15)

EFEKTIVITAS PENDEKATAN METAKOGNITIF TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS

SISWA KELAS VII DI MTS NEGERI 2 MATARAM TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Oleh:

Andari Filna Jesika NIM. 160103068

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendekatan metakognitif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2019/2020. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian yang digunakan yaitu desain eksperimen yang tergolong pre experiment design dengan jenis one group pretest-posttest design.

Sampel penelitian ini sebanyak 40 siswa yang terdiri dari satu kelas yaitu kelas VIIB. Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tes essay yang terdiri dari satu butir soal. Untuk uji validitas intrumen peneliti menggunakan uji validitas isi dengan validatornya 2 dosen dari UIN Mataram dan 1 guru matematika dari MTs Negeri 2 Mataram. Uji hipotesis menggunakan uji paired sample t test yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas data yang dianalisis dengan menggunakan rumus chi kuadrat.

Hasil perhitungan chi kuadrat menggunakan perhitungan manual didapatkan bahwa untuk data hasil pretest nilai 𝜒2𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 3,865 dan 𝜒2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 12,592 maka 𝜒2𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≤ 𝜒2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, sehingga data dari nilai pretest berdistribusi normal.

Begitu juga untuk data hasil posttest didapat nilai 𝜒2𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 10,88 dan 𝜒2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 12,592 maka 𝜒2𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 ≤ 𝜒2𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 , sehingga data dari nilai posttest berdistribusi normal. Adapun hasil perhitungan uji paired sample t test menggunakan SPSS didapat nilai Sig. (2 tailed) sebesar 0,000 < 0,05, maka 𝐻0 ditolak dan 𝐻1 diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan metakognitif efektif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2019/2020.

Kata Kunci: Pendekatan Metakognitif, Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

(16)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Sejak peradaban manusia bermula, matematika memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai simbol, rumus, teorema dan ketetapan banyak digunakan untuk membantu perhitungan, penilaian, peramalan dan sebagainya. Maka dari itu, tidak heran jika peradaban manusia berkembang pesat karena ditunjang oleh partisipasi matematika yang selalu mengikuti perkembangan dan perubahan zaman. Selain itu, matematika juga merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama tentu akan tertinggal dari kemajuan segala bidang (sains dan teknologi), dibandingkan dengan negara yang memberikan tempat bagi pendidikan matematika sebagai subjek yang sangat penting.1 Mengenai pentingnya matematika, Lia Kurniawati juga mengatakan,

Matematika merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam ilmu pengetahuan. Apabila dilihat dari pengelompokan bidang ilmu pengetahuan, matematika merupakan salah satu ilmu yang termasuk ke dalam kelompok ilmu eksakta. Untuk dapat memahami suatu pokok bahasan dalam matematika, siswa harus mampu menguasai konsep- konsep yang terdapat dalam matematika dan keterkaitannya serta mampu menerapkan konsep-konsep matematika tersebut untuk memecahkan masalah matematika.2

1Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Mathematical Intelligence: Cara Cerdas Melatih Otank dan Menanggulangi Kesulitan Belajar, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 41

2Lia Kurniawati, “Pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving) dalam Upaya Mengatasi Kesulitan-kesulitan Siswa pada Soal Cerita”, dalam Gelar Dwirahayu dan Munasprianto Ramli (ed), Pendekatan Baru dalam Pembelajaran Sains dan Matematika Dasar:

Sebuah Ontologi, (Jakarta: PIC UIN Jakarta, 2007), hlm. 45.

(17)

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah menjelaskan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar, untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, inovatif dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.

Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengolah, dan memanfaatkan informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan bahwa peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar matematika.3 Dengan demikian, di samping untuk pencapaian tujuan pada tiap materi, siswa perlu dibekali pula dengan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga mampu mengembangkan dan mengevaluasi argumen dalam suatu pemecahan masalah tertentu. Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis.

Paradigma pembelajaran matematika sekolah di Indonesia masih didominasi oleh paradigma pembelajaran konvesional, yaitu paradigma mengajar. Siswa diposisikan sebagai objek, siswa dianggap tidak mengetahui atau belum mengetahui apa-apa dan dianggap sebagai gelas kosong yang harus diisi oleh air sampai tumpah. Sementara itu, guru memposisikan diri sebagai orang yang mempunyai pengetahuan dan sebagai satu-satunya sumber

3Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah.

(18)

ilmu, guru ceramah, menggurui dan otoritas tertinggi terletak pada guru.4 Pembelajaran yang digunakan guru cenderung belum mendukung berkembangnya kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini mengakibatkan siswa menjadi tidak terbiasa dan kurang memperoleh kesempatan untuk melakukukan kegiatan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, siswa juga hanya memperoreh pengetahun matematika dalam bentuk jadi, lebih bersifat hafalan dan lebih menekankan pada kemampuan prosedural.5

Ditinjau dari mutu akademik di bidang matematika antar negara melalui Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2003, siswa Indonesia berada pada peringkat 39 dari 40 negara sampel, hasil PISA tahun 2006 Indonesia pada peringkat 38 dari 41 negara, hasil PISA tahun 2009 pada peringkat 61 dari 65 negara, hasil survei PISA pada tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara, kemudian hasil PISA tahun 2015 Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara peserta dengan skor 403 dari rata - rata skor OECD 493.6 Adapun hasil PISA terbaru tahun 2018 yang dirilis pada bulan Desember 2019 menjelaskan bahwa Indonesia berada diperingkat 73 dari 79 negara peserta dengan skor rata-rata 379.7 Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam menyelesaikan

4Moch. Masykur Ag dan Abdul Halim Fathani, Mathematical…, hlm. 57

5H.J Sriyanto, Mengobarkan Api Matematika, (Jawa Barat: CV Jejak, 2017), hlm. 127.

6Ice Afriyanti, Wardono dan Kartono, “Pengembangan Literasi Matematika Mengacu PISA Melalui Pembelajaran Abad Ke-21 Berbasis Tekhnologi”, (Seminar, Program Pascasarjana UNS, Semarang, 2018), hlm. 609.

7Mohammad Tohir, “Hasil Pisa Indonesia Tahun 2018 Turun Dibanding Tahun 2015”

dalam https://matematohir.wordpress.com/2019/12/03/hasil-pisa-indonesia-tahun-2018-turun- dibanding-tahun-2015/ diakses tanggal 4 Juli 2020, pukul 21.33 WITA.

(19)

soal yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti penalaran, berpikir kritis dan memecahkan masalah masih rendah.

Berdasarkan hasil tes awal kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang dilakukan peneliti di kelas VIIB pada materi garis menunjukkan bahwa hasil rata-rata skor tes awal kemampuan berpikir kritis matematis siswa hanya memperoleh rata-rata sebesar 26,95 dengan skor tertinggi 53 dan skor terendah 3.8 Sementara itu, hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa MTs oleh Maifalinda Fatra dan Tita Khalis Maryati pada tahun 2018 menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil rata - rata skor tes kemampuan berpikir kritis siswa hanya memperoleh sebesar 26,92.9 Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Solliala pada materi Garis dan Sudut menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir kritis matematis siswa dalam mngevaluasi soal masih sangat kurang yaitu mencapai 41,9% dan dalam menyimpulkan soal masih sangat rendah yaitu 22,5%.10

Pendekatan metakognitif merupakan salah satu pendekatan yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.11 Metakognitif

8 Kelas VIIB, Tes Awal, MTs Negeri 2 Mataram, 28 Februari 2020.

9Maifalinda Fatra dan Tita Khalis Maryati, “Implementasi K13 pada Pembelajaran Matematika dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif” dalam http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/42272/1/Implementasi%20K13%20Pada

%20Pembelajaran%20Matematika%20Dalam%20Meningkatkan%20Kemampuan%20Berpikir%2 0Kritis%20dan%20Kreatif.pdf, diakses tanggal 26 Desember 2019, pukul 09.41 WITA.

10Solliala, “Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa dalam Menjawab Soal pada Pelajaran Matematika Kelas VII SMP Negeri 2 Suela Tahun Pelajaran 2016/2017”, (Skripsi, FTK UIN Mataram, Mataram, 2017), hlm. 65-66.

11M. Subali Noto dkk., “Efektivitas Pendekatan Metakognitif Terhadap Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Matematis Siswa” dalam http://fkip unswagati.ac.id/ejournal/index.php/repository/article/download/162/158, diakses tanggal 2 Juli 2019 , pukul 06.34 WITA

(20)

adalah kemampuan seseorang dalam mengontrol proses belajarnya, mulai dari perencanaan, memilih strategi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, memonitor kemajuan dalam belajar dan mengoreksi kesalahan yang terjadi selama belajar memahami konsep, menganalisis strategi yang diperoleh sebagai bentuk upaya refleksi. Jadi dengan adanya pendekatan metakognitif ini dapat membantu siswa untuk mengeluarkan hasil pemikiran mereka sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam diri siswa.12 Pendekatan metakognitif memiliki banyak kelebihan jika digunakan dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Hal ini tentu saja didasarkan bahwa dengan mengembangkan kesadaran metakognisinya, siswa terlatih dalam menyelesaikan masalah, merancang strategi yang tepat serta memilih, mengingat, mengenali kembali dan mengorganisasi informasi yang dihadapinya.13

Cristanti dalam Raras Budiarti Lestari menjelaskan bahwa salah satu tujuan pendekatan metakognitif adalah untuk menumbuhkan kesadaran bertanya pada diri sendiri. Melalui pendekatan ini, siswa diajak untuk menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya dalam mempelajari matematika serta bagaimana mengatasinya. Pembelajaran dengan pendekatan ini cenderung melibatkan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak lagi menjadi objek pasif di dalam kelas, melainkan secara aktif

12Ibid.

13Azi Nugraha, “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Metakognitif Berbasis Humanistik untuk Menumbuhkan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Himpunan Kelas VII”, METIKA, Vol. 1, Nomor. 1, Februari 2019, hlm. 2.

(21)

mengontrol proses berpikir dan belajarnya. Melalui pendekatan ini matematika juga disajikan sebagai suatu aktivitas berpikir dan bernalar bukan lagi sebagai penanaman konsep yang abstrak. Kegiatan yang lebih bervariasi inilah yang kemudian diduga berpotensi untuk mengatasi kemampuan berpikir kritis matematis siswa.14

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Efektivitas Pendekatan Metakognitif terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram Tahun Pelajaran 2019/2020.

B. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah adalah apakah pendekatan metakognitif efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2019/2020.?

2. Batasan Masalah

Untuk menghindari kesalahan penafsiran mengenai penelitian ini, maka batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

a. Kelas yang akan diteliti adalah kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2019/2020.

b. Materi yang akan diteliti adalah materi tentang garis.

14Raras Budiarti Lestari dkk., “Penerapan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMA Ditinjau dari Tahap Perkembangan Kognitif”, Prima, Vol. 3, Nomor 2, Juli 2019, hlm. 137.

(22)

C. Tujuan dan Manfaat

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pendekatan metakognitif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa MTs Negeri 2 Mataram. Adapun manfaat yang diharapakan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Guru

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian dapat dijadikan oleh guru sebagai referensi dalam memilih pendekatan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

b. Manfaat Praktis

Dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau pertimbangan dalam memilih pendekatan dalam mengajar matematika dan dapat memperbaiki pelaksanaan pembelajaran matematika di dalam kelas.

2. Bagi Siswa

a. Manfaat Teoritis

Siswa dapat memperoleh pengetahuan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis matematis melalui pendekatan metakognitif.

b. Manfaat Praktis

Sebagai subjek penelitian, siswa diharapkan mendapat pengalaman langsung dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran dapat menjadi lebih aktif.

(23)

D. Definisi Operasional

Definisi operasional memberikan gambaran yang jelas tentang penggunaan pendekatan metakognitif terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa sehingga tidak terjadi salah pengertian pada judul penelitian ini, maka definisi dapat dipaparkan sebagai berikut :

1. Pendekatan Metakognitif

Suzana dalam Euis Ayisari mendefinisikan bahwa pembelajaran dengan pendekatan metakognitif adalah pendekatan pembelajaran yang membantu dan menanamkan kesadaran bagaimana merancang, memonitor serta mengontrol apa yang siswa ketahui, apa yang diperlukan siswa untuk mengerjakan dan bagaimana cara mengerjakan15

Dengan demikian dalam penelitian ini, pendekatan metakognitif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada aktivitas belajar siswa pada saat belajar matematika kemudian membantu dan menanamkan kesadaran kepada siswa suatu proses bagaimana merancang, memonitor serta mengevaluasi apa yang siswa ketahui, apa yang diperlukan siswa untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu permasalahan yang diberikan dan bagaimana cara mengerjakan atau menyelesaikan permasalahan tersebut.

2. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Menurut Glazer kemampuan berpikir kritis matematis adalah kemampuan dan disposisi yang menggabungkan pengetahuan awal,

15Euis Ayisari, “Penerapan Pendekatan Metakognitif dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa SMP”, (Skripsi, FKIP Universitas Pasudan, Bandung, 2016), hlm. 13.

(24)

penalaran matematika, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi sitauasi matematika yang tidak biasa secara reflektif.16

Dengan demikian dalam penelitian ini, kemampuan berpikir kritis matematis adalah kemampuan berpikir reflektif dalam memecahkan masalah matematika yaitu dengan menganalisis dan menjelaskan masalah sebelum mengambil tindakan yang melibatkan pengetahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi masalah matematika yang diberikan.

Adapun pengatahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif yang dimaksud yaitu pengetahuan awal meliputi pengetahuan deklaratif dan prosedural, penalaran matematika yang meliputi kemampuan menjalankan prosedural penyelesaian masalah matematis dan kemampuan memberikan alasan atas penyelesaian yang dilakukan, serta strategi kognitif yang meliputi kemampuan internal yang membantu memecahkan masalah dalam pembelajaran. Berdasarkan definisi tersebut, adapun kelompok indikator dari kemampuan berpikir kritis matematis yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu :

a. Memberikan penjelasan yang sederhana.

b. Membangun keterampilan dasar.

c. Membuat simpulan.

d. Menentukan strategi dan taktik untuk menyelesaikan masalah.

16Evan Glazer, Using Internet Primary Sources to Teach Critical Thinking Skills in Mathematics, (Amerika: Greenwood Press, 2001), hlm. 13

(25)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Kajian Pustaka

1. Telaah Pustaka

Untuk lebih memahami dan mendalami lebih jauh terhadap apa yang akan peneliti kaji maka perlu adanya penelaahan secara logis dan terarah.

Oleh karena itu, pada bagian ini peneliti akan memaparkan beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan tujuan untuk menegaskan kebaruan dan orisinalitas penelitian bagi pengembangan keilmuan terkait.

Pada telaah pustaka ini, peneliti memaparkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul peneliti yang telah peneliti kaji diantaranya sebagai berikut :

a. Penelitian yang dilakukan oleh M. Subali Noto, Tonah dan Hernati dengan kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang positif secara signifikan dari aktivitas siswa dalam pendekatan metakognitif dan kemandirian belajar terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa, pengaruh langsung dari aktivitas siswa dalam pendekatan metakognitif terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan pengaruh tidak langsung dalam pendekatan metakognitif terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa melalui kemandirian belajar siswa serta terdapat pengaruh yang positif secara signifikan dari aktivitas siswa dalam pendekatan metakognitif terhadap kemandirian

(26)

belajar siswa. Tercapainya ketuntasan individual sebanyak 34 siswa dari 38 siswa dan ketuntasan klasikal dengan rata - rata 76,29 dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakogitif.17 Dalam penelitian ini, persamaannya adalah variabel mengenai pendekatan metakognitif. Sedangkan perbedaannya terdapat pada variabel mengenai berpikir kritis matematis dan kemandirian belajar siswa, dalam penelitian yang akan diteliti oleh peneliti hanya menggunakan kemampuan berpikir kritis matematis.

b. Penelitian yang dilakukan oleh Raras Budiarti, Hepsi Nindiasari, dan Abdul Fatah dengan kesimpulannya adalah peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan metakognitif lebih tinggi dari siswa yang memperoleh pembelajaran dengan ekspositori.18 Dalam penelitian ini, persamaan yang ditemukan adalah variabel mengenai pendekatan metakognitif dan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Perbedaannya terdapat pada tujuan penelitiannya yaitu untuk meningkatkan dan dalam penelitian ini juga menggunakan tinjauan yaitu ditinjau dari tahap perkembangan kognitif sedangkan dalam penelitian yang akan diteliti oleh peneliti bertujuan untuk mengatahui efektivitas dan tidak menggunakan tinjauan.

c. Penelitian yang dilakukan oleh Mega Achdisty Noordyana dengan.

kesimpulan yang dipaparkan bahwa kemampuan berpikir kritis

17 M. Subali Noto dkk., “Efektivitas…

18Raras Budiarti Lestari dkk., “Penerapan…, hlm. 142.

(27)

matematis siswa yang memperoleh pembalajaran dengan menggunakan pendekatan metacognitive instruction lebih baik dari kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan konvesioanal.19 Dalam penelitian ini, persamaan yang ditemukan adalah variabel mengenai kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Perbedaannya terdapat pada tujuan penelitiannya yaitu untuk meningkatkan dan dalam penelitian ini juga menggunakan pendekatan Metacognitive Instruction, sedangkan dalam penelitian yang akan diteliti oleh peneliti bertujuan untuk mengatahui efektivitas dan juga menggunakan pendekatan metakognitif.

2. Landasan Teori

a. Pendekatan Metakognitif

1) Pengertian Pendekatan Metakognitif

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan terhadap suatu proses yang sifatnya masih umum. Pendekatan merupakan langkah awal dalam pembentukan suatu ide dalam memandang suatu masalah atau objek kajian, yang akan menentukan arah pelaksanaan ide tersebut untuk

19Mega Achdisty Noordyana, “Meningkatkan…, hlm. 126.

(28)

menggambarkan perlakuan yang diterapkan terhadap suatu masalah atau objek kajian yang akan ditangani.20

Metakognitif adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognisi atau pengetahuan tentang berpikir dan cara kerjanya.

Metakognitif merupakan suatu proses menggunggah rasa ingin tahu kerena siswa dapat menggunakan proses kognitifnya untuk merenungkan proses kognitifnya sendiri. Metakognitif tidak sama dengan kognitif atau proses berpikir (seperti membuat perbandingan, ramalan, menilai, membuat sintesis atau menganalisis). Sebaliknya, metakognitif merupakan suatu kemampuan dimana individu berdiri di luar kepalanya dan mencoba untuk memahami cara berpikir atau memahami proses kognitif yang dilakukannya dengan melibatkan komponen- komponen perencanaan (functional planning), pengontrolan (self- monitoring), dan evaluasi (self-evaluation).21

Kramarski dan Mevarech dalam Maria Isabella Chrissanti dan Djamilah Bondan Widjajanti berpendapat bahwa pembelajaran dengan pendekatan metakognitif dapat dilakukan dengan metode IMPROVE yang merupakan akronim dari Introducing new concepts, Metacognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulties, Obtaining mastery, Verification, and

20Abdullah, “Pendekatan dan Model Pembelajaran yang Mengaktifkan Siswa”, Edureligia, Vol. 1, Nomor 1, Tahun 2007, hlm. 47.

21Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 131-132.

(29)

Enrichment. Dalam Introducing new concepts, guru memberikan konsep baru melalui pertanyaan-pertanyaan yang membangun pengetahuan siswa; Metacognitive questioning, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif kepada siswa terkait materi;

Practicing, siswa berlatih memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru; Reviewing and reducing difficulties, guru memberikan review kepada kesalahan-kesalahan yang dihadapi siswa pada saat latihan; Obtaining mastery, memberikan tes kepada siswa untuk mengetahui penguasan materi siswa;

Verification, melakukan verifikasi untuk mengetahui siswa mana yang mencapai kelulusan dan siswa mana yang belum mencapai kelulusan; and Enrichment, pengayaan terhadap siswa yang belum mencapai batas kelulusan. Pembelajaran dengan pendekatan metakognitif yang dilakukan dengan metode ini didasarkan pada kesadaran bertanya dalam diri sendiri melalui penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang difokuskan pada memahami masalah, mengkonstruksikan hubungan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru, menggunakan strategi pemecahan masalah yang sesuai dan merefleksikan proses dan solusi yang diperoleh.22

Suzana dalam Euis Ayisari mendefinisikan bahwa pembelajaran dengan pendekatan metakognitif sebagai pembelajaran yang menanamkan kesadaran bagaimana merancang,

22Maria Isabella Chrissanti dan Djamilah Bondan Widjajanti, “Keefektifan Pendekatan Metakognitif Ditinjau dari Prestasi Belajar, Kemampuan Berpikir Kritis dan Minat Belajar Matematika”, Jurnal Riset Pendidikan Matematika, Vol. 2, Nomor 1, Mei 2015, hlm. 54.

(30)

memonitor serta mengontrol apa yang siswa ketahui, apa yang diperlukan siswa untuk mengerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Pembelajaran dengan metakognitif menitikberatkan pada aktivitas belajar siswa, membantu dam membimbing siswa jika ada kesulitan, serta membantu siswa mengembangkan konsep diri terhadap apa yang dilakukan saat belajar matematika.23

Menurut Ekaningsih dalam Daroinis Sa’adah menjelaskan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan metakognitif adalah pembelajaran matematika yang berfokus pada aktivitas belajar, membantu dan membimbing siswa jika mengalami kesulitan, dan membantu siswa dalam mengembangkan kesadaran metakognisinya, dengan mengembangkan kesadaran pada metakognisinya, siswa terlatih untuk merancang strategi terbaik dalam memilih, mengingat, mengenali kembali, mengorganisasi informasi yang dimiliki serta menyelesaikan masalah.24

Berdasarkan pendapat di atas, peneliti dapat simpulkan bahwa pendekatan metakognitif adalah pendekatan pembelajaran yang membantu dan menanamkan kesadaran bagaimana merancang, memonitor serta mengevaluasi apa yang siswa ketahui, apa yang

23Euis Ayisari, “Penerapan…, hlm. 13.

24Daroinis Sa’adah dkk., “Pengembangan Perangkat Ajar Model Core Pendekatan Metekognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri Kelas VIII”, Edumath, Vol. 3, Nomor 1, Januari 2017, hlm. 17.

(31)

diperlukan siswa untuk mengerjakan dan bagaimana cara mengerjakan.

Dengan demikian, penerapan pendekatan metakognitif dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada aktivitas belajar siswa pada saat masalah diberikan kemudian membantu dan menanamkan kesadaran kepada siswa suatu proses bagaimana merancang, memonitor serta mengevaluasi apa yang siswa ketahui dalam masalah tersebut, apa yang diperlukan siswa untuk mengerjakan atau menyelesaikan masalah tersebut dan bagaimana cara mengerjakan atau menyelesaikan masalah yang diberikan.

2) Ciri Utama Pendekatan Metakognitif

Menurut Nindiasari dalam Agusmanto J.B Hutauruk menjelaskan bahwa pendekatan metakognitif memiliki ciri utama yaitu menyadarkan kemampuan metakognitif siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan metakognitif yang berisi pemahaman masalah, perencanaan penyelesaian masalah dan mereview hasil penyelesaian masalah. Pertanyaan-pertanyan tersebut difokuskan pada :

a) Bagaimana memahami masalah

b) Bagaimana membangun koneksi antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan sebelumnya beserta alasannya c) Bagaimana penggunaan strategi yang sesuai untuk

menyelesaikan masalah

d) Bagaimana bercermin pada proses dan solusi, serta

(32)

e) Bagaimana membuat siswa belajar bermakna agar hasil yang diperoleh maksimal.25

Berdasarkan ciri utama pendekatan metakognitif di atas, untuk menyadarkan kemampuan metakognitif siswa peneliti akan memfokuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut pada saat siswa diberikan masalah matematika sehingga siswa dapat menemukan solusi dari permasalahan yang diberikan.

3) Komponen Kegiatan Pendekatan Metakognitif

Menurut Zul Jalali Wal Ikram menjelaskan bahwa pada hakekatnya para pakar berpendapat bahwa komponen atau indikator dari metekognitif terdiri dari tiga elemen, yaitu:

menyusun strategi atau rencana tindakan, memonitor tindakan serta mengevaluasi tindakan. Berikut gambaran aktivitas-aktivitas siswa dari setiap komponen dari metakognitif yang berupa pertanyaan- pertanyaan pada diri siswa sendiri.

Tabel 2.1

Komponen Kegiatan Pendekatan Metakognitif

Komponen Aktivitas siswa

Menyusun strategi atau rencana tindakan

1) Pengetahuan awal apa yang bisa membantu menyelesaikan tugas ini?

2) Ke arah mana pikiranku ini akan membawaku?

3) Apa pertama kali yang harus aku lakukan?

4) Mengapa aku membaca bagian ini?

25Agusmanto J.B. Hutauruk, “Pendekatan Metakognitif dalam Pembelajaran Matematika”, dalam Toto Subroto dkk (ed), Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, (Cirebon: FKIP Unswagati Press, 2016), hlm. 180.

(33)

5) Berapa lama aku harus menyelesaikan tugas ini?

Memonitor atau mengontrol tindakan

1) Bagaimana aku melakukannya?

2) Apakah aku sudah berada di jalan yang benar?

3) Bagaimana seharusnya aku melanjutkanya?

4) Informasi apa yang penting untuk diingat?

5) Haruskan aku pindah ke cara yang berbeda?

6) Haruskan aku melakukan penyesuaian langkah berkaitan dengan kesulitan?

Mengevaluasi tindakan 1) Seberapa baik yang telah aku lakukan?

2) Apakah aku sudah dapat melakaukan dengan cara yang berbeda?

3) Mungkinkah aku menerapkan cara ini untuk masalah lain?

4) Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Metakognitif Menurut Murni dalam Agusmanto J.B Hutauruk menjelaskan bahwa kegiatan guru dalam menumbuhkan metakognisi siswa dalam pembelajaran matematika dapat dilakukan dalam hal-hal berikut :

a) Guru sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam mengontrol proses dan aktivitas berpikir siswa, memilih strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah, mengevaluasi dan memrefleksi diri serta mendorong siswa agar tidak mudah menyerah.

b) Guru bersama dengan siswa mengecek jawaban siswa.

c) Guru memberikan pengahargaan.

d) Guru meminta siswa untuk menuliskan catatan harian tentang pengalaman dalam mengikuti pembelajaran.

e) Guru memodelkan perilaku metakognitif dalam pembelajaran.

Adapun kegiatan siswa yang dapat dilakukan sebagai berikut:

a) Mengontrol proses berpikir sendiri tentang pengetahuan dan strategi yang digunakan dalam memecahkan masalah.

(34)

b) Menyatakan proses berpikir dalam diskusi atau representasi diri dari masalah yang dihadapi.

c) Membuat rencana belajar seperti mengatu waktu, bahan ajar, prosedur memecahkan masalah dan lain-lain.

d) Membuat catatan harian.

e) Mengevaluasi aktivitas yang dilakukan dalam pembelajaran.26

Dalam penelitian ini, tahap-tahap pembelajaran dengan pendekatan metakognitif adalah berdasarkan tahap-tahap yang dikemukakan oleh Elawar dalam Apriani dalam Euis Ayisari sebagai berikut:27

a) Tahap 1 : Diskusi awal

- Pertama-tama guru menjelaskan topik yang akan dipelajari.

- Setiap siswa diberikan bahan ajar dan penanaman konsep berlangsung dengan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang tertera dalam bahan ajar tersebut.

- Siswa dibimbing menanamkan kesadaran dengan bertanya dan menjawab kepada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam bahan ajar. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut siswa diharapkan dapat memahami uraian materi dan sadar apa yang dilakukannya, bagaimana melakukannya, bagian mana yang belum dipahami, pertanyaan apa yang timbul dan bagaimana cara untu mecari solusinya. Contoh pertanyaannya :

1. Apakah saya memahami semua uraian materi tadi?

2. Jika tidak, apa yang ingin saya tanyakan ?

3. Mendiskusikan pertanyaan tersebut dengan teman kelompok. Apa hasil diskusi tersebut ?

b) Tahap 2 : Kerja mandiri/individu

- Siswa diberikan soal atau masalah dengan topik yang sama kemudian mengerjakan secara mandiri atau individual

- Guru berkeliling kelas dan memberikan pengaruh timbal balik secara individual. Pengaruh timbal balik metakogonitif akan menuntun siswa untuk memusat-

26Ibid., hlm. 183-184.

27 Euis Ayisari, “Penerapan…, hlm. 18-20.

(35)

kan perhatian pada kesalahannya dan memberikan petunjuk agar siswa dapat mengoreksinya sendiri.

- Guru membantu siswa mengawasi cara berpikirnya, tidak hanya memberikan jawaban yang benar ketika siswa membuat kesalahan tetapi juga menuntun proses berpikir siswa agar memperoleh jawaban yang benar.

c) Tahap 3 : Kesimpulan

- Siswa menyimpulkan sendiri apa yang telah dipelajari.

- Guru membimbing dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan. Contoh pertanyaannya :

1. Apa yang telah kamu pelajari hari ini ?

2. Apa yang kamu pelajari tentang dirimu sendiri dalam menyelesaikan soal matematika yang diberikan ?

Dalam pembelajaran pendekatan metakognitif, guru harus melakukan bimbingan yang dapat membantu dan mengarahkan siswa dalam mengembangkan metakognitifnya dan guru harus memiliki kemampuan yang baik dalam bertanya. Selain itu, dalam memberikan pertanyaan kepada siswa ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru agar siswa dapat memahami pertanyaan tersebut dengan baik. Adapun pertanyaan yang diberikan oleh guru harus mengarah pada tujuan kognitif. Pertanyaan yang baik memiliki kriteria-kriteria seperti: jelas, informasi yang lengkap, fokus pada satu masalah, memberikan waktu yang cukup, sebarkan pertanyaan kepada seluruh siswa terlebih dahulu, memberikan respon yang menyenangkan dan terakhir bimbinglah siswa sampai

(36)

siswa menemukan jawaban sendiri.28

4) Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Metakognitif

Mengenai kelebihan dan kekurangan pendekatan metakognitif, Ermi dalam St. Towiatun mengatakan,

Kelebihan dari pembelajaran dengan pendekatan metakognitif yaitu dapat menjadikan siswa yang pasif menjadi aktif, siswa lebih mudah memahami materi pelajaran dan bebas mengeluarkan pendapatnya, menambah wawasan guru dalam menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran, adanya praktek secara langsung yang memudahkan siswa dalam memahami materi dan merangsang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Adapun kekurangan dari pembelajaran dengan pendekatan metakognitif yaitu guru perlu persiapan dalam menyiapakan proses pembelajara, perlu mengatur waktu agar lebih efektif, membutuhkan kondisi dan situasi yang kondusif dalam proses pembelajaran, dan proses pembelajaran tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya motivasi siswa.29

Berdasarkan uraian di atas, untuk mengurangi atau meminimalkan adanya kekurangan dari pendekatan metakognitif tersebut, peneliti akan memberikan motivasi kepada siswa terlebih dahulu mengenai pentingnya materi yang akan diajarkan sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

28Nisvu Nanda Saputra, “Penerapan Pembelajaran Matematika Kolaboratif dengan Pendekatan Metakognitif untuk Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa Kelas IX”

dalam Prosiding Seminar Nasional dan Kongres IndoMS Wilayah Sumatera Bagian Tengah, 14- 15 November 2014, hlm. 423

29St. Towiatun, “Kemampuan Koneksi dan Berpikir Kreatif Matematis Siswa pada Penerapan Model Discovery Learning dengan Pendekatan Metakognitif”, (Skripsi, FKIP UM Malang, Malang, 2018), hlm. 22

(37)

b. Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

1) Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Berpikir adalah proses yang dijalankan oleh akal untuk mengatur pengetahuan - pengetahuan dengan cara yang baru, misalkan dengan cara memecahkan masalah tertentu atau memahami hubungan yang baru antara dua atau beberapa hal.30 Berpikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Berpikir sering digunakan untuk membentuk konsep, bernalar dan berpikir secara kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.31

Kata “kritis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “hakim”.

Dalam kamus (Oxford) menterjemahkan sebagai “sensor” atau pencari kesalahan. Sering kali “kritis” diartikan sebagai penilaian entah baik atau buruk sehingga hal ini memperlemah nilai utama berpikir kritis.32

Ennis mengemukakan bahwa berpikir kritis adalah pemikiran yang masuk akal dan reflektif untuk memutuskan apa yang harus dipercayai atau dilakukan.33 Hal ini sejalan dengan pendapat Santrock dalam Desmita menjelaskan bahwa berpikir kritis adalah

30M.Sayyid Muhammad Az-Za’Balawi, Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa, terj. Abdul Hayyie al-Kattani dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), cet. ke-1, hlm. 99

31John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, terj. Tri Wibowo BS, (Jakarta, Prenadamedia Group, 2015), cet. ke-6, hlm. 357.

32Edward de Bono, Revolusi Berpikir Edward de Bono: Belajar Berpikir Canggih dan Kreatif dalam Memecahkan Masalah dan Memantik Ide-ide Baru, terj. Ida Sitompul dan Fahmy Yamani, (Bandung: Kaifa, 2007), cet. ke-2, hlm. 204.

33Robert H. Ennis, “Critical Thinking Assessment, Theory Into Practice”, Vol. 32, Nomor 3, Summer 1993, hlm. 180

(38)

berpikir reflektif dan produktif serta melibatkan evaluasi bukti.

Berpikir kritis berarti merefleksikan permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka dengan berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mudah percaya dengan informasi yang berasal dari berbagai sumber (tulisan maupun lisan), serta berpikir secara reflektif daripada hanya menerima ide-ide tanpa adanya pemahaman dan evaluasi yang signifikan.34 Menurut Glazer berpikir kritis matematis adalah kemampuan dan disposisi yang menggabungkan pengetahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi sitauasi matematika yang tidak biasa secara reflektif.35

Berdasarkan pendapat di atas, peneliti meyimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis matematis adalah kemampuan dan disposisi yang menggabungkan pengetahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi sitauasi matematika yang tidak biasa secara reflektif.

Dengan demikian, dalam penelitian ini kemampuan berpikir kritis matematis yang dimaksud adalah kemampuan berpikir reflektif dalam memecahkan masalah matematika yaitu dengan menganalisis dan menjelaskan masalah sebelum mengambil

34Desmita, Psikologi..., hlm. 153

35Evan Glazer, Using …, hlm. 13

(39)

tindakan yang melibatkan pengetahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif untuk menggeneralisasikan, membuktikan, atau mengevaluasi masalah matematika yang diberikan. Adapun pengatahuan awal, penalaran matematika, dan strategi kognitif yang dimaksud yaitu pengetahuan awal meliputi pengetahuan deklaratif dan prosedural, penalaran matematika yang meliputi kemampuan menjalankan prosedural penyelesaian masalah matematis dan kemampuan memberikan alasan atas penyelesaian yang dilakukan, serta strategi kognitif yang meliputi kemampuan internal yang membantu dalam memecahkan masalah.

2) Komponen-komponen Berpikir Kritis

Menurut Seifert dan Hoffnung dalam Desmita, terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu :

a) Operasi dasar pemikiran (Basic operation of reasoning)

Untuk berpikir secara kritis seseorang harus memiliki kemampuan dasar pemikiran.

b) Pengetahuan khusus domain (Domain-specific knowledge) Seseorang harus memiliki pengetahuan tentang topik atau konten dari masalah yang dihadapi.

c) Pengetahuan metakognitif (Metakognitive knowledge)

Pemikiran kritis yang efektif mengaharuskan seseorang untuk dapat memonitor.

(40)

d) Nilai, kepercayaan dan watak (Values, beliefs, and dispositions)

Melakukan penilaian secara objektif dan ada keyakinan bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi.36

3) Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Matematis

Menurut Robert Ennis dalam Desy Sumanti ada dua belas indikator kemampuan berpikir kritis yang terbagi ke dalam lima kelompok besar. Berikut ini disajikan indikator berpikir kritis menurut Robert Ennis :37

Tabel 2.2

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Robert Ennis No Aspek

Kelompok

Indikator Penjelasan 1. Memberi-

kan

penjelasan yang sederhana

Memfokuskan pertanyaan

a. Mengidentifikasi atau merumuskan

pertanyaan

b. Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk

mempertimbangkan kemungkinan jawaban.

c. Menjaga kondisi berpikir

Menganalisis argument

a. Mengidentifikasi kesimpulan

b. Mengidentifikasi alasan (sebab) yang

dinyatakan secara eksplisit

c. Mengidentifikasi alasan (sebab) yang

dinyatakan secara

36Desmita, Psikologi..., hlm. 154-155.

37Desy Sumanti, “Pengaruh Pendekatan Rigorous Mathematical Thinking (RMT) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Siswa”, (Skripsi, FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2017), hlm. 13-15

(41)

implicit

d. Mengidentifikasi dan menangani

ketidaktepatan e. Menecari persamaan

dan perbedaan f. Mencari struktur

argument

g. Membuat ringkasan Bertanya dan

menjawab pertanyaan

a. Mengapa

b. Apa intinya, apa artinya

c. Apa contohnya, apa yang bukan contohnya d. Bagaimana

menerapkan dalam kasus tersebut e. Perbedaan apa yang

menyebabkannya f. Apakah anda

menyatakan lebih dari 2. Membangun

keterampil- an dasar

Mempertim- bangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak

a. Mempertimbangkan keahlian

b. Mempertimbangkan kemenarikan konflik c. Mempertimbangkan

kesesuain sumber d. Mempertimbangkan

reputasi

e. Menggunakan prosedur dengan tepat

f. Mempertimbangkan resiko

g. Kemampuan untuk memberikan alasan h. Kebiasaan berhati-hati Mengobser-

vasi dan mempertim- bangkan laporan observasi

a. Ikut terlibat dalam menyimpulkan b. Dilaporkan oleh

pengamat sendiri c. Mencatat hal-hal yang

diinginkan d. Penguatan dan

kemungkinan penguatan

e. Kondisi akses yang

(42)

baik

f. Penggunaan teknologi yang kompeten

g. Kepuasan observer atas kredibilitas kriteria 3. Membuat

kesimpulan

Mendeduksi dan

mempertim- bangkan hasil deduksi

a. Kelompok yang logis b. Kondisi yang logis c. Intrepetasi pernyataan

Menginduksi dan

mempertim- bangkan hasil induksi

a. Membuat kesimpulan secara generalisasi b. Mengemukakan

kesimpulan dan hipotesis Membuat dan

menentukan hasil

pertimbangan

a. Membuat dan menentukan hasil pertimbangan berdasarkan latar belakang fakta-fakta b. Membuat dan

menentukan hasil berdasarkan akibat c. Penerapan prinsip-

prinsip

d. Memikirkan alternatif e. Menyeimbangkan, dan

memutuskan.

4. Memberi- kan penjelasan lebih lanjut

Mendefinisi- kan istilah dan mempertim- bangkan suatu definisi

a. Membuat bentuk sinonim, klasifikasi, rentang, ekivalen, operasional, contoh, dan bukan contoh.

b. Tindakan, mengidentifikasi persamaan Mengidenti-

fikasi asumsi - asumsi

a. Alasan secara implisit b. Mengkontruksi

argument 5. Mengatur

strategi dan taktik

Menentukan suatu tindakan

a. Mendefinisikan masalah

b. Memilih kriteria untuk membuat solusi c. Merumuskan solusi

alternatif yang mungkin

(43)

d. Menentukan tindakan yang akan dilakukan sementara

e. Mengulang kembali f. Mengamati

penerapannya Berinteraksi

dengan orang lain

Menggunakan argumen

Berdasarkan uraian di atas, maka indikator kemampuan berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis akan digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dalam menyusun instrumen penelitian.

Adapun indikator yang akan digunakan peneliti dalam penelitian ini, yaitu:

Tabel 2.3

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Matematis No Aspek Kelompok

Indikator

Indikator Penjelasan 1 Memberikan

penjelasan yang sederhana

Memfokuskan pertanyaan

 Mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan

 Mengidentifikasi atau merumuskan kriteria untuk mempertimbangkan kemungkinan jawaban.

2 Membangun keterampilan dasar

Mempertim- bangkan apakah sumber dapat dipercaya atau tidak

 Menggunakan prosedur dengan tepat.

 Kemampuan memberikan alasan 3 Membuat

kesimpulan

Menginduksi dan

mempertim- bangan hasil induksi

Membuat kesimpulan secara

generalisasi/umum

(44)

4 Mengatur strategi dan taktik

Menentukan suatu tindakan

 Memilih kriteria untuk membuat solusi

 Merumuskan solusi alternatif yang mungkin

Berdasarkan definisi operasional kemampuan berpikir kritis matematis yang digunakan peneliti dalam penelitian ini maka indikator pada Tabel 2.3 akan digunakan peneliti untuk menyusun instrumen penelitian.

4) Pengukuran Kemampuan Berpikir Kritis

Pengukuran kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan menggunakan instrumen tes yang memuat langkah penyelesaian dan indikator berpikir kritis.38 Adapun bentuk tes pengukuran kemampuan berpikir kritis dalam matematika dapat dilakukan menggunakan tes uraian (essay), tes pilihan ganda beralasan dan tes unjuk kerja (performance assessment). Mengenai soal-soal yang digunakan sebagai latihan berpikir tersebut, menurut Langrehr dalam Nur Kholidah mengatakan,

Soal hendaknya berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal berikut :

a) Menentukan konsekuensi dari suatu keputusan

b) Mengidentifikasikan pendapat atau asumsi yang digunakan dalam suatu pernyataan

c) Merumuskan pokok-pokok permasalahan

d) Menemukan adanya bias dari sudut pandang yang berbeda e) Mengungkapkan penyebab dari suatu kejadian.

38Dafid Slamet Setiana, “Pengembangan Instrumen Tes Matematika untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis”, Jurnal Pendidikan Surya Edukasi, Vol. 4, Nomor. 2, Desember 2018, hlm. 38.

(45)

f) Memilih faktor-faktor yang mendukung dalam mengambil g) suatu keputusan.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut siswa dituntut untuk menuliskan pendapat berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.39

Dengan demikian, bentuk tes pengukuran kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang tepat digunakan adalah tes uraian. Karena dengan menggunakan tes uraian, siswa dapat menguraikan atau memadukan gagasas-gagasan yang dimilikinya dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-kata sendiri. Dengan menggunakan tes pilihan ganda beralasan, siswa harus mengungkapkan alasan sesuai jawaban yang dipilihnya, hal tersebut masih belum menujukkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sedangkan tes unjuk kerja dapat digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi siswa dalam menyelesaikan masalah.40 Oleh karena itu, pada penelitian ini dipilih tes uraian untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang hendaknya ada pada soal tes kemampuan berpikir kritis seperti yang disebutkan oleh Langrehr dalam Nur Kholidah.

Jenis penelitian dan pengembangan tes untuk mengukur kemampuan berpikir kritis telah pernah dilakukan sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan oleh Tiar Sugiarti yang

39Nur Kholidah, “Pengembangan Instrumen Penilaian untuk Mengukur Critical Thinking Skill Siswa Madrasah Tsanawiyah Pada Mata Pelajaran Matematika”, (Skripsi, FTK UIN Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, 2019), hlm. 3-4.

40Ibid., hlm. 23

(46)

mengembangkan tes kemampuan berpikir kritis berbentuk soal uraian pada mata pelajaran fisika.41 Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Amalia & Susilaningsih pada tahun 2014 yang mengembangkan tes kemampuan berpikir kritis berbentuk soal uraian pada materi asam basa dan Wardani pada tahun 2015 yang mengembangkan tes kemampuan berpikir kritis berbentuk soal uraian pada mata pelajaran IPA.42

Berdasarkan uraian di atas, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan tes uraian (essay) sebagai instrumen untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang disesuaikan dengan materi pada penelitian ini yaitu materi Garis.

Tes uraian ini akan digunakan sebagai pretest yaitu tes yang diberikan sebelum mendapatkan perlakuan pendekatan metakoginitif dan posttest yaitu tes yang diberikan setelah mendapatkan perlakuan pendekatan metakoginitif.

B. Kerangka Berpikir

Menyadari pentingnya suatu pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, maka diperlukan pembelajaran matematika yang mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap

41Ibid., hlm. 4.

42Shan Duta Sukma Pradana dkk, “Pengembangan Tes Kemampuan Berpikir Kritis pada Materi Optik Geometri untuk Mahasiswa Fisika”, Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Vol.

21, Nomor. 1, Juni 2017, hlm. 52.

(47)

dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa adalah pendekatan metakognitif. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan metakognitif ini cenderung lebih banyak melibatkan siswa untuk memikirkan apa yang dipikirkan, apa yang dimiliki dan apa yang harus siswa perlukan agar memperolah pengetahuan baru yang lebih baik dan komplek.

Pada dasarnya, pendekatan metakognitif menekankan pada kegiatan guru dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif. Pertanyaan- pertanyaan tersebut yang akan mendorong siswa untuk dapat menunjang meningkatnya kemampuan berpikir kritis yang dapat dilihat berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis. Melalui pertanyaan tersebut, siswa akan menyusun kegaiatan belajarnya sendiri yaitu dengan merencanakan tindakan, memonitor dan mengevaluasi tindakan untuk memecahakan masalah sebagai bentuk pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, melalui pembelajaran dengan pendekatan metakognitif, kemampuan berpikir kritis matematis siswa menjadi lebih meningkat dari sebelumnya.

Pada penelitian ini, kelas eksperimen akan menggunakan pendekatan metakognitif. Adapun tahapan dari pendekatan metakognitif yaitu tahap pertama, guru menjelaskan topik yang dipelajari kemudian memberikan bahan ajar berupa permasalahan terkait materi yang diajarkan. Tahap kedua adalah guru membimbing dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan metakognitif terkait pemahaman siswa terhadap permasalahan yang diberikan dan memastikan apakah siswa benar-benar paham terhadap permasalahannya.

Pertanyaan-pertanyaan metakognitif pada tahap ini akan meningkatkan

(48)

kemampuan berpikir kritis siswa dengan kelompok indikator memberikan penjelasan yang sederhana. Tahap ketiga adalah siswa menjawab pertanyaan - pertanyaan yang tertera dalam bahan ajar tersebut bersama kelompoknya masing-masing. Siswa akan berdiskusi dan mencari materi atau infomasi di dalam buku untuk menyelesaikan permasalahan. Selama berdiskusi, siswa akan melakukan aktivitas belajar yang melibatkan komponen perencanaan, memonitor serta mengevaluasi tindakan dalam memecahkan permasalahan tersebut. Pada tahap ini, siswa akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan kelompok indikator membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan dan mengatur strategi dan taktik.

Selanjutnya, tahap keempat adalah memberikan masalah dengan topik yang sama kemudian dikerjakan secara mandiri atau individual. Pada tahap ini siswa akan melibatkan komponen perencanaan, memonitor dan mengevaluasi tindakan untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Tahap kelima adalah guru memberikan pengaruh timbal balik secara individual. Pengaruh timbal balik metakogonitif akan menuntun siswa untuk memusatkan perhatian pada kesalahannya dan memberikan petunjuk agar siswa dapat mengoreksinya sendiri, dan membantu siswa mengawasi cara berpikirnya, tidak hanya memberikan jawaban yang benar ketika siswa membuat kesalahan tetapi juga menuntun proses berpikir siswa agar memperoleh jawaban yang benar. Pada tahap ini juga siswa akan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan kelompok indikator membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan

(49)

dan mengatur strategi dan taktik. Tahap terakhir adalah siswa diminta membuat kesimpulan apa yang telah dipelajari.

Berdasarkan deskripsi di atas besar kemungkinan penerapan pendekatan metakognitif dapat efektif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penjelasan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu pendekatan metakognitif efektif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas VII di MTs Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2019/2020.

Pendekatan Pembelajaran

Proses Pembelajaran

Kelas Eksperimen Menerapkan pendekatan

metakognitif

Efektif terhadap Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis

Matematis Siswa

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Berpikir
Tabel 4.3  Hasil Validasi Ahli
Tabel 4.4  Hasil Validasi Ahli
Tabel Data Nilai Pretest
+4

Referensi

Dokumen terkait

The English teacher said that many students were not interested in studying the Simple Present Tense, especially when online classes are being held like today because of