• Tidak ada hasil yang ditemukan

efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1

EFEKTIVITAS PENERIMAAN PENGGUNAAN APLIKASI

E-LINK (ELEKTRONIK LAPORAN INFORMASI KESEHATAN PUSKESMAS) DENGAN TEORI TAM (TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL)

DI PUSKESMAS MOJOPURNO KABUPATEN MADIUN

ABSTRAK

Valentina Eka Lishartanti1, Frieda Ani Noor*

1Mahasiswa Program Studi Sarjana Administrasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Kusuma Husada Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

Email : [email protected]

*Dosen Pengampu Program Studi Sarjana Administrasi Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta

Penerapan penggunaan aplikasi E-Link di Puskesmas Mojopurno belum maksimal baik internal maupun eksternal yaitu jaringan internet sering error, belum adanya sosialisasi lanjutan terkait aplikasi E- Link, dan belum dibukanya pendaftaran pasien secara online. Maka peneliti tertarik untuk menganalisis seberapa efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas) menggunakan teori TAM (Technology Acceptance Model) di Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun.

Jenis penelitian ini deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam kepada pengguna aplikasi E-Link. Metode pemilihan sampel menggunakan metode purposive sampling.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi E-Link bisa meningkatkan efektivitas organisasi puskesmas tetapi bisa juga menghambat. Dari segi persepsi kemanfaatan penggunaan, kebutuhan data dan informasi dapat dicari dengan cepat dan kerahasiaan dokumen terjamin, namun saat jaringan internet lagi trouble hasil laporan tidak sinkron dan masih ada kesalahan penginputan stok obat ke aplikasi E-Link. Dari segi kemudahan penggunaan sistem, sistem pengeluaran obat di gudang apotek pergerakannya masih lambat dan penggunaan menu P-Care BPJS kadang masih error serta kurangnya sumber daya tenaga kesehatan pada bagian pelayanan. Dari segi sikap terhadap penggunaan sistem, pengoperasian aplikasi E-Link berjalan secara normal dan pihak Puskesmas perlu mensosilisasikan kembali tentang SOP E-Link dalam rapat termasuk kepada pegawai baru. Dari segi minat perilaku penggunaan, cara memotivasi pengguna dengan mensosialisasikan kembali terkait penggunaan aplikasi E-Link kepada seluruh pengawai puskesmas dan perlu penambahan fitur pendaftaran pasien secara online serta early warning system (EWS) guna meminimalisir obat yang expired date.

Kata Kunci : efektivitas, E-Link, kemanfaatan, kemudahan, sikap, minat

(2)

2 ABSTRACT

Valentina Eka Lishartanti1, Frieda Ani Noor*

1Student Undergraduate Program of Health Administration, Faculty of Health Science, University of Kusuma Husada Surakarta

Email : [email protected]

*Lecturer Undergraduate Program of Health Administration, University of Kusuma Husada Surakarta

The application of the use of the E-Link application at the Mojopurno Health Center has not been maximized both internally and externally, namely the internet network often has errors, there is no further socialization related to the E-Link application, and online patient registration has not been opened.So researchers are interested in analyzing how effective the acceptance of the use of the E-Link (Electronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas) application using TAM (Technology Acceptance Model) at the Mojopurno Public Health Center Madiun.

This type of research is qualitative descriptive with indepth interview data collection methods to users of the E-Link application. The sample selection method used the purposive sampling method.

The results of this study indicate that the E-Link application can increase the effectiveness of the Public Health Center organization but can also hinder it. In terms of perceived usefulness, data and information needs can be searched quickly and document confidentiality is guaranteed, but when the internet network is having trouble the report results are out of sync and there are still errors in inputting drug stock into the E-Link application. In terms of perceived ease of use, the drug dispensing system in the pharmacy warehouse moves slowly and the use of the BPJS P-Care menu sometimes still has errors and the lack of health personnel resources in the service department. In terms of attitude towards using, the operation of the E-Link application runs normally and needs to re-socialize the E-Link SOP in meetings, including to new employees. In terms of behavior intention of use, how to motivate users by re-socializing the use of the E- Link application to all staff and the need to add online patient registration features and an early warning system (EWS) to minimize expired drugs.

Keywords: effectivity, E-Link, usefulness, ease of used, attitude, intention

(3)

3 A. PENDAHULUAN

Era globalisasi, teknologi merupakan kebutuhan utama dalam persaingan khususnya pada bidang kesehatan. Menurut WHO (World Health Organization), Sistem Informasi Kesehatan (SIK) merupakan salah satu dari enam

“building block” atau komponen utama dalam sistem kesehatan di suatu Negara. Dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari sub sistem ke-6 yaitu sub sistem manajemen informasi dan regulasi kesehatan yang memadai dan mampu menunjang upaya kesehatan nasional agar berhasil guna, berdaya guna, dan mendukung penyelenggaraan sub sistem lainnya di dalam SKN (Sistem Kesehatan Nasional) sebagai suatu kesatuan yang terpadu (1).

Tingginya tuntutan terhadap mutu pelayanan kesehatan saat ini penting untuk diperhatikan terutama dalam peningkatan taraf kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih optimal mencapai derajat kesehatan yang setingg- tingginya (2). Menurut Undang-undang Nomor 36 tahun 2009, tentang Kesehatan pada pasal 168 menjelaskan bahwa untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi kesehatan maka memerlukan suatu sistem informasi.

Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun merupakan salah satu puskesmas yang memiliki sistem informasi kesehatan yaitu aplikasi E-Link atau Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas. Aplikasi ini di buat pada tahun 2017, dimana aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas) ini adalah suatu aplikasi Puskesmas dengan fungsi utamanya adalah memanage semua data pasien mulai dari pendaftaran (registrasi), pemeriksaan (diagnosis) serta pengobatan pasien tersebut. Data jumlah

kunjungan pasien di Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun setelah menggunakan aplikasi E-Link pada tahun 2017 sebanyak 19.458 orang, tahun 2018 sebanyak 27.094 orang, dan tahun 2019 sebanyak 32.501 orang. Namun mengalami penurunan pada tahun 2020 sebanyak 24.829 orang dan tahun 2021 sebanyak 23.559 orang.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan, Puskesmas Mojopurno dalam penggunaan aplikasi E-Link belum maksimal dikarenakan masih ada kendala yaitu belum dibukanya pendaftaran pasien secara online dikarenakan melihat kondisi masyarakat yang masih awam dengan teknologi dan setiap akhir bulan jaringan internet sering erorr saat aplikasi tersebut digunakan karena belum memiliki provider yang baik. Awal munculnya aplikasi E-Link pegawai yang sudah manulife belum memahami fitur dalam aplikasi E- Link, jika sekarang sudah terbiasa menggunakan aplikasi tersebut, namun masih ada pegawai baru yang belum menerima sosialisasi terkait penggunaan aplikasi E-Link. Aplikasi E-Link untuk pelaporan ke Dinas Kesehatan sudah dilakukan secara online namun pelaporan kesehatan sifatnya situasional dan dinamik sehingga setiap periode berubah-ubah tergantung permintaan dari provinsi maupun pemerintah seperti sekarang ada kasus baru Covid-19, KLB ataupun wabah lainnya belum 100% paperless atau online.

Maka peneliti tertarik untuk menganalisis seberapa efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas) menggunakan teori TAM (Technology Acceptance Model) di Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun dengan tujuan untuk menganalisis persepsi kemanfaatan (perceived usefullness), kemudahan penggunaan

(4)

4 sistem (perceived ease of used),

sikap terhadap pengguna sistem (attitude toward using), dan

minat perilaku penggunaan (behavioral intention to use).

B. METODOLOGI

Lokasi penelitian bertempat di Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun dengan waktu penelitian dari bulan Maret hingga Juni 2022.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dan menggunakan metode kualitatif.

Teknik perolehan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (indept interview) kepada 11 informan meliputi koordinator E-Link, programmer E-Link, perawat, bidan, apoteker, perawat gigi dan tenaga administrasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling (non random sampling) yaitu dengan teknik Purposive Sampling atau judgement sampling (13).

Keabsahan data di dalam penelitian kualitatif bersifat majemuk dan dinamis, sehingga tidak ada yang konsisten dan berulang seperti semula maka menggunakan proses pengumpulan data dengan metode triangulasi

(15)

. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Triangulasi sumber data informasi yang berbeda dengan memeriksa bukti-bukti yang berasal dari sumber tersebut dan menggunakannya untuk membangun sejumlah sumber data atau pandangan dari informan (14).

Pengolahan dan analisis data dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang didapat dari rekaman maupun catatan hasil dari wawancara mendalam. Lalu diinterpretasikan data dengan melakukan matriks untuk mengklasifikasikan datadengan mengelompokkan data sesuai dengan karakteristik yang sama.

Menganalisa data melalui kajian data untuk membuat suatu kesimpulan yang dilakukan secara objektif dan sistematis.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Informan

Tabel Karakteristik Informan

Di Wilayah Kerja Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun

NO. INFORMAN USIA PENDIDIKAN JABATAN METODE

1. Arif Subarkah

A.Md.Kep 37 th D-III Akademi Keperawatan

Perawat Ponkesdes

Wawancara Mendalam dan checklist

2. Hamidah

Ismawati, S.ST. 47 th S1 Kebidanan Bidan Wawancara Mendalam dan checklist

3. Dyah Dwi

Wahyuni, S.ST. 49 th S1 Kebidanan Bidan Polindes Wawancara Mendalam dan checklist

4.

Yunike Prastiyowati, STr. Keb.

41 th D-IV Kebidanan Bidan Wawancara Mendalam dan checklist

5.

Indah Swi Purwaningah, A.Md.Kepgi.

26 th D-III Keperawatan Gigi

Perawat Gigi Wawancara Mendalam dan checklist

6.

Regina Citra Dewanti, S.Farm, Apt.

34 th Profesi

Apoteker Apoteker Wawancara Mendalam dan checklist

7.

Monica Dea Saputri, A.Md.Keb.

26 th D-III Kebidanan

Tenaga Administrasi

Wawancara Mendalam dan checklist

(5)

5

NO. INFORMAN USIA PENDIDIKAN JABATAN METODE

8. Indang Indiani,

A.Md.Kep. 54 th D-III

Keperawatan Perawat Wawancara Mendalam dan checklist

9.

Novie Setyowati, S.Kep.Ns

41 th Ners Perawat Wawancara Mendalam dan checklist

10. Ambarwati,

S.Tr. Keb. 44 th D-IV Kebidanan Bidan Desa Wawancara Mendalam dan checklist

11. Eny Sudarwati,

A.Md.Kep. 38 th D-III

Keperawatan Perawat Wawancara Mendalam dan checklist

2. Interpretasi Hasil Penelitian

Technology Acceptance Model (TAM) yang dikembangkan oleh Davis, Baggozzi,

& Warshaw (1989) adalah model yang digunakan untuk menjelaskan penerimaan seseorang terhadap penggunaan sistem teknologi informasi. Tujuan TAM yaitu menjelaskan faktor penentu penerimaan teknologi berbasis informasi secara umum dan menjelaskan perilaku pemakai akhir (end-user) teknologi informasi sehingga dapat diidentifikasi mengapa sistem tersebut mungkin tidak dapat diterima, sehingga diperlukan mengambil langkah perbaikan untuk mengatasinya (6).

Penelitian menurut C. Metallo, et Al.

(2022) menunjukkan bahwa teknologi informasi kesehatan dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas dalam pelayanan kesehatan. Namun, masih banyak implementasi yang gagal karena masalah perilaku yang terkait dengan penggunaan teknologi (20). Penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (indept interview) untuk menggali data dan informasi tentang seberapa efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi E-Link terhadap pegawai atau tenaga kesehatan di Puskesmas Mojopurno Kabupaten Madiun sebagai berikut :

a. Persepsi Kemanfaatan Penggunaan (Perceived Usefullness) Terhadap Efektivitas Penerimaan Penggunaan Aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas)

Pemanfaatan aplikasi E-Link diharapkan mampu memangkas waktu dalam pencarian suatu informasi yang terdapat di aplikasi tersebut, namun suatu sistem informasi kesehatan memiliki kelebihan dan kekurangan saat penggunaannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak Arif Subarkah selaku perawat sebagai berikut:

“Kalau dulu semua serba manual, jika sekarang penggunaan aplikasi E- Link ada kelebihan dan kekurangannya, (+)nya mendaftar pasien lebih mudah dan (-)nya saat trouble laporan antara real dengan yang dionlinenya kadang tidak sinkron maka harus rekap ulang lagi.

Kadang-kadang menghambat efektivitas suatu organisasi karena yang biasanya membuat laporan 1 kali sekarang 2 kali, karena tuntutan teknologi juga jadi sudah menjadi kewajiban kami sebagai nakes disini”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Selasa/14 Juni 2022)

Kinerja puskesmas ini dapat dikatakan baik walaupun letaknya yang jauh dari pusat kota dapat menerapkan aplikasi E-Link dimana aplikasi ini diharapkan dapat

(6)

6 memudahkan pegawai puskesmas dalam pelaporan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun. Aplikasi E-Link juga dapat diambil sebuah informasi maupun data didalamnya seperti laporan stok obat dan sisa stok, memasukkan pendaftaran pasien peserta BPJS dan dapat melihat rekapan penyakit terbanyak, riwayat pasien, dan total pasien dalam 1 bulan terakhir.

Studi penelitian dari Amanuel Benti Abdisa, et Al. bahwa sekitar dua pertiga tenaga kesehatan mempraktikkan pemanfaatan informasi dengan benar, namun penggunaan informasi rutin di institusi kesehatan masyarakat masih lebih rendah. Hal ini dapat menghambat upaya untuk meningkatkan kinerja sistem kesehatan di tingkat pelayanan kesehatan tersebut (22).

Point penting dari suatu sistem informasi yaitu kerahasiaan dokumen dapat terjamin atau tidak. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari beberapa informan sebagai berikut :

“Iya karena disini setiap Puskesmas memiliki kode dan password sendiri untuk membuka aplikasi E-Linknya.

Jadi yang tahu kode dan password tersebut hanya Puskesmas itu.

(Wawancara dengan ibu Ambarwati seorang bidan desa, yang dilakukan pada hari Kamis/2 Juni 2022)

“E-Link ini kan sebetulnya mudah digunakan hanya kadang-kadang perlu penyempurnaan program. Jadi, kadang ada kebocoran rumus, misalnya dari gudang seharusnya dikeluarkan dulu ke induk obat itu baru diberikan ke pasien, tapi kadang-kadang ada yang dari pasien

langsung ke luar gudang, ada beberapa kebocoran. Jadi obatnya sudah keluar tapi baru dikeluarkan di bulan berikutnya...”.

(Wawancara dengan Ibu Regina seorang apoteker, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Dari hasil wawancara dari beberapa informan yang peneliti lakukan diatas, peneliti kemudian beranggapan bahwa dari segi kerahasiaan dokumen terjamin dan hak privasi pasien cukup terjaga dengan baik. Data individu pasien termasuk riwayat penyakit pasien aman dan tidak diekspos ke pihak umum karena aplikasi E-Link ini hanya bisa dibuka dengan user serta password yang diketahui oleh petugas puskesmas saja.

Namun masih ada kebocoran atau kesalahan penginputan dari gudang apotek di Puskemas Mojopurno yaitu laporan obat bulan lalu baru di keluarkan di bulan berikutnya dan tidak terekam di bulan yang lalu.

Biasanya pelaporan stok opnam seharusnya dilakukan setiap akhir tanggal bulan tersebut dan setiap bulan jumlah stok opnam harus sama serta perbandingannya tidak boleh terlalu jauh antara bulan yang lalu dengan bulan berikutnya.

b. Kemudahan Penggunaan Sistem (Perceived Ease Of Used) Terhadap Efektivitas Penerimaan Penggunaan Aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas)

Penggunaan teknologi informasi bukan karena adanya unsur tekanan, tetapi karena memang mudah

(7)

7 digunakan (16). Kemudahan penggunaan sistem mengukur setiap pengguna yang menggunakan aplikasi secara mental akan berpengaruh dalam kinerja sehari-hari, dimana setiap pengguna yang menggunakan aplikasi E-Link apakah ada kendala maupun kesulitan yang dialami saat menggunakan atau mengoperasikan aplikasi tersebut (6). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari informan sebagai berikut :

“Programnya perlu penyempurnaan dengan adanya apoteker, dulu baru ada asisten apoteker jadi memungkinkan belum bisa memberikan masukan yang lebih detail untuk penyempurnaan E-Link.

Sekarang ada apoteker, jadi E-Link obat ini harus jalan. Nah itu ada beberapa masukan misalnya banyak obat ED di Puskesmas ini, bagaimana caranya untuk mengurangi obat ED tersebut, dan ternyata di E-Link selama ini tidak bisa membaca obat yang slowmoving artinya dalam 3 bulan terakhir tidak bisa terbaca oleh E-Link....”

(Wawancara dengan Ibu Regina seorang apoteker, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Dari pernyataan informan diatas, sistem pengeluaran obat dalam aplikasi E-Link di Puskesmas Mojopurno ini masih “slowmoving” dalam membaca obat atau dapat dikatakan pergerakannya masih lambat walaupun sudah terdapat sistem informasi. Hal tersebut berakibatkan pada pelaporan yang dibuat oleh petugas apoteker sebagai tanggung jawab ke Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun. Sistem pengeluaran obat yang lambat mengakibatkan banyak obat di gudang menjadi ED (Expired Date). Menurut

Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dalam penyusunan perbekalan farmasi yang masa kadaluwarsanya sudah dekat menerapkan sistem penyimpanan berdasarkan FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out) artinya obat yang datang pertama kali harus dikeluarkan lebih dahulu daripada obat yang datang kemudian dan obat yang lebih awal masa kadaluwarsanya harus dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang masa kadaluwarsanya masih lama (23).

Seharusnya dengan adanya suatu sistem informasi di Puskesmas dapat membantu meminimalisir obat yang ED di gudang apotek.

Kendala lainnya sebagai berikut :

“Ada kendala kalau lagi error dan jika ada perbaruan sistem. Dan sedikit menghambat waktu pendaftaran pasien rawat jalan”.

(Wawancara dengan Mba Monica seorang tenaga administrasi, yang dilakukan pada hari Kamis/9 Juni 2022)

“Kendalanya terletak pada tenaga kesehatan atau SDMnya untuk pelayanan diluar maupun dalam Puskesmas karena sarana dan prasarana belum tercukupi”.

(Wawancara dengan Ibu Dyah seorang bidan yang bekerja di Polindes, yang dilakukan pada hari Senin/13 Juni 2022)

Dari hasil wawancara dari beberapa informan yang peneliti lakukan diatas, peneliti kemudian beranggapan bahwa masih terdapat ganguan sinyal saat menggunakan aplikasi E-Link pada menu P-Care pada penginputan pasien BPJS

(8)

8 sehingga pelayanan menjadi kurang maksimal karena aplikasi E-Link ini wajib terhubung dengan jaringan internet, akibatnya petugas puskesmas harus menginput kunjungan pasien secara manual. Kendala lainnya terletak pada kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) pada bagian pelayanan puakesmas.

Suatu sistem informasi yang dapat berjalan dengan baik perlu ada bimbingan dari pihak Puskesmas kepada seluruh pegawai/tenaga kesehatan maupun pegawai yang manulife secara berskala misal 3 atau 6 bulan sekali sehingga keterampilan pengguna meningkat dan termotivasi untuk terus menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari (16).

“Iya karena dari Puskesmas ada koordinator program E-Link setelah itu disampaikan melalui rapat jadi semua karyawan Puskesmas tahu bila ada perubahan-perubahan”.

(Wawancara dengan Ibu Indang seorang perawat, yang dilakukan pada hari Kamis/2 Juni 2022)

“Tidak ada bimbingan dari pihak Puskesmas Mojopurno. Kebetulan saya disini pegawai baru, jadi waktu disini sudah menggunakan E-Link”.

(Wawancara dengan Mba Indah seorang perawat gigi, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

“Tidak ada sosialisasi tentang E-Link obat tetapi ada bimbingan dari Dinkes sesekali. Ini kami dari Puskesmas ada program untuk penyempurnaan E-Link obat jadi kami kadang ada zoom misal ada masukan apa terkait E-Link”.

(Wawancara dengan Ibu Regina seorang apoteker, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Berdasarkan pernyataan dari beberapa informan diatas, Dinkes kadang-kadang mengadakan sosialisasi mengenai aplikasi E-Link dan dari pihak Puskesmas sudah ada langsung disampaikan oleh koordinator aplikasi E-Link itu sendiri dalam rapat di Puskesmas. Namun masih ada pegawai baru yang belum menerima bimbingan dari pihak Puskesmas mengenai penggunaan aplikasi E-Link.

c. Sikap Terhadap Pengguna Sistem (Attitude Toward Using) Terhadap Efektivitas Penerimaan Penggunaan Aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas)

Secara konseptual aplikasi bisa berjalan normal tanpa mengganggu kondisi pengguna aplikasi tersebut.

Pegawai merasa bosan karena hal lain seperti menunggu loading yang terlalu lama untuk menginput sehingga memasukkan data sebanyak 2 kali.

Berikut hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa informan :

“Biasa saja, kadang bosan karena harus memasukkan data 2 kali jika trouble”.

(Wawancara dengan Ibu Dyah seorang bidan yang bekerja di Polindes, yang dilakukan pada hari Senin/13 Juni 2022)

“Namanya ngisi atau memasukkan data pasien ya mba, kadang kala juga bosan. Apalagi kalau error nunggu loadingnya itu yang membuat bosan”.

(Wawancara dengan Mba Indah seorang perawat gigi, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Hasil wawancara yang dilakukan dengan Ibu Regina Citra Dewanti

(9)

9 seorang apoteker di Puskesmas Mojopurno yang merupakan salah satu user aplikasi E-Link mengenai apakah ada perbedaan pengalaman saat menggunakan aplikasi E-Link dan sebelum adanya aplikasi E-Link :

“Jelas ada, kalau manual semuanya serba manual tidak bisa dilihat real time dimanapun kita berada itu yang paling utama. Padahal dari Dinkes sendiri kadang-kadang minta data diluar jam kerja, itu kita tidak bisa mencari secara cepat kalau semuanya serba manual dan hanya mengandalkan ingatan. Apalagi kalau buat laporan juga kalau misalnya manual berarti tidak kelihatan realnya itu seperti apa dan bagaimana. Kalau menggunakan E- Link mempermudah sih”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Bimbingan atau sosialisasi terkait SOP E-Link sudah disampaikan kepada seluruh karyawan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ibu Eny Sudarwati selaku programmer aplikasi E-Link sebagai berikut :

“Untuk waktunya tidak tentu, kalau ada sosialisasi SOP aplikasi E-Link diberikan kepada seluruh karyawan seperti bidan dan perawat begitu”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Kamis/2 Juni 2022)

d.

Minat Perilaku Penggunaan (Behavioral Intention To Use) Terhadap Efektivitas Penerimaan Penggunaan Aplikasi E-Link (Elektronik Laporan Informasi Kesehatan Puskesmas)

Tingkat penggunaan sebuah teknologi komputer pada seseorang dapat diprediksi dari sikap perhatian pengguna terhadap teknologi tersebut, misalkan keinginan motivasi untuk

tetap menggunakan, dan keinginan untuk memotivasi pengguna lainya (6).

Berikut pernyataan dari beberapa informan tentang bagaimana memotivasi pengguna lainnya untuk terus menggunakan aplikasi E-Link dalam beberapa waktu ke depan :

“Ya disosialisasikan kembali terutama dari pihak Puskesmas oleh penanggung jawab aplikasi E-Link, nah penganggung jawab tersebut yang akan mengoreksi dan menerima masukan jika ada kendala dan keseulitan dalam penggunaannya”.

(Wawancara dengan Bapak Arif seorang perawat yang bekerja di Ponkesdes Nglambangan, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

“Kalau kita mengisi E-Link dengan benar dan sesuai target itu sudah termasuk memotivasi diri kita sendiri untuk meningkatkan efektivitas organisasi Puskesmas”.

(Wawancara dengan Ibu Yunike seorang koordinator aplikasi E- Link, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Hasil wawancara mengenai bagaimana performa kerja dari beberapa tenaga kesehatan di Puskesmas Mojopurno setelah menggunakan aplikasi E-Link sebagai berikut :

“Untuk laporan saya tidak perlu manual lagi, saya selalu stok opnam dan mencocokkan hasil stok opnam dengan yang ada di E-Link. Kalau engga cocok dicari selisihnya dimana, kalau cocok LPLPO tersebut langsung diprint dan sudah terrecord dan tinggal download saja”.

(Wawancara dengan Ibu Regina seorang apoteker, yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

“Sebetulnya bisa memudahkan pekerjaan tetapi bisa juga tidak, karena ada kelebihan dan kekurangannya dalam penggunaan aplikasi ini. Kalau pas trouble jadi

(10)

10 nambah kerjaan lagi. Iya kalau rutin mencatat dibuku rekapan, kalau nggak ya repot apalagi pas trouble hilang data pasien pada hari sebelumnya padahal sudah di masukkan dalam aplikasi itu”.

(Wawancara dengan Bapak Arif seorang perawat yang bekerja di Ponkesdes Nglambangan, yang dilakukan pada hari Selasa/14 Juni 2022)

Suatu sistem informasi kesehatan seharusnya perlu adanya evaluasi secara berkala dan pengembangan semakin baik dalam beberapa waktu kedepan. Berikut merupakan masukan dari beberapa user aplikasi E-Link terkait selama pelaksanaannya saat menggunakan aplikasi E-Link :

“Sebenarnya dulu ada daftar online tapi masih sebatas lewat WA begitu.

Yang perlu dikembangkan lagi mungkin ditambahkan fitur pendaftaran secara online dari rumah untuk mempermudah pasien yang ingin mendaftar berobat ke Puskesmas Mojopurno. Sehingga datang tinggal konfirmasi saja dan lebih menghemat waktu saat mengantri”.

(Wawancara dengan Mba Monica seorang tenaga administrasi, yang dilakukan pada hari Kamis/9 Juni 2022)

Menurut penelitian dari Hendra Rohman, dkk (2021), dalam tercapainya good governance pendaftaran pasien secara online bertujuan untuk memudahkan pasien dalam mendaftarkan dirinya atau anggota keluarganya tanpa harus mengantri dan menunggu lama.

Pendaftaran online rawat jalan bisa dilakukan melalui web, pasien tidak perlu mengunduh aplikasi cukup dengan mengakses link pendaftaran online dari web Puskesmas tersebut.

Pembuatan web ini harus terdapat alur pendaftaran online yang dapat dimengerti oleh semua kalangan, kolom untuk identitas pasien yang akan periksa, dapat menulis keluhan pasien, dan ada pemberitahuan untuk mengetahui nomor antrian (17).

Menurut Ibu Eny Sudarwati selaku programmer aplikasi E-Link, pendaftaran pasien di aplikasi E-Link ini tidak dibuka secara umum dan hanya dipegang oleh user. Hal tersebut dikarenakan masih terkendala oleh sarana dan prasarana. Hal tersebut juga diungkapkan oleh ibu Ambarwati seorang bidan desa sebagai berikut:

“Untuk pendaftaran online di Puskesmas Mojopurno memang belum ada karena terkendala sarana dan prasarananya biasanya lewat WA dan itu kayak kurang efektif dan tidak masuk secara otomatis dalam web resmi Puskesmas juga”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Kamis/2 Juni 2022)

Poli KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) juga memerlukan data kunjungan yang lengkap guna kelengkapan pembuatan laporan.

Adapun masukan dari Ibu Hamidah seorang bidan sebagai berikut :

“Untuk Poli KIA sendiri dalam hal pembuatan laporan membutuhan laporan capaian KIA seperti kunjungan ibu hamil pertama kali baik pasien BPJS maupun pasien umum, kunjungan K4 (kontak minimal 4 kali selama masa kehamilan), dll karena di E-Link belum tersedia. Sehingga perlu ada kelengkapan laporan di Poli KIA tidak hanya pelayanan yang diberikan dan register pasien saja”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Selasa/14 Juni 2022)

(11)

11 Menurut penelitian dari Yuki Firmanto (2021), suatu sistem informasi dibentuk agar dapat mencari manfaat atau risiko lebih cepat disebut dengan Early Warning Sistem (EWS) atau sistem peringatan dini. Dalam suatu aplikasi sistem peringatan dini digunakan untuk membantu mempercepat manajemen puskesmas dalam memperoleh informasi persedian obat dengan efektif dan efisien. Diharapkan di dalam menu atau fitur suatu aplikasi E-Link ini terdapat pesan peringatan dini mengenai stok obat yang dalam kondisi batas minimum, batas maksimum, dan pada stok obat yang sudah kadaluwarsa (18). Hal ini sesuai dengan pernyataan Ibu Regina Citra Dewanti selaku apoteker sebagai berikut:

“Seharusnya kita dapat terbantu oleh sistem untuk melihat obat yang expired jadi tidak hanya mengandalkan catatan manual dengan mencatat di buku obat yang akan ED dalam 3 bulan terakhir obatnya apa saja, tetapi percuma jika buku tersebut tidak pernah dibuka dan hanya mengandalkan ingatan.

Jadi perlu dibantu oleh sistem harus ada “warning sistem”. Lalu untuk laporan obat-obat ED harus mencantumkan sumber dananya dari mana dengan jelas. Jadi kebutuhan informasi yang penting belum ada di E-Link”.

(Wawancara yang dilakukan pada hari Jumat/10 Juni 2022)

Mengembangkan suatu

manajemen puskesmas, perlu diadakannya pengendalian suatu sistem informasi kesehatan khususnya pada bagian farmasi atau pengendalian

saat stok obat yang ED atau expired.

Pengunaan sistem informasi tersebut bertujuan untuk membantu memudahkan penyelesaian tugas manusia dalam pemrosesan suatu data dan diharapkan dapat mengurangi human error.

D. SIMPULAN DAN SARAN

1. Simpulan dalam penelitian ini bahwa aplikasi E-Link bisa meningkatkan efektivitas organisasi puskesmas tetapi bisa juga menghambat. Dari segi persepsi kemanfaatan penggunaan menunjukkan bahwa kebutuhan data dan informasi dapat dicari dengan cepat dan kerahasiaan dokumen terjamin, namun saat jaringan internet lagi trouble hasil laporan tidak sinkron dan masih ada kesalahan penginputan stok obat ke dalam aplikasi E- Link. Dari segi kemudahan penggunaan sistem menunjukkan bahwa sistem pengeluaran obat pergerakannya masih lambat sehingga banyak obat yang ED di gudang apotek dan penggunaan menu P- Care BPJS kadang masih error serta kurangnya sumber daya tenaga kesehatan pada bagian pelayanan. Dari segi sikap terhadap penggunaan sistem menunjukkan bahwa pengoperasian aplikasi E-Link berjalan secara normal dan pihak Puskesmas perlu mensosilisasikan kembali tentang SOP E-Link dalam rapat termasuk kepada pegawai baru. Dari segi minat perilaku pengunaan menunjukkan bahwa cara memotivasi pengguna yaitu dengan mensosialisasikan kembali terkait penggunaan aplikasi E-Link kepada

(12)

12 seluruh pengawai puskesmas dan perlu penambahan fitur pendaftaran pasien secara online serta early warning system (EWS) guna meminimalisir obat yang expired date.

2. Saran

a. Saran bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan, pengetahuan dan kajian literatur terkait efektivitas penerimaan penggunaan aplikasi E- Link.

b. Saran bagi Puskesmas Mojopurno Penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan hasil bahwa aplikasi E- Link di Puskesmas Mojopurno sudah efektif dalam penggunaanya namun perlu adanya penyempurnaan program di dalam aplikasi E-Link ini seperti:

1) Pada Gudang apotek perlu menerapkan sistem penyimpanan obat berdasarkan FIFO dan FEFO untuk meminimalisir obat yang ED dan LPLPO wajib dilakukan setiap akhir tanggal bulan tersebut dengan jumlah stok opnam harus sama antara bulan lalu dengan bulan berikutnya. Penambahan fitur Early Warning Sistem (EWS) dalam aplikasi E-Link untuk membantu mempercepat dalam memperoleh informasi persedian obat.

2) Penambahan fitur pendaftaran pasien secara online melalui web yang bisa ngelink langsung ke aplikasi E-Link agar tidak menginput 2 kali, pasien tidak

perlu mengunduh aplikasi cukup mengakses link dari web Puskesmas tersebut dan terdapat pemberitahuan nomer antrian secara langsung.

3) Mengadakan bimbingan teknologi (bimtek) setiap 3 atau 6 bulan sekali mengenai penggunaan aplikasi E-Link kepada seluruh pegawai Puskesmas Mojopurno maupun terhadap pegawai baru.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ganing, Anwar, dkk. 2017. "Efektifitas E-Puskesmas Di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar". Makassar:Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Lembaga Administrasi Negara. Jurnal Administrasi Negara. Vol 23(1):1–9.

2. Nasution, Vani Maharani dan Prakarsa, Graha. 2017. "Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Terhadap Efektivitas Kerja Pegawai pada UPTD Pelayanan Puskesmas Di Kecamatan Soreang".

Jurnal Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat. Vol 16(2).

3. 2009. "UU No.36 tahun 2009 tentang

Kesehatan". URL :

https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/

38778/uu-no-36-tahun-2009.

4. Junaedi, Fadil Ahmad dan Barsasella, Diana. 2018. "Bahan Ajar Rekam Medis Dan Informasi Kesehatan (RMIK) Teknologi Informasi Kesehatan I Aplikasi Komputer Dasar". Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

5. Mojopurno Kabupaten Madiun, Puskesmas. 2019. "SOP E-Link 2019".

6. Irawati, Tri, dkk. 2020. "Penggunaan Metode Technology Acceptance Model (TAM) Dalam Analisis Sistem Informasi Alista (Application Of Logistic And

(13)

13 Supply Telkom Akses). Accounting Information System and Information Technology Business Enterprise. Vol 4(2):106–120.

7. Darmawan, Ede Surya dan Sjaaf, Amal Chalik. 2017. "Administrasi Kesehatan Masyarakat (Teori dan Praktik). Jakarta:

PT. RajaGrafindo Persada. Edisi 2. 207–

214.

8. Putri, Wayan Citra Wulan, dkk. 2017.

"Modul Pembekalan Manajemen dan Program Puskesmas : Dasar-dasar Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Bali:

Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Udayana. Edisi 1. 5.

9. Mojopurno Kabupaten Madiun, Puskesmas. 2021. "Profil PKM 2021".

10. 2014. "Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2014 tentang Sistem Informasi

Kesehatan". URL :

http://jdih.kkp.go.id/peraturan/pp-46- 2014.pdf.

11. Anita M.Kes, Surya. 2017. "Sistem Informasi Kesehatan".

12. Fahlevi, Pahri dan Dewi, Athanasia Octaviani Puspita. 2019. "Analisis Aplikasi i-Jateng Dengan Menggunakan Teori Technology Acceptance Model (TAM)". Semarang:Program Studi Sarjana Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Jurnal Ilmu Perpustakaan. Vol 8(2):103–111.

13. Fauzy, Akhmad. 2019. "Metode Sampling". Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi:Universitas Terbuka. Edisi 2. 33.

14. Creswell, John W. 2019. "Research Design (Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran)".

Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Edisi 4. 254

& 269-271.

15. Alfansyur, Andarusni dan Maryani. 2020.

"Seni Mengelola Data: Penerapan Triangulasi Teknik, Sumber dan Waktu Pada Penelitian Pendidikan Sosial". URL :http://journal.ummat.ac.id/index.php/hist oris. Madrasah Aliyah Negeri 3

Palembang:Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Sriwijaya. Jurnal Kajian, Penelitian dan Pendidikan Sejarah. Vol 5(2):146–150.

16. Putra, Doni Setyawan Hendyca dan Kurniawati, Rizka. 2019. "Evaluasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit Dengan Metode Technology Acceptance Model (TAM) di Rumah Sakit X". Jurnal Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (J-REMI). Jurusan Kesehatan:Politeknik Negeri Jember. Vol 1(1):31–36.

17. Rohman, Hendra, dkk. 2021.

"Implementasi Pendaftaran Online Pasien Rawat Jalan Berbasis Web Di Puskesmas Piyungan". Universitas Teknologi Digital Indonesia. Jurnal Pengabdian Masyarakat- Teknologi Digital Indonesia. Vol 1(1):42–

51.

18. Firmanto, Yuki. 2021. "Early Warning Sistem : Solusi Klaim Negatif Rumah Sakit Program Jaminan Kesehatan Nasional". JEAM. Vol 20(1):12–32.

20. Metallo, C, et. Al. 2022. Explaing users’

technology acceptance through national cultural values in the hospital context.

BMC Health Services Research.

Department of Science and Technology : University of Naples Parthenope, Centro Direzionale –Isola C4, 80143 Naples, Italy.

21. Hassan, Ismail Bile, et. Al. 2022.

Extending the UTAUT2 Model with a Privacy Calculus Model to Enhance the Adoption of a Health Information Application in Malaysia. Informatics Journal. Department of Computer Science and Cybersecurity : Metro State University, St. Paul, USA, Department of Software Engineering and Information System : Faculty of Computer Science and Information Technology, University Putra Malaysia, Serdang, Malaysia.

22. Abdisa, Amanuel Benti, et. Al. 2022.

Health workers’ use of routine health information and related factors at public health institutions in Illubabor Zone, Western Ethiopia. BMC Medical Informatics and Decision Making.

(14)

14 Department of Health Policy and Management : Faculty of Public Health, Jimma University, Jimma, Ethiopia.

23. Rusli. 2017. “Modul Farmasi Rumah Sakit dan Klinik”. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Menusia Kesehatan. Pusat pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan : Kemenkes RI.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa hal yang dianalisis lebih lanjut adalah profil penggunaan obat AINS di Indonesia; distribusi dan jenis obat AINS yang digunakan untuk berbagai indikasi; cara